Minggu, 23 November 2014

Tweet dari BeritaSatu.com

APBN itu 'kan memang uang kita, bukan uangnya Jokowi? Jadi, apa hebatnya jika Jokowi bagi-bagi duit? Pikiran yang cerdas akan menganalisa lebih luas dari apa yang didemonstrasikan melalui 3 kartu sakti, pakaian sederhana, naik pesawat terbang komersial ke Singapura, seperti seorang pesulap menunjukkan saputangan kosong, padahal di bagian lain menyiapkan seekor burung merpati. Tangan kanan mendemonstrasikan kebaikan, tangan kiri menyikat yang lebih besar dari yang diperlihatkan; siapa tahu? Kita harus cerdas supaya tidak gampang dibodoh-bodoh.
 
Berapa trilyun yang dibagi-bagikan dan berapa trilyun yang didapatkan dari kenaikan harga BBM? Jika presiden yang brengsek saja bisa korupsi dengan aman sentosa tanpa tersentuh hukum, lebih-lebih presiden yang mesam-mesem dan sok Sinterklas begini. Bisa jadi malah tambah dahsyat. Coba saja bandingkan antara penghasilan maling ayam yang bersarung dengan koruptor yang berjas dan berdasi, mana yang lebih besar?

Pernah dengar nama pendeta Samuel, pengurus sebuah panti asuhan? Dari luaran kayak malaikat: pengurus panti asuhan. Baik amat hatinya? Tapi belakangan ketahuan bahwa dia itu bajingan keji, bukan?! Nah, sekarang ini musimnya begini-begini ini.

JBU.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

http://pustakalewi.net/

@Beritasatu: Rp 9,2 Triliun untuk Pembangunan Desa Segera Dicairkan http://t.co/8tJdJPpasl

https://twitter.com/Beritasatu/status/536695605339230208

Tanggapan: ANTARA INGGRIS DENGAN PULAU JAWA

http://pustakalewi.net/

Nah, kalau yang ini saya setuju dengan semangatnya pak. Mengapa Inggris jaya? Yah krn neggara Inggris adalah negara maritim. Mereka penguasa dunia pelayaran sudah sejjak ratusan taon lalu. Sejarah dunia mencatat Inggris lah penguasa lautan. Bukan Portugis atau Spanyol.

Apa kaitannya dengan Indonesia? Kita adalah bangsa maritim yyang berhasil dijinakkan dan dialihkan menjadi negara daratan. Penguasa kitta berubah orientasi dari penguasa lautan menjadi penguasa daratan.  

Sriwijaya dan Majapahit adalah negara maritim. Ketika piagam Magna Charta di declarasikan di Inggris pada taon 1200-an, Hayam Wuruk baru dilantik jd Raja Majapahit!

Coba?!! Sebelum reformasi protestan terjadi di Eropa, Majapahit masih berkuasa di Asia Tenggara. Berjaya di lautan! 

Setelah perjanjian Hongi dibuat antara Cina, Arab dan Belanda, secara perlahan politik kenegaraan kita menjadi daratan. Lokomotip nya adalah politik mataraman (jawa) yang berbasis daratan dan perkebunan/pertanian.

Politik berorientasi daratan ini terus berlangsung hingga peerang dunia II. Lalu lahirlah Bung Karno yang mengajak kita kembali ke llautt dengan memperbesar angkatan laut! 

Politik Bung Karno itu membuat dirinya jadi tumbal!

Lallu soeharto berkuasa 32 taon dan politiknya mengokohkan politik daratan. Kapaal-kapal perang kita ditenggelamkan Soeharto.

Ketika mega jadi Presiden, bu Mega kembali melakukan U-Turn (putar balik). Mensuport aangkaatan laut agar beerjayya keembali.

Laagi2 bu Mega dijegal!

Setelah Mega terjungkal, sepuluh taon ini kita kembali lagi ke orientasi daratan. 

Kini, ketika PDIP kembali ke kekuasaan, strategi kembali ke politik Bahari dicanangkan. Moment penting ditabalkan dengan menggunakan pelabuhan sbg background pelantikan.

Visi marittim digbeyer diawal. Biar seluruh rakjat sadar bahwa kita punya harta karun di lautan.

Semoga u-turn ini tdk ditentang lagi...

