Senin, 17 Juni 2019

AYUB PASAL 10

AYUB PASAL 10:

1. 10:1"Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.

Harta habis, anak-anak mati semuanya, semuanya terjadi secara tiba-tiba sehingga mengejutkan, semuanya terjadi secara beruntun sehingga menambah kesedihan, dirinya diserang penyakit gatal-gatal yang hebat, istri yang seharusnya menghibur malah mengejek, para sahabat datang malah mempersalahkan.

Seandainya Ayub bersalahpun dan kesalahan itu beratpun, siapakah yang mau dihukum seperti itu? Semua orang yang dituduh bersalah oleh polisi tak ada yang tinggal diam, tetapi mereka mengusahakan pengacara supaya pengacara itu mengusahakan pembebasannya. Dan jika tidak bisa bebas mereka mengharapkan dihukum yang seringan-ringannya. Nah, jika orang yang bersalah saja tidak rela dihukum, lebih-lebih orang seperti Ayub yang tidak merasa bersalah.

Sekalipun Ayub menyadari tak ada manusia yang benar di hadapan ELOHIM YAHWEH, namun Ayub tak merasa telah melakukan suatu dosa yang besar sehingga pantas dihukum seperti ini. Ayub berpikir masih ada banyak orang lain yang dosanya lebih besar dari dia. Namun mengapa bukan mereka dulu yang dihukum? Mengapa dia yang hanya bersalah sedikit saja sudah dihukum sedemikian berat?

Kali ini Ayub menyampaikan keluh-kesahnya kepada ELOHIM YAHWEH. Dia bukan semata-mata menuntut dibebaskan dari penderitaan ini, tapi dia ingin diterangkan apa sebab dia harus mengalami ini?

2. 10:2Aku akan berkata kepada Allah: Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku.

Ayub tidak mau dipersalahkan ELOHIM YAHWEH, sebab dia sudah menyadari tak ada orang yang sempurna. Karena itu tak ada gunanya memperdebatkan masalah kesalahan dengan ELOHIM YAHWEH. Pada akhirnya tokh ketemunya Ayub tidak sempurna. Cuma Ayub ingin tahu mengapa ELOHIM YAHWEH memperkarakannya? Mengapa seorang Ayub yang tak ada gunanya ini diperhatikan oleh ELOHIM YAHWEH, seolah-olah Ayub itu penting untuk diperhatikan? Mengapa dari TakhtaNYA DIA memperhitungkan kesalahan kecil dan ketidaksempurnaan Ayub, sehingga perlu mengambil tindakan secara segera? Mengapa dosa seekor semut saja sampai membuat seorang raja turun tangan?

3. 10:3Apakah untungnya bagi-Mu mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tangan-Mu, sedangkan Engkau mendukung rancangan orang fasik?

Mengapa bukan orang-orang jahat yang diperhatikan TUHAN? Bukankah di luaran sana banyak penyembah berhala, pemabuk, pembunuh, maling, pezinah, dan lain-lainnya yang perlu ditindak lebih dulu?

4. 10:4Apakah Engkau mempunyai mata badani? Samakah penglihatan-Mu dengan penglihatan manusia?

Ini pertanyaan penting sekali. Apakah mata TUHAN itu sama seperti mata manusia? Seandainya mata TUHAN itu seperti mata manusia pastilah TUHAN tak mungkin menghukum Ayub;

1Sa. 16:7Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Ini masalahnya. Mata TUHAN itu berbeda dengan mata manusia, sama seperti perbedaan kacamata dengan mikroskop.

5. 10:5Apakah hari-hari-Mu seperti hari-hari manusia, tahun-tahun-Mu seperti hari-hari orang laki-laki,

Apakah waktu TUHAN sama seperti waktu manusia? Sayangnya tidak sama. Jika manusia melihat sebatas hari ini, tapi TUHAN melihat sampai ke masa depan. Karena perbedaan waktu inilah sehingga TUHAN bisa menghadang rancangan-rancangan jahat manusia. Sebelum orang melaksanakan niat jahatnya, TUHAN sudah mengetahuinya. Sama seperti Densus 88 yang menangkapi teroris bom sebelum mereka melakukan aksinya. Belum berdosa sudah dihukum duluan.

Ini yang disayangkan Ayub. Dia masih belum berbuat dosa, sekarang sudah dihukum duluan.

6. 10:6

sehingga Engkau mencari-cari kesalahanku, dan mengusut dosaku,
10:7padahal Engkau tahu, bahwa aku tidak bersalah, dan bahwa tiada seorangpun dapat memberi kelepasan dari tangan-Mu?

Padahal TUHAN tahu bahwa saat ini Ayub baik-baik saja. Tapi koq sudah ditangkap?!

7. 10:8Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku?

Aku ini anakMU, mengapa ENGKAU musuhi? Ayub tidak mau urusan soal dosa atau tidak dosanya, tapi mengharapkan belas kasihan ELOHIM YAHWEH. Sama seperti ketika nabi Musa memohonkan belas kasihan ELOHIM YAHWEH atas dosa-dosa bangsa Israel;

Bilangan 14:13

Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Jikalau hal itu kedengaran kepada orang Mesir, padahal Engkau telah menuntun bangsa ini dengan kekuatan-Mu dari tengah-tengah mereka,
14:14mereka akan berceritera kepada penduduk negeri ini, yang telah mendengar bahwa Engkau, TUHAN, ada di tengah-tengah bangsa ini, dan bahwa Engkau, TUHAN, menampakkan diri-Mu kepada mereka dengan berhadapan muka, waktu awan-Mu berdiri di atas mereka dan waktu Engkau berjalan mendahului mereka di dalam tiang awan pada waktu siang dan di dalam tiang api pada waktu malam.
14:15Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau itu nanti berkata:
14:16Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun.
14:17Jadi sekarang, biarlah kiranya kekuatan TUHAN itu nyata kebesarannya, seperti yang Kaufirmankan:
14:18TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.
14:19Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari."

8. 10:9

Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali?
10:10Bukankah Engkau yang mencurahkan aku seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju?
10:11Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat.
10:12Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.
10:13Tetapi inilah yang Kausembunyikan di dalam hati-Mu; aku tahu, bahwa inilah maksud-Mu:
10:14kalau aku berbuat dosa, maka Engkau akan mengawasi aku, dan Engkau tidak akan membebaskan aku dari pada kesalahanku.

Ayub berpikir bahwa penderitaannya saat ini jika bukan merupakan hukuman adalah peringatan supaya Ayub jangan macam-macam terhadap TUHAN.

9. 10:15Kalau aku bersalah, celakalah aku! dan kalau aku benar, aku takkan berani mengangkat kepalaku, karena kenyang dengan penghinaan, dan karena melihat sengsaraku.

Peringatan ini memberikan pesan bahwa sekalipun Ayub benar, jangan sekali-sekali berani berkacak pinggang di hadapan ELOHIM YAHWEH. Jangan karena merasa suci lalu merasa sejajar dengan ELOHIM YAHWEH. Pengalaman menderita saat ini biarlah dijadikan peringatan oleh Ayub supaya tetap rendah hati di kemudian hari. Sebab nyatanya saat ini tidak berdosapun diperlakukan seperti ini. Kesalehannya sama sekali tak berdaya menyelamatkannya. Bahwa salah maupun benar kita ini tetap debu.

10. 10:16Kalau aku mengangkat kepalaku, maka seperti singa Engkau akan memburu aku, dan menunjukkan kembali kuasa-Mu yang ajaib kepadaku.

Kalau di kemudian hari Ayub macam-macam, maka penderitaan seperti ini akan terjadi lagi.

11. 10:17Engkau akan mengajukan saksi-saksi baru terhadap aku, --Engkau memperbesar kegeraman-Mu terhadap aku--dan pasukan-pasukan baru, bahkan bala tentara melawan aku.

Bahkan hukuman akan lebih berat lagi.

12. 10:18

Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!
10:19Maka aku seolah-olah tidak pernah ada; dari kandungan ibu aku langsung dibawa ke kubur.

Betapa enaknya orang yang tak pernah ada dan tak pernah hidup. Berbeda dengan pandangan orang-orang duniawi yang sangat menyayangi hidupnya. Dosa seberapapun tak diperhitungkannya, yang penting hidup. Permasalahan tak membuat perenungan, tapi mengatasinya dengan dosa yang lebih besar. Sakit tak membuatnya merenungkan dosa-dosanya, tapi dokter dan obat yang diutamakannya. Kematian sangat menakutkannya, sangat dijauhkan dari pikirannya. Inginnya bisa hidup selama-lamanya sekalipun berlimang dosa. Semakin tua bukannya semakin bertobat tapi semakin menjadi-jadi dosanya.

Tapi orang kudus pikirannya ingin hidup kudus, sangat takut dosa. Lebih baik cepat mati daripada hidup menumpuk dosa. Lebih ngeri melihat dosa daripada melihat kematian. Jika orang duniawi takut pakaian putihnya terkena noda, orang kudus takut jiwanya ternoda dosa.

13. 10:20

Bukankah hari-hari umurku hanya sedikit? Biarkanlah aku, supaya aku dapat bergembira sejenak,
10:21sebelum aku pergi, dan tidak kembali lagi, ke negeri yang gelap dan kelam pekat,
10:22ke negeri yang gelap gulita, tempat yang kelam pekat dan kacau balau, di mana cahaya terang serupa dengan kegelapan."

Ayub ingin menikmati sisa-sisa hidupnya dengan kegembiraan sekalipun dalam penderitaan seperti ini. Karena itu janganlah Elifas dan Bildad mengganggunya dengan perkataan-perkataan yang membuat Ayub semakin tertekan. Ayub tidak membutuhkan petunjuk dosa, tapi kemurahan hati ELOHIM YAHWEH. Kalau mau menasehati orang itu sebelum dosa terjadi. Setelah dosa terjadi yang dibutuhkan dan harus dilakukan adalah memintakan pengampunan, bukannya hitung-hitungan dosa.



Berjalan Di Atas Air...
 


Hasil gambar untuk gambar orang sakit

Minggu, 16 Juni 2019

AYUB PASAL 9

AYUB PASAL 9:

1. 9:1

Tetapi Ayub menjawab:
9:2"Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah?

Ayub menjawab Bildad, bahwa dia tahu kalau manusia tak ada yang benar di hadapan ELOHIM YAHWEH. Itu berarti bahwa baik Elifas, Bildad dan dirinya sama-sama bukan orang benarnya. Mengapa mereka menganggap diri lebih baik dari Ayub?

2. 9:3Jikalau ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya.

Siapapun yang mau berbantah dengan ELOHIM YAHWEH pasti akan kalah. Mengapa bisa begitu? Mengapa manusia tak pernah bisa benar di hadapan ELOHIM YAHWEH? Sebab derajatnya berbeda. Bukankah kita menyebut DIA Mahasabar? Coba diadu kesabaranNYA dengan kesabaran kita. Coba pukullah Ayub 1 kali dan pukullah ELOHIM YAHWEH 490 kali. Jika Ayub masih bisa sabar, pukul lagi, pukul lagi dan pukul lagi.

Kita menyebut DIA Mahapengasih. Coba adulah dengan orang yang kita sebut punya kasih. Kita menyebut DIA Mahakudus, coba adulah dengan orang-orang kudus.

3. 9:4

Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat?
9:5Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang, yang membongkar-bangkirkannya dalam murka-Nya;
9:6yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang;
9:7yang memberi perintah kepada matahari, sehingga tidak terbit, dan mengurung bintang-bintang dengan meterai;
9:8yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut;
9:9yang menjadikan bintang Biduk, bintang Belantik, bintang Kartika, dan gugusan-gugusan bintang Ruang Selatan;
9:10yang melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak terduga, dan keajaiban-keajaiban yang tidak terbilang banyaknya.
9:11Apabila Ia melewati aku, aku tidak melihat-Nya, dan bila Ia lalu, aku tidak mengetahui.

Sebegitu dahsyatnya ELOHIM YAHWEH itu, yang bilamana hendak meringkus Ayub betapa mudahnya. Masakan Ayub hendak melawan ketika dirinya disengsarakan seperti ini? Siapakah yang berani melawan ketika ditodong golok oleh perampok dan tidak menuruti perintahnya? Melawan sedikit saja pasti akan dicabut nyawanya. Nah, ketika kita di hadapkan dengan kesusahan Ayub, apakah kita hendak menambah dosa dengan menghujatNYA? Bukankah kita akan merengek-rengek belas kasihan pada orang yang menodongkan golok itu, bukannya melawan?

Atau, apakah karena DIA sabar ketika kita hujat sehingga kita kurangajar padaNYA? Pikiran Ayub tidak seperti itu. Baik berdosa maupun tak berdosa Ayub memilih menerima kehendak TUHAN daripada mengikuti jalan pikiran Elifas dan Bildad yang mengajak ELOHIM YAHWEH main hitung-hitungan. Kalau berdosa hukumlah, kalau benar kasihlah pahala. Ayub tak berani begitu.

Apakah itu berarti ELOHIM YAHWEH bersikap arogan kayak perampok? Apakah ELOHIM YAHWEH tidak adil ketika menempatkan bumi di bawah, langit di atas? Membuat semut kecil dan gajah besar? Membuat orang miskin dan orang kaya? Tidakkah semua itu untuk keindahan dan kemuliaan? Tidakkah indah dan kemuliaan ketika kita melihat orang kaya berbagi dengan orang miskin? Siapa yang meludahi pemandangan itu? Siapa yang mengutuk perbuatan itu?

Dulu Ayub kuat menolong orang yang lemah tanpa mempercakapkannya mengapa orang itu miskin. Kini Ayub miskin para sahabatnya bukannya menolong tapi menghakiminya.

4. 9:12

Apabila Ia merampas, siapa akan menghalangi-Nya? Siapa akan menegur-Nya: Apa yang Kaulakukan?
9:13Allah tidak menahani murka-Nya, di bawah kuasa-Nya para pembantu Rahab membungkuk;

Ketika boss sedang memarahi seorang karyawan yang bersalah, tidakkah karyawan lainnya akan gemetaran sekalipun tidak bersalah? Kalau ada orang berkelahi pasti ada orang yang akan menengahi. Tapi kalau ELOHIM YAHWEH sedang marah, siapakah yang akan menengahi? Siapa yang sanggup mencegah dan meredahkan kemarahanNYA?

Rahab disebut pula lewiatan adalah binatang purba semacam dinosaurus.

5. 9:14

lebih-lebih aku, bagaimana aku dapat membantah Dia, memilih kata-kataku di hadapan Dia?
9:15Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku.

Sebegitu dalam Ayub memahami ELOHIM YAHWEH.

6. 9:16Bila aku berseru, Ia menjawab; aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku;

Betapa dahsyatnya ELOHIM YAHWEH itu, yang dari sorga mau mendengar suara seorang berdosa. Karena itu Ayub tidak yakin ELOHIM YAHWEH yang seperti itu berbuat jahat terhadap dirinya. Karena itu sekalipun Ayub saat ini menderita tanpa kesalahan, Ayub yakin bahwa inipun baik bagi Ayub.

Penderitaan ini suatu kebajikan ELOHIM YAHWEH. Itu harus dilihat dari kacamata ELOHIM YAHWEH, jangan dilihat dari kacamata kita. Iman Ayub sama sekali tidak yakin ELOHIM YAHWEH berbuat jahat padanya. DIA itu sangat baik. Sangat egois bila melihat segala sesuatu hanya berdasarkan kacamata kita. Lihat saja orang-orang kaya yang penghasilannya milyaran. Mereka bukannya bersyukur atas rejeki yang melimpah ruah, justru mereka merasa tetap kekurangan dan semakin serakah. Semakin kaya bukannya semakin baik malah semakin jahat. Artinya, sulit untuk menetapkan ukuran kebaikan ELOHIM YAHWEH itu. Mau manusia itu apa sehingga bersembah sujud dan bersyukur padaNYA? Karena itu jangan sekali-sekali menilai sesuatu dari sudut pandang diri sendiri.

Tapi kalau kita mencoba mengenakan akal pikiran ELOHIM YAHWEH, segala penderitaan bahkan salibpun termasuk kebajikan ELOHIM YAHWEH.

Ketika di zaman Orde Baru, ketika masih berperang dengan Timor-Timur, para prajurit paling senang jika dikirim ke sana, sekalipun itu medan peperangan yang membahayakan nyawa. Apa sebab? Sebab kenaikan pangkat menanti. Sekalipun di medan perang tapi menjanjikan kenaikan pangkat. Jika penugasan itu dilihat dari diri prajurit, itu seperti pembuangan. Tapi bila dilihat dari kacamata pimpinan, itulah tempat latihan yang bagus untuk prajurit. Itu praktek lapangan. Jadi, melihat suatu perkara dari sudut mana itu penting sekali.

Apa yang baik bagi kita belum tentu baik bagi TUHAN, dan apa yang tidak baik bagi kita belum tentu tidak baik bagi TUHAN. Cobalah memahami orang lain. Perlunya ada orang lain itu adalah untuk dipahami. Bagaimana suami memahami istri dan bagaimana istri memahami suami. Bagaimana kita memahami tetangga dan bagaimana tetangga memahami kita.

7. 9:17Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan tidak semena-mena,

Ayub berpikir bahwa sekalipun lukanya semakin banyak bukan berarti DIA arogan, bukan berarti DIA jahat. Kalau DIA jahat, para nabi, para rasul dan ELOHIM YESHUA tidak mungkin sudi hidup menderita. Tidak mungkin sudi menyembah dan memuliakan namaNYA.

Pergunakan kacamata yang ukurannya pas. Pergunakan kacamata yang benar. Tiliklah dari sudut yang benar, yaitu hati yang suci. Jangan menilik dari hati yang jahat. Sebab kalau menilik dari hati yang jahat, maka sebaik apapun yang dilakukan presiden Jokowi selalu akan dianggap salah.

8. 9:18yang tidak membiarkan aku bernafas, tetapi mengenyangkan aku dengan kepahitan.

ELOHIM YAHWEH bukannya menyenangkan Ayub, tapi mengenyangkan Ayub dengan penderitaan. Memang pahit tapi itu obat. Baik obat maupun racun sama-sama pahit, tapi tergantung siapa yang memberikannya. Jika musuh pasti pahitnya racun, tapi jika dokter pasti obat yang menyembuhkan.

9. 9:19Jika mengenai kekuatan tenaga, Dialah yang mempunyai! Jika mengenai keadilan, siapa dapat menggugat Dia?

Kalau kita menyebut dan meyakini DIA adil, maka apapun yang diberikan ke kita yakinilah itu keadilanNYA. Sebab tidak mungkin orang yang dikenal adil berbuat yang tidak adil.

10. 9:20

Sekalipun aku benar, mulutku sendiri akan menyatakan aku tidak benar; sekalipun aku tidak bersalah, Ia akan menyatakan aku bersalah.
9:21Aku tidak bersalah! Aku tidak pedulikan diriku, aku tidak hiraukan hidupku!

Ayub merasa tidak bersalah. Tapi Ayub tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Ayub tidak mau memprotes selama dia yakin berada di tangan ELOHIM YAHWEH. Tapi kalau di tangan hakim duniawi, Ayub pasti akan protes, sebab hakim duniawi dikenal lalim.

11. 9:22Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya.
Maksudnya, siapakah yang berani memprotes ELOHIM YAHWEH?

12. 9:23Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah.

Kalau ELOHIM YAHWEH menguji orang, yang lemah pasti akan dibuang. Sama seperti guru pasti tidak suka dengan murid yang bodoh. Sama seperti boss pasti tidak suka karyawan yang tidak berprestasi. ELOHIM YAHWEH mencari orang yang kuat imannya, yang tangguh.

13. 9:24Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?

Siapakah yang menyerahkan bumi kepada orang jahat? Jelas TUHAN yang memiliki bumi. Siapakah yang menutupi mata para hakim sehingga berlaku tidak adil? Jelas TUHAN, sebab DIA Mahakuasa. Kalau TUHAN mau apa tidak bisa dunia ini baik dan hakim melihat kebenaran? Tapi semua itu perlu untuk melahirkan kebaikan.

Kalau semuanya kayu, lalu bagaimana membuat lemari kalau tidak ada paku dan palu? Kalau tidak melalui ujian bagaimana mengetahui murid yang pintar dan yang bodoh? Kalau tidak melalui pukulan bagaimana mengetahui kesabaran? Kalau tidak melalui orang yang jahat bagaimana mengetahui orang yang baik?

Karena Ayub tahu ELOHIM YAHWEH mempunyai tujuan, maka Ayub diam saja. Ayub berusaha sebisa mungkin menahan penderitaannya.

14. 9:25Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada seorang pelari, lenyap tanpa melihat bahagia,

Kalau pelari berlari cepat masih mendapatkan piala atau hadiah. Tapi Ayub belum tahu apa yang akan didapatkannya. Masa depan terlihat suram sekali.

15. 9:26meluncur lewat laksana perahu dari pandan, seperti rajawali yang menyambar mangsanya.

Segala sesuatu terjadi dalam sekejap mata.

16. 9:27

Bila aku berpikir: Aku hendak melupakan keluh kesahku, mengubah air mukaku, dan bergembira,
9:28maka takutlah aku kepada segala kesusahanku; aku tahu, bahwa Engkau tidak akan menganggap aku tidak bersalah.

Ayub ingin memprotes tapi Ayub akhirnya menyadari bahwa dirinya tak berdaya melawan TUHAN.

17. 9:29Aku dinyatakan bersalah, apa gunanya aku menyusahkan diri dengan sia-sia?

Kalau begini salah, begitu salah, Ayub memilih diam saja. Dinikmati saja apa yang terjadi seperti kata peribahasa diam itu emas. Lebih baik diam daripada salah tingkah.

18. 9:30

Walaupun aku membasuh diriku dengan salju dan mencuci tanganku dengan sabun,
9:31namun Engkau akan membenamkan aku dalam lumpur, sehingga pakaianku merasa jijik terhadap aku.

Melawan TUHAN itu tidak ada gunanya. Lebih berguna memohon belas kasihanNYA. DIA pasti akan jatuh kasihan pada orang-orang yang merendahkan diri. Tapi semakin murka pada orang yang meninggikan diri. "Kamu mau melawan? Memangnya siapa yang hendak kamu lawan? Bodoh sekali!"

19. 9:32Karena Dia bukan manusia seperti aku, sehingga aku dapat menjawab-Nya: Mari bersama-sama menghadap pengadilan.

Seandainya TUHAN itu manusia, Ayub pasti akan mengajaknya menghadap pengadilan supaya dihakimi mana yang salah dengan mana yang benar. Tapi DIA itu TUHAN. Betapa hebatnya jika ada orang yang berani memprotes dan menghujatNYA. Hebat sekali orang itu. Karena itu jalan pikiran Elifas dan Bildad yang berkonsep pahala dan hukuman tidak bisa diterimanya. Terlalu naif itu untuk melawan ELOHIM YAHWEH.

20. 9:33Tidak ada wasit di antara kami, yang dapat memegang kami berdua!

Tidak ada yang bisa menengahi perkara Ayub dengan TUHAN ini.

21. 9:34

Biarlah Ia menyingkirkan pentung-Nya dari padaku, jangan aku ditimpa kegentaran terhadap Dia,
9:35maka aku akan berbicara tanpa rasa takut terhadap Dia, karena aku tidak menyadari kesalahanku."

Seandainya bukan TUHAN pasti akan Ayub lawan karena dia tidak menyadari kesalahannya.

Jangan lupa Subscribe, ya!

https://www.youtube.com/watch?v=usG1KBG_UlM&t=18s

Hasil gambar untuk gambar melerai pertengkaran

AYUB PASAL 8

AYUB PASAL 8:

1. 8:1Maka berbicaralah Bildad, orang Suah:

Setelah Ayub menanggapi pernyataan Elifas, kini giliran Bildad, sahabat Ayub yang lainnya.

2. 8:2"Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?

Rupanya Bildad memiliki pandangan yang sama dengan Elifas yang menganggap Ayub berdosa. Kata-kata Bildad itu seolah-olah menegur Ayub, bahwa sudah jelas-jelas bersalah koq Ayub masih berusaha membela diri?

3. 8:3Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran?

Masak TUHAN itu menghukum orang yang tidak bersalah? Untunglah kita membaca kisah Ayub ini dari awal sehingga kita tahu bahwa penderitaan Ayub itu bukan merupakan hukuman melainkan ujian iman. Seandainya kita tidak tahu dari awalnya, kita pasti akan sependapat dengan Elifas dan Bildad yang menyatakan Ayub bersalah terhadap TUHAN. Sebab perbuatan-perbuatan ELOHIM YAHWEH memang seringkali bertentangan dengan akal sehat kita sehingga sangat sulit kita percayai.

4. 8:4Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka.

Bildad mempunyai teori yang lain tentang kematian anak-anak Ayub, yaitu mungkin karena mereka itu jahat sehingga dimusnahkan TUHAN. TUHAN bukan memukul Ayub tapi memukul anak-anaknya itu. Anak yang dihukum, ayahnya yang sedih, seperti Firman ini;

Yer. 31:29Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu,

Ayah yang makan buah mentah, gigi anaknya yang sakit. Untuk kasus Ayub sebaliknya; anak yang makan buah mentah, gigi Ayub yang sakit.

5. 8:5

Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa,
8:6kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.

Kalau Ayub benar di hadapan TUHAN, maka TUHAN akan memulihkan keadaan Ayub. Dan itu terjadi di akhir kisah Ayub ini. Sama seperti kebangkitan ELOHIM YESHUA dari kematianNYA, membuktikan  bahwa kematianNYA bukan karena dosaNYA. Sama juga dengan orang yang bersengketa di pengadilan, keputusan pengadilan memenangkan orang yang benar atau mengklirkan masalah. Maksudnya, sesuatu yang memiliki pasangan harus dijodohkan. Jika ingin dinyatakan benar, harus ada yang dinyatakan salah. Jika ingin bahagia, harus ada penderitaannya. Setiap orang menikmati siklus positif-negatif itu.

Kalau sekarang tertawa, tunggulah, suatu saat pasti akan menangis. Kalau sekarang menangis, tunggulah, suatu saat pasti akan tertawa. Ada orang yang ketika muda jahat, ketika tua bertobat. Sebaliknya ada orang yang semula kelihatan baik, ternyata jahat. Dulu miskin sekarang kaya, dulu kaya sekarang miskin. Manakah yang ingin anda pilih dan nikmati; menderita sekarang atau menderita besok?

Kalau cerita film selalu menempatkan kemenangan lakon di akhir cerita atau happy ending. Tapi para koruptor justru harus mengakhiri masa tuanya di dalam penjara;

Luk. 6:24

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.
Luk. 6:25Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

 6. 8:7

Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.
8:8Bertanya-tanyalah tentang orang-orang zaman dahulu, dan perhatikanlah apa yang diselidiki para nenek moyang.

Bildad menyarankan Ayub untuk mempelajari pengalaman orang-orang terdahulu. Sebab secara umum orang baik menerima upah kebaikannya dan orang jahat menerima upah kejahatannya. Tapi jika ada yang secara umum, kita juga harus menerima adanya yang khusus, yaitu tidak setiap penderitaan orang itu hukuman.

7. 8:9Sebab kita, anak-anak kemarin, tidak mengetahui apa-apa; karena hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi.

Sebab mungkin kita ini masih bodoh, masih kurang pengalaman atau tidak mau belajar dari pengalaman orang.

8. 8:10Bukankah mereka yang harus mengajari engkau dan yang harus berbicara kepadamu, dan melahirkan kata-kata dari akal budi mereka?

Bukankah orang-orang yang pengalaman itu harus mengajari Ayub? Ayub jangan keraskan hati atau gengsi untuk belajar pada orang lain. Jangan segan mengakui kesalahan atau kelemahan. Tapi kalau Ayub sendiri bingung belum tahu kesalahannya, maka apa yang harus dipelajarinya? Kalau Ayub justru guru masakan harus belajar pada murid? Orang sehat masakan disuruh minum obat?

Sebab Ayub sekalipun menderita tidak menganggap penderitaannya sebagai hukuman. Justru Ayub telah mempunyai pengetahuan yang lebih baik, yaitu jika mau menerima yang baik harus mau menerima yang tidak baik pula. Bildad jika mau memberi nasehat harus mengadakan penyelidikan lebih dahulu sama seperti dokter yang jika mendiagnosa penyakit pasiennya selalu melalui pemeriksaan, supaya jangan sampai salah obat. Bahwa kebaikan itu tidak cukup hanya didorong oleh maksud baik saja, tapi juga oleh analisa yang baik. Jangan sampai salah nasehat justru malah menyesatkan.

Orang miskin memang perlu ditolong. Tapi apakah menolong jika butuhnya uang untuk bayar listrik, dikasih beras? Konsep Ayub yang sudah ikhlas menerima nasib buruknya, masakan harus diubah supaya menjadi pemberontak? ELOHIM YESHUA juga marah ketika muridNYA Kefas, menasehatiNYA supaya menghindarkan salib;

Matius 16:22

Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
16:23Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Suatu nasehat yang tidak tepat. TUHAN berfirman: "Berbahagialah orang yang menderita karena kebenaran", lalu Bildad katakan orang yang menderita itu dikutuk TUHAN. Apa yang menurut TUHAN benar, menurut Bildad salah.

9. 8:11Dapatkah pandan bertumbuh tinggi, kalau tidak di rawa, atau mensiang bertumbuh subur, kalau tidak di air?

Maksudnya, mungkinkah orang benar tinggal dalam penderitaan? Bildad melihat dirinya benar dan melihat Ayub salah. Padahal kita melihat cerita ini dari awalnya tidak demikian, bukan?! Jadi, Bildad kesalahan memberikan nasehat.

10. 8:12Sementara dalam pertumbuhan, sebelum waktunya disabit, layulah ia lebih dahulu dari pada rumput lain.

Dulu Ayub hidup makmur, mungkin karena dulunya benar. Mungkin sekarang Ayub telah murtad, sehingga sekarang seperti ini.

11. 8:13Demikianlah pengalaman semua orang yang melupakan Allah; maka lenyaplah harapan orang fasik,

Orang yang melupakan TUHAN akan menerima hukuman.

12. 8:14yang andalannya seperti benang laba-laba, kepercayaannya seperti sarang laba-laba.

Orang yang tidak bersandar pada TUHAN, akan lemah.

13. 8:15

Ia bersandar pada rumahnya, tetapi rumahnya itu tidak tetap tegak, ia menjadikannya tempat berpegang, tetapi rumah itu tidak tahan.
8:16Ia seperti tumbuh-tumbuhan yang masih segar di panas matahari, sulurnya menjulur di seluruh taman.
8:17Akar-akarnya membelit timbunan batu, menyusup ke dalam sela-sela batu itu.
8:18Tetapi bila ia dicabut dari tempatnya, maka tempatnya itu tidak mengakuinya lagi, katanya: Belum pernah aku melihat engkau!

Orang yang berpaling kepada berhala akan menyesal, sebab berhala itu tidak bisa menyelamatkan. Bildad menduga Ayub telah menjadi penyembah berhala.

14. 8:19Demikianlah kesukaan hidupnya, dan tumbuh-tumbuhan lain timbul dari tanah.

Kalau Ayub murtad dari ELOHIM YAHWEH, maka tempatnya akan diberikan kepada orang lain.

15. 8:20

Ketahuilah, Allah tidak menolak orang yang saleh, dan Ia tidak memegang tangan orang yang berbuat jahat.
8:21Ia masih akan membuat mulutmu tertawa dan bibirmu bersorak-sorak.

Bildad menganjurkan Ayub bertobat, sebab ELOHIM YAHWEH menghukum sekarang ini maksudnya untuk mempertobatkan Ayub.

16. 8:22Pembencimu akan terselubung dengan malu, dan kemah orang fasik akan tidak ada lagi."

Kalau Ayub bertobat dan TUHAN memulihkan keadaannya, maka para musuh Ayub akan dipermalukan. Seandainya ELOHIM YESHUA ketika disalib menggunakan kuasa ELOHIM YAHWEH untuk turun, maka orang-orang Yahudi yang menyalibkanNYA akan dipermalukan. Tapi ELOHIM YESHUA memilih tidak turun dari salib sekalipun para lawanNYA semakin kurangajar;

Mat. 27:40mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!"

Mrk. 15:30turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!"

Hasil gambar untuk gambar orang menderita

Sabtu, 15 Juni 2019

MELAWAN PDT. SAMUEL T. GUNAWAN - 2

BENARKAH PERJANJIAN BARU DITULIS DALAM BAHASA IBRANI ?



Melanjutkan yang kemarin:

1. Alasan Helenisasi;

Mengapa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata Pdt. Samuel, karena Helenisasi, yaitu pengaruh kuat kebudayaan Yunani pada waktu itu.

Kalaupun para murid ditekan oleh penguasa Romawi untuk menulis dengan menggunakan bahasa Yunani, apakah para murid akan tunduk dan takut? Jangankan cuma hal tulis-menulis, dilarang memberitakan Injil saja mereka nggak takut. Dan tidak ada bukti di Al Kitab adanya larangan atau tekanan untuk menggunakan bahasa Yunani. Gubernur Pontius Pilatus yang mengadili dan menuliskan kata-kata: "Inilah Raja Yahudi" saja menulis dalam bahasa Ibrani.

Para murid sendiri tidak bisa berbahasa Yunani, kecuali Lukas dan Paulus, sedangkan masyarakat Yahudi masih banyak yang belum bisa berbahasa Yunani. Bagaimana pemberitaan Injil bisa berjalan jika terhambat di masalah bahasa? Memang benar para rasul belum tentu tidak bisa berbahasa Yunani. Taruhlah mereka bisa berbahasa Yunani. Tapi jika masyarakat Yahudi secara umumnya tidak bisa berbahasa Yunani, mungkinkah para rasul pimpinan Kefas akan menulis dalam bahasa Yunani?

Bangsa Yahudi adalah bangsa yang sombong. Bangsa yang terlalu mengagung-agungkan ras mereka. Rasanya semua orang setuju dengan pendapat itu. Sebab bangsa itu disebut ELOHIM YAHWEH sendiri sebagai umat YAHWEH. Sebab bangsa itu mempunyai nabi besar Musa yang sangat terkenal. Dan sebab bangsa itu menikmati keajaiban-keajaiban ELOHIM YAHWEH. Bahkan hingga saat ini seluruh dunia masih menganggapnya sombong dan arogan.

Bangsa itu sombong tapi kuat. Seandainya sombong saja tanpa kekuatan, pasti bangsa itu sudah habis. Bangsa itu kecil tapi tak terkalahkan. Seandainya ada yang bisa mengalahkan, pasti sudah kalah. Peribahasanya: kecil-kecil cabe rawit. Itu sebabnya banyak bangsa yang ingin memusnahkan mereka. Di zaman Al Kitab ada Haman, pembantunya raja Ahasyweros yang bermaksud memusnahkan ras Yahudi. Di zaman Perang Dunia, ada Hitler yang telah mengeksekusi jutaan orang Yahudi. Dan di zaman ini kita semua tahu kelompok mana yang menginginkan kemusnahan bangsa Yahudi itu.

Kesombongan itu menjadi petunjuk bagi kita untuk mengatakan bahwa jiwa nasionalisme mereka itu kuat sekali, serupa dengan kita yang memasukkan bahasa ke dalam nasionalisme kita, seperti dalam Sumpah Pemuda: Bertanahair satu: Indonesia, Berbangsa satu: Indonesia, dan Berbahasa satu: Indonesia. Bangsa Yahudi baru akan berbahasa Yunani kalau Indonesia berbahasa Inggris. Setuju? - Sesuatu yang mustahil, bukan?!

Lahirnya kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani, yang disebut Septuaginta saja ditujukan untuk orang-orang Yahudi yang ada di perantauan, bukan untuk konsumsi mereka yang tinggal di Palestina. Mereka yang di Palestina membaca Tanakh(bahasa Ibrani), bukan Septuaginta, kecuali kalangan intelektual, sebab Septuaginta juga dibuat oleh kalangan intelektual Yahudi.

Jadi, alasan Helenisasi sungguh-sungguh sangat lemah dari sisi antropologis.

Penemuan arkeologis yang menemukan naskah Al Kitab tertua yang bisa diketemukan, ilmiahnya hanya sebatas temuan tertua. Itulah batas usaha mereka. Sedangkan pernyataan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, itu statusnya sebatas dugaan berdasarkan apa yang mereka ketemukan. Dan selama Al Kitab tidak bisa membantah, maka dugaan itu bisa dipakai sebagai kebenaran. Tapi manakala Al Kitab bisa membantahnya, maka dugaan itu harus gugur, sebab Al Kitab mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari segala ilmu manusia.

2. YESHUA berbahasa Aram;

Menurut Pdt. Samuel, kebanyakan orang Yahudi berbahasa sehari-hari dengan bahasa Aram, saya setujui itu. Antara bahasa Aram, bahasa Arab dan bahasa Ibrani itu masih serumpun, sama seperti bahasa Jawa, Sunda dan Melayu. Tapi jangan dibilang berbahasa Yunani.

Bahasa Aram disebut sebagai bahasa Semitik, yaitu bahasanya kaum Sem, anak sulung Nuh, yang melahirkan Abraham, bangsa Israel, Ismail dan bangsa Arab. Dan Yunani bukan termasuk keturunan Sem, melainkan keturunan Yafet.

Tapi Al Kitab Perjanjian Baru tak pernah sekalipun menyebutkan kata-kata: "Aram". Baik orangnya maupun bahasanya. Yang menduga YESHUA berbahasa sehari-hari dengan bahasa Aram adalah lagi-lagi para ilmuwan, bukan berdasarkan Al Kitab. Ilmuwan itu identik dengan Atheis. Atheis melahirkan ilmuwan dan ilmuwan melahirkan Atheis.

Dari tidak percaya pada TUHAN(Atheis), mereka itu menggunakan akal pikirannya sendiri(ilmuwan). Setelah keilmuan menjadi kuat, banyak orang-orang yang beragama menjadi murtad. Ketika sekolah taat beragama, lulus sekolah murtad.

Jadi, bagaimana keilmuan hendak dicampurkan dengan keimanan? Ini akan menjadi kuda Troya, yang melemahkan keimanan orang dari dalam, yaitu dari pikirannya. Ilmu pura-puranya mendukung Al Kitab, tapi setelah diterima jadilah pengkhianat.

“Saya menganggap otak itu seperti komputer yang akan berhenti bekerja saat komponen pendukungnya rusak. Tidak ada surga atau kehidupan lain untuk komputer yang rusak, itu hanya cerita dongeng,” kata Hawking, saat wawancara bersama The Guardian 2011 silam.

"Karena hukum gravitasi, alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya," kata Hawking, seperti dilansir The Times of London. “Tidak perlu Tuhan untuk memicu pembuatannya (alam semesta-red) dan mengatur segala isi di dalamnya.”

Itulah Stephen Hawking, nabinya ilmu pengetahuan. Menerima keilmuan sama saja dengan menerima virus yang mematikan.

3. Ucapan YESHUA mengutip dari Septuaginta;

Tidak ada dasar Al Kitabnya Pdt. Samuel mengatakan ucapan-ucapan YESHUA mengutip dari kitab Septuaginta. Dan sekalipun benar YESHUA mengutip dari Septuaginta, tidak mesti itu suatu kesalahan. Sebab Septuaginta itu hanyalah menterjemahkan Perjanjian Lama bahasa Ibrani ke bahasa Yunani. Di mana salahnya menterjemahkan?

Yang menjadi masalah dari Septuaginta, bukanlah terjemahannya. Kalau terjemahannya diakui bagus sekali, sebab yang melakukannya adalah para pakar bahasa. Cuma di dalam Septuaginta ada kelebihan 7 kitab yang disebut meragukan kebenarannya. Cuma 7 kitab itu saja yang harus kita tolak. Selebihnya sama dengan Tanakh dan bagus sekali.

Terjemahan Septuaginta hingga sekarang diakui dan dijadikan rujukan semua orang di seluruh dunia yang menyelidiki Al Kitab. Tapi kalangan Kristen menolak yang 7 kitab itu. Katolik menerima Septuaginta secara 100%. Itu sebabnya kitab Katolik berbeda dengan kitab Kristen.

4. Naskah Manuskrip John Ryland;

Manuskrip John Ryland adalah naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang ditemukan pada tahun 1920 oleh Bernard Grenfell. Tahun 1934 diterjemahkan oleh Colin H. Roberts. Lalu diradiokarbon untuk mengetahui penanggalannya, dinyatakan bertahun 130 Tarikh Masehi.

Padahal para rasul sudah mati syahid di tahun 70 Tarikh Masehi, sedangkan Yohanes mati tahun 95 Tarikh Masehi. Jadi, bagaimana orang mati menulis? Apakah ini model keimanan Pdt. Samuel?

5. Bahasa Yunani adalah bahasa yang tua, dimulai sejak tahun 1300 Sebelum Masehi;

Sekalipun bahasa Yunani bahasa yang tertua dan terkenal, bukan berarti menguburkan bahasa-bahasa yang lainnya. Di zaman ini bahasa Inggrispun tak pernah menguburkan bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa China, dan lain-lainnya. Bahkan di Indonesia, bahasa Indonesia juga masih belum menguburkan bahasa Jawa, Sunda, dan lain-lainnya.

Sekalipun bahasa Ibrani hanya digunakan oleh sekelompok kecil masyarakat Yahudi, janganlah dihilangkan eksistensinya.

==================================

Tulisan Pdt. Samuel:

4. Alasan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani adalah karena pengaruh helenisasi pada masa itu. Helenisasi adalah istilah teknis untuk menggambarkan proses perubahan kultural yang terjadi sekitar abad ke-2 SM hingga pertengahan abad ke 1 M, dimana pengaruh kebudayaan Yunani (termasuk dalam hal cara hidup) sangat dominan. Dominasi kebudayaan Yunani ini tidak dapat dilepaskan dari perluasan kekuasaan Yunani di bawah pimpinan Aleksander Agung pada Abad ke 3 SM. kita sudah mengetahui bahwa sejak abad ke 5 SM (zaman Ezra, Nehemia 8:9), bahasa Ibrani yang terdiri hanya huruf-huruf konsonan sudah tidak dimengerti oleh umumnya orang Yahudi, dan sebagai bahasa percakapan kemudian digantikan oleh bahasa Aram. [13] Alexander raja Yunani yang menguasai kawasan dari Yunani, Asyur, Media, Babilonia, sampai Mesir, menyebabkan pengaruh helenisasi menguasai Palestina, lebih-lebih dibawah wangsa Ptolomeus dan Seleucus helenisasi khususnya bahasa Yunani makin tertanam di Palestina sehingga kitab Tanakh Ibrani pun harus diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi Septuaginta di Aleksandria (abad ke 2 - 3 SM).[14] Kita bisa membayangkan, setelah sekian lama orang Yahudi itu bergaul erat dengan kebudayaan dan cara hidup Yunani mengakibatkan mereka tidak lagi memahami bahasa Ibrani. Sehingga Kitab Suci bahasa Ibrani (Tanakh, Perjanjian Lama) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.[15] Jadi, pada masa itu sebagian umat Yahudi sudah tidak lagi bisa berbicara bahasa Ibrani kecuali mereka yang menjadi ahli kitab yang bertugas di Bait Allah dalam salin-menyalin Kitab Suci. Walau dapat dipastikan bahwa Yesus dan murid-muridNya yang tinggal di daerah Yudea-Samaria (daerah Palestina) berbahasa Aram (bukan bahasa Ibrani) sebagai bahasa ibu, namun tak bisa dipungkiri bahwa Yesus hidup pada zaman dan masyarakat yang sudah terpengaruh bahasa dan budaya Yunani, yang disebut masyarakat helenistik.[16] Masyarakat helenistik terbentuk ketika Aleksander Agung menaklukkan Yunani dan sebagian besar wilayah mulai dari Mesir sampai ke India, dimana kemudian bangsa Yunani membawa keluar budaya serta bahasanya yang disebut helenisasi. Merril C. Tenney mengatakan, “Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi di pengadilan dan bahasa pergaulan sehari-hari, seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisan di atas papirus, surat-surat cinta, tagihan, resep, mantera, esai, puisi, biografi, dan surat-surat dagang, semuanya tertulis dalam bahasa Yunani, bahkan tetap demikian hingga masa pendudukan Romawi. ... bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme.[17] Jadi bahasa Aram sebagai bahasa ibu diiringi bahasa Yunani Koine digunakan oleh Yesus Kristus dan para Rasul dalam pemberitaan Injilnya, dan bukan Tenakh Ibrani melainkan Septuaginta Yunanilah yang digunakan oleh umat pada saat awal kekristenan. Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru dikutip dari Septuaginta,[18] sisanya dari berbagai naskah Ibrani. Merril C. Tenney menuliskan, “Septuaginta ... Pada masa Kristus, kitab tersebut telah tersebar luas di antara para Perserakan di wilayah Timur Tengah dan menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen yang mula-mula”. [19] Sebagai tambahan, Grant R. Osbone menyatakan, “Berkenaan dengan Perjanjian Baru, sumber aslinya telah hilang, dan harus dibangun kembali melalui kritik teks. Namun septuaguinta tetap menjadi Alkitab utama di abad pertama, yang diterima bahkan di Palestina, dan banyak sekali kutipan Perjanjian Baru berasal dari Septaguinta. Misalnya dari delapan puluh kutipan dalam Matius, tiga puluh berasal dari Septuaginta. Namun semuanya dalam ucapan langsung Yesus dan Yohanes Pembaptis, meninggalkan kesan bahwa Yesus menggunakan Septuaginta. Hal yang serupa juga terlihat dari ucapan-ucapan dalam kisah Para Rasul. Bahkan surat rasuli yang paling bersifat Yahudi (Ibrani dan Yakobus) menggunakan septuaginta secara menyeluruh” [20] lebih lanjut Grant R. Osbone menyatakan, “Sebagai kesimpulan, gereja mula-mula menggunakan Septuaginta secara luas sebagai sumber kutipan, namunkanon mereka secara umum adalah dua puluh empat (=tiga puluh sembilan) Kitab Perjanjian Lama yang diterima”.[21]
5. Berikut ini kronologi naskah-naskah penting Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Yunani [22] : (1) Manuskrip John Ryland (130 M) terdapat diperpustakaan John Ryland di Manchester, Inggris. Ini adalah fragmen Perjanjian Baru (Penggalan Injil Yohanes) berbahasa Yunani tertua yang di tulis di Mesir. (2) Manuskrip Papyrus: (a) Bodmen Papyrus II (150-200 M) terdapat di Perpustakaan Kesusasteran Dunia Bodmer, berisi sebagian besar Injil Yohanes; (b) Payrus Chester Beatty (200 M) terdapat di Musium Chester Beatty di Dublin dan sebagian dimiliki oleh Universitas Michigan. Koleksi ini terdiri dari kodeks-kodeks papyrus, tiga diantaranya memuat bagian terbesar dari Perjanjian Baru. (3) Manuskrip Unicial: (a) Kodeks Vaticanus (325-350 M) terdapat di Museum Vatikan berisi hampir semua kitab Perjanjian Baru; (b) Kodeks Sinaiticus berisi semua Perjanjian Baru dan tertanggal 331 M; (c) Kodeks Alexandrinus (400 M) terdapat di Museum British, ditulis dalam bahasa Yunani di Mesir dan memuat hampir seluruh Alkitab. (d) Kodeks Ephra-emi (400 an M) terdapat di Bibliotheque Nationale, Paris; (e) Kodeks Bezae (450 M) terdapat di perpustakaan Cambridge dan berisi Injil-Injil serta Kisah Para Rasul dalam Bahasa Yunani dan dalam bahasa Latin; (f) Kodeks Washingtonensis (450 M) besisri keempat kitab Injil; (g) Kodeks Claromontanus (500 M) berisi surat-surat Paulus yang merupakan naskah dwi bahasa). Sedangkan Perjanjian Baru versi lainnya dalam bahasa Siria, Latin, dan Koptik sebagai berikut : (1) Versi Siria: Siria kuno (400 M, Peshitta Siria (150-250 M), Siria Palestina (400-450 M), Philoxenia (508 M), Siria Harkleim (616); (2) Versi Latin : (a) Latin Kuno (350-400 M), (b) Latin Kuno Afrika (400 M), Kodeks Corbiensis (400-500 M), Kodeks Vercellensis (300 M), Kodeks Palatinus (500 M), Latin Vulgatta (366-384 M); (3) Versi Koptik (Mesir): (a) Sahidic (300 M), (b) Bohairic ((400 M), (3) Mesir Pertengahan (400-500 M); (4) Versi lainnya: Armenia (sekitar 400 M) terjemahan dari Alkitab Yunani, Gothic (sekitar 400 M), Gergorian (sekitar 500 M), Ethiopia (sekitar 600 M) dan Nubian (sekitar 600 M). Fakta historisnya, semua naskah (manuskrip) Perjanjian Baru yang lebih awal ini tidak satupun ditulis dalam bahasa Ibrani!. Bahkan Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang dijadikan acuan oleh Yahweisme ternyata tidak pernah ada dalam sejarah. Sejak abad pertama hingga abad ke 14 M tidak ditemukan walau hanya sebuah manuskrip saja. Fakta ini sebaliknya mendukung bahwa Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Yunani Koine.
6. Perlu diketahui bahwa bahasa Yunani memiliki sejarah yang kaya dan panjang, mulai dari abad ke 13 SM sampai sekarang. Bentuk paling awal bahasa ini disebut Linear B (abad ke 13 SM). Bentuk bahasa Yunani yang digunakan para penulis, mulai dari Homer (abad ke 8 SM) hingga Plato (abad ke 4 SM) disebut bahasa Yunani Klasik. Bentuknya indah dan mampu menyampaikan ekspresi secara tepat dengan nuansa yang baik. Alfabetnya, sebagaimana halnya bahasa Ibrani berakar dari bahasa Fenisia. Dalam Bahasa Yunani Klasik terdapat banyak dialek, terutama tiga dialek: Dorik, Aeolik, dan Ionik (dimana Attik adalah cabangnya). Kota Athena ditaklukan raja Filipus dari Makedonia pada abad ke 4 SM. Putra Filipus Aleksnder Agung, murid filsuf Yunani Aristoteles, menaklukan dunia dan menyebarkan kebudayaan Yunani beserta bahasanya. Karena Aleksander berbicara bahasa Yunani Attik, maka dialek inilah yang tersebar. Dialek ini juga dipakai para penulis Athena yang terkenal. Waktu itulah zaman Helenis dimulai. Ketika bahasa Yunani menyebar keseluruh dunia dan bertemu bahasa-bahasa lain, bahasa Yunani mengalami perubahan (seperti pada bahasa manapun). Antara sesama dialek pun saling beriteraksi. Penyesuaian ini yang akhirnya menghasilkan apa yang sekarang disebut Yunani Koine artinya “umum” dan menggambarkan bentuk bahasa sastra halus, karena pada faktanya beberapa penulis pada zaman ini dengan sengaja meniru gaya bahasa Yunani yang lebih tua. Yunani koine adalah bentuk sederhana dari Yunani klasik, akibatnya banyak detail Yunani klasik menjadi hilang. Misalnya, dalam Yunani klasik “allos” berarti “lain”, bentuk lainnya adalah “eteros” yang juga berarti “lain”, namun memiliki perbedaan dengan yang pertama. Jika anda mempunyai sebuah apel dan meminta “allos”, maka anda akan menerima apel lainnya. Namun jika anda meminta “eteros”, anda akan meneriam sebuah jeruk. Bahasa Yunani koine yang seperti inilah yang biasanya terdapat dalam Septuaginta, Perjanjian Baru, dan tulisan-tulisan bapa-bapa Gereja. Studi terhadap Papirus Yunani yang ditemukan di Mesir lebih dari seratus tahun lalu, menunjukkan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang digunakan sehari-hari untuk surat wasiat, surat pribadi, resep-resep, daftar belanja, dan lain-lain. [23]
7. Untuk mendukung pandangannya bahwa Asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani, Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA mengutip Matius 27:7-9, bahwa teks tersebut dalam bahasa Yunani mengandung kesalahan, sedangkan teks dalam bahasa Ibrani (Brit Khadasa) itu benar. Memang harus diakui bahwa Matius 27:7-9 ini merupakan satu dari beberapa bagian yang sukar dalam Perjanjian Baru. Tetapi yang perlu diingat, sukar bukan berarti salah! Kelihatannya, Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA telah memanfaatkan teks yang sukar ini dan menggiring orang-orang untuk meragukan bahwa Naskah asli Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Ironinya, Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang dipakai menjadi acuan Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA untuk membandingkan teks tersebut adalah Brit Khadasha, yaitu kitab Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang diterjemahkan dari Perjanjian Baru bahasa Yunani oleh United Bible Society pada tahun 1970 Untuk kepentingan orang-orang Kristen Yahudi modern saat ini. [24] Tentu saja Perjanjian Baru versi ini telah mengalami banyak perbaikan untuk memudahkan pembacanya dan menghindari kesukaran-kesukaran dalam teks tertentu. Jadi Perjanjian Baru berbahasa Ibrani Ha B’rit ha-Hadasah inilah yang dijadikan acuan dan diperlakukan oleh Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA seakan-akan itu merupakan teks bahasa aslinya. Ini tidak hanya ironis tetapi juga merupakan suatu hal yang konyol! Pertanyaannya, seberapa jauh Naskah berbahasa Yunani dapat dipercaya sebagai bahasa asli Perjanjian Baru? Apa yang dianggap kesalahan karena mengundung kontradiksi dalam naskah Perjanjian Baru Yunani seperti pendapat Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA tersebut sebenarnya adalah paradoksi.[25] Paradoksi bukanlah kontradiksi! Kontradiksi tidak dapat dijelaskan, sedangkan paradoksi dapat dijelaskan. Paradoksi sepertinya bertentangan tetapi bila dicermati maka akan ditemukan penjelasannya. Karena itu Augustinus memberikan pernyataan yang tegas mengenai situasi ini, “Jika kita bingung karena adanya hal-hal yang kelihatannya bertolak belakang di dalam Alkitab, kita tidak boleh berkata, pengarang kitab ini salah, tetapi bisa jadi (1) manuskrip atau salinan naskah kunonya yang cacat, atau (2) penerjemahannya keliru, atau (3) kita memang belum mengerti”.[26] Sebagai contoh bagian lain dalam Perjanjian Baru yang dianggap sebagai kontradiksi Alkitab, padahal sebenarnya adalah paradoksi, yaitu peristiwa kematian Yudas. Injil Matius 27:5 menyebutkan bahwa kematian Yudas itu disebabkan karena ia gantung diri. Sedangkan Lukas dalam Kisah Para Rasul 1:18 menulis bahwa kematian Yudas disebabkan karena ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan semua isi perutnya tertumpah keluar. Para kritikus menuduh mana yang benar, dan menyatakan bahwa ini kontradiksi. Kekristenan menjawab bahwa ini adalah paradoksi yang bisa dijelaskan karena kedua laporan penulis Kitab itu benar adanya. Yudas memang gantung diri, kemudian oleh sesuatu hal talinya putus, ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan isi perutnya semuanya keluar. Tetapi masalah dalam kisah kematian Yudas ini belum selesai, sebab dalam Matius 27:6-7 disebutkan bahwa para imam yang membeli tanah hakal dama itu; sedangkan menurut Kisah Para Rasul 1:18 menyebutkan bahwa Yudaslah yang membeli tanah tersebut. Dari kedua laporan tersebut, mana yang benar ? sekali lagi Alkitab oleh para kritikus dituduh kontradiksi. Sebenarnya tidak kontradiksi tetapi hanya paradoksi, dan ini bisa dijelaskan. Jadi kedua laporan itu benar adanya, yaitu bahwa para imam membeli tanah tersebut atas nama Yudas (sertifikat hak milik Yudas). Lalu bagaimana kita menjelaskan kesulitan dalam teks Matius 27:7-9 tersebut? Kesukaran dalam bagian ini adalah dikarena Matius mengatakan “nubuat nabi Yeremia” (ayat 9) sedangkan ayat rujukan yang paling cocok dengan peris­tiwa ini kelihatannya adalah Zakharia 11:12-13. Mungkin karena inilah maka terjemahan Brit Khadasa yang dipakai oleh Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA menghilangkan kata “Yeremia” untuk menghindari kesulitan ini. Jawaban untuk kesulitan ini ada Matius ketika menyatakan bahwa peristiwa pembelian Tanah Tukang Periuk itu merupakan penggenapan dari nubuatan Nabi Yeremia maka ia sedang memadukan unsur-unsur simbolisme nubuat nabi Yeremia (Yeremia 32:6-9) dan nabi Zakharia (Zakharia 11:12-13). Ketika memadukan kedua nubuatan ini, seperti kebiasaan yang sering dipakai saat itu dalam mengutip ayat-ayat dari kitab para nabi, maka nama nabi yang tua dan terkenalah yang disebutkan, yaitu Yeremia. Penafsiran saya tersebut di atas didukung oleh pendapat Pakar Bahasa Ibrani Perjanjian Lama Profesor Gleason L. Archer yang menjelaskan demikian, “Matius sedang menggabungkan dan merangkumunsur-unsur simbolisme yang ada dalam Kitab-nabi-nabi baik Zakharia maupun Yeremia. Namun, karena Yeremia adalah yang lebih menonjol di antara dua nabi tersebut maka dia memprioritaskan nama Yeremia daripada nama nabi kecil itu. Cara yang sama diikuti oleh Markus 1:2-3 yang hanya menyebutkan Yesaya sebagai sumber dari kutipan gabungan dari Maleakhi 3:1 dan Yesaya 40:3. Dalan kasus itu juga, yang disebut namanya ialah yang lebih terkenal di antara dua nabi tersebut. Oleh karena hal semacam itu merupakan praktik yang lazim dalam kesusastraan abad pertama Masehi, yaitu ketika Kitab-kitab Injil di tulis, maka pra penulisnya tidak mungkin dapat dipersalahkan karena tidak mengikuti kebiasaan zaman modern untuk memberikan identifikasi serta pencantuman catatan kaki secara persis (yang tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah sebelum dibuat penyalinan dari gulungan kitab menjadi kodeks dan setelah ditemukannya percetakan)”. [27] Jadi, apa yang dianggap sebagai kesalahan oleh Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA sebenarnya hanyalah kesulitan. Dan konyolnya, bukannya mencari jawaban yang benar atas kesulitan itu Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA malah menggunakan kesulitan itu untuk membangun opini bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Perlu diketahui, ada banyak kesulitan-kesulitan di dalam Alkitab seperti contoh tersebut diatas. Ahli filsafat dan pakar teologi Norman Geisler mendaftarkan sejumlah 800 hal yang dianggap kontradiksi Alkitab oleh para kritikus dalam bukunya yang berjudul The Big Book of Bible Difficulties: Clear and Concise Answer From Genesis to Revelation, dan ia meunjukkan bahwa tidak satupun diantaranyanya terbukti benar.[28] Karena itu saya menyarankan agar Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th, MA belajar lagi prinsip-prinsipe hermeneutika dan eksegesis agar dapat menafsirkan Alkitab dengan tepat seperti yang dimaksudkan oleh penulis kitab dalam Alkitab.
[1] Samuel T. Gunawan, S.Th.,SE.,M.Th adalah teolog Protestan Kharismatik, Pendeta dan Gembala di Bintang Fajar Ministries Palangka Raya; Dosen Filsafat dan Apologetika Kharismatik; Penulis buku Apologetika Kharismatik. Menyandang dua gelar Magister of Theology dari STT Trinity, M.Th (Christian Leadership) dan M.Th (Systematic Theology and Apologetics).

