Jumat, 21 Juli 2017

PEREKONOMIAN HARI LIBUR

Presiden Jokowi yang bersemboyan: "Ayo, kerja, kerja, kerja!" ternyata berbanding terbalik dengan kenyataannya sebagai presiden yang paling gemar membuat hari libur nasional. Dan sebagai presiden yang berlatar belakang pengusaha meubel, patut disayangkan jika segala kebijaksanaannya tidak memperhitungkan dampaknya secara teliti, terutama yang menyangkut keekonomian rakyat.

Tanpa adanya hari besar nasional, liburan kantor pada hari Sabtu dan Minggu saja sudah berjumlah 100 hari pertahun. Kini ada 20 hari libur nasional, sehingga berjumlah 120 hari dibandingkan dengan 365 hari pertahun. Itu artinya orang harus bisa menutup target kebutuhan setahun dalam waktu 240 hari kerja. Kalau bagi orang yang bergaji bulanan tak masalah. Tak ada yang kurang dengan penghasilannya, malah hari libur mungkin bisa lebih irit. Tapi bagi warung-warung, pedagang bakso, pedagang siomay, pedagang batagor, pedagang rujak buah, pedagang es cendol, toko-toko, kios-kios rokok, tukang becak, tukang ojek, sopir Angkot, pedagang asongan, pedagang koran, dan lain-lainnya, tentu saja harus gigit jari dan siap-siap puasa. Sebab penghasilan mereka harian dan amat bergantung dari aktifitas kantoran.

Cobalah melihat ke jalan-jalan protokol yang dihuni oleh gedung-gedung perkantoran. Di hari kerja hitunglah ada berapa banyak pedagang yang menggantungkan rejekinya di sekitaran jalan itu. Bandingkan dengan sunyi-sepinya jalanan itu di saat hari libur. Tak ada satu warungpun yang berani buka. Bukan karena takut dengan Satpol PP atau preman, tapi takut dagangannya tak laku kalau hari liburan. Jadi, setiap hari para pedagang fakir miskin itu dihantui ketakutan dan kekuatiran. Kalau hari kerja takut dengan Satpol PP, kalau hari libur takut dagangannya tak laku.

Padahal di hari kerja, setiap hari mereka hanya mempunyai waktu sekitar 8 jam kerja kantoran, dari pagi sampai sore, harus bersaing dengan sesama pedagang. Sebab jika orang sudah kenyang dengan siomay tak mungkin dia akan membeli bakso juga. Praktis ketika si siomay untung, si bakso buntung. Beberapa juta dari sangu uang makan para pegawai itu diperebutkan oleh para pedagang itu untuk menafkahi keluarga mereka.

Menurut data ada 130 juta orang bekerja. Jika setiap orang setiap hari membelanjakan uang makannya sebesar Rp. 20.000,- maka nilai perputaran uang yang diperebutkan oleh para pedagang itu setiap harinya adalah Rp. 2,6 trilyun?! Dan jika dalam setahun ada 120 hari libur x Rp. 2,6 trilyun, coba hitung berapa nilai ekonomi yang hilang dalam setahun.

Oh, mereka setiap hari harus bersaing dengan sesama pedagang, mereka harus makan dan menanggung biaya hidup setiap hari sekalipun hari libur, mereka harus membayar rekening listrik yang semakin mahal, biaya sekolah atau kuliah anak, bayar utang sana-sini, dan lain-lainnya. Jika hari kerja saja belum tentu untung banyak, betapa pahitnya jika ditambah dengan hari libur. Pening, deh!

Zaman makin maju masakan hidup semakin sulit? Banyak ahli, banyak pakar, masakan makin sengsara? Gedung-gedung berdiri megah, jalan-jalan padat dengan mobil, masakan fakir miskin semakin banyak?

Orangpun mengecam saya: "Kamu bisanya cuma mengkritik." Saya jawab: "Itu sebabnya saya tak berani mencalonkan diri sebagai presiden. Tapi Jokowi bilangnya bisa menjadi presiden, tapi lha koq seperti ini hasil kerjanya????"

Soto nggak ada garamnya masak saya bilang enak? Soto enak masakan saya muntah-muntah?

Hasil gambar untuk gambar warung-warung di perkantoran

Kamis, 20 Juli 2017

DOSA JOKOWI DARI AWALNYA

EKONOMI LESU! Lihat! Saya bukan mengajak anda melihat setan yang tidak kelihatan mata, tapi melihat sesuatu yang ada di sekitar kita yang dengan mudah sekali untuk kita lihat. Satpol PP dengan bangga menyebutkan telah menangkap ribuan gelandangan, pengemis dan pengamen, hingga Panti Rehabilitasi Sosial kelebihan kapasitas. Itu berita Satpol PP di seluruh kota di Indonesia ini. Namun koran di seluruh kota juga memberitakan tentang membludaknya para gelandangan dan pengamen. Jadi, lihat saja di kota anda apakah anda menyaksikan banyaknya gelandangan dan pengamen?

Dari mana mereka itu jika tidak mungkin dilahirkan dalam waktu semalam? Orang-orang gila baru dan orang-orang stress baru. Saya bedakan antara orang gila dengan orang stress, antara orang baru dengan orang lama. Itu banyak sekali! Hampir setiap hari ada saja yang baru. Barusan saya ketemu dengan seorang ibu, perawakan agak gemuk, pakaian masih bersih, membawa 2 tas kresek berat, berjalan ke sana ke mari menawarkan jasanya memijat dengan bayaran suka-suka kita. "Pijat, pak, murah, pak, sepuluh ribu saja setengah jam." Saya bilang saya nggak biasa pijat, ibu itu menurunkan taripnya: "Jika bapak tak ada sepuluh ribu, lima ribu juga nggak apa." Dengan hati hancur saya serahkan uang jatah ke warnet malam ini, Rp. 20.000,- Saya pikir hari ini saya libur ke warnet. Tapi TUHAN tidak ijinkan saya libur menulis, TUHAN membuat saya menemukan uang Rp. 50.000,- Puji TUHAN YESHUA!

Bagaimana dengan pemulung? Wouh, justru para pemulung baru inilah yang lebih besar, terlihat dari pakaian dan karungnya yang masih bersih, serta masih mengenakan sepatu. Bahkan banyak juga orang-orang China yang sampai memulung. Saya lihat mereka memulung bapak-anak berboncengan motor butut, mengorek-ngorek tong sampah. Uuh, sedih sekali hati ini. Padahal banyak saingannya sehingga hasilnya sedikit sekali, masih ditambah dengan larangan-larangan memulung di pasar-pasar atau di kampung-kampung: "Pemulung dilarang masuk!" Keren sekali kampung yang menuliskan kata-kata itu, ya?! Saya bergumam geram: "Bukan pemulung yang akan masuk ke kampungmu, tapi penyakit atau perampok atau celaka di jalan."

Anak-anak pada lulus sekolahan. Ke mana saja mereka? Pengangguran lama belum habis sudah ditambahi dari korban PHK dan para lulusan sekolah. Jumlah pengangguran di Indonesia 7,5 juta orang. Apakah angka itu valid? Saya tak yakin sedikitpun!

Sekarang coba lihat pada mobil-mobil angkutan umum dan tanyailah para sopirnya, seperti apakah sulitnya mencari penumpang sekarang ini? Orang-orang yang berdiri di jalan saja nggak ada, apalagi menumpang mobilnya?! Kalau ada orang yang berdiri di jalan, pastikan bahwa itu saya. Yah, tinggal saya saja yang belum mampu membeli motor. Bagaimana dengan toko-toko dan warung-warung di sekitar rumahmu? Saya yakin hanya Alfamart dan Indomart saja yang dijubeli pembeli. Penghasilan tukang parkirnya saja paling sepi Rp. 200.000,- perhari.

Kalau ada toko yang diantri pembeli saat ini yang saya lihat adalah toko sparepart motor dan grosir Sembako. Selain itu tak ada toko yang sampai diantri pembeli.

