Kamis, 03 Mei 2012

SUARA DI PADANG BELANTARA


Pasal 10

SUARA DI PADANG BELANTARA


DARI antara orang‑orang yang setia di kalangan orang Israel, yang telah lama menantikan kedatangan Mesias, bangkitlah bentara Kristus. Imam Zakharia yang sudah tua dan istrinya Elisabet adalah "keduanya . . . orang benar kepada Allah;" dan dalam hidup mereka yang tenang dan suci cahaya iman bersinar seperti sebuah bintang dalam kegelapan hari‑hari yang penuh kejahatan itu. Kepada suami istri yang beribadat ini telah dijanjikan seorang anak laki‑laki, yang akan "berjalan dulu di hadapan Tuhan, akan menyediakan jalan‑Nya."

Zakharia tinggal "dalam segala pegunungan Yudea," tetapi ia telah pergi ke Yerusalem untuk bekerja seminggu lamanya dalam bait suci, suatu kewajiban yang dituntut dua kali setahun dari imam‑imam menurut gilirannya. "Maka pada sekali peristiwa, sementara ia mengerjakan pekerjaan imamat di hadapan Allah dalam gilir peraturan harinya, sesuai adat jabatan imam, maka dengan dibuang undi kenalah ia pekerjaan masuk ke dalam rumah Tuhan akan membakar persembahan dupa."

Ia sedang berdiri di muka mezbah keemasan di dalam bilik yang suci di bait suci. Asap dupa bersama doa bangsa Israel sedang naik di hadirat Allah. Tiba‑tiba sadarlah ia akan hadirat Ilahi. Seorang malaikat Tuhan "berdiri di sebelah kanan meja persembahan dupa itu." Tempat malaikat berdiri itu mengalamatkan bahwa ia membawa kabar baik, tetapi Zakharia tiada menghiraukan hal ini. Bertahun‑tahun lamanya ia telah mendoakan kedatangan Penebus; kini surga mengutus pesuruhnya untuk memberitahukan bahwa doa itu sudah hampir dijawab; tetapi kemurahan Allah tampaknya terlalu besar baginya untuk dipercayai. Ia dipenuhi dengan ketakutan dan penyesalan diri.

Tetapi ia disapa dengan jaminan yang menggembirakan hati: "Jangan takut, hai Zakharia, karena permintaan doamu telah diluluskan; bahwa istrimu Elisabet akan beranak bagimu laki‑laki seorang, maka hendaklah engkau menamai dia Yohanes. Maka engkau akan mendapat kesukaan dan suka‑cita dan banyak orang bergemar hatinya kelak akan jadinya. Karena ia pun akan besar di hadapan Tuhan, dan tidak ia akan minum air anggur atau minuman pedas, dan ia pun akan dipenuhi dengan Roh Kudus.... Dan banyaklah bangsa Israel akan dibalikkannya kepada Tuhan Allahnya. Maka ia pun akan berjalan di hadapan‑Nya dengan roh dan kuasa Elia, akan membalikkan hati segala bapa kepada anak‑anaknya dan yang durhaka dibalikkannya kepada kebijaksanaan orang yang benar, akan melengkapkan bagi Tuhan suatu bangsa yang siap benar. Maka kata Zakharia kepada malaikat itu: Bagaimana aku akan mengetahui ketentuannya, karena sudah tua aku dan istriku pun telah lalu sangat umurnya."

Zakharia tahu betul bagaimana kepada Abraham di masa tuanya telah dikaruniakan seorang anak sebab ia percaya bahwa Ia yang telah berjanji itu setiawan adanya. Tetapi seketika lamanya imam yang sudah tua itu mengalihkan pikirannya ke arah kelemahan kemanusiaan. Ia lupa bahwa apa yang telah dijanjikan Allah, Ia sanggup melaksanakannya. Alangkah besarnya perbedaan antara sifat kurang percaya ini dengan percaya Maria yang segar dan jujur, gadis Nazaret itu, yang jawabnya terhadap pemberitahuan ajaib dari malaikat itu ialah, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lukas 1:38.


Lahirnya seorang anak bagi Zakharia, seperti lahirnya anak Abraham, dan anak Maria, haruslah mengajarkan suatu kebenaran rohani yang besar, suatu kebenaran yang tidak gampang kita pelajari dan lekas melupakannya. Dalam diri kita sendiri, kita tidak sanggup berbuat sesuatu perkara yang baik; tetapi apa yang tidak dapat kita perbuat, akan diadakan oleh kuasa Allah dalam tiap‑tiap jiwa yang menyerah dan percaya. Oleh percayalah anak perjanjian dikaruniakan. Oleh percayalah pula hidup kerohanian dilahirkan dan kita disanggupkan untuk melakukan pekerjaan kebenaran.

Untuk menjawab pertanyaan Zakharia, malaikat itu berkata, "Bahwa aku ini Gabriel, yang berdiri di hadapan hadirat Allah, maka aku pun disuruhkan berkata‑kata dengan dikau, dan menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." Lima ratus tahun sebelumnya, Gabriel sudah memberi tahu kepada nabi Daniel masa nubuatan yang berlangsung hingga kedatangan Kristus. Pengetahuan bahwa akhir masa ini sudah dekat, telah menggerakkan Zakharia untuk mendoakan kedatangan Mesias itu. Kini justru utusan yang telah menyampaikan nubuatan itu, sudah datang untuk mengumumkan kegenapannya.

Perkataan malaikat itu, "Bahwa aku ini Gabriel, yang berdiri di hadapan hadirat Allah," menunjukkan bahwa ia menduduki suatu pangkat yang amat terhormat di istana surga. Ketika ia datang dulu membawa kabar kepada Daniel, ia berkata, "Tidak ada satu pun yang berdiri di pihakku dengan tetap hati melawan mereka, kecuali Mikhael (Kristus), pemimpinmu itu." Daniel 10:21. Tentang Gabriel, Juruselamat berfirman dalam Wahyu, bahwa "disuruhkan‑Nya malaikat‑Nya menyatakan dia kepada Yohanes, hamba‑Nya." Wahyu 1:11. Dan kepada Yohanes malaikat itu menandaskan, "Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara‑saudaramu, para nabi." Why. 22:9. Pikiran yang sungguh mengagumkan bahwa malaikat yang kedua dari Anak Allah dalam kemuliaan, ialah yang dipilih untuk memaparkan maksud‑maksud Allah kepada manusia yang berdosa.

Zakharia telah menyatakan kebimbangan akan perkataan malaikat itu. Ia terpaksa tidak boleh berbicara lagi hingga perkataan itu digenapi. "Bahwasanya," kata malaikat itu, "engkau akan menjadi kelu, . . . sampai kepada hari segala perkara ini telah jadi, maka yaitu sebab tidak engkau percaya akan perkataanku, yang akan disampaikan pada masanya." Adalah kewajiban imam dalam upacara ini untuk melayangkan doa keampunan dosa orang banyak dan bangsa itu serta kedatangan Mesias; tetapi ketika Zakharia mencoba hendak melakukan ini, sepatah kata pun tidak dapat diucapkannya.
Setelah keluar hendak mendoakan orang banyak, "dilambai‑lambainya mereka itu dan tinggal kelu juga." Mereka sudah menunggu lama, dan sudah mulai merasa agak khawatir, jangan‑jangan ia sudah dibinasakan oleh hukuman Allah. Tetapi ketika ia keluar dari bilik yang suci, wajahnya bersinar‑sinar dengan kemuliaan Allah, "maka pada perasaan mereka itu telah dilihatnya suatu khayal dalam rumah Allah." Zakharia memberitahukan kepada mereka dengan isyarat apa yang telah dilihat dan didengarnya; dan "setelah sudah genap hari pekerjaannya, pulanglah ia ke rumahnya."
Tidak lama setelah anak yang dijanjikan itu lahir terurailah lidah bapa itu, "lalu berkata‑kata ia sambil memuji Allah. Maka datanglah ketakutan atas segala orang yang diam keliling mereka itu, dan banyaklah perkataan orang akan segala perkara ini dalam segala pegunungan Yudea. Maka segala orang yang mendengar perkara‑perkara itu diperhatikannya, katanya: Apa gerangan jemaah akan menjadi kanak‑kanak ini?" Semuanya ini mengandung maksud untuk menaruh perhatian kepada kedatangan Mesias, yang untuk itu Yohanes harus menyediakan jalan.


Roh Suci hinggap atas Zakharia, dan dalam ucapan yang indah ini ia bernubuat tentang tugas anaknya: "Maka adapun engkau, hai anakku, bahwa engkau akan dipanggil seorang nabi Allah Yang Mahatinggi,
Karena engkau pun akan berjalan dulu di hadapan Tuhan, akan menyediakan jalan‑Nya,
Akan memberi kepada umat‑Nya pengetahuan akan hal selamat dalam keampunan dosanya,
Oleh sebab gerakan hati rahmat Allah kita;
Maka sebab itu pun fajar dari ketinggian telah mendapatkan kita,.
Akan menjadi nyata kepada mereka itu, yang duduk dalam gelap dan dalam bayang‑bayang maut,
Dan akan membetulkan kaki kita pada jalan selamat."

"Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan dirinya kepada Israel." Sebelum Yohanes lahir, malaikat telah berkata, "Ia pun akan besar di hadapan Tuhan, dan tidak ia akan minum air anggur atau minuman keras, dan ia pun akan dipenuhi dengan Roh Kudus." Allah telah memanggil anak Zakharia itu untuk melakukan pekerjaan yang besar, yang terbesar pernah diamanatkan kepada manusia. Untuk dapat melaksanakan pekerjaan ini, ia mesti bekerja bersama‑sama dengan Tuhan. Maka Roh Allah akan menyertai dia kalau ia memperhatikan petunjuk malaikat itu.

Yohanes harus keluar sebagai utusan Yehova, untuk membawa terang Allah kepada manusia. Ia wajib memberikan suatu tujuan yang baru bagi pikiran mereka. Ia wajib menekankan ke dalam pikiran mereka kesucian tuntutan‑tuntutan Allah, dan keperluan mereka akan kebenaran‑Nya yang sempurna itu. Seorang utusan semacam itu wajiblah suci. Wajiblah ia merupakan suatu bait suci untuk tempat kediaman Roh Allah. Untuk dapat menjalankan tugasnya itu, wajiblah ia memiliki badan yang sehat dan tenaga pikiran serta rohani yang kuat. Itulah sebabnya itu perlulah baginya mengendalikan selera dan nafsunya. Ia mesti sanggup mengendalikan segala kuasanya demikian rupa hingga ia dapat berdiri di antara manusia dengan tidak tergoncang oleh keadaan di sekelilingnya seperti bukit‑bukit batu dan gunung‑gunung di padang belantara.
Pada zaman Yohanes Pembaptis, keserakahan akan kekayaan, dan cinta akan kemewahan dan pertunjukan sudah merajalela. Kepelesiran cabul, pesta‑pesta dan minum‑minum, sedang menimbulkan penyakit‑penyakit badani serta kemerosotan, menumpulkan pengertian rohani, dan mengurangi daya rasa akan dosa. Yohanes  harus berdiri sebagai seorang pembaru. Oleh hidupnya yang bertarak dan pakaiannya yang sederhana ia harus mengecam segala keterlaluan yang terjadi pada zamannya. Itulah sebabnya petunjuk‑petunjuk diberikan kepada orang tua Yohanes, sebuah pelajaran pertarakan oleh seorang malaikat dari singgasana surga.

Pada masa kanak‑kanak dan masa mudalah tabiat paling mudah mendapat kesan. Kuasa mengendalikan diri sendiri seharusnya dimiliki pada waktu itu. Di sekitar perapian dan di meja makan keluarga, pengaruh‑pengaruh diberikan, yang hasilnya akan tahan selama‑lamanya bagaikan zaman yang kekal. Lebih daripada bakat yang mereka miliki, segala kebiasaan pada masa kanak‑kanak menentukan apakah seseorang akan menang atau kalah dalam peperangan kehidupan. Masa mudalah masa menabur. Masa ini menentukan jenis panen bagi kehidupan ini dan bagi kehidupan yang akan datang.


Sebagai seorang nabi, Yohanes harus "membalikkan hati segala bapa kepada anak‑anaknya dan yang durhaka dibalikkannya kepada kebijaksanaan orang yang benar, akan melengkapkan bagi Tuhan suatu bangsa yang siap benar." Dalam mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus yang pertama kalinya ia mengibaratkan orang‑orang yang akan mempersiapkan suatu umat bagi kedatangan Tuhan kita yang kedua kalinya. Dunia sudah terjerumus ke dalam jurang pemanjaan diri. Kesalahan dan cerita dongeng berlimpah‑limpah. Jerat‑jerat Setan guna memusnahkan jiwa‑jiwa dilipatgandakan. Semua orang yang mau menyempurnakan kesucian dalam takut akan Allah, wajib memahami pelajaran pertarakan dan pengendalian diri. Selera dan segala nafsu wajib ditundukkan ke bawah kuasa pikiran yang lebih tinggi. Pengendalian diri ini sangat penting bagi tenaga pikiran dan pengertian rohani, yang akan menyanggupkan kita untuk mengerti dan untuk mempraktikkan kebenaran‑kebenaran firman Allah yang suci. Oleh sebab ini pertarakan mendapat tempatnya dalam pekerjaan persiapan untuk kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

Menurut keadaan yang sewajarnya, anak Zakharia itu harus dididik guna keimamatan. Akan tetapi pendidikan di sekolah rabi‑rabi pasti akan menjadikan dia tidak cocok untuk pekerjaannya. Allah tidak menyuruh dia pergi kepada guru‑guru agama untuk belajar bagaimana menafsirkan Alkitab. Dipanggil‑Nya dia ke padang belantara, supaya ia dapat belajar dari alam kejadian dan Allah alam kejadian itu.

Di suatu daerah yang sunyilah ia tinggal, di antara bukit‑bukit yang tandus, jurang‑jurang yang dalam, dan gua‑gua batu. Tetapi kemauannya sendirilah meninggalkan segala ' kesenangan dan kemewahan hidup demi disiplin yang keras di padang belantara. Di sana keadaan di sekelilingnya cocok bagi kebiasaan‑kebiasaan kesederhanaan dan penyangkalan diri. Dalam keadaan tidak terganggu oleh keramaian dunia, dapatlah ia mempelajari pelajaran‑pelajaran dari alam kejadian, dan wahyu dan dari Allah. Perkataan malaikat yang kepada Zakharia itu telah acapkali diulangi kepada Yohanes oleh ayah bundanya yang beribadat itu. Sejak kecil tugasnya itu telah dinyatakan kepadanya, dan ia telah menerima kewajiban yang kudus itu. Baginya kesunyian padang belantara itu merupakan suatu tempat menjauhkan diri dan masyarakat di mana kecurigaan, sikap kurang percaya, dan percabulan sudah hampir merata. Ia tidak percaya pada kuasanya sendiri untuk melawan pencobaan, dan menjauhkan diri dari hubungan yang tetap dengan dosa, agar jangan ia kehilangan rasa akan kedahsyatan dosa itu.

Karena telah diserahkan kepada Allah sebagai seorang Nazir Allah sejak lahir, ia sendiri menunaikan nazar itu dalam penyerahan seumur hidup. Pakaiannya adalah seperti pakaian nabi‑nabi purba kala, pakaian yang diperbuat daripada bulu unta, diikat dengan sebuah ikat pinggang kulit. Ia makan "belalang dan air madu hutan" yang terdapat di padang belantara itu, dan minum air jernih yang datang dari bukit‑bukit.

Tetapi kehidupan Yohanes tidaklah dihabiskannya untuk bermalas‑malas, untuk semata‑mata bertekun dengan muka muram, atau mengasingkan diri untuk kepentingan diri sendiri. Kadang‑kadang ia pergi bercampur gaul dengan orang banyak; dan ia selamanya merupakan seorang peninjau yang menujukan perhatian besar terhadap apa yang terjadi di dunia. Dari tempat kediamannya yang sunyi itu ia mengamat‑amati perkembangan peristiwa. Dengan penglihatan yang diterangi oleh Roh Ilahi dipelajarinya tabiat‑tabiat manusia, supaya ia tahu bagaimana cara mencapai hati mereka dengan pekabaran dari surga. Beban tugasnya dipikulnya. Dalam kesunyian oleh renungan dan doa, ia berusaha memperkuat jiwanya guna pekerjaan hidup yang ada di hadapannya.


Sungguh pun di padang belantara, tidaklah ia bebas dari penggodaan. Sedapat‑dapatnya ia menutup setiap jalan yang dapat dimasuki oleh Setan namun ia masih juga diserang oleh penggoda itu. Tetapi pandangan rohaninya terang; ia telah mengembangkan tenaga dan keputusan tabiat, maka dengan pertolongan Roh Kudus ia sanggup mengenal bujukan Setan, dan melawan kuasanya.

Yohanes mendapat sekolah dan tempat pemukiman di padang belantara. Sebagaimana halnya dengan Musa dulu kala di antara pegunungan Midian, Ia dikelilingi oleh hadirat Allah, serta dikelilingi dengan tanda‑tanda kuasa‑Nya. Bukanlah nasibnya untuk tinggal, sebagaimana halnya dengan pemimpin besar Israel itu dulu kala, di tengah‑tengah kesunyian pegunungan yang hebat dan mulia; tetapi di hadapannya adalah gunung‑gunung Moab, di seberang Yordan, yang berbicara tentang Dia yang telah mendirikan gunung‑gunung itu, serta melengkapinya dengan kekuatan. Pemandangan alam yang suram dan ngeri di tempat kediamannya di padang belantara itu dengan jelas melukiskan keadaan Israel. Kebun anggur Tuhan yang subur itu sudah menjadi padang belantara yang sunyi. Tetapi di atas padang belantara itu langit melengkung terang dan indah. Awan‑awan yang berkumpul, gelap dengan badai, dilengkungi dengan pelangi perjanjian. Demikianlah di atas kehinaan Israel bersinarlah kemuliaan kerajaan Mesias yang telah dijanjikan itu. Awan murka dilingkungi pelangi perjanjian kemurahan‑Nya.

Seorang diri pada waktu malam yang sunyi ia membaca janji Allah kepada Abraham tentang benih yang tidak terhitung seperti bintang‑bintang banyaknya. Cahaya fajar, yang menyepuh pegunungan Moab, bercerita tentang Dia yang akan menjadi seperti "fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan." 2 Samuel 23:4. Dan dalam kegemilangan siang hari dilihatnya kemegahan kenyataan‑Nya, manakala "kemuliaan Tuhan akan dinyatakan, dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama‑sama." Yesaya 40:5.

dengan roh yang segan namun penuh sukacita ia memeriksa dalam gulungan‑gulungan surat nubuatan segala kenyataan tentang kedatangan Mesias, benih perjanjian yang akan meremukkan kepala ular itu; Silo, "pemberi damai itu," yang akan menampakkan diri sebelum seorang raja berhenti berkerajaan di atas takhta Daud. Kini waktunya sudah tiba. Seorang pemerintah bangsa Romawi bersemayam dalam istana di atas Bukit Sion. Oleh firman Tuhan yang tentu, Kristus itu pun sudah lahir.

Gambaran Yesaya yang indah tentang kemuliaan Mesias menjadi pelajarannya siang dan malam, Pucuk dari akar Isai; seorang Raja yang akan memerintah dalam kebenaran, "menghakimi orang‑orang lemah dengan keadilan;" "perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut . . . naungan batu yang besar, di tanah yang tandus;" Israel tiada lagi akan disebut "yang ditinggalkan suami," atau pun tanahnya "yang sunyi," melainkan akan disebut oleh Tuhan, "yang berkenan kepada‑Ku," dan tanahnya "bersuami." Yesaya 11:4; 32:2; 62:4. Hati orang buangan yang kesunyian itu dipenuhi dengan penglihatan orang buangan yang mulia.

Ia memandang kepada Raja itu dalam kemuliaan‑Nya, lalu diri pun dilupakan. Ia melihat kemuliaan kesucian, lalu merasa dirinya tidak cakap dan tidak layak. Ia sudah sedia untuk pergi sebagai utusan surga, tiada gentar oleh kemanusiaan, sebab ia telah memandang kepada Ilahi. Ia dapat berdiri tegak dan berani di hadapan raja‑raja duniawi, sebab ia sudah sujud di hadapan Raja segala raja.

Yohanes belum mengerti betul sifat kerajaan Mesias itu. Ia mengharap bahwa Israel akan dilepaskan dari musuh‑musuh bangsanya; tetapi kedatangan seorang Raja dalam kebenaran, dan penetapan Israel sebagai suatu bangsa yang suci, merupakan tujuan harapannya yang besar itu. Demikianlah ia percaya akan digenapkannya nubuatan yang diberikan pada waktu ia lahir,

"Diingat‑Nya akan perjanjian‑Nya yang suci itu; . . .

Setelah sudah terlepas daripada segala musuh kita
Bolehlah kita beribadat kepada‑Nya dengan tiada takut
dengan kesucian dan kebenaran di hadapan‑Nya seumur hidup kita."

Ia melihat bangsanya tertipu, merasa puas akan diri sendiri, dan tidur dalam dosa‑dosanya. Ia ingin hendak membangunkan mereka kepada cara hidup yang lebih suci. Kabar yang telah diberikan Allah kepadanya supaya disiarkan, dimaksudkan untuk mengejutkan mereka dari kelalaiannya dan membuat mereka gemar karena kejahatannya yang besar itu. Sebelum benih Injil dapat ditanamkan, tanah hati itu mesti dihancurkan. Sebelum mereka mencari kesembuhan dari Yesus mereka wajib disadarkan lebih dulu akan bahaya mereka dari luka‑luka dosa.

Allah tidak mengutus pesuruh untuk memuji‑muji orang berdosa. Ia tidak memberikan kabar damai, untuk membuai orang‑orang yang belum disucikan ke dalam keamanan maut, Ia meletakkan beban berat di atas angan‑angan hati orang yang bersalah, serta menusuk jiwa dengan anak panah keyakinan. Malaikat‑malaikat yang melayani menghadapkan kepadanya hukuman Allah yang mengerikan untuk memperdalam rasa keperluan, serta mendorong orang itu berseru "Apakah yang patut saya perbuat, supaya saya mendapat selamat?" Kemudian tangan yang telah merendahkan ke dalam debu itu mengangkat orang yang bertobat itu. Suara yang telah menempelak dosa, dan mendatangkan malu kepada kecongkakan dan sifat suka mencari nama, bertanya dengan belas kasihan yang selembut‑lembutnya, "Apakah kau kehendaki Kuperbuat padamu?"

Ketika pekerjaan Yohanes mulai, bangsa itu tengah berada dalam keadaan gelisah dan rasa tidak puas, di pinggir api revolusi. Setelah Arkhelaus dipecat, Yudea telah ditaruh langsung di bawah kekuasaan Roma. Kelaliman dan pemerasan yang dilakukan oleh gubernur‑gubernur Romawi, dan usaha mereka yang kuat dan tetap hendak memasukkan segala lambang dan kebiasaan kafir, mengobarkan api pemberontakan, yang telah dipadamkan dalam darah beribu‑ribu pahlawan Israel. Semuanya ini mempertebal kebencian nasional terhadap Roma, serta menambahkan kerinduan hendak dibebaskan dari kuasanya.

Di tengah pertikaian dan pergolakan itu, suatu suara terdengar dari padang belantara, suatu suara yang mengagetkan dan keras, namun penuh harapan: "Bertobatlah, karena kerajaan surga sudah hampir." Dengan suatu kuasa yang baru dan asing digerakkannya hati bangsa itu. Nabi‑nabi telah menubuatkan kedatangan Kristus sebagai suatu peristiwa yang masih jauh di masa depan; tetapi di sinilah suatu pengumuman yang mengatakan bahwa kedatangan itu sudah dekat. Munculnya Yohanes secara istimewa itu membawa pikiran para pendengarnya kembali kepada penilik‑penilik purbakala. Dalam cara‑cara serta pakaiannya ia menyerupai nabi Elia. Dengan roh dan kuasa Elia ditegurnya kebejatan bangsa itu dan ditempelaknya dosa‑dosa yang telah merajalela. Perkataannya tegas, tajam, dan meyakinkan. Banyak orang percaya bahwa ialah seorang daripada nabi‑nabi yang bangkit dari antara orang mati. Seluruh bangsa itu tergerak hati. Berduyun‑duyun orang pergi ke padang belantara.


Yohanes memaklumkan kedatangan Mesias, serta mengajak bangsa Itu kepada pertobatan. Sebagai lambang penyucian dari dosa, dibaptiskannya mereka itu di sungai Yordan. Demikianlah dengan suatu pelajaran penting yang mengandung arti dinyatakannya bahwa orang‑orang yang mengaku dirinya umat pilihan Allah itu sudah dinajiskan oleh dosa, dan bahwa dengan tiada penyucian hati dan hidup, mereka itu tidak dapat beroleh bagian dalam kerajaan Mesias itu.

Penghulu‑penghulu dan rabi‑rabi, serdadu‑serdadu, para pemungut cukai, dan para petani datang untuk mendengar nabi itu. Seketika lamanya amaran yang tekun yang datang dari Allah itu mengejutkan hati mereka. Banyak yang bertobat dan menerima baptisan. Orang dari segala lapisan masyarakat menyerahkan diri kepada tuntutan Pembaptis itu, supaya boleh mendapat bagian dalam kerajaan yang diumumkannya itu.
Banyak dari antara katib‑katib dan orang Farisi datang mengakui dosa mereka dan meminta baptisan. Mereka telah meninggikan diri sendiri sebagai orang yang lebih baik daripada orang lain, dan telah menuntun orang banyak untuk memandang tinggi kesalahan mereka; sekarang segala rahasia hidup mereka yang bersalah itu tersingkap. Tetapi Yohanes diberi tahu oleh Roh Suci bahwa banyak dari orang‑orang ini tidak menaruh keyakinan yang sungguh akan dosa. Mereka adalah pengikut aliran masa. Sebagai sahabat nabi itu mereka berharap akan mendapat kebaikan dari Raja yang akan datang itu. Maka oleh menerima baptisan dari tangan guru muda yang termasyhur ini, mereka bermaksud hendak memperkuat pengaruh mereka dalam masyarakat.

Yohanes menghadapi mereka dengan pertanyaan yang tajam ini, "Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah‑buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak‑anak bagi Abraham dari batu‑batu ini!” Orang Yahudi telah salah menafsirkan janji Allah tentang kebaikan yang kekal bagi Israel: "Beginilah firman Tuhan, yang memberi matahari untuk menerangi siang, yang menetapkan bulan dan bintang‑bintang untuk menerangi malam, yang mengharu-biru laut, sehingga gelombang‑gelombangnya ribut,‑‑Tuhan semesta alam nama‑Nya: 'Sesungguhnya, seperti ketetapan‑ketetapan ini tidak akan beralih dari hadapan‑Ku, demikianlah firman Tuhan, demikianlah keturunan Israel juga tidak akan berhenti menjadi bangsa di hadapan‑Ku untuk sepanjang waktu. Beginilah firman Tuhan: Sesungguhnya, seperti langit di atas tidak terukur dan dasar‑dasar bumi di bawah tidak terselidiki, demikianlah juga Aku tidak akan menolak segala keturunan Israel, karena segala apa yang dilakukan mereka, demikianlah firman Tuhan." Yeremia 31:35‑37. Orang Yahudi mengira bahwa karena mereka keturunan Abraham mereka berhak atas janji ini. Tetapi mereka mengabaikan syarat‑syarat yang telah ditentukan Allah. Sebelum memberikan janji itu, Ia telah berfirman, "Aku akan menaruh Taurat‑Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat‑Ku . . . sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." Yeremia 31:33,34.

Kepada suatu bangsa yang dalam hatinya hukum‑Nya tertulis, kebaikan Allah dipastikan. Mereka satu dengan Dia. Tetapi orang Yahudi telah memisahkan diri dari Allah. Karena dosa mereka menderita di bawah hukum‑Nya. Inilah yang menyebabkan perhambaan mereka kepada bangsa kafir. Pikiran mereka sudah digelapkan oleh pelanggaran, dan sebab pada waktu yang lalu Tuhan memberikan kepada mereka kebaikan yang begitu besar, mereka berdalih akan segala dosa mereka. Mereka memuji‑muji diri dengan mengatakan bahwa mereka lebih baik daripada orang lain, dan berhak mendapat berkat‑berkat‑Nya.

Hal ini "dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba." 1 Kor. 10:11. Betapa sering kita salah menafsirkan berkat‑berkat Allah, serta memuji diri kita sendiri bahwa kita beroleh kasih karena sesuatu kebaikan yang ada dalam diri kita. Allah tidak dapat melakukan bagi kita apa yang ingin dilakukan. Segala karunia‑Nya digunakan untuk memperbesar kepuasan diri kita sendiri serta untuk mengeraskan hati kita dalam keadaan kurang percaya dan dosa.

Yohanes menandaskan kepada guru‑guru Israel itu bahwa kecongkakan hati, sifat mementingkan diri, serta kebengisan mereka itu menunjukkan bahwa mereka adalah keturunan ular beludak, suatu kutuk yang sungguh amat berbahaya bagi orang banyak, dan bukan anak‑anak Abraham yang adil dan penurut itu. Mengingat terang yang telah mereka terima dari Allah, mereka bahkan lebih jahat lagi daripada orang kafir, terhadap siapa mereka merasa diri sendiri jauh lebih tinggi. Mereka sudah melupakan batu yang dari padanya mereka telah dipahat, dan lubang yang dari dalamnya mereka telah digali. Allah tidak bergantung pada mereka untuk melaksanakan maksud‑Nya. Sebagaimana Ia telah memanggil Abraham keluar dari suatu bangsa kafir, demikian pula la dapat memanggil orang lain ke dalam pekerjaan‑Nya. Hati mereka mungkin tampak tidak bernyawa sekarang ini sama seperti batu‑batu di padang belantara, tetapi Roh‑Nya dapat menghidupkan mereka untuk melakukan kehendak‑Nya, serta menerima kegenapan janji‑Nya.

"Dan lagi," kata nabi itu, "kapak pun tersedia pada pangkal pohon; sebab itu tiap‑tiap pohon yang tak baik buahnya, yaitu akan ditebang dan dibuang ke dalam api." Bukannya oleh namanya, melainkan oleh buahnya nilai sesuatu pohon ditentukan. Kalau buahnya tidak berguna, maka namanya tidak dapat menyelamatkan pohon itu dari kebinasaan. Yohanes menegaskan kepada orang Yahudi bahwa kedudukan mereka di hadapan Allah harus ditentukan oleh tabiat serta kehidupan mereka. Pengakuan tidak berguna. Kalau kehidupan dan tabiat mereka tidak sesuai dengan hukum Allah, mereka itu bukanlah umat‑Nya.

Akibat perkataannya yang menusuk hati itu, para pendengarnya diyakinkan. Mereka datang kepadanya dengan pertanyaan, "Kalau begitu, apakah yang patut kami perbuat?" Jawabnya, "Adapun orang yang padanya ada baju dua helai, hendaklah dibagikannya kepada orang yang tidak punya, dan orang yang berbekal pun hendaklah berbuat demikian." Dan diberinya amaran kepada para pemungut cukai supaya jangan berlaku curang, dan kepada serdadu‑serdadu supaya jangan melakukan kekerasan.

Semua orang yang menjadi rakyat kerajaan Kristus katanya, akan membuktikan adanya iman dan pertobatan. Kebaikan hati, kejujuran dan kesetiaan akan nampak dalam kehidupan mereka. Mereka akan menolong fakir‑miskin, dan membawa persembahan mereka kepada Allah. Mereka akan melindungi orang yang tidak menaruh perlindungan, serta memberikan teladan kebajikan dan belas‑kasihan. Demikianlah para pengikut Kristus akan memberikan bukti akan kuasa Roh Suci yang mengubahkan itu. Dalam kehidupan sehari‑hari, keadilan, kemurahan, dan kasih Allah, akan kelihatan. Jika tidak demikian maka adalah mereka seperti sekam, yang dicampakkan ke dalam api.


"Aku membaptiskan kamu dengan air," kata Yohanes; "tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut‑Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api." Matius 3:11. Nabi Yesaya telah menandaskan bahwa Tuhan akan membersihkan umat‑Nya dari segala kejahatan mereka "dengan roh yang mengadili dan yang membakar." Firman Tuhan kepada Israel ialah, "Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya." Yes. 4:4; 1:25. Bagi Dosa, di mana saja pun terdapat, "Allah kita adalah api yang menghanguskan." Ibrani 12:29. Dalam diri segala orang yang menyerah kepada kuasa‑Nya, Roh Allah akan menghanguskan dosa. Tetapi kalau orang berpegang teguh kepada dosa, mereka itu menjadi satu dengan dosa. Maka kemuliaan Allah, yang membinasakan dosa itu, mesti membinasakan mereka. Yakub, sesudah malam pergumulannya dengan seorang malaikat berkata, "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!" Kejadian 32:30. Yakub telah melakukan suatu dosa yang besar dalam perlakuannya terhadap Esau; tetapi ia sudah bertobat. Pelanggarannya sudah diampuni, dan dosanya dibasuh; oleh sebab itu ia pun sanggup melihat kenyataan hadirat Allah. Tetapi di mana saja manusia datang menghadap Allah sementara dengan sengaja menyimpan kejahatan, mereka itu dibinasakan. Pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya kelak orang‑orang jahat akan dihanguskan "dengan napas mulut‑Nya," serta "memusnahkannya, kalau Ia datang kembali." 2 Tes. 2:8. Cahaya saleh akan membunuh orang jahat.

Pada zaman Yohanes Pembaptis, Kristus sudah hampir kelihatan sebagai seorang yang menyatakan tabiat Allah. Hadirat‑Nya sendiri akan menyatakan kepada manusia dosa mereka. Hanya bila mereka itu mau dibasuh dari dosa, dapatlah mereka masuk ke dalam persekutuan dengan Dia. Hanya orang yang suci hatinya dapat tinggal di hadirat‑Nya.

Demikianlah Pembaptis itu menyatakan pekabaran Allah kepada Israel. Banyak yang memperhatikan segala pengajarannya. Banyak yang mengorbankan segala sesuatu, agar dapat menurut. Banyak sekali orang yang mengikuti guru baru ini dari satu tempat ke tempat yang lain, dan tidak sedikit pula yang mengharap bahwa mungkin dialah Mesias itu. Tetapi ketika Yohanes melihat orang banyak itu berpaling kepadanya, dicarinyalah setiap kesempatan untuk mengarahkan iman mereka kepada Dia yang akan datang itu.


_____________
(Pasal ini didasarkan atas Lukas 1:5‑23, 57‑80; 3:1‑18; Matius 3:1‑12; Markus 1:1‑8.)

HARI‑HARI PERJUANGAN


Pasal 9

HARI‑HARI PERJUANGAN

SEMENJAK kecil sekali anak orang Yahudi sudah dikelilingi dengan segala tuntutan rabi‑rabi. Berbagai peraturan yang keras sudah ditentukan untuk setiap kegiatan, hingga soal‑soal kehidupan yang terkecil sekali pun. Di bawah asuhan guru‑guru di rumah sembahyang orang‑orang muda diajar tentang peraturan‑peraturan yang tidak terkira banyaknya, yang diharap mereka taati sebagai orang Israel yang beribadat. Tetapi Yesus tidak memusingkan diri‑Nya dalam soal‑soal ini. Sejak kecil Ia berlaku bebas dari segala hukum rabi‑rabi. Segala tulisan dalam Wasiat Lama selamanya dipelajari‑Nya dan perkataan, "Demikianlah sabda Tuhan," selamanya ada di bibir‑Nya.
Ketika keadaan bangsa itu mulai terbuka bagi pikiran‑Nya, dilihat‑Nya bahwa tuntutan masyarakat dan tuntutan Allah selamanya berbenturan satu sama lain. Manusia sudah menjauhkan diri dari sabda Allah, serta meninggikan segala teori rekaan mereka sendiri. Mereka memelihara upacara‑upacara tradisi yang tidak mengandung manfaat. Acara perbaktian mereka hanyalah berupa upacara agama yang diulang‑ulang belaka; segala kebenaran kudus yang hendaknya diajarkannya, tersembunyi dari orang‑orang yang datang berbakti. Ia melihat bahwa dalam upacara‑upacara mereka yang tidak disertai iman itu mereka tidak mendapat damai. Mereka tidak mengenal kebebasan roh yang akan datang kepada mereka oleh berbakti kepada Allah dalam kebenaran. Yesus telah datang guna mengajarkan arti perbaktian kepada Allah, dan Ia tidak dapat membenarkan pencampuran segala tuntutan manusia dengan ajaran Ilahi. Ia tidak menyerang ajaran atau kebiasaan guru‑guru yang alim itu; tetapi bila ditegur karena segala kebiasaan‑Nya sendiri yang sederhana itu, Ia mengucapkan sabda Allah untuk membenarkan tingkah laku‑Nya itu.

Dengan cara yang halus dan lembut, Yesus berusaha menyenangkan hati orang‑orang yang berbicara dengan Dia. Sebab Ia bersikap lemah‑lembut dan tidak suka menonjolkan diri maka katib‑katib dan tua‑tua menyangka bahwa Ia akan mudah terpengaruh oleh pengajaran mereka. Mereka membujuk Dia supaya menerima baik segala adat‑istiadat serta tradisi yang telah diwariskan turun temurun dari rabi‑rabi purbakala, tetapi Ia meminta wewenang mereka dalam Alkitab. Ia mau mendengar tiap sabda yang keluar dari mulut Allah; tetapi Ia tidak dapat menurut segala rekaan manusia. Yesus tampaknya mengetahui Alkitab dari awal sampai akhir, dan Ia menguraikannya dalam arti yang sesungguhnya. Rabi‑rabi merasa malu diajar oleh seorang anak kecil. Mereka menuntut bahwa kewajiban merekalah untuk menjelaskan Alkitab, dan bahwa pihak‑Nyalah yang harus menerima tafsiran mereka. Mereka marah karena Ia berani melawan perkataan mereka itu.

Mereka tahu bahwa tidak ada wewenang yang dapat diperoleh dalam Alkitab untuk tradisi‑tradisi mereka itu. Mereka menyadari bahwa dalam pengertian rohani Yesus jauh lebih maju daripada mereka. Namun mereka marah karena Ia tidak menurut segala perintah mereka. Karena tidak berhasil meyakinkan Dia, mereka mencari Yusuf dan Maria, lalu membentangkan di hadapan mereka pembawaan‑Nya yang tidak taat itu. Demikianlah Ia menderita teguran dan kecaman.


Dalam usia yang masih sangat muda, Yesus sudah mulai bertindak menurut cara‑Nya sendiri dalam pembentukan tabiat‑Nya, bahkan hormat serta cinta pada orang tua‑Nya sekali pun tidak dapat mencegah Dia daripada penurutan kepada firman Allah. "Adalah tersebut" ialah alasan‑Nya bagi tiap perbuatan yang berbeda dari kebiasaan kekeluargaan. Tetapi pengaruh rabi‑rabi menyebabkan pengalaman hidup‑Nya amat pahit. Pada masa muda‑Nya sekalipun Ia mesti memahami pelajaran‑pelajaran berat dalam bertahan dengan diam dan sabar.

Saudara‑saudara‑Nya, ialah anak‑anak Yusuf, memihak kepada rabi‑rabi. Mereka bersikeras mengatakan bahwa tradisi‑tradisi mesti ditaati seakan‑akan hal itu adalah tuntutan Allah. Mereka bahkan menganggap segala ajaran manusia itu lebih tinggi daripada firman Allah, dan mereka merasa sangat tersinggung oleh ketajaman otak Yesus dalam membedakan antara yang salah dan yang benar. Ketaatan‑Nya yang saksama pada hukum Allah mereka salahkan sebagai kedegilan. Mereka merasa heran akan pengetahuan serta akal budi yang ditunjukkan‑Nya dalam menjawab rabi‑rabi. Mereka tahu bahwa Ia tidak pernah mendapat pelajaran dari orang‑orang terpelajar itu, namun mereka terpaksa melihat bahwa Ia merupakan seorang guru bagi mereka. Mereka mengakui bahwa pendidikan‑Nya mengandung jenis yang lebih tinggi daripada pendidikan mereka. Tetapi mereka tidak melihat bahwa Ia dapat menghampiri pohon alhayat, yaitu sebuah sumber ilmu pengetahuan yang tentang itu mereka tidak mengetahui sedikit pun.

Kristus tidak mengasingkan diri, dan Ia telah dengan istimewa menyinggung perasaan kaum Farisi oleh menyimpang dalam hal ini dari peraturan‑peraturan mereka yang keras itu. Ia melihat lapangan agama dipagari dengan tembok pemisah yang tinggi‑tinggi, sebagai sesuatu yang terlalu keramat untuk kehidupan sehari‑hari Tembok pemisah ini dihancurkan‑Nya. Dalam pergaulan‑Nya dengan manusia Ia tidak bertanya. Apa agamamu? Gereja mana kau ikuti? Ia menggunakan kuasa‑Nya untuk kepentingan sekalian orang yang memerlukan pertolongan. Gantinya mengasingkan diri dalam rumah pertapaan, agar dapat menunjukkan tabiat semawi‑Nya, Ia bekerja dengan tekun untuk umat manusia. Ia menanamkan asas bahwa agama Kitab Suci tidak bergantung kepada penyiksaan tubuh. Ia mengajarkan bahwa agama yang suci dan tidak bercacat bukannya dimaksudkan semata‑mata untuk waktu‑waktu tertentu dan untuk saat‑saat istimewa. Pada segala waktu dan di segala tempat Ia menyatakan minat yang penuh kasih‑sayang terhadap manusia, serta memancarkan di sekeliling‑Nya cahaya kesalehan yang gembira. Semuanya ini merupakan suatu tempelakan bagi orang Farisi. Ditunjukkannya bahwa agama bukannya bergantung kepada sifat mementingkan diri dan bahwa pengabdian mereka yang tidak sehat itu kepada kepentingan diri sendiri adalah jauh daripada peribadatan yang sejati. Hal ini telah membangkitkan permusuhan mereka melawan Yesus, sehingga mereka mencoba memaksakan penurutan‑Nya kepada segala peraturan‑peraturan mereka.



Yesus bekerja untuk meringankan setiap penderitaan yang dilihat‑Nya. Ia mempunyai sedikit uang untuk diamalkan, tetapi Ia acapkali menyangkal diri untuk memberikan makanan agar dapat membantu orang‑orang yang lebih berkekurangan daripada‑Nya. Saudara‑saudara‑Nya merasa bahwa pengaruh‑Nya berjasa banyak untuk merintangi pengaruh mereka. Ia mempunyai akal budi yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari mereka atau yang ingin mereka miliki. Kalau mereka berbicara kasar kepada orang yang miskin dan hina, Yesus mencari justru orang‑orang yang malang ini, serta memberanikan hati mereka. Kepada orang‑orang yang berkekurangan Ia suka memberikan secangkir air sejuk, seraya dengan diam‑diam menaruh makanan‑Nya Sendiri ke tangan mereka. Sementara Ia meringankan penderitaan mereka, segala kebenaran yang diajarkan‑Nya dihubungkan dengan perbuatan kasihan‑Nya itu, dan dengan demikian mencantumkannya dalam ingatan.

Semuanya ini mengecilkan hati saudara‑Nya. Karena lebih tua dari Yesus mereka merasa bahwa Ia harus di bawah perintah mereka. Mereka mempersalahkan Dia dengan mengatakan bahwa Ia menganggap diri‑Nya lebih tinggi daripada mereka, serta menegur Dia karena menempatkan diri‑Nya sendiri di atas guru‑guru mereka, di atas imam‑imam mereka dan penghulu‑penghulu bangsa Yahudi. Sering mereka mengancam dan mencoba menakut‑nakuti Dia; tetapi Ia berjalan terus menggunakan Alkitab sebagai penuntun‑Nya.

Yesus mengasihi saudara‑saudara‑Nya, dan memperlakukan mereka itu dengan kebaikan hati yang tiada putus‑putusnya; tetapi mereka itu cemburu pada‑Nya, dan menyatakan sikap kurang percaya dan sikap memandang remeh yang nyata. Mereka tidak dapat mengerti tingkah laku‑Nya. Banyaklah pertentangan besar nampak dalam diri Yesus. Ialah Anak Allah yang Ilahi namun Ia adalah seorang anak kecil yang tidak berdaya. Khalik segala dunia, dan bumi ini adalah milik‑Nya, namun kemiskinan meliputi pengalaman hidup‑Nya pada setiap langkah. Ia memiliki suatu kebesaran dan kepribadian yang semata‑mata berbeda dengan kesombongan dan ketekeburan duniawi; Ia tidak berjuang untuk mengejar kebesaran duniawi, malah dalam kedudukan yang terhina sekali pun Ia merasa puas. Hal ini membangkitkan kemarahan saudara‑saudara-Nya. Mereka tidak dapat mengerti ketenangan-Nya yang tetap dalam menghadapi ujian dan kemelaratan. Mereka tidak tahu bahwa untuk kepentingan kita Ia telah menjadi papa, supaya kita "menjadi kaya oleh kepapaan‑Nya itu." Mereka tidak dapat mengerti rahasia tugas‑Nya lebih daripada sahabat‑sahabat Ayub dapat mengerti kehinaan serta penderitaannya.

Yesus dipahami salah oleh saudara‑saudara‑Nya sebab Ia tidak seperti mereka. Asas yang dipegang‑Nya bukanlah asas yang mereka pegang. Dalam memandang kepada manusia mereka telah menjauhkan diri dari Allah, dan mereka tidak mempunyai kuasa‑Nya dalam hidup mereka. Segala peraturan agama yang mereka anut itu, tidak dapat mengubahkan tabiat. Mereka membayar "dalam sepuluh asa daripada selasih dan adas manis dan jintan," tetapi "lalaikan perkara yang terberat dalam Taurat, yaitu kebenaran dan rahmat dan amanat." Teladan yang diberikan Yesus merupakan suatu gangguan yang terus‑menerus bagi mereka. Hanya satu perkara yang dibenci‑Nya di dunia ini, yaitu dosa. Ia tidak dapat menyaksikan satu perbuatan yang salah tanpa kepedihan yang tidak mungkin dapat disembunyikan. Di kalangan orang‑orang yang beragama sekadar peraturan saja, yang kesuciannya secara lahir menyembunyikan kecintaan pada dosa, dengan suatu tabiat yang dalamnya semangat untuk kemuliaan Allah selamanya paling utama, perbedaan amat nyata. Sebab kehidupan Yesus mempersalahkan kejahatan, Ia dilawan baik di rumah maupun di luar rumah. Sifat tidak mementingkan diri dan ketulusan‑Nya dibicarakan dengan sikap mengejek. Kesabaran dan kebaikan hati‑Nya disebut sifat pengecut.


Dari segala kepahitan yang menjadi nasib manusia, tidak ada bagian yang tidak dirasai oleh Kristus. Ada orang yang mencoba melemparkan hinaan kepada‑Nya karena kelahiran‑Nya, bahkan pada waktu masih kanak‑kanak pun Ia mesti menghadapi pandangan mereka yang menghina dan bisikan mereka yang jahat. Sekiranya Ia menjawab dengan sepatah kata dan pandangan yang tidak sabar, sekiranya la menyerah kalah kepada saudara‑saudara‑Nya itu oleh hanya suatu perlakuan yang salah sekali pun, niscaya Ia sudah akan gagal menjadi suatu teladan yang sempurna. Dengan demikian Ia sudah pasti akan gagal melaksanakan Ikhtiar penebusan kita. Sekiranya Ia hanya mengaku bahwa ada maaf untuk dosa, Setan tentu akan menang, dan dunia ini sudah pasti akan hilang. Inilah sebabnya mengapa penggoda itu bekerja untuk menjadikan hidup‑Nya paling sukar, supaya Ia dapat terbawa kepada dosa.

Tetapi bagi setiap penggodaan Ia mempunyai satu jawab, "Adalah tertulis." Ia jarang mengecam sesuatu perlakuan salah dari saudara‑saudara‑Nya, tetapi pada‑Nya ada kabar dari Allah untuk disampaikan kepada mereka. Kerapkali la dituduh sebagai pengecut karena tidak mau mempersatukan diri dengan mereka dalam sesuatu perbuatan terlarang; tetapi jawab‑Nya ialah, adalah tertulis, "Takut akan Tuhan itulah hikmat adanya dan menjauhkan diri daripada jahat itulah akal budi."

Ada juga orang yang suka bergaul dengan Dia, merasa damai kalau Ia ada; tetapi banyak juga orang yang menghindari Dia, sebab mereka tertempelak oleh hidup‑Nya yang tidak bercela itu. Teman‑teman‑Nya orang muda membujuk Dia supaya melakukan apa yang mereka lakukan. Ia pintar dan selalu gembira; mereka merasa senang kalau la ada, serta menyambut gembira anjuran‑anjuran‑Nya yang selamanya siap sedia; tetapi mereka tidak sabar akan sikap-Nya yang amat berhati‑hati dan menyebut Dia seorang yang berpandangan sempit dan picik. Yesus menjawab, Adalah tersebut, "Dengan apa gerangan boleh orang muda memeliharakan jalannya suci daripada salah? Kalau dijaganya dengan sabda‑Mu." "Maka segala pesan‑Mu telah kutaruh dalam hatiku, supaya jangan aku berdosa kepada‑Mu."

Acapkali Ia ditanya, Mengapa engkau selalu suka menyendiri dalam segala tingkah‑lakumu, berbeda dari kami semuanya? Adalah tertulis, kata‑Nya, "Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya." Mazmur 119:1 ‑3.


Apabila ditanya mengapa Ia tidak mengikuti senda‑gurau anak‑anak muda Nazaret, la berkata, Adalah tersebut, "Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan." Mazmur 119:14‑16

Yesus tidak mau berbantah untuk mempertahankan hak‑Nya. Sering pekerjaan‑Nya dijadikan sangat berat dengan tidak seperlunya sebab Ia suka menurut dan tidak bersungut. Namun Ia tidak gagal atau pun putus asa. Ia hidup di atas segala kesulitan ini, seolah‑olah dalam cahaya wajah Allah. Ia tidak membalas dengan dendam apabila diperlakukan dengan kasar, melainkan menanggung perlakuan yang tidak senonoh dengan sabar.


Berulang‑ulang Ia ditanyai, Mengapa Engkau menyerah saja pada perlakuan yang tidak senonoh itu, meski dari saudara‑saudara‑Mu? Adalah tersurat, kata‑Nya, "Hai anak‑Ku, jangan kiranya engkau lupa akan hukum‑Ku, melainkan hendaklah hatimu memeliharakan segala pesan‑Ku. Karena ia itu akan menambahi segala hari dan tahun umur hidupmu dan memperbanyak selamat bagimu. Jangan kiranya peri kemurahan dan setia itu meninggalkan dikau, melainkan kalungkanlah dia pada lehermu dan suratkanlah dia pada loh hatimu. Karena demikian engkau akan beroleh karunia dan kebajikan, baik daripada pihak Allah, baik daripada pihak manusia."

Sejak orangtua Yesus menjumpai Dia di bait suci, segala tingkah laku‑Nya merupakan suatu rahasia bagi mereka. Ia tidak mau berbantah, namun teladan yang diberikan‑Nya selamanya menjadi suatu pelajaran. Ia tampak sebagai seorang yang sudah diasingkan. Saat‑saat kebahagiaan‑Nya ialah bila Ia seorang diri dengan alam kejadian dan dengan Allah. Bila saja ada kesempatan terluang bagi‑Nya, Ia meninggalkan pekerjaan‑Nya, lalu pergi ke ladang, untuk merenung di lembah‑lembah yang menghijau, untuk mengadakan hubungan dengan Allah di lereng gunung atau di bawah pepohonan yang rindang daunnya. Sering pagi‑pagi buta Ia berada di suatu tempat yang sunyi, untuk merenung, menyelidik Alkitab, atau berdoa. Dari saat‑saat yang tenang ini Ia pulang ke rumah‑Nya untuk melakukan kewajiban‑Nya pula, dan guna memberikan suatu teladan dalam melakukan pekerjaan dengan sabar.

Kehidupan Kristus ditandai dengan kehormatan dan kasih pada ibu‑Nya. Maria percaya dalam hatinya bahwa anak kudus yang lahir daripadanya itulah Mesias yang sudah lama dijanjikan itu, namun ia tidak berani menyatakan keyakinannya itu. Selama Ia hidup di bumi ini Maria turut mengambil bagian dalam kesengsaraan‑Nya. Ia menyaksikan dengan duka segala penderitaan yang didatangkan kepada‑Nya pada waktu Ia masih kanak‑kanak dan anak muda. Oleh membenarkan apa yang diketahuinya benar dalam kelakuan Yesus, ia sendiri terbawa ke dalam kedudukan yang sulit. Ia memandang pada pergaulan di rumah tangga dan pemeliharaan ibu yang lemah‑lembut akan anak‑anaknya sebagai sesuatu yang sangat penting dalam pembentukan tabiat. Anak‑anak Yusuf lelaki dan perempuan mengetahui hal ini, dan dengan menarik perhatian kepada kecemasan hati ibu itu, mereka mencoba memperbaiki kebiasaan‑kebiasaan Yesus sesuai dengan ukuran mereka.
Maria acapkali menegur Yesus, serta mendesak agar Ia mengikuti kebiasaan rabi‑rabi. Tetapi tiadalah Ia dapat dibujuk untuk mengubahkan kebiasaan‑Nya dalam merenungkan perbuatan tangan Allah serta berusaha meringankan penderitaan manusia, bahkan penderitaan binatang‑binatang yang bisu sekali pun. Apabila imam‑imam dan guru‑guru menuntut bantuan Maria dalam mengendalikan Yesus, ia merasa amat susah; tetapi damai datang ke dalam hatinya setelah diucapkan‑Nya sebutan‑sebutan Alkitab yang menyokong segala kebiasaan‑Nya itu.

Ada kalanya ia merasa ragu‑ragu antara Yesus dan saudara‑saudara‑Nya, yang tidak percaya bahwa Ialah Utusan dari Allah; tetapi bukti banyak sekali yang menyatakan bahwa tabiat‑Nya itu Ilahi adanya. Ia melihat Dia mengorbankan diri‑Nya sendiri demi kebaikan orang‑orang lain. Hadirat‑Nya membawa suatu suasana yang lebih murni ke dalam rumah tangga, dan kehidupan‑Nya adalah bagaikan ragi yang bekerja di tengah anasir‑anasir kemasyarakatan. Dalam keadaan tidak berdosa dan tidak bercela, Ia berjalan di antara orang‑orang yang kurang pikir, yang kasar dan yang tidak sopan; di antara para pemungut cukai yang curang, anak-anak sesat yang nekat, orang‑orang Samaria yang najis, serdadu‑serdadu kafir, petani‑petani yang kasar, dan orang banyak yang serba aneka keadaannya. Ia mengucapkan sepatah kata belas kasihan di sini dan sepatah kata di sana, bila Ia melihat orang yang penat, namun terpaksa memikul beban‑beban yang berat. Ia turut memikul beban mereka seraya memberikan kepada mereka itu pelajaran‑pelajaran yang telah dipelajari‑Nya dari alam kejadian, tentang kasih‑sayang, kebaikan hati dan kebajikan Allah.‑


Ia mengajar semua orang untuk memandang bahwa diri mereka sendiri telah dianugerahi pelbagai macam bakat, yang jika digunakan dengan semestinya akan menghasilkan kekayaan yang kekal bagi mereka. Ia mencabut segala kesia‑siaan dari kehidupan, dan oleh teladan yang diberikan‑Nya mengajarkan bahwa setiap saat adalah penuh berisi akibat‑akibat yang kekal; bahwa waktu itu harus dijaga seperti sebuah harta, dan harus digunakan untuk maksud‑maksud yang suci. Ia tidak pernah melalui seseorang jua pun sebagai tidak berharga, melainkan berusaha membubuhkan penawar yang menyelamatkan kepada tiap‑tiap jiwa. Dalam rombongan manusia yang mana pun Ia berada, Ia menyampaikan sesuatu pelajaran yang selaras dengan waktu dan keadaan. Ia berusaha mengilhamkan harapan ke dalam hati orang‑orang yang paling kasar dan tidak memberi banyak harapan, membukakan kepada mereka jaminan bahwa mereka dapat menjadi bebas dari cela dan bencana, mencapai suatu tabiat yang akan menjadikan mereka nyata sebagai anak‑anak Allah. Kerapkali Ia bertemu dengan orang‑orang yang telah hanyut di bawah kendali Setan, dan yang tidak berkuasa melepaskan diri dari jeratnya. Kepada seseorang yang demikian, yang putus asa, sakit, tergoda, dan terjerumus, Yesus mengucapkan perkataan belas kasihan yang paling lemah‑lembut, perkataan yang diperlukan dan yang dapat dipahami. Sering pula Ia bertemu dengan orang‑orang lain, yang sedang bertempur melawan musuh jiwa. Ia meneguhkan semangat orang‑orang ini supaya tetap tabah, seraya memberi jaminan bahwa mereka pasti menang; karena malaikat‑malaikat Allah berdiri di pihak mereka, dan akan memberi kepada mereka kemenangan. Orang‑orang yang ditolong‑Nya dengan demikian diyakinkan bahwa inilah Dia yang padanya mereka dapat berharap dengan keyakinan yang sempurna. Ia tidak akan mengkhianati segala, rahasia yang mereka sampaikan ke telinga‑Nya yang menaruh simpati.

Yesuslah yang menyembuhkan tubuh dan jiwa. Ia menaruh perhatian dalam segala jenis penderitaan yang terlihat oleh mata‑Nya, dan kepada setiap penderita Ia membawa pertolongan, segala perkataan‑Nya yang manis mengandung penawar yang menyembuhkan. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa Ia telah mengadakan mukjizat; tetapi kebajikan kuasa kasih yang menyembuhkan keluar daripada‑Nya kepada orang‑orang yang sakit dan yang susah. Demikianlah dengan cara yang tiada mencolok mata la bekerja bagi orang banyak sejak masa kecil‑Nya sekali pun. Maka inilah sebabnya, setelah Ia mulai bekerja untuk umum, begitu banyak orang mendengar Dia dengan senang hati.

Namun sepanjang masa kanak‑kanak, masa muda, dan masa dewasa, Yesus berjalan seorang diri. Dalam kesucian dan kesetiaan‑Nya, Ia mengirik apitan anggur seorang diri, dan tiada seorang jua pun yang menyertai Dia. Ia memikul beban kewajiban yang luar biasa beratnya, untuk keselamatan umat manusia. Ia maklum bahwa kalau tidak ada sesuatu perubahan yang nyata dalam asas‑asas serta maksud‑maksud bangsa manusia, semuanya pasti akan binasa. Inilah tanggungan jiwa‑Nya, dan seorang jua pun tiada yang dapat menyadari beban yang terletak di atas pundak‑Nya itu. Penuh dengan maksud yang kuat, dilaksanakan‑Nyalah rencana hidup‑Nya bahwa Ia sendiri harus menjadi terang bagi manusia.

KUNJUNGAN KE PESTA PASKAH


Pasal 8

KUNJUNGAN KE PESTA PASKAH

BAGI bangsa Yahudi tahun keduabelas ialah garis pemisah antara masa kanak‑kanak dan masa muda. Setelah meningkat ke dalam usia ini seorang anak muda Ibrani disebut anak hukum, dan juga anak Allah. Ia diberi kesempatan istimewa untuk pelajaran agama, dan diharapkan untuk mengikuti berbagai pesta dan upacara keagamaan. Sesuai dengan kebiasaan inilah Yesus pada masa mudanya mengadakan kunjungan Paskah ke Yerusalem. Sebagaimana semua orang Israel yang tekun beribadat, Yusuf dan Maria naik tiap tahun untuk menghadiri Paskah, dan sesudah Yesus mencapai umur yang dituntut, mereka membawa Dia beserta mereka.

Ada tiga pesta tahunan, Paskah, Pentakosta, dan Pesta Pondok Daun‑daunan, pada kesempatan seperti itu semua orang laki‑laki Israel diperintahkan menghadap, Tuhan di Yerusalem. Di antara semua pesta ini pesta Paskahlah yang paling ramai dikunjungi orang. Banyak yang datang dari segala negeri di mana orang Yahudi tercerai‑berai. Dari segenap bagian Palestina datanglah orang‑orang yang hendak berbakti dalam rombongan‑rombongan yang besar. Perjalanan dari Galilea memerlukan beberapa hari, dan para pengunjung itu bersatu dalam rombongan‑rombongan besar buat teman perlindungan. Kaum wanita dan orang‑orang yang sudah lanjut usianya mengendarai lembu jantan atau keledai melalui jalan yang curam dan berbatu‑batu. Orang‑orang laki‑laki dewasa dan anak‑anak muda yang agak kuat, berjalan kaki. Waktu pesta Paskah itu, jatuh pada akhir bulan Maret atau pada awal bulan April, dan seluruh negeri bersemarak dengan bunga‑bunga dan beria‑ria dengan kicauan burung. Sepanjang jalan tampak tempat‑tempat yang menjadi kenang‑kenangan dalam sejarah bangsa Israel maka ibu‑ibu serta bapa‑bapa mengisahkan kepada anak‑anak mereka masing‑masing tentang mukjizat‑mukjizat yang telah diadakan Allah bagi umat‑Nya pada masa yang telah lampau. Mereka mengisi waktu perjalanan itu dengan nyanyian dan musik, dan tatkala akhirnya menara‑menara Yerusalem nampak, berpadulah tiap suara dalam nyanyian kegembiraan yang gegap‑gempita--

"Bahwa kaki kami adalah berdiri Dalam pintu negerimu, hai Yerusalem . . .
Hendaklah ada selamat dalam kota‑bentengmu,
Dan sejahtera dalam segala mahligaimu!" mahligaimu!"


Pemeliharaan Paskah mulai dengan kelahiran bangsa Ibrani. Pada malam terakhir dari masa perhambaan mereka di Mesir, apabila tiada sesuatu tanda kelepasan tampak, Allah memerintahkan mereka supaya bersiap‑siap untuk kelepasan yang segera akan terjadi. Ia telah memberikan amaran kepada Firaun tentang hukuman yang terakhir atas orang Mesir, dan Ia telah menyuruh orang Ibrani mengumpulkan keluarga mereka di tempat kediaman masing‑masing. Setelah segala ambang pintu dipercik dengan darah anak domba yang disembelih, mereka harus memakan daging anak domba itu, yang sudah dipanggang, bersama apam fatir dan gulai yang pahit. "Maka dengan demikian  hendaklah kamu makan dia," firman‑Nya, "yaitu dengan berikat pinggangmu dan berkasut kakimu dan tongkat pada tanganmu, maka hendaklah kamu makan dia dengan bersegera‑segera, yaitu Paskah Tuhan." Tengah malam semua anak sulung orang‑orang Mesir mati terbunuh. Kemudian raja mengirimkan kabar kepada bangsa Israel, "Berangkatlah kamu; keluarlah dari antara segala rakyatku, . . . pergilah kamu berbuat bakti kepada Tuhan, setuju dengan katamu." Orang‑orang Ibrani itu pergi keluar dari Mesir sebagai satu bangsa yang merdeka. Tuhan telah memerintahkan supaya pesta Paskah itu diselenggarakan tiap tahun. "Maka akan jadi kelak," la bersabda, "apabila anakmu bertanya akan kamu: Apakah kebaktian yang pada kamu ini? Hendaklah kamu menyahut: Inilah korban paskah bagi Tuhan, yang lalu daripada segala rumah bangsa Israel dalam negeri Mesir tatkala dipalu‑Nya segala orang Mesir, maka dilindungkan‑Nya segala rumah kita." Demikianlah dari ke­turunan kepada keturunan hikayat tentang kelepasan yang ajaib ini harus diulangi.

Paskah itu disusul dengan pesta roti yang tidak beragi yang lamanya tujuh hari. Pada hari yang kedua dari pesta tersebut, buah bungaran dari panen tahun itu, seberkas syeir, dipersembahkan di hadirat Tuhan. Segenap upacara pesta itu membayangkan pekerjaan Kristus. Kelepasan bangsa Israel dari Mesir adalah satu pelajaran yang membayangkan penebusan, dan untuk itu Paksah dimaksudkan untuk mengingatkannya. Domba yang disembelih, roti yang tidak beragi, buah bungaran itu, membayangkan Juruselamat.

Bagi kebanyakan orang pada zaman Kristus, pemeliharaan pesta ini telah merosot menjadi sekadar hari raya upacara saja. Tetapi betapa besar artinya bagi Putra Allah!
Inilah kali yang pertama Yesus melihat bait suci. Ia melihat imam‑imam yang berjubah putih melakukan tugas mereka dengan penuh khidmat. Ia melihat korban yang bergelimangan darah di atas mezbah korban. Bersama dengan orang‑orang yang berbakti la tunduk berdoa, sementara asap dupa naik di hadirat Allah. Ia menyaksikan upacara Paskah yang mengesankan itu. Hari demi hari Ia melihat arti semuanya dengan bertambah jelas. Tiap perbuatan tampaknya terikat dengan hidup‑Nya sendiri. Getaran‑getaran baru timbul dalam dada‑Nya. Dengan tenang dan penuh perhatian, la nampaknya mempelajari sebuah soal yang pelik. Rahasia tugas‑Nya sedang terbuka bagi Juruselamat.

Karena terlalu asyiknya memikirkan peristiwa ini, la tidak tinggal tetap di samping orang tua‑Nya. Ia berusaha menyendiri. Sesudah upacara‑upacara Paskah itu berakhir, Ia masih tinggal di halaman bait suci itu; dan setelah semua orang yang berbakti meninggalkan Yerusalem, Ia ketinggalan di sana.

Dalam kunjungan ke Yerusalem ini, orangtua Yesus ingin memperkenalkan Dia dengan guru‑guru besar di kalangan orang Israel. Meskipun Ia taat dalam segala hal pada firman Allah, la tidak menyesuaikan diri dengan segala upacara dan kebiasaan rabi‑rabi itu. Yusuf dan Maria mengharap supaya la dapat dipimpin untuk menghormati rabi‑rabi yang terpelajar itu, dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada tuntutan‑tuntutan mereka. Tetapi Yesus dalam bait suci itu sudah diajar oleh Allah. Apa yang telah diterima‑Nya, dengan segera mulai diberikan‑Nya.
Pada zaman itu sebuah ruangan yang dihubungkan dengan bait suci dijadikan sekolah suci, menurut cara sekolah nabi‑nabi. Di sinilah rabi‑rabi yang terkemuka berhimpun dengan murid‑muridnya dan ke sinilah Yesus datang. Setelah duduk di kaki orang‑orang yang terpelajar dan disegani ini Ia mendengarkan pengajaran mereka. Selaku seorang yang suka menuntut hikmat, ditanyai‑Nya guru‑guru itu tentang nubuatan‑‑nubuatan dan tentang peristiwa‑peristiwa yang sedang terjadi pada waktu itu, yang menunjuk kepada kedatangan Mesias.


Yesus menunjukkan diri‑Nya sebagai seorang yang haus akan pengetahuan tentang Allah. Pertanyaan‑pertanyaan‑Nya mengandung kebenaran‑kebenaran yang dalam yang sudah lama tersembunyi, namun yang mutlak bagi keselamatan jiwa. Sementara menyatakan betapa sempit dan dangkal adanya pengetahuan orang‑orang pintar itu, setiap pertanyaan membuka bagi mereka suatu pelajaran Ilahi, serta menaruh kebenaran dalam segi pandangan yang baru. Rabi‑rabi itu berbicara tentang kemuliaan ajaib yang akan dibawa oleh kedatangan Mesias kepada bangsa Yahudi; tetapi Yesus menyebutkan nubuatan nabi Yesaya lalu menanyakan kepada mereka apa arti tulisan‑tulisan yang menunjuk kepada penderitaan serta kematian Anak Domba Allah.
Doktor‑doktor itu berpaling kepada‑Nya dengan pertanyaan‑pertanyaan, dan mereka keheran‑heranan mendengar segala jawab‑Nya. Dengan kerendahan hati seorang anak kecil Ia mengulangi ayat Alkitab, memberikan kepadanya arti yang begitu dalam, yang belum pernah diselami oleh orang‑orang pandai itu. Seandainya diturut, maka garis‑garis kebenaran yang ditunjukkan‑Nya itu niscaya sudah melahirkan suatu reformasi dalam agama zaman itu. Perhatian yang tekun dalam soal‑soal kerohanian niscaya sudah timbul; dan apabila Yesus memulai pekerjaan‑Nya, banyaklah orang yang akan bersedia untuk menerima Dia.

Rabi‑rabi itu tahu bahwa Yesus belum pernah dididik di sekolah mereka; namun pengertian‑Nya tentang nubuatan‑nubuatan jauh melampaui pengertian mereka. Dalam diri anak Galilea yang cerdas ini mereka melihat banyak kemungkinan yang besar. Mereka ingin mendapat Dia sebagai murid, supaya Ia menjadi guru di kalangan orang Israel. Mereka ingin bertanggung jawab atas pendidikan‑Nya, dengan merasa bahwa pikiran yang demikian aslinya wajib ditaruh di bawah asuhan mereka.

Perkataan Yesus telah menggerakkan hati mereka sebagaimana belum pernah dulu digerakkan oleh ucapan yang keluar dari bibir manusia. Allah sedang berusaha hendak memberikan terang kepada para pemimpin Israel, dan la menggunakan satu‑satunya ikhtiar yang dengan itu mereka dapat dicapai. Dalam kesombongannya mereka niscaya akan merasa tidak suka mengaku bahwa mereka dapat menerima pelajaran dari seseorang. Sekiranya Yesus tampak seakan‑akan berusaha hendak mengajar mereka, sudah tentu mereka tidak akan mau mendengarkan‑Nya. Tetapi mereka membanggakan diri sendiri bahwa mereka sedang mengajar Dia, atau sekurang‑kurangnya menguji pengetahuan‑Nya akan Alkitab. Kesederhanaan serta budi pekerti kemudaan Yesus melenyapkan segenap prasangka mereka.

Dengan tidak sadar pikiran mereka terbuka bagi firman Allah, dan Roh Suci berbicara kepada hati mereka.
Tak dapat tidak mereka harus sadar bahwa pengharapan mereka tentang Mesias tidak disokong oleh nubuatan; tetapi mereka tidak mau meninggalkan teori‑teori yang telah membesar‑besarkan cita‑cita mereka. Mereka tidak mau mengaku bahwa mereka sudah salah mengerti akan Alkitab yang mereka ajarkan itu. Dari seorang kepada seorang beredarlah pertanyaan, Bagaimanakah anak muda ini mendapat pengetahuan, sedangkan ia tidak pernah belajar? Terang sudah bersinar dalam kegelapan; tetapi "kegelapan itu tidak menguasainya." Yoh. 1:5 .


Dalam pada itu Yusuf dan Maria sudah sangat bingung dan susah. Ketika berangkat dari Yerusalem mereka sudah tidak melihat Yesus, dan mereka tidak tahu bahwa Ia tinggal di sana. Pada waktu itu negeri itu penuh sesak dengan manusia, dan kalifah‑kalifah dari Galilea amat besar. Suasana sungguh kacau sekali ketika mereka meninggalkan kota. Di tengah jalan kesukaan berjalan dengan sahabat‑sahabat dan handai‑taulan memenuhi perhatian mereka, sehingga mereka tidak memperhatikan bahwa Ia tidak ada di situ hingga malam tiba. Kemudian ketika mereka berhenti hendak beristirahat, mereka kehilangan tangan anak mereka yang selalu siap sedia membantu. Karena menyangka bahwa la ada dalam rombongan itu, mereka tadinya tidak merasa cemas. Muda seperti Dia itu, mereka telah percaya kepada‑Nya dengan tiada syak, mengharap bahwa bila diperlukan, la tentu akan bersedia hendak membantu mereka, mengharapkan adanya keperluan‑keperluan mereka sebagaimana kebiasaan‑Nya. Tetapi saat ini kekuatiran mereka timbul. Mereka mencari Dia di seluruh rombongan mereka itu, tetapi sia‑sia belaka. Dengan perasaan gemetar mereka teringat bagaimana Herodes sudah mencoba hendak membinasakan Dia waktu la masih bayi. Kekuatiran hebat memenuhi hati mereka. Dipersalahkannya diri sendiri dengan amat sangat.

Setelah kembali ke Yerusalem, mereka terus‑menerus mencari. Keesokan harinya, sedang mereka bersama‑sama dengan orang‑orang yang berbakti, suatu suara yang mereka kenal menarik perhatian mereka. Tidak mungkin salah lagi; tiada suara lain yang serupa dengan suara‑Nya, begitu singgah dan tekun namun begitu manis lagunya.

Di sekolah rabi‑rabi itu mereka menemukan Yesus. Meskipun sangat bersuka, mereka tidak dapat melupakan kesusahan serta kekuatiran mereka yang telah lalu. Sesudah Ia bersama‑sama dengan mereka kembali, ibu itu berkata, dalam perkataan yang mengandung teguran, "Hai Anakku, mengapa Engkau berbuat demikian akan kami? bahwa bapa‑Mu dan aku mencari Engkau dengan susah hati."

Mengapa Aku kamu cari?" sahut Yesus. "Tidakkah kamu tahu, bahwa tak dapat tidak adalah Aku dalam rumah Bapa‑Ku?" Dan waktu mereka tampaknya tidak mengerti perkataan‑Nya itu, Ia menunjuk ke atas. Pada wajah‑Nya tampaklah seperti sinar yang mengherankan mereka. Keilahian sedang memancar dari kemanusiaan. Ketika menemukan Dia di dalam bait suci, mereka sempat mendengar apa yang berlangsung antara Dia dan rabi‑rabi itu, dan mereka tercengang‑cengang mendengar segala pertanyaan dan jawab‑Nya. Perkataan‑Nya melahirkan serentetan buah pikiran yang tidak pernah akan terlupakan.
Dan pertanyaan‑Nya kepada mereka mengandung suatu pelajaran. "Tidakkah kamu tahu," kata‑Nya, "bahwa tak dapat tidak adalah Aku dalam rumah Bapa‑Ku?" Yesus sedang mengerjakan pekerjaan yang Ia telah datang ke dunia ini untuk mengerjakannya; tetapi Yusuf dan Maria sudah melalaikan pekerjaan mereka sendiri. Allah telah mengaruniai mereka kehormatan besar dalam mempercayakan Putra‑Nya kepada mereka. Malaikat‑malaikat suci telah memimpin perjalanan Yusuf untuk menjaga nyawa Yesus. Tetapi sehari suntuk Mereka telah kehilangan Dia yang seharusnya tidak boleh mereka lupakan sekejap mata pun. Maka apabila kekuatiran hati mereka sudah lalu, mereka bukannya mempersalahkan diri sendiri, melainkan melemparkan kesalahan itu kepada‑Nya.

Adalah wajar bagi orangtua Yesus untuk menganggap Dia sebagai anak mereka sendiri. Ia ada di antara mereka setiap hari, kehidupan‑Nya dalam banyak hal adalah serupa dengan kehidupan anak‑anak yang lain, sehingga sukarlah bagi mereka untuk menginsafi bahwa lalah Putra Allah. Mereka hampir gagal untuk menghargai berkat yang dikaruniakan kepada mereka dalam hadirat Penebus dunia. Kesusahan hati akibat perpisahan mereka dari Dia, dan teguran halus yang terkandung dalam perkataan‑Nya itu, dimaksudkan untuk mengingatkan kepada mereka betapa sucinya tanggung jawab yang diserahkan kepada mereka.


Dalam jawab‑Nya kepada ibu‑Nya, Yesus menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa la mengerti hubungan‑Nya dengan Allah. Sebelum la lahir malaikat telah berkata kepada Maria, "Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya." Lukas 1:32, 33. Perkataan ini sudah direnungkan Maria dalam hatinya; namun meskipun ia yakin bahwa anaknya itu harus menjadi Mesias bagi umat Israel, ia tidak mengerti akan tugas‑Nya. Kini ia tidak mengerti akan perkataan‑Nya; tetapi ia tahu bahwa Anaknya itu telah menyangkal tali kekeluargaan dengan Yusuf, dan telah menyatakan bahwa Ialah Putra Allah.

Yesus tidak mengabaikan hubungan‑Nya dengan orang tua‑Nya yang di dunia ini. Dari Yerusalem Ia pulang ke rumah bersama mereka, dan Ia membantu mereka dalam pekerjaan sehari‑hari. Ia menyembunyikan rahasia tugas‑Nya  dalam hati‑Nya sendiri, menanti dengan taat saat yang telah ditentukan bagi‑Nya untuk memulai pekerjaan‑Nya. Delapan belas tahun lamanya sesudah Ia mengakui bahwa Ialah Putra Allah, Ia mengakui tali yang mengikatkan Dia ke rumah tangga yang di Nazaret dan melakukan segala kewajiban seorang anak, seorang saudara, seorang sahabat, dan seorang warga negara.

Oleh karena tugas‑Nya sudah terbuka bagi Yesus dalam bait suci, la menghindari hubungan dengan orang banyak. Ia ingin pulang dari Yerusalem dengan diam‑diam, bersama dengan mereka yang tahu akan rahasia hidup‑Nya. Oleh upacara Paskah, Allah sedang berusaha hendak memanggil umat‑Nya keluar dari segala kesusahan duniawi serta mengingatkan mereka akan segala perbuatan‑Nya yang ajaib dalam kelepasan mereka dari Mesir. Dalam perbuatan ini Ia ingin supaya mereka melihat suatu janji kelepasan dari dosa. Sebagaimana darah anak domba yang disembelih itu melindungi rumah tangga bangsa Israel, demikian juga darah Kristus akan menyelamatkan jiwa mereka;.tetapi mereka dapat diselamatkan oleh Kristus hanya apabila oleh percaya mereka membuat hidup‑Nya menjadi hidup mereka sendiri. Adalah rahmat dalam upacara‑upacara beralamat, hanya apabila ditujukannya orang‑orang yang berbakti itu kepada Kristus sebagai Juruselamat pribadi mereka. Allah menghendaki agar mereka dituntun ke arah penyelidikan serta renungan yang disertai doa tentang tugas Kristus. Tetapi sesudah orang banyak itu meninggalkan Yerusalem, kegembiraan sepanjang perjalanan dan percakapan dengan teman‑teman terlalu sering memenuhi perhatian mereka, sehingga upacara yang baru saja mereka saksikan itu dilupakan. Juruselamat tidaklah tertarik kepada rombongan mereka itu.


Ketika Yusuf dan Maria pulang dari Yerusalem tersendiri dengan Yesus, Ia berharap hendak menujukan pikiran mereka kepada nubuatan‑nubuatan tentang Juruselamat yang akan menderita. Di atas Bukit Golgota Ia berusaha meringankan dukacita ibu‑Nya. Kini Ia tengah memikirkan tentang ibu‑Nya. Maria harus menyaksikan penderitaan‑Nya yang terakhir, dan Yesus menghendaki agar ia mengerti tugas‑Nya, supaya ia dapat menjadi kuat untuk menderita, manakala pedang itu menerusi jiwanya nanti. Sebagaimana Yesus telah terpisah daripadanya dan ia telah mencari Dia dengan diliputi dukacita tiga hari lamanya, demikian juga bila Ia dipersembahkan karena dosa‑dosa dunia ini, Ia akan terpisah pula daripadanya tiga hari lamanya. Maka apabila Ia keluar dari kubur, dukacitanya akan berubah pula menjadi sukacita. Tetapi ia akan jauh lebih kuat menanggung kesengsaraan karena kematian‑Nya sekiranya ia mengerti segala nubuatan ke arah mana Yesus kini mencoba mengalihkan segala pikirannya.

Sekiranya Yusuf dan Maria telah memusatkan pikiran mereka pada Allah dengan renungan dan doa, niscaya mereka sudah menginsafi betapa sucinya tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada mereka dan mereka tidak akan kehilangan Yesus. Karena kelengahan sehari mereka kehilangan Juruselamat; tetapi mereka harus mencari dengan perasaan cemas selama tiga hari untuk menemukan Dia. Demikian juga halnya dengan kita; dengan perkataan sia‑sia, fitnahan, atau kelalaian berdoa, mungkin kita pada satu hari kehilangan hadirat Juruselamat, lalu mungkin memerlukan berhari‑hari lamanya untuk mendapat Dia dengan susah‑payah, serta memperoleh kembali damai yang telah hilang daripada kita.

Dalam pergaulan kita satu sama lain, kita harus berhati‑hati supaya jangan kita melupakan Yesus, dan berjalan terus dengan tiada mengingat bahwa Ia tidak bersama kita. Apabila hati kita sudah penuh dengan hal‑hal duniawi sehingga kita tidak lagi menaruh ingatan akan Dia yang dalamnya berkisar harapan kita akan hidup kekal, kita memisahkan diri kita dari Yesus dan dari malaikat‑malaikat surga. Makhluk‑makhluk suci tidak dapat tinggal di tempat hadirat Yesus yang tidak diingini, dan ketiadaan hadirat‑Nya tidak diperhatikan. Inilah sebabnya mengapa perasaan tawar hati begitu sering dialami oleh orang‑orang yang mengaku pengikut Kristus.

Banyak orang menghadiri acara kebaktian, dan mereka disegarkan serta dihiburkan oleh firman Allah; tetapi oleh kelalaian dalam mengadakan renungan, dalam hal berjaga dan doa, mereka kehilangan berkat, dan merasa diri mereka lebih hampa daripada sebelum mereka mendapatnya. Acapkali mereka merasa bahwa Allah telah berlaku keras terhadap mereka. Mereka tidak melihat bahwa kesalahan itu adalah pada pihak mereka sendiri. Dengan menjauhkan diri dari Yesus, mereka telah menutup pintu bagi cahaya hadirat‑Nya.

Alangkah baiknya kalau kita menggunakan waktu sejam lamanya setiap hari untuk merenungkan kehidupan Kristus. Kita harus merenungkannya satu per satu, serta membiarkan angan‑angan kita membayangkan setiap peristiwa, terutama peristiwa‑peristiwa terakhir. Kalau kita memikir‑mikirkan pengorbanan‑Nya yang besar itu untuk kita, keyakinan kita pada‑Nya akan makin menjadi tetap, kasih kita dihidupkan, dan kita akan makin penuh dengan Roh‑Nya. Kalau kita mau diselamatkan kelak, kita harus mempelajari pelajaran pertobatan dan kerendahan hati di kaki salib.

Sementara kita bergaul bersama, kita dapat menjadi berkat bagi satu sama lain. Kalau kita milik Kristus, pikiran‑pikiran kita yang paling manis ialah tentang Dia. Kita akan suka berbicara tentang Dia; maka sementara kita berbicara kepada satu sama lain tentang kasih‑Nya, hati kita pun akan dihaluskan oleh pengaruh Ilahi. Oleh memandang keindahan tabiat‑Nya, kita akan "diubahkan oleh Roh Tuhan, daripada kemuliaan sampai kepada kemuliaan."


--------------
Pasal ini didasarkan atas Lukas 2:41-51

PADA MASA KANAK-KANAK


Pasal 7

PADA MASA KANAK-KANAK

PADA masa kanak‑kanak dan masa muda Yesus tinggal di sebuah kampung pegunungan yang kecil. Tiada tempat di dunia ini yang tidak dapat dipermuliakan oleh hadirat‑Nya. Istana raja‑raja sebenarnya akan merasa beroleh kehormatan untuk menerima Dia sebagai seorang tamu. Tetapi Ia melewati saja rumah orang‑orang kaya, istana‑istana kerajaan, dan pusat‑pusat ilmu pengetahuan yang termasyhur, untuk tinggal di Nazaret yang tidak terkenal serta yang dihinakan orang itu.

Sungguh ajaib arti riwayat singkat tentang hidup‑Nya semasa kanak‑kanak: "Maka Kanak‑kanak itu pun makin besar dan bertambah‑tambah kuat roh‑Nya dan penuhlah la dengan budi dan karunia Allah pun adalah atas‑Nya." Dalam sinar wajah Bapa‑Nya, Yesus "makin bertambah‑tambah hikmat dan besar‑Nya dan makin disukai Allah dan manusia." Pikiran‑Nya giat dan tajam, dengan kecerdasan otak dan akal budi yang jauh melampaui usia‑Nya. Namun tabiat‑Nya baik sekali dalam keselarasannya. Tenaga pikiran dan tubuh berkembang secara berangsur‑angsur sesuai dengan hukum masa kanak‑kanak.

Selaku seorang anak, Yesus menunjukkan suatu keindahan tabiat yang istimewa. Tangan‑Nya yang cekatan selamanya siap sedia untuk melayani orang lain. Ia menunjukkan kesabaran yang tidak dapat diganggu oleh barang sesuatu pun, dan keteguhan dalam kebenaran yang tidak sudi mengorbankan kejujuran. Dalam prinsip yang kukuh seperti batu karang, hidup‑Nya menunjukkan sifat kesopanan yang tidak mementingkan diri sendiri.

Dengan kesungguhan yang besar ibu Yesus mengamat‑amati mekarnya segala kuasa‑Nya dan melihat kesempurnaan dalam tabiat‑Nya. Dengan kesukaan ia berusaha mendorong semangat pikiran yang cerdas dan tajam itu. Dengan perantaraan Roh Suci ia menerima akal budi untuk dapat bekerja sama dengan makhluk‑makhluk semawi dalam usaha memperkembangkan Anak ini, yang dapat mengatakan hanya Allah sebagai Bapa‑Nya.

Sejak zaman purbakala orang‑orang yang setia di kalangan orang Israel selamanya memberikan perhatian yang besar kepada pendidikan orang‑orang muda. Tuhan telah menyuruh supaya semenjak masa bayi kanak‑kanak diberi pelajaran tentang kebaikan‑Nya dan kebesaran‑Nya, teristimewa sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum‑Nya, dan yang ditunjukkan dalam sejarah Israel. Nyanyian, doa dan pelajaran dari Alkitab harus disesuaikan dengan pikiran yang sedang berkembang. Ibu ,bapa harus mengajarkan kepada anak‑anak mereka bahwa hukum Allah adalah kenyataan tabiat‑Nya, dan bahwa sementara mereka menerima asas‑asas hukum itu ke dalam hati, peta Allah pun terteralah pada pikiran dan jiwa. Sebagian besar dari pengajaran itu dilakukan secara lisan; tetapi anak muda belajar juga membaca tulisan‑tulisan Ibrani; dan gulungan surat Alkitab Wasiat Lama terbuka untuk mereka pelajari.


Pada zaman Kristus kota atau negeri yang tidak menyediakan pendidikan agama bagi anak‑anak muda dianggap sebagai kota yang kena kutuk Allah. Namun pengajaran itu sudah menjadi sekadar kebiasaan saja. Tradisi sudah mengambil sebagian besar tempat Alkitab. Pendidikan yang benar niscaya menuntun kaum muda untuk "mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia." Kisah 17:27. Tetapi guru‑guru orang Yahudi memusatkan perhatiannya pada soal‑soal yang bersangkutan dengan upacara‑upacara belaka. Pikiran sudah dipenuhi dengan bahan‑bahan yang tidak ada nilainya bagi pelajar, dan yang tidak akan diakui sah di sekolah yang lebih tinggi di istana surga. Pengalaman yang diperoleh karena menerima sabda Allah secara perseorangan, tidak mendapat tempat dalam sistem pendidikan itu. Karena leka dengan acara sehari‑hari yang bersifat jasmaniah, para pelajar tidak beroleh saat yang tenang untuk mengadakan hubungan dengan Allah. Mereka tidak mendengar suara‑Nya berfirman ke dalam hati. Dalam usaha mereka menambang ilmu, mereka berpaling dari Sumber akal budi. Syarat‑syarat mutlak besar dalam pekerjaan Allah dilalaikan. Asas‑asas hukum disamarkan. Apa yang dianggap sebagai pendidikan yang tertinggi, sudah merupakan rintangan yang terbesar bagi perkembangan yang sejati. Di bawah pendidikan rabi‑rabi segala kuasa orang‑orang muda tertekan. Pikiran mereka itu menjadi terdesak dan sempit.

Yesus tidak memperoleh pendidikan di sekolah rumah sembahyang. Ibu‑Nyalah guru‑Nya manusia yang pertama. Dari bibir ibu‑Nya dan surat gulungan nabi‑nabi la mempelajari hal‑hal semawi. Justru Sabda yang difirmankan‑Nya sendiri dulu kepada Musa untuk bangsa Israel, kini diajarkan kepada‑Nya di pangkuan ibu‑Nya. Ketika ia meningkat dari masa kanak‑kanak ke masa muda, la tidak berusaha belajar di sekolah rabi‑rabi. Ia tidak memerlukan pendidikan yang diperoleh dari sumber semacam itu; sebab guru‑Nya ialah Allah.

Pertanyaan yang ditanyakan ketika Juruselamat bekerja di dunia ini dulu, "Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?" bukannya menyatakan bahwa Yesus tidak dapat membaca, melainkan semata‑mata karena la belum pernah mendapat pendidikan dari rabi‑rabi. Yoh. 7:15. Oleh karena la mendapat pengetahuan sebagaimana yang dapat kita perbuat, maka pengetahuan‑Nya yang dalam tentang soal‑soal Alkitab itu menunjukkan betapa rajinnya la mempelajari sabda Allah. Dan terbentang di hadapan‑Nya ialah perpustakaan besar dari segala hasil ciptaan Allah. Ia yang telah menciptakan segala sesuatu itu mempelajari pelajaran‑pelajaran yang telah ditulis oleh tangan‑Nya sendiri di bumi, laut dan langit. Terpisah dari jalan‑jalan dunia ini yang cemar, la mengumpulkan himpunan ilmu pengetahuan dari alam kejadian. Ia mempelajari hidup tumbuh‑tumbuhan, binatang, dan hidup manusia. Sejak kecil‑Nya la digenggam oleh satu maksud; la hidup untuk mendatangkan berkat kepada orang‑orang lain. Untuk maksud ini la mendapat sumber dalam alam kejadian; pendapat‑pendapat baru tentang berbagai cara dan ikhtiar terkilat dalam pikiran‑Nya sementara la mempelajari hidup tumbuh‑tumbuhan dan hidup binatang‑binatang. Selalu la berusaha menarik dari benda‑benda yang dapat dilihat contoh‑contoh kiasan yang dengan itu la dapat mengajarkan firman Allah yang hidup. Perumpamaan‑perumpamaan digunakan‑Nya untuk memberikan pelajaran‑pelajaran‑Nya tentang kebenaran selama masa kerja‑Nya, menunjukkan betapa roh‑Nya terbuka terhadap pengaruh alam kejadian dan bagaimana la telah mengumpulkan pengajaran kerohanian dari segala suasana yang di sekeliling hidup‑Nya sehari‑hari.

Demikianlah bagi Yesus arti sabda dan segala benda ciptaan Allah terbuka, sedang la mencoba mengetahui sebab‑musabab dari segala sesuatu. Para pengiringnya ialah makhluk‑makhluk semawi, dan alam pikiran serta percakapan yang suci ada pada‑Nya. Sejak dapat berpikir ia senantiasa bertumbuh dalam sifat kerohanian, dan pengetahuan tentang kebenaran.


Setiap anak dapat memperoleh pengetahuan sebagaimana halnya dengan Yesus. Sedang kita berusaha mengenal Bapa kita yang di surga dengan melalui firman‑Nya, malaikat‑malaikat yang suci akan datang hampir, pikiran kita akan dikuatkan, tabiat kita akan dipertinggi dan diperhalus. Kita akan lebih menyerupai Juruselamat kita. Maka sedang kita melihat benda‑benda yang elok dan mulia dalam alam kejadian, kasih‑sayang kita pun akan mengalirlah kepada Allah. Sementara roh merasa takut dengan hormat, jiwa dikuatkan oleh mengadakan hubungan dengan Yang Mahabesar melalui benda‑benda ciptaan‑Nya. Percakapan dengan Allah melalui doa mengembangkan tenaga pikiran dan batin, dan tenaga rohani makin kuat sementara kita memupuk pikiran dengan hal‑hal yang bersifat rohani.

Kehidupan Yesus adalah suatu kehidupan yang sesuai dengan Allah. Ketika Ia masih seorang kanak‑kanak, la berpikir dan berbicara seperti seorang kanak‑kanak; tetapi tidak ada sekelumit pun tanda‑tanda dosa yang menodai peta Allah dalam diri‑Nya. Meskipun demikian la tidak bebas dari penggodaan. Penduduk Nazaret sudah menjadi buah bibir orang karena kejahatannya. Anggapan yang rendah dari khalayak ramai tentang mereka dinyatakan oleh pertanyaan Natanael, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Yoh. 1:46. Yesus ditempatkan di mana watak‑Nya akan diuji. Perlulah la senantiasa waspada untuk mempertahankan kesucian‑Nya. Ia tidak luput dari segala pergumulan yang wajib kita hadapi, supaya la dapat menjadi contoh bagi kita dalam masa kanak‑kanak, masa muda, dan masa dewasa.

Setan tidak mengenal lelah dalam usahanya untuk mengalahkan Anak Nazaret itu. Sejak kecil‑Nya Yesus selalu dikawal oleh malaikat‑malaikat surga, namun hidup‑Nya adalah satu pergumulan yang lama sekali melawan kuasa kegelapan. Bahwa di bumi ini ada satu hidup yang bebas dari kenajisan kejahatan, adalah suatu hal yang mengganggu dan membingungkan pikiran putra kegelapan. Segala ikhtiar diadakannya untuk menjebak Yesus. Tiada seorang pun anak manusia yang akan pernah disuruh hidup suci di tengah perjuangan yang demikian dahsyatnya dengan pencobaan, seperti Juruselamat kita.

Orang tua Yesus miskin, dan mereka bergantung kepada pekerjaan berat sehari‑hari. Ia sudah biasa dengan, kemiskinan, penyangkalan diri dan kekurangan. Pengalaman ini adalah suatu pelindung bagi‑Nya. Dalam hidup‑Nya yang rajin itu tidak ada waktu yang terbuang untuk mengundang pencobaan. Tidak ada saat yang tidak bertujuan membuka jalan bagi pergaulan yang mencemarkan. Ia berusaha sedapat‑dapatnya untuk menutup pintu bagi penggoda itu. Tiada keuntungan atau pun kesenangan, pernyataan setuju atau pun kecaman, yang dapat membujuk Dia untuk menyetujui sesuatu tindakan yang salah: la sungguh bijaksana mengamati kejahatan, dan kuat melawannya.

Kristuslah satu‑satunya orang yang tidak berdosa yang pernah tinggal di dunia ini, namun hampir tigapuluh tahun lamanya Ia hidup di antara penduduk Nazaret yang jahat. Kenyataan ini merupakan suatu teguran bagi orang‑orang yang mengira bahwa mereka bergantung pada tempat, nasib, atau kemakmuran, agar dapat hidup dengan tiada bercacat. Pencobaan, kemiskinan, kemelaratan, justru merupakan disiplin yang diperlukan untuk mengembangkan kesucian dan keteguhan.


Yesus tinggal dalam rumah tangga petani dan dengan setia serta riang‑gembira turut memikul segala tanggungan rumah tangga. Dulu lalah Pemerintah surga, dan malaikat‑malaikat dengan gembira melaksanakan segala perintah‑Nya; kini la menjadi seorang hamba yang sukarela, seorang anak pengasih dan penurut. Ia belajar bertukang kayu dan dengan tangan‑Nya sendiri Ia bekerja di bengkel pertukangan bersama Yusuf. Dengan pakaian yang serba sederhana seperti yang dipakai oleh seorang pekerja biasa la menjalani jalan‑jalan kota kecil itu, pergi dan pulang dari pekerjaan‑Nya yang sederhana itu. Ia tidak menggunakan kuasa Ilahi‑Nya untuk mengurangi beban‑Nya atau meringankan pekerjaan‑Nya.

Sementara Yesus bekerja pada masa kanak‑kanak dan masa muda, pikiran dan tubuh‑Nya berkembang. Ia tidak menggunakan tenaga tubuh‑Nya dengan serampangan, melainkan dengan saksama sehingga tetap berada dalam keadaan sehat,‑supaya la dapat melakukan pekerjaan yang sebaik‑baiknya dalam segala hal Ia tidak mau sembrono dalam menggunakan alat pertukangan sekalipun la sempurna sebagai seorang pekerja, sebagaimana la sempurna dalam tabiat. Dengan teladan yang diberikan‑Nya itu Ia mengajarkan bahwa adalah kewajiban kita untuk menjadi rajin, bahwa pekerjaan kita haruslah dilakukan dengan tepat dan saksama, dan bahwa pekerjaan yang demikian itu mulia adanya. Pergerakan badan yang mengajar tangan supaya berguna, dan melatih orang muda supaya turut memikul beban kehidupan memberikan kekuatan tubuh, serta mengembangkan setiap tenaga. Semuanya harus mencari sesuatu untuk dilakukan, yang akan berfaedah bagi dirinya sendiri dan menjadi pertolongan bagi orang lain. Allah telah menentukan pekerjaan sebagai suatu berkat, dan hanyalah pekerja yang rajin yang mendapat kemuliaan dan kegembiraan hidup sejati. Kebaikan Allah diberikan hingga dengan jaminan kasih atas anak dan orang muda yang dengan sukaria turut memikul kewajiban rumah tangga, menolong ibu dan bapa dalam tanggungannya. Anak‑anak yang begitu akan pergi ke luar dari lingkungan rumah tangga dan kemudian menjadi anggota masyarakat yang berguna.

Selama hidup‑Nya di dunia, Yesus adalah seorang pekerja yang tekun dan setia Ia mengharapkan banyak; sebab itu Ia pun berusaha banyak. Setelah la mulai bekerja sebagai Guru, la berfirman, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja." Yoh. 9:4. Yesus tidak segan menghadapi kesusahan dan kewajiban, sebagaimana yang dibuat oleh banyak orang yang mengaku sebagai pengikut‑Nya. Adalah sebab mereka berusaha menghindari disiplin ini maka banyak yang lemah dan tidak cakap. Mungkin mereka memiliki sifat tabiat yang bagus dan menarik hati, namun mereka lemah dan hampir tidak berguna apabila kesukaran harus dihadapi atau rintangan harus dilalui. Ketegasan dan tenaga, keteguhan serta kekuatan watak seperti yang dinyatakan dalam diri Kristus harus dipertumbuhkan dalam diri kita, dengan jalan disiplin yang ditanggung‑Nya itu juga. Dan rahmat yang diterima‑Nya itu adalah untuk kita.

Selama Ia hidup di antara manusia, Juruselamat kita turut menanggung nasib fakir‑miskin. Oleh pengalaman tahulah la akan keluh‑kesah dan kesukaran mereka itu, maka dapatlah la menghibur dan memberanikan hati segala pekerja yang hina. Orang‑orang yang mengerti benar‑benar akan pengajaran hidup‑Nya, tidak pernah akan merasa bahwa sesuatu perbedaan harus diadakan antara golongan‑golongan, bahwa para hartawan harus dihormati melebihi orang miskin.


Yesus bekerja dengan gembira dan bijaksana. perlulah banyak kesabaran dan kerohanian untuk dapat membawa agama Alkitab ke dalam kehidupan di rumah tangga dan ke dalam tempat pekerjaan, menanggulangi tekanan perusahaan duniawi, namun tetap memelihara tujuan semata‑mata hendak memuliakan Allah. Di sinilah Yesus merupakan seorang penolong. Ia tidak pernah begitu sibuk dengan urusan duniawi sehingga tidak ada lagi waktu atau pikiran untuk hal‑hal surga. Kerapkali la menyatakan kesukaan hati‑Nya oleh menyanyikan Mazmur dan nyanyian surga. Acapkali penduduk Nazaret mendengar suara‑Nya menyanyikan pujian dan ucapan syukur kepada Allah. Ia mengadakan hubungan dengan surga dalam nyanyian; dan apabila kawan‑kawan‑Nya mengeluh karena lelah dari pekerjaan, mereka itu diriangkan oleh nyanyian yang merdu dari bibir‑Nya. Nyanyian pujian‑Nya itu nampaknya mengusir malaikat‑malaikat yang jahat, dan, seperti halnya dengan dupa, memenuhi tempat itu dengan keharuman. Pikiran para pendengar‑Nya dibawa dari tempat buangan di dunia ini, ke rumah yang di surga. Yesus adalah mata air kemurahan yang menyembuhkan bagi dunia ini; maka sepanjang tahun‑tahun kesunyian yang di Nazaret itu, hidup‑Nya mengalir dalam arus belas‑kasihan dan kelemahlembutan. Orang yang sudah tua, orang yang berduka, dan orang yang ditindas oleh dosa, anak‑anak yang bermain‑main dengan kesukaan hatinya yang murni, makhluk‑makhluk kecil di hutan belukar, binatang penarik muatan yang sabar,‑semuanya merasa lebih senang karena hadirat‑Nya. Ia yang firman kekuasaan‑Nya menyokong segala dunia, mau membungkuk untuk menolong seekor burung yang terkena luka. Tiada sesuatu yang terlalu kecil bagi perhatian‑Nya, tiada sesuatu terhadap mana Ia merasa jijik untuk memberi pelayanan.

Demikianlah sedang Ia bertumbuh dalam akal budi dan perawakan, Yesus pun bertambah dalam kebaikan Allah dan manusia. Ia menarik simpati segala hati oleh menunjukkan diri‑Nya sendiri sanggup menaruh simpati dengan semua orang. Suasana harapan dan semangat yang mengelilingi Dia menjadikan Dia suatu berkat dalam setiap rumah tangga. Maka sering dalam rumah sembahyang pada hari Sabat la dipanggil untuk membaca pelajaran dari surat nabi‑nabi, dan hati para pendengar merasa gembira ketika suatu terang yang baru bersinar dari perkataan biasa dari ayat yang suci itu.

Namun Yesus menghindari pertunjukan. Selama tinggal di Nazaret, la tidak pernah menunjukkan kuasa ajaib‑Nya. Ia tidak pernah mencari kedudukan yang tinggi dan tidak memakai sesuatu gelar. Hidup‑Nya yang tenang dan sederhana, bahkan tidak adanya keterangan Alkitab tentang hidup‑Nya ketika kanak‑kanak, memberikan kepada kita suatu pelajaran yang penting. Makin tenang dan makin sederhana hidup seorang anak,‑‑makin bebas dari kesibukan yang dibuat‑buat, dan makin selaras dengan alam kejadian‑makin baiklah itu bagi kekuatan tubuh dan pikiran dan bagi kekuatan rohani.

Yesus menjadi teladan kita. Banyaklah orang yang memusatkan perhatiannya pada masa kerja‑Nya bagi khalayak ramai, sedangkan mereka tidak memperhatikan pengajaran masa kecil‑Nya. Tetapi justru dalam hidup‑Nya di rumah tanggalah la menjadi teladan bagi anak‑anak dan orang muda. Juruselamat rela menempuh kepapaan, supaya la dapat mengajarkan betapa dekat kita dapat berjalan dengan Allah dalam suatu nasib yang hina. Ia hidup untuk menyenangkan hati, menghormati serta memuliakan Bapa‑Nya dalam segala perkara kehidupan biasa. Pekerjaan‑Nya mulai dengan memuliakan pekerjaan tukang yang hina, yang bekerja untuk mencari nafkahnya sehari‑hari. la melakukan pekerjaan Allah pada waktu bekerja di bangku pertukangan kayu sama dengan pada waktu mengadakan mukjizat‑mukjizat bagi khalayak ramai. Maka setiap orang muda yang mengikuti jejak Kristus dalam hal kesetiaan dan penurutan di rumah tangga‑Nya yang sederhana itu, dapat menyatakan berhak atas sabda yang diucapkan tentang diri‑Nya oleh Bapa melalui Roh Kudus,"Lihatlah hamba‑Ku, yang Kupapah; pilihan‑Ku, yang hati‑Ku berkenan akan Dia."

---------------
Pasal ini didasarkan atas Lukas 2:39, 40.