Kamis, 26 Februari 2015

HIDUP BERSAMA ALLAH

Ketika seorang gadis desa bekerja sebagai pembantu rumahtangga pada sebuah keluarga di kota besar, maka dia akan menyaksikan pola hidup yang bagaikan bumi dengan langit, antara pola hidupnya di desa dengan pola hidup majikannya di kota besar. Dia akan melihat bahwa peradaban desanya sangat ketinggalan zaman sementara peradaban di kota sangat canggih sekali. Orang-orang sedesanya akan kelihatan lucu dan bodoh. Dan itu bukanlah kesombongannya, tapi benar-benar berdasarkan apa yang dia lihat sesungguhnya.

Demikian pula dengan saya yang hidup pada Keluarga ALLAH, saya melihat pola hidup manusia masa kini itu sungguh-sungguh sangat ketinggalan zaman. Apa saja yang manusia lakukan sungguh-sungguh konyol dan sangat menggelikan. Sehebat apapun itu menurut anggapan manusia selalu saja tampak tak ada benarnya. Karena itu manakala saya harus berinteraksi dengan manusia, saya harus seperti seorang ayah yang berbicara dengan anak-anaknya yang masih kecil. Saya harus seolah-olah anak kecil. Sebab anak-anak itu pasti masih belum sanggup jika diajak masuk ke dunia sang ayah yang sesungguhnya.

Orang dunia jika mendengar ada orang yang bersumpah, maka itu dianggapnya hebat sekali, padahal bagi peradaban ROH itu hanyalah mainan. Bagi manusia ROH sumpah itu sangat tak diperlukan; jika ya katakan ya jika tidak katakan tidak;

Matius 5:37        Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: 
                          tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Nggak perlu sampai harus bersumpah. Tapi bagi manusia duniawi apa yang merupakan sampah sorga itu menjadi sesuatu yang sangat berharga sekali. Sampai-sampai sumpah Gajah Mada, sumpah Palapa diabadikan ke dalam nama satelit; satelit Palapa. 

Seharusnya kamu tahu kalau nama saya: Hakekat, dan saya hidup secara hakekat. Dan jika kamu tahu bahwa nama semula saya: Rudyanto, maka harusnya kamu tahu bahwa Rudyanto itu sudah mati dan bangkit dalam diri Hakekat. Jadi, jalan hidup Hakekat tidak lagi bisa kamu ukur dan jangkau dengan nalarmu, sobat. 

Ketika saya harus hidup dalam alam berpikirmu itu menjadi sebuah siksaan bagi pikiran saya, seperti harimau yang dimasukkan ke sangkar burung. Sebab apa yang kamu anggap hebat itu di sorga bukan apa-apa, bahkan tak ada sama sekali. Karena itu jangan kamu memamerkan sesuatupun di hadapan saya, supaya jangan sampai saya tertawa geli dibuatnya. Konyol sekali jika kamu hendak menggapai saya, hendak mengukur saya.

APAKAH SAYA INGKAR JANJI

Karena menerima uang dari penginjilan dipermasalahkan oleh Elisa Sagala[padahal menurut Alkitab seorang penginjil harus makan dari penginjilannya], maka pada saat itu saya bersumpah takkan mau menerima uang dari orang yang saya kenal lewat internet. Dan para murid itu termasuk orang yang saya kenal lewat internet.
Apakah saya ingkar janji jika saya menerima uang mereka? Tergantung: siapakah saya? Jika saya hidup dibawah "hukum" maka saya diikat oleh hukum. Tapi saya hidup di dalam ROH, maka saya tidak lagi dibawah hukum. ROH memiliki kebebasan untuk melangkahi hukum.

Hukum ALLAH berbunyi: "Jangan membunuh." Tapi nabi Elia justru membunuh 850 orang, dan bukannya masuk neraka, malahan diangkat ke sorga oleh ALLAH.

Mengapa saya mengucapkan sumpah kalau saya tidak mematuhinya? Saya mengucapkan sumpah karena saya siap mematuhinya. Saya bukan Anjing yang memakan kembali muntahannya. Tapi saya manusia ROHANI, orang yang merdeka bukan orang yang dipenjarakan oleh hukum atau sumpah atau janji. Saya memiliki kebijaksanaan untuk sewaktu-waktu keluar dari pengaruh hukum itu.

Ketika saya di dalam kamar tidur, bukankah saya sama seperti orang yang di dalam penjara? Betul. Tapi saya berbeda dengan orang yang di dalam penjara. Saya memiliki kebebasan untuk keluar-masuk kamar.

Di suatu sekolahan ada banyak guru dan seorang kepala sekolah. Sekalipun kepala sekolah termasuk guru, namun kepala sekolah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh para guru yang lain. Ketika sekolahan itu mengeluarkan peraturan bahwa setiap siswa harus membayar iuran sekolah, hanya kepala sekolah yang memiliki kebijaksanaan untuk memberikan gratis iuran sekolah kepada orang-orang miskin tertentu. Itulah hak istimewa seorang kepala sekolah.