[2] Rev. Dr. Yakub Sulistyo, S.Th.,MA adalah teolog Yahweisme di Indonesia, Pendiri Utama dan Pendeta di Gereja Pemulihan Firman GPF). Doktor Teologi dalam Bidang Misiologi dari STT Apostolic dan Haggai Institute Hawaii.

Kontroversi Surga Palsu dan Ketiadaan Tuhan

MELAWAN PDT. SAMUEL T. GUNAWAN

BENARKAH PERJANJIAN BARU DITULIS DALAM BAHASA IBRANI ?


 

Tulisan Pdt. Samuel T. Gunawan saya tempatkan di bagian bawah bantahan saya. Pdt. Samuel T. Gunawan berpendapat Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, tapi saya berpendapat naskah aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani, kecuali yang tulisannya rasul Paulus bisa saya terima itu ditulis dalam bahasa Yunani, sebab rasul Paulus memang mahir berbagai bahasa dan jemaatnya bukan orang Yahudi, sehingga jika itu ditulis dalam bahasa Yunani, saya setujui 100%.

Sebelum saya menjawab pendapat Pdt. Samuel, perlu saya sampaikan dulu tentang kitab-kitab dalam Perjanjian Baru dengan para penulisnya, penggolongan para rasul dan kemampuan berbahasanya.

Al Kitab itu dibagi 2: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru juga dibagi 2: Kitab Injil dan Surat Para Rasul. Kitab Injil terdiri dari 4 kitab, Surat Para Rasul terdiri dari 23 kitab, sehingga jumlah kitab Perjanjian Baru = 27 kitab.

Para penulis di Perjanjian Baru: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, Petrus, Yakobus, dan Yudas. Para penulis kitab itu berdasarkan kemampuan intelektual dan penugasannya terbagi dalam 2 kelompok; yang pengetahuannya pas-pasan seperti: Matius, Markus, Yohanes, Petrus, Yakobus dan Yudas, mereka ditugaskan memberitakan Injil ke lingkungan orang-orang Yahudi, sedangkan Lukas dan Paulus ditugaskan untuk ke bangsa-bangsa lain. Dari sinilah saya yakin bahwa tidak semua kitab dalam Perjanjian Baru itu ditulis dalam bahasa Yunani, kecuali yang ditulis oleh Lukas dan Paulus. Jadi, yang ke orang Yahudi menggunakan bahasa Ibrani, sedangkan yang ke bangsa lain menggunakan bahasa Yunani.

Pada prinsipnya saya tidak mempermasalahkan bahasanya. Menggunakan bahasa apapun silahkan asalkan nama orang jangan diterjemahkan. Sebab mana ada nama orang yang diterjemahkan, sedangkan berbeda 1 huruf saja dianggap tidak sah. Nama kita sendiri saja kalau salah tulis kita permasalahkan dan kalau berurusan dengan bank atau login ke suatu akun pasti ditolak, maka janganlah kita meremehkan nama tokoh-tokoh Al Kitab yang harusnya kita hormati.

Misalnya, nama Samuel, saya tulis Sammuiil, apakah mau? Atau saya terjemahkan "Samuel" menjadi "Allah mendengar", apakah mau? Tapi mengapa YESHUA dirubah menjadi Yesus, Kefas menjadi Petrus, Saul menjadi Paulus, sementara nama yang sangat kuno seperti: Adam, Hawa, Kain, Habel, Musa, Daud, Salomo, bisa bertahan hingga detik ini? Coba pikirkan tentang nama nabi Muhammad, apakah berubah di Amerika? Apakah berubah di China? Apakah bukan Muhammad kalau di Rusia? Dari sini bisa kita lihat bahwa sebenarnya kita bisa melestarikan nama-nama itu sampai ribuan tahun, sehingga terjadinya perubahan bisa diartikan sebagai suatu kesengajaan. Dan apa yang tidak semestinya bukan saja merupakan kesalahan tapi juga menyesatkan.

Hingga hari ini masih belum ada orang yang mengklaim tentang penemuan kitab yang aslinya. Yang dinyatakan selama ini adalah penemuan salinan tertua, bukan yang aslinya. Yang asli masih belum diketemukan. Karena itu betapa bodohnya orang yang menyamakan salinan sebagai aslinya. Dan salinan yang diketemukan itu berangka tahun 150 Tarikh Masehi, sementara para penulisnya sudah mati di tahun 70-an. Ini semakin menjelaskan bahwa temuan itu TIDAK MUNGKIN naskah aslinya. Betapa konyolnya mempertahankan dalil Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani berdasarkan naskah salinan?! Sekolah Theologi mana yang mengajarkan seperti itu?

Penentuan tahun 150 saja tidak pasti, masih disebutkan "sekitar" atau "diperkirakan", bahkan ada antara: 150-200 Tarikh Masehi. Ada rentang waktu yang panjang, yaitu 50 tahun, usia seorang yang sudah bercucu. Jadi, rentang 50 tahun itu panjang sekali. Usia saya ini sudah melewati 7 zaman presiden, mulai Soekarno hingga Jokowi sekarang ini. Jadi, hentikanlah ajaran-ajaran yang memperbodoh jemaat.

Untuk mengoreksi ajaran yang salah bagi anda yang bertitel itu memang berat. Tidak seperti saya yang tidak bertitel bisa bebas menyuarakan pendapat. Sebab titel anda dan penghasilan anda itu didapatkan dari sekolahan yang salah, sehingga anda terikat harus mempertahankan ajaran sekolahan itu walaupun nyata-nyata salah. Sebab jika anda mengingkari ajaran sekolahan itu maka anda akan dipecat dan kehilangan gelar. Mau makan apa anda?

Anda menganggap "Saksi Jehovah" itu salah? Okey. Sekarang itu saya jadikan perumpamaan untuk mencerahkan anda. Jika misalnya anda lulus kependetaan dari sekolahan Saksi Jehovah, maka siapakah anda sekarang? Pasti pendeta Saksi Jehovah, menerima gaji dari Saksi Jehovah, mengajarkan ajaran Saksi Jehovah, dan walaupun salah pasti akan dipertahankan mati-matian, bukan?! Tidak mungkin pendeta Saksi Jehovah akan mengajarkan ajaran HKBP, bukan?! Karena itu ketika anda berdebat dengan saya jangan bersikukuh menganggap diri anda benar. Titel bukan jaminan kebenaran, justru bisa menjadi stempel kesalahan.

Tapi saya yang tidak makan dari gaji dan titel, saya bisa bebas mengemukakan pendapat. Suasana ini sama seperti di zaman ELOHIM YESHUA yang berhadapan dengan orang Farisi, Saduki dan Ahli Taurat yang disebut Sanhedrin. Para sanhedrin itu  adalah ulama-ulama yang dibayar, sementara ELOHIM YESHUA Orang bebas yang tak makan bayaran.

Yang lebih konyol dalam penentuan angka tahun adalah hingga saat ini masih belum ada bahan penguji usia suatu benda yang akurat. Bahan penguji Carbon Dating seringkali mengalami error, bahkan hingga jutaan tahun, dan statusnya selalu: "perkiraan", bukan kepastian. Bahkan untuk menutupi kekurangannya rentang 50 tahun disebut sebagai waktu yang singkat, tak pernah dipermasalahkan. Antara ilmuwan yang satu dengan ilmuwan yang lainnya saling menutupi untuk bersama-sama menentang KETUHANAN. Padahal tanggal ulangtahun kita geser sehari saja kita nggak mau. Tapi untuk sejarah 50 tahun tak kita masalahkan.

Berbicara tentang sejarah, jangan lupa bahwa kita di Indonesia ini menerima sejarah kebangsaan yang tidak akurat. Cerita G-30S-PKI yang belum tentu kebenarannya sudah diajarkan dan meracuni bangsa ini selama puluhan tahun. Bukan kita saja, sejarah Hitler-pun masih gelap, masih menjadi bahan perbincangan yang tiada putusnya. Sejarah yang seharusnya merupakan wilayah ilmiah yang seharusnya berdiri independen, nyatanya banyak diintervensi politik. Karena itu kita mesti kritis terhadap apapun yang kita lihat.

Karena ketidakakuratan angka tahun 150 Tarikh Masehi itu, maka masih halal bagi saya untuk menolak angka tahun itu. Masih lebih baik kita berpegang pada catatan Al Kitab daripada berpegang pada catatan di luar Al Kitab.

Sekarang masalah naskah asli dan salinan. Sekalipun penemuan itu tentang kitab yang berbahasa Ibrani, jangan diyakini asli jika tahunnya selewat masa hidup para penulisnya. Sebab tidak mungkin ada hantu yang menulis kitab. Bahkan sekalipun penemuan itu berangka tahun yang logis, yakni di zaman para penulisnya masih hidup, itupun masih belum tentu aslinya.