Dan kondisi lalulintas jalan raya yang selalu padat setidaknya menyiratkan ke mana dan kepada siapa pemerintah berpihak, jika becak disingkirkan dari Jakarta dan di berbagai kota besar dilarang melewati jalan protokol, maka untuk siapakah pemerintah membangun jalan-jalan? Bahkan untuk masuk ke jalan toll harus membayar mahal, maka jelas becak dan motor tidak mampu lewat jalan toll yang mulus itu. Itu bukan jalan untuk fakir miskin. Fakir miskin jalannya di trotoar saja, yang licin, yang sering membuat orang jatuh, yang tidak rata, yang membuat orang tersandung.

Alasannya untuk mengurangi kemacetan. Tapi mengapa becak yang dipersalahkan? Mengapa becak tidak boleh ikut serta dalam kemacetan itu? Mengapa hanya orang-orang kaya saja yang dibangunkan jalan yang mulus-mulus, sampai membengkakkan utang negara? Memangnya tukang becak bukan termasuk rakyat Indonesia, sehingga rakyat dibeda-bedakan dari profesinya, dari mata pencariannya?! Tapi giliran masa kampanye pemilihan umum, mengapa para calon pejabat itu ramai-ramai mendatangi tukang becak, becaknya dirias indah, tukang becaknya dikasih duit. Dan ketika menang pemilihan, saat pelantikannya naik becak, seolah-olah sayang sama tukang becak.

Dasar badut!

Jokowi Sendiri Yang Memukul Daya Beli Masyarakat

http://ekbis.rmol.co/read/2017/07/15/299171/Jokowi-Sendiri-Yang-Memukul-Daya-Beli-Masyarakat-

RMOL. Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa Indonesia menghadapi dua masalah yang serius dan sulit ditemukan jalan keluarnya. Yaitu, inflasi yang tinggi dan daya beli masyarakat yang turun.

Padahal, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi. Konsumsi menyumbang 53 persen PDB. Kalau daya beli jatuh maka otomatis pajak jatuh.

"Siapa yang memukul daya beli masyarakat ? Jokowi sendiri. Pertama, Presiden dengan tanpa ragu ragu dan penuh keberanian menaikkan harga bahan bakar minyak tepat di awal pemerintahanya," kata analis ekonomi, Salamuddin Daeng, lewat pesan elektronik.

Menurut dia, itu adalah tindakan super konyol karena pada saat itu harga minyak mentah sedang jatuh. Justru negara-negara lain menggunakan kesempatan itu untuk menekan biaya produksi, menekan harga, sekaligus mengangkat daya beli yang tengah jatuh, yang merupakan masalah ekonomi yang dihadapi oleh sebagian besar negara.

"Lebih dungu lagi pemerintah menaikkan harga listrik hampir setiap bulan sementara harga energi primer jatuh. Kebijakan ini telah memukul daya beli dan sekaligus melipatgandakan inflasi yang terus ditutup-tutupi dengan manipulasi statistik," jelasnya.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang terjadi sekarang hanya ditopang oleh tambahan utang pemerintah yang bernilai lebih dari Rp 1000 triliun dalam 2,5 tahun terakhir, dan kemungkinan Rp 1500 triliun dalam 3 tahun anggaran. Sandaran ekonomi pada utang tidak akan berdampak pada penerimaan pajak uang yang berarti. Pada tahap selanjutnya utang akan menjadi beban fiskal.

Sementara, utang tidak digunakan sebagai belanja dalam kegiatan yang menciptakan multiplier effect terhadap ekonomi dalam negeri. Utang sebagian besar digunakan untuk membeli barang-barang impor yang menciptakan dampak berganda bagi keuntungan bagi negara lain.

Jadi, ambruknya penerimaan pemerintah sekarang yang menimbulkan defisit hingga 2,92 persen PDB, dugaan saya lebih dari 3 persen PDB, adalah karena ulah pemerintah sendiri, yakni membongi rakyat dan menipu diri sendiri setiap hari. Kalau mau keadaan membaik cobalah bersikap jujur dan jangan suka menipu," kata Salamuddin.

Cara pemerintah dalam menggunakan anggaran pun membabi buta seakan menganggap anggarannya masih besar. Padahal, akan timpang jika dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya dengan penerimaan pajak Rp 1000 triliun dengan nilai tukar rupiah terhadap USD rata-rata Rp 8000. Sekarang, penerimaan pajak hanya berkisar Rp 1000 triliun sampai Rp 1100 triliun, tetapi kurs Rp 13500/USD. Dengan demikian, kualitas anggaran pemerintahan Jokowi menurun hampir separuh.

"Anggaran Jokowi berdasarkan selisih kurs tersebut secara riil hanya 60 persen dari anggaran yang dimiliki pemerintahan sebelumnya. Bagaimana mungkin pemerintahan ini dengan gagah berani membangun infrastruktur dengan menyandarkan pada bahan baku dan barang modal impor," terangnya.

Cara semacam itu, pungkas Salamuddin, hanya akan menguntungkan penerimaan pajak di negara lain yang menjadikan Indonesia sebagai pasar. Haluan ekonomi semacam ini akan menyebabkan defisit anggaran tahun 2018 semakin parah. [ald]

Faisal Basri: Jokowi Terlalu Memanjakan Kelas Menengah, Abaikan Petani

http://ekbis.rmol.co/read/2017/03/14/283721/Faisal-Basri:-Jokowi-Terlalu-Memanjakan-Kelas-Menengah,-Abaikan-Petani-

RMOL. Indonesia memiliki 78 persen orang miskin yang mayoritas tinggal di desa dan bertani.

Di masa kini, nilai tukar petani (NTP) terus melorot hingga Februari 2017. Akibatnya, buruh tani dan juga petani gurem hidup miskin jauh dari kesejahteraan.

"Pemerintah ini ngomongnya selangit. Ada duit 70 triliun, tapi petani sengsara semua. Ini duit jangan-jangan buat dibagi-bagi orang tertentu saja," cetus pengamat ekonomi politik, Faisal Basri di Forum Diskusi Ekonomi Politik, Menteng, Jakarta, Selasa, (14/3).

Petani Indonesia juga memiliki upah paling rendah dengan jam kerja tertinggi, peringkat tiga di dunia. 

"Jam kerjanya berat, tapi dapetnya sedikit. Makanya biasanya nyari lagi kerja sampingan," imbuhnya.

Salah satu bukti kesejahteraan petani menurun, menurut Faisal, bisa dilihat dari penjualan motor terus menurun selama dua tahun terakhir. Sementara, penjualan mobil naik. 

Faisal menilai pemerintah terlalu memanjakan kaum menengah dengan membangun infrastruktur bagi mobilitas kaum menengah ke atas. Sementara, sektor pertanian tidak dibangun agar petani tersejahterakan. 

"Kelas menengah ini dimanja Jokowi. Bangun MRT, bangun tol buat mudik. Yang dipikirin mudik, bukan menyelesaikan persoalan petani yang gak selesai hanya dengan dibagi bibit gratis," kritiknya.[wid]

Jembatan Layang Simpang Susun Semanggi

Rabu, 19 Juli 2017

PEMERINTAHAN-PEMERINTAHAN YANG JAHAT

Kalau anda kesulitan melihat pemerintahan Soeharto, Megawati, SBY dan Jokowi, para gubernur, para walikota, anggota DPR dan DPRD, plus ketua DPR RI saat ini; Setya Novanto yang sudah ditetapkan sebagai tersangka korupsi e-KTP oleh KPK, sebagai pemerintahan yang brengsek, tetapi anda berpikir bahwa pemerintahan adalah suci dan tak mungkin salah, sehingga anda merasa menjadi pahlawan jika melaksanakan perintah-perintahnya yang jahat, maka berikut ini anda saya ajak berkeliling dunia, menyaksikan catatan sejarah tentang pemerintahan yang jahat;

Apa pendapat anda tentang pemerintahan Belanda yang bercokol selama 360 tahun di negeri ini? Apakah raja Willem III yang memerintah kerajaan Belanda saat itu yang datang dan menjajah bangsa Indonesia? Tidak! Bukan! Raja Willem III di negeri Belanda sedang santai, sedang duduk atau sedang tidur, ketika pasukannya mendatangi Indonesia dan melakukan kejahatan di negeri ini. Raja Willem III baik-baik dan tenang-tenang seakan tak berdosa, tapi pasukannya kita nilai kejam dan tak berperikemanusiaan. Tapi tahukah anda bahwa pasukan Belanda itu takkan menjajah Indonesia jika tak ada perintah dari raja Willem III? Nah, jika anda menilai pasukan Belanda itu jahat dan kejam, maka seperti itulah para pedagang asongan, pedagang kakilima, gelandangan dan pengemis itu menilai anda, pasukan Satpol PP. Anda melakukan perintah boss yang salah, perintah yang error, perintah yang jahat, perintah yang melanggar Pancasila dan UUD 1945. Bahwa peraturan-peraturan yang dibuat oleh walikota atau bupati atau gubernur anda itu bertentangan dengan konstitusi negara kita.

Dan sama sebagaimana peperangan kita tidak disasarkan ke raja Willem III, melainkan ke pasukan Belandanya yang kita buru dan tembaki, demikianlah masyarakat fakir miskin tidak menjangkau gubernur/walikota/bupati anda, tetapi memaki-maki dan melawan anda. Masyarakat sebenci apapun terhadap gubernur/walikota/bupatinya tak mungkin bisa masuk ke kantor maupun rumahnya, sebab anda menjaga keamanannya. Anda melindungi orang yang salah oleh sebab anda menerima bayaran darinya. Coba, seandainya anda tidak melindungi boss anda, pasti masyarakat akan mendatangi boss anda dan memenggal kepalanya.

Anda berdiri di atas upah, bukan di atas kebenaran! Oleh sebab upah anda tidak peduli seperti apa boss anda. Salahpun anda bela mati-matian. Apakah anda pikir bisa mendapatkan pahala dari TUHAN oleh sebab melindungi kesalahan? Tak mungkin itu!

Pemimpin anda manusia biasa. Karena manusia biasa maka hukum umum yang akan menghakiminya. Jika dia korupsi, maka KPK akan menangkapnya sekalipun dia ketua DPR maupun ketua partai Golkar. Jika dia pembunuh apakah dia tidak berdosa oleh sebab jabatannya jendral? Mari mulai memikirkannya.

Beberapa waktu yang lalu, paus Fransiskus, Vatikan, meminta maaf kepada kaum Protestan, oleh sebab di zaman pertengahan(538-1798 Tarikh Masehi), para paus yang berkuasa di Vatikan melakukan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Paus, seorang kepala agama Katolik bisa sampai sejahat itu, lebih-lebih cuma gubernur/walikota/bupati yang politikus. Orang-orang Kristen yang tidak mau masuk Katolik dikejar-kejar, seperti anda mengejar-ngejar pedagang asongan dan pengamen. Mereka dipukul, ditendang, hingga dimasukkan ke kandang singa, sama seperti yang anda lakukan terhadap fakir miskin dan rakyat terlantar, yang kemudian anda lemparkan ke Panti Rehabilitasi Sosial. Mungkin masih mending yang dimangsakan singa, mereka bisa mati, bisa bebas dari penderitaan. Tapi orang-orang yang dimasukkan ke Panti Rehabilitasi Sosial menikmati penderitaan disepanjang umurnya. Anda lebih jahat dari pasukan paus Vatikan, lebih-lebih untuk negara merdeka Indonesia. Zaman damai bisa lebih jahat dari zaman perang, ini aneh sekali!

Negara Jerman pernah mempunyai sejarah buruk di tahun 1933-1945, yakni di zaman pemerintahan Adolf Hitler. Hitler memerintahkan pasukannya menangkapi orang-orang Yahudi dan memasukkan ke kamp-kamp konsentrasi. Sebagian mereka dimasukkan ke kamar-kamar gas yang setiap harinya membunuh 12.000 orang. Sama seperti anda yang diperintahkan untuk menangkapi gelandangan dan pengemis yang kemudian anda masukkan ke Panti Rehabilitasi Sosial yang penghuninya melebihi daya tampungnya, sehingga mereka berdesak-desakan dan membuat pengap ruangan. Anda benar-benar kejam tak berperasaan sama sekali.

Tak lama lagi kita akan memperingati hari kemerdekaan yang ke-72 tahun. Masakan kita masih terus begini; menjajah sesama bangsa sendiri hanya oleh sebab mereka fakir miskin dan rakyat terlantar? Hanya oleh sebab upah beberapa juta, anda begitu mata gelap?!

Isi Pembukaan UUD 1945
Republik Indonesia

Pembukaan UUD 1945
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

"Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur."

"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : 

Ketuhanan Yang Maha Esa,

kemanusiaan yang adil dan beradab,

persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,

serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."
Hasil gambar untuk gambar kemerdekaan ke-72

Selasa, 18 Juli 2017

MEMBUNUH TUBUH DENGAN MEMBUNUH PIKIRAN

Rumus manusia menjadi makhluk yang hidup itu: Tubuh + Roh = Jiwa, sedangkan rumus manusia yang mati, sebaliknya: Jiwa - Roh = Tubuh.

Kejadian 2:7ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Tubuh dikasih roh, dikasih napas hidup(Oksigen), maka berdetaklah jantung. Jantung memompa darah ke otak, timbullah kesadaran. Sadar artinya akal pikirannya bekerja. Lawan katanya adalah tidur, yaitu ketika akal pikirannya beristirahat. Jadi, yang dimaksud dengan jiwa adalah akal pikiran atau pemikiran kita. Di sinilah manusia dibedakan antara satu dengan yang lainnya, sebab karakter atau pemikiran orang yang berbeda-beda.

Antara anda dengan saya, ada 2 hal yang membedakannya;

1. Rupa/wajah; menunjuk pada tubuh/jasmani/fisik, suatu alam yang kelihatan.

2. Jiwa/karakter/pemikiran; menunjuk pada roh/rohaniah, suatu alam yang tak kelihatan.

Abaikanlah ajaran takhyul yang mengatakan roh sebagai sesuatu yang bergentayangan, sebab roh yang dimaksud di sini adalah tentang napas hidup atau bahasa ilmiahnya: Oksigen(O2). Roh di sini tak bisa apa-apa selain dari memberikan daya hidup, seperti baterai yang dimasukkan ke mesin jam, membuat mesin jam itu mulai berputar. Berputarnya mesin jam itulah yang merupakan detak kehidupan kita.

Jika Kejadian 2:7 berbicara tentang proses manusia menjadi hidup, ayat di bawah ini menerangkan bagaimana proses manusia mati;

Kej. 35:18Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas--sebab ia mati kemudian--diberikannyalah nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin.

Yang pertama ELOHIM YAHWEH menghembuskan nafas, memasukkan nafas ke Adam, yang kedua Rahel, istri Yakub mengeluarkan nafas untuk mati. Artinya nafas yang terakhir, bukan tentang roh-roh yang bergentayangan. Jadi, kematian itu seperti jam yang dicabut baterainya, mesinnya berhenti berputar.

Tentang tubuh dan jiwa itu ELOHIM YESHUA menerangkan;

Mat. 10:28Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Orang bisa membunuh tubuh tapi tak berkuasa membunuh jiwa. Jiwa atau pikiran kita inilah kelak yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh TUHAN. Seperti apa jiwa atau pikiran atau yang biasa disebut dengan iman kita itulah yang menentukan nasib kita kelak. ELOHIM YAHWEH melihat jiwa kita, bukan melihat tubuh kita. Seganteng atau secantik apapun kita itu tak mempengaruhi keselamatan kita.

1Sa. 16:7Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

Sebagai penginjil yang berinteraksi dengan kalangan Muslim, tentu saja saya sering menghadapi ancaman pembunuhan, baik secara langsung maupun melalui media internet. Kata mereka: "Darah Rudyanto, halal!" Mereka pikir dengan membunuh saya, maka ajaran saya akan selesai. Tentu saja mereka salah pikir. Sebab ajaran saya yang saya sampaikan ke forum umum telah membuat jiwa saya berlipat ganda. Setiap orang yang menerima ajaran saya adalah penjelmaan saya, seperti konsepnya "copypaste", mati satu tumbuh seribu. Saya boleh mati tapi jiwa saya masih bergentayangan di antara masyarakat. Dan itu akan berganda jika orang membagi-bagikannya ke orang lainnya lagi. Jiwa saya menjadi beranak cucu selama-lamanya.