Tabik,

Sonny

ANTARA INGGRIS DENGAN PULAU JAWA

Luas negara Inggris hampir sama dengan luas pulau Jawa;

Inggris = 130.000 Km2, Jawa = 127.000 Km2.

Jumlah penduduknya lebih banyak pulau Jawa;

Inggris = 53 juta, pulau Jawa = 124 juta. Kita harus berdesak-desakan. Jika orang Inggris kos sekamar satu orang, kita sekamar berisi 3 orang. Kepanasan, nggak? Enak, nggak berjubel-jubel seperti ini?

Pendapatan perkapita Inggris 23.000 ponsterling = Rp.  437.000.000,- sedangkan pendapatan perkapita kita = Rp.  55.000.000,-[4.700 dolar Amerika]. Satu banding delapan. Ketika orang Inggris makan sepiring nasi, kita sepiring harus dimakan 8 orang. Bagaimana kita kenyang dan gemuk?

Bilangnya Indonesia negara kolam susu? Nyatanya yang bisa minum susu orang Inggris, 'kan?! Jadi, selama ini kita hanya dibohongi oleh pemerintah. Kita dibodoh-bodoh terus oleh presiden kita. Presiden kita minum susu kenyang setiap hari, kita hanya minum keringatnya kambing. Kita hanya diajak bermimpi selama 69 tahun ini. Kini kita harus memperpanjang mimpi kita 5 tahun lagi dengan presiden Jokowi?

AYO KITA LAWAN INI! KITA HARUS LEBIH BAIK DARI INGGRIS!

Amerika negara luas penduduk padat tapi makmur. China negara luas penduduk padat tapi juga makmur. Kita? Mengapa kita tidak bisa sejajar dengan mereka?

PEMERINTAH KITA BUSUK! SEMUA PRESIDEN PEMBOHONG!


JUAL AMBALAT UNTUK BIKIN WADUK


Jual saja Ambalat, Freeport, BUMN-BUMN, pulau-pulau dan lain-lainnya, ASAL DENGAN HARGA YANG BAGUS. Jangan seperti Megawati yang membuat dugaan korupsi karena menjual dengan harga cuci gudang. Jual saja Aceh. Lebih baik dijual daripada perang mengorbankan sekolam darah anak bangsa. Sebab tentara-tentara kita itu juga manusia yang butuh hidup. Mengapa mereka harus dikorbankan dalam peperangan yang tidak perlu?! Sayangilah nyawa tentara kita karena mereka adalah sesama manusia. Jangan seperti Timor-Timur yang hilang dari kita setelah segalon darah dicurahkan. Lebih baik dijual daripada korban nyawa.

Dulu, ketika didesak untuk membayar uang sekolah ibu saya tak segan-segan menjual perhiasan emasnya. Ibu menjualnya dengan meneteskan airmata. Artinya, dijual karena terpaksa, karena sesungguhnya ibu masih sayang dengan perhiasan itu. Pikir ibu, lebih baik menjualnya daripada menambah utang, membebani pikiran.

Jadi, kalau Indonesia saat ini mempunyai utang 2.500 trilyun dan tidak mau menambah utang, jual saja aset-aset itu untuk membangun 1400 waduk dan toll laut. Buat apa punya wilayah luas kalau tidak mampu membiayainya? Vatikan dan Singapura saja masih tetap sebuah negara yang berdaulat sekalipun luas wilayah negara mereka hanya sekota. Inggris dan Belanda yang pernah menjajah kita saja merasa cukup dengan luas wilayah negaranya yang hanya sebesar propinsi Jawa Timur. Biarpun kecil negaranya tapi penduduknya hidup berkwalitas, daripada kita yang luas tapi melarat semua. Masak 69 tahun merdeka rakyat selalu disembelih terus? Lebih baik jual aset jika itu bisa menyejahterakan kita, bukan?!

Rakyat yang tidak mau disembelih terus-terusan harus mendorong pemerintah untuk menjual Aceh, Ambalat, Sipadan, Ligitan, Sambas, Freeport, BUMN-BUMN, pulau-pulau dan lain-lainnya. Kalau Malaysia tidak mau membeli tapi hendak memiliki itu namanya perampok. Ini baru kita lawan.

NKRI – Negara Kesatuan RI bukanlah Firman TUHAN yang harus kita pertahankan. NKRI bukan harga mati. Yang harga mati adalah kesejahteraan rakyat. NKRI boleh tapi jangan miskinkan rakyat. Kalau NKRI memiskinkan rakyat lebih baik tidak usah NKRI.

Pak Sonny setuju?

SIAPA BILANG INDONESIA MAKMUR

http://keadilansosial.wordpress.com/

BAGAIMANA MEREKA MERINDUKAN 1400 WADUK DAN JALAN TOLL LAUT?


Dua Bocah Busung Lapar Hidup dalam Sangkar Di Polewali Mandar Sulawesi Barat

Dua bocah yang diduga menderita busung lapar di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tak hanya kekurangan gizi lantaran keluarganya tak mampu memberi asupan makanan yang cukup. Bocah-bocah bernama Sahrul (7) dan Sahril (5) ini juga harus merajut derita panjang dalam sangkar berukuran 1 x 1,5 meter di salah satu pojok rumahnya.
Nurhayati yang tak lain adalah bibi kedua bocah yang merawat sejak kecil terpaksa mengurung keponakannya dalam “sangkar” yang tak layak huni ini lantaran tak ada yang menjaga di rumah saat ia berjualan subuh hari di pasar. “Sangkar” berukuran 1 x 1,5 meter itu terletak di salah satu pojok rumah milik Nurhayati di Kelurahan Lantora, Polewali Mandar.
Di tempat itulah Sahril dan Sahrul menghabiskan hari sampai Nurhayati pulang dari pasar pada siang hari. Selama pagi hingga siang hari, Nurhayati yang sibuk berjualan tentu saja tak bisa mengurus keperluan Sahrul dan Sahril, termasuk ketika kedua bocah ini sedang kelaparan dan berlumuran kotorannya sendiri di kurungan karena tak ada yang mengurusnya. Keduanya baru bisa makan setelah Nurhayati pulang.
Meski kondisi kedua anak tersebut memperihatinkan, Nurhayati tak tahu harus berbuat apa. Sebab, libur sehari berjualan sayur-mayur di pasar, berarti Nurhayati harus menambah daftar utang ke tetangga atau sahabat yang bersedia memberi pinjaman. Apalagi, Nurhayati masih harus membayar cicilan pinjaman bank setiap hari. Uang senilai Rp 5 juta yang dipinjam dari bank untuk biaya hidup keluarganya harus dicicil selama beberapa tahun agar bisa lunas.
Harapan mendapatkan bantuan raskin murah dari pemerintah tak bisa diharap banyak. Meski Nurhayati berhak mendapatkan beras raskin 15 liter per KK setiap bulan seperti yang diatur pemerintah, kenyataannya ia mengaku hanya mendapat jatah beras 3 liter dari kelurahan setempat. Itu pun tidak rutin setiap bulan.
Dinas sosial setempat tak pernah melirik keluarga Sahril dan Sahrul yang hidup dalam serba kekurangan. Jangankan memberi bantuan sosial, menjenguk kondisi kedua bocah dan keluarganya pun luput dari perhatian petugas. Nurhayati kini mulai dihinggapi rasa frustrasi. Selain karena stres dan harus membanting tulang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, dia juga harus sibuk mengurus dua ponakannya yang belum tahu dan mengerti apa-apa ini.
Kesengsaraan Nurhayati dan dua bocah busung lapar itu memang sempat mendapat perhatian pemerintah dan polititisi setempat menjelang pilkada. Satu per satu politisi pun datang menyodorkan sekarung beras atau bantuan apa saja sebagai tanda kepedulian mereka. Namun, seusai pilkada, nasib keluarga Nurhayati luput dari perhatian.
Para tetangga sebetulnya tahu dan prihatin dengan kondisi kehidupan keluarga Sahril dan Sahrul. Namun, karena mayoritas berpendapatan rendah mereka pun hanya bisa turut prihatin dan meminta bantuan orang lain yang bersedia membantu keluarga tak mampu ini.
Dua bocah bersaudara di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, diduga menderita busung lapar. Kondisi tubuhnya kurus kerempeng hanya tulang berbalut kulit.
Dinas kesehatan setempat memang pernah turun tangan memantau kesehatan sang bocah ketika ramai menjadi pemberitaan berbagai media setahun lalu. Namun, seiring redupnya pantauan media, petugas kesehatan pun lupa hingga kondisi kesehatan dua bocah malang kian memburuk. Meski Sahrul dan Sahril sudah berumur enam dan lima tahun, kondisi kesehatannya tak kunjung membaik.
Nurhayati, janda yang merawat setulus hati kedua keponakannya sejak kecil ini, mengaku tak mampu memberi asupan gizi yang cukup untuk membantu pertumbuhan kesehatan keponakannya. Pendapatannya sebagai pedagang sayur-mayur di emperan pasar sentral Pekkabata membuatnya kesulitan untuk membeli susu dan asupan gizi yang cukup guna memulihkan kesehatan keduanya.
Setahun yang lalu, ketika menjelang pemilihan gubernur Sulbar, dua bocah malang ini pernah ramai diberitakan berbagai media lokal dan nasional. Dinas kesehatan setempat pun buru-buru turun tangan membantu kedua bocah tersebut. Sejumlah bantuan, seperti biskuit, susu, senter, dan beras, pernah disumbangkan untuk Sahrul dan Sahril.
Petugas dinas kesehatan pun memvonis keduanya menderita gizi buruk ketika itu. Namun, seiring meredupnya pemberitaan media, kedua bocah miskin ini pun luput dari pantauan petugas hingga kondisi kesehatannya makin memburuk.
Imran, ayah Sahrul dan Sahril, meninggal empat tahun lalu ketika kedua bocah ini masih kecil. Sementara Rini, sang ibu kedua bocah, kini menghilang entah ke mana. Rini hanya menitipkan kedua anaknya yang masih menyusui dan meninggalkan mereka ke Kalimantan dengan pesan akan mengurus barang dan harta peninggalan suaminya.
Namun, hingga menjelang lima tahun Rini tak kunjung kembali. Jangankan kembali menjenguk anaknya, mengirim kabar ke Nurhayati yang merawatnya pun tak pernah.
Saat Nurhayati pergi ke pasar pada waktu subuh, hanya Sahril dan Sahrul di rumah. Nurhayati biasanya baru pulang dari pasar berjualan setelah siang hari. Saat Nurhayati pulang dari pasar itulah baru sibuk mengurus keperluan keponakannya, termasuk memberi makan dan mengganti pakaiannya.

Abdul Malik Tenaga Kerja Lepas Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Hidup Di Gorong Gorong

Jakarta dengan segala gemerlapnya bisa menerbangkan impian seorang Abdul Malik (25). Dengan nekat, pria berijazah SD ini merantau ke ibukota yang sering disebut ‘lebih kejam daripada ibu tiri’ ini. Abdul melakoni hidupnya dari kolong jembatan ke gorong-gorong.
Pria kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, pada tahun 1987 ini sudah meninggalkan tanah kelahirannya 6 tahun lalu, tanpa sanak saudara menyertai atau yang bisa ditumpangi. Karena berijazah SD, tak ada yang berminat menerima Abdul Malik.
Lantas, Abdul memilih berjuang hidup dari memulung sampah selama 2 tahun di kawasan Rasuna Epicentrum, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Selama memulung, penghasilan Abdul hanya cukup untuk makan. Bayangkan, rutinitas memulung itu dilakoninya sejak magrib hingga pukul 12 tengah malam.
Abdul tak lantas menjual hasil pulungannya, melainkan mengumpulkannya lebih dulu. Dua hari memulung, Abdul mendapatkan hasil 2 kilogram yang lantas dijualnya ke pengepul. Rp 15 ribu pun dikantongi.
Karena hanya cukup untuk makan, Abdul tak memiliki uang lebih untuk menyewa tempat tinggal yang layak. Sehari-hari Abdul hidup di kolong jembatan dekat Gedung KPK, beralaskan kardus.
Suatu hari, ada seorang mandor bangunan iba melihat Abdul yang memulung sampah. Lantas sang mandor menawarkan pekerjaan menjadi tenaga harian lepas Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
“Wah mau sekali saya, yang penting rezeki itu halal,” ujar Abdul Malik kala mendapat perkerjaan itu, saat ditemui detikcom, Sabtu (16/6/2012) malam.
Sebagai tenaga harian lepas Dinas PU, Abdul membersihkan saluran-saluran di Kali Cideng yang mampet. Air kali yang hitam dan kotor tidak dipedulikan Abdul demi untuk mengais rezeki, membersihkan saluran dari sampah plastik hingga bangkai tikus. Dari pekerjaan ini, Abdul memperoleh Rp 40 ribu per hari.
Suatu saat membersihkan Kali Cideng, dia melihat ada gorong-gorong tempat saluran pembuangan dari apartemen. Mulanya, Abdul menggunakan gorong-gorong ini untuk tempatnya mandi.
“Mandinya tiap malam, pakai celana doang, nggak kelihatan kalau lagi mandi. Gatal-gatal sih sudah biasa, ya kondisinya memang seperti ini, mau bagaimana lagi,” jelas Abdul.
Lantas Abdul mengamati lama-lama gorong-gorong ini tak digunakan lagi alias mati. Abdul pun memutuskan pindah hunian dari bawah kolong jembatan ke gorong-gorong di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan.
“Kalau di bawah jembatan, kalau hujan suka kebanjiran, terus kalau malam dingin banget,” sambungnya.
“Sudah hampir satu tahun saya tinggal di sini, setidaknya gorong ini lebih baik dibandingkan tempat tinggal saya sebelumnya,” tutur Abdul.
Pantauan detikcom, gorong-gorong yang ditempati Abdul itu berupa tabung berdiameter 70 cm dengan panjang 3 meter. Gorong-gorong ini persis terletak di bantaran Kali Cideng.

Tahun 2011 Penduduk Miskin Indonesia Bertambah 5 Juta Orang

Badan Pusat Statistik menghitung jumlah penduduk hampir miskin tahun 2011 bertambah 5 juta jiwa dibandingkan dengan tahun lalu. Sejumlah anggota DPR meminta agar penduduk hampir miskin tersebut juga menjadi target pengurangan kemiskinan.
Hal itu mengemuka dalam rapat kerja membahas Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2012 antara Komisi XI DPR dan Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (15/9/2011).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam rapat itu merinci, bertambahnya 5 juta penduduk hampir miskin itu terdiri atas 1 juta jiwa yang ”naik status”, dari miskin ke hampir miskin. Sebanyak 4 juta jiwa lainnya ”turun status”, dari tidak miskin ke hampir miskin.
Dalam sasaran strategis rencana kerja pemerintah 2011-2012, pemerintah menargetkan penduduk miskin adalah 10,5 persen- 11,5 persen, turun dari target APBN-Perubahan 2011, yaitu 11,5 persen-12,5 persen. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 adalah 237.556.363 jiwa.
Penjelasan Rusman tersebut berkaitan dengan polemik di Komisi XI DPR soal penduduk hampir miskin yang tidak dijadikan target pemerintah. Sebagian anggota Komisi XI DPR berpandangan bahwa target pengurangan penduduk hampir miskin harus dijadikan indikator kualitas pertumbuhan ekonomi pada 2012. Anggota lainnya berpandangan tidak perlu.
Arif Budimanta, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI-P, mendesak pemerintah mesti memberikan perhatian serius terhadap penduduk hampir miskin seserius penduduk miskin.
Selama tiga tahun terakhir, Arif melanjutkan, penduduk hampir miskin terus bertambah. Pada tahun 2009, mengacu data BPS, penduduk hampir miskin berjumlah 20,66 juta jiwa atau 8,99 persen dari total penduduk Indonesia. Pada tahun 2010, jumlahnya bertambah menjadi 22,9 juta jiwa atau 9,88 persen dari total penduduk Indonesia. Pada tahun 2011, jumlahnya bertambah 5 juta jiwa sehingga menjadi total 27,12 juta jiwa atau 10,28 persen total penduduk.
”Artinya, program pengentasan penduduk dari kemiskinan tidak tepat. Padahal dalam RAPBN 2012, alokasinya sebesar Rp 50,9 triliun untuk 28 program pengentasan penduduk miskin,” kata Arif. Penduduk hampir miskin adalah golongan yang rentan terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubdisi.
Namun, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR—yang juga membahas RAPBN 2012—menegaskan, pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi. ”Saat ini, memilih tidak menaikkan harga,” ujar Hatta.
Komisi VII DPR juga menyepakati asumsi makro RAPBN 2012, yakni target produksi minyak siap jual 950.000 barrel per hari dan harga minyak mentah Indonesia 90 dollar AS per barrel. Volume BBM bersubsidi disepakati 40 juta kiloliter dan biaya distribusi dan margin BBM bersubsidi Rp 613,9 per liter

Lanjutan-3: MENDEWAKAN NEGARA


Tentang kesulitan makan, ini bukan hiperbolis, pak, tapi orang Indonesia ini kebanyakan gengsi, suka menyembunyikan kesulitannya, terlebih dalam hidup bertetangga yang tidak akur. Di zaman saya anak-anak dulu saja, sering hanya makan nasi garam dan makan dijatah orangtua saya. Makan dengan buah jambu, karena punya pohon jambu. Uang sekolah sering telat bayar, gadaikan pakaian bekas, terpaksa jual radio yang baru dibeli, dan lain-lainnya. Tapi semua itu kami rahasiakan dari tetangga atau orang lain. Orang lain melihat kami keluarga yang cukup karena menempati rumah yang besar - rumah warisan. 
 
Semua kesusahan yang seperti itu masih dengan sangat mudah kita dapatkan di masyarakat sekarang ini, pak. Pak Sonny boleh ajukan kota mana saja, saya siap ajak pak Sonny blusukan ala Jokowi, supaya pak Sonny tahu seperti apa kesusahan itu. Orang saking miskin dan susahnya sampai terpaksa berbohong sana-sini, utang tidak bayar, rela dimaki-maki penagih utang. Itu semua adalah dalam rangka supaya bisa membeli beras supaya jangan sampai mati kelaparan ala Etiopia. Seandainya mereka tetap jujur sudah pasti Indonesia ini seperti Etiopia. Tapi kenyataan membuktikan Indonesia ini banyak malingnya, bukan?!

Sebagai orang kantoranpun kita bisa mengetahui kondisi kesulitan mereka itu dari layar kalkulator. Coba pak Sonny masukkan penghasilan seorang miskin lalu kurangkan dengan biaya hidup, terjadi selisih berapakah? Nggak perlu harus blusukan, 'kan?! Itu kondisi BBM belum dinaikkan. Setelah harga BBM dinaikkan, bisakah pak Sonny membayangkan perkembangan kesusahannya? Tolong beri saya logika bahwa kenaikan BBM ini menyenangkan orang miskin. 

Kalaupun SBY pernah menaikkan harga BBM Rp. 3.000,- apakah karena tidak saya tulis di blog sehingga berarti saya tidak marah?!

Soeharto menaikkan BBM saya marah. Megawati menaikkan harga BBM saya lebih marah. SBY menaikkan harga BBM saya makin marah. Kini Jokowi menaikkan BBM, jelas saya makin bertambah marah. Ada peningkatan kemarahan, pak. Sebab sudah kurangajar sekali Jokowi ini. Kata orang Jawa: Dike'i ati ngrogoh rempelo. Dikasih hati minta rempela. Suatu kekurangajaran.

Untuk utang banyak akan saya tuliskan sendiri bagaimana solusinya. JBU.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


26 Fakta Alam Semesta yang Bikin Merinding dan Merenung...


Liputan6.com, Jakarta - Pada 2011 lalu, para ilmuwan dari University Portsmouth membuat peta tiga dimensi alam semesta. 2MASS Redshift Survey (2MRS) -- namanya -- mencakup jarak 380 juta tahun cahaya, 45.000 galaksi tetangga selain Bima Sakti. Itu pun belum semua. 

Alam semesta sedemikian luas. Lalu di mana posisi kita, manusia? Berikut gambarannya seperti Liputan6.com kutip dari situs BuzzFeed, Sabtu (25/11/2014).

1. Ini Bumi, tempat tinggal kita, di mana kita hidup, tumbuh, berkembang biak, menjalin hubungan, sekaligus juga saling berperang dan menyakiti.



2. Dan ini Bumi bersama para tetangganya planet di Tata Surya


3. Ini jarak antara Bumi dan Bulan, satelitnya: 384.400 km. Terasa dekat namun nyatanya jauh bukan?


4. Ini yang terjadi jika Anda menjejerkan semua planet dalam Tata Surya secara beraturan dan berjajar. Lihat betapa kecil Bumi kita


5. Ini Amerika Utara jika dibandingkan dengan planet terbesar dalam Tata Surya: Yupiter.


6. Ini ukuran enam Bumi dibandingkan dengan Saturnus. Kalah besar!
7. Seandainya Bumi memiliki cincin seperti Saturnus, maka akan seperti ini penampakannya


8. Ini adalah gambar komet. Manusia baru mendaratkan satelit di atas 'anak nakal' ini. Bandingkan ukuran satu komet dengan Kota Los Angeles di Amerika Serikat.
9. Namun tak ada objek di Tata Surya kita yang setara dengan ukuran Matahari. Bumi kita tak ada artinya.


10. Seperti ini penampakan Bumi jika dilihat dari Bulan


11. Dan seperti ini bentuk Bumi dari Mars. Nyaris tak terlihat


12. Bumi bak noktah kecil warna biru jika dilihat dari belakang cincin Saturnus
13. Dan ini Bumi dari Neptunus yang berjarak 4 miliar mil jauhnya


14. Ini ukuran Bumi dibandingkan dengan besar Matahari. Benar-benar tak sebanding. Bikin merinding...


15. Dan seperti ini bentuk Matahari jika dilihat dari permukaan Mars


16. Tapi semua itu tak ada apa-apanya. Ada lebih banyak bintang, seperti halnya Matahari, dibanding butiran pasir di setiap pantai di Bumi.


17. Dan itu berarti ada banyak yang lebih besar daripada Matahari kita. Lihatlah betapa kecilnya Sang Surya dibandingkan yang lain.
18. Tahukah Anda, bintang terbesar di alam Semesta, VY Canis Majoris ukurannya 1 miliar kali lebih besar dari Matahari.


19. Namun tak ada yang sebanding dengan ukuran galaksi. Jika Anda menyusutkan Matahari ke ukuran sel darah putih dan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) dengan skala yang sama -- maka galaksi kita berukuran setara dengan Amerika Serikat.


20. Itu karena Galaksi Bima Sakti sangatlah luas. Dan di tengah belantara luas itu lah manusia hidup.


21. Namun hanya ini yang bisa disaksikan manusia. Semua bintang yang kita saksikan malam hari hanya seukuran lingkaran kuning itu.


22. Tapi, ukuran galaksi kita sangat kerdil jika dibandingkan yang lain. Ini perbandingan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) dengan IC 1011, yang berjarak 350 juta tahun cahaya dari Bumi.


23. Marilah kita membuka pikiran. Ini hanyalah sebagian kecil gambar yang diambil Teleskop Hubble. Ada ribuan galaksi, yang masing-masing memiliki jutaan bintang. Masing-masing memiliki planet-planetnya sendiri.


24. Dan ini adalah gambar galaksi UDF 423. Yang berjarak 10 miliar tahun cahaya dari Bumi. Saat Anda melihat gambar ini, Anda melihat miliaran tahun ke masa lalu.


Sejumlah galaksi diperkirakan terbentuk hanya beberapa ratus juta trahun  setelah Dentuman Besar (Big Bang). Lebih tua dari galaksi kita. 

25. Dan camkan yang satu ini. Ini adalah gambar dari satu bagian kecil yang sangat, sangat kecil dari alam semesta. Bagai bagian tak penting di langit malam. 


26. Cukup aman untuk mengasumsikan ada banyak lubang hitam (black hole) di luar sana. Berikut ini adalah ukuran sebuah black hole dibandingkan dengan ukuran Bumi. Mengerikan...


Dan, jika Anda merasa kecewa berat gara-gara konser penyanyi kesukaan Anda dibatalkan. Saat merasa dunia runtuh ketika diputuskan pacar. Ingatlah...

Rumah kita ada di sini,



Ini Bumi jika dibandingkan dengan keseluruhan Tata Surya,


Ini Bumi jika dilihat dari posisi yang lebih jauh lagi


dan lebih jauh


dan lebih jauh lagi


lebih jauh lagi


Dan, seandainya alam semesta bisa diumpamakan seperti ini, Bumi sama sekali tak ada artinya.



Pertanyaannya, seberapa besar arti saya dan Anda? (Ein/Ado)