Ceritanya begini. Misalkan saya menulis hari ini sebagai tulisan yang asli. Lalu di hari yang sama saya photocopykan 10 lembar, sehingga ada 11 lembar semuanya. Lalu saya bagi-bagikan kepada 11 orang. Setelah itu kita kehilangan jejak atas 11 orang itu. Tapi 10 tahun kemudian kita menemukan 1 lembar. Apakah penemuan yang 1 lembar itu naskah aslinya atau photocopynya? Tentu sangat sulit untuk menyebut itu asli, sebab 1 di antara 11. Itu seandainya semuanya berbahasa Ibrani.

Sekarang seandainya tulisan saya itu diterjemahkan orang ke dalam bahasa Yunani, lalu diphotocopy 10 lembar, dibagikan ke -11 orang, selang 10 tahun kemudian ada penemuan 10 lembar berbahasa Yunani semuanya. Apakah itu naskah aslinya? Tidak mungkin, sebab kita tahu naskah aslinya berbahasa Ibrani.

Nah, dari hal demikian jika kita ingin mengetahui bahasa asli Perjanjian Baru, kita harus memastikan kemampuan para rasul itu berbahasa. Apakah para rasul mampu berbahasa Yunani? Jika nyatanya tidak mampu berbahasa Yunani, bagaimana mereka menulis dalam bahasa Yunani? Betapa bodohnya orang yang mempercayai kekonyolan itu. Jika saya tak bisa berbahasa Inggris, apa mungkin saya menulis memakai bahasa Inggris? Mungkin, karena ada Google Translate. Tapi ini bukan zaman Google, bro.

Pdt. Samuel T. Gunawan, maukah anda mencopot gelar anda? Beranikah anda dipecat dari gereja anda? Makan apa anda kalau dipecat dari gereja anda? Okey, sekarang saya jawab pendapat anda bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani;

1. Kelompok Yahweisme; Saya bukan kelompok Yahweisme sekalipun saya menggunakan YAHWEH, dan saya tidak kenal mengenal dengan Pdt. Yakub Sulistyo yang berdiskusi dengan anda.

2. Secara Theologis, Akademis, Ilmiah dan historis.

Saya mempelajari Al Kitab tidak berdasarkan ilmu-ilmu itu semuanya, tapi berdasarkan iman pada Al Kitab. Al Kitab berdiri tunggal tidak mengijinkan dirinya diatur oleh ilmu-ilmu itu. Bagaimana ilmu manusia hendak mengatur-mengatur hikmat TUHAN? Manusia harus masuk pada Al Kitab kalau mau selamat. Jangan Al Kitab diseret untuk memenuhi tuntutan ilmu-ilmu itu.

Saya tetap berdiri di atas Al Kitab sekalipun ilmu-ilmu itu menentangnya. Bagi saya biar anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

3. Olokan otak di dengkul;

Kata Pdt. Samuel: "Ini doktor teologi barangkali otaknya di taruh di dengkul". Apakah patut seorang gembala jemaat berkata-kata seperti itu? Kalau berdiskusi itu bahas materinya jangan lari ke pribadi orangnya.

4. Pdt. Yakub tidak bisa membuktikan keyakinannya bahwa Perjanjian Baru itu ditulis dalam bahasa Ibrani.

Itu bukan berarti Pdt. Yakub plin-plan, tapi seperti itulah konsep iman. Percaya tanpa membuktikan. Saya mempercayai TUHAN tapi saya juga tidak bisa membuktikan keberadaanNYA. Lalu bagaimana anda membuktikan Adam dan Hawa?

Kalau yang dimaksud bukti itu menghadirkan, ya sayapun nggak mampu.

5. Yang bisa dibuktikan Perjanjian Baru berbahasa Yunani.

Mungkin anda benar jika tentang penemuan tertua, bukan tentang naskah aslinya. Semua temuan memang berbahasa Yunani, tak ada yang berbahasa Ibrani. Tapi itu hanya salinannya. Masih belum ada klaim penemuan naskah aslinya.

6. Hilangnya naskah asli karena peristiwa pembantaian ras Yahudi oleh Hitler;

Menurut Pdt. Yakub seperti itu. Tapi saya lebih suka berpendapat karena yang asli cuma 1, maka menjadi sangat sulit diketemukan. Dan kalaupun diketemukan mungkin sudah hancur menjadi debu karena dimakan usia 2000 tahun. Berbeda dengan yang salinan yang bisa beregenerasi terus. Copy dicopy lagi dicopy lagi sehingga selalu baru.

7. Pdt. Samuel mengakui nama YAHWEH(Ibrani) diganti menjadi KURIOS(Yunani).

Pertanyaan saya: bolehkah nama orang diganti-ganti, diterjemahkan? Jika tidak boleh, ya kembalikan KURIOS menjadi YAHWEH kembali.

8. Dalam bahasa Ibrani, Perjanjian Baru disebut: "Ha B’rit ha-Hadasah";

Namun "Ha B’rit ha-Hadasah" itu merupakan terjemahan dari Yunani ke Ibrani. Maksudnya, kitab Perjanjian Baru yang berbahasa Ibrani itu merupakan hasil terjemahan dari bahasa Yunani. Justru malah jelas-jelas salinan. 

Tentang "Ha B’rit ha-Hadasah" merupakan salinan saya setuju, bahwa memang naskah yang asli benar-benar masih belum diketemukan. Dan sekalipun "Ha B’rit ha-Hadasah" itu berbahasa Ibrani, saya tak merasa perlu berkiblat pada kitab itu. Saya tetap lebih suka Al Kitab ini sekalipun dari bahasa Yunani. Sebab saya bukan memasalahkan bahasanya, tapi memasalahkan diubah-ubahnya nama orang. Itu saja.

Presiden itu jabatan, sedangkan Jokowi itu nama. Jangan sampai nama di KTP menjadi: Presiden. Itu tidak waras namanya. Demikian pula dengan YAHWEH itu nama, sedangkan KURIOS itu gelar. Masak nama diganti gelar? Yang benarlah. 

9. Pdt. Samuel mengijinkan disebutkannya nama YAHWEH;

Jadi, Pdt. Samuel mengakui bahwa nama YAHWEH bukan sebuah kekeliruan. Dan jika sampai YAHWEH tidak ditemukan dalam Al Kitab terbitan LAI, itu merupakan manipulasi LAI. Jika kitab yang semula ada nama YAHWEH, lalu sekarang diganti TUHAN, itu artinya ada manipulasi. 

Pemakaian nama TUHAN jangan dibenarkan jika membenarkan nama YAHWEH. Sebab kelompok YAHWEH termasuk saya menganggap jijik dan najis kata-kata; TUHAN itu. Jangan menyamakan antara kesalahan dengan kebenaran. Jika barang palsu harganya sama dengan barang asli, maka barang yang asli menjadi rendah nilainya. Karena itu TUHAN itu merupakan penghinaan buat YAHWEH. 

10. Pdt. Samuel tidak mengharuskan menggunakan YAHWEH. 

Itu artinya Pdt. Samuel membiarkan kesalahan melenggang-kangkung. Logikanya menjadi logika yang sesat, tidak bisa dibenarkan menurut konsep kebenaran Al Kitab yang menjunjung tinggi kebenaran. 

11. Temuan 5366 naskah berangka tahun abad ke-2 dan ke-3;

Padahal para rasul sudah mati di abad pertama, tepatnya tahun 70-an. Hanya rasul Yohanes yang bertahan sampai tahun 95. 

12. Kutipan para ahli;

Tentang para ahli; jika membenarkan Al Kitab kita terima. Tapi jika bertentangan dengan Al Kitab harus saya katakan: "Memangnya siapa kamu?" Sebab Al Kitab tanpa merekapun tetap berdiri. 

13. Tentang keberadaan kitab Septuaginta;

Kitab Septuaginta hanya beredar di luar sinagoga, bukan pegangan para imam Yahudi. 

14. Benarkah orang Yahudi tidak paham bahasanya sendiri?

Menurut para ahli orang Yahudi memakai bahasa Aram di rumah, memakai bahasa Yunani di pasar dan memakai bahasa Latin dengan pejabat Romawi. 

Jika dikatakan Perjanjian Baru menggunakan bahasa Aram, saya masih bisa menerima itu sebab bahasa Aram masih mirip dengan bahasa Ibrani, sama seperti bahasa Jawa dengan bahasa Sunda. Tapi dengan bahasa Yunani, itu bedanya jauh sekali. Dan saya tidak pernah berpikir bahwa bahasa Ibrani itu bahasanya orang Israel. Sebab sebelum bangsa Israel lahir, Abraham sudah disebut orang Ibrani. Padahal Abraham itu berasal dari Haran, Mesopotamia. Jadi, Ibrani itu menunjuk ke Mesopotamia. Bahasa Ibrani bukanlah bahasa ciptaan Abraham ataupun nabi Musa. Bahasa Ibrani bukan bahasa Israel, tapi bahasa yang dipakai oleh orang Israel. Tapi jika dikatakan orang Yahudi memakai bahasa Yunani di pasar, nanti dulu, kita lihat datanya dari Al Kitab;

Yoh. 5:2Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya 

Yoh. 19:13Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata.

Yoh. 19:17Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.

Nama kolam, nama pengadilan, dan nama bukit menggunakan bahasa Ibrani.

Yoh. 19:20Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Kalimat itu bisa diartikan bahwa orang Yahudi mengerti tulisan itu karena dituliskan dalam bahasa Ibrani. Mengapa Pontius Pilatus menuliskan dalam bahasa Ibrani? Supaya bisa dimengerti oleh masyarakat Yahudi.

Yoh. 20:16Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.

ELOHIM YESHUA berbahasa Ibrani dengan Maria.

Kis. 6:1Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.

Kis. 9:29Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia.

Ayat itu menerangkan tentang adanya orang Yahudi yang berbahasa Yunani dan ada juga yang berbahasa Ibrani. Sama seperti orang Indonesia, ada yang bisa berbahasa Indonesia dan ada yang bisa berbahasa Inggris.

Kis. 21:40Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya:

Rasul Paulus merasa perlu berbicara dalam bahasa Ibrani. Kenapa? Sebab yang dihadapi adalah orang-orang awam, bukan kalangan terpelajar.

Kis. 22:2Ketika orang banyak itu mendengar ia berbicara dalam bahasa Ibrani, makin tenanglah mereka. Ia berkata:

Wouw, orang banyak itu makin tenang setelah rasul Paulus berbahasa Ibrani.

Kis. 26:14Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.

ELOHIM YESHUA dari sorga berbicara kepada rasul Paulus dalam bahasa apa?

Kis. 2:7Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?

Orang-orang dari berbagai bangsa merasa heran para rasul yang orang Galilea itu mendadak bisa berbahasa daerah lain. Keheranan itu menerangkan bahwa orang Galilea itu orang dusun yang semestinya tidak bisa berbahasa intelek; Yunani. Sama seperti kita pasti heran kalau ada orang dusun bisa berbahasa Inggris, bukan?!

Bagaimana para rasul Galilea itu bisa berbahasa asing? Ternyata karena kuasa ROH KUDUS di hari Pentakosta.
 
Sebaliknya, bisakah anda tunjukkan ayat yang menyiratkan bahwa bahasa Yunani digunakan di pasar, para rasul dan ELOHIM YESHUA menggunakan bahasa Yunani?

====================================

Tulis Pdt. Samuel T. Gunawan:

BENARKAH PERJANJIAN BARU
DITULIS DALAM BAHASA IBRANI ?
(Sebuah jawaban terhadap pandangan teologis Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani)
by Samuel T. Gunawan [1]
Kelompok Yahweisme tertentu untuk mendukung ajaran dan prakteknya mengklaim bahwa bahasa asli Perjanjian Baru bukanlah bahasa Yunani tetapi bahasa Ibrani. Rev. Dr. Yakub Sulistyo S.Th.,MA[2] dalam video youtobe (https://www.youtube.com/watch?v=IZ16diztngw) khotbahnya yang berjudul “Benarkah Tulisan Asli Perjanjian Baru Ditulis Dalam Bahasa Yunani?” yang disampaikan pada tanggal 27 Agustus 2017 dalam ibadah di Gereja Yakin Hidup Sukses (YHS) Palangka Raya menyatakan demikian, “Kalau saya berbicara tentang apakah benar tulisan asli Perjanjian Baru itu berbahasa Yunani, yang menjadi pertanyaan “apakah kaitannya dengan nama YAHWEH?’ Orang-orang yang anti nama YAHWEH mereka selalu mengatakan bahwa Kitab Suci asli Perjanjian Baru itu di dalam bahasa Yunani... kalau memang kitab Perjanjian Baru itu aslinya dalam bahasa Yunani seharusnya tidak boleh ada kesalahan. Kalau kitab asli saja salah berarti iman kita juga salah. .. karena itu mau tidak mau berarti mengacu kepada Brit Khadasha (Perjanjian Baru berbahasa Ibrani”.[3]
Menyimak video khobah Rev. Dr. Yakub Sulistyo S.Th.,MA, walau penyampaiannya baik tetapi tidak benar secara teologis, akademis, ilmiah dan historis. Dalil beserta argumen-argumen yang diajukan hanya asumsi atau mungkin lebih tepat menyebutnya omong kosong. Ini doktor teologi barangkali otaknya di taruh di dengkul. Berulang-ulang menyatakan (seolah-olah membuktikan) bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani tetapi mengakui dari mulutnya sendiri (dalam video tersebut) bahwa ia tidak bisa membuktikan Perjanjian Baru itu ditulis dalam bahasa Ibrani. Tentu saja ia tidak akan pernah bisa membuktikan karena memang Perjanjian Baru di tulis dalam bahasa Yunani. Khotbah tersebut tidak lebih dari penyataan dari penyesat yang menuduh sesat banyak pakar dan ahli teologi yang telah diakui kepakarannya. Keinginan untuk membuktikan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani seperti yang dilakukan oleh Rev. Dr. Yakub Sulistyo S.Th.,MA, merupakan usaha yang sia-sia, sekalipun dilakukannya sampai rambutnya memutih semuanya. Lebih konyol lagi, alasan yang dipakai atas musnahnya naskan asli Perjanjian Baru adalah peristiwa pembantaian umat Yahudi Jerman dibawah rezim Hitler di abad ke 19. Pertanyaannya, jika memang naskah asli Perjanjian Baru berbahasa Ibrani ikut terbakar pada peristiwa Holocaust (pembantaian besar-besar ras Yahudi) itu, mengapa selama sembilan belas abad tidak ada satupun salinan manuskripnya ? Menjadikan peristiwa Holocaust (peristiwa pembantaian besar-besar ras Yahudi), sebagai bukti musnahnya naskah asli Perjanjian Baru merupakan alasan yang konyol dan dicari-cari. Bahkan kebangkutran yang terjadi atas negara Yunani saat ini tidak dapat dijadikan bukti bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani seperti yang dipakai Rev. Dr. Yakub Sulistyo S.Th.,MA untuk mendukung pendapatnya tersebut.
Berikut ini tanggapan saya terhadap pendapat Yahweisme, khususnya penyataan Yakub Sulistyo bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani bukan bahasa Yunani.
1. Salah satu cara yang ditempuh oleh kelompok Yahweisme untuk mendukung ajaran dan praktek mereka mewajibkan penggunaan nama YAHWEH adalah dengan membangun sebuah opini dikalangan Kristen bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Pendapat bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani ini mungkin merupakan satu-satunya senjata yang paling ampuh bagi mereka untuk mendukung pandangan mewajibkan penggunaan nama YAHWEH tersebut. Hal ini terus menerus mereka tekankan dalam setiap kesempatan sebab memang Perjanjian Baru bahasa Yunani tidak menggunakan nama YAHWEH tetapi menggantinya dengan Kurios. Secara logis, apabila Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan tidak mempertahankan pemakaian nama YAHWEH maka mewajibkan pemakaian kata tersebut adalah suatu kekeliruan. Konsekukuensi logis ini tentu saja sangat dipahami oleh para penganut Yahweisme. Karena itu membangun opini bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani merupakan satu-satunya harapan mereka untuk dapat mewajibkan penggunaan nama YAHWEH karena dalam Perjanjian Baru bahasa Ibrani tersebut ada tertulis nama YAHWEH. Ironisnya, Perjanjian Baru yang menjadi acuan mereka adalah Ha B’rit ha-Hadasah atau Brit Khadasha ! Perjanjian Baru berbahasa Ibrani Ha B’rit ha-Hadasah ini diperlakukan mereka seakan-akan itu merupakan teks bahasa aslinya. Ini tidak hanya ironis tetapi juga merupakan suatu hal yang konyol! Mengapa? Karena faktanya, Brit Khadasha merupakan kitab Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang diterjemahkan dari Perjanjian Baru bahasa Yunani oleh United Bible Society pada tahun 1970.[4] Lebih jauh lagi harus diperhatikan, bahwa penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Ibrani yang paling awal dilakukan pada tahun 1385 Masehi.[5] Perjanjian Baru bahasa Ibrani baru dibuat baru abad 14 M oleh Shem Tov, seorang Rabbi Yahudi yang ingin menyerang ajaran Kristen (itupun hanya Injil Matius). Karena terjemahan Shem Tov terlalu banyak memasukkan tafsir dan bukan murni terjemahan ke dalam bahasa Ibrani, 200 tahun kemudian Du Tillet merevisi terjemahan Shem Tov di tahun 1555, dan hasil revisi inilah yang dikenal dengan injil Matius Du Tillet. Perjanjian Baru yang diterjemahkan dalam bahasa Ibrani yang lengkap baru dikerjakan pada abad 19 M.
2. Jika pertanyaannya “bolehkah menggunakan nama YAHWEH?” maka jawabannya “ya”. Alasannya karena nama YAHWEH (TUHAN) adalah salah satu nama Allah dalam bahasa Ibrani yang disebutkan di dalam Alkitab. Sebutan lainnya adalah Elohim (Allah). Dalam Perjanjian Baru (bahasa Yunani) nama YAHWEH disebut dengan Kurios dan Elohim dengan Theos. Carles C. Ryrie menjelaskan, “Banyak nama Allah di dalam Alkitab memberikan pernyataan tambahan tentang sifatNya. Ini bukan sekedar nama yang diberikan oleh orang, tetapi pada kebanyakan kasus di Alkitab, merupakan penggambaran Allah tentang diriNya sendiri. Nama-nama itu menyatakan aspek-aspek sifatNya.” [6] Karena itu disini saya menegaskan bahwa saya tidak anti nama YAHWEH dan saya juga tidak melarang orang-orang menggunakan nama YAHWEH karena nama YAHWEH itu memang ada di dalam Alkitab yang diperkenalkan kepada Musa dan orang Israel pada saat itu. Tetapi jika pertanyaannya “haruskah menggunakan nama YAHWEH?” maka jawabannya “tidak diharuskan”.[7] Jadi pada dasarnya saya sepakat dengan kelompok Yahweisme bahwa orang Kristen boleh memakai nama YAHWEH, tetapi saya tidak sepakat bila penggunaan itu diwajibkan bagi umat Kristen masa kini karena memang Perjanjian Baru tidak memerintahkan, mewajibkan, ataupun mengindikasikan keharusan tersebut. Justru jika ingin konsisten dengan Perjanjian Baru Baru maka nama yang digunakan adalah Kurios yang menunjuk pada YAHWEH. Jadi tuduhan “anti nama YAHWEH” seperti yang dilontarkan oleh Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA tersebut merupakan cacat logika yang disebut strawman. Cara seperti ini sama dengan membangun sendiri “lawan bayang” dan kemudian menyerangnya tanpa ampun, sambil berkata dengan angkuhnya “tidak Alkitabiah dan sesat”. Padahal tuduhan tersebut salah karena dibangun menurut pandangan yang salah, yaitu pandangannya sendiri. Hal seperti ini termasuk kategori penalaran cacat yang disebut “straw man”.[8] Sebuah kesalahan logika, dengan memutarbalikan fakta yang bertujuan melemahkan lawan dengan menciptakan argumen baru, suatu argumen yang dibangun sendiri dan yang mudah dipatahkan.
3. Upaya untuk membuktikan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani seperti yang dilakukan oleh Yakub Sulistyo, merupakan usaha yang sia-sia. Karena memang memang Perjanjian Baru di tulis dalam bahasa Yunani, tepatnya Yunani Koine. Para pakar teologi dan ahli Alkitab telah memberikan bukti-bukti akademis, ilmiah dan historis bahwa Perjanjian Baru memang ditulis dalam bahasa Yunani. Untuk Perjanjian Baru bahasa Yunani ini buktinya sangat melimpah. Ada 5366 naskah untuk (manuskrip) yang beberapa diantaranya berasal dari abad ke 2 dan ke 3.[9] Berikut ini beberapa kutipan yang menunjukkan bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani : J.I. Packer, Merril C. Tenney, William White Jr menjelaskan demikian, “Orang Yahudi memakai bahasa Aram dalam rumah mereka, bahasa Yunani di pasar, dan bahasa Latin dalam urusan mereka dengan orang Romawi. Orang Romawi memakai bahasa Latin dan Yunani, tetapi tidak memakai bahasa Ibrani dan Aram. .. Bahasa Yunani diketahui di seluruh daerah Laut Tengah. Di banyak tempat, Bahasa Yunani lebih umum daripada bahasa Latin, bahkan disebuh provinsi seperti Mesir. Ada banyak orang Yahudi yang tinggal di daerah Yerusalem, yang tidak tahu bahasa Ibrani atau tidak dapat membacanya, jadi bagi mereka diterjemahkan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani (disebut Septuaginta) adalah Kitab Suci. Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan para penulisnya sering mengutip Septuaginta dengan cermat, bahkan ketika susunan kata dalam Septuaginta tidak cocok dengan teks bahasa Ibrani”.[10] Jerry MacGregor dan Marie Prys menyatakan, “Sebagian besar Kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, tetapi sebagian kitab Daniel ditulis dalam bahasa Aram. Kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine, meskipun kitab-kitab itu memuat frase-frase dalam bahasa Latin, Aram, dan Ibrani”.[11] Merril C. Tenney dalam bukunya New Testament Survey yang direvisi oleh Walter M. Dunnat menyatakan, “Bahasa Aram dan Yunani lebih banyak berperan di dalam sejarah gereja pada abad yang pertama daripada bahasa Latin dan Ibrani. Konon beberapa catatan yang paling dulu dibuat mengenai ajaran Kristus ditulis dalam bahasa Aram, dan kenyataannya bahwa Perjanjian Baru secara utuh disebarluaskan hampir sejak awal dalam bahasa Yunani terlalu sulit untuk dibantah. Semua surat kepada jemaat dalam bahasa Yunani, dan kitab-kitab Injil serta Kisah Para Rasul hanya diketemukan dalam bahasa Yunani; meskipun terdapat catatan mengenai ajaran Kristus dalam bahasa Aram pada pertengahan abad yang pertama”.[12]
4. Alasan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani adalah karena pengaruh helenisasi pada masa itu. Helenisasi adalah istilah teknis untuk menggambarkan proses perubahan kultural yang terjadi sekitar abad ke-2 SM hingga pertengahan abad ke 1 M, dimana pengaruh kebudayaan Yunani (termasuk dalam hal cara hidup) sangat dominan. Dominasi kebudayaan Yunani ini tidak dapat dilepaskan dari perluasan kekuasaan Yunani di bawah pimpinan Aleksander Agung pada Abad ke 3 SM. kita sudah mengetahui bahwa sejak abad ke 5 SM (zaman Ezra, Nehemia 8:9), bahasa Ibrani yang terdiri hanya huruf-huruf konsonan sudah tidak dimengerti oleh umumnya orang Yahudi, dan sebagai bahasa percakapan kemudian digantikan oleh bahasa Aram. [13] Alexander raja Yunani yang menguasai kawasan dari Yunani, Asyur, Media, Babilonia, sampai Mesir, menyebabkan pengaruh helenisasi menguasai Palestina, lebih-lebih dibawah wangsa Ptolomeus dan Seleucus helenisasi khususnya bahasa Yunani makin tertanam di Palestina sehingga kitab Tanakh Ibrani pun harus diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi Septuaginta di Aleksandria (abad ke 2 - 3 SM).[14] Kita bisa membayangkan, setelah sekian lama orang Yahudi itu bergaul erat dengan kebudayaan dan cara hidup Yunani mengakibatkan mereka tidak lagi memahami bahasa Ibrani. Sehingga Kitab Suci bahasa Ibrani (Tanakh, Perjanjian Lama) perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani.[15] Jadi, pada masa itu sebagian umat Yahudi sudah tidak lagi bisa berbicara bahasa Ibrani kecuali mereka yang menjadi ahli kitab yang bertugas di Bait Allah dalam salin-menyalin Kitab Suci. Walau dapat dipastikan bahwa Yesus dan murid-muridNya yang tinggal di daerah Yudea-Samaria (daerah Palestina) berbahasa Aram (bukan bahasa Ibrani) sebagai bahasa ibu, namun tak bisa dipungkiri bahwa Yesus hidup pada zaman dan masyarakat yang sudah terpengaruh bahasa dan budaya Yunani, yang disebut masyarakat helenistik.[16] Masyarakat helenistik terbentuk ketika Aleksander Agung menaklukkan Yunani dan sebagian besar wilayah mulai dari Mesir sampai ke India, dimana kemudian bangsa Yunani membawa keluar budaya serta bahasanya yang disebut helenisasi. Merril C. Tenney mengatakan, “Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi di pengadilan dan bahasa pergaulan sehari-hari, seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisan di atas papirus, surat-surat cinta, tagihan, resep, mantera, esai, puisi, biografi, dan surat-surat dagang, semuanya tertulis dalam bahasa Yunani, bahkan tetap demikian hingga masa pendudukan Romawi. ... bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme.[17] Jadi bahasa Aram sebagai bahasa ibu diiringi bahasa Yunani Koine digunakan oleh Yesus Kristus dan para Rasul dalam pemberitaan Injilnya, dan bukan Tenakh Ibrani melainkan Septuaginta Yunanilah yang digunakan oleh umat pada saat awal kekristenan. Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru dikutip dari Septuaginta,[18] sisanya dari berbagai naskah Ibrani. Merril C. Tenney menuliskan, “Septuaginta ... Pada masa Kristus, kitab tersebut telah tersebar luas di antara para Perserakan di wilayah Timur Tengah dan menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen yang mula-mula”. [19] Sebagai tambahan, Grant R. Osbone menyatakan, “Berkenaan dengan Perjanjian Baru, sumber aslinya telah hilang, dan harus dibangun kembali melalui kritik teks. Namun septuaguinta tetap menjadi Alkitab utama di abad pertama, yang diterima bahkan di Palestina, dan banyak sekali kutipan Perjanjian Baru berasal dari Septaguinta. Misalnya dari delapan puluh kutipan dalam Matius, tiga puluh berasal dari Septuaginta. Namun semuanya dalam ucapan langsung Yesus dan Yohanes Pembaptis, meninggalkan kesan bahwa Yesus menggunakan Septuaginta. Hal yang serupa juga terlihat dari ucapan-ucapan dalam kisah Para Rasul. Bahkan surat rasuli yang paling bersifat Yahudi (Ibrani dan Yakobus) menggunakan septuaginta secara menyeluruh” [20] lebih lanjut Grant R. Osbone menyatakan, “Sebagai kesimpulan, gereja mula-mula menggunakan Septuaginta secara luas sebagai sumber kutipan, namunkanon mereka secara umum adalah dua puluh empat (=tiga puluh sembilan) Kitab Perjanjian Lama yang diterima”.[21]
5. Berikut ini kronologi naskah-naskah penting Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Yunani [22] : (1) Manuskrip John Ryland (130 M) terdapat diperpustakaan John Ryland di Manchester, Inggris. Ini adalah fragmen Perjanjian Baru (Penggalan Injil Yohanes) berbahasa Yunani tertua yang di tulis di Mesir. (2) Manuskrip Papyrus: (a) Bodmen Papyrus II (150-200 M) terdapat di Perpustakaan Kesusasteran Dunia Bodmer, berisi sebagian besar Injil Yohanes; (b) Payrus Chester Beatty (200 M) terdapat di Musium Chester Beatty di Dublin dan sebagian dimiliki oleh Universitas Michigan. Koleksi ini terdiri dari kodeks-kodeks papyrus, tiga diantaranya memuat bagian terbesar dari Perjanjian Baru. (3) Manuskrip Unicial: (a) Kodeks Vaticanus (325-350 M) terdapat di Museum Vatikan berisi hampir semua kitab Perjanjian Baru; (b) Kodeks Sinaiticus berisi semua Perjanjian Baru dan tertanggal 331 M; (c) Kodeks Alexandrinus (400 M) terdapat di Museum British, ditulis dalam bahasa Yunani di Mesir dan memuat hampir seluruh Alkitab. (d) Kodeks Ephra-emi (400 an M) terdapat di Bibliotheque Nationale, Paris; (e) Kodeks Bezae (450 M) terdapat di perpustakaan Cambridge dan berisi Injil-Injil serta Kisah Para Rasul dalam Bahasa Yunani dan dalam bahasa Latin; (f) Kodeks Washingtonensis (450 M) besisri keempat kitab Injil; (g) Kodeks Claromontanus (500 M) berisi surat-surat Paulus yang merupakan naskah dwi bahasa). Sedangkan Perjanjian Baru versi lainnya dalam bahasa Siria, Latin, dan Koptik sebagai berikut : (1) Versi Siria: Siria kuno (400 M, Peshitta Siria (150-250 M), Siria Palestina (400-450 M), Philoxenia (508 M), Siria Harkleim (616); (2) Versi Latin : (a) Latin Kuno (350-400 M), (b) Latin Kuno Afrika (400 M), Kodeks Corbiensis (400-500 M), Kodeks Vercellensis (300 M), Kodeks Palatinus (500 M), Latin Vulgatta (366-384 M); (3) Versi Koptik (Mesir): (a) Sahidic (300 M), (b) Bohairic ((400 M), (3) Mesir Pertengahan (400-500 M); (4) Versi lainnya: Armenia (sekitar 400 M) terjemahan dari Alkitab Yunani, Gothic (sekitar 400 M), Gergorian (sekitar 500 M), Ethiopia (sekitar 600 M) dan Nubian (sekitar 600 M). Fakta historisnya, semua naskah (manuskrip) Perjanjian Baru yang lebih awal ini tidak satupun ditulis dalam bahasa Ibrani!. Bahkan Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang dijadikan acuan oleh Yahweisme ternyata tidak pernah ada dalam sejarah. Sejak abad pertama hingga abad ke 14 M tidak ditemukan walau hanya sebuah manuskrip saja. Fakta ini sebaliknya mendukung bahwa Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Yunani Koine.
6. Perlu diketahui bahwa bahasa Yunani memiliki sejarah yang kaya dan panjang, mulai dari abad ke 13 SM sampai sekarang. Bentuk paling awal bahasa ini disebut Linear B (abad ke 13 SM). Bentuk bahasa Yunani yang digunakan para penulis, mulai dari Homer (abad ke 8 SM) hingga Plato (abad ke 4 SM) disebut bahasa Yunani Klasik. Bentuknya indah dan mampu menyampaikan ekspresi secara tepat dengan nuansa yang baik. Alfabetnya, sebagaimana halnya bahasa Ibrani berakar dari bahasa Fenisia. Dalam Bahasa Yunani Klasik terdapat banyak dialek, terutama tiga dialek: Dorik, Aeolik, dan Ionik (dimana Attik adalah cabangnya). Kota Athena ditaklukan raja Filipus dari Makedonia pada abad ke 4 SM. Putra Filipus Aleksnder Agung, murid filsuf Yunani Aristoteles, menaklukan dunia dan menyebarkan kebudayaan Yunani beserta bahasanya. Karena Aleksander berbicara bahasa Yunani Attik, maka dialek inilah yang tersebar. Dialek ini juga dipakai para penulis Athena yang terkenal. Waktu itulah zaman Helenis dimulai. Ketika bahasa Yunani menyebar keseluruh dunia dan bertemu bahasa-bahasa lain, bahasa Yunani mengalami perubahan (seperti pada bahasa manapun). Antara sesama dialek pun saling beriteraksi. Penyesuaian ini yang akhirnya menghasilkan apa yang sekarang disebut Yunani Koine artinya “umum” dan menggambarkan bentuk bahasa sastra halus, karena pada faktanya beberapa penulis pada zaman ini dengan sengaja meniru gaya bahasa Yunani yang lebih tua. Yunani koine adalah bentuk sederhana dari Yunani klasik, akibatnya banyak detail Yunani klasik menjadi hilang. Misalnya, dalam Yunani klasik “allos” berarti “lain”, bentuk lainnya adalah “eteros” yang juga berarti “lain”, namun memiliki perbedaan dengan yang pertama. Jika anda mempunyai sebuah apel dan meminta “allos”, maka anda akan menerima apel lainnya. Namun jika anda meminta “eteros”, anda akan meneriam sebuah jeruk. Bahasa Yunani koine yang seperti inilah yang biasanya terdapat dalam Septuaginta, Perjanjian Baru, dan tulisan-tulisan bapa-bapa Gereja. Studi terhadap Papirus Yunani yang ditemukan di Mesir lebih dari seratus tahun lalu, menunjukkan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang digunakan sehari-hari untuk surat wasiat, surat pribadi, resep-resep, daftar belanja, dan lain-lain. [23]
7. Untuk mendukung pandangannya bahwa Asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani, Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA mengutip Matius 27:7-9, bahwa teks tersebut dalam bahasa Yunani mengandung kesalahan, sedangkan teks dalam bahasa Ibrani (Brit Khadasa) itu benar. Memang harus diakui bahwa Matius 27:7-9 ini merupakan satu dari beberapa bagian yang sukar dalam Perjanjian Baru. Tetapi yang perlu diingat, sukar bukan berarti salah! Kelihatannya, Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA telah memanfaatkan teks yang sukar ini dan menggiring orang-orang untuk meragukan bahwa Naskah asli Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Ironinya, Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang dipakai menjadi acuan Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA untuk membandingkan teks tersebut adalah Brit Khadasha, yaitu kitab Perjanjian Baru bahasa Ibrani yang diterjemahkan dari Perjanjian Baru bahasa Yunani oleh United Bible Society pada tahun 1970 Untuk kepentingan orang-orang Kristen Yahudi modern saat ini. [24] Tentu saja Perjanjian Baru versi ini telah mengalami banyak perbaikan untuk memudahkan pembacanya dan menghindari kesukaran-kesukaran dalam teks tertentu. Jadi Perjanjian Baru berbahasa Ibrani Ha B’rit ha-Hadasah inilah yang dijadikan acuan dan diperlakukan oleh Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA seakan-akan itu merupakan teks bahasa aslinya. Ini tidak hanya ironis tetapi juga merupakan suatu hal yang konyol! Pertanyaannya, seberapa jauh Naskah berbahasa Yunani dapat dipercaya sebagai bahasa asli Perjanjian Baru? Apa yang dianggap kesalahan karena mengundung kontradiksi dalam naskah Perjanjian Baru Yunani seperti pendapat Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA tersebut sebenarnya adalah paradoksi.[25] Paradoksi bukanlah kontradiksi! Kontradiksi tidak dapat dijelaskan, sedangkan paradoksi dapat dijelaskan. Paradoksi sepertinya bertentangan tetapi bila dicermati maka akan ditemukan penjelasannya. Karena itu Augustinus memberikan pernyataan yang tegas mengenai situasi ini, “Jika kita bingung karena adanya hal-hal yang kelihatannya bertolak belakang di dalam Alkitab, kita tidak boleh berkata, pengarang kitab ini salah, tetapi bisa jadi (1) manuskrip atau salinan naskah kunonya yang cacat, atau (2) penerjemahannya keliru, atau (3) kita memang belum mengerti”.[26] Sebagai contoh bagian lain dalam Perjanjian Baru yang dianggap sebagai kontradiksi Alkitab, padahal sebenarnya adalah paradoksi, yaitu peristiwa kematian Yudas. Injil Matius 27:5 menyebutkan bahwa kematian Yudas itu disebabkan karena ia gantung diri. Sedangkan Lukas dalam Kisah Para Rasul 1:18 menulis bahwa kematian Yudas disebabkan karena ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan semua isi perutnya tertumpah keluar. Para kritikus menuduh mana yang benar, dan menyatakan bahwa ini kontradiksi. Kekristenan menjawab bahwa ini adalah paradoksi yang bisa dijelaskan karena kedua laporan penulis Kitab itu benar adanya. Yudas memang gantung diri, kemudian oleh sesuatu hal talinya putus, ia jatuh tertelungkup, perutnya terbelah dan isi perutnya semuanya keluar. Tetapi masalah dalam kisah kematian Yudas ini belum selesai, sebab dalam Matius 27:6-7 disebutkan bahwa para imam yang membeli tanah hakal dama itu; sedangkan menurut Kisah Para Rasul 1:18 menyebutkan bahwa Yudaslah yang membeli tanah tersebut. Dari kedua laporan tersebut, mana yang benar ? sekali lagi Alkitab oleh para kritikus dituduh kontradiksi. Sebenarnya tidak kontradiksi tetapi hanya paradoksi, dan ini bisa dijelaskan. Jadi kedua laporan itu benar adanya, yaitu bahwa para imam membeli tanah tersebut atas nama Yudas (sertifikat hak milik Yudas). Lalu bagaimana kita menjelaskan kesulitan dalam teks Matius 27:7-9 tersebut? Kesukaran dalam bagian ini adalah dikarena Matius mengatakan “nubuat nabi Yeremia” (ayat 9) sedangkan ayat rujukan yang paling cocok dengan peris­tiwa ini kelihatannya adalah Zakharia 11:12-13. Mungkin karena inilah maka terjemahan Brit Khadasa yang dipakai oleh Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA menghilangkan kata “Yeremia” untuk menghindari kesulitan ini. Jawaban untuk kesulitan ini ada Matius ketika menyatakan bahwa peristiwa pembelian Tanah Tukang Periuk itu merupakan penggenapan dari nubuatan Nabi Yeremia maka ia sedang memadukan unsur-unsur simbolisme nubuat nabi Yeremia (Yeremia 32:6-9) dan nabi Zakharia (Zakharia 11:12-13). Ketika memadukan kedua nubuatan ini, seperti kebiasaan yang sering dipakai saat itu dalam mengutip ayat-ayat dari kitab para nabi, maka nama nabi yang tua dan terkenalah yang disebutkan, yaitu Yeremia. Penafsiran saya tersebut di atas didukung oleh pendapat Pakar Bahasa Ibrani Perjanjian Lama Profesor Gleason L. Archer yang menjelaskan demikian, “Matius sedang menggabungkan dan merangkumunsur-unsur simbolisme yang ada dalam Kitab-nabi-nabi baik Zakharia maupun Yeremia. Namun, karena Yeremia adalah yang lebih menonjol di antara dua nabi tersebut maka dia memprioritaskan nama Yeremia daripada nama nabi kecil itu. Cara yang sama diikuti oleh Markus 1:2-3 yang hanya menyebutkan Yesaya sebagai sumber dari kutipan gabungan dari Maleakhi 3:1 dan Yesaya 40:3. Dalan kasus itu juga, yang disebut namanya ialah yang lebih terkenal di antara dua nabi tersebut. Oleh karena hal semacam itu merupakan praktik yang lazim dalam kesusastraan abad pertama Masehi, yaitu ketika Kitab-kitab Injil di tulis, maka pra penulisnya tidak mungkin dapat dipersalahkan karena tidak mengikuti kebiasaan zaman modern untuk memberikan identifikasi serta pencantuman catatan kaki secara persis (yang tidak mungkin bisa dilakukan dengan mudah sebelum dibuat penyalinan dari gulungan kitab menjadi kodeks dan setelah ditemukannya percetakan)”. [27] Jadi, apa yang dianggap sebagai kesalahan oleh Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA sebenarnya hanyalah kesulitan. Dan konyolnya, bukannya mencari jawaban yang benar atas kesulitan itu Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th.,MA malah menggunakan kesulitan itu untuk membangun opini bahwa asli Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Perlu diketahui, ada banyak kesulitan-kesulitan di dalam Alkitab seperti contoh tersebut diatas. Ahli filsafat dan pakar teologi Norman Geisler mendaftarkan sejumlah 800 hal yang dianggap kontradiksi Alkitab oleh para kritikus dalam bukunya yang berjudul The Big Book of Bible Difficulties: Clear and Concise Answer From Genesis to Revelation, dan ia meunjukkan bahwa tidak satupun diantaranyanya terbukti benar.[28] Karena itu saya menyarankan agar Rev. DR. Yakub Sulityo, S.Th, MA belajar lagi prinsip-prinsipe hermeneutika dan eksegesis agar dapat menafsirkan Alkitab dengan tepat seperti yang dimaksudkan oleh penulis kitab dalam Alkitab.
[1] Samuel T. Gunawan, S.Th.,SE.,M.Th adalah teolog Protestan Kharismatik, Pendeta dan Gembala di Bintang Fajar Ministries Palangka Raya; Dosen Filsafat dan Apologetika Kharismatik; Penulis buku Apologetika Kharismatik. Menyandang dua gelar Magister of Theology dari STT Trinity, M.Th (Christian Leadership) dan M.Th (Systematic Theology and Apologetics).