Soekarno boleh mati, tapi ajaran Marhaenismenya hingga kini masih dihidupkan banyak orang di negeri ini. Jadi, membunuh tubuh belum tentu membunuh jiwa. Tapi jika kita membunuh jiwa, maka selesailah ajaran itu. Kita patah-patahkan dalil atau argumentasi orang, maka ajaran itu sudah tak mungkin diikuti orang, sudah tak laku lagi. Melalui forum diskusi kita habisi ajarannya.

Demikian pula dengan drama perseteruan Ahok dengan habib Rizieq Shihab. Habib Rizieq Shihab memang berhasil memenjarakan Ahok, tapi nama Ahok masih tetap harum semerbak, masih didukung banyak orang, sebab citra dirinya bersih. Di dalam penjara ada satu Ahok, tapi di luar penjara ada ribuan Ahok. Berbeda dengan kasus chat porno habib Rizieq Shihab. Jika tuduhan polisi itu benar, maka logikanya habislah kariernya sebagai ulama, sebab yang hancur adalah reputasinya. Logisnya dia akan ditinggalkan oleh umatnya dan takkan ada lagi yang mempercayai dakwahnya.

Hasil gambar untuk gambar ahok dengan habib rizieq

Senin, 17 Juli 2017

MEMERIKSA HATI NURANI

Ketika ada maling yang dihajar babak belur, maka timbullah pro dan kontra. Ada yang setuju maling itu dihajar babak belur dan ada juga yang tidak setuju. Kedua pendapat yang saling bertentangan tersebut tidak boleh dibiarkan mengambang sehingga tidak menjelaskan kebenarannya, mana yang salah dengan mana yang benar, juga jangan diselesaikan secara voting, suara terbanyak. Sebab suara terbanyak itu berkaitan dengan selera orang, bukan suatu kebenaran.

Untuk negara Indonesia, kita mempunyai perangkat kebenaran yaitu Pancasila dan UUD 1945, plus kitab-kitab suci berbagai agama. Kita yang mengagung-agungkan Pancasila dan UUD 1945 harusnya mempunyai keyakinan bahwa falsafah dan dasar negara itu sudah dibuat berdasarkan pertimbangan hati nurani bangsa Indonesia. Tapi bilamana suatu masalah tidak tersediakan di Pancasila dan UUD 1945, kita harusnya menengok pada kitab-kitab suci yang kita akui keabsahannya sebagai petunjuk hidup.

Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, manakah yang berperikemanusiaan, manakah yang adil dan manakah yang beradab antara menghajar maling hingga babak belur dengan menyerahkannya ke pihak yang berwajib? Lebih-lebih ada lembaga kepolisian yang disebut sebagai pihak yang berkewajiban menyelesaikan secara hukum, maka bagaimanakah kita mengijinkan main hakim sendiri?

Dalam undang-undang penyelesaian hukum atas orang yang bersalah adalah hukuman penjara dan denda, bukan hukuman fisik seperti pada syariah Islam. Dan seorang maling yang dihajar babak belur diberikan hak untuk menuntut balik orang-orang yang menganiayanya. Itulah hukum hati nurani bangsa Indonesia. Karena itu orang-orang yang setuju pada model hukuman menghajar maling, maka mereka inilah yang bersalah, yang tidak memiliki hati nurani.

Antara orang-orang yang menghajar maling dengan penonton yang memberikan penilaian, itu harus kita bedakan. Untuk orang-orang yang menghajar maling, mereka melakukannya secara emosional. Itu manusiawi sekalipun melanggar hukum dan terkena konsekwensi hukum. Disebut manusiawi, sebab emosional itu bisa terjadi pada siapa saja. Bisa jadi kita emosi terhadap istri atau anak-anak kita sendiri, bukan hanya terhadap maling saja. Termasuk perilaku maling itu juga manusiawi, artinya kitapun suatu kali bisa mata gelap dan melakukan maling. Tapi penonton adalah juri. Penonton adalah hakim. Bahwa tontonan orang memukul orang itu juga merupakan ujian bagi kita yang menonton. Justru hukum itu ada di tangan kita, penonton. Kita adalah hakim di hadapan TUHAN, bukan hakim bertoga di gedung pengadilan. Apa penilaian kita tentang fenomena orang memukul orang itu akan dinilai oleh TUHAN. Kalau hakim bertoga keputusannya akan dinilai oleh masyarakat, apakah hakim itu bijaksana atau zalim, tapi penilaian kita akan dinilai oleh TUHAN.

Kesalahan menilai menjadi dosa, kebenaran menilai akan menjadi kebenarannya. Nah, sekarang kita mencoba memikirkan sebuah ayat dalam sebuah kitab suci;

Im. 19:18Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Ayat itu berbunyi kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Itu artinya kita perlu mengambil posisi sebagai maling itu, bahwa seandainya maling itu adalah kita sendiri. Maukah kita dipukuli orang seperti itu?

Untuk penjabaran perbuatan maling itu mari kita lihat ayat yang lain;

Yohanes 8:4

Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
8:6Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Mungkin kita bukan maling, tapi korupsi. Mungkin bukan korupsi tapi menipu orang. Mungkin bukan menipu orang tapi berzinah dengan istri orang. Mungkin bukan berzinah tapi motor kita menabrak orang. Mungkin bukan menabrak orang, tapi berkata-kata kasar yang membuat orang marah. Mungkin bukan berkata-kata kasar tapi dianggap menghina agama FPI. Mungkin bukan menghina agama FPI, tapi tak bisa membayar utang, dan lain-lainnya. Bukankah ada banyak perbuatan yang selain maling yang bisa membuat orang emosional pada kita? Nah, dari sini kedapatanlah bahwa orang-orang yang menyetujui main hakim sendiri itu tidak benar dan terlihat bodoh, kurang berpikir secara luas.

Lebih jauh lagi akan terlihat sebagai orang yang tidak bertuhan. Sebab orang yang bertuhan akan berkaitan erat dengan masalah ampun-mengampuni. Di mana ketika dirinya berdosa pada TUHAN, tidakkah dia sangat mengharapkan kemurahan hati TUHAN?! Maukah dirinya tidak diampuni dan dihajar TUHAN babak belur?!

Matius 18:21

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Jadi, orang yang setuju dengan main kekerasan adalah orang yang jiwanya sangat jahat, bukan berasal dari TUHAN, tidak memiliki belas kasihan, egoisme, merasa benar sendiri, tidak berperikemanusiaan, tidak berkeadilan dan tidak beradab. Inilah orang-orang yang memberatkan dan bikin repot Indonesia. Terhadap orang demikian justru TUHAN mengambil tindakan pemusnahan. Maling dan orang-orang yang emosional bisa diampuni dosanya, tapi penonton yang menyetujui hukum kekerasan tidak bisa diampuni dosanya. Sebab dia itulah pecundang bangsa.

TUHAN saja benci dengan orang-orang yang seperti itu, maka kita juga harus membenci orang-orang yang seperti itu. Jika TUHAN melemparkan orang itu ke api neraka, maka dalam budaya Yahudi orang-orang seperti itu akan dikucilkan, sebab itu wabah penyakit masyarakat. Dari dia menilai sesuatu kita bisa mengenali jati dirinya;

Matius 7:15

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
7:16Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
7:17Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
7:18Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
7:19Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
7:20Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Mat. 12:37Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Hasil gambar untuk gambar melihat orang dihajar orang

Minggu, 16 Juli 2017

FASE-FASE HIDUP SAYA

Puji TUHAN, saya berkesempatan menjalani kehidupan ini dalam fase-fase yang sangat indah dan penuh berkat;

>> Tanggal 21 Oktober 1962; saya dilahirkan di kota Surabaya.

>> Tahun 1981; saya lulus SMA.

>> Tahun 1985; saya berumahtangga.

>> Tahun 1986; saya dikaruniai anak, kini berjumlah 3 anak.

>> Tahun 1981 - 2004; saya bekerja dan hidup untuk mencari uang. Suatu kehidupan yang bergelimang dosa, namun dari sini saya menjadi kaya dan kenyang pengalaman, yang kelak sangat bermanfaat bagi pekerjaan pelayanan penginjilan saya(sekarang ini).

>> Tahun 2004; istri menuntut cerai, okey, saya setujui, saya ambil keputusan untuk menjadi penginjil secara total.

>> Tahun 2004 - 2007; saya berkeliling berdiskusi keagamaan ke pondok-pondok pesantren. Tahun 2007 saya mulai mengenal dan belajar internet.

>> Tahun 2008 - .........; saya berinteraksi ke email-email, saya mengumpulkan 5.000 email orang.

>> Tahun ....... - 2014; saya berdiskusi melalui Yahoogroups.com.

>> Tahun 2011 - sekarang: saya mengelolah bloghakekatku dan data hakekat.

>> Tahun 2014 - 2017; saya berdiskusi melalui Facebook. Setiap hari akun saya kena blokir, setiap hari membuat akun baru dengan nama-nama palsu. Hua..ha..ha........ mungkin saya pemegang rekor pemilik akun terbanyak di dunia.

>> Tahun 2017; di saat pasar Senen terjadi kebakaran, saya memasuki fase berbagi kepada sesama yang bagi saya merupakan pekerjaan yang sangat ajaib. Mungkin itu merupakan demonstrasi kebajikan dari TUHAN melalui saya supaya menjadi teladan.



BERBAGI DI PATUNG SENEN

REVOLUSI ANGKUTAN UMUM

NAMANYA YANTI

YANTI JURAGAN KOPI

DARI YANTI KE LANI

SUKSES - ACARA BERBAGI DI SENEN


>> Tahun 2017; saya menemukan media sosial yang luarbiasa bebasnya, yaitu: Google Plus. Di sinilah saya bisa memasuki grup-grup sebanyak-banyaknya dan melemparkan tulisan yang sebebas-bebasnya.

Jadi, saya sudah melewati berbagai cara untuk memberitakan Injil; door to door, email to email, Yahoogroups.com, Facebook dan Google Plus.

Hasil gambar untuk gambar google plus

BERKACALAH PADA DIRIMU

Di tahun 2016 ketika Pemda Bengkulu membuka lowongan kerja Satpol PP, didapati ada 647 orang yang melamar dari 100 orang yang dibutuhkan. Jumlah 647 orang itu dikatakan sebagai peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, mengindikasikan semakin banyaknya jumlah pengangguran di Bengkulu. Dan yang mencengangkan adalah 60%-nya adalah sarjana, mengingat yang disyaratkan adalah lulusan SMA.

Dari sini ketahuan bahwa Satpol PP itu manusia biasa, bukan malaikat yang turun dari khayangan, yang sok suci, yang begitu galaknya memusuhi fakir miskin dan orang-orang yang dianggapnya bersalah terhadap Perda. Ternyata Satpol PP itu asal mulanya adalah pemuda lontang-lantung, pengangguran.

Entah, sudah berapa tahun ke- 647 orang itu menganggur dan apa saja yang mereka lakukan selama menganggur itu. Mungkin ada yang setiap hari main gaple, main game online, adu jago, adu ayam, mabuk-mabukan, trek-trekan motor, tawuran, ataupun ke sana ke mari menenteng map melamar kerjaan dan belum mendapatkannya. Itu artinya mencari pekerjaan itu sulitnya bukan kepalang. Menemukan gagasan pekerjaan itu tidak mudah. Tapi setelah anda mendapatkan pekerjaan sebagai Satpol PP, mengapa anda menjadi lupa daratan dan begitu gagah perkasanya merampasi pekerjaan orang?

Pedagang kakilima tidak boleh berdagang di situ, lalu harus berdagang di mana? Pindah lokasi bukan masalah jika laku, lebih-lebih jika nyatanya bertambah rejekinya. Semua pedagang pasti mau dipindahkan jika ada jaminan dagangannya lebih maju. Perhatikan kata-kata saya: Jika ada pedagang yang dipindahkan dengan jaminan akan lebih maju tapi dia tidak mau, silahkan tembak di tempat! Saya dukung langkah-langkah brutal anda memindahkan pedagang. Tapi jika disuruh pindah begitu saja tanpa solusi yang menguntungkan mereka, tentu saja semua orang akan marah jika dirugikan. Jangankan dirugikan berjuta-juta, dicuri sandal jepitnya saja sudah cukup mata gelap.

Status Satpol PP itu honorer dan bersystem kontrakan. Honornya di Bengkulu Rp. 1.250.000,- Uang segitu itu kecil sekali, mungkin nggak cukup untuk hidup sebulan. Sudah kecil statusnya honorer yang nggak mendapatkan pensiunan, dan masa depan kelanjutan kerjanya tak jelas. Suasana yang begitu buruk saja sampai diperebutkan oleh 647 orang, menyatakan bahwa anda sedang kelaparan pekerjaan, sampai-sampai nasi basipun anda makan. Dari sini setidaknya tergambarkan bahwa anda itu fakir miskin. Ya pengangguran, ya fakir miskin. Saya pikir anda itu selevel dengan Hansip, tak lebih. Tak mungkin anda dari keluarga kaya. Sebab seandainya anda dari keluarga kaya, pasti anda sudah dimodali mendirikan pabrik, nggak mungkin sampai pengangguran.

Nah, jika anda itu fakir miskin dan rakyat terlantar, betapa kejinya jika anda sampai tega merampasi dagangan para pedagang asongan, yang setelah sampai di kantor, dagangan itu dibagi-bagi. Anda menari-nari di atas penderitaan orang lain. Seorang bapak bercerita kepada saya tentang anaknya yang diterima kerja menjadi Satpol PP, ketika menyaksikan ulah rekan-rekannya yang begitu gembira mendapatkan berbungkus-bungkus rokok hasil rampasan, maka anaknya itu langsung mengundurkan diri. Anak itu patut saya puji, masih mempunyai hati nurani. Jangan karena butuh uang, butuh kerjaan, lalu hati nurani dimatikan. Apa bedanya anda dengan maling ayam, copet, rampok atau penjual narkoba, yang karena butuh uang, butuh kerjaan sehingga segala pekerjaan dihalalkannya.

Butuh uang, butuh pekerjaan, lalu disuruh walikotamu jualan narkoba, apa kamu juga mau?! Jangan mata gelaplah! Padukan perintah komandanmu dengan hati nurani dan ajaran agamamu, sesuai atau enggak?! Diajak edan, ya jangan mau. Miliki harga diri dan prinsip untuk berkomitmen pada hal-hal yang positif. Jangan lacurkan diri untuk kebutuhan atau kesenangan sesaat saja.

Dari 647 pengangguran itu yang 60% adalah sarjana. Itu artinya orang-orang yang tidak sarjana lebih sedikit daripada yang sarjana. Kenapa bisa begitu? Sebab orang-orang yang tidak berpendidikan itu sebagian besar sudah menerjuni lapangan pekerjaan. Ada yang menjadi tukang becak, ada yang menjadi kuli panggul, ada yang menjadi sopir Angkot, ada yang menjadi kondektur bus, ada yang menjadi pedagang asongan, ada yang menjadi pedagang kakilima, ada yang membuka warung, ada yang berjualan bakso, dan lain-lainnya.

Mereka dengan susah payah mendapatkan pekerjaan itu, tapi pekerjaan itu anda musuhi dan rampasi. Orang-orang yang memiliki penghasilan anda bangkrutkan, dan orang-orang yang sudah memiliki pekerjaan anda buat menganggur. Anda benar-benar nggak punya otak!

Sebab jika Satpol PP itu berdiri atas nama pemerintah, entah pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, harusnya Satpol PP itu senang melihat rakyatnya banyak yang bekerja di sektor informal, mengurangi angka pengangguran. Mungkin harus mengorbankan ketertiban dan kebersihan kota, tapi angka penganggurannya kecil. Daripada kotanya mentereng kayak Jakarta ciptaan Ahok, yang angka penganggurannya semakin mengerikan?!

Jika personil Satpol PP itu kebanyakannya sarjana, mengapa sampai nggak mengerti hukum, nggak mengerti hak asasi manusia, nggak mengerti perikemanusiaan, Pancasila dan UUD 1945? Kayak preman yang nggak punya ilmu saja!

