Minggu, 11 Desember 2011

II. TINGGAL MENETAP DI KANAAN

II. TINGGAL MENETAP DI KANAAN

http://www.sarapanpagi.org/israel-vt134.html

Penyeberangan Yordan segera disusuli perebutan dan pemusnahan benteng Yeriko. Dari Yeriko mereka maju terus sampai ke pedalaman negeri itu. Menduduki benteng-benteng pertahanan satu demi satu. Mesir tidak mampu lagi mengirim bantuan kepada pengikut-pengikutnya di Kanaan; Mesir menguasai hanya sepanjang jalan pantai di wilayah barat sampai ke jalur lintas Megido di utara. Bahkan di wilayah ini juga pendudukan Filistin (+ 1190 sM) segera memperlihatkan suatu rintangan pada perluasan kekuasaan Mesir.

Suatu koalisi lima gubernur militer dari kota-kota benteng Kanaan, mencoba menghalangi orang Israel membelok ke arah selatan dari pusat daerah pengunungan, dimana Gibeon dan kota-kota sekutu di daerah orang Hewi telah tunduk kepada kelima gubernur itu. Koalisi itu dikalahkan seluruhnya di jalur lintas Bet-Horon, dan jalan kearah selatan menjadi terbuka bagi penyerbu. Biarpun pasukan kereta perang dari benteng-benteng Kanaan dikerahkan untuk mencegah Israel beroperasi di daerah-daerah datar, namun dalam tempo singkat, mereka telah menguasai dan menduduki tanah-tanah tinggi di wilayah pusat dan selatan, juga dataran tinggi Galilea, di utara dari dataran Yizreel.

Suku-suku Israel yang telah menetap di wilayah utara menjadi terputus dari sesama suku mereka di wilayah pusat Kanaan. Oleh suatu mata rantai benteng Kanaan di dataran Yisreel, yang bertebaran dari Laut Tengah sampai ke Yordan. Yudea, di Selatan lebih terputus lagi dari pusat suku-suku oleh kubu Yerusalem, yang tetap bertahan sebagai daerah kantong Kanaan selama 200tahun.

Pada suatu peristiwa luar biasa, suku-suku Israel di wilayah utara dan pusat bersekutu melawan para gubernur militer penguasa daerah Yezreel, yang terus menerus mengurangi kebebasan mereka. Perlawanan terpadu itu dikaruniai kemenangan gemilang pada pertempuran di Kisyon (+ 1125 sM), ketika tiba-tiba badai mengamuk dan mengakibatkan air sungai meluap, sehingga pasukan kereta perang Kanaan lumpuh total. Dengan demikian pasukan Israel yang hanya bersenjata sederhana dapat dengan mudah menghancurkan musuhnya. Dalam peristiwa ini, pada saat seruan supaya bertindak dikirim kepada semua suku di wilayah utara dan pusat, dan juga kepada suku yang tertinggal di Trans-Yordan, kelihatannya Yehuda tidak menerima seruan itu karena terputus sama sekali dengan suku-suku lainnya.

Pada peristiwa seperti diatas, bila suku-suku Israel mengingat janji persekutuan mereka, kekuatan persekutuan mereka memampukan mereka untuk mengatasi musuh-musuh mereka. Tapi aksi terpadu macam ini jarang sekali terjadi. Berkurangnya abhaya biasanya diikuti oleh ustu periode menyesuaikan diri dengan pola hidup Kanaan. Ini mencakup perkawinan campur dan mengikuti upacara-upacara kesuburan Kanaan, sedemikian rupa, sehingga YHVH dipikirkan lebih sebagai Baal, dewa hujan yang menyuburkan,daripada sebagai Allah nenek moyang mereka, yang menyelamatkan mereka dari Mesir untuk khusus menjadi umatNya yang istimewa. Perjanjian persekutuan itu menjadi lemah, dan mereka menjadi mangsa empuk bagi musuh-musuh mereka. Bukan hanya orang Kanaan yang mencoba menjerumuskan Israel kepada perbudakan, dari waktu ke waktu mereka menderita serangan-serangan dari seberang Yordan, yakni orang-orang Moab dan Amon, dan lebih celaka lagi serangan orang Midian. Pemimpin-pemimpin yang membawahi mereka pada periode-periode semikian adalah ‘hakim-hakim’ (periode pemukiman seluruh Kanaan biasanya disebut ‘Zaman Hakim-hakim’); mereka bukan hanya memimpin Israel, maju meraih kemenangan atas musuh-musuh Israel, tapi juga kembali kepada kesetian kepada YHVH.