Jika terhadap semua orang miskin digratiskan itu namanya peraturan bukan kebijaksanaan. Tapi jika tidak ada kriterianya melainkan berdasarkan suka-suka sang kepala sekolah, maka itulah yang dinamakan kebijaksanaan. Dan hukum tidak mengenal kebijaksanaan, sebab hukum itu sesuatu yang mati. Tapi ROH adalah hidup. Karena itu ROH memiliki kebebasan melayang-layang.

Memang ada 2 kebebasan; kebebasan yang disalahgunakan dan kebebasan yang benar. Namun kebebasan yang disalahgunakan hasilnya sudah pasti ngawur, sedangkan kebebasan yang benar hasilnya pasti indah sekalipun melanggar hukum.

Polisi lalulintas yang bertugas memiliki kebebasan untuk menerjang rambu-rambu larangan maupun lampu merah, yaitu misalnya ketika mengejar penjahat. Hasilnya pasti nyata yaitu menangkap penjahat. Tapi kalau orang biasa yang melakukannya malah mengacaukan lalulintas.

Kalau saya mengumpulkan rumput itu adalah untuk kambing bukan untuk saya makan. Demikian pula kalau saya bersumpah itu adalah untuk orang-orang bodoh saja, untuk menenteramkan hati mereka saja. Sebab kalau kepada seorang sahabat, saya tidak perlu bersumpah. Tak perlu sumpah seorang sahabat pasti percaya. Jika saya berkata: besok akan saya bayar utang saya, jika ternyata meleset, sahabat takkan mempermasalahkannya. Tapi menjadi masalah jika itu terhadap orang lain.

Jadi, sumpah itu saya tujukan untuk orang lain, bukan untuk diri saya sendiri. Ketika saya bersumpah, dalam hati saya ketawa: Itu uang bukan Babi, ngapain saya haramkan? Ngapain yang halal harus saya katakan haram? Saya ini butuh uang untuk bayar warnet, lalu ada yang kasih uang, masakan saya tolak? Saya belum sinting!

Kalau semula saya laporkan ke milis, kini tidak saya laporkan. Itu saja mainan saya. Biarkanlah kambing-kambing itu makan rumput. Biarkanlah orang-orang bodoh itu makan sumpah saya. Tapi saya tidak mau termakan oleh sumpah saya. Bodoh sekali kalau sumpah itu saya anggap serius?!

Saya ini orang pinter. Karena itu saya tidak mungkin mau diikat oleh aturan-aturan konyol bikinan manusia. Setiap aturan pasti saya periksa: aturan siapa ini? Manusia atau TUHAN? Kalau aturan TUHAN pasti saya turuti.

Sumpah/janji/hukum itu hanya untuk konsumsi orang yang bodoh yang tidak memiliki pengetahuan dan pengertian. Karena itu mereka perlu dibuatkan peraturan supaya mengerti mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan. Mereka itu sama seperti orang asing yang baru pertama kali masuk suatu kota, perlu dituntun oleh peta atau guide supaya tidak kesasar. Apakah boleh saya korupsi? Maka dicarilah undang-undangnya. Jika belum ada artinya masih halal, belum dosa, sedangkan kalau sudah ada aturannya barulah korupsi itu termasuk haram.

Tapi orang-orang yang dipimpin oleh ROH ALLAH, memiliki hukum yang hidup yang berlakunya menurut situasi dan kondisinya. Di suatu waktu membunuh merupakan larangan, tapi diwaktu tertentu malah merupakan kebutuhan.

Singkat cerita begini: apakah tidak konyol jika tiba-tiba saya seorang manusia biasa mengeluarkan peraturan menerima pemberian orang itu haram? Memangnya siapa saya sehingga bisa membuat suatu peraturan? Memangnya kalau saya bersumpah maka peraturan itu bisa menjadi seolah-olah peraturan ALLAH? - Hua..ha..ha..... kecuali hanya sebagai lawakan saja, bukan?!

Dalam hal lain saya memiliki pantangan; misalnya: berbalik ke jalan yang sudah saya lewati. Misalnya ketika berangkat dari rumah saya lewat jalan Sudirman, pulangnya saya tidak akan balik lewat jalan itu lagi. Apakah seperti itu saya memaknainya? Jelas, bukan! Tapi saya harus bekerja itu yang praktis jangan buang-buang waktu. Jika tidak ada perlunya bolak-balik buat apa bolak-balik. Karena lupa membawa SIM balik ke rumah. Lalu ada lagi yang tertinggal, misalnya dompet sehingga harus balik dua kali. Bukankah itu menunjukkan membuang-buang waktu secara sia-sia?

Jadi, sekalipun saya mempunyai pantangan, namun saya tidak pernah merasa diikat oleh pantangan tersebut. Bahwa secara garis besarnya saya akan begitu tapi tidak harus selalu begitu.

Istilah-istilah yang dibuat oleh rasul Paulus tentang orang-orang yang diperbudak oleh hukum; bagi orang yang sudah lebih maju, hukum itu sampah! Hukum itu barang usang! Hukum itu untuk robot atau Zombie.

Rabu, 25 Februari 2015

SAYA PEGANG BUKTI

Ada upaya berkelit tapi saya tunjukkan bukti rekaman percakapannya. Sebab saya tak pernah kontak dengan mereka dengan menggunakan HP, melainkan menggunakan email atau YM. Dan itu semua bisa dimunculkan kronologisnya, baik tanggal hingga jam dan menitnya. Merekapun bungkam karena saya bicara dengan bukti.

ADA YANG MENGANGKAT TUMITNYA-2

Saya tidak mengatakan orang itu sebagai Yudas Iskariot beneran. Itu hanyalah kiasan, hanyalah sebuah drama tentang sebuah peristiwa yang pernah terjadi dua ribu tahun yang lalu. Namun demikian merupakan pemberitahuan dari TUHAN tentang hal-hal yang tersembunyi yang ada di dalam benaknya sehingga harus saya coret dari kamus saya.

ADA YANG MENGANGKAT TUMITNYA

Ketika nabi Harun dipensiun dari jabatannya, maka nabi Musa melucuti jubah kebesarannya;

Bilangan 20:26    tanggalkanlah pakaian Harun dan kenakanlah itu kepada Eleazar, anaknya,
                           kemudian Harun akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya dan mati di sana."

Jendralpun kalau pensiun juga menanggalkan seragamnya, gajinya, tongkat komandonya, pistolnya, dan lain-lainnya, sehingga ia menjadi manusia biasa kembali. YESUS juga memasuki fase memasrahkan DiriNYA pada kehendak BAPANYA;

Lukas 22:42     "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi 
                          bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

Nah, pada saat lemah seperti itulah seorang sobat berdiri mengangkat tumitnya melawan saya;

Yohanes 13:18    Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. 
                          Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat  
                          tumitnya terhadap Aku. 

Lukas 22:48   Maka kata Yesus kepadanya: "Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak 
                      Manusia dengan ciuman?" 

Ada yang hendak menjatuhkan saya dengan kiriman uang?

Lukas 22:52    Maka Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala 
                       pengawal Bait Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, 
                       kata-Nya: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap 
                       dengan pedang dan pentung?

Sekalipun saya ini orang yang sangat miskin di dunia, apakah kamu pikir saya orang yang diperbudak uang? 

 Lukas 22:53    Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait 
                        Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan 
                        inilah kuasa kegelapan itu."

Padahal setiap hari saya mengajari dan memberikan keteladanan hidup sederhana pada kalian, namun kalian masih belum mengerti bahwa saya ini tidak terlalu bergantungan pada uang. Begitu beraninya sehingga sampai 3 kali kalian kedapatan mempermainkan saya; bilangnya mengirim uang tapi kemudian tak memberikan kabar berita. Saya sampai bingung dan malu pada pemilik rekening. Dan karena saya juga bingung terhadap kalian yang saya sebut sobat, maka saya belum mengambil sikap yang jelas seperti sekarang ini. 

Dengan adanya kejadian ini maka saya mulai menutup komunikasi dan mengurangi aktifitas menulis. Bahkan sudah seketika timbul kemalasan untuk ke warnet. Saya ke warnet hanya karena masih ada sedikit tanggungjawab saja. Tapi setelah itu sudah tak selera lagi.

Minggu, 22 Februari 2015

PERMAINAN KONYOL BANGET

Mana ada belum menerima kiriman uang disuruh bilang terimakasih? Ya saya bilang: tunggu biar saya cek dulu.

Mana ada dibilang saya sudah kirim, lalu seolah-olah uang bisa terkirim. Belum ada mesin ATM yang setolol itu.

Kalau orang tahu dengan apa yang kamu lakukan, maka kalian akan dibilang enggak waras.

Aneh, saya tak pernah minta-minta uang pada siapapun tapi kamu berkali-kali menyuruh saya meminjam rekening orang. Tapi setelah rekening diberikan berjam-jam tidak ada kabar beritanya. Apa saya nggak malu pada pemilik rekening?

Saya heran. Apa maksudnya permainan ini? Mengapa hubungan baik selama ini harus dihanguskan oleh kekonyolan seperti itu? Lupakah kalau sakit teriak-teriak minta pertolongan saya?

Hua..ha..ha.... saya ingin melihat berapa lama kamu bisa mempertahankan kesombongan dan ketakaburanmu ini.