Di Sumatera Utara terbongkar kasus suap-menyuap Satpol PP. Ada 144 pelamar kerja Satpol PP dimintai uang antara Rp. 10 - 15 juta perorang untuk bisa diterima kerja. Bagi saya itu adalah kasus nasional, bukan hanya di Sumatera Utara saja. Cuma di daerah-daerah lainnya masih berlangsung aman, belum terbongkar. Kalau di lingkungan pemerintahan yang begitu itu sudah umum. Yang mengejutkan adalah jika untuk menjadi kuli bangunan saja suapan ke mandornya senilai Rp. 1 juta. Ini yang bikin saya geleng-geleng kepala; takjub!

Ternyata anda adalah kotor, menjijikkan! Cara anda mendapatkan pekerjaan sudah sangat hina sekali. Lembaga Satpol PP juga bukanlah lembaga yang bersih. Tapi anda begitu percaya diri untuk menginjak-injak orang-orang yang pekerjaannya halal. Seragam anda memang keren, tapi nyatanya jiwa anda sangat menjijikkan, jiwa sampah! Bukankah masih lebih bagus jiwa pengemis sekalipun pakaiannya dekil?!

Majikanmu, gubernur Bengkulu kena tangkap KPK, kamu sendiri begitu. Huuuuuh! Sok pahlawan sekali kamu. Memuakkan sekali!

Maret 2017 yang lalu, penerimaan Satpol PP di Bengkulu terjadi ricuh karena ketidakadilan dalam penyeleksian calon Satpol PP. Orang-orang yang memenuhi syarat tidak diterima sedangkan yang tidak memenuhi syarat diterima, maka 150 mantan Satpol PP Bengkulu tersebut mengadu ke lembaga bantuan hukum. - Hua..ha..ha.......

Jadi, anda bisa sakit hati kalau diperlakukan tidak adil, ya?! Lalu anda mencari perlindungan hukum. Padahal yang lebih tinggi dari segala undang-undang yang ada di Indonesia ini adalah Pancasila dan UUD 1945. Emaknya undang-undang, yaitu Pancasila dan UUD 1945, anda injak-injak sedemikian rupa, sedangkan anaknya hendak anda jadikan perlindungan?! Indonesia anda robohkan, daerah anda berdirikan?! Padahal panglima TNI menyerukan: "NKRI harga mati!"

Kalau NKRI harga mati, maka fakir miskin dan rakyat terlantar harus dimuliakan, sedangkan Perda-perda anti Pancasila dan UUD 1945 itu yang harus dibuang ke tong sampah.

Pelamar Satpol PP 647 Orang, 60 Persen Sarjana

http://bengkuluekspress.com/pelamar-satpol-pp-647-orang-60-persen-sarjana/

berkas satpol pp di cek small


KOTA MANNA, Bengkulu Ekspress – Adanya penerimaan tenaga kontrak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di lingkungan Pemda Bengkulu Selatan (BS) ternyata diserbu kalangan pencari kerja di Bengkulu Selatan. Hal ini dibuktikan dari waktu pendaftaran calon anggota Satpol PP yang dibuka hanya 3 hari, yakni 6 September hingga  8 September, ternyata jumlah pelamarnya membludak. “Dari kuota yang disediaan hanya 100 tenaga Satpol PP ternyata pendaftarnya mencapai 647 orang,” kata Kasatpol PP BS, Drs Firmansyah.
Dari jumlah pendaftar tersebut, ternyata didominasi dari kalangan lulusan sarjana. Bahkan dari 647 pendaftar, ada 60 persen lulusan sarjana atau lebih dari 400 pelamar sarjana. Tingginya minat sarjana menjadi Satpol PP sebagai bukti jika peluang kerja atau lapangan pekerjaan di BS sangat sedikit.
“Saya menilai, banyaknya sarjana yang melamar mau menjadi Satpol PP sebagai bukti  lapangan pekerjaan di Bengkulu Selatan sulit,” ujarnya.
Ditambahkan Firmansyah, meskipun saat ini jumlah pendaftar 647 orang,  namun semua itu belum tentu lulus semua secara administrasi, sebab mulai kemarin, pihaknya sedang menyeleksi persyaratan administrasi seperti umur dan pendidikan. “Saat ini masih kami lakukan seleksi administrasi, jika umurnya lebih dari 30 tahun atau kurang dari 21 tahun tentu kami coret, sebab persyaratan umur minimal 21 tahun maksimal 30 tahun dengan pendidikan minimal lulusan SMA sederajat,” imbuhnya.
Selanjutnya, ujar Firman, setelah lulus seleksi administrasi, maka hari ini peserta akan mengambil nomor tes. Adapun tes nanti ada tes tertulis, wawancara hingga tes fisik. Waktu tes diperkirakan usai hari raya Idul Adha. “Pelaksanaan tes akan digelar usai Idul Adha, namun Sabtu (10/9) akan ada pengarahan dari Bupati terhadap calon anggota Satpol PP,” demikian Firmansyah. (369)

Duh, Melamar Satpol PP Pun Nyogok Puluhan Juta, Padahal Gaji Enggak Seberapa
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2014/07/18/107255/duh-melamar-satpol-pp-pun-nyogok-puluhan-juta-padahal-gaji-enggak-seberapa/#.WWtDDWUQ9nI

Ini kisah dari kantor Gubernur Sumatera Utara. Penerimaan 144 orang tenaga Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Pemerintah Propinsi Sumatera Utara (Pempropsu) diduga berbau sogokan.
Setiap orang yang melamar menjadi anggota Satpol PP dimintai Rp 10 juta - Rp 15 juta oleh oknum petinggi Satpol PP Pempropsu, dan dijanjikan akan bisa masuk PNS di lingkungan Pemprovsu. "Saya, Pak, saat pelamaran dimintai Rp 10 juta, dan kawan saya ada Rp 15 juta untuk masuk di satuan Satpol PP Propsu, dan dijanjikan selanjutnya bisa menjadi PNS di kantor Gubsu," ujar seorang anggota seorang Satpol PP Pempropsu yang tak mau diungkap identitasnya.

Ternyata, setelah bekerja mereka hanya Satpol PP outsourcing. Dia mau syarat menyogok Rp10 juta karena berharap diangkat menjadi PNS di kantor Gubernur. Adapun gaji Satpol PP per bulan yang mereka terima hanya Rp 1,8 juta. Kepala Satpol PP, Drs Zulkifli Taufik SH M.Hum, tidak mau berkomentar. "Oh itu, nantilah itu," ujar Taufik lalu menutup pintu kantornya. Terimakasih

Sanksi Tegas Bagi Oknum Satpol PP Penerima Suap
http://www.halloriau.com/read-otonomi-8805-2011-03-30-sanksi-tegas-bagi-oknum-satpol-pp-penerima-suap-.html

PEKANBARU- Kasus suap dalam penerimaan anggota Satpol PP yang melibatkan oknum
Satpol PP Provinsi Riau berinisial IR, mendapat perhatian serius dari Gubernur Riau HM Rusli Zainal, Ia meminta instansi terkait dapat menindak lanjuti dan bila terbukti bersalah harus diberikan punishment.
Demikian ditegaskan Gubernur Riau HM Rusli Zainal kepada sejumlah wartawan, Rabu (30/3).

''Bila terbukti harus ada punishmant, kita minta dinas terkait dapat menindak lanjutinya,'' tegas Gubri

Seperti diketahui, kasus suap-menyuap dalam penerimaan Satpol PP, bukan hal yang baru, ditahun 2009 lalu kasus yang sama juga pernah mencuat ke publik, namun di tengah jalan kasus itu hilang tanpa tindak lanjut. Agar masalah yang sama tidak kembali terulang Gubri meminta oknum diberikan sanksi.

Kepala Satpol PP Provinsi Riau Mukhtar Amin, berpendapat sama. Ia mengaku tidak akan mentolerir anggotanya yang terlibat kasus suap,'' kita akan berikan sanksi seperti non job maupun sanksi lain,'' ujarnya lagi. *

Mengungkap Modus Pungli di Satpol PP

http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2016/03/14/mengungkap-modus-pungli-di-satpol-pp/

PRAKTIK pungutan liar (pungli) dan suap-menyuap sepertinya dianggap biasa. Bahkan sudah merambah hampir di semua lini. Lapsus minggu ini akan mengungkap modus dugaan pungli dalam penerimaan PTT Satpol PP Provinsi Bengkulu. Berikut laporannya.

AKHIR tahun 2015 lalu sekitar Oktober, satpol PP Provinsi merekrut anggota dalam jumlah banyak. Jumlahnya mencapai 90 orang yang rencananya diperuntukkan untuk penambahan anggota Pengendalian Massa (Dalmas) dan anggota Perlindungan Masyarakat(Limas), serta penambahan anggota yang piket di beberapa posko yang sudah ditunjuk. Tentu saja, bagi pemuda-pemudi Bengkulu yang saat itu tak memiliki pekerjaan tertarik untuk masuk.

Rupanya antusiasme berbondong-bondong ingin menjadi Penegak Perda itu dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompoknya. Mereka kemudian meminta sejumlah uang sebagai syarat agar bisa lulus dan menjadi satpol PP.

Dari data didapat, angka uang pelicin juga sangat besar yakni berkisar Rp 25-30 juta per orangnya. Saat ditelisik lebih dalam, dari 90 orang yang menyetor ke oknum pejabat sebanyak 40 orang. Belum lagi ada 10 titipan dari para pejabat Pemprov maupun anggota DPRD Provinsi.

Selain dengan menggunakan uang pelicin, yang masuk juga ada yang titipan para pejabat di Pemda Provinsi. Tentu saja, kewenangan yang dimiliki Satuan Perangkat Kerja Daerah (FKPD) atas proses perekrutan tersebut membuka peluang besar untuk berbuat demikian. Ditambah lagi dengan rendahnya pengawasan yang dilakukan instansi terkait sehingga makin memuluskan jalan bagi para oknum ini.

Dari penelusuran RB, para calon anggota satpol PP sampai mau menyetorkan sejumlah uang pelicin itu karena mereka diimingi dengan gaji yang cukup besar. Pada periode Januari-September 2015 gaji anggota Satpol PP Rp 1,6 juta per bulannya. Namun pada periode November-Desember 2015 ada peningkatan yang signifikan Rp 2,5 juta per orang. Hal itu belum lagi ada penambahan insentif Rp 400 ribu untuk anggota Pengendalian Massa (Dalmas) dan bagi personil lain (Selain Dalmas, red) berupa uang piket Rp 200 ribu.

Tapi bukannya mendapat gaji gedang, sejak masuk malah gaji menjadi berkurang pada Januari 2016. Imbasnya juga dirasakan oleh anggota Satpol PP yang lama. Terjadi pengurangan kembali menjadi Rp 1.580.000 ditambah Rp 330 ribu (untuk Dalmas) atau Rp 200 ribu (uang piket anggota).

“Kan anggaran itu sudah ada, namun dengan adanya yang baru itu yang kami dipotong agar bisa cukup untuk yang baru, kami harap kembali dari yang awal saja (Rp 1,6 juta, red) saja sudah bersyukur,” kata sumber RB.

Menurut sumber RB ini, praktik dengan modus menggunakan uang pelicin sudah dilakukan sejak lama. Hanya saja memang tidak terungkap karena mereka bermain “bersih” alias tidak akan terungkap. “Sudah lama ini, sekarang saja baru terungkap. Kalau dulu mungkin dari Rp 10-15 juta per orang untuk menjadi honorer ini,” tambahnya.

Dia menceritakan, untuk praktek sogok menyogok anggota yang terbaru ini runtutannya, salah seorang pejabat yang ada di Satpol PP memerintahkan anggota dibawahnya menjadi kurir untuk mencari calon honorer yang akan membayar. Setelah didapat, uang itu melalui anggotanya itu disetor ke pejabat yang bersangkutan.

Lalu apakah mereka yakin jumlah yang disetor itu seimbang dengan gaji yang diterima? Ditanya seperti itu, sumber RB menyebut, sebenarnya memang agak berat untuk seimbang dengan gaji mereka. Namun biasanya untuk menyakinkan calon anggota itu, mereka juga mengimingi jika lama bertugas, suatu saat ada pengangkatan. Mereka yang membayar akan diprioritaskan.

“Katanya akan diangkat jadi CPNS, karena memang belum ada pekerjaan, kami sanggup membayar, apalagi dijanjikan. Dan memang yang lama-lama banyak yang sudah diangkat CPNS,” lanjutnya.

Saat diwawancara RB beberapa waktu lalu, Kepala Satpol PP Provinsi Bengkulu, Ali Paman, SH mengakui ada praktek pungli itu. Namun dia berdalih hal itu dilakukan oleh anak buahnya ketika dia sedang cuti karena berada di Mekah. Terkait dengan permasalah itu, diakuinya sudah diselesaikan dengan cara uang yang diterima sudah dikembalikan. Sejauh ini, tinggal 15 orang lagi yang belum dikembalikan dan itupun dibayarkan dengan cara mencicil.

Kejadian ini, tentunya membuat miris sebagian orang karena praktik sogok menyogok tidak hanya dilakukan saat CPNS saja seperti yang terjadi selama ini.  Namun untuk masuk sebagai honorer saja, harus ada uang. jika tidak ada uang ataupun pejabat pendukung maka jangan diharap bisa masuk secara murni.  Untuk diketahui, saat ini jumlah honorer yang ada di lingkungan Pemprov saat ini sebanyak 229, belum lagi ditambah dengan jumlah honorer yang ada di SKPD-SKPD di lingkungan Pemprov.(zie)

Seleksi Honorer Satpol PP Gaduh

http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2017/03/02/seleksi-honorer-satpol-pp-gaduh/

BENGKULU – Sekitar 150 mantan personel Satpol Provinsi Bengkulu mendatangi Lembaga Bantuan Hukum Tarmizi Gumay, SH, MH Cs, kemarin (1/2). Mereka mengadukan nasib, sekaligus meminta bantuan atas persoalan seleksi tenaga honorer Penegak Perda tersebut.
Mereka berharap dengan adanya bantuan itu, seleksi tenaga honorer di Satpol PP Provinsi Bengkulu diulang. Ditenggarai penetapan 145 orang honorer yang lulus dinilai tidak transparan.
‘’Kami minta agar seleksi diulang. Untuk itu kami minta bantuan LBH Tarmizi Gumay tersebut untuk memfailitasi. Sebab cukup banyak kejanggalan. Mulai dari syarat kelulusan seperti yang tidak boleh bertato, bertindik dan tinggi badan kurang itu tidak bisa lulus. Tapi kenyataannya banyak yang bertato dan tinggi badan kurang mereka lulus. Sedangkan kami yang benar-benar sudah mengabdi 10-12 tahun sebagai honorer Satpol PP provinsi digugurkan,’’ ujar Koordinator Tenaga Honorer, Akhirin Sekana, S.Ikom kepada RB kemarin.
Sejumlah indikasi kecurangan  seperti kelulusan hanya dikeluarkan identitas tanpa disertai nilai. Untuk itu pihaknya mengharapkan agar seleksi diulang dan transparan. Sehingga tidak ada kecurigaan ataupun ketidak adilan dalam menentukan kelulusan.
‘’Kini kami yang tidak diluluskan itu lebih dari 200 orang. Untuk itu kami akan mendedak agar Gubernur meminta seleksi Satpol PP honorer itu diulang dan transparan serta membatalkan hasil seleksi yang sudah ditetapkan,’’ papar Akhirin diamini rekan-rekannya.
Sementara Ketua LBH Pos Pengaduan Tenaga Honorer, Tarmizi Gumay, SH, MH mengakui bahwa pihaknya sudah menerima kedatangan para tenaga honorer Pemprov. Untuk itu pihaknya akan meminta agar seluruh honorer yang merasa jadi korban untuk membuat kuasa. Kemudian sesuai tuntutannya pihaknya akan mengajukan somasi ke Pemprov. Jika tidak digubris, maka pihaknya akan membawa personal ini ke ranah hukum.
‘’Sekarang kami kumpulkan data –data dulu. Setelah itu usai ada kuasa secara sah, barulah akan kami ajukan langka somasi ke instansi terkait,’’ jelasnya.
Terpisah Wakil Gubernur Bengkulu Dr. drh. H. Rohidin Mesyah, MMA menyayangkan munculnya dugaan masalah dalam seleksi tenaga honorer tahun 2017 terutama di Satpol PP Provinsi. Padahal dirinya sudah menyampaikan bahwa panitia harus benar-benar transparan dalam menentukan kretria kelulusan dan penilaian secra objektif. Untuk itu jika memang muncul indikasi ada pelanggaran terhadap ketentuan, maka akan dikaji ulang.
‘’Saya sewaktu menandatangani SK Panitia Seleksi itu sudah jelas-jelas meminta agar seleksi transparan. Jangan ada memihak ke siapapun. Termasuk pengumumannya dilakukan terbuka. Terutama yang kasat mata, seperti larangan bertato, tinggi badan. Sedangkan untuk kesehatan rohani dan jasmani itu ada tim kesehatan yang menentukan,’’ paparnya.
Diakui Wagub, dirinya akan segera bertindak untuk menelusuri kebenaran terkait dengan dugaan ketidak transparan dalam seleksi tersebut. Apakah akan diseleksi ulang atau tidak. Pastinya seleksi tidak boleh melanggar aturan yang sudah ditetapkan. ‘’Jadi usia, serta syarat-syarat lain itu memang harus diperhatikan. Terutama yang bisa dilihat dengan mata telanjang itu seperti tato itu jelas tidak boleh. Apalagi ukuran tinggi badanya kurang. Kalau tetap dilanggar patut dipertanyakan,’’ pungkasnya.(che)

Perda Zalim!!
http://rafki-rs.blogspot.co.id/2008/02/perda-zalim.html

WARGA pemurah hati di Ibu Kota Jakarta berhati-hatilah. Simpan niat baikmu rapat-rapat karena kedermawanan bisa mencelakakan Anda.

Juga kaum miskin. Meminggirlah dari Ibu Kota jika Anda tidak ingin digiring masuk bui atau dikenai denda jutaan rupiah hanya karena Anda mendendangkan lagu menghibur penumpang yang sumpek dalam bus kota.

Peringatan itu bukan mengada-ada. Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum mulai berlaku setelah Departemen Dalam Negeri mengesahkannya. Meski perda yang tidak berperikemanusiaan itu ditentang sejak awal, pemerintah daerah tak menggubrisnya dan pemerintah pusat tak menghiraukannya.

Perda itu jelas-jelas membidik kaum miskin. Warga miskin yang mengemis di jalan, pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar, pengamen yang naik-turun bus kota, dan mereka yang meminta sumbangan di jalan diancam penjara ataupun denda.

Ironisnya, dermawan yang memberi sedekah kepada kaum duafa pun bisa dijerat perda itu dengan ancaman penjara 60 hari atau denda hingga Rp20 juta.

Perda Ketertiban Umum itu merupakan pengakuan ketidakmampuan pemerintah daerah memberantas kemiskinan warganya. Ia juga pengakuan bahwa pemerintah DKI Jakarta tidak sanggup melaksanakan perintah konstitusi. Kaum miskin dan anak telantar, yang harus dipelihara negara, dalam perda itu dihempaskan. Ketika pemerintah tidak mampu menyejahterakan warganya, warga miskin dikriminalisasikan. Warga yang miskin dan terpinggirkan harus disingkirkan. Melalui perda itu, daerah secara sadar dan sengaja hendak 'membunuh' anak bangsanya sendiri.

Akan tetapi, bisa dipastikan Perda Ketertiban Umum itu hanya mengerikan dan menakutkan di atas kertas. Tak akan diindahkan. Pengemis tak akan berhenti mengemis karena memang tidak ada lapangan pekerjaan yang tersedia. Pengamen pun tak akan pensiun berdendang demi sesuap nasi. Sesungguhnya, siapakah yang ingin menjadi pengemis? Siapakah yang bangga menjadi miskin?

Mengemis, mengamen, berdagang kaki lima di trotoar menyangkut perut, menyangkut hak untuk hidup. Logis muncul perlawanan.

Perbandingannya, larangan merokok saja dilanggar. Ancaman denda Rp50 juta dalam Perda Nomor 2 Tahun 2005 mengenai larangan merokok hanya jadi pajangan. Orang masih leluasa merokok di berbagai tempat umum, termasuk di dalam bus-bus kota dan mal-mal. Bahkan di kantor-kantor dan gedung-gedung pemerintah. Masih sangat banyak ruang publik tidak menyediakan tempat khusus merokok dan tidak ada tindakan terhadap pelanggarannya.

Pemerintah daerah dan DPRD hanya bernafsu membuat perda tanpa mengawasi pelaksanaannya. Perda hanyalah deretan angka-angka proyek yang mesti diselesaikan sesuai dengan target tanpa memedulikan kelanjutannya. Perda dibuat, disahkan, kemudian disimpan untuk sekian tahun kemudian diganti atau direvisi dalam proyek baru. Celakanya, pemerintah daerah dan DPRD merasa prestasi mereka diukur dari tumpukan perda, bukan kualitas aturan dan pelaksanaannya.

Mestinya perda disusun atas dasar niat baik untuk mengatur tata ruang ketertiban umum. Namun, niat baik itu ditelan pasal-pasal yang ternyata mengkriminalisasikan kemiskinan.

Sumber: Media Indonesia

Panglima TNI : Prajurit Harus Banyak Bersedekah

http://www.sahabatrakyat.com/polhukam/panglima-tni-prajurit-harus-banyak-bersedekah

Medan, Sumatera Utara – Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo meminta kepada semua prajurit TNI AD, AU, dan AL harus memperbanyak untuk memberikan sedekah selama bulan suci Ramadhan tahun 2016.

“Kegiatan amal sosial yang dilakukan dengan secara ikhlas itu, atas rasa sukur kepada Allah SWT,” ujar Gatot pada acara Silaturahim dan Safari Ramadhan Panglima TNI bersama prajurit, PNS, dan keluarga Tahun 2016 di Lapangan Benteng Medan, Jumat.

Acara tersebut juga dihadiri Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Lodeywk Pusung, Gubernur Sumut HT Erry Nuradi, dan Kapolda Sumut Irjen Pol Raden Budi Winarso.

Panglima TNI mengatakan, pemberian sedekah kepada fakir miskin, anak yatim, dan orang yang tidak mampu itu tidak hanya diberikan oleh orang kaya, tetapi juga bagi prajurit.

Pemberian sedekah tersebut, menurut dia, merupakan kepedulian prajurit kepada warga yang memerlukan bantuan, apalagi pada bulan puasa.

“Jadi, para prajurit harus memperbanyak amal, sedekah, dan kebaikan terhadap sesama manusia,” ujar jenderal bintang empat itu.

Selain itu, ia juga berharap kepada prajurit TNI agar tetap mampu bertugas dan melakukan pengabdian kepada NKRI.

Dalam sambutan tersebut, Gatot Nurmantyo juga menceritakan tentang kisah seorang penjual bakso di Pulau Jawa yang mampu menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.

Panglima TNI mengisahkan, dari hasil penjualan bakso tersebut, penjual bakso selalu rajin menyimpan uangnya di dalam dompet sebagai modal usaha dan di dalam laci untuk amal sedekah jariyah, sehingga selalu bisa berkurban pada Hari Raya Haji.

Sedangkan dalam celengan yang terbuat dari kaleng, hasil penjualan bakso tersebut ditabungkan untuk menunaikan ibadah haji.

Ia menyebutkan, untuk menunaikan ibadah haji tersebut memang disyaratkan bagi orang yang dianggap mampu.

Namun, kemampuan itu bukanlah ditentukan oleh gubernur, bupati, wali kota atau manusia lainnya.

“Kemampuan tersebut justru ditentukan oleh diri kita sendiri, dan marilah kita bersama-sama menjadi orang mampu, dan termasuk prajurit TNI,” kata mantan KSAD itu.
Kegiatan Safari Ramadhan di Kota Medan, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersama rombongan juga buka puasa bersama prajurit, anak yatim, dan shalat Tarawih bersama. (Ant/A1)