Ancaman terbesar dan paling gigih atas kemerdekaan Israel datang dari Barat. Tidak lama setelah orang Israel menyeberangi Yordan, gerombolan bajak laut dari kepulauan Aegea dan daerah-daerah pantai, bermukim di daerah pesisir barat Kanaan dan mengatur diri mereka dalam 5 negara kota : Asdod, Askelon, Ekron, Gaza, & Gad. Masing-masing diperintah oleh seorang seren seorang dari ‘5 raja Filistin’. Orang Filistin ini kawin campur dengan orang Kanaan dan segera bersifat Kanaan dalam bahasa dan agama, tapi mereka memelihara tradisi tanah air sendiri dalam bidang politik dan militer. Setelah mereka menetap di kelima negara kota itu, mereka memperluas pengawasan atas bagian-bagian lain di wilayah Kanaan, termasuk wilayah-wilayah yang diduduki orang-orang Isarel. Secara militer, Israel bukanlah tandingan Filistin. Orang Filistin menguasai keterampilan membuat alat-besi dan mempertahankannya sebagai monopoli mereka. Sewaktu orang Israel mulai menggunakan alat-alat besi dalam kegiatan pertanian, orang-orang Filistin menuntut agar mereka harus datang kepada tukang-tukang besi Filistin untuk menempanya. Ini digunakan untuk menjamin agar orang-orang Israel tidak akan mampu menempa alat-alat besi bagi peperangan, dengan mana mereka dapat memberontak terhadap raja atasan Filistin itu.

Pada akhirnya orang Filistin memperluas kekuasaan mereka di dataran Yizreel sejauh Yordan. Kekuasaan mereka tidak mengancam hidup orang Israel, tapi sangat mengancam identitas bangsa Israel. Suku-suku Israel pada masa itu telah mendirikan bait di Silo di wilayah Efraim, dimana tabut kudus berada dan diurus oleh golongan imam yang garis leluhurnya sampai ke Harun, saudara Musa. Imamat ini memegang peranan pimpinan dalam pemberontakan suku-suku Israel menentang Filistin merebut tabut, Silo dan baitnya dihancurkan, dan imamat hampir punah (+ 1050 sM). Segala ikatan identitas kebangsaan Isarel nampaknya akan lenyap juga bersama mereka.

Bahwa identitas Isarel tidak lenyap, bahkan menjadi lebih tegar dan mantap, adalah berkat sifat keperkasaan dan keberanian daya juang Samuel, tokoh terbesar Isssrael disamping Musa dan Daud. Samuel, seperti Musa, menggabungkan dalam dirinya peranan nabi, imam dan hakim; dan ia sendiri sebagai pusat kehidupan semangat nasional. Dibawah kepemimpinannya, Isarel kembali kepada kesetiaan perjanjian, dan dengan kembalinya kesetiaan agamawi itu, Isarel mampu mengalahkan Filistin, justru di medan perang, dimana mereka pernah dihancurkan secara memalukan.

Setelah Samuel menjadi tua, masalah penggantinya menjadi hangat. Timbul tuntutan luas untuk seorang raja – Akhirnya Samuel menyetujui tuntutan ini – mengurapi Saul dari Suku Benyamin untuk memerintah Israel. Awal pemerintahan Saul adalah masa gemilang oleh berkat, berupa jawaban yang tepat dan cepat atas suatu aksi permusuhan dari pihak Amon. Hal ini diikuti oleh tidakan gemilang atas orang Filistin di daerah pegunungan pusat. Selama Saul meneriman dan menerapkan petunjuk Samuel dalam bidang agamawi, maka semua berjalan dengan baik, tapi keberjayaan Saul mulai menurun bila ia melanggar petunjuk Samuel. Saul menerima Ajalnya pada pertempuran melawan orang Filistin di Gunung Gilboa, yang berkobar akibat tindakannya yang gegabah tapi sia-sia, untuk memasukkan suku-suku Israel di wilayah utara yang tidanggal di dataran Yizreel ke dalam kesatuan Israel. Kuasa pengekangan Filistin atas Israel sekarang lebih kuat daripada sebelumnya (+ 1010 sM).



Artikel terkait :
SAUL, RAJA PERTAMA KERAJAAN ISRAEL, di saul-yonatan-vt3053.html#p16983

Tidak ada komentar: