Sabtu, 31 Januari 2015

PERKAWINAN IDEOLOGIS

Jika ada seorang petani bernama Marhaen, dia tak mungkin menyampaikan suatu pemikiran. Tapi jika Marhaen itu singkatan dari Marx - Hegel - Engels, mereka semua itu pemikir.

Orang mengawinkan ideologis itu sudah biasa. Kalau di gereja, mengawinkan antara Alkitab dengan tradisi itu terjadi di berbagai gereja. Demikian halnya Jokowi mengaku mengawinkan antara gagasan Soekarno dan birokrasi Soeharto.

JOKOWI ULTAH: Bulan & Tahun Kelahiran Jokowi Mirip Soekarno dan Soeharto

http://surabaya.bisnis.com/m/read/20140621/94/72432/jokowi-ultah-bulan-tahun-kelahiran-jokowi-mirip-soekarno-dan-soeharto

Foto editing Jokowi-Soekarno-Soeharo yang diunggah sejumlah akun di dunia maya/twitter
Bisnis.com, SOLO – Capres nomor urut 2, Joko Widodo (Jokowi) hari ini, Sabtu (21/6/2914) berulang tahun. Berbagai ucapan membanjiri linimasa termasuk menyisipkan gambar-gambar kreatif. Salah satunya membandingkan Presiden Indonesia sebelumnya Soekarno dan Soeharto.
Media sosial jadi sarana mengirimkan ucapan selamat ulang tahun untuk Jokowi. Berbagai gambar unik diunggah pengguna twitter untuk mengungkap simpatinya.
Gambar yang cukup menggelitik adalah ketika Jokowi disandingkan dengan Presiden Pertama dan Kedua Indonesia, Soekarno dan Soeharto.
Dalam gambar itu ketiganya disandingkan. Dibawah wajah Soekarno ditulis 1901 sedangkan Soeharto 1921 dan Jokowi 1961. Angka ini adalah kelahiran dari ketiga tokoh. Paling bawah diberi tulisan, Juni.
Informasi yang dihimpun Solopos.com, ketiganya memang lahir di bulan yang sama. Soekarno lahir di tanggal 6 Juni 1901. Soeharto 8 Juni 1921 sedangkan Jokowi lahir di tanggal 21 Juni 1961.
Kesamaan yang heboh diperbincangkan antara ketiganya tentu rentang tahun yang berselisih genap. Antara Soekarno dan Soeharto berselisih 20 tahun sedangkan Soeharto ke Jokowi berselisih 40 tahun.
Sejatinya, bulan kelahiran Jokowi juga mirip dengan Presiden Ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie, 25 Juni. Sayangnya tahun kelahiran Habibie 1936. Sedangkan Prabowo Subianto lahir 17 Oktober dengan berselisih 10 tahun dari kelahiran Jokowi yakni 1951.
Berikut daftar kelahiran seluruh presiden Indonesia;
Soekarno, 6 Juni 1901
Soeharto, 8 Juni 1921
Bacharuddin Jusuf Habibie, 25 Juni 1936
Abdurrahman Wahid, 7 September 1940
Megawati Soekarno Putri, 23 Januari 1947
 Susilo Bambang Yudhoyono, 9 September 1949

Visi Besar Jokowi; Satukan Gagasan Sukarno dan Birokrasi Soeharto

 http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/01/20/nigqnm-visi-besar-jokowi-satukan-gagasan-soekarno-dan-birokrasi-soeharto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo mengatakan tatanan roda pemerintahan dilakukan secara gradual dan juga memperhatikan benang merah segala kebijakan.

Menurutnya, saat ini, Indonesia sedang melakukan pembangunan yang masif. Caranya dengan mempertemukan dua hal yakni meneruskan gagasan besar Presiden Sukarno tentang Indonesia yang kuat dengan kerapian infrastruktur dan manajemen birokrasi Presiden Soeharto.

"Disamping itu kita perkuat ideologi : "Kedaulatan di segala lini". Presiden Sukarno menanamkan kesadaran pada bangsa Indonesia untuk melakukan semua kebijakan dengan landasan pikiran "Kita adalah Negara Besar" sehingga apa yang kita lakukan adalah persoalan-persoalan besar, bukan urusan remeh temeh," katanya lewat akun Facebook pribadinya, Joko Widodo yang diunggah pada Selasa (20/1).

Sementara Presiden Soeharto, lanjutnya, mengajarkan manajemen Pemerintahan yang rapi akan membawa eksekusi keputusan birokrasi yang efektif. Bila hal itu tercapai maka Indonesia bisa memiliki landasan modal yang kuat untuk membangun Indonesia.

"Dalam era ini pembangunan yang massif dengan muatan ideologi "Kedaulatan di segala lini" akan mengantarkan bangsa ini ke depan menjadi bangsa yang kuat, dan bangsa yang memiliki landasan modal yang kuat akan mampu bertahan dan memenangkan dari segala kompetisi di dunia Internasional, itu visi besar saya soal Indonesia Raya," katanya.

KITA BISA MEMBUAT LEBIH BAIK

Luar dengan dalam itu sesuatu yang berbeda. Kalau sama, tidak mungkin berbeda istilahnya.

Kita jangan terkecoh oleh apa yang ada di permukaan. Sebab apa yang baik diluar belum tentu baik juga didalamnya. Contohnya: buah durian. Buah durian kalau dikulitnya terlihat jahat sekali. Kulitnya berduri tajam yang melukai. Tapi buah durian mahal harganya adalah karena isinya yang lezat sekali. Sebaliknya, bedak dan lipstik bisa membuat perempuan tampak lebih cantik. Itulah beda luar dengan dalam.

Karena itu kita jangan terkecoh untuk melihat sesuatu itu baik hanya berdasarkan dari kata orang.

Sebagai contoh masalah Budi Gunawan. Jokowi bisa membuat Budi Gunawan kelihatan cantik karena berdasarkan rekomendasi Kompolnas tidak ada masalah dengan rekening gendutnya. Tapi KPK menyatakan bahwa Budi Gunawan itu tidak baik. Sayangnya tanpa pembuktian.

Jika seandainya KPK yang benar bahwa Budi Gunawan itu koruptor, bukankah kita melihat Jokowi sedang bermain sulapan, memberikan bedak dan lipstik ke muka Budi Gunawan sehingga terlihat cantik?

Demikian halnya kita menilai ajaran Marhaen yang kata Soekarno Marhaen itu nama orang, nama petani. Tapi tak bisa dibuktikan adanya orang yang bernama Marhaen. Tapi Soegiarso Soerojo menemukan fakta bahwa Marhaen itu singkatan dari: Marx - Hegel - Engels.

http://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx

Karl Heinrich Marx (lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818 – meninggal di London, Inggris, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia.
Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai "Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas", sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis.[4]

http://id.wikipedia.org/wiki/Georg_Wilhelm_Friedrich_Hegel

Georg Wilhelm Friedrich Hegel (IPA: [ˈgeɔʁk ˈvɪlhɛlm ˈfʁiːdʁɪç ˈheːgəl]) (lahir 27 Agustus 1770 – meninggal 14 November 1831 pada umur 61 tahun) adalah seorang filsuf idealis Jerman yang lahir di Stuttgart, Württemberg, kini di Jerman barat daya. Pengaruhnya sangat luas terhadap para penulis dari berbagai posisi, termasuk para pengagumnya (F. H. Bradley, Sartre, Hans Küng, Bruno Bauer, Max Stirner, Karl Marx), dan mereka yang menentangnya (Kierkegaard, Schopenhauer, Nietzsche, Heidegger, Schelling). Dapat dikatakan bahwa dialah yang pertama kali memperkenalkan dalam filsafat, gagasan bahwa Sejarah dan hal yang konkret adalah penting untuk bisa keluar dari lingkaran philosophia perennis, yakni, masalah-masalah abadi dalam filsafat. Ia juga menekankan pentingnya Yang Lain dalam proses pencapaian kesadaran diri (lihat dialektika tuan-hamba).

http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Engels

Friedrich Engels (lahir di Barmen, Wuppertal, Jerman, 28 November 1820 – meninggal di London, 5 Agustus 1895 pada umur 74 tahun) adalah anak sulung dari industrialis tekstil yang berhasil.Sewaktu ia dikirim ke Inggris untuk memimpin pabrik tekstil milik keluarganya yang berada di Manchester, ia melihat kemiskinan yang terjadi kemudian menulis dan dipublikasikan dengan judul Kondisi dari kelas pekerja di Inggris (Condition of the Working Classes in England) (1844). Pada tahun 1844 Engels mulai ikut berkontribusi dalam jurnal radikal yang yang ditulis oleh Karl Marx di Paris. Kolaborasi tulisan Engels dan Marx yang pertama adalah [1] [2] The Holy Family.[3] Mereka berdua sering disebut "Bapak Pendiri Komunisme", di mana beberapa ide yang berhubungan dengan Marxisme sudah kelihatan. Bersama Karl Marx ia menulis Manifesto Partai Komunis (1848). Setelah Karl Marx meninggal, ialah yang menerbitkan jilid-jilid lanjutan bukunya yang terpenting Das Kapital.

MENGAPA TAK ADA RUMPUT DI RUMAHMU?

Saya bertanya: mengapa di rumahmu tak ada rumput, tapi banyak tanaman bunga mawar? Sebab rumput kamu cabuti, sedangkan bunga mawar kamu tanam.

Nah, sejarah mencatat di zaman Soekarno-lah Partai Komunis Indonesia itu lahir dan berkembang, sedangkan di zaman Soeharto-lah PKI dihabisi.

Saya tidak mengatakan PKI baik atau tidaknya, tapi tentang keberadaannya. Di zaman mana dia dibiarkan hidup dan di zaman mana dia dihabisi.

MARHAEN ITU KOMUNIS INDONESIA?

http://id.wikipedia.org/wiki/Marhaenisme

Marhaenisme adalah ideologi yang menentang penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Untuk masa sekarang, ideologi ini telah berkembang dan dikenal dengan nama Marhaenisme Kekinian. Ideologi ini dikembangkan dari pemikiran presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ajaran ini awalnya bermaksud mengangkat kehidupan rakyat/orang kecil. Orang kecil yang dimaksud adalah petani dan buruh yang hidupnya selalu dalam cengkeraman orang-orang kaya dan penguasa.

Etimologi

Marhaenisme diambil dari seorang petani bernama Marhaen yang hidup di Indonesia dan dijumpai Bung Karno pada tahun 1926-1927.[1] Dalam versi yang berbeda, nama petani yang dijumpai Bung Karno di daerah Bandung, Jawa Barat itu adalah Aen. Dalam dialog antara Bung Karno dengan petani tersebut, selanjutnya disebut dengan panggilan Mang Aen. Petani tersebut mempunyai berbagai faktor produksi sendiri termasuk lahan pertanian, cangkul dan lain-lain yang ia olah sendiri, namun hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan hidup keluarganya yang sederhana. Kondisi ini kemudian memicu berbagai pertanyaan dalam benak Bung Karno, yang akhirnya melahirkan berbagai dialektika pemikiran sebagai landasan gerak selanjutnya. Kehidupan, kepribadian yang lugu, bersahaja namun tetap memiliki semangat berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya inilah, maka nama petani tersebut oleh Bung Karno diabadikan dalam setiap rakyat Indonesia yang hidupnya tertindas oleh sistem kehidupan yang berlaku. Sebagai penyesuaian bahasa saja, nama Mang Aen menjadi Marhaen.
Istilah ini untuk pertama kalinya digunakan oleh Soekarno di dalam pleidoinya tahun 1930, Indonesia Menggugat untuk mengganti istilah proletar.[2].
Dalam bukunya "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai", Kol. (Inf.) Soegiarso Soerojo, seorang perwira intelijen pada masa Orde Baru, menyangsikan bahwa ada petani yang memiliki nama Marhaen, dan memberikan alternatif sumber lain dari nama tersebut, yaitu singkatan dari Marx-Hegel-Engels.[3][4]. Di kemudian hari, Soekarno juga menyebutkan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan sesuai dengan kultur dan natur Indonesia.

Ideologi

Marhaenisme pada esensinya adalah sebuah ideologi perjuangan yang terbentuk dari Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa versi Bung Karno.
Menurut marhaenisme, agar mandiri secara ekonomi dan terbebas dari eksploitasi pihak lain, tiap orang atau rumah tangga memerlukan faktor produksi atau modal. Wujudnya dapat berupa tanah atau mesin/alat. Dalam konteks modern, kendaraan, perangkat teknologi informasi, alat dapur dan barang elektronik bisa saja diberdayakan dengan tepat guna sebagai modal atau faktor produksi. Meskipun tidak besar, kepemilikan modal sendiri ini perlu untuk menjamin kemandirian orang atau rumahtangga itu dalam perekonomian.
Berbeda dengan kapitalisme, modal dalam marhaenisme bukanlah untuk ditimbun atau dilipatgandakan, melainkan diolah untuk mencukupi kebutuhan hidup dan menghasilkan surplus. Petani menanam untuk mencukupi makan keluarganya sendiri, barulah menjual surplus atau kelebihannya ke pasar. Penjahit, pengrajin atau buruh memproduksi barang yang kelak sebagian akan dipakainya sendiri, walau selebihnya tentu dijual. Idealnya, syarat kecukupan-sendiri ini harus dipenuhi lebih dulu sebelum melayani pasar. Ini artinya ketika buruh, pengrajin atau petani memproduksi barang yang tak akan dikonsumsinya sendiri, ia cuma bertindak sebagai faktor produksi bagi pihak lain, yang menjadikannya rawan untuk didikte oleh pasar atau dieksploitasi. Secara agregat (keseluruhan) dalam sistem ekonomi marhaenisme, barang yang tidak/belum diperlukan tidak akan diproduksi, sebab setiap orang/rumahtangga tentu memastikan dulu profil dan taraf kebutuhannya sendiri sebelum membuat apapun. Inovasi kelahiran produk baru akan terjadi manakala kebutuhannya sudah kongkret betul.
Cara ini mendorong tercapainya efisiensi, sekaligus mencegah pemborosan sumber daya serta sikap konsumtif. Dan karena hanya difungsikan sekadar menghasilkan surplus, modal yang tersedia juga mustahil ditimbun atau diselewengkan untuk menindas tumbuh-kembangnya perekonomian pihak lain.
Marhaenisme yang dimaksud Soekarno bisa dibandingkan dengan formulasi pendekatan teori kewirausahaan yang baru diperkenalkan pada tahun 70-an oleh David McCleland yaitu hampir 50 tahun kemudian. Bedanya, jika McCleland lebih menekankan opsi pada upaya penanaman virus N.ach (Need for Achievement) atau kehendak untuk maju dari kalangan rakyat atau pengusaha kecil, sehingga notabene didominasi oleh pendekatan fungsional, maka pendekatan Soekarno atas marhaen (petani dan pedagang kecil), justru bersifat struktural, yaitu melalui penanaman sikap progresif revolusioner.[2]
Dalam pidato di depan Sidang PBB, 30 September 1960, Sukarno tegas menyatakan, bahwa Pancasila (baca: Marhaenisme) pada hakekatnya adalah sublimasi dari Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat) dan Manifesto of Communism dari Uni Soviet. Artinya Pancasila justru merupakan alternatif ketiga dari kedua kubu yang bertentangan dalam Perang Dingin di antara Blok Barat dengan Blok Timur saat itu. Secara ideologis, pemikiran Soekarno mirip sekali dengan apa yang dirumuskan oleh Anthony Giddens 20 tahun kemudian, sebagai '"The Third Way.[2]

JOKOWI MEMBACA TAPI TIDAK TAHU, MENGAPA?

Jokowi suka membagi-bagikan buku kepada anak-anak dengan pesan:  "Membacalah dan bangsa ini akan terhindar dari buta karena ketidaktahuan. Oleh Joko Widodo," isi pesan Jokowi di buku itu. 

Tapi Jokowi sendiri membaca tanda merah dari KPK tentang status Budi Gunawan, mengapa masih juga tidak tahu kalau Budi Gunawan itu tersangka korupsi? Mengapa ketika lampu merah menyala, mobil Jokowi dilajukan terus? Kini kena semprit polisi. Pelanggaran, ya? Dan presiden pelakunya!

Karena itu pesan saya kepada anak-anak penerima buku Jokowi: Terimalah bukunya, tapi jangan meniru kelakuan Jokowi.


Jadi Presiden, Ini Kebiasaan Jokowi yang Tak Hilang

 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/02/01/080700426/Jadi.Presiden.Ini.Kebiasaan.Jokowi.yang.Tak.Hilang

NGAWI, KOMPAS.com - Meski telah menjadi Presiden Republik Indonesia, kebiasaan Joko Widodo yang satu ini tak juga berubah. Ya, pria yang karib disapa Jokowi itu sangat senang sekali membagi-bagikan buku kepada anak-anak.

Hal itu terulang kembali pada kunjungan kerja kepresidenan saat menengok pembangunan Bendungan Bedungan di Desa Legundi, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (31/1/2015).

Usai menilik bendungan yang dibangun pada 1955 itu, Jokowi lantas membagi-bagikan buku kepada warga Desa Legundi yang membawa serta anak-anak mereka, juga anak-anak yang hadir di situ untuk menonton belusukan sang presiden.

Tak hanya buku, dari pantauan Kompas.com, Jokowi juga membagi-bagikan kaos kepada warga desa.

Sebelumnya, Jokowi memang senang membagi-bagikan buku kepada anak-anak sejak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Misalnya, pada waktu blusukan di Tanah Abang, Jokowi pernah juga membagikan buku pada anak-anak. Begitu pun ketika banjir melanda Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (23/2/2014).

Jokowi bahkan menitipkan pesan kepada anak-anak yang mendapat buku pemberiannya. "Membacalah dan bangsa ini akan terhindar dari buta karena ketidaktahuan. Oleh Joko Widodo," isi pesan Jokowi di buku itu.

"Buku itu sama seperti pendidikan. Bisa mengubah dari yang tidak punya menjadi punya. Dari di bantaran sungai menjadi sampai ke Balaikota," ujar Jokowi kala itu.

MEGAWATI ROHNYA PDIP KATA AHOK

Kata Ahok, mengapa Jokowi sangat patuh pada Megawati adalah karena Megawati itu Marhaen asli, rohnya PDIP. Hah?! Mengerikan sekali, donk! Sebab Megawati itu koruptor SKL, sedangkan PDIP itu pemaksa Budi Gunawan dilantik menjadi Kapolri. Jadi, Marhaen itu ajaran yang menghalalkan korupsi? Rusak negara ini.

Pantas saja KPK hendak dihancurkan.

Cerita Ahok: Jokowi Bukan Takut Bu Mega Tapi... 

http://www.tempo.co/read/news/2015/02/01/078639035/Cerita-Ahok-Jokowi-Bukan-Takut-Bu-Mega-Tapi

Cerita Ahok: Jokowi Bukan Takut  Bu Mega Tapi...  

TEMPO.CO, Jakarta -Pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies, J. Kristiadi, menilai pertemuan antara Presiden Jokowi Widodo dan Prabowo Subianto disebabkan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) tidak dapat diandalkan. "Orientasi KIH sudah amburadul, " katanya 30 Januari 2015.

Menurut Kristiadi, Presiden Jokowi dibebani intervensi para politikus PDI Perjuangan, terutama dalam kasus pencalonan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. Karena itu, Jokowi berupaya mencari penyeimbang.

Presiden Jokowi bertemu dengan Prabowo di Istana Bogor pada Jum’at, 29 Januari. Usai pertemuan ini Prabowo menyatakan dukungannya kepada Jokowi. Setelah itu, malamnya Prabowo mengumpulkan para pemimpin partai politik yang mengusungnya dalam pemilihan presiden lalu. (Baca: Ke Istana Bogor Prabowo Mendukung Jokowi)

Akankah manuver itu membuat hubungan Jokowi dengan pemimpin partai-partai pendukungnya, terutama Ketua Umum PDIP Megawati renggang?

Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Gun Gun Heryanto, mengatakan yang dilakukan oleh Jokowi merupakan strategi untuk mengatasi tekanan. "Tapi saya yakin Jokowi atau PDIP tidak akan saling meninggalkan,” ujarnya, Sabtu, 31 Januari 2015.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pun pernah mengisahkan mengenai hubungan Jokowi dan Megawati. Menurut Ahok, Jokowi sangat loyal terhadap Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut.

"Dulu saat pemilihan gubernur, Pak Prabowo menawari Pak Jokowi mencalonkan diri dari partai lain dia tidak mau," kata Ahok di Balai Kota pada Kamis, 13 Maret 2014. "Pak Jokowi bilang 'saya tidak mau mencalonkan diri di DKI kalau tidak diperintah oleh Ibu Mega' gitu." (Baca: Ahok Buka Kedekatan Jokowi Megawati)

Ahok terus bercerita tentang betapa Jokowi menuruti Megawati. "Orang boleh menjelek-jelekkan Bu Mega macam-macam, tapi bagi Pak Jokowi, Bu Mega adalah Marhaen asli. Jadi apapun yang diperintah Bu Mega, bukan karena beliau takut sama Bu Mega ya tapi karena beliau sadar, inilah rohnya PDI Perjuangan."

YANG LUCU

Jokowi dengan Ahok adalah pasangan gubernur dengan wakil gubernur DKI Jakarta. Jokowi dari partai PDIP, Ahok dari partai Gerindra. Suatu kali terjadi pertentangan antara Ahok dengan Gerindra, Ahok keluar dari Gerindra diterima PDIP. Kini, setelah Jokowi bertemu Prabowo, partai Gerindra merapat ke Jokowi, ketika PDIP mulai meragukan Jokowi.

Begitu pula yang terjadi antara KPK dengan Polri. KPK ingin mengambil Budi Gunawan, sementara Polri ingin mengambil Bambang Widjojanto. Dan ketika KPK ingin mengambil Megawati, PDIP justru ingin mengambil Abraham Samad.

Jadi, kayak terjadi tukar-menukar cindera mata?!