Selasa, 17 Januari 2012

ENSIKLOPEDI SEJARAH ALKITAB PERJANJIAN LAMA – 2




Penelitian kita tentang kronologi sebelum Abraham terbagi atas dua bagian: (1) dari Air Bah sampai Abraham dan (2) dari Penciptaan sampai Air Bah. Tiada gunanya mengatakan bahwa jangka waktu ini menimbulkan masalah-masalah yang terbesar karena kita tak dapat lagi membandingkan tarikh-tarikh Alkitab dengan catatan sejarah dari bangsa-bangsa lain di sekitar Israel. Sejarah zaman purba dari bangsa-bangsa ini sangat kurang lengkap dan kurang dimengerti. Bahkan terjemahan yang berbeda-beda dari Perjanjian Lama tak sependapat tentang kejadian-kejadian sejarah sebelum masa para leluhur. Pada umumnya kita akan mengikuti naskah orang Masoret (Ibrani), tetapi pada titik-titik tertentu kita akan membandingkan kisahnya dengan versi-versi purba lainnya.
Daftar keluarga Abraham (Kej. 11:10-26) memberikan informasi yang kita perlukan untuk kurun waktu ini. Tabel 9 memetakan kehidupan nenek moyang Abraham. Pertama, perhatikanlah bahwa tanggal lahir Abraham jatuh pada tahun 2166 sM dan tanggal mati pada tahun 1991 sM. Angka-angka didasarkan pada perhitungan yang telah kita lakukan.
Ayah Abraham, Terah, telah memuja berhala selama beberapa tahun (Yos. 24:2) ketika ia memindahkan keluarganya dari Ur ke Haran. Terah tinggal di sana sampai ia meninggal pada usia 205 tahun (Kej. 11:32).
Tuhan memanggil Abraham untuk pergi ke Kanaan pada usia 75 tahun (Kej. 12:4). Rupanya ini terjadi segera sesudah kematian Terah. Hal ini akan menetapkan kematian Terah pada tahun 2091 sM (2166 sM ditambah 75 tahun), hingga membuat dia berusia 130 tahun ketika Abraham lahir (usia 205 tahun dikurangi 75 tahun). Demikianlah kita mendapati bahwa Terah lahir pada tahun 2296 sM (2166 sM ditambah 130 tahun atau 2091 sM ditambah 205 tahun).
Terah lahir ketika ayahnya, Nahor, berusia 29 tahun (Kej. 11:24). Nahor hidup 119 tahun lagi (Kej. 11:25). Jadi ia lahir pada tahun 2325 sM (2296 ditambah 29 tahun) dan ia meninggal pada 2177 sM (2296 sM dikurangi 119 tahun).
Ayah Nahor, Serug, berusia 30 tahun ketika Nahor lahir, dan ia hidup 200 tahun lagi sesudah itu (Kej. 11:22-23). Oleh sebab itu, tanggal lahir Serug adalah 2355 sM (2325 sM ditambah 30 tahun) dan ia meninggal pada tahun 2125 sM (2325 sM dikurangi 200 tahun).
Ayah Serug, Rehu, berusia 32 tahun ketika Serug lahir dan ia hidup 207 tahun lagi sesudah itu (Kej. 11:20-21). Jadi, tanggal lahir Rehu adalah 2387 sM (2355 sM ditambah 32 tahun), dan ia mati pada tahun 2148 sM (2355 sM dikurangi 207 tahun).
Ayah Rehu, Peleg, berusia 30 tahun ketika Rehu lahir, dan ia hidup 209 tahun lagi sesudah itu. Jadi tanggal lahir Peleg adalah 2417 sM (2387 sM ditambah 30 tahun) dan tanggal kematiannya adalah 2187 sM (2387 sM dikurangi 209 tahun).
Eber berusia 34 tahun ketika Peleg lahir dan ia hidup 430 tahun lagi sesudah kelahiran Peleg (Kej. 11:16-17). Jadi kita memperhitungkan bahwa Eber lahir pada tahun 2451 sM (2417 sM ditambah 34 tahun) dan meninggal pada tahun 1987 sM (2417 sM dikurangi 430 tahun). Ini berarti bahwa Eber hidup melampaui saat Abraham memasuki tanah Kanaan. Apabila bukti dari lempeng-lempeng yang digali di Ebla itu betul, maka istilah Ibrani mungkin berasal dari nama orang ini.
Ayah Eber, Selah, berusia 30 tahun ketika Eber lahir; ia hidup 403 tahun lagi (Kej. 11:14-15). Jadi, tanggal lahir Selah adalah 2481 sM (2451 sM ditambah 30, tahun) dan tanggal kematiannya adalah 2048 sM (2451 sM dikurangi 403 tahun).
Naskah Kitab Suci dalam bahasa Ibrani tidak menyebut kehidupan Kenan, namun ada pernyataan tentang dia di versi Septuaginta dari Kej. 10:24 dan 11:12-13, dan juga I Taw. 1:18. Lukas 3:36 juga menyebut dia. Versi Septuaginta menunjukkan bahwa Kenan berusia 130 tahun ketika Selah lahir dan hidup 330 tahun lagi sesudah kelahiran Selah. Ini berarti bahwa Kenan lahir pada tahun 2611 sM (2481 sM ditambah 130 tahun) dan meninggal pada tahun 2151 sM (2481 dikurangi 330 tahun).
Naskah Ibrani menyatakan bahwa Arpakhsad adalah ayah Selah, tetapi versi Septuaginta menyatakan bahwa Arpakhsad adalah ayah Kenan. Mengingat pernyataan-pernyataan ini yang saling bertentangan, kita tidak akan mencoba untuk menarikhkan kelahiran atau kematian Arpakhsad. Kita tahu bahwa ia lahir dua tahun setelah Air Bah (Kej. 11:10) dan hidup sekitar 400 tahun sesudah kelahiran Selah atau Kenan.
Sem berusia 100 tahun ketika putranya Arpakhsad dilahirkan dan ia mempunyai jangka hidup yang berjumlah sekitar 600 tahun (Kej. 11:10-11).
Angka-angka ini menghadapkan kita pada beberapa masalah yang Sangat nyata. Mengingat jangka hidup yang begitu lama dari bapak-bapak leluhur yang lebih awal, apakah tahun-tahun itu selalu harus diartikan sebagai tahun kalender yang penuh? Mengapa Septuaginta mencantumkan Kenan dalam daftar itu sedangkan naskah Ibrani tidak? Adakah kekosongan-kekosongan dalam daftar-daftar silsilah? Sebenarnya, kelihatan bahwa daftar-daftar di Kejadian 5 dan 11 itu bukan catatan yang lengkap, melainkan hanya mencantumkan orang-orang terkemuka yang dipilih.
Tambahan pula, perhatikanlah bahwa jangka waktu dari Kenan (pada tahun 2611 sM) sampai waktu Abraham memasuki Kanaan (pada tahun 2091 sM) adalah sekitar 520 tahun. Kita mungkin harus menambahkan kira-kira 60 tahun untuk memperhitungkan apakah Arpakhsad itu ayah Kenan atau Selah.
Dan bagaimana tentang Eber? Apabila kita menerima teks Masoret begitu saja, maka Eber hidup lebih lama dari saat Abraham memasuki Kanaan. Apakah memang demikian? Belum tentu demikian. Bila ada kekosongan-kekosongan dalam daftar itu, mungkin Eber sudah meninggal jauh sebelum Abraham berada di Kanaan.
Ada satu masalah lain lagi: Jangka waktu 520 tahun dari Kenan sampai masuknya Abraham di Kanaan tidak cocok dengan angka-angka yang diberikan oleh berbagai versi lain dari Perjanjian Lama. Versi Septuaginta menyatakan bahwa 1.232 tahun lewat dari Air Bah sampai perjalanan Abraham masuk Kanaan, sedangkan Pentateukh Samaria menyatakan 942 tahun. Kita sama sekali tidak dapat menguji angka-angka ini. Akan tetapi, sejak penemuan gulungan-gulungan Qumran, teks Masoret itu dianggap mungkin benar. Namun, teks Masoret itu tidak cocok dengan catatan sejarah Mesir dan Mesopotamia purba. Laporan-laporan sejarah Mesir dan Mesopotamia untuk daerah-daerah ini mulai pada kira-kira tahun 3000 sM. Air Bah pasti telah terjadi sebelum waktu itu dan pada waktu yang lebih dini daripada yang tampak pada Tabel 9.
Karena kita tidak dapat menetapkan tarikh yang khusus untuk Air Bah, kita akan mengalami kesulitan untuk merunut mundur sampai ke tarikh Adam dan Hawa. Yang dapat kita lakukan hanyalah merunut garis keluarga Adam sampai ke waktu Air Bah, dengan memakai kronologi yang terdapat di Kejadian 5 dan 7:11. Periksalah Tabel 10 waktu kita menyelidiki sejarah pra Air Bah ini.
Adam berusia 130 tahun ketika Set lahir (Kej. 5:3). Kita dapat mengabaikan keluarga Kain, karena kitab Kejadian tidak memberikan tanggal-tanggal tertentu bagi keturunannya. Dan Alkitab tidak menyebutkan keturunan Habel ketika ia dibunuh. Karena itu, silsilah harus mulai dengan Set. Adam hidup 800 tahun lagi setelah kelahiran Set (Kej. 5:4).
Set berumur 105 tahun ketika ia menjadi ayah Enos. Ia hidup 807 tahun lagi setelah Enos lahir (Kej. 5:6-7).
Enos berusia 90 tahun ketika anaknya, Kenan, lahir, dan ia hidup 815 tahun lagi setelah itu (Kej. 5:9-10). Kenan berusia 70 tahun ketika Mahalaleel lahir, dan ia hidup 840 tahun lagi (Kej. 5:12-13).
Mahalaleel berusia 65 tahun ketika anaknya, Yared, lahir, dan ia terus hidup 830 tahun lagi (Kej. 5:15-16). Yared berusia 162 tahun ketika Henokh lahir, dan ia hidup 800 tahun lagi setelah kelahiran Henokh (Kej. 5:18-19).
Henokh berusia 65 tahun ketika Metusalah lahir dan ia hidup 300 tahun lagi. Henokh "hidup bergaul dengan Allah" dan Allah mengangkat dia ke surga (Kej. 5:21-24).
Metusalah berusia 187 tahun ketika anaknya, Lamekh, lahir, dan Alkitab memberi tahu bahwa ia masih hidup 782 tahun lagi (Kej. 5:25-26). Lamanya umur Metusalah akan menempatkan kematiannya pada tahun Air Bah, menurut laporan Alkitab. Apakah ini berarti bahwa Metusalah meninggal pada waktu Air Bah? Mungkin. Alkitab tidak mengatakannya.
Lamekh berusia 182 tahun ketika Nuh lahir dan hidup 595 tahun lagi (Kej. 5:28-31).
Nuh berusia 500 tahun ketika ketiga putranya lahir (Kej. 5:32). Nuh membangun sebuah kapal untuk membawa dirinya dan keluarganya, bersama dengan binatang-binatang tertentu, selama Air Bah yang dikirim oleh Tuhan untuk membinasakan cara hidup yang jahat di bumi ini pada waktu Nuh berusia 600 tahun (Kej. 7:6). Nuh hidup 350 tahun setelah Air Bah, dan meninggal pada usia 950 tahun (Kej. 9:28-29).
Apabila kita menambah usia masing-masing orang ini (dari Adam sampai Nuh), kita mendapatkan jumlah 1.656 tahun dari zaman Adam sampai ke Air Bah. Akan tetapi, versi-versi lain dari Perjanjian Lama memberikan angka-angka yang berbeda. Versi Septuaginta menghitung 2.242 tahun di antara Adam dan Air Bah, sedangkan versi Samaria 1.307 tahun. Terlepas dari hal-hal lain, perbedaan-perbedaan ini tidak memungkinkan untuk menentukan tarikh yang pasti untuk Adam. Menurut kronologi ini, Nuh lahir 1.056 tahun setelah Penciptaan (1.656 tahun dikurangi 600 tahun).
Kita tidak mempunyai catatan sekular yang dapat dipercayai dari kurun waktu ini. Daftar-daftar raja Sumer menunjukkan enam sampai delapan raja yang memerintah untuk sekitar 30.000 tahun sebelum Air Bah! Tak pelak lagi ini merupakan legenda. Kami tidak dapat memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan berapa lama manusia telah hidup di bumi, tetapi kami tidak akan menyetujui saran yang menganjurkan berjuta-juta tahun. Kami hanya mengatakan bahwa banyak generasi telah berlalu di antara Adam dan Air Bah terjadi pada suatu waktu sebelum tahun 2611 sM (kelahiran Kenan).

Di Tabel 4 kita menetapkan dua tarikh: 853 sM (pertempuran di Qarqar) dan 841 sM (upeti Salrnaneser dari Raja "Ia-a-u," atau Yehu). Dari tarikh-tarikh ini kita telah merunut mundur dalam sejarah Israel. Sekarang, marilah kita merunut ke depan kepada keruntuhan Israel dan Yehuda. Hal ini lebih sulit daripada yang dapat dibayangkan. Tabel 11 menyusun sejarah kedua kerajaan ini, dengan paruhan bagian bawah mengacu kepada para raja Yehuda dan paruhan bagian atas mengacu kepada para raja Israel. Dalam teks ini nama setiap raja Yehuda akan ditunjukkan dalam huruf kapital yang besar dan kecil, sedangkan nama setiap raja Israel akan ditunjukkan dalam huruf tebal.
Sekali lagi, kita harus ingat bahwa Israel menganut pola penarikhan yang bukan sistem tahun pelantikan sehingga satu tahun harus dikurangi dari pemerintahan tiap raja. Oleh karena Israel mempengaruhi Yehuda dari masa Yoram, maka pada waktu itu Yehuda juga mengikuti pola yang bukan sistem tahun pelantikan. Namun, kedua bangsa itu beralih kepada pola sistem tahun pelantikan selama kurun waktu ini.
Yehu - II Raja-Raja 10:36; "28 tahun" (27 tahun). Raja ini membunuh pendahulunya di Israel, Yoram, dan juga raja Yehuda, Ahazia. Karena kita telah menerima bahwa Yehu memulai pemerintahannya pada tahun 841, maka pemerintahannya berakhir pada tahun 814 sM (841 sM dikurangi 27 tahun).
Atalya - II Raja-Raja 11:4, 21; "tujuh tahun" (6 tahun). Atalya adalah istri Yoram dan putri Izebel dari Israel. Karena ia melihat bahwa Yehu telah membunuh putranya, Ahazia, ia membunuh semua keturunan raja agar ia dapat merebut takhta itu. (Akan tetapi, beberapa pengikut setia Ahazia telah membawa lari Yoas, putra raja, dan menyembunyikannya.) Atalya naik takhta pada tahun 841 sM dan memerintah tujuh tahun menurut pola yang bukan sistem tahun pelantikan atau sebenarnya enam tahun. Pemerintahannya berakhir pada tahun 835 sM (841 sM dikurangi enam tahun).
Yoas - II Raja-Raja 12:1, "40 tahun" (39 tahun). Yoas memulai pemerintahannya sebagai seorang raja yang masih kecil pada tahun 835 sM dan memerintah selama 40 tahun menurut pola yang bukan sistem tahun pelantikan atau sebenarnya 39 tahun. Ini berarti bahwa ia dibunuh pada tahun 796 sM (835 sM dikurangi 39 tahun).
almanac
Pekahya - II Raja-Raja 15:23; dua tahun. Ia menjadi raja pada tahun 742 dan memerintah sampai 740 sM. (II Raj. 15:23 memberi tahu bahwa Pekahya memulai pemerintahannya pada tahun ke-50 dari pemerintahan Uzia, atau 741 sM. Teranglah ini suatu kasus lain di mana raja yang baru naik takhta pada permulaan tahun yang baru).
Pekah - II Raja-Raja 15:27; 20 tahun. Kelihatannya ini suatu masalah yang nyata. Kedua Raja-Raja 15:27 memberi tahu bahwa Pekah menjadi raja pada tahun ke-52 dari pemerintahan Uzia yaitu 739 sM (791 sM dikurangi 52 tahun). Jika kita menerimanya begitu saja, kita akan memulai pemerintahan Pekah pada tahun 739 dan mengakhirinya pada tahun 719 sM. Lalu kita perlu menambahkan 9 tahun pemerintahan Raja Hosea, sehingga akhir pemerintahannya jatuh pada tahun 710 sM. Akan tetapi, hal ini tidak sesuai dengan catatan Asyur tentang kejatuhan Israel.
Sering kali dianjurkan bahwa pemerintahan Yotam dan Ahas sejajar dengan pemerintahan Pekah yang mulai pada tahun 752 sM. Dengan kata lain, Pekah mulai memerintah Israel serentak dengan Menahem. Berdasarkan asumsi ini, Pekah memerintah dari 742 sampai 732 sM. Acuan kepada tahun ke-52 dari pemerintahan Uzia menunjukkan tahun ketika Pekah menjadi penguasa tunggal di Utara dan pernyataan bahwa ia memerintah 20 tahun lamanya itu mengacu pada seluruh pemerintahan Pekah, mulai pada tahun 752 sM.
Yotam - II Raja-Raja 15:32-33; 16 tahun. Yotam mulai memerintah pada tahun ke-2 dari pemerintahan Pekah - 751 atau 750 sM (tergantung pada bulan ketika Pekah mulai memerintah). Kita sudah melihat bahwa Uzia memerintah sampai 739 sM, jadi Yotam dan Uzia tentu sudah memerintah bersama-sama selama beberapa tahun. Alkitab memang mengatakan bahwa Uzia kena penyakit kusta menjelang akhir hidupnya (II Taw. 26:21); dengan demikian diperlukan seorang wali karena orang kusta harus diasingkan. Kedua Raja-Raja 16:1 menyatakan bahwa Ahas menggantikan Yotam pada tahun ke-17 dari pemerintahan Pekah, atau 735 sM (752 sM dikurangi 17 tahun). Jadi Yotam tentunya telah memerintah dari 750 sampai 735 sM. Meskipun Alkitab mengatakan bahwa Yotam memerintah 16 tahun, Alkitab juga menunjukkan bahwa ia hidup sampai saat yang seharusnya merupakan tahun ke-20 dari pemerintahannya, 730 sM. Hosea dari Israel bersekongkol untuk membunuh Pekah pada tahun ke-20 dari pemerintahan Yotam (II Raj. 15:30). Demikianlah, kami menunjukkan akhir hidup Yotam pada sekitar 730 sM di Tabel 11. Alkitab mengatakan bahwa orang Amon membayar upeti kepada Yotam sampai tahun ke-3 dari pemerintahannya yang resmi (II Taw. 27:5). Itu akan terjadi sekitar 736 sM (739 sM dikurangi 3 tahun).
Hosea - II Raja-Raja 17:1; 9 tahun. Hosea memulai pemerintahannya setelah Pekah meninggal pada tahun 732 sM dan ia melihat pemerintahannya berakhir pada tahun 723 sM ketika orang Asyur merebut Kerajaan Utara. Di sini lagi, catatan resmi Asyur membantu memperkuat kronologi Alkitab. Catatan itu memberi tahu bahwa Salmaneser V wafat pada tahun 722 sM, tidak lama setelah ia merebut sebuah kota penting di Palestina (bdg. II Raj. 17:3-6). Pengganti Salmaneser, Sargon II, membanggakan diri karena telah merebut Israel dalam tahun ia naik takhta Asyur; rupanya pemerintahan Asyur berpindah tangan sementara penaklukan Israel.
Ahas - II Raja-Raja 16:1-2; 16 tahun. Kedua Raja-Raja 17:1 memberi tahu bahwa Raja Hosea dari Israel naik takhta pada tahun ke-12 dari pemerintahan Ahas, jadi pemerintahan Ahas mulai pada 744 sM (732 sM ditambah 12 tahun) dan berakhir 728 sM (744 sM dikurangi 16 tahun). Ini berarti bahwa pemerintahan Ahas tumpang tindih dengan pemerintahan ayahnya selama 9 tahun.
Pada saat ini, Kerajaan Utara, Israel, sudah tiada sehingga kita tidak lagi dapat membandingkan tanggal-tanggal untuk raja-raja Israel dan Yehuda. Kita akan mulai pada 696 sM (akhir pemerintahan Hizkia) dan menyusun masa pemerintahan dari raja-raja Yehuda yang lain. Tabel 12 melakukan hal ini.
Manasye - II Raja-Raja 21:1; 55 tahun. Manasye memulai pemerintahannya pada tahun 696 sM dan memerintah selama 55 tahun, sampai 641 sM.
Amon - II Raja-Raja 21:19; 2 tahun. Amon memulai pemerintahannya pada tahun 641 dan memerintah sampai 639 sM.
Yosia - II Raja-Raja 22:1; 31 tahun. Yosia memulai pemerintahannya pada tahun 639 sM dan memerintah sampai, 608 sM, ketika ia gugur di medan pertempuran dalam usahanya untuk menghentikan Firaun Nekho dan tentara Mesir yang hendak bergabung dengan pasukan Asyur dalam perang mereka lawan orang Babel (II Raj. 23:29).
Yoahas - II Raja-Raja 23:31; 3 bulan. Rakyat Yehuda memilih putra sulung Yosia, yaitu Yoahas, untuk menjadi raja baru mereka. Tetapi Firaun Nekho tidak menghendaki dia dan menempatkan seorang putra lain dari Yosia, yaitu Yoyakim, di atas takhta.
Yoyakim - II Raja-Raja 23:36; 11 tahun. Sementara pemerintahan raja ini untuk pertama kalinya Nebukadnezar menyerang Yerusalem dan menaklukkan Yehuda di bawah kekuasaan Babel. Yoyakirn diteguhkan sebagai raja pada tahun 605 sM. Kita dapat menetapkan tanggal ini tanpa ragu-ragu karena dua peristiwa gerhana menetapkan 605 sM sebagai awal pemerintahan Nebukadnezar. Satu gerhana terjadi pada tahun ke-5 pemerintahan Nabopolasar, ayah Nebukadnezar. Kita juga mengetahui bahwa Nebukadnezar naik takhta pada tahun ke-21 dari pemerintahan ayahnya. Gerhana yang lain terjadi pada 4 Juli 568, ketika Nebukadnezar telah memerintah selama 37 tahun. Dengan demikian Nebukadnezar dilantik menjadi raja pada tahun 605 sM. Daniel dibawa ke Babel dan masa pembuangan Yehuda yang 70 tahun lamanya mulai pada 605 sM (bdg. Yer. 25:9-12; Dan. 9:2). Yoyakim memulai pemerintahannya pada tahun 608 sM dan memerintah selama 11 tahun, sampai 597 sM (608 sM dikurangi 11 tahun), ketika ia meninggal dunia.
Yoyakhin - II Raja-Raja 24:8; 3 bulan. Yoyakhin menjadi raja setelah Yoyakim, tetapi Nebukadnezar menyerang Yehuda untuk kedua kalinya dan membuang Yoyakhin ke Babel. Lalu Nebukadnezar menempatkan seorang putra Yosua yang lain lagi, yaitu Zedekia, di atas takhta.
Zedekia - II Raja-Raja 24:18; 11 tahun. Inilah raja yang terakhir dari persemakmuran Yehuda yang pertama. Ia memerintah dari 597 sampai 586 sM, ketika Nebukadnezar menyerang untuk ketiga kalinya, menghancurkan bait suci dan mengakhiri kerajaan Yehuda.
Gedalya - II Raja-Raja 25:22-26; 7 bulan. Gedalya menjadi gubernur pada tahun ke-19 dari pemerintahan Nebukadnezar. Hal ini menegaskan bahwa Gedalya mulai berkuasa pada tahun 586 sM (II Raj. 25:22). Rupanya Nebukadnezar harus menumpas suatu pemberontakan lain di Yehuda, karena sebagian umat tidak menerima kenyataan bahwa persemakmuran yang pertama telah berakhir. Ini terjadi pada tahun ke-23 dari pemerintahan Nebukadnezar, atau 582 sM (bdg. Yer. 52:30).
Alkitab memberi beberapa tanggal untuk masa Pembuangan. Yoyakhin dilepaskan pada tahun ke-37 dari pembuangannya (II Raj. 25:27). Dengan demikian ini terjadi kira-kira 560 sM (597 sM dikurangi 37 tahun). Yehezkiel juga memberikan tanggal-tanggal tertentu untuk kejadian-kejadian dalam pelayanannya, dari saat Yoyakhin ditawan (Yeh. 1:1-2; 29:17). Yehezkiel mendengar bahwa Yerusalem telah jatuh pada tahun ke-12 dari pembuangannya yang menempatkannya pada sekitar 586 sM (Yeh. 33:21).
Babel jatuh ke tangan Koresy dan orang Persia pada 539 sM dan Koresy segera menitahkan agar semua orang buangan pulang ke tanah air mereka (II Taw. 36:22; Ezr. 1:1). Sekali lagi kita melihat Allah bekerja dalam sejarah untuk melaksanakan maksud-Nya untuk umat-Nya, Israel. Orang Yahudi memerlukan waktu sekitar satu tahun untuk kembali ke tanah air mereka dan menetap untuk memulai persemakmuran yang kedua. Sistem kalender Persia berbeda dari kalender Yahudi, tetapi kita dapat menghitung bahwa orang Yahudi mulai meletakkan landasan untuk bait suci kedua pada tahun 536 sM. Menarik sekali untuk memperhatikan bahwa Pembuangan itu betul-betul berakhir 70 tahun sesudah orang Babel merebut Yehuda pada tahun 606 sM, seperti yang dinubuatkan oleh Tuhan (Yer. 25:11). Pembangunan bait suci itu terhenti tidak lama setelah mereka mulai membangunnya. Usaha ini dimulai kembali pada tahun ke-2 dari pemerintahan Darius I, 520 sM, di bawah pelayanan Hagai dan Zakharia (Ez. 4:24; 5:1-2; Hag. 1:1-15; 2:1-9). Bait suci diselesaikan pada tahun ke-6 dari pemerintahan Darius (Ez. 6:15), yang jatuh kira-kira pada 516 sM. Ini suatu cara lain untuk menandai selingan 70 tahun dari masa Pembuangan - dari penghancuran bait suci yang pertama pada tahun 586 sM sampai selesainya bait suci yang kedua pada tahun 516 sM.
Ester hidup pada masa Ahasyweros atau Xerxes (486-464 sM); dan ia ditarikhkan pada sekitar 483 dan 479 sM (Est. 1:3: 2:16).
Kejadian-kejadian sejarah yang mengakhiri masa Perjanjian Lama terjadi selama pemerintahan Artahsasta I (464-423 sM). Ezra membawa suatu rombongan orang Yahudi ke Yerusalem pada tahun ke-7 dari pemerintahan Artahsasta (Ez. 7:7-9), sekitar 458 sM. Untuk membantu Ezra dan masyarakat Yahudi, Nehemia mengatur pengangkatan dirinya sebagai gubernur atas negeri itu. la diizinkan kembali pada tahun ke-20 dari pemerintahan Artahsasta (Neh. 1: 1), yang jatuh kira-kira pada tahun 444 sM. Rupanya ada jarak waktu antara perjalanan pertama ini ke Yerusalem (Neh. 2:1-11) dan perjalanan yang kedua pada tahun ke-32 dari pemerintahan Artahsasta (Neh. 13:6), yang terjadi sekitar 432 sM.

Perjanjian Baru memberikan beberapa indikasi kronologis yang penting. Akan tetapi, Perjanjian Baru tidak berbicara dari segi pandang kalender kita, jadi kita harus membandingkannya dengan sumber-sumber sejarah yang lain untuk menemukan tanggal berbagai peristiwa dalam kehidupan Yesus.

Herodes Agung adalah raja di Yudea ketika Yesus lahir (Mat. 2: 1). Yosefus menulis dalam Antiquities bahwa suatu gerhana bulan terjadi tepat sebelum kematian Herodes (Bk. XVII, Ps. xiii, Bag. 2). Ini bisa mengacu kepada salah satu dari tiga gerhana yang terjadi pada tahun 5 dan 4 sM; pilihan yang paling mungkin adalah 12 Maret tahun 4 sM. Lagi pula, sejarawan Yahudi ini menyatakan bahwa raja meninggal tepat sebelum hari Paskah (Bk. XVII, Ps. vi, Bag. 4) dan hari Paskah jatuh pada 11 April tahun 4 sM. Jadi, kita harus menarik kesimpulan bahwa Herodes meninggal pada bagian awal bulan April tahun itu.
Orang Majus dari Timur datang untuk menyembah Mesias dari Allah. Akan tetapi, ketika mereka tidak kembali untuk memberi laporan kepadanya, Herodes memerintah tentaranya untuk membunuh semua bayi di Betlehem, yang berumur 2 tahun ke bawah (Mat. 2:16). Ini menganjurkan bahwa Yesus lahir pada tahun 6 atau 5 sM dan Ia berusia antara satu dan dua tahun ketika Herodes meninggal. Ia barangkali lahir pada tahun 5 sM dan dibawa ke Mesir pada tahun 4 sM, entah kapan.
Kita tidak tahu bulan dan hari yang tepat ketika Yesus lahir. Tanggal 25 Desember tak mungkin. Gereja di Roma memilih hari itu untuk merayakan kelahiran-Nya pada abad kedua atau ketiga untuk mengaburkan sebuah perayaan kafir yang secara tradisional dirayakan pada hari ini. Sebelumnya gereja Ortodoks Timur memilih untuk menghormati kelahiran Kristus pada 6 Januari, yaitu Epifani. Tetapi, mengapa tanggal itu ditetapkan pada musim dingin? Kemungkinannya kecil sekali bahwa para gembala akan menjaga kawanan dombanya di lereng-lereng bukit pada waktu itu. Kemungkinan lebih besar bahwa Yesus lahir pada musim gugur atau musim semi.
Banyak sarjana berpendapat bahwa bintang Betlehem (Mat. 2:2) itu adalah suatu peristiwa yang berhubungan dengan astronomi. Mereka mengatakan bahwa mungkin waktu itu planet Saturnus dan Yupiter rupanya bertemu di angkasa; hal itu terjadi pada 7 atau 6 sM. Orang lain memperhatikan bahwa catatan-catatan bangsa Cina memberi tahu tentang sebuah bintang atau komet yang sangat cemerlang pada 5 atau 4 sM. Namun ada banyak masalah besar dengan kedua teori ini. Alkitab mengatakan bahwa bintang itu memimpin orang majus pada perjalanan mereka dan bahkan menandai rumah itu sehingga mereka tidak mungkin keliru (Mat. 2:9-10). Meskipun bintang itu merangsang perhatian para majus, ia tidak membantu kita menetapkan kapan Yesus dilahirkan.
Perjanjian Baru memberi tahu banyak hal mengenai pelayanan Yesus di depan umum; tetapi sekali lagi kita harus menghubungkan pernyataan-pernyataan ini dengan sumber-sumber di luar Alkitab untuk menemukan tanggalnya.
Yohanes Pembaptis melintasi karier beberapa tokoh bersejarah di Yudea dan Kekaisaran Roma (Luk. 3:1). Untuk maksud kita, tokoh yang terpenting adalah Kaisar Tiberius, yang menurut Lukas telah memerintah 4 tahun pada permulaan pelayanan Yohanes. Yosefus menyatakan bahwa Tiberius menjadi kaisar ketika Augustus wafat pada tahun 14 M. (Antiquities Bk XVIII, Ps. ii, Bag. 2). Maka tahun ke-15 dari pemerintahannya akan jatuh pada 28 atau 29 M., tergantung pada apakah ia menggunakan sistem tahun pelantikan atau bukan sistem tahun pelantikan. Yohanes dan Yesus memulai pelayanan mereka kira-kira pada waktu yang sama. Marilah kita menganggap bahwa Yesus mempunyai pelayanan yang tiga setengah tahun lamanya dan berumur kira-kira 30 tahun, seperti yang dikatakan Luk. 3:23 ketika Ia mulai melayani. Dengan segera timbul suatu masalah; tanggal yang ditetapkan Yosefus untuk Tiberius menuntut agar kita menempatkan kematian Yesus pada kira-kira 31 atau 32 M., dan memindahkan tanggal kelahiran-Nya ke 3 atau 2 sM,. yang terlalu lambat.
Bagaimanapun juga, masalahnya bukannya tidak dapat diatasi. Kita tahu bahwa Tiberius memerintah bersama Kaisar Augustus selama dua atau tiga tahun sebelum Augustus meninggal. Ini berarti bahwa ia memulai tugasnya secara resmi pada kira-kira 11 atau 12 M. dan berdasarkan perhitungan ini tahun ke-15 dari pemerintahannya jatuh pada 26 atau 27 M. Tanggal 26 M. mungkin pilihan yang terbaik untuk permulaan pelayanan Yohanes dan Yesus sebab itu cocok dengan tanggal kelahiran Yesus pada 5-6 sM.
Alkitab memberi tahu bahwa Yesus kira-kira 30 tahun ketika Ia memulai pelayanan-Nya, segera setelah la dibaptis (Luk. 3:1-2, 2123). Tetapi apa artinya "kira-kira 30 tahun"? Para imam memulai pelayanan mereka pada usia 30 tahun, tetapi Yesus bukanlah seorang imam dari suku Lewi dan tidak terikat pada aturan ini. Pada pihak lain, itulah usia yang cukup baik. Dari sudut pandang orang Yahudi, seorang yang berusia 30 tahun tidak terlalu muda untuk memangku kedudukan dengan otoritas rohani, dan juga tidak terlalu tua untuk menjalankan pelayanan yang giat. Kita hendaknya menerima bahwa Yesus memulai pelayanan-Nya ketika Ia hampir berusia 30 tahun.
Banyak kejadian biasa dari kehidupan Yahudi tampak dalam pelayanan Yesus. Yang terpenting adalah Hari Raya Paskah. Injil Yohanes menyebut tiga perayaan Paskah selama pelayanan Yesus (Yoh. 2:13; 6:4; 12:1). Buku Harmony of the Gospels, karangan A. T. Robertson, menunjukkan bahwa Yohanes 5:1 juga mengacu kepada suatu hari raya Paskah. Karena Yesus mulai pelayanan-Nya sebelum yang pertama dari keempat Paskah itu, lama pelayanan-Nya adalah tiga setengah tahun, mulai pada musim gugur tahun 26 dan berakhir pada masa Paskah musim semi tahun 30.
Dapatkah kita memberi keterangan lebih rinci tentang tanggal kematian Yesus? Barangkali, Kalender Yahudi menunjukkan bahwa Paskah jatuh pada 7 April tahun 30. Tradisi menyatakan bahwa Yesus disalibkan pada hari Jumat; ini menempatkan Paskah pada hari Kamis malam - 14 Nisan pada kalender Yahudi. Akan tetapi, beberapa ahli beranggapan bahwa penyaliban itu terjadi pada hari Kamis, atau bahkan hari Rabu.
Ada satu masalah lain lagi: Apakah Yesus benar-benar makan jamuan Paskah, atau hanya satu jamuan lain yang penting? Tidak dapat dibayangkan bahwa Yesus menyuruh murid-murid-Nya mempersiapkan jamuan Paskah (Luk. 22:8, 13) tanpa mengharapkan mereka mempersembahkan kurban yang semestinya di bait suci dan benar-benar mempersiapkan jamuan Paskah. Tidak mungkin mereka mengadakan perayaan lain pada saat-saat itu.
Bagaimana orang Yahudi memperhitungkan bulan baru yang menentukan tanggal untuk perjamuan Paskah? (Mereka merayakan Paskah 14 hari setelah bulan baru dari bulan Nisan, bulan yang pertama.) Apabila mereka memperhitungkan hari bulan baru itu menurut perhitungan astronomi, mereka akan merayakan Paskah pada 7 April tahun 30. Akan tetapi, jika mereka mengamati bulan secara visual untuk menentukan tanggal Paskah, mereka bisa keliru. Namun A. T. Roberton mendukung tanggal yang tradisional untuk Paskah - 7 April tahun 30 - sebab tanggal ini membolehkan kita menyesuaikan cerita dari Injil-Injil Sinoptis (Matius, Markus, dan Lukas) dengan Injil Yohanes. Gambar 14 menunjukkan bagaimana tanggal-tanggal ini menyusun berbagai tahap dari pelayanan Yesus.

Betapa autentikkah Alkitab kita? Apakah kita benar-benar mempunyai Firman Allah? Ataukah penyimpangan-penyimpangan dari kebenaran Allah telah menyusup ke dalamnya?
Soal-soal ini menyangkut teks Alkitab yang telah disampaikan kepada kita dari penulis-penulis yang asli. Dalam uraian berikut mengenai teks Alkitab, kita akan berusaha untuk menilik bagaimana Allah mengilhami penulisan mula-mula dari Alkitab; bagaimana para juru tulis dari abad-abad yang silam telah memelihara kebenaran Allah ketika mereka menyalin manuskrip-manuskrip yang asli; dan patokan-patokan apakah yang dapat kita pakai untuk menguji apakah manuskrip-manuskrip kuno yang masih ada itu dapat dipercayai karena ada beberapa di antaranya yang tidak cocok. Kita juga akan meneliti berbagai terjemahan Alkitab karena tidak banyak di antara kita yang dapat membacanya dalam bahasa aslinya yaitu, bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani. Dapatkah kita mempercayai terjemahan-terjemahan bahasa Inggris yang ada? Apakah terjemahan-terjemahan itu mengalihbahasakan teks Alkitab secara cermat? Patokan-patokan apakah yang dapat kita pakai untuk menilai berbagai terjemahan itu'?
Banyak generasi sebelum Perjanjian Baru ditulis, hamba-hamba Allah telah menulis kitab-kitab Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini adalah kitab suci bangsa Yahudi; jadi kita telah menerimanya melalui saluran-saluran yang agak berbeda dari rute yang ditempuh oleh teks Perjanjian Lama. Teks Perjanjian Lama telah bertahan terhadap kekerasan waktu selama berabad-abad lebih lama daripada Perjanjian Baru. Para penulis Perjanjian Lama menulisnya dalam bahasa Ibrani dan Aram, sedangkan seluruh Perjanjian Baru telah ditulis dalam bahasa Yunani. Oleh karena perbedaan-perbedaan ini, kami akan menguraikan teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu secara terpisah.
Yesus berkata mengenai Perjanjian Lama bahwa "satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi" (Mat. 5:18). Demikianlah Ia mengajar bahwa Allah telah mengilhami seluruh teks Perjanjian Lama, bahkan sampai kepada hal-hal yang terkecil.
Jemaat yang mula-mula menganggap pengilhaman Perjanjian Lama sebagai bagian yang pokok dan sangat penting dari ajarannya. Kitab-kitab Perjanjian Baru masih sedang ditulis selama abad yang pertama; jadi, ketika penulis-penulis Perjanjian Baru menyebutkan "Kitab Suci", pada umumnya mereka maksudkan kitab-kitab yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Lama. Petrus menulis bahwa "tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah" (II Ptr. 1:20-21). Paulus memberi tahu Timotius, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah..." (II Tim. 3:16a). Dan karena Allah mengilhami tulisan-tulisan ini, itu "bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (II Tim 3:16b).
Pernyataan-pernyataan ini membangkitkan rasa ingin tahu kita tentang cara kerja Allah dalam penulisan Perjanjian Lama. Kita perlu mengerti proses ini sebelum kita menyelidiki bagaimana teks itu disampaikan kepada kita. Maka kita harus memikirkan perkara pengilhaman ini sebelum kita maju lebih jauh.
Secara tradisional, gereja telah mengajarkan pengilhaman penuh Alkitab. Dinyatakan dengan sederhana, inilah doktrin bahwa (1) Allah mengaruniakan dan menjamin segala sesuatu yang telah dikatakan para penulis Alkitab mengenai semua pokok yang mereka bicarakan, dan (2) melalui dorongan batin (tambah penyesuaian dan pengendalian ilahi) Ia menentukan caranya mereka harus mengungkapkan kebenaran-Nya. Dengan demikian, Alkitab ditulis tepat seperti yang direncanakan Tuhan, dan karena itu sesungguhnya adalah Firman Tuhan dan juga kesaksian manusia. Kedua ajaran ini berasal dari Alkitab sendiri.
Para penulis Perjanjian Lama berulang-ulang mengingatkan kita bahwa mereka sedang menyampaikan Firman Allah. Para nabi membuka pernyataan mereka dengan mengatakan "beginilah firman Tuhan," "firman Tuhan yang datang kepadaku," atau pernyataan lain yang serupa. Rene Pache menemukan 3.808 pernyataan seperti ini di Perjanjian Lama; kesimpulannya ialah, pernyataan-pernyataan itu menekankan bahwa Alkitab "menyampaikan Firman Allah yang tegas."8
Berikut ini ada beberapa ayat yang melukiskan hal ini, " ... Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, 'Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel"' (Kel. 34:27). "Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku (Daud) oleh Tuhan (I Taw. 28:19). Datanglah firman ini dari Tuhan kepada Yeremia, bunyinya, 'Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu (Yer. 36:1-2; bdg. ay. 21-32). Setiap penulis menjelaskan bahwa ia sedang mencatat apa yang dinyatakan oleh Allah kepadanya, dan mengungkapkannya dengan kata-kata yang sama yang diterimanya dari Allah.
Akan tetapi, Tuhan tidak mendikte manuskrip Perjanjian Lama kepada penulis-penulis ini, seakan-akan mereka itu sekretaris-Nya. Ia menyatakan kebenaran-Nya kepada mereka dan menunjukkan kepada mereka bagaimana mereka harus menyampaikannya; tetapi dengan berbuat demikian Ia menuntun mereka untuk mengutarakan Firman-Nya sesuai dengan pandangan mereka sendiri, minatnya, kebiasaan-kebiasaan kesusasteraannya, dan sifat-sifat khas gaya bahasanya. Seperti yang dikatakan oleh Benjamin B. Warfield," ... Setiap kata dalam Alkitab, tanpa kecuali, adalah firman Allah; tetapi, di samping itu ... tiap kata adalah perkataan manusia."10 Ini sebabnya penulis Surat Ibrani mengatakan bahwa Allah "pada zaman dahulu ... berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi" (Ibr. 1:1). Daripada mengikat para penulis Perjanjian Lama untuk menghasilkan satu laporan tertulis dari pesan-Nya, semuanya dalam gaya bahasa yang sama, Allah berbicara "dalam pelbagai cara" menurut keadaan dan kemampuan setiap penulis. Karena itu terjadi keanekaragaman materi yang mengagumkan dari para nabi, penyair, sejarawan, orang bijaksana, dan orang yang melihat visiun yang melaluinya Allah berfirman.
Para penulis Perjanjian Lama memberi tahu cara-cara yang dipakai Tuhan untuk mengilhami beberapa tahap dari pekerjaan mereka. Adakalanya Ia menyatakan pesan-Nya kepada manusia melalui penglihatan-penglihatan yang terdiri atas pemandangan dan bunyi (misalnya, Yes. 6:1 dst.); kali lain Ia berfirman secara langsung melalui mereka (II Sam. 23:2). Kita tidak mengetahui dengan tepat bagaimana Ia mengilhami tiap bagian dari tiap kitab Perjanjian Lama dan sebenarnya hal itu tidak menjadi soal. Yang penting ialah bahwa kita mengetahui bahwa Alkitab adalah Firman-Nya, baik dalam isi maupun dalam strukturnya. Inilah yang kita maksudkan bila kita mengatakan bahwa Alkitab adalah hasil dari pengilhaman penuh.
Tentu saja, kita dapat mengatakan hal ini mengenai manuskrip-manuskrip yang asli saja, dan manuskrip-manuskrip itu tidak ada lagi pada kita. (Istilah teknis untuk naskah-naskah yang asli itu adalah autograf.) Bagaimanakah kita dapat yakin bahwa salinan-salinan manuskrip yang kita miliki itu masih merupakan Firman Allah?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus meneliti cara yang dipakai nenek moyang kita untuk menyalin manuskrip-manuskrip asli dari Perjanjian Lama dan meneruskan salinan-salinan itu kepada kita. Para sarjana menyebut proses ini textual transmission (transmisi naskah).
Ketika para penulis Perjanjian Lama menyelesaikan gulungan-gulungan kitab mereka, belum ada alat-alat untuk mengopi atau mesin cetak untuk memperbanyak tulisan mereka bagi orang banyak. Mereka bergantung pada juru tulis atau katib - orang-orang yang dengan sabar menyalin nas Kitab Suci dengan tangan bila salinan-salinan tambahan diperlukan dan bila gulungan kitab yang asli menjadi terlalu usang untuk dipakai lagi. Para katib itu berusaha untuk membuat salinan yang akurat dari gulungan kitab yang asli dan katib sesudah mereka berusaha untuk membuat salinan yang akurat dari salinan itu. Meskipun demikian, mereka tidak selalu dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang tak disengaja dalam beberapa hal ketika menyalin. Siapa pun yang pernah melakukan pekerjaan menyalin akan menaruh simpati!
Pada waktu Yesus lahir, kitab Perjanjian Lana yang terakhir (Maleakhi) telah disalin dan disalin kembali selama jangka waktu 400 tahun lebih: kitab-kitab yang ditulis Musa telah disalin dengan cara ini selama seribu empat ratus tahun. Namun selama waktu itu para katib telah menjaga teks Perjanjian Lama dengan baik sekali. Telah dihitung bahwa rata-rata mereka membuat kekeliruan satu dari setiap 1.580 huruf ketika menyalin; dan biasanya mereka membetulkan kesalahan-kesalahan ini ketika mereka membuat salinan baru.11
Sebagaimana yang terjadi dengan bahasa-bahasa, maka lambat laun bahasa Ibrani mulai berubah selama berabad-abad sesudah para penulis Perjanjian Baru. Bahasa yang dipakai Musa akan kelihatan aneh sekali bagi orang Israel masa kini, sama seperti bahasa Chaucer atau bahkan Shakespeare sudah berbeda sekali dari bahasa kita sekarang ini. (Lihat. "Bahasa dan Tulisan.") Sepanjang perjalanan waktu, arti dari beberapa kata Ibrani dan beberapa aturan tata bahasa telah hilang. Oleh karena itu para penerjemah Alkitab merasa sangat sulit ketika mereka berusaha untuk membaca dan mengartikan beberapa bagian dari manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama. Namun, luar biasa sekali betapa banyak yang dapat mereka mengerti secara keseluruhan. Charles Hodge, yang seabad lalu menjadi profesor teologi di Princeton Seminary, pernah berkata bahwa masalah-masalah terjemahan dan tafsiran yang masih ada tidak banyak mempengaruhi Alkitab sama seperti suatu lapisan tipis batu kapur tidak akan mengurangi keindahan Parthenon yang dibangun dari pualam.12 Dan pernyataan itu semakin benar dewasa ini.
Lama sebelum zaman nabi-nabi besar yang menulis kitab (abad ke-7 dan ke-8 sM), para katib telah berulang-ulang menyalin nas Kitab Suci. Akan tetapi, Yeremialah yang pertama kalinya menyebut para katib itu sebagai satu kelompok yang profesional, "Bagaimanakah kamu berani berkata, Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat Tuhan? Sesungguhnya, pena palsu penyurat (sopherim) sudah membuatnya menjadi bohong" (Yer. 8:8). Kata sopherim secara harfiah berarti "para penghitung"; para katib yang mula-mula patut mendapat gelar ini karena mereka menghitung tiap huruf dari tiap kitab di Alkitab untuk memastikan bahwa mereka tidak menghilangkan apa pun. Agar mereka lebih pasti lagi, mereka mencocokkan huruf yang terdapat di tengah tiap kitab dan di tengah tiap bagian utama dari kitab itu. Mereka hati-hati sekali agar memelihara susunan kata yang asli dari teks itu, meskipun bahasa Ibrani yang sudah berubah membuatnya kedengaran kuno sekali.
Suatu perubahan penting dalam bahasa Ibrani terjadi sekitar tahun 500 sM, ketika para sopherim mulai memakai tulisan Aram yang bentuknya persegi, yang telah mereka pelajari selama masa Pembuangan di Babel. (Bahasa Aram telah diperkenalkan di Babel melalui surat-surat raja Persia.) Sejak masa Raja Daud para sopherim telah memakai tulisan Paleo-Ibrani (Ibrani awal) yang bentuknya bulat untuk menyalin manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama, sebab mereka dapat menuliskannya atas perkamen, tidak seperti tulisan berbentuk baji dari orang Kanaan. Akan tetapi, pada tahun 500 sM, bahasa Alam telah menjadi bahasa yang umum di bidang perniagaan dan pendidikan di Timur Tengah, maka orang Ibrani memakai sistem tulisannya. Berbagai manuskrip papirus dari sebuah koloni Yahudi di Pulau Elefantin di Delta Sungai Nil) membuktikan bahwa tulisan miring yang lama tidak lagi dipakai pada tahun 250 sM. Naskah-naskah Laut Mati meliput periode peralihan ini; beberapa di antara naskah-naskah ini ditulis dalam tulisan Paleo-Ibrani yang bulat, tetapi kebanyakannya dalam tulisan Aram yang persegi.
Perhatikanlah bahwa para katib Ibrani tidak mulai memakai bahasa Aram; mereka hanya meminjam tulisannya dan memakainya untuk mengungkap kata-kata Ibrani mereka sendiri. Mereka dapat melakukan hal ini karena baik Ibrani maupun Aram adalah bahasa Semit, 13 dan tulisan mereka melambangkan alfabet yang sama, yang menandakan banyak dari bunyi-bunyi yang sama dalam kedua bahasa ini.
Para penulis Perjanjian Baru menyelesaikan pekerjaan mereka dalam waktu sekitar enam puluh tahun sesudah penyaliban Yesus. Karena ditulis pada suatu zaman ketika kesusastraan tumbuh dengan subur, dan dari mulanya terus-menerus disalin, maka teks Perjanjian Baru telah bertahan dengan baik selama berabad-abad. J.H. Greenlee menaksir bahwa pada keseluruhannya kita memiliki 15.000 manuskrip lengkap dan kutipan Perjanjian Baru dewasa ini.
Allah mendorong para penulis Perjanjian Baru agar dengan setia mencatat Firman-Nya sebagaimana yang dilakukan-Nya dengan para penulis Perjanjian Lama. Sering kali Rasul Paulus dan penulis kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa mereka menyadari apa yang sedang dilakukan Roh Kudus melalui mereka. Kita akan mempelajari kembali beberapa dari teks-teks ini dengan singkat sebab daripadanya kita memperoleh pengertian yang berharga tentang cara Allah mengilhami Firman-Nya yang tertulis.
Lukas memulai Injilnya dengan mengatakan bahwa "banyak orang" telah berusaha untuk menulis sebuah kisah tentang kehidupan dan pelayanan Yesus, tetapi ia sendiri memutuskan untuk membukukannya setelah "menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya" (Luk. 1:3). Demikian pula, kita diyakinkan bahwa kita dapat mempercayai Injil Yohanes karena ia seorang saksi mata dari kejadian-kejadian yang dicatatnya (Yoh. 21:24). Allah memberikan kesempatan kepada para penulis Injil untuk menyaksikan dari dekat peristiwa-peristiwa dari pelayanan Yesus dan pengertian sempurna tentang peristiwa-peristiwa itu; hal ini secara khusus membuat mereka mampu untuk melakukan tugas penulisan mereka.
Sama halnya, ketika menulis kepada jemaat-jemaat mengenai soal-soal praktis yang berkaitan dengan moral dan etika (I Kor. 4:14; 5:9; II Kor. 9:1), Paulus mengetahui bahwa ia sedang mengungkapkan apa yang harus ditulisnya menurut pimpinan Roh Kudus. Ia berkata tentang pengarahannya yang terperinci mengenai pelaksanaan ibadah dalam gereja Korintus, "Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan" (I Kor. 14:37). Ia seorang rasul yaitu orang yang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengumumkan hikmat-Nya yang telah dinyatakan "dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh" (I Kor. 2:13). Oleh karena itu, apa yang ditetapkan oleh Paulus harus diterima sebagai perintah ilahi. Seperti yang dikatakan oleh Petrus, Paulus telah menulis "menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya" (II Ptr. 3:15).
Juga, Rasul Yohanes menerangkan bahwa ia tidak menulis kepada jemaat-jemaat untuk menyatakan perintah-perintah baru dari Allah (I Yoh. 2:7-8). Ia pun tidak menulis oleh sebab pembacanya tidak mengetahui kebenaran yang telah dinyatakan oleh Kristus (I Yoh. 2:21). Sebaliknya, ia menulis karena para pembacanya telah mengetahui kebenaran dan surat-suratnya akan mendorong mereka untuk mematuhi kebenaran itu (I Yoh. 1:4; 2:21b). Hal ini menunjukkan bahwa Roh Kudus mengilhami para penulis Perjanjian Baru untuk bekerja dalam keselarasan yang sempurna dengan kebenaran yang telah dinyatakan. Mereka tahu bahwa kebenaran yang sedang mereka ungkapkan dan jalankan itu berasal dari Kristus sendiri.
Kita memiliki banyak penggalan naskah Perjanjian Baru yang ditulis pada abad ke-2 M. Beberapa di antaranya ditulis pada ostrakon (pecahan-pecahan tembikar yang dipakai oleh para penulis zaman dahulu sebagai sejenis kertas surat yang murah) dan talisman (anting-anting, gelang, dan benda-benda lain yang dipakai oleh orang Kristen yang mula-mula untuk menangkal roh-roh jahat). Akan tetapi, benda-benda ini hanya berisi cuplikan yang sangat singkat dari Perjanjian Baru, sehingga hanya memberikan informasi sedikit tentang naskah yang asli.
Yang lebih penting adalah manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru yang ditulis atas papirus. Kebanyakan manuskrip ini yang ditulis pada sejenis kertas yang dibuat dari batang-batang papirus, yang diberi cat penutup yang pudar, bertarikh dari abad ke-3 dan ke-4 sesudah Kristus.
Penggalan paling tua yang diketahui dari sebuah manuskrip Perjanjian Baru atas papirus bertarikh sekitar tahun 125 atau 140 M. Umumnya penggalan ini disebut Fragmen Rylands karena disimpan di Perpustakaan John Rylands di Manchester, Inggris. Ukuran fragmen ini hanya 6 cm x 9 cm dan berisi sebagian dari Yoh. 18:32-33, 37-38. Para arkeolog memperoleh Fragmen Rylands ini dari reruntuhan sebuah kota Yunani di Mesir purba. Meskipun tarikhnya dari zaman dahulu, fragmen itu terlalu kecil untuk memberikan banyak informasi tentang teks Injil Yohanes pada abad ke-2.
Manuskrip papirus tertua berikutnya adalah salah satu manuskrip yang termasuk kelompok Papirus Chester Beatty karena sebagian besar kelompok ini dimiliki oleh Chester Beatty Museum di Dublin. Manuskrip ini terdiri atas 76 lembar papirus (46 di Dublin, 30 di Universitas Michigan). Tiap lembar berukuran kira-kira 16 1/2 cm x 28 cm dan berisi sekitar 25 baris tulisan. Para ahli tulisan tangan berpendapat bahwa manuskrip ini ditulis pada abad ke-2, dan berisi bagian terbesar dari surat-surat Paulus.
Satu manuskrip lain yang penting disebut Papirus Bodmer (atau Bodmer 11). Manuskrip ini yang juga ditulis sekitar 150-175 M berisi pasal 1-14 dari Injil Yohanes dan cuplikan-cuplikan dari tujuh pasal yang terakhir. Manuskrip ini disimpan dalam perpustakaan pribadi Martin Bodmer di Cologny, Swis.
Jose O'Callaghan dari Barcelona, seorang profesor di Lembaga Kepausan di Roma, berpendapat bahwa beberapa penggalan dari Goa 7 di Qumran berisi sebagian dari Injil Markus; kalau hal itu benar, maka penggalan-penggalan itu adalah temuan Perjanjian Baru yang tertua hingga kini. Itu berarti bahwa Injil Markus telah ditulis jauh lebih awal daripada yang menurut tradisi diduga oleh para ahli. Penggalan-penggalan itu bertarikh dari tahun 50 M., dan mungkin sekali merupakan salinan dari sebuah manuskrip yang ditulis bertahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, kebanyakan ahli Alkitab meragukan identifikasi O'Callaghan akan penggalan-penggalan itu.16
Salinan-salinan tertua dari Perjanjian Baru ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara kata-kata dan ditulis atas vellum (perkamen) atau papirus. Para ahli menyebut manuskrip-manuskrip ini yang ditulis atas perkamen uncial, dan hampir 275 buah telah ditemukan. Para katib menggunakan gaya tulisan uncial atas perkamen dan papirus sampai sekitar abad ke-9, ketika mereka mulai menyalin manuskrip-manuskrip dalam tulisan Yunani yang kursif dan kecil. Manuskrip-manuskrip yang kemudian ini disebut minuscule (L. agak kecil). Kita mempunyai lebih dari 2.700 manuskrip Perjanjian Baru yang ditulis dalam gaya minuscule.
Para sarjana menganggap Kodeks Vatikanus (atau "Vatikanus B") sebagai salah satu manuskrip uncial yang terpenting. Manuskrip ini yang ditulis tidak lama sesudah tahun 300 M., mula-mula memuat segenap teks Septuaginta dan seluruh Perjanjian Baru. Sebagian dari Surat Ibrani, Surat-surat Penggembalaan, dan Kitab Wahyu telah hilang. Beberapa bagian Perjanjian Lama dari manuskrip ini juga sudah hilang, tetapi apa yang masih ada merupakan sumber informasi yang berguna mengenai teks Perjanjian Lama. Manuskrip ini disimpan di Perpustakaan Vatikan.
Sebuah manuskrip uncial lain yang berharga disebut Kodeks Sinaitikus sebab Constantinus von Tischendorf (1815-1874) menemukannya di sebuah biara di kaki Gunung Sinai yang tradisional pada tahun 1859. Manuskrip ini yang ditulis tidak lama setelah Kodeks Vatikanus adalah manuskrip lengkap yang tertua dari Perjanjian Baru.
Banyak buku telah ditulis mengenai sejarah penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, tetapi di sini kita akan meninjau kembali terjemahan-terjemahan itu dengan amat singkat. Kita juga akan berusaha untuk menilai kegunaan tiap terjemahan itu.

Uskup Aldhelm dari Sherborne (wafat tahun 709 M.) menerjemahkan Kitab Mazmur ke dalam bahasa Anglo-Sakson, satu bentuk kuno dari bahasa Inggris. Sudah dari dahulu sekali, para pujangga Inggris menuangkan Mazmur-mazmur dalam bentuk syair yang biasa sehingga mudah untuk mengingatnya. Dengan demikian Kitab Mazmur menjadi bagian Alkitab yang paling populer dalam bahasa Inggris. Para petani menyanyikannya di ladang dan orang tua mengajarkannya kepada anak mereka. Kita memiliki manuskrip-manuskrip kitab Mazmur dalam berbagai logat Anglo-Sakson yang ditulis sejak abad ke-10.
Seorang rahib pada abad ke-10, yang bernama Aldred, menulis sebuah terjemahan Inggris dari kitab-kitab Injil di antara baris-baris teks bahasa Latin yang sedang disalinnya. Manuskrip ini adalah bukti tertua dari sebuah terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris. Sekitar tahun 1000 M., Alfric dari Bath menghasilkan sebuah terjemahan Injil-Injil dalam bahasa Inggris.
John Wycliffe menerbitkan Alkitab pertama yang lengkap dalam bahasa Inggris pada tahun 1382. Wycliffe terutama menggunakan Vulgata Latin, dan terjemahannya kurang baik dalam beberapa hal. Akan tetapi, rakyat biasa di Inggris dengan senang hati menerima kitab itu, dan Wycliffe mengorganisir sekelompok pendeta yang terkenal sebagai kaum Lollard (karena mereka memakai "lollardy" atau bahasa yang umum) untuk mengadakan perjalanan ke seluruh negeri dan berkhotbah dari Alkitab terjemahannya. Gereja Katolik Roma yang resmi mengutuk karya Wycliffe dan membakar banyak dari salinan yang ditulis tangan itu. Meskipun demikian, kira-kira seratus lima puluh salinan dari Versi Wycliffe masih ada, tetapi hanya satu yang lengkap.
Seorang pria Inggris lain, William Tyndale, mulai mencetak terjemahan penting yang berikut dalam bahasa Inggris di Keulen, Jerman, pada tahun 1525. Oleh sebab Tyndale adalah teman akrab Martin Luther, maka para penguasa Roma berusaha untuk menghentikan usaha ini. Namun, Tyndale berhasil menyelesaikan kitab itu dan menyelundupkan kitab-kitab Perjanjian Baru yang dicetaknya itu ke Inggris. Pada tahun 1535, setelah ia menyelesaikan terjemahan kitab-kitab Pentateukh dan Yunus, petugas-petugas dari Inggris menangkap dia di Belgia, mencekik dia, dan membakar dia di kayu sula.
Juga, pada tahun 1535, seorang Inggris bernama Miles Coverdale menerbitkan sebuah terjemahan dari seluruh Alkitab dalam bahasa Inggris di kota Zurikh. Edisi ini didukung oleh Raja Henry VIII, oleh sebab Coverdale menerjemahkan banyak bagian dalam suatu cara yang mendukung doktrin Katolik Anglikan dan mengurangi penggunaan Vulgata Latin.
Lalu Coverdale mulai mengerjakan sebuah Alkitab Inggris lainnya yang akan menggabungkan hal-hal yang terbaik dari Tyndale dan penerjemah-penerjemah Inggris lainnya, juga pengertian-pengertian baru dari manuskrip Yunani dan Ibrani. Ia menyiapkan halaman-halaman sebesar 23 cm x 38 cm untuk Alkitab ini, sehingga dinamai "Alkitab Besar". Ia menyelesaikannya pada tahun 1539 dan pemerintah Inggris memerintah para pendeta memamerkan kitab itu secara menonjol dalam gereja-gereja di seluruh negeri. Hal ini menimbulkan perhatian terhadap Kitab Suci.
TIGA VERSI DIBANDINGKAN

Coverdale (1535)
Geneva Bible (1560)
King James Version (1611)
Ay. 14:1
Manusia yang lahir dari perempuan hanya singkat umurnya dan penuh macam-macam kesengsaraan.
Manusia yang lahir dari perempuan itu umurnya pendek dan penuh kesukaran.
Manusia yang lahir dari perempuan umurnya beberapa hari saja dan penuh kesukaran.
Dalam kesukaran dan kemalangan kita, kita mendapati bahwa Allah adalah perlindungan kita, kekuatan kita.
Allah adalah harapan dan kekuatan dan pertolongan kita dalam kesukaran, siap sedia untuk ditemukan.
Allah adalah perlindungan dan kekuatan kita, penolong yang selalu siap dalam kesukaran.
Diagram 19
Pada tahun 1553, Mary Tudor naik takhta Inggris dan menjalankan kebijakan Katolik 'yang ketat atas rakyat. Ia melarang penggunaan semua Alkitab dalam bahasa Inggris, demi versi-versi dalam bahasa Latin. Coverdale dan banyak penerjemah Alkitab lainnya melarikan diri ke kota Jenewa di Swis, di mana Yohanes Calvin telah mendirikan sebuah kubu Protestan. William Whittingham dari Jenewa mengorganisir beberapa ahli ini 'untuk mulai mengerjakan sebuah Alkitab baru dalam bahasa Inggris, yang mereka terbitkan pada tahun 1560. Inilah Alkitab pertama yang membagi isi Kitab Suci dalam ayat-ayat. Inilah pekerjaan Robert Estienne, seorang pencetak kitab-kitab Perjanjian Baru Yunani di Paris.. Para penjual buku menamakannya "Breeches Bible" (Alkitab Celana) karena caranya yang aneh untuk menerjemahkan Kej. 3:7, "Lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat celana."
Whittingham dan rekan-rekannya mempersembahkan terjemahan ini kepada Ratu Elizabeth I, yang telah naik takhta Inggris pada tahun 1558. Rakyat Inggris di mana-mana menggunakan Alkitab Jenewa ini selama dua generasi berikut.
Pada tahun 1604, James VI dari Skotlandia menjadi Raja James I dari Inggris dan memulai suatu program pendamaian di antara golongan-golongan agama yang bermusuhan di Inggris Raya. Pada tahun yang sama ia memanggil rapat pemimpin-pemimpin gereja di Hampton Court. Dr. John Reynolds, juru bicara kaum Puritan, menyarankan untuk menerbitkan sebuah terjemahan baru Alkitab dalam bahasa Inggris untuk menghormati raja baru itu. Versi King James itu akan menjadi sebuah titik penting yang menentukan dalam sejarah terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris.
Raja James menugaskan 54 sarjana untuk mengerjakan terjemahan baru ini. Untuk Perjanjian Lama, mereka mengandalkan edisi ben Hayyim dari teks ben Asher; untuk Perjanjian Baru, mereka mengandalkan teks Erasmus dalam bahasa Yunani dan sebuah teks Yunani - Latin dari abad ke-6, yang ditemukan oleh Theodore Beza. Para penerjemah mengikuti pembagian pasal yang dibuat oleh Uskup Besar Stephen Langton pada tahun 1551 dan pembagian ayat-ayat oleh Robert Estienne.
Karena Raja James telah mengesahkan proyek ini, maka Alkitab baru ini menjadi terkenal sebagai "Authorized Version." Edisi ini diterbitkan pertama kalinya pada tahun 1611 dan direvisi pada tahun 1615, 1629, 1638, dan 1762.
Secara khusus kita harus memperhatikan sebuah edisi KJV (King James Version) yang diterbitkan oleh Uskup William Lloyd pada tahun 1701. Alkitab inilah yang pertama-tama berisi catatan-catatan pinggiran yang menarikhkan peristiwa-peristiwa Alkitab dalam hubungannya dengan kelahiran Kristus (sM dan M). Edisi Lloyd juga berisi kronologi yang disusun oleh Uskup Besar James Ussher (15811656), yang menarikhkan Penciptaan pada tahun 4004 sM. Kronologi ini pertama kali dipakai dalam sebuah edisi Oxford KJV yang diterbitkan pada tahun 1679.19 Banyak edisi KJV berikutnya telah mencetak ulang kronologi ini.
Edisi tabun 1762 yang direvisi itulah yang sekarang dikenal oleh kebanyakan orang sebagai King James Version. Pengetahuan alkitabiah yang mutakhir mendorong untuk merevisi KJV dan terjemahan-terjemahan baru berdasarkan teks mayoritas yang telah disunting ulang.
Di antara banyak usaha untuk merevisi KJV, kita harus memperhatikan English Revised Version (ERV atau RV) dan American Standard Version (ASV). Kedua edisi ini berusaha untuk mempertahankan keagungan bahasa yang telah menandakan KJV, sementara menggunakan pengertian baru yang telah diperoleh dari penemuan-penemuan manuskrip yang belum lama berselang dan pengetahuan yang bertambah baik tentang perkataan dan tata bahasa Ibrani. Mereka juga berusaha untuk mengeluarkan kata-kata dan kebiasaan-kebiasaan kuno yang tidak dipakai lagi, yang masih tertinggal dari bahasa zaman Tudor dari King James Version.
Uskup Harold Browne dan Uskup C. J. Ellicott - keduanya pemimpin-pemimpin gereja Anglican yang dihormati - mengetuai dua komisi yang berusaha untuk merevisi KJV pada tahun 1870-an; sebuah komisi Amerika bergabung dengan mereka pada tahun 1872. Kelompok-kelompok ini menghasilkan sebuah versi Perjanjian Baru yang direvisi pada tahun 1881, yang disambut dengan sangat gembira oleh masyarakat di Inggris Raya dan Amerika. Komisi-komisi ini menerbitkan versi revisi dari seluruh Alkitab pada tahun 1885. Pada waktu itu, Revised Version ini mempunyai reputasi berorientasi kepada ejaan dan kiasan-kiasan di Inggris, hingga ERV kehilangan dukungan masyarakat Amerika Serikat.
Beberapa anggota dari komisi Amerika untuk ERV bersatu untuk menghasilkan revisi mereka sendiri dari Alkitab King James. Dengan diketuai oleh J. Henry Thayer, komisi baru ini menggantikan ungkapan-ungkapan Inggris dengan ungkapan Amerika serta kembali kepada terjemahan King James untuk banyak kata. Komisi ini juga menyamakan bacaan bagian-bagian yang paralel apabila teks Yunaninya serupa; KJV tidak selalu konsekuen dalam hal ini. Komisi ASV itu bertujuan agar bilamana mungkin membuat terjemahan kata lepas kata dari bahasa Yunani dan Ibrani. Hal ini membuat pembacaan ASV agak kaku. Alkitab ASV yang lengkap diterbitkan pada tahun 1901.
Pada tahun 1979, Penerbit Thomas Nelson menerbitkan edisi baru dari Perjanjian Baru KJV. Edisi ini didasarkan pada edisi tahun 1894 dari Textus Receptus. Meskipun edisi ini memelihara integritas teks itu, banyak ungkapan kuno ditiadakan hingga KJV yang lama itu sulit untuk dibaca.
Penerbit itu mengumpulkan 119 sarjana untuk mengerjakan terbitan baru ini. Dr. Arthur Farstad mengoordinasi pekerjaan di bagian Perjanjian Baru. "Kami memutuskan untuk mengikuti teori yang sama sehubungan dengan seleksi manuskrip seperti yang dipakai oleh para penerjemah edisi tahun 1611," kata Dr. Farstad.
@
Pada tahun 1982, Thomas Nelson menerbitkan Alkitab NKJV yang lengkap, yang dengan segera diterima di mana-mana.
Di samping merevisi KJV, para sarjana mutakhir telah menghasilkan beberapa terjemahan Alkitab yang baru sama sekali.
http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=74&res=almanac
Pada tahun 1929, Dewan Pendidikan Agama Internasional (suatu perwakilan dari Dewan Gereja-Gereja seDunia) mulai mengerjakan sebuah revisi dari ASV. Setelah beberapa kali tertunda, komisi ini memutuskan untuk mengerjakan sebuah terjemahan yang baru sama sekali, dengan mendasarkan Perjanjian Baru pada teks-teks Yunani terbaru yang teliti. Akhirnya, komisi ini setuju menggunakan sebuah teks eklektis yang dalam banyak hal berbeda dari Westcott dan Hort. Bagian Perjanjian Baru dari Revised Standard Version ini diterbitkan pada tahun 1946 dan Perjanjian Lama pada tahun 1952.
Tanggapan terhadap RSV ini bermacam-macam. Banyak denominasi besar menyambutnya sebagai terjemahan yang lebih menarik untuk dibaca dan terjemahan yang lebih dapat dipercayai dari naskah-naskah kuno. Ini adalah salah satu terjemahan yang paling konsisten yang pernah dibuat dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, terjemahan ini menimbulkan semburan kritik karena dua hal: (1) Susunan kata dari banyak ayat yang klasik telah diubah. (2) Bacaan-bacaan yang baru telah dipilih untuk sejumlah ayat dengan implikasi teologis yang luas.
Pada Oktober 1946, wakil-wakil dari gereja-gereja Protestan yang besar di Inggris Raya berkumpul di Westminster Abbey untuk memesan sebuah terjemahan batu yang akan lebih cocok bagi para pembaca di Inggris. Bagian Perjanjian Bata dari New English Bible ini dikeluarkan pada tahun 1961, tepat 350 tahun setelah penerbitan KJV. NEB yang lengkap dikeluarkan pada tahun 1970, dengan mencatat C. H. Dodd sebagai pemimpin proyek.
Donald Ebor, yang pada waktu itu adalah Uskup Agung York, dan Ketua Komisi Bersama untuk NEB, menyatakan bahwa para penerjemah NEB "bebas untuk menggunakan ungkapan yang kontemporer daripada mengulang bahasa Inggris 'alkitabiah' yang tradisional."20 Meskipun demikian, NEB mencerminkan banyak ciri khas Inggris sehingga menjadikannya kurang cocok di Amerika Serikat.
Para penerjemah NEB memakai Biblia Hebraica dari Kittel (dengan sejumlah perubahan spekulatif yang mungkin tidak perlu) dan sebuah teks Perjanjian Baru eklektis oleh R.V.G. Tasker, yang diterbitkan pada tahun 1964. Mereka menghasilkan terjemahan yang baru sama sekali, tanpa berusaha untuk meniru KJV atau versi-versi lain yang terbit sebelumnya.
Kita tidak dapat membahas semua edisi Alkitab yang direvisi dan parafrase yang terbit pada tahun-tahun belakangan ini. Namun, kita harus memperhatikan bagaimana beberapa edisi yang baru-baru ini telah berusaha untuk mempertahankan teks alkitabiah.
Dalam New American Standard Bible, para ahli injili telah berusaha untuk membaharui ASV dan menjadikannya jelas. Para penerjemah Perjanjian Baru NASB terutama memakai teks Nestle yang telah diperbaiki, berdasarkan Westcott dan Hort; tetapi mereka juga mengacu kepada beberapa manuskrip papirus dan penyelidikan-penyelidikan terbaru dari teks Perjanjian Baru. Pada umumnya, komisi Perjanjian Lama memakai teks Ibrani dari Kittel; mereka mencatat di pinggir halaman terjemahan-terjemahan alternatif dari berbagai manuskrip dan versi lain, khususnya dari Septuaginta.
Para penerjemah NASB mengambil kebijaksanaan untuk melakukan transliterasi (menulis dengan huruf Inggris) kebanyakan dari nama Ibrani dan Yunani. Mereka memakai huruf kapital untuk kata ganti diri yang mengacu kepada Tuhan dan memakai kata "Thou" dan "Thee" kapan saja seorang tokoh di Alkitab berbicara kepada Allah. Apabila sebuah terjemahan harfiah akan membingungkan pembaca, NASB memberi arti teks itu dan menempatkan bacaan yang harfiah di pinggir halaman. Rupanya catatan-catatan di pinggir halaman itu mengikuti teks Ibrani yang sangat dihormati dari Jewish Publication Society, yang dikenal oleh para sarjana sebagai JPS. NASB yang lengkap terbit pada tahun 1971 dan diterima dengan baik oleh pembaca Kristen dari latar belakang yang berbeda-beda.
Sebuah komisi yang terdiri dari sarjana-sarjana Katolik Roma yang terkemuka dikumpulkan pada tahun 1944 dan mereka bekerja selama bertahun-tahun untuk menghasilkan sebuah terjemahan baru. Pertama-tama mereka membuat teks Perjanjian Lama dan Baru mereka sendiri dan kemudian menerjemahkannya dalam bahasa Inggris. Teks yang dipilih untuk diterjemahkan agak berbeda sifatnya pada tiap bagian Alkitab. Akan tetapi, sebuah pedoman teks dan pengantar yang lengkap telah diterbitkan untuk memberi informasi kepada pembaca tentang keputusan-keputusan yang telah diambil. Seluruh NAB ' diterbitkan pada tahun 1970 dan sebuah konkordansi lengkap dari NAB terbit pada tahun 1978. Di beberapa tempat, NAB berisi bacaan-bacaan yang didasarkan pada tradisi interpretasi alkitabiah Katolik yang jauh berbeda dari tradisi Protestan. Namun versi ini mempunyai gaya penulisan yang bersemangat dan mencerminkan kesarjanaan yang berbobot.
Versi ini berusaha untuk memberi anti teks Alkitab dengan lebih efektif daripada ASV atau versi-versi kontemporer lainnya. Versi ini dimulai pada tahun 1965 oleh sejumlah sarjana yang mewakili sekelompok denominasi injili. Kelompok ini bekerja selama satu dasawarsa di bawah pimpinan New York Bible Society. Terjemahannya mempunyai dua ciri pokok: (1) Ini merupakan suatu usaha oikumenis yang pertama-tama akan membuat sebuah teks kritis. Edisi terbaru dari Biblia Hebraica Kittel digunakan untuk Perjanjian Lama, tetapi perbedaan-perbedaan besar dalam Septuaginta dicatat. Teks Yunani dari Perjanjian Baru diangkat dari sejumlah sumber. (2) Sebuah prinsip penerjemahan yang dipopulerkan pada tahun 1960-an, yang dikenal sebagai dynamic equivalence (ekuivalensi dinamis), dipergunakan ketika menerjemahkan sejumlah perikop. Prinsip ini menghendaki dipakainya sebuah kata atau frase yang mempunyai dampak yang sama dengan kata atau frase yang asli pada pembaca yang mula-mula, daripada hanya menggunakan padanan gramatikal atau leksikal (yang dalam kebudayaan Inggris yang sudah berubah mungkin tidak akan mempunyai arti sama sekali).
Perjanjian Baru dari NIV diterbitkan pada tahun 1973 dan Perjanjian Lama pada tahun 1978. Gaya bahasa Inggris di NIV betul-betul kontemporer dan serupa dengan gaya bahasa di RSV. NIV mempunyai banyak segi yang berguna. Versi ini berusaha menyampaikan arti dari teks asli dalam bahasa Inggris masa kini. Secara keseluruhan, versi ini menyenangkan untuk dibaca dan mudah untuk dipahami pembaca yang biasa. NIV menempatkan tanda kutip pada kutipan langsung dan memberi tanda kurung besar pada kata-kata yang ditambah oleh para penerjemah untuk membantu pembaca.
Pada tahun 1923, Edgar J. Goodspeed (1871-1962) menerbitkan versi Perjanjian Barunya dalam bahasa Inggris, yang diberi judul An American Translation. Goodspeed berusaha untuk menerjemahkan teks Yunani dari Westcott dan Hort ke dalam "bahasa Inggris sehari-hari yang sederhana dan gamblang." Agar tidak membingungkan pembaca dengan struktur kalimat Yunani, ia harus memparafrasekan (menguraikan kembali dalam bentuk lain) sebagian besar dari teks tersebut. Versi ini sangat digemari di Amerika Serikat dan pada tahun 1931 digabung dengan terjemahan yang serupa dari Perjanjian Lama yang dikerjakan oleh J. M. Powis Smith dan lain-lain.
New Testament in Modern English oleh J. B. Phillips terbit pada tahun 1957, yang menyatukan serangkaian kitab-kitab Perjanjian Baru yang telah diparafrasekan. Phillips memulai pekerjaan ini pada tahun 1947 dengan bagian Letters to Young Churches. Phillips menerjemahkan teks itu dengan bebas sekali, dan sering kali menyimpang sama sekali dari manuskrip-manuskrip Yunani. Parafrasenya menarik perhatian amat banyak orang karena bahasanya yang hidup (dan kadang-kadang bersahaja). Tetapi para penyelidik Alkitab yang serius tidak menggunakannya sebagai versi dasar mereka karena terjemahan teks Perjanjian Barunya terlalu bebas.
Terjemahan ini (Perjanjian Baru - 1966; Perjanjian Lama - 1976) disponsori oleh Lembaga Alkitab Amerika. Penulis utama TEV, Robert G. Bratcher (1920- ), menggunakan sebuah teks kritis baru dari Perjanjian Baru Yunani, yang disediakan oleh Lembaga Alkitab untuk usaha ini. Bratcher memandang pekerjaannya sebagai suatu terjemahan daripada sebagai suatu parafrase, tetapi ia menggunakan cara ekuivalensi dinamis lebih banyak daripada di terjemahan-terjemahan sebelumnya. Hal ini membuat REV tidak dapat digolongkan bersama-sama parafrase-parafrase yang lain. Dalam banyak hal TEV menyimpang sama sekali dari makna leksikal yang tepat dalam teks bahasa Ibrani dan Yunani.
Kenneth Taylor (1917- ), seorang editor pada sebuah penerbit di Chicago, mulai menulis versi ini, yang diakui sebagai sebuah parafrase, karena berusaha membuat Alkitab lebih dapat dimengerti oleh anak-anaknya. Rekan-rekannya menganggap karya ini sangat berguna dan Taylor mendirikan penerbitnya sendiri - Tyndale House - agar dapat menghasilkan sebuah parafrase dari seluruh Alkitab. Ia menerbitkan bagian Perjanjian Baru pada tahun 1956 dan Perjanjian Lama pada tahun 1972.
Bahasa dalam Living Bible sangat jelas dan sederhana. Beribu-ribu pembaca merasa bahwa mereka dapat mengerti LB dengan lebih mudah daripada KJV atau terjemahan-terjemahan yang lain. Namun, para sarjana Alkitab dan pemimpin agama telah mengritik LB karena banyak perikop telah diterjemahkannya dengan bebas.

Kata archaeology dalam bahasa Inggris berasal dari dua kata Yunani, archaios, yang berarti "purbakala", atau logos, yang berarti "kata," "perkara," "cerita," atau "percakapan." Archaeology secara harfiah berarti "cerita (atau percakapan) tentang perkara-perkara purbakala," dan adakalanya orang menggunakan kata itu untuk mengacu kepada sejarah purbakala pada umumnya. Namun, kata arkeologi biasanya diterapkan pada sumber-sumber sejarah yang tak diketahui sebelum berbagai penggalian menemukannya.
Para arkeolog adalah penyelidik masa lalu yang menggali situs-situs purbakala dan menyelidiki apa yang mereka temukan dalam hubungan dengan setiap situs. Di Timur Dekat para arkeolog lebih banyak mengandalkan benda-benda sejarah ini untuk pengetahuan mereka daripada yang mereka lakukan bila menggali kota-kota di Italia atau Yunani karena sedikit sekali kesusastraan yang bertahan dari Timur Dekat kuno. Apabila seorang arkeolog menemukan naskah-naskah tertulis, ia menyerahkannya kepada seorang ahli dalam bahasa atau kebudayaan itu, yang menerjemahkannya dan membandingkannya dengan kepingan-kepingan sastra lainnya dari zaman itu.
Para sarjana berselisih tentang apakah naskah kita dapat berbicara tentang "arkeologi alkitabiah." Ada yang mengatakan bahwa arkeologi adalah arkeologi - maksudnya, semua metode dan tujuannya pada dasarnya sama di mana-mana, apakah menyangkut Alkitab atau tidak. Mereka juga menaruh keprihatinan yang sah tentang pernyataan-pernyataan yang tidak ilmiah (bahkan kadang-kadang curang) yang telah dilakukan atas nama arkeologi "alkitabiah." Mereka menganggap bahwa sebaiknya kita menggunakan istilah lain, seperti "arkeologi Palestina," atau berbicara tentang arkeologi dan Alkitab."
Mungkin istilah arkeologi alkitabiah tidak disukai lagi oleh karena para ilmuwan dewasa ini sama sekali tidak tertarik pada hal-hal yang menyangkut Alkitab. Para sarjana dengan minat profesional dalam Alkitab tidak lagi aktif dalam pekerjaan arkeologi seperti dahulu. Dewasa ini, para arkeolog profesional menyelidiki spektrum yang luas dengan berbagai kepentingan budaya dan antropologi yang mungkin tidak langsung ada sangkut paut dengan seorang penelaah Alkitab. Hubungan yang sudah lama antara penyelidikan Alkitab dan arkeologi tidak lagi sekuat dahulu.
Penyediaan dana dan personel yang utama dari proyek-proyek arkeologi di negeri-negeri yang berhubungan dengan Alkitab tidak pernah datang dari organisasi atau lembaga gereja. Semua itu telah datang dari berbagai universitas, museum, atau sumber-sumber pribadi lainnya. Kecenderungan ini barangkali akan menjadi lebih kuat di masa depan oleh karena inflasi, spesialisasi yang meningkat di bidang arkeologi, dan kesangsian arkeologi yang bertumbuh besar terhadap kekristenan tradisional. Meskipun demikian, gereja-gereja dan berbagai lembaganya hendaknya berusaha untuk melibatkan diri sampai ke tingkat maksimum yang dapat dilaksanakan.
Apakah arkeologi "membuktikan bahwa Alkitab benar"? Sebenarnya tidak. Memang arkeologi telah meningkatkan keyakinan kita pada garis besar yang luas dari narasi Alkitab. Temuan-temuan arkeologis telah mendukung banyak sekali pernyataan yang rinci dalam naskah Alkitab. Sering kali arkeologi berguna dalam membuktikan salahnya serangan-serangan orang yang tidak percaya. Akan tetapi, sebagian besar isi Alkitab adalah mengenai perkara-perkara perorangan yang relatif pribadi dan yang tidak dapat dibuktikan oleh arkeologi. Dan semakin jauh kita ke zaman purba, semakin sedikit bukti yang kita miliki.
"Kebenaran" di Alkitab bukan menyangkut fakta-fakta saja, tetapi juga penafsirannya. Meskipun kita dapat memperlihatkan bahwa seluruh Alkitab itu faktual, hal itu tidak akan membuktikan artinya dalam penebusan. Oleh karena iman Kristen didasarkan pada fakta-fakta sejarah, orang Kristen menyambut bukti apa pun yang dapat diberikan oleh arkeologi - tetapi iman mereka tidak tertambat pada bukti-bukti tersebut. Ketiadaan bukti atau pun skeptisisme yang kritis tidak dapat menyanggah Firman Allah. Adalah lebih baik untuk menekankan bahwa arkeologi membantu kita untuk mengerti Alkitab daripada bersikeras bahwa arkeologi membuktikan Alkitab itu benar. Sebenarnya, arkeologi tidak dapat melakukan hal itu, bahkan tidak perlu melakukan hal itu.
Arkeologi dapat memberikan informasi latar belakang beribu-ribu tahun setelah Alkitab ditulis. Walaupun arkeologi terutama berurusan dengan benda-benda materiel yang konkret, arkeologi dapat menolong kita untuk memahami pesan rohani dari penulis-penulis Alkitab - terutama ilustrasi dan kiasan mereka. Di antara teks Alkitab dan temuan-temuan arkeologis harus terdapat "dialog", karena masing-masing dapat membantu kita untuk mengerti dan menafsirkan yang lain. Alkitab membantu kita untuk mengerti temuan-temuan baru para arkeolog, sedangkan arkeologi membantu kita untuk "membaca hal-hal yang tersirat" dalam teks Alkitab.
Misalnya, catatan-catatan sejarah Babilonia purba tidak menyebut Belsyazar, meskipun Alkitab mengatakan bahwa ia mengganti Nebukadnezar sebagai raja (Dan. 4-5). Selama beberapa waktu, beberapa sarjana Alkitab meragukan Alkitab dalam hal ini. Tetapi pada tahun 1853 para arkeolog menemukan sebuah inskripsi di Ur, yang menunjukkan bahwa Belsyazar memerintah bersama ayahnya, Nabonidus.
Sampai tingkat manakah metode arkeologi itu bersifat obyektif atau benar-benar ilmiah, dan sampai sejauh manakah hasil-hasilnya dapat dipercayai? Untunglah, kita sudah melewati masa itu ketika kita menganggap bahwa ilmu-ilmu yang "keras" atau ilmu-ilmu eksakta (fisika, kimia, dan lain-lain) adalah benar-benar obyektif. Kita tahu bahwa sikap dan pikiran para ilmuwan tentang kebenaran dapat mempengaruhi cara mereka menafsirkan fakta-fakta. Di pihak lain, tingkat pendapat pribadi dalam ilmu-ilmu yang "lunak" atau ilmu-ilmu sosial (sejarah, sosiologi, psikologi) tidaklah begitu tinggi sehingga kita harus menolak untuk menyebutnya sebagai "ilmiah". Arkeologi berada di antara ilmu-ilmu yang "keras" dan yang "lunak". Para arkeologi lebih obyektif ketika menggali fakta-fakta daripada ketika menafsirkannya. Akan tetapi, keasyikan manusiawi mereka juga akan mempengaruhi cara-cara yang mereka gunakan dalam "penggalian" itu. Mau tak mau mereka membinasakan bukti-bukti waktu mereka menggali tembus lapisan-lapisan tanah sehingga mereka tak pernah dapat menguji "eksperimen" mereka dengan cara mengulangnya. Hal ini membuat arkeologi unik di antara ilmu-ilmu pengetahuan. Tambahan pula, hal ini menjadikan pelaporan arkeologis suatu, tugas yang paling sulit dan penuh dengan berbagai kesukaran tersembunyi.
Sekalipun begitu, arkeologi bertumpang tindih dengan disiplin-disiplin ilmiah lainnya, seperti sejarah, geografi, dan antropologi budaya (ilmu yang mempelajari cara-cara berpikir dan cara-cara hidup manusia). Para spesialis di bidang biologi, antropologi, dan geologi sering bergabung dengan regu-regu penggalian agar menganalisis bermacam-macam benih, tulang, tepung sari, tanah, dan lain-lain. Bidang studi perbandingan agama atau "sejarah agama-agama" sering memainkan peranan penting dalam menafsirkan temuan-temuan itu karena begitu banyak temuan ada hubungan menguraikan lapisan-lapisan bumi yang alami, yang berbeda dengan lapisan-lapisan yang dibuat oleh manusia yang meminta perhatian para arkeolog; namun para arkeolog sering kali berunding dengan para geolog untuk mengetahui lebih banyak tentang sifat tempat-tempat yang sedang mereka gali.
Daerah-daerah geografis manakah yang menarik perhatian dalam arkeologi alkitabiah? Untuk kurun waktu Perjanjian Baru, sebagian besar daerah itu sama dengan daerah Imperium Romawi. Untuk kurun waktu Perjanjian Lama, daerahnya lebih kecil, dan pusatnya bergeser ke timur untuk meliputi lembah Mesopotamia dan Persia (Iran masa kini).
Akan tetapi, paling mudah ialah mulai di pusatnya - Palestina atau Israel (Kanaan) - dan menyebar dari situ. Imperium-imperium yang besar di lembah Nil dan Mesopotamia hampir sama menariknya dengan Palestina. Kebudayaan Fenisia (Libanon masa kini) mempunyai banyak persamaan dengan kebudayaan Kanaan di selatan. Siria di bagian timur juga menjadi perhatian utama - sejarahnya sering kali kait mengait dengan sejarah Israel dan kawasannya selalu menjadi koridor utama bagi pasukan-pasukan yang menyerbu Palestina. Lebih jauh ke utara, Asia Kecil adalah tanah air bangsa Het dan bangsa-bangsa penting lainnya.
Sejarah arkeologi Timur Dekat yang modern mulai kira-kira pada waktu yang sama dengan mulainya ilmu-ilmu modern lainnya, pada waktu abad ke-18. Sebelum itu, selain ada kolektor barang-barang antik (biasanya museum atau orang kaya). "Penggalian" yang dilakukan tidak lebih dari sekadar pencarian harta karun yang membinasakan bagian terbesar dari informasi yang bernilai bagi arkeolog yang ilmiah. Sayang sekali, beberapa orang masih mempunyai sikap seperti itu dan tiap negara di Timur Dekat harus memerangi penggali-penggali yang berusaha untuk memenuhi permintaan pasar gelap akan barang peninggalan zaman dulu.
Arkeologi alkitabiah mungkin mulai dengan penemuan Batu Rosetta (dinamai menurut sebuah desa yang dekat di Delta Sungai Nil) ketika Napoleon menyerbu Mesir pada Agustus 1799. Tulisan pada batu ini dibagi atas tiga kolom (Yunani, hieroglif Mesir, dan tulisan Mesir yang kemudian). Tidak lama kemudian tulisan pada batu ini telah dapat diuraikan oleh Jean Frangois Champollion. Lebih banyak barang peninggalan masa lampau tetap kelihatan di atas permukaan tanah di Mesir daripada di tempat lain di Timur Dekat kuno, dan penemuan tulisan-tulisan kuno ini oleh Napoleon mendorong eksplorasi lebih lanjut di negeri itu.
Terobosan yang serupa terjadi di Mesopotamia pada tahun 1811, ketika Claude J. Rich menemukan banyak sekali lempeng tanah liat yang dibakar di Babel dengan tulisan cuneiform ("berbentuk baji"). Pada tahun 1835, Sir Henry Creswicke Rawlinson mengartikan sebuah inskripsi dalam tiga bahasa (Persia kuno, Elam, dan Akad), yang dibuat oleh Darius Agung di sebuah karang terjal dekat Behistun di Persia barat. Satu dasawarsa kemudian, Sir Austen Henry Layard dan arkeolog perintis lainnya membuka bukit-bukit kecil yang berisi sisa-sisa kota-kota Asyur yang besar, seperti Niniwe, Asyur, dan Kalah. Dalam bukit-bukit ini, mereka menemukan lebih banyak lagi lempeng cuneiform. Karena mereka telah belajar membaca cuneiform, lempeng-lempeng itu membolehkan mereka meninjau seluruh sejarah, kebudayaan, dan agama dari Asyur dan Babilonia kuno. Mereka menemukan banyak persamaan dengan sejarah di Alkitab.
Akan tetapi, hampir setengah abad kemudian barulah arkeologi ilmiah datang ke Palestina. Pada tahun 1890, Sir W. M. Flinders Petrie mengalihkan perhatiannya ke bukit Tell-el-Hesi (sekarang dianggap sebagai kota Eglon di Alkitab, meskipun Petrie mengira bahwa kota ini Lakhis). Petrie bukanlah orang pertama yang menggali di Palestina, tetapi ialah yang pertama-tama menyadari pentingnya stratigrafi - penyelidikan berbagai lapisan permukiman dalam sebuah gundukan, dan penyelidikan tembikar yang termasuk tiap stratum (Latin, "lapisan"). Tetapi langkah pertama Petrie pun penuh dengan keragu-raguan. Cara penarikhan secara bertahap yang diterapkan oleh Petrie hanya membuat bagian-bagian "stratigrafis" setiap kali ia menggali satu kaki (30 cm) lebih dalam daripada mengikuti garis-garis yang tak teratur dari lapisan permukiman itu sendiri.
Tidaklah mungkin untuk menyebutkan semua ilmuwan yang telah membangun atas prestasi Petrie. Akan tetapi, langkah besar yang berikutnya telah diambil oleh W. F. Albright di Tell Beit Mirsim, di sebelah barat Hebron, dalam serentetan "galian" dari 1926 sampai 1932. (Albright menetapkan tempat itu sebagai kota Debir atau Kiryat
Uraian singkat kami tentang sejarah arkeologi Palestina tidak akan lengkap tanpa menyebutkan nama Edward Robinson. Sumbangannya lebih banyak terdapat di bidang geografi dan eksplorasi di permukaan daripada di bidang penggalian arkeologis, tetapi kedua usaha ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Pada tahun 1838 dan 1852 Robinson dan seorang rekan berhasil menetapkan puluhan tempat kota-kota di Alkitab, sering kali berdasarkan persamaan di antara namanya di Alkitab dan nama yang modern (misalnya, Anatot, kampung halaman Yeremia, dan Anata masa kini).
Hampir seabad kemudian, Nelson Glueck memberi sumbangan yang, serupa oleh perjalanan-perjalanannya di daerah-daerah tandus dari Trans-Yordania, Lembah Yordan, dan Negev (kawasan yang setelah gersang di sekitar Bersyeba). Lebih kemudian lagi, Palestine Exploration Fund membuat usaha-usaha perintisan itu berhasil.
Para arkeolog telah mencapai berbagai kemajuan besar di dua bidang yang berkaitan dengan arkeologi alkitabiah: arkeologi di bawah air dan penyelidikan "prasejarah". Cara-cara di bawah permukaan air berkaitan dengan arkeologi alkitabiah hanya di kota Kaisarea Maritima di pantai laut. Penyelidikan "prasejarah", yang berhubungan dengan kurun waktu sebelum 3000 sM, sebagian besar bergantung pada pembandingan corak-corak perkakas dari batu api. Para arkeolog telah membuat berbagai temuan penting dari kurun waktu "prasejarah" di banyak tempat di Palestina, dan mereka memusatkan semakin banyak energi mereka ke arah itu.

Pada dasarnya, metode-metode arkeologi adalah sangat sederhana. Sebenarnya, metode-metode itu dapat dikurangi dua cara saja - stratigrafi dan tipologi.
Stratigrafi mengadakan perbedaan yang cermat di antara berbagai lapisan (atau strata) yang didiami manusia. Lapisan-lapisan ini hanya diberi nomor secara berurutan (biasanya dengan angka Romawi) dari atas ke bawah, stratum yang teratas - yang paling belakangan - adalah "Stratum I" dan seterusnya. Jumlah lapisan (strata) di suatu tempat tertentu bisa berbeda-beda, demikian juga kedalaman tiap strata itu sendiri. Sebuah tel (gundukan reruntuhan dari sebuah kota purba) bisa saja mencapai 15 sampai 22 m di atas tanah murni dan di Mesopotamia gundukan-gundukan itu sering kali melebihi ketinggian itu. Kadang-kadang sebuah gundukan hampir terus-menerus diduduki selama ribuan tahun; dan jikalau sekarang masih diduduki, maka penggalian akan menjadi sangat sukar atau mustahil. Pada waktu lain, terjadi kesenjangan-kesenjangan yang lama dalam sejarah permukiman suatu tempat. Hal ini hanya dapat diketahui setelah penggalian yang saksama, meskipun penyelidikan pecahan-pecahan tembikar yang telah dihanyutkan dari lereng-lereng gundukan itu akan memberikan gambaran pendahuluan yang baik dari berbagai kebudayaan yang akan ditemukan dalam tel itu. Kadang-kadang berbagai strata itu akan dibedakan oleh lapisan-lapisan abu yang tebal atau reruntuhan kehancuran lainnya; kali lain hanya dibedakan oleh perbedaan dalam warna tanah atau kepadatan tanah. Jikalau sebuah gundukan tidak didiami untuk waktu yang lama, erosi dan perampokan situs itu mungkin mengacaukan stratum itu sama sekali. Orang-orang yang kemudian mendiami tempat itu sering kali menggali parit, waduk, dan terowongan jauh ke dalam strata yang lebih tua sehingga menambah masalah penggali masa kini.
Mengenali strata memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan urutan lapisan secara relatif, bukan tarikh-tarikh yang pasti. Untuk menentukan tarikh, ia harus menggunakan tipologi barang tembikar (yaitu mempelajari berbagai jenis barang tembikar). Selama tahun berganti tahun, para arkeolog telah mengembangkan pengetahuan yang sangat rinci mengenai barang tembikar yang khas dari tiap periode. Dengan menghubungkan tiap stratum dengan pecahan-pecahan tembikar yang terdapat di dalamnya, biasanya sang arkeolog mampu menetapkan tarikh stratum itu dalam kurun waktu yang relatif sempit.
Ketika metode stratigrafi dan tipologi ini diperkenalkan, masyarakat ilmiah enggan menerimanya. Di Troya, Heinrich Schliemann menyimpulkan pada abad ke-19 bahwa tel-tel atau gundukan-gundukan menyembunyikan lebih dari sebuah kota purba. Ini mengakibatkan dia dicemoohkan di kalangan para ilmuwan di seluruh Eropa sampai ia dapat membuktikan pendapatnya. Mula-mula tipologi barang tembikar pun ditolak seperti itu.
Tipologi dari benda-benda purbakala lainnya juga berguna. Misalnya, pengembangan lampu membantu sang arkeolog untuk mengenali periode-periode yang lebih luas. Dari sebuah lepek yang sederhana dengan sumbu, akhirnya lampu itu mendapat bibir di satu sisi sebagai tempat sumbu, kemudian empat bibir yang terletak pada sudut yang lurus satu sama lainnya. Akhirnya, bagian atasnya ditutup dan meninggalkan sebuah cerat untuk tempat sumbu. Pada zaman Bizandan Kristen, bagian atas yang tertutup itu dihiasi dengan bermacam-macam simbol artistik. Berbagai perkakas, senjata, dan gaya arsitektur berubah selama abad berganti abad, demikian pula rancangan patung-patung berhala.
Pada kesempatan-kesempatan yang jarang terjadi, ketika tulisan ditemukan di Palestina, kita mempunyai sarana penting lainnya untuk menguji tarikh-tarikh sejarah. Paleografi (penelitian terhadap sejarah tulisan) telah menjadi ilmu yang sungguh saksama.
Uang logam tidak muncul di Palestina sampai akhir periode Perjanjian Lama (sekitar 300 sM). Karena orang-orang kadang-kadang mengumpulkan uang atau menyimpannya sebagai pusaka, bukti ini barangkali menyesatkan sang arkeolog. Hal yang sama dapat dikatakan tentang benda-benda yang diimpor, di mana ketinggalan waktu dari 25 sampai 50 tahun sering kali harus dipertimbangkan.
Tipologi barang tembikar adalah cara yang paling mendasar untuk menarikhkan situs-situs arkeologi. Semua metode lainnya hanya merupakan tambahan. Pada tahun-tahun belakangan, para ilmuwan telah mengembangkan berbagai prosedur baru untuk menarikhkan benda-benda purbakala. Tetapi tak satu pun dari prosedur baru ini yang dapat mengganti analisis jenis-jenis barang tembikar. Para ahli sanggup menentukan tarikh barang tembikar sampai sekurang-kurangnya setengah abad; kesempatan untuk berbuat kesalahan jauh lebih besar bila memakai prosedur yang lain, dan biasanya menjadi lebih besar lagi semakin jauh kita masuk zaman purba. Hanya pada beberapa "abad gelap", yang untuknya kita tidak memiliki petunjuk-petunjuk barang tembikar,maka teknik-teknik yang lebih baru ini terbukti cukup bermanfaat mengingat waktu dan biaya yang dikeluarkan.
Dari prosedur-prosedur yang lebih baru, maka yang paling stabil dan paling penting adalah penarikhan dengan radiocarbon. Isotop karbon 14 adalah suatu bentuk karbon dengan separuh hidup sekitar 5.600 tahun. Isotop ini "membusuk" dan membentuk ;karbon-12, bentuk karbon yang paling umum. Dengan mengukur perbandingan karbon-14 terhadap karbon-12 dalam suatu benda, para ilmuwan dapat menentukan umur benda tersebut. Meskipun karbon-14 seharusnya hancur dengan kecepatan yang konstan, beberapa ilmuwan masih meragukan apakah cara ini akurat dan dapat dipercayai. Karbon-14 dapat ditemukan dalam substansi organik Baja (kayu, kain, dan lain sebagainya), yang jarang ditemukan dalam penggalian di Palestina. Satu bagian yang cukup besar dari sampel itu dibinasakan dalam proses menguji ini, sehingga membuat para arkeolog enggan menggunakan metode ini. Bagaimanapun juga, metode ini telah berguna, terutama dalam meredakan kesangsian orang-orang yang belum yakin akan kemampuan para arkeolog untuk menarikhkan barang tembikar.
Beberapa teknik lain lebih banyak memberi harapan untuk arkeologi alkitabiah. Thermoluminescence mengukur emisi elektronis dari barang tembikar yang dipanaskan kembali untuk menentukan kapan tembikar itu mula-mula dibakar. Analisis spektografis menghujani sepotong tembikar dengan elektron untuk mengukur spektrum kimia dari mineral-mineral yang terdapat di dalamnya. Demikian pula, bila menggunakan metode neutron activation bahan keramik itu ditempatkan dalam sebuah reaktor nuklir dan komposisi kimia dari tanah liat itu ditetapkan oleh radioaktivitas yang dikeluarkannya. Kedua metode yang belakangan itu lebih berguna dalam menentukan sumber tanah liat yang dipakai untuk membuat barang tembikar itu daripada memberitahukan tarikhnya; tetapi sering kali kedua penyelidikan itu dilakukan bersamaan. (Mata biasa seorang ahli tembikar yang terampil sering kali dapat menemukan banyak hal tentang sumber tanah liat tanpa bantuan-bantuan ilmiah ini.)
Teknik-teknik ilmiah juga dapat membantu dalam mencari situs. Begitu banyak tel purba tetap tidak disentuh oleh penggalian modern sehingga orang kurang memerlukan bantuan-bantuan ini. Tetapi di berbagai kawasan yang penduduknya kurang di Transyordania dan Negev, pemotretan dari udara dengan inframerah telah mampu menemukan kota-kota purba dengan mengenali berbagai perbedaan dalam tumbuh-tumbuhan. Sebuah benda mengeluarkan panas dalam bentuk sinar inframerah; semakin panas benda itu, semakin banyak sinar inframerah yang dikeluarkannya. Demikianlah potret-potret inframerah menyatakan perbedaan-perbedaan dalam suhu tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di atas tembok dan lantai purba. Di Italia, para arkeolog menggunakan proton magnetonzeter (sebanding dengan Geiger counter, alat pengukur radiasi) untuk menemukan kota Sybaris.
Di samping stratigrafi dan tipologi, pencatatan yang teliti dan pengumuman data merupakan prinsip utama ketiga dari arkeologi ilmiah. Berbeda dengan ilmu-ilmu lain, arkeologi tidak dapat mengulang "eksperimen"-nya untuk membuktikannya. Maka catatan-catatan yang teliti menjadi perhatian utama dari "penggalian" yang berhasil.
Pada awalnya, para arkeolog akan merencanakan sebuah situs berdasarkan suatu "sistem kisi," dengan menyejajarkan garis lintang dan garis bujur dari kawasan itu. Biasanya mereka membagi sebuah tel menjadi berbagai "bidang". Di dalam tiap bidang, mereka mengukur "daerah-daerah" tertentu dan mematoknya untuk mengadakan penggalian. Ukuran bidang-bidang itu mungkin berbeda-beda bergantung ada situasi, tetapi biasanya daerah-daerah yang dipatok itu 6 m persegi. Para arkeolog akan membagi tiap daerah itu lebih lanjut menjadi empat bagian persegi, dengan membiarkan sekat-sekat pembagi (tanah kosong) selebar satu meter di antara tiap bagian persegi itu. Sekat-sekat itu menjadi jalan-jalan kecil untuk mengadakan pengamatan dan pemeriksaan sementara pekerjaan itu berlangsung dan merupakan pokok-pokok acuan bila pertanyaan-pertanyaan timbul di kemudian hari. Satu bagian persegi secara keseluruhan tidak digali menurut cara yang sama; para pekerja akan menggali "parit-parit pemeriksaan" pada sudut siku-siku dengan parit-parit lain, dalam upaya untuk mengantisipasi apa yang mungkin akan ditemukan waktu penggalian berlangsung.
Setiap daerah mempunyai seorang penyelia daerah, yang sebaliknya diawasi oleh pemimpin penggalian tersebut. Penyelia daerah itu mempunyai dua tugas: (1) mengawasi dan mengatur penggalian yang sebenarnya di daerahnya, dan (2) dengan saksama mencatat segala sesuatu pada saat pemunculannya.
Para pekerja pada dasarnya terdiri atas tiga golongan (1) pencangkul, yang dengan hati-hati membongkar tanah yang padat (suatu prosedur yang memerlukan keahlian, dan harus dibedakan dari penggalian parit yang biasa); (2) pemacul, yang bekerja dengan tanah yang baru digemburkan, serta memperhatikan apa Baja yang berarti; dan (3) pemikul keranjang, yang mengangkut tanah yang sudah diperiksa. Kadang-kadang para pemikul keranjang ini juga menggunakan ayakan dan kulir serta sikat untuk mengikis dan membersihkan.
Penyelia daerah membuat catatan yang teliti dalam sebuah buku catatan bidang, sebuah buku harian untuk segala sesuatu yang dikerjakan para pekerjanya. Ia menetapkan nomor lokasi yang berubah-ubah kepada setiap subbagian dari wilayahnya, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Para pekerja mengumpulkan semua tembikar dalam keranjang-keranjang khusus dan memberi etikat untuk menunjukkan tanggal, daerah, dan lokasinya. Lalu barang tembikar itu dicuci dan "dibaca" oleh para ahli. Yang menyimpan dan mendaftar barang-barang tembikar yang memiliki arti yang khusus. Mereka memotret dan membuat sketsa dari apa Baja yang mempunyai arti khusus sebelum mereka membongkarnya. Pada akhir setiap hari (atau sebelum suatu tahap baru dari penggalian itu dilanjutkan), penyelia daerah harus membuat gambar skala baik dari dinding-dinding yang vertikal maupun dari lantai daerah penggaliannya. Pada akhir musim penggalian, ia harus menulis laporan yang terinci tentang segala sesuatu yang terjadi di daerahnya. Pemimpin seluruh penggalian itu mencantumkan semua laporan ini di dalam laporan pendahuluannya sendiri, dan kemudian dalam satu publikasi yang terinci. Akan tetapi, banyak pemimpin proyek tidak sampai melaksanakan langkah-langkah terakhir ini, sehingga dunia kesarjanaan kehilangan hasil penggalian itu.
Para arkeolog mengatur bukti sejarah dan budaya yang paling tua menurut sistem yang terdiri atas tiga periode, yakni Zaman Batu, Perunggu, dan Besi (masing-masing dengan berbagai subbagiannya). Kita mewarisi pola ini dari awal abad ke-19, dan sekarang pola tersebut sudah kuno. Tetapi pola itu sudah menjadi bagian yang penting dari arkeologi sehingga tampaknya tak mungkin untuk mengubahnya. Para arkeolog telah berusaha untuk menggantikannya dengan sesuatu yang lebih memuaskan, tetapi keberhasilan sistem-sistem baru ini terbatas dan sering kali lebih membingungkan. Yang paling berhasil dari saran-saran baru ini telah memakai label yang berkaitan dengan sosiologi atau politik, sedangkan pola yang tradisional didasarkan pada logam yang paling vital pada kurun waktu yang bersangkutan. Setelah Zaman Besi (yaitu, yang mulai dengan Zaman Persia) nama-nama politik atau budaya selalu menjadi standar untuk periode-periode arkeologis ini.
Tentu saja, tarikh-tarikhnya hanya dikira-kirakan karena perubahan-perubahan budaya terjadi secara berangsur-angsur. Di periode-periode kemudian, di mana biasanya sejarah dapat diketahui dengan lebih tepat, beberapa tarikh yang tepat dapat diberikan.
Bila menentukan tarikh untuk temuan-temuan arkeologis, masalah yang terbesar terjadi pada periode yang lebih kuno. Pada periode para bapa leluhur (pada umumnya Zaman Perunggu Tengah, setelah 2300 sM) barulah kita mencapai dasar yang kokoh. Dan baru seribu tahun kemudian (pada masa Daud dan Salomo) adalah lebih mudah untuk menentukan tarikh dari peristiwa-peristiwa di Alkitab. (Lihat "Kronologi.") Tarikh-tarikh yang kuno sekali yang diajukan oleh beberapa ilmuwan untuk Zaman Paleolitik atau Zaman Batu Lama lebih didasarkan pada teori-teori evolusi dan geologi daripada arkeologi. Tarikh-tarikh seperti itu tidak cocok dengan Alkitab - tidak hanya pada permukaan, tetapi pada tingkat konsep-konsep yang pokok.
Bagaimanapun juga, tidak mudah untuk mengatakan dengan tepat di mana kita harus membatasinya. Memang sulit untuk menafsirkan kronologi Alkitab itu sendiri, dan karena itu penafsir-penafsir yang konservatif kadang-kadang mengambil kesimpulan yang berbeda.
Banyak ahli berpendapat bahwa Alkitab menggambarkan dunia yang relatif muda, bertentangan dengan jutaan tahun yang diterima dalam pemikiran para ahli masa kini. Tabel 21 pada halaman 174 menganjurkan tahun 10.000 sM sebagai tarikh yang paling kuno yang dapat kita pikirkan. Sudah pasti, tidak ada bukti arkeologis yang tepat yang menuntut agar kita kembali ke masa yang lebih kuno lagi dari itu.
Periode arkeologis yang paling purba - Zaman Batu - terbagi atas Periode Paleolitik. Periode Mesolitik, dan beberapa periode Neolitik.
Zaman Paleolitik atau "Zaman Batu Lama" boleh dilukiskan sebagai zaman pemburuan dan pengumpulan makanan. Orang tinggal dalam goa atau di tempat perlindungan yang sementara. Mereka membuat alat-alat dari batu api dan mendapatkan nafkah dari apa yang dapat mereka kumpulkan dari alam itu sendiri.
Zaman Mesolitik atau "Zaman Batu Tengah" adalah tahap peralihan kepada suatu ekonomi yang menghasilkan makanan. Pada zaman ini pemukiman-pemukiman yang betul-betulan mulai muncul: revolusi ini menjadi matang dalam zaman Neolitik. Kita dapat mengatakan bahwa selama periode ini terjadi evolusi dari kesenian dan ilmu sastra, tetapi bukan evolusi manusia atau kemampuan-kemampuan bawaannya.
Penemuan barang tembikar sekitar 5000 sM mengantar suatu zaman purbakala yang baru, Zaman Neolitik atau "Zaman Batu Baru".
Situs Palestina yang paling menakjubkan yang menggambarkan perkembangan-perkembangan ini adalah Yerikho. Pada dasa abad ke-8 sM, para pemburu Mesolitik membangun sebuah tempat perlindungan dekat sebuah mata air di Yerikho. Secara berangsur-angsur mereka mengembangkan rumah mereka dari tempat tinggal kaum pengembara menjadi rumah bata yang dibuat dari lumpur, dan memulai pertanian dengan irigasi. Empat periode Neolitik dengan jelas terlihat di Yerikho sesudah ini: dua periode sebelum ada tembikar dan dua periode yang sudah mengenal barang tembikar. Sedangkan periode pertama rupanya mulai dengan tenang, tetapi keadaannya tidak demikian dengan tiga periode yang lain, Sebenarnya, periode Neolitik yang pertama ditandai oleh pembangunan tembok-tembok pertahanan yang tebal - benteng pertahanan yang paling tua yang diketahui dalam sejarah manusia. Setelah tembok itu dibinasakan, suatu kebudayaan yang baru sama sekali memasuki Yerikho. Barang tembikar masih belum dikenal, tetapi kemampuan seni tingkat tinggi sudah tampak di lain bidang. Penduduk Yerikho membentuk lumpur keliling tengkorak manusia untuk membuat potret yang realistis dengan menyisipkan kerang untuk matanya, barangkali untuk sejenis pemujaan nenek moyang.
Gelombang berikut dari orang yang menyerbu masuk Palestina secara budaya terkebelakang dalam banyak hal. Namun, ada satu kekecualian utama: mereka mahir dalam pembuatan barang tembikar. Setelah satu gelombang orang-orang yang menetap lagi, maka untuk sementara waktu Yerikho kehilangan reputasinya sekitar 4000 sM. Selama Periode Chalcolithic kota Ghassul di seberang Sungai Yordan . mengambil kekuasaan yang tadinya dimiliki Yerikho.
Zaman Chalcolithic (Batu - Tembaga), mencakup bagian terbesar dari dasa abad ke-4 sM, menyaksikan peralihan kepada penggunaan tembaga. (Bangsa-bangsa pada Zaman Chalcolithic tidak memakai perunggu, suatu campuran yang pada waktu itu belum diketahui.)
Sebelum periode ini, keadaan Palestina setaraf dengan kedua kebudayaan sungai besar dari Mesir dan Mesopotamia. Akan tetapi, mulai dengan 4000 sM, kedua kaki dari daerah Bulan Sabit yang Subur itu mulai maju sedikit demi sedikit, dan Palestina mulai mengambil peranan geopolitik yang dimainkannya sepanjang bagian terbesar dari periode alkitabiah. Dari segi budaya dan politik, Palestina menjadi terpencil dan terkebelakang, namun merupakan jembatan yang strategis untuk perniagaan dan komunikasi,bagi banyak negara Timur Dekat purba. Kedua sungai besar itu membantu wilayah-wilayah lain menjadi lebih berkuasa dengan mempersatukan daerah yang luas itu dan membukanya untuk perniagaan. Pada akhir zaman ini, wilayah-wilayah ini telah mengembangkan berbagai pola yang akan mereka ikuti selama beribu-ribu tahun.
Di Palestina, seperti yang kita lihat, rupanya Yerikho telah diganti oleh Ghassul (kita hanya mengetahui nama Arab yang modern ini) di sebelah timur Yerikho. Tidak adanya kubu-kubu pertahanan menunjukkan bahwa masa ini tenteram. Ghassul paling tersohor karena keseniannya yang canggih, teristimewa lukisan dindingnya yang beraneka warna dengan berbagai motif geometris, bintang, topeng, dan gambar lainnya (barangkali mempunyai arti agama atau mitologis).
Ghassul maju sekali selama paruhan akhir dari dasa abad ke-4. Karena itulah kebudayaan Palestina yang pertama-tama diketahui pada kurun waktu itu, maka zaman itu telah diberi nama "Ghassulian." Akan tetapi, makin banyak arkeolog yang menemukan bahwa ada kebudayaan-kebudayaan lain yang kuat juga selama kurun waktu tersebut. Mereka juga menemukan bahwa berbagai kebudayaan Chalcolithic lainnya mempunyai adat istiadat yang mirip dengan kebiasaan-kebiasaan di Ghassul. Misalnya, para arkeolog telah mendokumentasikan kebiasaan Ghassulian untuk memakamkan orang mati dalam ossuari (wadah tembikar untuk tulang-tulang di banyak daerah lain, terutama di kota-kota pesisir dekat Tel Aviv yang modern. Osuari-osuari ini biasanya dibentuk seperti hewan atau rumah, meniru apa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah jenazah itu diperabukan, orang-orang yang berkabung menguburkan osuari itu dalam sebuah peti batu bersama-sama dengan perbekalan untuk akhirat.
Dua situs dekat Bersyeba (Tel Abu Matar dan Bir es-Safadi) menggambarkan penggunaan tembaga selama Periode Chalcolithic. Beberapa tempat kediaman di kedua situs ini berada di bawah tanah. Tempat-tempat itu dimasuki melalui lubang tembusan dari permukaan tanah dan dihubungkan oleh terowongan. Pekerjaan tembaga ditemukan dalam lubang tembusan, tanur, dan perapian yang banyak terdapat di daerah itu, yang menunjukkan pengaruh tembaga dalam ekonomi kedua perkampungan itu. Biji tembaga itu harus didatangkan dari tambang-tambang di Negev selatan, yang jauh sekali. Hal ini menunjukkan bahwa perkampungan-perkampungan itu mempunyai organisasi sosial dan ekonomi yang canggih.
Barangkali situs Chalcolithic yang paling menakjubkan di Palestina adalah dekat En-Gedi, sumber air jernih yang terdapat di pantai barat Laut Mati. Tinggi di atas sumber air itu (di mana kota Israel itu kemudian digali) terdapat sebuah kompleks yang bertembok. Dalam bangunannya yang paling besar terdapat sebuah kuil di udara terbuka dengan sebuah mezbah. Kita tidak tahu apa-apa tentang upacara-upacara yang diselenggarakan di kuil ini, tetapi pada umumnya para arkeolog menganggap bahwa kumpulan besar benda-benda tembaga (kepala tongkat kebesaran, tongkat lambang kekuasaan, tiang untuk panji-panji prosesi) yang ditemukan dalam sebuah goa tidak jauh dari situ, telah digunakan dalam kuil ini. Agaknya, benda-benda tersebut disembunyikan di dalam goa itu ketika kuil terancam, dan tak seorang pun yang dapat kembali dan menyelamatkannya.
Peninggalan-peninggalan Megalitik di Palestina termasuk Zaman Chalcolithic dan Zaman Perunggu Purba. Istilah Megalitik hanya berarti "berbatu besar", yang mengacu kepada batu-batu besar yang digunakan dalam bangunan-bangunan purba. Di Eropa bangunan-bangunan seperti itu rupanya menjadi ciri khas Zaman Neolitik, tetapi di Timur Dekat struktur itu muncul lebih kemudian. Akan tetapi, barang tembikar atau peninggalan lain yang mula-mula dikuburkan bersamanya sudah lama lenyap dan baru dalam tahun-tahun belakangan tarikhnya ditetapkan dengan lebih kokoh.
"Megalit" di Palestina biasanya sederhana sekali: satu atau lebih batu besar yang horizontal diletakkan atas beberapa batu vertikal yang rata-rata tingginya satu meter atau kurang, dengan pintu masuk yang rendah di satu sisi. Bangunan-bangunan ini mungkin merupakan monumen kepada orang mati, yang dirancang sebagai tiruan tempat kediaman sehari-hari. Secara lebih teknis, jenis struktur ini disebut dolmen (arti harfiahnya, "meja batu"). Pada mulanya, dolmen ini mungkin ditutupi dengan batu-batu kecil dan tanah, yang telah hanyut. Kadang-kadang satu atau dua lingkaran batu-batu kecil mengelilingi dolmen itu. Hampir selalu dolmen-dolmen dibangun berkumpul di "padang" atau kelompok, kebanyakan di barat laut Yordan di lereng-lereng di atas tepi sebelah timur Sungai Yordan, atau di Galilea bagian atas, terutama di sekitar Khorazin.

Para arkeolog telah menemukan banyak artefak dari Zaman Perunggu - begitu banyak temuan mereka sehingga mereka sanggup menemukan beberapa periode budaya yang berbeda di dalam Zaman Perunggu.
Dengan Zaman Perunggu Purba dan sasrawarsa ke-3 sM, kita meninggalkan "prasejarah" dan memasuki kurun waktu "sejarah" - apabila kita mendefinisi sejarah sebagai hadirnya catatan-catatan tertulis. Berbagai kebudayaan dari lembah kedua sungai besar (Nil dan Tigris-Efrat) lebih unggul dari Palestina, terutama ketika mereka mengembangkan seni menulis pada paruhan akhir dari sasrawarsa ke-4. Bangsa Mesopotamia (proto-Sumer?) memelopori tulisan, tetapi Mesir dengan segera menyadari keuntungannya.
Perkembangan tulisan dapat dirunut secara terperinci sekali, dari AW mulanya dalam catatan-catatan di bidang usaha melalui piktografi tulisan berbentuk gambar) sampai ke simbol-simbol yang lebih abstrak. (Lihat "Bahasa dan Tulisan.") Mesopotamia mengembangkan tulisan cuneiform - yaitu, dengan memakai pena untuk menekankan huruf-huruf berbentuk baji ke dalam lempeng tanah liat yang lembek, yang kemudian dibakar. Mula-mula bangsa Sumer yang bukan Semit merancang tulisan cuneiform itu untuk diri mereka sendiri, tetapi sistem tulisan itu dengan segera dipakai oleh bangsa-bangsa Semit yang mengganti mereka, dan bahkan oleh berbagai rumpun bangsa Indo-Eropa (yaitu, rumpun bangsa yang tersebar dari India sampai Eropa Barat). Pada dasarnya cuneiform menjadi tulisan yang universal sampai alfabet Aram menggantinya di bawah Imperium Persia.
Asal mula alfabet yang modern adalah di Mesir. Dalam satu arti, orang Mesir tidak mengembangkan tulisan lebih jauh daripada tahap piktografis yang awal, yang menghasilkanhieroglif Mesir yang lazim (arti harfiah "ukiran suci"). Walaupun lambang-lambang Mesir itu menggambarkan suku kata (seperti simbol-simbol Mesopotamia), lambang-lambang itu juga berisi arti alfabetis yang dini; tiap lambang menggambarkan sebuah huruf bukan sebuah suku kata.22
Walaupun orang-orang Kanaan tidak dapat menandingi kebudayaan dari lembah-lembah sungai besar, Zaman Perunggu Purba adalah suatu masa urbanisasi besar-besaran di Palestina juga. Sebenarnya, hampir semua kota Kanaan yang besar didirikan pada masa ini. Di Palestina, kota-kota ini tetap merdeka dan tidak pernah bergabung menjadi imperium yang lebih besar. Pada dasarnya kita menemukan sistem politik negara kota yang sama selama lebih dari 1000 tahun kemudian pada masa penyerbuan oleh Yosua. Kerajaan Raja Daud mungkin merupakan yang pertama untuk menggantikannya sama sekali.
Meskipun tradisi melakukannya, sebenarnya tidak tepat untuk menyebut periode ini Zaman Perunggu Purba di Palestina. "Perunggu" adalah campuran tembaga dan timah putih, yang tidak dapat diperoleh sampai sekurang-kurangnya seribu tahun kemudian. Jika hendak menggunakan istilah logam yang memadai, maka. "tembaga" adalah lebih baik. Nama-nama alternatif untuk kurun waktu ini tidak pernah menjadi populer secara luas. Betapa pun, dua jenis saran ada manfaatnya.
Kathleen Kenyon ingin menyebut periode ini Periode Urban karena orang cenderung membangun kota-kota besar. Akan tetapi, para sarjana Israel lebih suka menyebutnya Periode Orang Kanaan (diikuti oleh Periode Orang Israel dan Periode Orang Persia); nama-nama ini memperkenalkan kekuasaan politik pada tiap periode itu.
Masalah peristilahan bahkan lebih gawat lagi untuk sasrawarsa ke-3 sM. Soalnya adalah istilah mana yang paling tepat menunjukkan baik kesinambungan maupun perbedaan antara periode-periode itu?
Tak seorang pun menyangkal perbedaan yang tiba-tiba antara Periode Chalcolithic dan Periode Perunggu Purba. Beberapa tel dari zaman ini menunjukkan bahwa kota-kota yang berdiri di tempat-tempat ini telah dibinasakan di antara Periode Chalcolithic dan Perunggu Purba. Bukti satu-satunya tentang sifat orang-orang yang membinasakan kota-kota tersebut adalah kebiasaan baru mereka untuk memakamkan orang. Mereka mempraktikkan pemakaman bersama dalam ruangan-ruangan tunggal, dengan mendorong tulang-tulang berbagai generasi sebelumnya ke dinding ketika orang yang baru meninggal dunia itu "dikumpulkan kepada kaum leluhurnya."
Agaknya jelas bahwa para penyerbu ini membawa cara hidup yang baru. Mereka bukan pengembara yang secara berangsur-angsur menetap (seperti yang banyak kali kita lihat di Yerikho zaman Neolitik). Hal ini tampak jelas dari kecenderungan mereka untuk lebih menyukai dataran daripada daerah perbukitan, dan batu bata daripada batu (bahkan di daerah perbukitan yang berlimpah-limpah batunya). Pola permukiman yang jarang dari daerah perbukitan ini berlangsung sepanjang Zaman Perunggu Tengah berikutnya sampai jauh ke dalam zaman permukiman orang Israel.
Siapakah kaum penyerbu ini? Tanpa catatan tertulis kita tidak dapat memastikannya. Dengan menyebut mereka "penduduk Kanaan", para arkeolog Israel menganjurkan bahwa mereka serumpun dengan bangsa-bangsa yang tinggal di Kanaan pada waktu orang Israel menyerbunya. Mungkin sekali hal itu benar, tetapi tidak semua orang menyetujuinya. Dan seberapa banyak dari pengaruh budaya para penyerbu ini yang masih tinggal sesudah penyerbuan orang Amori dan Hur pada Zaman Perunggu Tengah? Nama-nama geografis di negeri itu hampir semuanya dari bahasa Semit, yang menunjukkan bahwa bangsa-bangsa Semit pasti sudah berpengaruh dari zaman purbakala. Tetapi kapan tarikhnya? Dan apakah asal atau identitas orang-orang yang mula-mula memperkenalkannya? Sebagian dari kaum penyerbu ini tinggal sepanjang pesisir Laut Tengah pada sasrawarsa ke-4 sM, dan para arkeolog biasanya menganggap bahwa penyerbuan itu bergerak ke selatan sepanjang daerah pantai. Mungkin inilah permulaan dari suatu pola yang berlaku sepanjang sebagian besar zaman alkitabiah - yaitu, bahwa istilah Kanaan mengacu kepada suatu subbagian atau perluasan di selatan dari kebudayaan Fenisia yang umum sepanjang daerah pantai. Bagaimanapun juga, banyak aspek dari kebudayaan Kanaan mulai terbentuk pada masa ini.
Di antara aspek-aspek ini terdapat pola Kanaan untuk perencanaan kota. Kebanyakan bangunan di dalam tembok-tembok kota Kanaan adalah bangunan pemerintah; kebanyakan rakyat jelata tinggal dalam gubuk-gubuk di luar tembok kota, barangkali bekerja atau berdagang di dalam kota dan mengungsi ke kota demi keamanan pada masa perang. Di antara gedung-gedung pemerintah yang paling penting di Kanaan adalah kuil-kuil atau bangunan yang berhubungan dengannya, yang membuktikan bahwa dari purbakala orang Kanaan mempunyai upacara agama dan keimaman yang sangat maju. Banyak petunjuk dari kurun waktu ini menunjukkan hubungan perdagangan Palestina dengan Mesir dan Mesopotamia. Kita tidak tahu apakah pengaruh budaya Mesir pada waktu yang dini ini disertai sedikit pengawasan politis. Selama kurun waktu ini orang Kanaan memulaikan hutan-hutan dari bukit-bukit Palestina. Juga, lampu-lampu muncul dalam kurun waktu ini.
Para arkeolog telah menemukan beberapa situs Perunggu Purba yang mempunyai arti alkitabiah. Situs-situs ini meliputi Ai, Arad, Yerikho, Megido, dan Tirza. John Garstang menetapkan tempat tembok-tembok rangkap Yerikho (yang dihancurkan menjelang akhir Zaman Perunggu Purba) yang telah dikalahkan dengan begitu ajaib oleh Yosua. Dalam penggalian-penggalian yang kemudian, Kathleen Kenyon hanya menemukan sedikit sisa-sisa peninggalan dari kota yang dibangun pada Zaman Perunggu Akhir ini.
Tempat Ai et-Tell tetap kosong selama kurun waktu Perunggu Tengah dan Perunggu Akhir sesudah kota dari Zaman Perunggu Purba itu dihancurkan. Rupanya kota Ai yang disebut dalam Yosua 7-8 terletak di tempat lain di sekitarnya, tetapi para arkeolog tidak sepakat tentang letaknya kota itu. Kita menaruh perhatian pada tempat Ai di Zaman Perunggu Purba karena tempat sucinya terbagi atas tiga bagian, mirip dengan bait suci Salomo sekitar 1500 tahun kemudian. Sebuah mezbah ditemukan di tempat mahakudus di Ai dan banyak tulang binatang di seluruh tempat itu. Para arkeolog menggali sebuah kuil yang lebih sederhana dengan hanya dua ruangan (tanpa pelataran luar) di Tirza, yang kemudian menjadi salah satu ibu kota Kerajaan Utara. Di Megido tidak ditemukan kuil, tetapi ada sebuah tempat suci terbuka dengan tembok-tembok keliling sebuah mezbah - rupanya sejenis tempat penyembahan berhala yang disebut bamah atau "bukit pengorbanan" di Alkitab (bdg. Bil. 22:41; 33:52). Mezbah itu bundar, dengan garis tengah kira-kira 21 m dan tingginya 1,5 m, yang didekati dengan naik tujuh anak tangga. Alkitab melarang adanya tangga mezbah oleh sebab para imam akan menampakkan diri secara tidak senonoh bila mereka menaiki anak tangga itu (Kel. 20:26).
Para arkeolog juga menggali kuil-kuil di kota Arad dari Zaman Perunggu (dekat, tetapi tidak identik dengan kota Arad dari Zaman Besi yang kerap kali disebut di Alkitab). Arti penting dari pemukiman ini adalah sifat kota itu yang direncanakan dengan baik.
Kami harus menyebutkan dua tempat lain dari Zaman Perunggu purba yang tidak disebut oleh Alkitab (barangkali sebab tempat-tempat itu tidak didiami selama periode tersebut). Beth-Yerah (nama Arab: Khir bet el-Kerak) di pantai barat daya Danau Galilea, adalah sebuah pusat urban besar. Namanya digunakan untuk beberapa barang tembikar yang khas dari periode itu, yang bercirikan politur merah yang dah Sebuah tempat lain dekat sudut tenggara Laut Mati (dikenal hanya dengan nama Arabnya, Bab edh-Dhra) mempunyai reputasi yang aneh. Ini juga merupakan sebuah kota utama, tetapi "industrinya" yang utama adalah pemakaman. Para arkeolog menemukan sejumlah besar pemakaman bermacam-macam jenis, di pelbagai kuburan dan pusara. Pasti tempat itu merupakan tanah kuburan yang disukai untuk daerah yang luas. Oleh sebab sekarang daerah itu bersifat kersang dan sepi, mungkin yang diladeninya dahulu adalah "kota-kota di Lembah" (Sodom dan Gomora, dan lain-lain) di dekat Laut Mati, sebelum kota-kota itu dibinasakan.
Satu tempat yang sangat penting dari Zaman Perunggu Purba yang berada di luar Kanaan adalah kota Ebla di Siria utara yang belum lama ini ditemukan. Tempat ini yang juga dikenal dengan nama mutakhirnya Tell Mardikh sudah mengubah pengetahuan kita tentang kurun waktu itu. Sebelum bagian perempat yang ketiga dari sasrawarsa ke-3 sM, Ebla adalah ibu kota dari sebuah kerajaan yang luas. Bahkan untuk sementara waktu Ebla jauh melebihi kerajaan Akhad di Mesopotamia. Jadi, Siria bukanlah daerah terpencil seperti yang diduga selama kurun waktu ini. Kita tidak tahu pasti tentang hubungan politiknya dengan Kanaan, di sebelah selatan, tetapi sudah pasti ada hubungan perdagangan.
Catatan-catatan perniagaan Ebla untuk pertama kalinya menyebutkan sejumlah besar kota Kanaan, antara lain Yerusalem - dan bahkan Sodom dan Gomora, yang eksistensinya sebelumnya telah diragukan oleh beberapa sarjana. Catatan-catatan Ebla juga menyebut banyak nama pribadi yang serupa dengan nama-nama di Alkitab. Seorang raja yang penting di Ebla adalah Eber, nama yang sama seperti seorang leluhur "Ibrani" (Kej. 10:25; 11:14; nama-nama itu mirip sekali dalam bahasa Ibrani).
Meskipun agama Ebla itu politeis, salah satu dewanya mungkin mempunyai nama yang sama dengan "Yehova" dari Perjanjian Lama. Jika demikian, lempeng-lempeng Ebla telah memberikan bukti yang menarik tentang kekunoan nama pribadi Allah yang benar.
Menjelang akhir sasrawarsa ke-3 (mulai sekitar 2300 sM) kebudayaan urban yang makmur dari Periode Perunggu Purba mulai ambruk di hadapan serbuan kaum pengembara. Mereka menyebabkan salah satu penghancuran yang paling hebat dalam sejarah Palestina. Tak satu pun kota dari Zaman Perunggu Purba yang selamat dari kehancuran total dan semuanya tidak didiami paling sedikit selama beberapa abad. Transyordania tidak menjadi kuat kembali selama hampir seribu tahun (hanya tepat waktu untuk melawan orang Israel). Beberapa tempat tidak pernah didiami lagi. Di Palestina, suatu "zaman gelap" terjadi (meskipun temuan-temuan baru sedang melengkapi keterangan yang kurang dalam gambaran tentang zaman itu). Dalam banyak hal, para penyerbu itu "terkebelakang". Kebanyakan mereka tinggal dalam goa-goa dan perkemahan di atas puing-puing kota. Tetapi, jelaslah mereka membawa beberapa tradisi mereka sendiri yang sudah maju. Barang tembikar mereka berbeda dalam bentuk dan hiasan dari tembikar Perunggu Purba; sering kali pembakarannya kurang baik dan tembikarnya rapuh.
Akan tetapi, para penyerbu ini menjadi terkenal karena mereka membangun makam sangat banyak. Para arkeolog telah menemukan tanah kuburan mereka yang luas, terutama dekat Yerikho dan Hebron. Berbeda dengan pemakaman banyak orang dalam satu kubur yang dilakukan pada Zaman Perunggu Purba dan sisanya zaman Perunggu Tengah, para pengembara ini pada umumnya menguburkan satu jenazah saja dalam satu kubur. Biasanya kubur itu mempunyai terowongan vertikal yang digali sampai ke jalan masuk horizontal yang menuju ke kubur. Kebanyakan tulang yang ditemukan berada dalam keadaan tidak teratur, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang berkabung membawa kembali orang mereka yang sudah meninggal ke tanah kuburan suku mereka setelah musim migrasi mereka berakhir (bdg. Yakub dan Yusuf, Kej. 50). Dekat Yerikho para arkeolog menemukan sebuah kuil terbuka yang tak bertembok yang telah diresmikan kaum pengembara itu dengan mengorbankan anak-anak (bdg. Mzm. 106:37-38, yang menceritakan bagaimana orang Israel mengambil alih kebiasaan ini).
Siapakah para penyerbu baru ini? Tentu saja, kita tidak memiliki laporan tertulis. Akan tetapi, kebanyakan sarjana berpendapat bahwa mereka paling tidak adalah sebagian dari golongan yang umumnya dinamakan orang Amori. Istilah ini mula-mula berarti "Orang Barat" dan orang Mesopotamia menggunakannya untuk para penyerbu yang memasuki negeri mereka dari Barat. Anggota-anggota lain dari golongan ini mungkin telah menyerbu Mesir kira-kira pada waktu yang sama (masa yang disebut di Mesir sebagai Periode Pertengahan yang Pertama).
Alkitab menggunakan istilah orang Amori dalam arti yang sedikit lebih umum dan populer, serta mengacu kepada penduduk pribumi negeri itu sebelum bangsa Israel masuk. Dengan demikian maka istilah Orang Amori pada dasarnya menjadi searti dengan orang Kanaan. Pada waktu orang Israel menyerbu Kanaan, kedua istilah itu sudah dipakai bertukar-tukar. Tetapi apakah hubungan yang semula di antara kedua golongan ini? Para arkeolog yang yakin bahwa orang Amori telah bermukim di Palestina selama Zaman Perunggu Tengah I menganggap bahwa "orang Kanaan" adalah golongan penyerbu dari Zaman Perunggu Tengah II A, yang pindah dari Fenisia ke sepanjang pantai Laut Tengah. Akan tetapi, kesusastraan Timur Dekat baru kemudian hari menyebut orang Kanaan. Pada waktu itu kata Kanaan dipakai untuk mengacu kepada suatu lokasi geografis. Karena itu kebanyakan arkeolog modern menganggap bahwa "orang Kanaan" hanya merupakan nama yang kemudian dipakai untuk orang Amori. Sayang sekali, tidak semua ahli sepakat tentang hal ini. Bagaimanapun juga, hal ini merupakan masalah yang urgan untuk orang yang percaya Alkitab, karena ini akan membantu untuk mengenali tarikh dari bapa-bapa leluhur.
Untuk waktu yang lama, Albright, Glueck, dan banyak arkeolog lainnya menyangka bahwa para bapa leluhur entah bagaimana ada pertalian dengan orang Amori. Bagaimanapun, orang Amori menetap di daerah Negev yang setengah gersang yang menjadi daerah pengembaraan para bapa leluhur. Akan tetapi, bapa-bapa leluhur itu juga tinggal di berbagai kota (Sikhem, Betel, dan Hebron) dan selama periode Perunggu Tengah I tidak ada pusat-pusat perkotaan di Palestina. Lagi pula, bapa-bapa leluhur melaksanakan pemakaman orang banyak dalam satu kubur (Kej. 23:7-20), berbeda dengan kebiasaan Perunggu Tengah I yang mengadakan pemakaman perseorangan. Maka kami enggan untuk menyatakan bahwa para bapa leluhur identik dengan "orang Amori"; rupanya tidak cocok dengan kejadian-kejadian di Palestina, juga tidak cocok dengan kejadian-kejadian di negeri-negeri tetangga. Para arkeolog masa kini bahkan tidak mencoba untuk mengenali para penyerbu Perunggu Tengah I, dan mereka menarikhkan para bapa leluhur beberapa waktu kemudian tahun 1900 M.
Ada bukti dari luar Palestina yang menunjukkan bahwa bapa-bapa leluhur mendiami daerah-daerah gurun pasir di dekat pusat-pusat perkotaan pada masa itu. Kota-kota Mesopotamia, Mari dan Nuzi, dalam banyak hal menyerupai kebudayaan para bapa leluhur. Tarikh kota Mari ditetapkan pada abad ke-18 sM dan kota Nuzi pada abad ke-16 sM. Hal ini menunjukkan bahwa bapa-bapa leluhur hidup pada Zaman Perunggu Tengah II A dan bukan pada Zaman Perunggu Tengah I (waktu dari kaum penyerbu yang baru).
Beberapa informasi dari Ebla menunjukkan bahwa para bapa leluhur mungkin hidup jauh sebelum tahun 2000 sM. Tetapi beberapa laporan sekular dari luar Palestina tidak meneguhkan bahwa mereka hidup pada kurun waktu ini.
Kita telah memperhatikan bahwa satu gelombang lain dari kaum penyerbu dari utara telah memasuki Palestina sebelum Zaman Perunggu Tengah II A (kira-kira tahun 1900 sM). Colin McEvedy mengatakan bahwa "barangkali ini suatu segi lain dari migrasi orang Amori."23
Kurun waktu Perunggu Tengah II B diantar oleh suatu penyerbuan lain lagi dari utara. Kaum penyerbu ini mendesak melalui Palestina sampai ke Mesir, dan memulai Periode Tengah Kedua di negeri itu. Di Mesir' kaum penyerbu baru ini dikenal sebagai kaum Hiksos ("penyerbu-penyerbu asing"). Mereka memusatkan kegiatan mereka keliling kota Tanis dan Avaris di bagian timur laut Mesir, yang lebih dekat dengan tanah air mereka. Alkitab mengacu pada Avaris sebagai Soan, dan Bil. 13:22 menentukan tanggal pendiriannya sesudah masa Abraham. Oleh karena kaum Hiksos mungkin berkerabat dengan atau adalah keturunan orang Amori, mereka mungkin menganggap orang Israel sebagai saingan untuk merebut takhta. Banyak sarjana percaya bahwa kaum Hiksos memerintah Mesir selama tahun-tahun Israel hidup dalam perbudakan.
Sekali lagi pemakaman banyak orang dalam satu kabar menjadi umum selama periode Hiksos. Sebenarnya banyak kali makam-makam itu dibuka kembali. Anggota pasukan berkuda Hiksos kadang-kadang dikuburkan bersama kuda dan perlengkapan senjata mereka, bersama dengan barang tembikar, perhiasan, dan alat-alat lain untuk kehidupan sehari-hari. Dekat Yerikho, Dr. Kenyon menemukan beberapa makam jenis ini yang terpelihara baik dari Zaman Perunggu Tengah II.24
Mungkin periode kaum Hiksos ini bertahan dari tahun 1750 sampai 1550 sM. Paruhan akhir dari kurun waktu itu (setelah tahun 1650 sM) biasanya dinamakan Perunggu Tengah II C. Sebuah suku "Indo-Arian" (segolongan orang bukan Semit yang berasal dari dataran tinggi Iran) mulai berkuasa di Timur Dekat pada waktu ini. Barangkali mereka itu orang Huri (atau "orang Hori" seperti mereka disebut oleh Alkitab). Kira-kira satu abad kemudian mereka membangun imperium Mitanni yang untuk sementara waktu sama-sama berkuasa dengan Mesir. Orang Huri kawin mengawini dengan orang Amori. Barangkali hal ini menjelaskan mengapa Nuzi, kota orang Huri, menunjukkan kesamaan yang dekat dengan kebudayaan para bapa leluhur.
Para arkeolog telah menemukan bahwa bangsa Indo-Arian mempunyai pengaruh yang kuat atas Palestina. Rupanya mereka memperkenalkan banyak senjata dan alat baru. Mereka membawa kereta-kereta yang ditarik oleh kuda, busur dari kayu dan tanduk, dan jenis-jenis kubu pertahanan yang baru. Mereka memperlengkapi hampir setiap kota utama dari Siria Tengah sampai ke Delta Nil dengan sebuah tembok pertahanan yang dinamakan glacis. Glacis ini dibuat dari berbagai lapisan yang berganti-ganti dari tanah yang ditumbuk, tanah liat, dan kerikil, lalu semuanya ditutupi gips. Tembok itu melandai dari tembok-tembok kota dari batu ke parit yang kering di bawah. Mungkin glacis itu dirancang untuk menghalangi serangan pasukan berkuda dan alat-alat pendobrak. Kota-kota Indo-Arian ini juga memiliki tembok-tembok raksasa - sebaris batu-batu besar yang bersandar pada tanggul tanah yang sangat besar. Penduduk juga sering kali membangun tanah-tanah berpagar yang berbentuk persegi panjang di sebelah kota yang berkubu itu, dikelilingi oleh benteng yang tinggi. Tempat-tempat berpagar ini mungkin dipakai sebagai perkemahan tentara atau tempat untuk kuda-kuda; tetapi tidak lama kemudian rumah-rumah pribadi dibangun di tempat-tempat itu sehingga menjadi kota-kota satelit dari benteng-benteng itu. Hazor di Tanah Suci merupakan contoh yang bagus sekali.
Zaman Perunggu Tengah II (mungkin pada masa ini bapa-bapa leluhur memasuki Kanaan) adalah salah satu periode yang paling makmur di Palestina. Para arkeolog telah menggali banyak benteng kuil raksasa yang dibangun selama periode ini. Akan tetapi, manuskrip dari kurun waktu ini hanya sedikit sekali, karena itu kita tidak mengetahui banyak tentang politik atau sejarah sekularnya. Sedikit saja yang disebut Alkitab tentang dunia sekular.
Periode Perunggu Akhir mulai sekitar 550 sM. Orang Mesir merebut takhta mereka kembali dan mengusir orang Hiksos dari negeri mereka sekitar masa ini. Musa dilahirkan Pada masa ini yang penuh kesukaran. Pada tahun 1500 sM kebanyakan kota Hiksos di Palestina telah dihancurkan pada tahun 1468 sM, Thutmose III mengalahkan orang Hiksos dalam sebuah pertempuran yang tersohor di Jurang Megido. Firaun ini meninggalkan banyak cerita tentang pertempuran ini di dalam prasasti-prasastinya. Pasukan-pasukan Mesir maju ke utara dan akhirnya mencapai Sungai Efrat. Namun, penguasaan politik penuh dari Mesir tidak diperluas sejauh itu.
Kanaan tidak makmur selama masa ini, di ambang penaklukan oleh Israel. Rupanya kepemimpinan para firaun Mesir lemah terhadap pemerintahan boneka mereka di Palestina; waktu mereka dihabiskan oleh petualangan militer ke daerah utara. Maka negeri Kanaan secara berangsur-angsur menjadi sekelompok negara kota kecil yang tidak berhubungan dan sering bertengkar. Kecenderungan-kecenderungan suka bertengkar ini memuncak pada abad ke-14, yang dinamakan Zaman Amarna. Nama ini datang dari nama modern yang diberikan kepada reruntuhan ibu kota raja Mesir yang tak suka menuruti kebiasaan yang berlaku, yaitu Amenhotep IV atau Akhnaton. Ia menolak ibu kota dan keimaman Mesir yang tradisional dan mendirikan ibu kotanya sendiri di daerah Nil tengah. Lagi pula, Akhnaton tidak menyukai politik dan urusan pemerintahan imperium Mesir di Palestina.
Dari situasi ini terbitlah apa yang dinamakan surat-surat Amarna, yang dikirim oleh raja-raja kecil di Palestina kepada firaun. Rupanya ia hanya membuang surat-surat itu di tempat di mana para arkeolog modern menemukannya. Walaupun surat-surat Amarna itu ditulis dalam cuneiform Akkad (bahasa diplomasi internasional pada masa itu), surat-surat itu sangat dipengaruhi oleh logat Kanaan setempat. Surat-surat Amarna memberikan banyak informasi tentang bahasa setempat menjelang penyerbuan oleh orang Israel. Para penguasa dari berbagai negara kota itu mengaku setia kepada firaun, tetapi jelaslah bahwa banyak di antara mereka hanya berusaha untuk memajukan karier mereka sendiri dengan mengorbankan sesama mereka.
Yang secara khusus menarik perhatian adalah banyaknya surat-surat yang memohon bantuan dari firaun terhadap serangan-serangan orang Habiru. Seorang penguasa menulis, "OrangHabiru sedang menjarah semua tanah raja. Apabila tidak ada masukan yang datang tahun ini juga, maka semua tanah raja akan hilang."25 Dari segi ilmu bahasa, kata Habiru mirip sekali dengan "Hebrew" (Ibrani), tetapi keduanya tidak ada pertalian satu dengan yang lain. Istilah Habiru dapat, ditemukan di seluruh Asia barat dari akhir sasrawarsa ke-3 sampai dengan akhir sasrawarsa ke-2. Istilah ini pada dasarnya tidak bersifat etnis atau politis, tetapi sosiologis. Yang dimaksudkan dengan istilah ini adalah orang dari hampir jenis apa saja yang tidak mempunyai tanah, biasanya setengah pengembara yang menjual jasa mereka kepada penduduk kota pada masa damai, tetapi yang mengancam kestabilan mereka ketika kota-kota itu menjadi lemah. Penguasa dari berbagai negara kota di Kanaan mungkin sekali menganggap orang Israel termasuk orang Habiru, tetapi istilah ini mengacu kepada banyak kaum yang lain juga. Perhatikan bahwa orang Israel tidak menyebutkan diri mereka sendiri sebagai "orang Ibrani" sampai jauh kemudian; sebaliknya, mereka menyebut diri mereka "bani (keturunan) Israel."
Beberapa ahli berpendapat bahwa "penyerbuan Israel" sebenarnya adalah pemberontakan dalam negeri dari budak-budak pengolah tanah yang ditindas terhadap tuan-tuan tanah di kota-kota. Budak-budak ini bersekongkol dengan para pendatang baru dari seberang Yordan. Sekalipun kaum petani Kanaan mungkin benar-benar telah memberontak melawan para pemilik tanah, Alkitab menunjukkan dengan jelas bahwa para budak pengolah tanah ini hanya memainkan peranan yang kurang penting dalam penyerbuan itu, apabila mereka terlibat juga.
Setelah kelalaian Akhnaton membawa Mesir ke ambang keruntuhan, dinasti ke-19 atau dinasti Rameside membawa kebangkitan singkat dari kuasa Mesir pada abad ke-13, atau zaman Perunggu Akhir II. Tetapi ternyata itulah hembusan nafas terakhir dari Mesir. Patung-patung dan kuil-kuil raksasa dari para Ramses, terutama Ramses II, tidak dapat menyembunyikan kenyataan tersebut. Walaupun Mesir terus mencampuri urusan-urusan Kanaan sepanjang sejarah Alkitab, ia tidak pernah lagi dapat menjadi lebih berkuasa daripada "tongkat bambu yang patah terkulai . . . yang akan menembus dan menusuk tangan orang yang bertopang kepadanya" (Yes. 36:6) Bangsa-bangsa yang berkuasa sedang berjuang untuk merebut Timur Dekat, dan Mesir hampir tak mampu untuk bertahan hidup.
Serombongan besar orang-orang belum beradab bergerak turun dari daerah Balkan dan Laut Hitam, sambil menelan dan melenyapkan tiap peradaban yang menghalangi jalannya: bangsa Misena di Yunani selatan, bangsa Het di Asia Kecil, dan para penghuni tetap Kanaan Sepanjang pantai Laut Tengah sampai ke perbatasan Mesir. Dalam pertahanan yang terakhir di Medinet Habu, Ramses III menghentikan gerombolan orang-orang belum beradab itu, tetapi usaha ini menghabiskan sumber-sumber terakhir Mesir. Prasasti-prasasti Mesir menyebut gerombolan bakal penyerbu ini sebagai "Orang Laut", tetapi hampir pasti bahwa mereka adalah orang-orang yang disebut "orang Filistin" di Alkitab. Ironis memang bahwa akhirnya daerah ini dinamakan menurut mereka - Palestina. Setelah kekalahan mereka, "Orang Laut" ini setuju untuk menjadi negara penyangga terhadap penyerbuan selanjutnya terhadap Mesir. Mungkin itulah status mereka ketika mereka bentrokan dengan orang Israel yang mengalir masuk dari tenggara.
Bukti arkeologis menganjurkan bahwa orang Israel tiba lebih dulu, dari orang Filistin, didorong mundur oleh para penyerbu Filistin, dan kemudian menaklukkan orang Filistin di bawah pimpinan Yosua. Kisah-kisah Alkitab yang mengatakan bahwa Yosua menyapu bersih daerah itu sampai ke pantai Laut Tengah (Yos. 10:40-41) bukan perkataan membual saja. Kisah-kisah itu didukung oleh pertama kalinya Israel disebut dalam sejarah di luar Alkitab oleh Firaun Merneptah (sekitar 1224-1211), yang memimpin serangan ke dalam wilayah Kanaan sebelum konfrontasi Ramses III dengan orang Filistin. Setelah ia kembali, Merneptah menyombongkan diri bahwa "Israel diporak-porandakan, sedangkan benihnya tidak." Laporannya menyebut Israel sebagai suatu kaum, bukan sebagai suatu bangsa. Sudah pasti itulah status mereka tidak lama sesudah mereka memasuki Kanaan di bawah pimpinan Yosua.
Bukti arkeologis tidak mendukung kisah Alkitab tentang penaklukan itu sekokoh yang kita inginkan. Tentu saja, arkeologi paling-paling hanya dapat "membuktikan" pembinasaan kota-kota tertentu pada masa tertentu; arkeologi tidak dapat memberitahukan kepada kita mengapa kota-kota itu dibinasakan, atau oleh siapa. Bagaimanapun juga, kekurangan bukti itu tidak memberi hak kepada kita untuk menentang Alkitab; itu akan merupakan argumentasi dari keheningan.
Ada banyak penjelasan yang baik untuk jarangnya bukti dari kota-kota dalam kurun waktu ini. Misalnya, erosi yang hebat dari situs Yerikho selama berabad-abad tempat itu tidak didiami menerangkan kurangnya bukti Zaman Perunggu Akhir di tempat ini. Penjelasan yang serupa dapat dikenakan pada Gibeon; tetapi mungkin juga kota itu terletak di tempat yang lain pada zaman Yosua. (Bukanlah suatu hal yang luar biasa bagi bangsa-bangsa Timur Dekat untuk memindahkan tempat kota-kota mereka ketika kota itu dibinasakan oleh orang atau bencana alam.) Kurangnya bukti kehancuran di Sikhem sesuai dengan kisah Alkitab bahwa kota itu tidak perlu dihancurkan - barangkali sebab sebuah "pasukan pengawal terdepan" dari orang Israel telah menguasai tempat itu (bdg. Kej. 34). Laporan Alkitab tentang pembinasaan telah diperkuat dengan baik oleh temuan-temuan di Hazor, Lakhis, dan Debir (bdg. Yos. 10:11, 30-31, 38-39).
Kita tidak perlu merasa heran bahwa benda-benda peninggalan dari Zaman Besi I secara relatif rendah mutunya. Orang Israel tidak berpengalaman dalam kesenian peradaban dan mereka sebenarnya tidak menegakkan kebudayaan mereka di Kanaan sebelum asa Daud dan Salomo. Seperti yang ditunjukkan oleh Kitab Hakim-Hakim, suatu periode konsolidasi yang berlarut-larut dan penuh kesukaran menyusul kemenangan-kemenangan kilat yang mula-mula diraih oleh Yosua. Berbagai penggalian dalam tahun-tahun belakangan ,di Asdod telah menggambarkan, sebagai perbandingan, tingkat yang , tinggi dari kebudayaan Filistin pada waktu yang sama ini. Sering kali berbagai barang peninggalan dari kota-kota Filistin menunjukkan latar belakang Aegea dari orang Filistin. Imperialisme Filistin mencapai puncaknya ketika mereka merampas tabut perjanjian dan membinasakan Silo (I Sam. 4:1-10). Penelitian arkeologis sekarang telah memperkuat kekalahan ini. Benteng Saul di Gibea, di utara Yerusalem, merupakan contoh lain dari arsitektur yang kasar pada Zaman Besi I. Seperti yang dikatakan W. H. Morton, "Strukturnya sederhana, begitu pula perabotnya ... yang ditunjukkan oleh kecilnya ruangan-ruangan dan kualitas yang kasar dari benda-benda peninggalannya.26
Dengan majunya kerajaan Daud, kita mempunyai lebih banyak sejarah sekular untuk memperkuat rekaman Alkitab, dan karena itu kita kurang bergantung pada arkeologi daripada ketika kita memerlukan informasi tentang periode-periode yang lebih kuno. Catatan-catatan dari kerajaan-kerajaan besar pada zaman itu, terutama dari Asyur, sering kali sejajar dan memberikan lebih banyak rincian pada kesaksian Alkitab.
Baru dalam tahun-tahun belakangan ini para arkeolog menemukan sedikit reruntuhan dari kota orang Yebus yaitu Yerusalem (Ofel), telah direbut oleh Daud dan Yoab. Terowongan yang hampir vertikal ke tempat penampungan air telah ditemukan lebih dahulu, begitu pula terowongan pengganti yang dibangun oleh Hizkia, yang membawa air dari Sungai Gihon ke kolam Siloam yang berada di dalam tembok kota. Serangkaian penggalian yang baru yang belum lama dimulai mungkin akan menemukan lebih banyak mengenai sejarah purba dari tempat yang sangat penting ini.
Oleh karena orang Israel sedang membangun banyak gedung baru, para arkeolog telah menemukan lebih banyak dari usaha Salomo dalam dasawarsa yang lalu. Di antaranya terdapat kubu-kubunya yang sangat besar di seluruh negeri itu, termasuk pintu gerbang ukuran standar di banyak tempat (misalnya, Gezer, Magido, dan Hazor).
Para arkeolog Israel baru mulai mengumumkan temuan-temuan terbaru mereka di bait suci Salomo. Kita tahu tentang banyak persamaan dengan rencana denahnya dan beberapa detail strukturnya.
Kepustakaan arkeologis yang dahulu menggembar-gemborkan pentingnya "kandang-kandang Salomo" di Megido; tetapi kini para ahli memperdebatkan apakah itu benar-benar kandang dan apakah itu kandang Salomo. Sudah hampir pasti bahwa temuan-temuan itu harus ditarikhkan kembali ke zaman Ahab.
Tidak lama setelah zaman Salomo, seseorang menyiapkan dokumen tanah liat yang kita kenal sebagai "kalender Gezer" yang tersohor. Rupanya, kalender ini hanya tugas seorang murid sekolah untuk menghafal kegiatan pertanian untuk tiap bulan dalam setahun; tetapi sampai tahun-tahun belakangan ini, kalender tersebut adalah contoh tertua yang kita kenal dari tulisan Ibrani.27
Secara arkeologis kita dapat merunut usaha-usaha pertama Baesa untuk membangun sebuah ibu kota di Tirza (I Raj. 15:33) dan pendirian kota Samaria oleh Omri (I Raj. 16:24). Di antara banyak temuan yang mengagumkan di Samaria, ada dua yang menonjol: piagam-piagam dari gading dan ostraca. Rupanya, piagam-piagam itu adalah tatahan di "istana gading" Ahab (I Raj. 22:39) dan raja-raja lain yang mirip sekali dengan gedung-gedung yang populer di Fenisia dan Asyur pada masa itu. Ostraca itu (pecahan-pecahan tembikar yang ditulisi) barangkali berasal dari pemerintahan Yerobeam II. Pada ostrakon itu tertulis catatan-catatan yang biasa mengenai pajak atau sumbangan kepada raja, tetapi semuanya itu penting bagi pekerjaan para ahli bahasa.
Mulai sekitar zaman Omri dan Ahab, orang Asyur meningkatkan tekanan mereka pada Israel dan Yehuda. Catatan arkeologis tentang konflik tersebut terlalu banyak untuk dirincikan di sini. Ostraca Lakhis yang tersohor (ditemukan di rumah jaga dari. salah satu pintu gerbang kota itu) hampir sezaman dengan kejatuhan Yerusalem ke tangan Babel pada tahun 587 sM. Berbagai penggalian baru-baru ini di Yerusalem telah menemukan sebagian tembok yang telah dirobohkan oleh pasukan Babel, dan bahkan beberapa ujung panah yang dipanah oleh para penyerang. Kita mengetahui sedikit sekali tentang beberapa periode sesudah Pembuangan (seperti Periode Persia) sama seperti kita hanya mengetahui sedikit sekali tentang zaman bapa-bapa leluhur. Temuan-temuan arkeologis untuk periode-periode ini kurang sekali. Akan tetapi, para arkeolog telah menemukan tembok-tembok yang dibangun kembali oleh Nehemia di sekeliling Yerusalem, dan inskripsi-inskripsi yang menyebut nama ketiga musuhnya - Sanbalat, Tobia, dan Gesyem (bdg. Neh. 6:1).
Arkeologi tidak memberi informasi langsung mengenai penyerbuan Aleksander Agung ke Palestina (330 sM) dan permulaan Periode Helenistis. Akan tetapi, kita memiliki banyak laporan tertulis dari periode ini, terutama dari sumber Yunani dan Romawi. Hal ini mengurangi ketergantungan kita pada arkeologi. Bahkan arkeologi yang paling penting dari masa perjuangan kaum Makabe adalah gulungan-gulungan naskah Qumran yang terkenal, yang ditemukan dalam goa-goa sepanjang pantai utara Laut Mati pada tahun 1947. Gulungan-gulungan naskah ini telah disimpan dalam tempayan-tempayan yang besar sekali oleh anggota-anggota sebuah sekte pertapa Yahudi, mungkin kaum Eseni. Namun, pentingnya gulungan-gulungan naskah ini untuk Perjanjian Lama sebagian besar terbatas pada bidang penelitian naskah. Bagi ahli Perjanjian Baru, naskah-naskah tersebut membantu untuk menjelaskan gejolak agama dan politik pada masa itu.
Pada umumnya, arkeologi alkitabiah kurang sekali berurusan dengan Perjanjian Baru daripada dengan Perjanjian Lama. Ada alasan yang baik untuk hal ini. Berlimpahnya informasi pustaka tentang kurun waktu Perjanjian Baru membuat kita kurang bergantung pada sumber-sumber arkeologis. Juga sejarah Perjanjian Baru sebagian besar adalah tentang suatu kelompok kecil yang hanya kadang-kadang berkaitan dengan sejarah di luar kalangan mereka. Kekristenan tidak meninggalkan arsitekturnya sendiri sampai sesudah ia menjadi agama negara pada abad ke-4.
Banyak penggalian telah dilakukan pada tempat-tempat tradisional dari kejadian-kejadian Perjanjian Baru. Sebagian besar pekerjaan ini telah dilakukan oleh para rahib Fransiskan, yang secara tradisional telah diserahi pemeliharaan "tempat-tempat suci" di Palestina. Akan tetapi, pada umumnya mereka hanya menemukan reruntuhan gereja-gereja atau tempat ibadah yang didirikan di tempat-tempat ini tidak lama sesudah bagian awal abad ke-4. Banyak di antara tempat-tempat suci ini mungkin dibangun atas perintah Helena, ibu Kaisar Constantinus. Jarang arkeolog itu dapat membuktikan (atau menyanggah!) keaslian tempat-tempat ini atau menemukan bukti yang dengan jelas penghubungannya dengan zaman Perjanjian Baru.
Namun, ada beberapa kekecualian penting di mana buktinya dengan jelas menjangkau ke zaman Perjanjian Baru. Yang paling penting adalah tempat-tempat di dalam atau di sekitar Yerusalem sendiri, di mana permukiman masa kini biasanya sangat mempersulit penggalian. Para arkeolog mengatakan beberapa penyelidikan berhubungan dengan renovasi Gereja Makam Suci (Church of the Holy Sepulchre) yang meliputi tempat tradisional Kalvari dan makam Yusuf. (Ada beberapa klaim yang bersaing untuk tempat-tempat ini, terutama "Kalvari temuan Gordon" dan "Makam di Taman" yang berada di luar tembok-tembok kota yang sekarang. Tetapi tempat-tempat ini diabaikan oleh hampir semua kesarjanaan ilmiah.)
Temuan-temuan penting lain telah muncul selama berbagai penggalian arkeolog Israel di sekitar Bukit Bait Suci. Telah lama diketahui bahwa apa yang dinamakan "Tembok Ratapan" adalah bagian Bari tembok barat yang didirikan oleh para pembangun Herodes berhubungan dengan pembangunan kembali bait suci.
Di belakang Gereja Sta. Anne di pinggir utara kawasan Bukit Bait Suci, para arkeolog telah menemukan apa yang mungkin merupakan tempat penyembuhan seorang lumpuh oleh Yesus (Yoh. 5:1-9). Di bawah sebuah basilik abad ke-5 di tempat itu, para penyelidik menemukan sisa-sisa dari berbagai kolam dan kamar mandi. Rupanya mukjizat Yesus terjadi di sebuah kolam kecil dekat jalan masuk ke sebuah goa di tempat itu.
Bagaimanapun juga, banyak detail dari kota di sekitarnya tetap tidak jelas. Misalnya, telah ditunjukkan bahwa Lengkungan Robinson", yang menonjol dari tembok barat bait suci,bukanlah permulaan sebuah jembatan melintasi Lembah Tiropuon, seperti pendapat sebelumnya. Sebaliknya, tonjolan itu adalah hubungan terakhir dalam sistem tangga yang megah yang menanjak dari jalan utama di bawah ke halaman bait suci itu sendiri. Di sebelah selatan Bukit Bait Suci para arkeolog telah menemukan sebuah lapangan berubin yang bagus sekali dan tangga lebar yang menuju ke "Gerbang Hulda", pintu masuk utama ke pelataran bait suci pada zaman Kristus. (Temuan-temuan ' ini membuktikan bahwa deskripsi Yosefus tentang bangunan ini dan bangunan-bangunan lain di dekatnya adalah luar biasa akurat.)
Di seberang lembah di bukit barat Yerusalem, para arkeolog telah menemukan tempat-tempat kediaman yang mewah dari zaman Herodes. Temuan ini juga telah membuktikan bahwa daerah ini telah didiami dan dipagari tembok ketika bait suci Salomo didirikan. Bagian ini dari kota Yerusalem barangkali merupakan "perkampungan baru" yang disebut di II Raj. 22:14 dan Zef. 1:10.
Tempat-tempat lain dari zaman Herodes telah dibersihkan dalam tahun-tahun belakangan. Barangkali yang paling tersohor adalah tempat peristirahatan Herodes di Masada, yang memandang ke bawah ke Ujung selatan dari Laut Mati. Setelah Titus membinasakan Yerusalem (tahun 70 M), Masada menjadi tempat perlindungan untuk orang-orang Zelot fanatik yang melarikan diri dari pasukan-pasukan Romawi. Tentara Romawi akhirnya merebut tempat itu setelah pengepungan yang lama, hanya untuk menemukan bahwa hampir semua pembela telah mati dalam suatu persetujuan bunuh diri.
Gedung "Herodium," yang menjulang tinggi di kaki langit beberapa kilometer di tenggara Betlehem, belum lama lalu telah dibersihkan juga. Bangunan ini mungkin dapat dinamakan "mausoleum" Herodes, meskipun dapat diperdebatkan apakah ia betul-betul dimakamkan dalam bangunan yang mewah ini di puncak bukit atau di suatu tempat di lereng yang lebih di bawah. Akhirnya, kami harus menyebutkan "penggalian" di tempat Yerikho dari zaman Perjanjian Baru (sekitar satu mil sebelah barat kota Yerikho dari Perjanjian Lama, di kaki gunung). Kota ini Salah satu tempat pengasingan diri Herodes yang paling mewah, penuh dengan istana, pemandian, kolam, taman terendam, dan lain-lain. Pastilah di tempat ini ia menyelenggarakan beberapa di antara pesta poranya yang keji.
Tidak jauh dari situ terdapat Qumran, yang digali oleh sarjana dari ordo Dominikan, Roland de Vaux. Bagian terbesar dari pengetahuan kita tentang tempat yang penting ini didasarkan pada gulungan-gulungan naskah terkenal yang terdapat di sana. (Lihat "Teks dan Terjemahan.") Akan tetapi, penggalian de Vaux telah menerangi kehidupan komunitas itu. Misalnya, ia menemukan berbagai alat yang rumit untuk menadah dan menyimpan air hujan yang jarang turun. De Vaux juga menemukan ruangan scriptorium, di mana mula-mula gulungan-gulungan naskah yang terkenal itu disalin.
Di bagian barat pantai Laut Tengah, di Kaisarea Maritima, penggalian-penggalian yang terus dilanjutkan telah menampakkan banyak dari rancangan kota besar dari zaman Roma dan Bizantium. Dalam banyak hal, Kaisarea memiliki corak khas dari pembangunan kota pada masa itu. Barang-barang peninggalan di Kaisarea menggambarkan bagaimana orang Yahudi, Kristen, dan penyembah berhala hidup dan bekerja berdampingan dalam pusat-pusat metropolitan seperti itu.
Sinagoge Kapernaum yang secara relatif terpelihara dengan baik tak mungkin merupakan sinagoge tempat Yesus mengajar (Mrk. 1:21). Sinagoge yang masih ada ini telah dibangun pada abad ke-3 atau ke-4. Akan tetapi, mungkin sekali inilah pengganti dari sinagoge yang dikenal oleh Yesus, dan mungkin konstruksinya mirip sekali. Para arkeolog berpendapat bahwa mereka mungkin telah menemukan rumah Petrus di tempat yang sama (Mat. 8:14 dst.) Tulisan-tulisan di dinding-dinding rumah abad ke-2 yang dibuat dari plester ini dengan jelas menghubungkannya dengan Petrus. Kemudian rumah ini diganti dengan berbagai gedung gereja bersegi delapan secara berturut-turut.
Di puncak Gunung Gerizim, penggalian telah menemukan dasar bait suci Samaria yang menyaingi bait suci di Yerusalem pada zaman Perjanjian Baru. Sekarang para pengunjung dapat melihat bekas-bekas dari tangga yang sangat besar yang dibangun di lereng gunung itu menuju ke kota yang berada di bawah. Dekat dasar tangga ini terdapat tempat tradisional dari "sumur Yakub" (bdg. Yoh. 4:1-42), yang mungkin sekali autentik.
Pencarian tempat-tempat kejadian kisah-kisah Injil telah berlangsung 'selama berabad-abad. Sedikit tradisi mencatat tempat-tempat yang paling tua. Lokasi sebuah goa di Betlehem tempat Yesus dilahirkan telah diberi tahu kepada Yustinus Martyr. (Hal ini pasti terjadi sebelum tahun 130 M.) Lokasi Golgota yang diperkirakan pada ujung Via Dolorosa pertama kalinya disebut pada tahun 135 M. dan secara resmi diakui oleh Kaisar Constantinus sesudah tahun 325 M. Kedua tempat itu (yaitu tempat kelahiran dan kematian Yesus) terus menerus telah dihormati sampai ke masa kini. Penggalian di dalam dan di sekeliling Yerusalem mulai memberikan ide yang lebih baik tentang rupa kota itu pada zaman Perjanjian Baru.
PERIODE-PERIODE ARKEOLOGIS DI PALESTINA
Periode
Tanggal
Peristiwa Alkitab
I. Zaman Batu


A. Paleolitik (Batu Lama)
10.000-8000 sM
B. Mesolitik (Batu Tengah)
8000-5500 sM

C. Neolitik (Batu Baru)
5500-4000 sM

II. Periode Chalcolithic



A. Megalitik
4000-3200 sM

B. Ghassulian
3500-3200 sM

III. Zaman Perunggu



A. Perunggu Purba
3200-2200 sM


B. Perunggu Tengah I
2200-1950 sM
Abraham lahir (2166 sM)

C. Perunggu Tengah II A
1950-1750 sM
Yakub masuk Mesir (1876 sM)

D. Perunggu Tengah II B
1750-1550 sM
Peristiwa Keluaran

E. Perunggu Akhir
1550-1200 sM
(1446 sM)

IV. Zaman Besi



A. Zaman Besi I
1200-970 sM
Daud menjadi raja (1004 sM)

B. Zaman Besi II
970-580 sM
Kejatuhan Israel (586 sM)

C. Zaman Besi III
580-330 sM
Orang Yahudi kembali (539 sM)

V. Periode Helenistik
330-63 sM


VI. Periode Romawi
635 M-330 M
Kristus disalibkan (thn. 30 M)


Orang Israel dari zaman Perjanjian Lama berhubungan dengan orang Kanaan, Mesir, Babel, dan bangsa-bangsa lain yang menyembah ilah-ilah palsu. Allah mengingatkan umat-Nya untuk tidak meniru perilaku tetangga mereka yang menyembah berhala, tetapi orang Israel tidak mematuhi Dia. Berulang-ulang mereka terjerumus ke dalam penyembahan berhala.
Apakah yang disembah oleh bangsa-bangsa penyembah berhala ini? Dan bagaimana penyembahan mereka dapat menarik orang Israel hingga menjauhi Allah yang benar?
Dengan meneliti kebudayaan para penyembah berhala ini, kita mengetahui bagaimana manusia mencoba untuk menjawab persoalan utama kehidupan sebelum ia menemukan terang kebenaran Allah. Kita juga mulai mengerti dunia tempat Israel diam - Israel dipanggil untuk menjadi berbeda sama sekali dari dunia ini, baik dalam hal etika maupun dalam hal ideologi.
Sebelum memulai penelitian seperti itu, kita harus memperhatikan beberapa peringatan. Pertama, kita perlu mengingat bahwa paling tidak kita berada sejauh dua sasrawarsa dari kebudayaan-kebudayaan yang hendak kita gambarkan. Buktinya (naskah, gedung, artefak) sering kali amat kurang lengkap. Jadi kita harus berhati-hati bila menarik kesimpulan.
Kedua, kita harus menyadari bahwa kita diam dalam sebuah masyarakat yang pluralistik, di mana setiap orang bebas untuk percaya atau tidak percaya menurut pilihannya sendiri; tetapi orang-orang pada zaman purba merasa bahwa mereka memerlukan agama. Seorang agnostik atau "orang yang tidak mengakui ajaran agama" akan merasa tidak nyaman bila tinggal di antara orang Mesir, orang Het, atau bahkan orang Yunani dan orang Romawi. Agama ada di mana-mana. Agama adalah hakikat masyarakat purba. Orang memuja dewa-dewa dari kampung, kota, atau peradabannya. Apabila ia pindah ke rumah yang baru atau bepergian ke negeri asing, ia wajib menghormati dewa-dewa di sana.
Ciri-ciri tertentu biasa terdapat pada kebanyakan agama penyembah berhala. Mereka semua mempunyai pandangan hidup yang sama, yang dipusatkan pada tempat dan martabatnya. Perbedaan-perbedaan di antara agama bangsa Sumer dan Asyur-Babel atau di antara agama Yunani dan Romawi sangat kecil.
Bagian terbesar dari agama-agama ini adalah politeistis; yang berarti bahwa agama-agama tersebut mengakui banyak dewa dan setan. Setelah diterima di pantheon (kumpulan dewa-dewa di suatu kebudayaan), maka dewa itu tidak dapat dikucilkan dari situ. Dewa atau dewi itu telah memperoleh "kedudukan tetap sebagai ilah."
Setiap kebudayaan piliteistis mewarisi pikiran-pikiran keagamaannya dari para pendahulunya atau memperolehnya dalam perang. Misalnya, Nanna adalah dewa bulan bagi bangsa Sumer dan Sin menjadi dewa bulan bagi bangsa Babel. Inanna adalah dewi kesuburan dan ratu langit bagi bangsa Sumer, demikian juga Isytar bagi bangsa Babel. Bangsa Romawi hanya mengambil alih para dewa Yunani dan memberikan nama-nama Romawi kepadanya. Demikianlah, dewa Romawi, Yupiter, adalah setara dengan Zeus sebagai dewa langit; Minerva setara dengan Atena sebagai dewi hikmat; Neptunus setara dengan Poseidon sebagai dewa laut; dan lain sebagainya. Dengan kata lain, gagasan dewa itu sama; hanya selubung budayanya yang berbeda. Demikianlah satu kebudayaan purba dapat menerima agama dari kebudayaan yang lain tanpa mengubah atau menghentikan langkahnya. Setiap kebudayaan tidak hanya mengklaim dewa-dewa dari peradaban yang sebelumnya; tetapi juga mengklaim berbagai mitos mereka dan menjadikannya miliknya dengan hanya beberapa perubahan kecil.
Dewa-dewa utama sering kali dikaitkan dengan suatu fenomena alam. Jadi, Utu/Shamasy adalah matahari dan juga dewa matahari; Enki/Ea adalah laut dan juga dewa laut; Nanna/Sin adalah bulan dan juga dewa bulan. Kebudayaan-kebudayaan penyembah berhala tidak membedakan di antara unsur alam dan kekuatan apa pun di balik unsur tersebut. Manusia pada zaman purba berjuang melawan kekuatan-kekuatan alam yang tak dapat dikendalikannya, kekuatan-kekuatan yang dapat bersifat dermawan tetapi juga bersikap tidak ramah. Hujan yang cukup dapat menjamin hasil panen yang luar biasa banyaknya, tetapi terlalu banyak hujan akan merusakkan hasil panen itu. Hidup betul-betul tak dapat diramalkan, terutama karena dewa-dewa dianggap berubah-ubah dan bertingkah, sanggup berbuat yang baik atau pun yang jahat. Manusia dan para dewa menjalani jenis kehidupan yang sama; para dewa mengalami masalah dan frustrasi yang sama dengan yang dialami manusia. Paham ini disebut monisme. Jadi, ketika Mazmur 19:2 menyatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya," pemazmur mencemoohkan kepercayaan orang Mesir dan orang Babel. Bangsa-bangsa yang menyembah berhala ini tidak dapat membayangkan bahwa alam semesta memenuhi suatu rencana ilahi yang meliputi segala sesuatu.
Suatu sifat lain yang umum terdapat pada pemujaan berhala adalah ikonografi keagamaan (pembuatan patung atau totem untuk dipuja). Semua agama ini memuja berhala. Hanya Israel yang secara resmi bersifat aniconic (yaitu, tidak mempunyai patung, tidak ada gambar-gambar yang mewakili Allah). Patung-patung Yahweh, seperti anak lembu jantan yang dibuat oleh Harun dan Yerobeam (Kel. 32; I Raj. 12:26 dst.) dilarang dalam hukum yang kedua.
Akan tetapi sejarah agama mereka tidak selalu bersifat aniconis. Bangsa Israel menyembah berhala sementara mereka hidup dalam perhambaan di Mesir (Yos. 24:14); dan meskipun Tuhan telah membuang berhala mereka (Kel. 20:1-5), orang Moab menarik mereka ke penyembahan berhala lagi (Bil. 25:1-2). Penyembahan berhala mengakibatkan kejatuhan para pemimpin Israel pada periode yang berbeda-beda dalam sejarahnya dan akhirnya Allah mengizinkan bangsa ini dikalahkan "karena kurban-kurban mereka" kepada berhala (Hos. 4:19).
Kebanyakan agama penyembahan berhala menggambarkan ilah mereka secara antropomorfis (yaitu sebagai berwujud manusia). Sebenarnya, hanya seorang pakar yang dapat memandang sebuah gambar dewa-dewa dan orang-orang Babel lalu mengatakan yang mana dewa dan yang mana manusia. Para seniman Mesir biasanya menggambarkan dewa mereka sebagai pria dan wanita yang berkepala binatang. Horus adalah seorang laki-laki yang berkepala rajawali. Sekhmet adalah seorang perempuan yang berkepala singa betina. Anubis seorang laki-laki berkepala serigala, Hathor seorang perempuan berkepala sapi, dan lain sebagainya. Dewa-dewa orang Het dapat dikenal dari gambar senjata yang diletakkan di bahu mereka, atau dari sebuah benda lain yang khusus seperti sebuah topi baja dengan sepasang tanduk. Dewa-dewa Yunani juga digambarkan sebagai manusia, tetapi tanpa ciri-ciri yang kasar dari dewa-dewa bangsa Semit.
Apa maknanya menggambar dewa-dewa sebagai manusia? Pasal-pasal pertama kitab Kejadian mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej. 1:27), tetapi para penyembah berhala berusaha menjadikan dewa-dewa itu menurut gambar mereka sendiri. Artinya, dewa-dewa para penyembah berhala itu hanyalah makhluk manusia yang diperluas. Berbagai mitos dunia purba mengasumsikan bahwa para dewa mempunyai keperluan yang sama dengan keperluan manusia, kelemahan yang sama dan ketidaksempurnaan yang sama. Jikalau ada perbedaan antara dewa-dewa penyembah berhala dan manusia, maka itu hanya merupakan perbedaan tingkat. Para dewa itu adalah manusia yang dijadikan "lebih besar dari kehidupan ini." Sering kali dewa-dewa itu hanya merupakan proyeksi dari kota atau kota praja.

Kebanyakan agama penyembahan berhala mempersembahkan binatang untuk menenangkan dewa mereka yang banyak tingkahnya; beberapa agama bahkan mempersembahkan manusia. Oleh karena para penyembah kafir ini percaya bahwa dewa mereka mempunyai keinginan-keinginan manusiawi, mereka juga mempersembahkan kurban sajian dan curahan kepada mereka (bdg. Yes. 57:5-6: Yer. 7:18).
Orang Kanaan percaya bahwa kurban-kurban mempunyai kekuatan aib yang membuat para penyembah mendapat simpati dan menjadi seirama dengan dunia fisik. Akan tetapi, para dewa itu berubah-ubah, maka kadang-kadang para penyembah itu mempersembahkan kurban untuk memastikan kemenangan atas musuh mereka (bdg. II Raj. 3:26-27). Barangkali, inilah sebabnya raja-raja yang telah merosot akhlaknya di Israel dan Yehuda ikut mempersembahkan kurban-kurban secara kafir (bdg. I Raj. 21:25-26). Mereka menginginkan bantuan gaib dalam memerangi musuh mereka, orang Babel dan orang Asyur - lebih disukai bantuan dari dewa-dewa yang sama yang telah membuat musuh mereka menang.
Agama-agama politeis pada zaman purba bekerja pada dua tingkat; agama resmi dari negara beragama yang kuno dan agama populer yang sebenarnya adalah takhayul.
Setiap sistem agama purba mempunyai kepala dewa yang lebih berkuasa daripada yang lain. Bagi orang Mesir, kepala dewa ini mungkin Re, Horus, atau Osiris; bagi bangsa Sumer dan Akad, mungkin Enlil, Enki/Ea, atau Marduk; bagi orang Kanaan, kepala dewa itu mungkin El; dan bagi orang Yunani, Zeus. Kebanyakan kali, para penyembah berhala membangun kuil dan mengucapkan liturgi untuk menghormati ilah-ilah yang tinggi ini. Biasanya raja memimpin penyembahan ini, serta bertindak sebagai wakil dewa dalam sebuah jamuan, pernikahan atau pertempuran ritual. Inilah agama yang resmi.
"Kuil adalah rumah dewa itu, dan para imam adalah para pembantu rumahnya .... Tugas staf kuil itu setiap hari adalah melayani 'kebutuhan jasmani' dewa itu sesuai dengan rutin yang sudah tetap ....
"Tetapi dewa itu bukan hanya kepala kuil itu, ia juga adalah tuan dan pemimpin atas bangsanya, dan sebagai pemimpin ia berhak untuk menerima bermacam-macam persembahan dan upeti .. . . "28
Dewa-dewa dari agama negara yang resmi terlalu jauh dari rakyat biasa hingga tidak berguna baginya.
Mesir purba dibagi atas berbagai distrik yang disebut nome. Pada awal bangsa Mesir ada 22 nome di Mesir Hulu (bagian selatan) dan 20 nome di daerah delta di utara. Tiap nome mempunyai sebuah kota penting atau ibu kota dan dewa setempat yang disembah di daerah itu: Ptah di Memfis, Amun-Re di Thebes, Thoth di Hermopolis, dan lain sebagainya. Begitu juga di Mesopotamia, setiap kota menjadi kota suci bagi satu dewa atau dewi: Nanna/Sin di Ur (tempat kelahiran Abraham), Utu/Shamasy di Larsa, Enlil di Nippur, dan Marduk di Babel. Bangsa Kanaan memuja "Baal" (dewa kesuburan setempat), tetapi orang-orang dari setiap komunitas mempunyai baal mereka sendiri, seperti yang dapat kita ketahui dari nama-nama tempat seperti Baal-Zefon, Baal-Peor, dan Baal-Hermon (semuanya disebut di Perjanjian Lama - misalnya, Kel. 14:2; Bil. 25:5; Hak. 3:3). Di Timur Dekat kuno, agama yang resmi berkiblat kepada negara, sedangkan agama yang populer berkiblat kepada tempat geografis. Manusia pada zaman purba tidak menganggapnya tidak konsekuen untuk percaya pada dewa-dewa di "atas Sana" dan dewa yang lain "di sini" - semuanya bersaing untuk mendapat perhatian dan perhambaannya. Ini merupakan kesadaran yang sebagian dari masalah pokok yang menyangkut imanensi dan transendensi.
Manusia zaman purba mulai bergerak menjauhi takhayul murni dan mendewakan berbagai ideal yang abstrak di bawah nama dewa-dewa purba.
Di Mesopotamia, "Keadilan" dan "Kebenaran" tampil sebagai dewa-dewa yang tak penting dalam rombongan Utu/Shamasy, dewa matahari; masing-masing disebut Nig-gina dan Nig-sisa. "Kepala" mereka adalah Shamasy, dewa hukum bangsa Mesopotamia. Para pemikir purba memahami gagasan-gagasan abstrak ini sebagai dewa dan tidak menghadapi gagasan-gagasan ini sendiri.
Bangsa Mesir melakukan hal ini lebih banyak daripada bangsa lain. Beberapa di antara dewa-dewa utama Mesir termasuk kategori ini. Misalnya, Atum mengungkapkan konsep universalitas. Nama Amon berarti "tersembunyi" - orang Mesir mengira bahwa ia adalah makhluk yang tak berbentuk dan tak kelihatan yang bisa berada di mana saja, dan siapa pun dapat menyembah dia. Karena alasan itu, mereka kemudian memindahkan gagasan tentang Amon pada Re, dan dewa itu menjadi Amun-Re, "raja kekekalan dan pengawal orang mati."29 Kuil-kuil raksasa dari sejarah Mesir dibangun sebagai penghormatan kepada Amun-Re di Karnak. Dewi Maat adalah suatu gagasan menjadi dewa lain di Mesir. Dia seharusnya mewujudkan kebenaran dan keadilan, dan adalah kekuatan kosmik dari keselarasan dan kestabilan.
Bangsa Kanaan menggambarkan kebenaran dan keadilan dengan dewa-dewa Sedek dan Mishor yang seharusnya melayani di bawah dewa Shemesy. Akan tetapi, meskipun lebih mudah bagi para pemikir kafir ini untuk menghadapi gagasan-gagasan ini dengan cara demikian. Menurut legenda mereka hampir tidak ada dewa mereka yang berbuat sesuai dengan cita-cita mereka. Agama Kanaan meneruskan keinginan purba akan keselarasan seksual dengan alam, dan mendorong untuk mengadakan upacara-upacara agama yang sangat cabul.
Agama-agama penyembahan berhala dari Mesopotalia tidak pernah keluar dari bentuk politeistis mereka. W. W. Hallo, seorang pakar agama-agama purba, mengatakan tentang bangsa Mesopotamia bahwa mereka menaruh rasa "antipati yang tak dapat diatasi terhadap monoteisme yang eksklusif."30 Hal yang sama dapat dikatakan tentang bangsa-bangsa lain di zaman purba: bangsa Het, Persia, Kanaan, Yunani, dan Romawi.
Mungkin hanya ada satu kekecualian. Secara khas Mesir beragama politeistis: tetapi selama wangsa yang ke-18 ia menghasilkan firaun Amenhotep IV yang termasyhur (1387-1366 sM). Ia menyatakan tidak sah pemujaan kepada semua dewa kecuali kepada Aton ("cakra matahari"), dan kemudian mengubah namanya sendiri menjadi Akhenation. Sebelum Akhenaton, dewa-dewa Mesir sering kali telah digabungkan atau disatukan menjadi satu paham allah yang tunggal (biasanya Re); akan tetapi paham ini bukan monoteisme. Namun, orang Mesir menyebut dewa Aton sebagai "allah tunggal, yang tiada tandingannya." Keadaan ini mempunyai pengaruh politik yang luas dan tidak dapat dikerjakan tanpa dukungan angkatan bersenjata dan para imam.
Namun, agama Akhenaton sama sekali tidak sampai menyatakan sesuatu seperti, "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa" (Ul. 6:4). Akan tetapi, "pembaharuan" Akhenaton ini tak lama bertahan, dan para penggantinya menyingkirkan "ajaran bidat" ini dari Mesir. Keimaman politik yang lama kembali berkuasa dan mendukung firaun mereka sendiri.
Di dunia purba, hanya Israellah yang sepenuhnya bersifat monoteistis. Akan tetapi, sebaiknya kita memastikan bahwa kita betul-betul memahami artinya. Monoteisme bukan hanya soal menghitung. Barangkali W. F. Albright menyampaikan pernyataan yang paling ringkas. Beliau mengatakan bahwa monoteisme adalah "kepercayaan pada eksistensi satu Allah saja, yang adalah Pencipta dunia dan pemberi segala yang hidup . . . (Yang) jauh lebih unggul dari segala makhluk yang diciptakan . . . sehingga Ia tetap unik." Kepercayaan ini menjadikan Israel berbeda sama sekali dari tetangga-tetangganya yang menyembah berhala.
Bila kita berpaling kepada sastra dunia purba, kita memperoleh gambaran yang paling jelas mengenai agama-agama penyembah berhala. Hampir seluruh sastra dunia purba mencerminkan agama dari kebudayaannya: nyanyian pujian, doa, prasasti raja, mantera, naskah sejarah, dan syair kepahlawanan. Kepercayaan suatu bangsa terlihat paling jelas ketika mereka menghadapi persoalan-persoalan seperti: Siapakah saya? Dari mana saya berasal? Apakah dunia ini? Bagaimana orang harus menjelaskan kesenangan dan penderitaan? Kita menemukan jawaban mereka untuk soal-soal ini dalam kisah-kisah penciptaan tua (yang secara teknis disebut kosmogoni), dan hampir tidak ada satu kaum pun yang tidak memiliki tradisi mengenai hal ini.
Mesir mempunyai paling sedikit lima cerita yang berbeda yang menjelaskan asal usul dunia, dewa-dewa, dan manusia. Dua di antara lima cerita ini sudah cukup untuk menggambarkan kepercayaan orang Mesir.
Kota Heliopolis menurunkan cerita bahwa Amun-Re muncul dari himpunan air (Nun) dengan kekuatannya sendiri. Lalu ia memperanakkan dari dirinya sendiri pasangan dewa yang pertama, Shu dan Tefnut (udara dan embun, pria dan wanita). Pasangan ini kawin dan menghasilkan suatu generasi dewa yang lain, Geb (bumi) dan istrinya Nut (langit). Dan demikianlah proses kehidupan dimulai.
Dalam sebuah cerita lain (ini berasal dari kota Hermopolis), penciptaan mulai dengan empat pasangan dewa. Keempat pasangan ini menciptakan sebuah telur. Dari telur ini lahirlah matahari (Re). Kemudian Re menciptakan dunia.
Orang Mesir menceritakan kisah-kisah penciptaan ini untuk berusaha membuktikan bahwa kota mereka adalah tempat penciptaan. Memfis, Thebes, Heliopolis, dan Hermopolis menyatakan bahwa di daerah mereka itulah segala sesuatu dimulai.
Pemujaan Kaisar
Orang-orang Romawi menemukan bermacam-macam bahasa, agama, dan kebudayaan di antara bangsa-bangsa yang telah mereka taklukkan. Secara berangsur-angsur Kekaisaran Romawi mengasimilasi kepercayaan-kepercayaan asing ini, termasuk pemujaan para pemimpin politik.
Propinsi-propinsi di bagian timur mempunyai kebiasaan untuk memuja penguasa mereka yang masih hidup. Bangsa Mesir menganggap bahwa para firaun adalah keturunan dewa matahari, sedang bangsa Yunani memuja para pahlawan besar mereka yang telah wafat. Aleksander Agung mendirikan sebuah kultus pemuja untuk dirinya sendiri di Aleksandria. Wangsa Seleukos dari Siria dan wangsa Ptolemeus dari Mesir mengikuti tradisi ini, serta menyebutkan diri mereka dewa-dewa yang tinggal di bumi. Ketika kekuasaan Roma mulai menggantikan raja-raja ini, pemujaan Roma (pendewaan negara Romawi) mulai menggantikan kultus mereka. Bangsa-bangsa yang ditaklukkan mulai memuja orang-orang Romawi yang tersohor - Sulla, Marcus Antonius, Julius Caesar.
Pertama-tama, orang Romawi meremehkan pemujaan penguasa. Akan tetapi, mereka memuja roh nenek moyang mereka yang sudah mati (lares) dan roh ilahi dari kepala keluarga (paterfamilias).
Augustus Caesar menggabungkan gagasan-gagasan pemujaan penguasa dan pemujaan nenek moyang dalam pemujaan kaisar. Di propinsi-propinsi, warga negara Romawi memuja Roma dan Augustus bersama-sama sebagai suatu tanda dari kesetiaan mereka kepada kaisar.
Di seluruh kekaisaran itu, warga negara Roma menggabungkan pemujaan kaisar ke dalam agama setempat.
Di propinsi-propinsi, warga negara yang terkemuka menjadi imam dalam pemujaan kaisar untuk mempererat hubungan mereka dengan Roma. Akan tetapi, Augustus membebaskan orang Yahudi dari pemujaan kepada kaisar.
Kaisar Caligula (tahun 37-41 M.) menyatakan dirinya sebagai dewa; ia membangun dua kuil untuk dirinya - satu dengan biaya masyarakat, dan yang lain dengan biayanya sendiri. Dengan berpakaian sebagai Yupiter, ia mengucapkan berbagai ramalan. Setelah mengubah kuil Castor dan Pollux menjadi ruang depan istananya, ia tampil di antara area dewa-dewa itu untuk menerima pujaan, Ia dituduh telah mengikuti kebiasaan wangsa Ptolemeus yaitu menikahi saudara perempuannya sendiri. Pada tahun 40 M., mungkin karena digusarkan oleh kenyataan bahwa beberapa orang Yahudi telah menghancurkan sebuah mezbah yang didirikan kepadanya, maka Caligula memerintahkan agar sebuah patung Yupiter yang memiliki roman mukanya ditempatkan di bait suci di Yerusalem. Orang Yahudi menanggapi dengan mengatakan bahwa "apabila ia hendak menempatkan patung itu di antara mereka, ia harus lebih dahulu mengorbankan seluruh bangsa Yahudi" (Flavius Yosefus, Wars, Vol. 2, Bk. 10, Sec. 4). Petronius, gubernur di Siria, berhasil membuat perintah ini dibatalkan.
Claudius, pengganti Caligula, mengembalikan kebebasan beragama kepada bangsa Yahudi dan menghindari usaha-usaha untuk memuja dirinya. la berkata, "Karena saya tidak ingin kelihatan kampungan kepada orang-orang yang hidup sezaman dengan saya dan saya berpendapat bahwa kuil-kuil dan yang semacam itu sudah berabad-abad dihubungkan dengan dewa-dewa saja."
Kisah yang paling tersohor dari kebijaksanaan orang Romawi terhadap orang Kristen terdapat dalam korespondensi antara Plinius Muda (thn. 62-113 M.) dan kaisar Trayanus (memerintah thn. 98-117 M.). Plinius telah diutus ke Bitinia (sekarang Turki) untuk menyelidiki tuduhan ketidakbijaksanaan dalam pemerintahan. Orang-orang Bitinia mengadukan tetangga Kristen mereka, tetapi Plinius tidak yakin akan Cara menangani mereka. Ia memberi tahu kepada kaisar:
" ... Cara yang telah saya jalankan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai orang Kristen adalah begini: Saya menanyai mereka apakah mereka orang Kristen; jika mereka mengaku, saya mengulang pertanyaan itu dua kali lagi dengan menambahkan ancaman hukuman mati; jika mereka masih bersikeras, saya memberi perintah untuk menghukum mati mereka .... Orang yang menyangkal bahwa mereka dahulu atau pernah menjadi Kristen, dan yang mengucapkan sesudah saya suatu doa kepada dewa-dewa, dan mempersembahkan pujaan, dengan anggur dan kemenyan, kepada patung yang Mulia . . . dan yang akhirnya mengutuk Kristus - konon, mereka yang benar-benar Kristen tidak dapat dipaksa untuk melakukan satu pun dari perbuatan-perbuatan ini - orang-orang ini saya anggap patut dibebaskan ...
Karena saya anggap penting untuk memohon petunjuk Yang Mulia mengenai perkara ini - terutama mengingat jumlah orang yang terancam. Orang dari semua tingkat dan usia serta pria dan wanita akan terlibat dalam penganiayaan ini. Karena takhayul yang mudah menjalar ini tidak terbatas pada kota-kota saja, tetapi telah tersebar ke desa-desa dan daerah-daerah pedusunan; akan tetapi, tampaknya ada kemungkinan untuk menahan dan melenyapkannya" (Epistle X, 96).
Jawaban Trayanus menyimpulkan kebijaksanaan ini, "Cara yang telah Anda gunakan, Plinius yang baik, dalam menyaring kasus-kasus yang dilaporkan kepada Anda sebagai orang Kristen adalah sangat tepat ... Jangan mengadakan pencarian untuk orang-orang ini; bila mereka dilaporkan dan didapati bersalah mereka harus dihukum; akan tetapi, dengan pembatasan bahwa bila pihak itu menyangkal menjadi Kristen, dan akan memberi bukti bahwa ia bukan Kristen (yaitu dengan memuja dewa-dewa kami) ia akan diampuni atas dasar pertobatannya" (Epistle X, 97).
Pemujaan kaisar berlangsung sebagai agama penyembahan berhala yang amat resmi di kekaisaran itu sampai agama Kristen diakui di bawah pimpinan Kaisar Constantinus (memerintah thn. 305-337 M.).
Cerita penciptaan yang paling lengkap dari Babel biasanya disebut Enuma Elish. Inilah dua kata yang pertama dari cerita tersebut dan diterjemahkan sebagai "Ketika di ketinggian . . . "
Pada mulanya ada dua dewa, Apsu dan Tiamat, yang mewakili air tawar (laki-laki) dan air laut (perempuan). Keduanya tinggal bersama sebagai suami istri dan menghasilkan makhluk-makhluk ilahi generasi kedua. Tidak lama kemudian Apsu menderita insomnia karena dewa dan dewi yang muda itu berisik: ia sama sekali tak dapat tidur. Ia ingin membunuh mereka, sekalipun Tiamat, istrinya, memprotes. Namun, sebelum ia dapat melakukannya, Ea, dewa kebijaksanaan dan sihir, memantrai Apsu sehingga tertidur dan membunuhnya.
Karena tidak mau dikalahkan, Tiamat merencanakan pembalasan terhadap pembunuh suaminya dan mereka yang membantu dalam pembunuhan itu. Tindakan pertamanya ialah mengawini suami yang kedua, yang bernama Kingu. Kemudian ia mengumpulkan bala tentara untuk rencana pembalasannya.
Pada saat ini para dewa menghimbau kepada dewa Marduk untuk menyelamatkan mereka. Dengan senang hati Marduk menerima tantangan itu, dengan syarat bahwa jika ia menang dari Tiamat, mereka harus menjadikan dia kepala atas semua dewa.
Konfrontasi antara Tiamat dan Marduk berakhir dengan kemenangan yang gemilang untuk Marduk. Ia menawan para pengikut Tiamat dan menjadikan mereka budaknya. Kemudian ia memotong mayat Tiamat menjadi dua, serta menciptakan langit dari separuh mayat itu dan menciptakan bumi dari bagian separuh yang lain. Ia memerintah mereka yang tadinya mendukung Tiamat untuk mengurus bumi.
Tidak lama kemudian, Marduk menyusun sebuah rencana lain. Ia suruh membunuh Kingu dan mengatur agar Ea menjadikan manusia dari darah Kingu. Dalam kata-kata.cerita itu, nasib manusia adalah "dibebani dengan kerja keras para dewa." Untuk memperlihatkan rasa terima kasih mereka kepada Marduk, para dewa membantu dia membangun kota Babel yang besar dan kuilnya yang mengagumkan. Cerita ini berakhir dengan menggambarkan jamuan besar para dewa untuk menghormati Marduk dan dengan mencatat ke-50 namanya. Tiap-tiap nama itu dianggap menunjuk suatu kekuatan atau prestasi yang menjadi cirinya.
Perhatikanlah beberapa hal yang ditekankan cerita ini. Menurut cerita ini pada mulanya ada dua dewa, Apsu,dan Tiamat, laki-laki dan perempuan. Hal ini nyata sekali berbeda dari kisah penciptaan di Kejadian 1-2, yang menyatakan bahwa pada mulanya ada Allah yang esa, bukan dua. Apa sebabnya penting untuk mengetahui bahwa Allah tidak mempunyai istri, dan sendirian? Oleh karena hal ini menunjuk bahwa Allah memperoleh kepuasan di dalam diri-Nya sendiri dan tidak memerlukan sumber-sumber lain di luar diri-Nya. Pasal pembukaan kitab Kejadian tidak menyebutkan hal lain yang menemukan kepuasan di dalam dirinya. Semua makhluk ciptaan Tuhan memperoleh kepuasan di dalam sesuatu atau seorang lain di luar diri Mereka.
Tidak ada masalah bagi orang Babel yang menyembah berhala untuk percaya bahwa pada mulanya ada dua allah. Sepanjang yang menyangkut dirinya, tidak ada masa depan dengan satu allah saja. Bagaimana bisa terjadi penciptaan dan proses memperanakkan jika hanya ada satu allah'? Bila orang penyembah berhala berbicara tentang para dewanya, ia hanya berbicara menurut kategori manusiawi. Ia tidak dapat membayangkan dewa yang berbeda dengan manusia.
Kedengarannya aneh bahwa dewa Babel, yaitu Apsu, mengeluh karena ia ingin tidur. Tetapi ketika Pemazmur mengatakan bahwa Allah kita "tidak terlelap dan tidak tertidur" (Mzm. 121:4), ia sedang mengatakan sesuatu yang tidak jelas pada zamannya itu. Hal ini menggarisbawahi kenyataan bahwa kepercayaan Israel pada Allah sama sekali unik di antara bangsa-bangsa dunia purba.
Apsu siap untuk membunuh karena anak-anaknya membuat dia tak bisa tidur. la tidak mempunyai motif moral yang tegas. Dewa itu marah - bukannya sebab manusia telah memenuhi bumi dengan kekerasan atau kebusukan, tetapi karena dunia itu begitu berisik sampai ia tak dapat tidur! Kelihatannya aneh bahwa dewa seperti Apsu dapat bertindak dengan alasan-alasan yang begitu mementingkan diri. Akan tetapi, pikiran orang penyembah berhala menyimpulkan bahwa, apabila manusia fana dapat bertindak seperti itu, mengapa dewa-dewa tidak?
Maksud sesungguhnya dari Enuma Elish bukanlah berkisah tentang penciptaan dunia. Kisah ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana dewa Marduk menjadi dewa utama dari Babel, kota yang hebat itu? Mungkin sekali, orang Babel membaca kisah yang khusus ini pada perayaan Tahun Baru mereka, dengan harapan bahwa hal ini akan menjamin tahun yang baik di depan. Marduk mewakili kekuatan-kekuatan ketertiban, sedangkan Tiamat mewakili kekuatan-kekuatan kekacauan. Jalan pemikiran ini menyimpulkan bahwa apabila seseorang mengucapkan kata yang tepat pada saat yang tepat, kesempatannya untuk berhasil akan meningkat. Pemikiran ini memandang perayaan atau membaca doa kepada para dewa sebagai semacam jimat yang sakti.
Mitos para penyembah berhala memandang penciptaan manusia sebagai suatu pikiran yang timbul kemudian. Mereka mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi hamba para dewa, untuk melakukan "pekerjaan licik" mereka. Orang Babel percaya bahwa manusia itu jahat karena Marduk telah menjadikan dia dari darah dewa yang membangkang, Kingu. Pasti kisah ini tidak memiliki keagungan yang kita temukan di sekitar penciptaan manusia di kitab Kejadian.
Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya, berbeda dari segala yang lain yang telah diciptakan Tuhan (Kej. 1:26, 27). Dari semua sastra purba, hanya Alkitablah yang mempunyai kisah penciptaan perempuan yang terpisah (Kej. 2:21-25).
Di Alkitab, kisah penciptaan segera disusul oleh kisah Air Bah yaitu tanggapan Allah terhadap kejahatan manusia yang berulang-ulang dilakukan (Kej. 6-9). Baik di Mesir maupun di Kanaan kita menemukan berbagai narasi tentang dewa-dewa yang berang yang melampiaskan murka mereka kepada umat manusia, kadang-kadang disertai banjir yang besar.
Dalam mitologi Mesir, dewi Sekhmet bermaksud untuk memusnahkan umat manusia. Rencananya digagalkan ketika para dewa yang lain membanjiri dunia dengan bir yang telah diberi warna merah darah. Karena ia haus darah, maka Sekhmet minum sepuas-puasnya dan ia tertidur oleh bir itu.
Sastra Kanaan menceritakan cerita yang serupa mengenai dewi Anath (istri Baal), yang mengamuk terhadap manusia. Tak ada detail berdarah yang dihilangkan dari cerita itu waktu Anath menceburkan diri dalam pertempuran dengan bersenjatakan sebuah pentung dan busur, "Di bawah Anath (terbang) kepala-kepala bagaikan burung pemakan bangkai. Di atasnya (terbang) tangan-tangan bagaikan belalang ... Ia terjun sampai ke lututnya dalam darah para pahlawan. Setinggi lehernya dalam darah kental para tentara . . . Anath membesarkan hatinya dengan tawa. Hatinya penuh sukacita. Karena di tangan Anath ada kemenangan."31
Sastra Mesopotamia meliputi sebuah naskah yang penting sekali yang memaparkan air bah sebagai hukuman ilahi. Naskah yang khusus dinamakan Syair Kepahlawanan Gilgames. Tokoh utamanya sendiri alah kombinasi sejarah dan legenda. Sebenarnya, dia adalah raja ke-5 dari wangsa Uruk (sekitar 2600 sM), dan muncul dalam legenda sebagai orang yang mirip Simson. Dua hal menonjol dalam tradisi-tradisi tentang Gilgarnes. Pertama, cerita itu mengatakan bahwa sepertiga bagiannya adalah manusia dan dua per tiga bersifat ilahi. Kedua, menurut dugaan asal-usulnya campuran manusia dan dewa; ibunya adalah dewi Ninsun dan ayahnya adalah Lugal-banda, raja Uruk yang sebelumnya.
Syair Kepahlawanan Gilgames menceritakan bagaimana Gilgames berlaku kejam kepada taklukannya. Untuk melunakkan dia, rakyat Uruk membujuk dewi Aruru untuk menjadikan seorang laki-laki bernama Enkidu. Akhirnya Enkidu bertemu dengan Gilgames dan keduanya menjadi sahabat baik. Sesudah itu, mereka berperang melawan bermacam-macam monster, termasuk Humbaba, naga yang jahat. Gilgames itu tampan - begitu tampan sehingga dewi Isytar mengusulkan untuk menikah dengannya. Gilgames menolak pinangannya karena ia seorang istri dan kekasih yang bersetubuh dengan siapa saja. Dengan menggerutu, Isytar mendapat izin dari bapanya, Anu, untuk membinasakan Gilgames dengan Banteng Surga. Perkelahian yang garang menyusul, dan sekali lagi Gilgames dan Enkidu menang.
Tetapi Enkidu jatuh sakit dan meninggal. Sementara memikirkan kematian sahabatnya, Gilgames memutuskan untuk bertemu dengan seorang laki-laki bernama Utnapisytim. Dialah satu-satunya manusia fana yang kini sanggup hidup selama-lamanya karena ia telah bertahan selama air bah. Gilgames ingin mengetahui bagaimana ia dapat hidup selama-lamanya. Setelah banyak petualangan yang mengerikan di dunia orang mati, akhirnya Gilgames berjumpa dengan Utnapisytim.
Utnapisytim bercerita kepada Gilgames bagaimana para dewa secara rahasia memutuskan untuk mengirim air bah ke bumi, terutama dengan perantaraan Enlil, dewa badai. Ea, salah satu dewa, memberi tahu rencana ini kepada Utnapisytim dan mendorong dia untuk membangun sebuah kapal untuk menyelamatkan dirinya, keluarganya, beberapa jenis logam mulia, dan berbagai jenis hewan. Utnapisytim membawa semuanya naik kapal bersama dengan beberapa anak buah yang pandai. Hujan turun selama tujuh hari dan tujuh malam. Setelah hujan berhenti kapal Utnapisytim mendarat atas sebuah gunung. Ia mengirim berbagai burung untuk menentukan apakah air telah surut atau tidak. Ketika akhirnya ia meninggalkan kapal itu, ia mempersembahkan kurban kepada para dewa, yang "berkerumun bagaikan lalat" di sekeliling kurban itu. Enlil marah sekali karena dua orang dapat luput dari malapetaka yang didatangkannya dan mula-mula mengancam tetapi kemudian menganugerahkan sifat kedewaan kepada Utnapisytim dan istrinya - bukan sebagai pahala, tetapi sebagai alternatif selain membinasakan manusia.
Akan tetapi, semua ini tidak berarti apa-apa bagi Gilgames. Penyelamatan Utnapisytim adalah suatu kekecualian, bukan suatu preseden. Untuk menghiburnya, Utnapisytim memberikan Tanaman Kehidupan kepada Gilgames; tetapi ini pun dicuri oleh seekor ular. Frustrasi lepas frustrasi! Dengan muram Gilgames berjalan pulang ke Uruk. Ia tahu ia harus mati, tetapi setidak-tidaknya ia akan dikenang karena prestasinya di bidang pembangunan - keabadiannya terdapat dalam karya tangannya sendiri. Syair ini adalah salah satu syair kepahlawanan yang besar dalam bahasa Akad.
Terjalin dalam mitos ini adalah cerita air bah dari Mesopotamia, dengan persamaan-persamaan yang mempesonakan dengan nas Alkitab. Namun, mitos Mesopotamia ini sama sekali tidak membuat orang meragukan kebenaran kitab Kejadian.
Ada banyak perbedaan ideologis di antara kedua cerita air bah ini. Epik Gilgames itu tidak memberikan alasan yang jelas mengapa Enlil mengirim air bah. Pasti ia tidak marah karena kemerosotan akhlak umat manusia. Bagaimana ia dapat merasa demikian? Dewa-dewa para penyembah berhala tidak menjadi suri teladan kebaikan dan kesucian serta tidak memperjuangkannya. C. H. Gordon, seorang cendekiawan mutakhir, berkata, "Penyelidik yang modern jangan sampai keliru berpikir bahwa orang Timur pada zaman purba mengalami kesulitan dalam mencocokkan ide kedewaan dengan tindakan-tindakan yang mencakup penipuan, penyuapan, hal membuka-buka secara tak senonoh sebagai lelucon, dan perbuatan homoseksual."32
Juga, perhatikan bahwa Epik Gilgames menekankan penggunaan keterampilan manusiawi oleh Utnapisytim dalam menyelamatkan dirinya dari air bah. Oleh sebab itu ada mualim di kapal; ini merupakan tandingan dari kecerdasan manusia dan kecerdasan para dewa. Kisah dalam kitab Kejadian sama sekali tidak menceritakan hal-hal seperti ini; di bahtera tidak terdapat peralatan navigasi, juga tidak ada pelaut-pelaut profesional. Jikalau Nuh, istrinya, dan keluarganya harus diselamatkan, itu akan terjadi oleh kasih karunia Allah, bukan oleh keahlian atau kecerdikan manusia.
Ketiga, cerita Gilgames pada dasarnya tidak memiliki nilai pendidikan dan nilai moral jangka panjang. Alkitab menjelaskan pentingnya Air Bah untuk generasi-generasi yang berikut dengan mengutip perkataan sebuah perjanjian dengan Allah, "Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu ... tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi" (Kej. 9:11).
Keempat, Alkitab menunjukkan bahwa Allah menyelamatkan Nuh untuk memelihara umat manusia. Mitos Utnapisytim tidak mencerminkan rencana dewa seperti itu. Ia diselamatkan secara kebetulan, oleh sebab salah satu dewa membuka rahasia niat Enlil kepadanya.
Naskah-naskah yang membicarakan ramalan merupakan golongan tunggal terbesar yang kedua dari sastra cuneiform Mesopotamia (sesudah naskah-naskah ekonomi). Pada tingkatnya yang paling dasar, ramalan adalah usaha untuk menguraikan kehendak para dewa dengan menggunakan berbagai teknik ilmu. gaib. Para penyembah berhala percaya bahwa mereka dapat menggunakan ketrampilan dan kecerdikan manusia untuk memperoleh pengetahuan dari para dewa mengenai situasi-situasi tertentu. Dalam perkataan Yehezkiel Kaufmann, seorang peramal adalah "seorang ilmuwan yang tidak memerlukan wahyu ilahi."33
Ramalan biasanya mengikuti cara induktif atau cara intuitif. Dalam cara induktif, si peramal mengamati berbagai kejadian dan kemudian menarik berbagai kesimpulan darinya. Cara yang paling umum ialah mengamati isi perut domba atau kambing yang telah disembelih. Para peramal biasanya mengamati hati (suatu teknik yang disebut hepatoskopi). Suatu formula ramalan yang khas mungkin berbunyi seperti ini, "Kalau hati itu berbentuk X, maka hasil pertempuran/penyakit/perjalanan itu akan seperti berikut . . . . "
Sistem yang khusus ini baik untuk raja dan orang kaya, tetapi untuk warganegara yang biasa diperlukan berbagai teknik yang lebih murah. Paling tidak ada setengah lusin teknik yang murah, seperti lecanolnancy (membiarkan tetes-tetes minyak jatuh ke dalam secangkir air dan memperhatikan gambar yang kelihatan) atau libanomancy (memperhatikan berbagai bentuk dari asap dupa).
Dalam jenis ramalan yang intuitif, si peramal kurang aktif: ia lebih banyak bertindak sebagai pengamat dan penafsir. Jenis ramalan intuitif yang paling terkenal adalah menafsirkan mimpi (oneiromancy). Cara ini telah menghasilkan sekumpulan sastra tafsiran mimpi yang berbunyi, "Kalau Anda bermimpi seperti itu, maka artinya . . . . " Cara-cara lain untuk meramal adalah naskah-naskah yang dikenal sebagai menologi dan hemerologi. Jenis yang pertama mencatat bulan-bulan dalam setahun dan memberi tahu bulan-bulan mana yang baik untuk jenis-jenis tugas tertentu. Jenis yang kedua mencatat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada atau dijauhi untuk setiap hari dalam sebulan. Dari semua cara ini lahirlah astrologi.
Perjanjian Lama melarang semua teknik ramalan (bdg. Ul. 18:10; Im. 20:6; Yeh. 13:6-8). Alkitab menyebut ramalan itu suatu "kekejian"; karena alasan itulah maka di Israel tidak terdapat peramal profesional. Ramalan menaruh kepercayaan pada kebijaksanaan manusia dan hal itu merupakan penghinaan kepada Allah, karena mencerminkan keengganan untuk mempercayai penyataan kebenaran-Nya.
Sebagian besar naskah yang bercerita tentang kuil penyembahan berhala, persembahan, kurban, dan keimaman sedang menggambarkan agama raja. Biasanya hal-hal itu tidak berlaku untuk agama rakyat jelata. Leo Oppenheim telah berkata dengan tepat, "Orang biasa . . . tetap tidak dikenal, unsur tak dikenal yang paling penting dalam agama Mesopotamia."34 Pasti, hal yang sama dapat dikatakan tentang Mesir. Tidak mungkin. bahwa "orang biasa" dapat menerima wahyu dari para dewa. Menerima wahyu adalah hak istimewa raja.
Di sini terdapat perbedaan yang sangat besar antara Alkitab Kristen dan agama-agama penyembahan berhala. Di Perjanjian Lama, Allah berfirman tidak hanya kepada para pemimpin seperti Musa dan Daud, tetapi juga kepada wanita tunasusila, sampah masyarakat, orang berdosa, dan lain-lain. Misalnya, perhatikanlah bahwa orang pertama yang disebut di Alkitab sebagai orang yang dipenuhi dengan Roh Allah adalah seorang bernama Bezaleel (Kel. 31:3), mandor yang mengepalai pembangunan kemah suci.
Entah itu di Mesir atau di Mesopotamia, para penyembah berhala percaya bahwa dewa-dewa mereka tinggal di dalam kuil-kuil yang telah dibangun untuk mereka. Sebagai tempat kediaman dewa maka kuil itu dianggap suci. Nyanyian-nyanyian kepada kuil-kuil sangat umum dalam sastra para penyembah berhala.
Dalam hal ini, doa Salomo ketika menahbiskan bait suci di Yerusalem menyatakan tekanan yang jelas menentang penyembahan berhala. Pertimbangkan ayat ini, "Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini" (I Raj. 8:27).
Raja kafir mengelola kuil dan melakukan pelayanan sebagai imam bagi dewa-dewanya. Ia dianggap sebagai pengantara antara manusia dengan para dewa. Ia memerintah untuk para dewa (seperti di Mesopotamia) atau sebagai dewa (seperti di Mesir).
Sambil lalu, di sini kita bertemu dengan salah satu ciri yang paling khas dari iman alkitabiah. Agama-agama kafir tidak pernah menghasilkan jurubicara - yang berani membantah raja, seperti yang dilakukan para nabi di Alkitab. Para penyembah berhala tidak mempunyai konsep tentang "imunitas kenabian." Hanya di Israel seorang raja dapat disalahkan oleh seorang nabi dengan kata-kata, "Engkaulah orang itu!" (II Sam. 12:7). Betapa pun, jikalau raja itu berdaulat, ilahi, dan imam kepala, siapa dapat mengatakan kepadanya bahwa ia bersalah? Inilah sebabnya Izebel, yang berasal dari lingkungan Fenisia, tidak dapat mengerti mengapa suaminya, yang orang Israel, gemetar ketakutan di hadapan Nabi Elia (bdg. I Raj. 16:31; 21:6, 20-27).
Orang Israel merayakan sejumlah perayaan agama selama setahun. (Lihat "Upacara-Upacara Yahudi.") Tetangga mereka yang menyembah berhala mempunyai hari-hari sucinya sendiri, dan kebiasaan-kebiasaan ini memberikan pengertian lebih lanjut mengenai pandangan rohani mereka.
Orang Babel menjalankan perayaan bulan pada hari-hari tertentu dalam sebulan: hari pertama, ketujuh, kelima belas, dan kedua puluh delapan. Mereka juga merayakan hari-hari "ketujuh" yang khusus - hari ketujuh, keempat belas, kedua puluh satu, dan kedua puluh delapan dari setiap bulan. Mereka mengambil tindakan-tindakan pencegahan khusus untuk menghindari kemalangan pada hari-hari "ketujuh" ini. Dan mereka sama sekali tidak bekerja pada hari kelima belas dalam sebulan karena mereka percaya bahwa tidak mungkin terdapat nasib baik pada hari itu: hari perhentian ini dinamakan shappatu. Pada hari shappatu, orang Babel berusaha menenangkan para dewa dan meredakan kemarahan mereka dengan mengadakan hari sesalan dan doa.
Dalam agama penyembahan berhala sebuah kurban adalah makanan untuk dewa, sumber nutrisinya. "Bagaikan lalat" para dewa mengerumuni kurban Utnapisytim sesudah ia turun dari kapalnya. Sulit untuk percaya bahwa ada orang yang betul-betul percaya bahwa berhala itu makan sedikit ketika tak seorang pun melihat. Barangkali hidangan-hidangan itu dibawa kepada raja untuk dimakan setelah itu dipersembahkan kepada berhala. Makanan itu, karena memiliki pancaran kesucian, dianggap dapat menyucikan orang yang memakannya - dalam hal ini, raja. Bila sejumlah besar makanan dipersembahkan Sebagai kurban, seperti di Mesir atau Persia, makanan itu akan diberikan kepada para pegawai kuil. Cerita apokrifa tentang Bel dan Ular Naga menggambarkan kebiasaan ini.
Di samping hari-hari baik dan buruk yang telah kita bicarakan di atas, perayaan terbesar di Babel adalah akitu (yaitu Hari Raya Tahun Baru). Orang Babel merayakan akitu pada bulan Maret dan April, ketika alam mulai hidup kembali. Empat hari yang pertama dilewatkan dengan berdoa kepada Marduk, dewa utama Babel. Pada hari keempat malam, mereka menceritakan kisah penciptaan (Enuma Elish). Dengan menceritakan kembali kemenangan yang semula dari ketertiban (Marduk) atas kekacauan (Tiamat), orang Babel mengharapkan bahwa kemenangan yang sama akan ternyata dalam tahun yang baru. Orang Babel percaya bahwa kata-kata yang diucapkan itu memiliki kuasa. Jadi, pada hari kelima, raja tampil di depan patung Marduk dan menyatakan bahwa ia tidak melakukan kesalahan dan telah memenuhi semua kewajibannya. Kita tidak tahu pasti apa yang dilakukan orang Babel beberapa hari berikutnya, tetapi pada hari kesembilan dan kesepuluh mereka mengadakan pesta. Pada hari kesebelas para petenung meramal nasib selama tahun berikutnya.
Dua paham yang sama sekali berbeda mengenai akhirat muncul dalam penyembahan berhala di Timur Tengah. Di Mesopotamia, sedikit sekali orang yang percaya bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Epik Gilgames berkata begini, "Gilgames, ke manakah engkau berlari? Hidup, yang kaucari, tidak akan kau temukan. Ketika para dewa menjadikan umat manusia, mereka memberikan Kematian kepada manusia, tetapi Hidup mereka pegang dalam tangan mereka sendiri."35
Di ujung lain dari spektrum itu terdapat orang Mesir. Agama mereka penuh dengan kepercayaan akan kehidupan di akhirat. Orang Mesir percaya bahwa orang mati akan pergi ke suatu daerah yang diperintah oleh Osiris. Di sana orang harus mempertanggungjawabkan perbuatan baiknya dan perbuatan jahatnya. Di balik kepercayaan ini terdapat legenda Osiris, yang menceritakan bagaimana Osiris, penguasa yang baik, dibunuh oleh Seth, saudara laki-lakinya yang jahat, yang memotong tubuhnya berpenggal-penggal. Isis, istrinya, mencari tubuhnya yang berpenggal-penggal itu dan menghidupkannya kembali. Akhirnya, Osiris turun ke dunia orang mati sebagai hakim orang mati. Putranya, Horus, membalas kematian ayahnya dengan membunuh Seth. Sesudah itu mitos kematian dan kebangkitan Osiris merangsang harapan orang Mesir akan keabadian. Bagi Osiris, hidup mengalahkan maut; kebaikan mengalahkan kejahatan. Jadi, orang Mesir menyimpulkan bahwa hal yang sama dapat terjadi pada dirinya.
Akan tetapi, di sini kita menemukan perbedaan lain yang mendasar antara agama Mesir dan iman alkitabiah. Perjanjian Lama menegaskan bahwa hidup akan berlangsung terus sesudah kematian jasmani, setidak-tidaknya untuk orang yang benar (bdg. Mzm. 49:16; Ams. 14:32; Yes. 57:2). Jadi, dalam iman alkitabiah ada kehidupan di akhirat bagi setiap orang yang setia kepada Allah, entahkah orang itu raja atau budak. Agama Mesir penuh dengan kehidupan di akhirat; tetapi kehidupan itu hanya untuk firaun dan para pejabat tinggi. Alkitab mengajarkan bahwa tak seorang pun mempunyai hak istimewa atas kehadiran Allah dan tak seorang pun dibebaskan dari hukum moral Allah. Pada hakikatnya, perbedaannya menjadi suatu agama untuk raja (kafir) lawan iman untuk semua orang percaya (alkitabiah).



Tidak ada komentar: