Sabtu, 30 Juni 2012

Terang Hidup Itu


Pasal 51

"Terang Hidup Itu"

"MAKA bertuturlah Yesus pula kepada mereka itu sambil berkata: 'Aku inilah terang dunia. Siapa yang mengikut Aku, tiada akan berjalan di dalam gelap, melainkan akan beroleh terang hidup itu."'
Ketika Ia mengucapkan perkataan ini, Yesus berada di halaman kaabah yang dihubungkan khusus dengan upacara Hari Raya Pondok Daun‑daunan. Di tengah halaman ini terdirilah dua tiang yang tinggi yang menopang kaki lampu yang sangat besar. Sesudah korban malam, semua lampu dinyalakan, memancarkan cahayanya di Yerusalem. Upacara ini diadakan untuk memperingati tiang api yang menuntun Israel di padang belantara, dan juga dianggap menunjuk kepada kedatangan Mesias. Pada malam ketika lampu‑lampu dinyalakan, halaman itu meniadi suatu pemandangan yang sangat menggembirakan. Orang‑orang yang sudah beruban, imam‑imam di kaabah dan penghulu‑penghulu bangsa, bersatu dalam tarian pesta ketika musik istrumentalia dibunyikan dan orang‑orang Lewi menyanyi.
Dalam penerangan Yerusalem, orang banyak mengungkapkan harapan
--------------
Pasal ini dialaskan atas Yohanes 8:12‑59; 9.

mereka akan kedatangan Mesias untuk memancarkan terang‑Nya kepada Israel. Tetapi bagi Yesus pemandangan itu mempunyai makna yang lebih luas. Sebagaimana lampu‑lampu kaabah yang terang‑benderang itu menerangi segala sesuatu yang di sekelilingnya, demikian juga Kristus, sumber terang rohani, menerangi kegelapan dunia. Meski pun demikian lambang itu tidak sempurna. Terang besar itu yang telah ditaruh di langit dengan tangan‑Nya sendiri merupakan suatu gambaran yang lebih sejati tentang kemuliaan tugas‑Nya.
Hari masih pagi, matahari baru saja terbit dari atas Gunung Zaitun, dan cahayanya menyinari istana pualam dengan terang yang menyilaukan, dan menerangi emas pada dinding kaabah, ketika Yesus sambil menunjukkannya, berkata, "Aku inilah terang dunia."
Dan oleh seorang yang mendengarkan perkataan ini, lama sesudahnya menggemakannya kembali dalam tulisan‑yang mulia, "Di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia." Yoh. 1:4, 5, 9. Dan lama sesudah Yesus naik ke surga, Petrus juga, yang menulis dengan penerangan Roh Ilahi, mengingatkan lambang yang telah digunakan oleh Kristus: "Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu." 2 Pet. 1: 19.
Dalam pernyataan Allah kepada umat‑Nya, terang senantiasa menjadi lambang hadirat‑Nya. Ketika mengucapkan kata penciptaan pada mula pertama, terang telah bersinar dari kegelapan. Terang telah diselubungi dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari, yang menuntun rombongan Israel yang besar itu. Terang menyala dengan kemuliaan yang menakutkan di sekeliling Tuhan di gunung Sinai. Terang terdapat di atas tutupan grafirat di dalam kemah perhimpunan. Terang memenuhi kaabah Salomo pada upacara penahbisannya. Terang bersinar di bukit‑bukit Betlehem ketika malaikat‑malaikat membawa pekabaran penebusan kepada gembala‑gembala yang memperhatikannya.
Allah itulah terang, dan dalam perkataan, "Aku inilah terang dunia," Kristus menyatakan keesaan‑Nya dengan Allah, serta hubungan‑Nya dengan segenap keluarga manusia. Ialah yang pada mula pertama telah menyuruh "dalam gelap akan terbit terang." 2 Kor. 4:6. Ialah terang matahari dan bulan dan bintang. Ialah terang rohani dan dalam lambang dan bayangan dan nubuat telah bersinar pada Israel. Tetapi bukannya kepada bangsa Yahudi saja terang itu diberikan. Sebagaimana sinar matahari menembus ke pelosok‑pelosok bumi yang terjauh, demikian juga terang Matahari Kebenaran bersinar kepada tiap‑tiap jiwa.
"Maka terang yang sebenarnya itu, yaitu yang menerangi tiap‑tiap orang, turun ke dalam dunia." Dunia telah mempunyai guru‑gurunya yang besar, orang‑orang yang memiliki kecerdasan raksasa dan penelitian yang mengherankan, orang‑orang yang ucapannya telah merangsang pikiran, serta membukakan bidang‑bidang pengetahuan yang luas; dan orang‑orang ini sudah dihormati sebagai penunjuk jalan dan sudah berjasa bagi bangsa mereka. Tetapi ada Seorang yang berdiri lebih tinggi dari mereka, "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah." "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." Yoh. 1:12, 18. Kita dapat mengikuti silsilah guru‑guru dunia yang besar sejauh yang tertulis dalam catatan manusia; tetapi Terang ada di hadapan mereka. Sebagaimana bulan dan bintang‑bintang dalarn tata surya bersinar oleh cahaya matahari yang dipantulkan, demikian juga, selama ajaran mereka benar adanya, para ahli pikir dunia memantulkan sinar Matahari Kebenaran. Setiap permata pikiran, setiap cahaya kecerdasan, berasal dari Terang dunia. Pada dewasa ini kita mendengar banyak tentang "pendidikan yang lebih tinggi." "Pendidikan yang lebih tinggi" yang sejati ialah yang diberikan oleh‑Nya yang "di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan." "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia." Kol. 2:3; Yoh. 1:4. "Siapa yang mengikut Aku," kata Yesus "tiada akan berjalan di dalam gelap, melainkan akan beroleh terang hidup itu."
Dalam perkataan, "Aku inilah terang dunia" Yesus menyatakan diri‑Nya sebagai Mesias. Simon yang sudah tua, di kaabah tempat Kristus sedang mengajar, telah mengucapkan tentang Dia sebagai "terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Luk. 2:32. Dalam perkataan ini Ia sedang mengenakan kepada‑Nya suatu nubuat yang diketahui oleh segenap Israel. Oleh nabi Yesaya, Roh Kudus telah menyatakan, "Terlalu sedikir bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi." Yes. 49:6. Nubuat ini umumnya dipahami sebagai ucapan tentang Mesias, dan ketika Yesus mengatakan, "Aku inilah terang dunia," orang banyak sudah tentu mengakui tuntutan‑Nya sebagai Yang Dijanjikan itu.
Bagi orang Farisi dan penghulu‑penghulu tuntutan ini tampaknya merupakan suatu anggapan yang angkuh. Bahwa seorang seperti mereka sendiri mengadakan kepura‑puraan seperti itu sungguh tidak dapat mereka biarkan begitu saja. Seolah‑olah tidak mengindahkan perkataan‑Nya, mereka menuntut, "Siapatah Engkau ini?" Mereka menentukan hendak memaksa Dia menyatakan diri‑Nya Kristus. Rupa‑Nya dan pekerjaan‑Nya sangat berbeda dengan harapan orang banyak, sehingga musuh‑musuh‑Nya yang licik itu beranggapan bahwa pengumuman yang terus terang bahwa Ia Sendirilah Mesias itu akan menyebabkan Dia ditolak sebagai seorang pembohong.
Tetapi pertanyaan mereka, "Siapakah Engkau?" dijawab Yesus dengan, "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu?" Yoh. 8:25. Apa yang telah dinyatakan dalarn perkataan‑Nya dinyatakan juga dalam tabiat‑Nya. Ialah penjelmaan kebenaran yang diajarkan‑Nya. "Suatu pun tiada Aku perbuat dengan kehendak‑Ku sendiri," Ia meneruskan, "melainkan sebagaimana Bapa‑Ku mengajar Aku, demikianlah Aku katakan. Maka Yang menyuruhkan Aku, Ia bersama‑sama dengan Aku; maka Bapa itu tiada meninggalkan Aku seorang diri, karena senantiasa Aku perbuat apa yang berkenan kepada‑Nya." Ia tidak berusaha membuktikan tuntutan‑Nya bahwa Ialah Mesias, melainkan menunjukkan persatuan‑ya dengan Allah. Sekiranya pikiran mereka telah terbuka terhadap kasih Allah, tentu mereka telah menerima Yesus.
Di antara para pendengar‑Nya banyak yang tertarik kepadaNya dalam iman, dan kepada mereka Ia berkata, "Jikalau kamu ini berpegang teguh pada perkataan‑Ku, baharulah dengan sesungguhnya kamu menjadi murid‑Ku; dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itulah akan memerdekakan kamu."
Perkataan ini menyakiti hati orang Farisi. Takluknya bangsa itu dalam waktu yang lama pada perhambaan bangsa lain tidak mereka hiraukan, dan dengan marahnya mereka berseru, "Kami ini keturunan lbrahim, dan belum pernah kami menjadi hamba kepada seorang jua pun, bagaimanakah katamu: kamu akan dimerdekakan?" Yesus memandang kepada orang‑orang ini, yang diperbudak oleh kedengkian, yang berniat hendak membalas dendam, dan menjawab dengan sedihnya, "Sesungguh‑sungguhnya Aku berkata kepadamu, barang siapa yang berbuat dosa, ialah hamba dosa." Mereka berada dalam perhambaan yang paling buruk—diperintah oleh roh jahat.
Setiap jiwa yang enggan menyerahkan dirinya kepada Allah adalah di bawah pengendalian kuasa yang lain. Ia bukannya milik‑Nya sendiri. Ia mungkin berbicara tentang kemerdekaan, tetapi ia berada dalam perhambaan yang paling hina. Ia tidak diperkenankan melihat keindahan kebenaran, karena pikirannya dikuasai Setan. Meski pun ia memuji dirinya bahwa ia sedang mengikuti bisik kalbu dari pertimbangannya sendiri, namun ia mentaati kehendak putera kegelapan. Kristus datang untuk memutuskan belenggu perhambaan dosa dari jiwa. "Jikalau Anak itu memerdekakan kamu, baharulah merdeka kamu dengan sesungguhnya." "Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut." Roma 8 :2.
Dalam pekerjaan penebusan tidak ada paksaan. Tidak ada paksaan dari luar digunakan. Di bawah pengaruh Roh Allah, manusia diberi kebebasan memilih siapa yang hendak dilayaninya. Dalam perubahan yang terjadi bila jiwa berserah kepada Kristus, terdapatlah rasa kebebasan yang paling tinggi. Pembuangan dosa adalah tindakan jiwa itu sendiri. Memang benar, kita tidak mempunyai kuasa untuk membebaskan diri dari pengendalian Setan; tetapi bila kita ingin dibebaskan dari dosa, dan dalam keperluan kita yang besar berseru untuk mendapat kuasa di luar dan melebihi kuasa diri sendiri, maka kuasa jiwa dipenuhi dengan tenaga Ilahi dari Roh Kudus, dan mereka mentaati bisikan dalam memenuhi kehendak Allah.
Satu‑satunya keadaan yang memungkinkan kemerdekaan manusia ialah menjadi satu dengan Kristus. "Kebenaran itulah akan memerdekakan kamu," dan Kristus ialah kebenaran itu. Dosa dapat menang hanya oleh melemahkan pikiran, dan membinasakan kebebasan jiwa. Takluk kepada Allah ialah pemulihan kepada diri sendiri—kemuliaan sejati dan keluhuran manusia. Hukum Ilahi, yang kepadanya kita harus takluk, adalah "hukum yang memerdekakan orang." Yak. 2: 12.
Orang Farisi telah menyatakan diri sendiri sebagai anak‑anak Ibrahim. Yesus mengatakan kepada mereka bahwa tuntutan ini dapat ditetapkan hanya oleh melakukan perbuatan Ibrahim. Anak‑anak Ibrahim sejati mau hidup dalam penurutan kepada Allah sebagaimana halnya dengan Ibrahim. Mereka tidak akan berusaha membunuh Seorang yang sedang mengucapkan kebenaran yang diberikan kepada‑Nya dari Allah. Dalam bersekongkol melawan Kristus, rabbi‑rabbi tidak melakukan perbuatan Ibrahim. Hanya sekedar silsilah keturunan dari Ibrahim tidak ada nilainya. Tanpa suatu hubungan rohani dengan dia, yang akan dinyatakan dalam memiliki roh yang sama, dan melakukan perbuatan yang sama, mereka bukannya anak‑anaknya.
Prinsip ini mempunyai hubungan yang sama dengan persoalan yang sudah lama menggemparkan dunia Kristen—persoalan tentang jabatan kerasulan yang diwariskan. Keturunan Ibrahim dibuktikan, bukannya dengan nama dan keturunan, melainkan dengan kesamaan tabiat. Demikian juga jabatan kerasulan yang diwariskan bukannya terletak pada pemindahan kuasa kegerejaan, melainkan pada hubungan rohani. Suatu kehidupan yang digerakkan oleh roh rasul‑rasul, iman dan ajaran kebenaran yang mereka ajarkan, inilah bukti sejati untuk jabatan kerasulan yang diwariskan. Inilah yang mengangkat manusia untuk mengambil tempat guru‑guru Injil yang mula‑mula.
Yesus menyangkal bahwa orang Yahudi adalah anak‑anak Ibrahim. Ia berkata, "Kamu ini mengerjakan segala perbuatan bapamu." Dengan mengejek mereka menjawab, "Bukannya kami jadi daripada zinah. Adalah satu Bapa, yaitu Allah." Perkataan ini yang menyindir keadaan kelahiran‑Nya, dimaksudkan sebagai suatu serangan terhadap Kristus di hadapan orang‑orang yang mulai percaya pada‑Nya. Yesus tidak menghiraukan sindiran yang hina itu melainkan mengatakan, "Jikalau Allah itu Bapamu, niscaya kamu mengasihi Aku, karena daripada Allah Aku datang dan Aku ada di sini."
Perbuatan mereka menyaksikan tentang hubungan mereka kepada dia yang menjadi seorang penipu dan pembunuh. "Iblislah yang menjadi bapamu," kata Yesus, "dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. . . . Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku." Yoh. 8:44, 45. Adanya bukti bahwa Yesus mengucapkan kebenaran dan dengan kepastian menyebabkan Ia tidak diterima oleh para pemimpin Yahudi. Kebeharanlah yang menyakiti hati orang‑orang yang merasa diri benar. Kebenaran membeberkan kesalahan yang menyesatkan, kebenaran itu mempersalahkan ajaran dan kebiasaannya, dan tidak disambut dengan baik. Mereka lebih suka menutup mata terhadap kebenaran daripada merendahkan diri untuk mengakui bahwa mereka sudah bersalah. Mereka tidak menyukai kebenaran itu. Mereka tidak menghendakinya, meski pun hal itu kebenaran adanya.
"Siapakah di antara kamu dapat menyalahkan Aku tentang dosa? Jikalau Aku mengatakan yang benar, apakah sebabnya tiada kamu percaya akan Daku?" Dari hari ke hari selama tiga tahun musuh‑musuh‑Nya telah mengikut Kristus, sambil berusaha mencari suatu cacat dalam tabiat‑Nya; tetapi tiada suatu pun mereka dapati dalam‑Nya yang olehnya mereka mendapat keuntungan. Setan‑setan sekali pun terpaksa mengakui, "aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Mrk. 1:24. Yesus hidup sesuai dengan hukum pada pemandangan surga, pada pemandangan dunia‑dunia yang tidak jatuh, dan pada pemandangan manusia yang berdosa. Tanpa tantangan, di hadapan malaikat, manusia, dan Setan, Ia telah mengucapkan perkataan yang bila diucapkan oleh bibir yang lain pasti akan dianggap hujat: "Karena senantiasa Aku perbuat apa yang berkenan kepada‑Nya."
Adanya kenyataan bahwa meski pun mereka tidak bisa mendapat dosa dalam Kristus namun orang Yahudi tidak mau menerima Dia membuktikan bahwa mereka sendiri tidak mempunyai hubungan dengan Allah. Mereka tidak mengenal suara‑Nya dalam pekabaran Anak‑Nya. Mereka beranggapan bahwa mereka sedang menghakimi Kristus; tetapi dalam menolak Dia mereka menjatuhkan hukuman ke atas diri mereka sendiri. "Barang siapa yang daripada Allah," kata Yesus, "ia juga mendengar akan firman Allah. Itulah sebabnya kamu tiada mendengar firman itu, karena kamu bukan daripada Allah."
Pelajaran itu benar untuk segala masa. Banyak orang yang gemar rnemainkan perkataan, mengeritik, mencari sesuatu yang diragukan dalam sabda Allah, berpendapat bahwa dengan demikian ia sedang membuktikan kebebasan berpikir, dan kecerdasan pikiran. Ia menganggap bahwa ia sedang duduk menghakimi Alkitab, sedangkan sebenarnya ia sedang menghakimi dirinya. Ia menyatakan bahwa ia tidak sanggup menghargai kebenaran yang berasal dari surga, dan yang meliputi masa kekekalan. Di hadapan kebenaran Allah yang menggunung tinggi, perangainya tidak hormat. Ia menyibukkan dirinya dengan mencari perkara‑perkara yang tidak penting dan dalam hal ini menunjukkan suatu sifat yang sempit dan duniawi, suatu hati yang lekas kehilangan kesanggupan untuk menghargai Allah. Ia yang hatinya telah menyambut jamahan Ilahi akan mencari sesuatu yang akan menambah pengetahuannya akan Allah, dan akan memperhalus dan meninggikan tabiat. Sebagaimana sebuah kembang berbalik kepada matahari, supaya sinar yang terang memberinya warna‑warna yang indah, demikian juga jiwa itu akan berbalik kepada Matahari Kebenaran, sehingga cahaya surga dapat memperindah tabiat dengan sifat‑sifat tabiat Kristus.
Yesus meneruskan, dengan mengadakan perbandingan yang menyolok antara kedudukan orang Yahudi dan kedudukan Ibrahim. "Ada pun Ibrahim, bapa kamu, gemar melihat hari‑Ku; ia sudah nampak dia dan bersukacita."
Ibrahim ingin sekali melihat Juruselamat yang dijanjikan itu. Ia mempersembahkan doa yang sangat tekun agar sebelum kematiannya ia boleh memandang Mesias. Dan ia melihat Kristus. Suatu terang yang di luar kodrat alam diberikan kepadanya, dan ia mengakui tabiat Kristus. Ia melihat hari‑Nya, dan bersukacita, Ia diberi suatu pemandangan tentang pengorbanan Ilahi untuk dosa. Dari pengorbanan ini ia mendapat suatu gambaran dalam pengalamannya sendiri. Perintah datang kepadanya, "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak . . . dan persembahkanlah dia . . . sebagai korban bakaran." Kej. 22:2. Di atas mezbah korban ia meletakkan anak perjanjian, anak yang dalamnya harapannya dipusatkan. Lalu sementara ia menunggu di sisi mezbah dengan pisau yang diangkat untuk mentaati Allah, ia mendengar suatu suara dari surga berkata, "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Kej. 22:12. Ujian yang hebat ini diberikan kepada Ibrahim agar ia dapat melihat hari Kristus, dan menyadari kasih Allah yang besar bagi dunia, begitu besar sehingga untuk mengangkatnya dari kehinaannya, Ia mengaruniakan Anak‑Nya yang tunggal kepada kematian yang paling memalukan.
Ibrahim mempelajari dari Allah tentang pelajaran yang terbesar yang pernah diberikan kepada makhluk yang fana. Doanya agar ia boleh melihat Kristus sebelum ia mati sudah dijawab. Ia melihat Kristus, ia melihat segala perkara yang dapat dilihat oleh makhluk yang fana. Oleh mengadakan penyerahan sepenuhnya, ia sanggup mengerti khayal tentang Kristus yang telah diberikan kepadanya. Kepadanya ditunjukkan bahwa dalam mengaruniakan Anak‑Nya yang tunggal untuk menyelamatkan orang berdosa dari kebinasaan kekal, Allah sedang mengadakan suatu pengorbanan yang lebih besar dan lebih ajaib daripada yang pernah dapat diadakan oleh manusia.
Pengalaman Ibrahim menjawab pertanyaan: "Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah Tuhan kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akankupersembahkan anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena adosaku sendiri?" Mikha 6:6, 7. Dalam perkataan Ibrahim, "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku" (Kej. 22:8), dan dalam hal Allah menyediakan suatu korban gantinya Ishak, sudah dinyatakan bahwa tidak seorang pun dapat menebus dirinya sendiri. Sistim pengorbanan kafir semata‑mata tidak berkenan kepada Allah. Ayah tidak boleh mempersembahkan anaknya laki‑laki atau anak nya perempuan untuk korban karena dosa. Anak Allah sajalah dapat menanggung dosa dunia.
Oleh penderitaannya sendiri, lbrahim disanggupkan untuk melihat tugas pengorbanan Juruselamat. Tetapi Israel tidak mau mengerti sesuatu yang tidak dapat diterima oleh hati mereka yang sombong. Perkataan Kristus mengenai Ibrahim tidak memberitahukan kepada para pendengar‑Nya suatu makna yang dalam. Orang Farisi melihat dalamnya hanya alasan yang baru untuk mengeritik. Mereka menjawab dengan ejekan seolah‑olah mereka hendak membuktikan bahwa Yesus seorang yang kurang waras pikirannya, "Umur‑Mu belum lagi limapuluh tahun, dan sudahkah Engkau nampak Ibrahim?"
Dengan kebesaran yang penuh khidmat Yesus menjawab, "Sesungguh‑sungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Ibrahim ada, Aku ini sudah ada."
Suasana tenang meliputi rombongan orang banyak itu. Nama Allah, yang diberikan kepada Musa untuk mengungkapkan buah pikiran tentang hadirat yang kekal, telah dituntut sebagai milik‑Nya sendiri oleh Rabbi Galilea ini. Ia telah mengumumkan diri‑Nya sebagai Oknum yang ada dengan sendirinya, Ia yang telah dijanjikan kepada Israel, yang "permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." Mikha 5:1.
Sekali lagi imam‑imam dan rabbi‑rabbi berteriak menentang Yesus sebagai seorang penghujat. Tuntutan‑Nya bahwa Ia satu dengan Allah sudah pernah membangkitkan amarah mereka untuk membunuh Dia, dan beberapa bulan kemudian mereka menyatakan dengan jelas, "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." Yoh. 10:33. Karena memang benar Ialah Anak Allah, dan mengakui diri‑Nya demikian, mereka pun menentukan hendak membinasakan Dia. Sekarang banyak dari antara orang banyak, yang mernihak kepada imam‑imam dan rabbi‑rabbi, memungut batu hendak merajam Dia. "Tetapi Yesus menyembunyikan diri‑Nya serta keluar dari dalam Bait Allah itu."
"Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." Yoh. 1:5.
"Tatkala Ia lalui, dilihat‑Nya seorang yang buta dari mula jadinya. Lalu murid‑murid‑Nya bertanya kepada‑Nya, katanya," Ya Rabbi, siapakah yang berbuat dosa: Orang inikah atau ibu bapanyakah, sehingga ia buta dari mula jadinya? Maka‑jawab Yesus: Bukan orang ini berbuat dosa; dan bukan orang tuanya, melainkan supaya kekayaan Allah dinyatakan padanya.... Setelah Ia berkata demikian, lalu Ia berludah ke tanah serta membuat tanah itu lembik dengan ludah‑Nya, disapukan‑Nya tanah lembik itu kepada mata orang buta itu, sambil berkata kepadanya: Pergilah engkau basuh di kolam Siloam (yang diterjemahkan artinya: Suruhan). Maka pergilah ia membasuh, lalu kembalilah ia dengan celik matanya."
Umumnya orang Yahudi percaya bahwa dosa dihukum dalam hidup ini. Setiap malapetaka dianggap sebagai hukuman karena suatu perbuatan yang salah, baik di pihak orang itu sendiri mau pun di pihak orang tuanya. Memang benar bahwa semua penderitaan diakibatkan oleh pelanggaran hukum Allah, tetapi kebenaran ini sudah diputarbalikkan. Setan, sumber dosa dan segala akibatnya, telah menuntun manusia untuk menganggap penyakit dan kematian sebagai sesuatu yang berasal dari Allah—sebagai suatu hukuman yang dikenakan sewenang‑wenang karena dosa. Itulah sebabnya seorang yang telah ditimpa kesedihan atau malapetaka yang besar menanggung beban tambahan karena ia dianggap sebagai seorang yang besar dosanya.
Dengan demikian jalan tersedia bagi orang Yahudi untuk menolak Yesus. Ia yang telah menanggung "segala kelemahan kita" dan telah mengangkat "segala penyakit kita" di pandang oleh orang Yahudi sebagai seorang yang "dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan," "sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia." Yes. 53:4, 3.
Allah telah memberikan suatu pelajaran yang direncanakan untuk mencegah hal ini. Sejarah Ayub telah menunjukkan bahwa penderitaan dikenakan oleh Setan, dan dikalahkan oleh Allah untuk maksud kemurahan. Tetapi Israel tidak mengerti pelajaran itu. Kekeliruan yang sama yang telah ditegur Allah pada sahabat‑sahabat Ayub diulangi oleh orang Yahudi dalam penolakan mereka akan Kristus.
Kepercayaan orang Yahudi mengenai hubungan antara dosa dan penderitaan dianut oleh murid‑murid Kristus. Meski pun Yesus memperbaiki kekeliruan mereka, Ia tidak menjelaskan sebab‑sebab malapetaka manusia, melainkan mengatakan kepada mereka apa yang akan diakibatkannya. Karena itulah perbuatan Allah akan dinyatakan. "Selama Aku di dalam dunia ini," kata‑Nya, "Akulah terang dunia." Kemudian setelah menyapu mata orang buta itu, Ia menyuruh dia membasuhnya di kolam Siloam, dan pulihlah penglihatan orang itu. Dengan demikian Yesus menjawab pertanyaan murid‑murid dalam cara yang praktis, sebagaimana biasanya Ia menjawab pertanyaan yang ditanyakan kepada‑Nya karena ingin tahu. Murid‑murid tidak dipanggil untuk memperbincangkan pertanyaan mengenai siapa telah berdosa atau tidak berdosa, melainkan untuk mengerti kuasa. dan kemurahan Allah dalam memberikan penglihatan kepada orang buta. Sudah jelas bahwa tidak ada khasiat penyembuhan dalam tanah lembik itu, atau di kolam tempat orang buta disuruh membasuh mukanya, melainkan bahwa khasiat itu terdapat dalam Kristus.
Orang Farisi sudah tentu keheran‑heranan melihat kesembuhan itu. Tetapi mereka malah dipenuhi kebencian lebih dari biasanya, karena mukjizat itu telah diadakan pada hari Sabat.
Tetangga orang muda itu, serta mereka yang mengetahui. dia dahulu dalam kebutaannya, berkata, "Bukankah ia ini dia, yang sudah duduk meminta sedekah?" Mereka memandang kepadanya dengan kebimbangan, karena ketika matanya terbuka, wajahnya berubah dan berseri‑seri, dan ia kelihatan seperti orang lain. Pertanyaan disampaikan dari seorang kepada orang hin. Ada orang yang berkata, "Inilah dia." Ada pula yang berkata, "Bukan, hanya serupa dengan dia." Tetapi ia yang menerima berkat yang besar itu membereskan persoalan itu dengan berkata, "Akulah dia." Kemudian ia menceritakan kepada mereka tentang Yesus, dan bagaimana caranya ia disembuhkan, dan mereka bertanya, "Di manakah orang itu?" Ia menjawab, "Aku tiada tahu."
Kemudian mereka membawa dia di hadapan majelis orang Farisi. Sekali lagi orang itu ditanyai bagaimana ia telah mendapat penglihatannya. "Maka katanya kepada mereka itu: Ditaruh‑Nya tanah lembik pada mataku, dan aku basuh, lalu aku nampak. Maka berkatalah setengah orang Farisi itu; Orang itu bukan daripada Allah, karena tiada Ia menurut hukum hari Sabat. Orang Farisi berharap hendak membuktikan bahwa Yesus seorang berdosa, dan itulah sebabnya bukannya Mesias. Mereka tidak mengetahui bahwa Ialah yang telah menjadikan Sabat dan mengetahui segala kewajibannya, dan yang telah menyembuhkan orang buta itu. Mereka kelihatan luar biasa rajinnya dalam pemeliharaan Sabat, namun mereka merencanakan pembunuhan pada hari itu juga. Tetapi banyak orang sangat terharu mendengar tentang mukjizat ini, dan diyakinkan bahwa Ia yang telah mencelikkan mata orang buta itu lebih dari manusia biasa. Menjawab tuduhan bahwa Yesus adalah seorang berdosa karena Ia tidak memelihara hari Sabat, mereka berkata, "Bagaimanakah seorang berdosa dapat mengadakan tanda yang demikian?"
Sekali lagi rabbi‑rabbi memohon kepada orang buta itu, "Apakah kata engkau dari hal Dia, karena Ia sudah mencelikkan matamu? Maka sahutnya: Nabilah Ia." Lalu orang Farisi menegaskan bahwa ia tidak buta sejak lahir dan mendapat penglihatannya. Mereka memanggil orang tuanya, dan menanyakan kepada mereka, katanya, "Ia inikah anakmu, yang kamu katakan ia buta dari mula jadinya?"
Di situlah terdapat orang itu sendiri, yang menyatakan bahwa tadinya ia buta, dan penglihatannya telah dipulihkan; tetapi orang Farisi lebih suka menyangkal bukti kesadaran mereka sendiri daripada mengakui bahwa mereka sudah keliru. Begitulah prasangka sangat kuatnya, dan pemutarbalikkan adalah kebenaran orang Farisi.
Orang Farisi mempunyai hanya satu harapan lagi ialah menakut‑nakuti orang tuanya. Dengan pura‑pura bersungguh‑sungguh mereka bertanya, "Bagaimanakah ia nampak sekarang ini?" Orang tua itu takut bahaya menimpa diri sendiri, karena sudah diumumkan bahwa barang siapa mengakui Yesus sebagai Kristus akan "dibuang dari rumah sembahyang," yaitu tidak memperkenankan masuk ke dalam rumah sembahyang selama tiga puluh hari. Selama waktu ini tidak seorang anak pun dapat disunat atau pun orang mati diratapi di rumah orang yang melanggar itu. Hukuman yang dijatuhkan itu dianggap sebagai suatu malapetaka yang besar, dan jika tidak membawa pertobatan, suatu hukuman yang jauh lebih berat mengikutinya. Pekerjaan besar yang dilakukan bagi anak mereka telah membawa keyakinan kepada orang tua itu, tetapi mereka menjawab, "Kami kenal bahwa ia ini anak kami, dan lagi ia buta dari mula jadinya; tetapi bagaimana jalannya sekarang ia dapat penglihatan, tiadalah kami tahu, atau siapa yang mencelikkan matanya tiada juga kami tahu. Tanyalah dia sendiri, ia sudah akil balig, biarlah ia sendiri memberitahu akan hal dirinya." Dengan demikian mereka memindahkan segala tanggung jawab dari diri mereka kepada anak mereka, karena mereka tidak berani mengakui Kristus.
Pilihan yang sukar, yang dalamnya orang Farisi ditempatkan, cara bertanya dan prasangka mereka, kurang percaya mereka akan bukti‑bukti mengenai persoalan itu, sedang membuka mata orang banyak, terutama mata orang kebanyakan. Yesus sudah sering mengadakan mukjizat‑mukjizat‑Nya di jalan terbuka, dan pekerjaan‑Nya selamanya bersifat meringankan penderitaan. Pertanyaan dalam pikiran banyak orang ialah, Apakah Allah mau mengadakan perbuatan sebesar itu dengan perantaraan seorang pembohong, sebagaimana penegasan orang Farisi tentang Yesus? Pertentangan kian bertambah seru di kedua belah pihak.
Orang Farisi melihat bahwa mereka sedang mengumumkan pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus. Mereka tidak dapat mengingkari mukjizat itu. Orang yang tadinya buta itu dipenuhi dengan kegembiraan dan perasaan terima kasih; ia melihat keadaan alam yang ajaib, dan dipenuhi dengan kesukaan melihat keindahan bumi dan langit. Dengan bebas diceritakannya pengalamannya, dan sekali lagi mereka berusaha mendiamkan dia, dengan berkata, "Horrnatkanlah Allah! Kami ini tahu bahwa Orang ini seorang berdosa." Yaitu, Jangan katakan lagi bahwa Orang ini memberikan penglihatan kepadamu; Allahlah yang telah melakukan hal ini.
Orang buta itu menjawab, "Entahlah Ia seorang berdosa tiadalah aku tahu, hanya satu perkara aku tahu: Bahwa dahulu aku buta, dan sekarang aku nampak."
Lalu mereka bertanya lagi, "Apakah diperbuat‑Nya pada engkau? Bagaimanakah Ia mencelikkan matamu?" Dengan banyak perkataan mereka berusaha membingungkan dia, agar ia berpikir bahwa ia sudah terperdaya. Setan dan malaikat‑malaikatnya yang jahat ada di pihak orang Farisi, dan menyatukan tenaga dan kecerdikan dengan pertimbangan manusia agar dapat menghalangi pengaruh Kristus. Mereka merusakkan keyakinan yang sedang mendalam di dalam pikiran banyak orang. Malaikat‑malaikat Allah berada juga di tempat itu untuk menguatkan orang yang penglihatannya sudah dipulihkan.
Orang Farisi tidak menyadari bahwa mereka berhadapan dengan Oknum selain dari orang yang tidak terdidik yang sudah buta sejak lahir; mereka tidak mengenal Dia yang sedang mereka lawan itu. Terang Ilahi bersinar ke dalam jiwa orang yang tadinya buta itu. Sementara orang‑orang munafik ini berusaha menjadikan dia tidak percaya, Allah menolong dia untuk menunjukkan, dengan kuatnya dan tegasnya jawab yang diberikannya, sehingga ia tidak terjerat. Ia menjawab, "Sudah aku katakan kepadamu, tetapi tiada juga kamu dengarkan. Apakah sebabnya kamu hendak mendengar lagi? Maukah kamu juga menjadi murid‑Nya? Lalu mereka itu menghinakan dia, serta berkata; Engkau inilah murid‑Nya, tetapi kami ini murid Musa. Kami ini tahu bahwa Allah sudah berfirman kepada Musa; tetapi akan orang ini tiada kami tahu dari mana datangnya."
Tuhan Yesus mengetahui ujian berat yang sedang dilalui oleh orang ini, dan Ia mengaruniainya rahmat dan ucapan, sehingga ia menjadi saksi bagi Kristus. Ia menjawab kepada orang Farisi dalam perkataan yang merupakan suatu tempelakan yang tajam terhadap orang‑orang yang bertanya. Mereka mengaku sebagai penafsir Alkitab, penunjuk jalan rohani bagi bangsanya; namun di sinilah Seorang yang mengadakan mukjizat‑mukjizat, dan mereka mengaku kurang tahu mengenai sumber kuasa‑Nya, serta mengenai tabiat dan tuntutan‑Nya. "Heran sekali itu," kata orang itu, "kamu tiada tahu dari mana datang‑Nya, sedang Ia sudah mencelikkan mataku. Kita tahu bahwa Allah tiada mendengarkan orang yang berbuat dosa, hanya orang yang menyembah Allah dan yang melakukan kehendak‑Nya, ialah sahaja yang didengarkan‑Nya. Semenjak awal dunia belum pemah kedengaran halnya orang mencelikkan mata manusia yang buta dari mula jadinya. Jikalau orang itu bukan daripada Allah, tiadalah dapat memperbuat apa‑apa."
Orang ini telah menghadapi orang‑orang yang menanyai dia dengan alasan mereka sendiri. Pertimbangannya tidak dapat dijawab. Orang Farisi tercengang‑cengang, dan mereka tinggal diam—terpesona mendengar perkataarmya yang tegas dan nekad itu. Beberapa saat lamanya tidak seorang pun berbicara. Kemudian imam‑imam dan rabbi‑rabbi yang masarn mukanya menarik rapat‑rapat pakaiannya, seakan‑akan mereka takut dinajiskan oleh hubungan dengan dia; mereka mengebaskan debu dari kaki mereka, dan melemparkan tuduhan kepadanya—"Engkau ini lahir di dalam dosa semata‑mata, maka engkau mau mengajar kamikah?" Dan mereka pun mengucilkan dia. Yesus mendengar apa yang telah dilakukan, dan ketika menjumpai dia tidak lama sesudah itu, Ia berkata, "Percayakah engkau akan Anak Allah?"

            Untuk pertama kalinya orang yang tadinya buta itu melihat wajah Orang yang telah memulihkannya. Di hadapan majelis ia telah melihat orang tuanya susah dan bingung, ia telah melihat pada air muka rabbi‑rabbi yang masam itu; sekarang matanya menatap wajah Yesus yang penuh kasih dan damai. Dengan menanggung risiko yang besar ia telah mengakui Dia sebagai utusan kuasa Ilahi, sekarang suatu wahyu yang lebih tinggi dikaruniakan kepadanya.
Menjawab pertanyaan Juruselamat, "Percayakah engkau akan Anak Allah?" orang yang tadinya buta itu menjawab dengan pertanyaan, "Siapakah Dia itu, ya Rabbi, supaya hamba boleh percaya akan Dia?" Maka kata Yesus kepadanya, "Engkau sudah nampak Dia, dan yang bertutur dengan engkau, itulah Dia." Orang itu pun sujudlah menyembah di kaki Juruselamat. Bukan saja penglihatannya yang sudah dipulihkan, melainkan mata pengertiannya pun sudah dicelikkan. Kristus sudah dinyatakan kepada jiwanya, dan ia menerima‑Nya sebagai Seorang yang diutus Allah.
Serombongan orang Farisi telah berkumpul di dekat tempat itu, dan dengan melihat mereka teringatlah Yesus akan perbedaan yang menyolok antara perkataan dan perbuatan‑Nya. Ia berkata "Kedatangan‑Ku ke dalam dunia ini karena hal hukuman, supaya orang yang tiada nampak itu boleh nampak, dan orang yang nampak itu menjadi buta." Yesus telah datang untuk mencelikkan mata yang buta, untuk memberikan terang kepada mereka yang duduk dalam kegelapan. Ia telah menyatakan diri‑Nya sebagai terang dunia, dan mukjizat yang baru saja diadakan membuktikan tugas‑Nya. Orang‑orang yang memandang Juruselamat pada kedatangan‑Nya dianugerahi pertunjukan hadirat Ilahi yang lebih penuh daripada yang pemah dinikmati oleh dunia sebelumnya. Pengetahuan akan Allah dinyatakan dengan lebih sempurna. Tetapi justeru dalam wahyu inilah hukuman sedang menimpa mereka. Tabiat mereka diuji, dan nasib mereka ditentukan.
Pertunjukan kuasa Ilahi yang telah memberi orang yang tadinya buta itu penglihatan jasmani dan rohani telah membiarkan orang Farisi dalam kegelapan yang malahan lebih pekat lagi. Beberapa dari antara pendengar‑Nya, yang merasa bahwa perkataan Kristus dikenakan kepada mereka, bertanya, "Kami pun butakah?" Yesus menjawab, "Jikalau kamu buta, tiadalah kamu berdosa." Jika Allah tidak memungkinkan kamu melihat kebenaran, maka kurangnya pengetahuan itu tidak akan melibatkan kamu dalam kesalahan. "Tetapi sebab kamu berkata, Kami nampak." Kamu percaya bahwa kamu sendiri dapat melihat dan menolak cara yang hanya olehnya kamu dapat mendapat penglihatan. Kepada semua orang yang menyadari keperluan mereka, Kristus datang dengan pertolongan yang tidak terbatas. Tetapi orang Farisi tidak mau mengakui keperluan mereka, mereka enggan datang kepada Kristus, dan itulah sebabnya mereka ditinggalkan dalam kegelapan suatu kegelapan yang untuk itu mereka sendiri bersalah. Yesus berkata, "Kekallah dosamu itu."



Di Antara Jerat‑jerat

Pasal 50

Di Antara Jerat‑jerat

SELAMA Yesus di Yerusalem sepanjang hari raya itu Ia dibayangi oleh mata‑mata. Dari hari ke hari rencana‑rencana baru untuk mendiamkan Dia telah dicoba. Imam‑imam dan penghulu‑penghulu memperhatikan dengan cermat untuk menjebak Dia. Mereka sedang berencana hendak menghentikan Dia dengan kekerasan. Tetapi bukan ini saja. Mereka mau merendahkan rabbi Galilea ini di hadapan orang banyak.
Pada hari pertama kehadiran‑Nya pada hari raya itu, penghulu‑penghulu telah datang kepada‑Nya, sambil menuntut dengan kuasa apa Ia mengajar. Mereka ingin mengalihkan perhatian dari Dia kepada pertanyaan mengenai hak‑Nya untuk mengajar, dan dengan demikian kepada pentingnya mereka dan kekuasaan mereka sendiri.
"Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri," kata Yesus, "tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri."
-------------------
Pasal ini dialaskan atas Yohanes 7:16‑36, 40‑53; 8:1‑11.

Yoh. 7:16, 17. Pertanyaan para pengeritik ini dihadapi oleh Yesus, bukannya oleh menjawab kritik itu, melainkan oleh memaparkan kebenaran yang penting sekali demi keselamatan jiwa. Ia mengatakan bahwa pengertian dan penghargaan akan kebenaran bergantung pada hati lebih daripada pikiran. Kebenaran harus diterima ke dalam jiwa, dan dituntutnya pernyataan bakti daripada kemauan. Jika kebenaran dapat diserahkan kepada pertimbangan itu saja, maka kesombongan tidak akan merupakan penghalang untuk menerimanya. Tetapi kebenaran itu harus diterima dengan perantaraan pekerjaan anugerah dalam hati; dan penerimaannya bergantung pada pembuangan setiap dosa yang dinyatakan oleh Roh Allah. Kesempatan manusia untuk mendapat pengetahuan akan kebenaran, betapa besarnya sekali pun, akan terbukti tidak bermanfaat baginya kecuali hati terbuka untuk menerima kebenaran, dan dengan sungguh‑sungguh ada penyerahan setiap kebiasaan yang bertentangan dengan prinsip‑prinsipnya. Bagi mereka yang menyerahkan diri dengan cara demikian kepada Allah, dengan kerinduan yang jujur untuk mengetahui dan melakukan kehendak‑Nya, kebenaran itu dinyatakan sebagai kuasa Allah untuk keselamatan mereka. Orang‑orang ini akan sanggup membedakan antara dia yang berbicara bagi Allah, dan dia yang berbicara hanya dari dirinya sendiri. Orang Farisi tidak menaruh kemauan mereka di pihak kemauan Allah. Mereka tidak berkuasa mengetahui kebenaran, melainkan mencari suatu maaf untuk menghindarinya; Kristus menunjukkan bahwa inilah sebabnya mereka tidak mengerti akan ajaran‑Nya.
Sekarang Ia memberikan suatu ujian yang dengan itu guru sejati dapat dibedakan dari sipenipu: "Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya." Yoh. 7:18. Ia yang mencari kemuliaannya sendiri berbicara hanya dari dirinya sendiri. Roh itu menunjukkan bahwa hal itu sangat memanjakan dirinya. Tetapi Kristus mencari kemuliaan Allah. Ia mengucapkan sabda Allah. Inilah bukti kekuasaan‑Nya sebagai seorang guru kebenaran.
Yesus memberikan kepada rabbi‑rabbi suatu bukti keilahian‑Nya dengan menunjukkan bahwa Ia membaca hati mereka. Sejak penyembuhan di Baitesda mereka telah bersekongkol hendak membunuh Dia. Dengan demikian mereka sendiri melanggar hukum yang sedang mereka pura‑pura pertahankan. "Tiadakah Musa memberi taurat kepadamu?" kata‑Nya. "Maka seorang pun tiada daripada kamu yang melakukan taurat itu. Apakah sebabnya kamu mencari jalan hendak membunuh Aku?"
Laksana suatu cahaya sinar yang cepat perkataan ini menyatakan kepada rabbi‑rabbi jurang kebinasaan yang ke dalamnya mereka hampir terjun. Seketika lamanya mereka dipenuhi dengan ketakutan. Mereka melihat bahwa mereka ada dalam pertentangan dengan Kuasa Yang Tidak Terbatas. Tetapi mereka tidak mau diamarkan. Untuk mempertahankan pengaruh mereka kepada orang banyak, rencana mereka untuk membunuh harus disembunyikan. Untuk menghindari pertanyaan Yesus, mereka berseru, "Engkau ada bersetan. Siapakah gerangan mencari jalan hendak membunuh engkau?" Mereka menyindir bahwa perbuatan Yesus yang ajaib itu dihasut oleh roh jahat.
Kristus tidak menghiraukan sindirian itu. Ia meneruskan untuk menunjukkan bahwa penyembuhan‑Nya di Baitesda sesuai dengan hukum Sabat, dan bahwa hal itu dibenarkan oleh tafsiran orang Yahudi sendiri terhadap hukum itu. Ia berkata, "Maka Musa sudah memberi kamu hukum bersunat itu . . . maka kamu menyunatkan orang pada hari Sabat." Sesuai dengan hukum, setiap anak harus disunat pada hari kedelapan. Sekiranya hari kedelapan jatuh pada hari Sabat, upacara harus dilakukan pada saat itu. Lebih‑lebih pula hal itu harus sesuai dengan‑roh hukum itu untuk "menyembuhkan seorang seluruh tubuhnya pada hari Sabat." Dan Ia mengamarkan kepada mereka agar jangan "hakimkan menurut rupa sahaja, melainkan jatuhkanlah hukum dengan adil."
Penghulu‑penghulu terdiam, dan banyak dari orang banyak itu berseru, Bukankah ini Dia yang dicari orang jalan hendak membunuh? Tengoklah, Ia berkata‑kata dengan bebasnya, maka mereka itu tiada berkata apa‑apa kepada‑Nya. Bolehkah jadi yang segala penghulu itu tahu dengan sesungguhnya bahwa Ia inilah Kristus?"
Banyak dari antara para pendengar Kristus yang tinggal di Yerusalem, yang bukannya tidak tahu akan rencana jahat penghulu‑penghulu untuk melawan Dia, merasa diri mereka tertarik kepada‑Nya oleh kuasa yang tidak dapat dihalangi. Keyakinan menyatakan dengan tegas kepada mereka bahwa Ialah Anak Allah. Tetapi Setan bersedia memasukkan kebimbangan, dan untuk inijalan disediakan oleh pendapat mereka sendiri yang keliru tentang Mesias dan kedatangan‑Nya. Umumnya orang percaya bahwa Kristus akan dilahirkan di Betlehem, tetapi bahwa beberapa waktu lamanya Ia akan menghilang, dan pada waktu Ia muncul kedua kalinya tidak seorang pun mengetahui dari mana Ia datang. Bukan sedikit orang yang percaya bahwa Mesias tidak akan mempunyai hubungan alamiah dengan manusia. Dan karena pendapat khalayak ramai tentang kemuliaan Mesias tidak dipenuhi oleh Yesus orang Nazaret, maka banyak orang memperhatikan perasaan itu, "Memang akan orang ini kami tahu darimana asalnya; tetapi apabila Kristus datang kelak, tiada seorang pun yang mengetahui darimana asalnya."
Sementara mereka ragu‑ragu antara kebimbangan dan iman, Yesus membaca pikiran mereka dan menjawab mereka: "Kamu sekalian mengenal Aku, dan kamu pula mengetahui darimana asal‑Ku; dan tiada Aku datang dengan kehendak‑Ku sendiri, melainkan Ia yang menyuruhkan Aku itu ada benar, yaitu yang tiada kamu kenal. "Mereka menuntut suatu pengetahuan tentang apa sebenarnya asal‑mula Kristus, tetapi mereka sangat tidak mengetahuinya. Sekiranya mereka telah hidup sesuai dengan kehendak Allah, maka mereka akan mengenal Anak‑Nya ketika Ia dinyatakan kepada mereka.
Setidak‑tidaknya para pendengar mengerti akan perkataan Kristus. Jelaslah bahwa perkataan itu merupakan ulangan tuntutan yang telah diadakan‑Nya di hadapan Sanhedrin berbulan‑bulan sebelumnya, ketika Ia menyatakan diri‑Nya sebagai Anak Allah. Sebagaimana pada saat itu penghulu‑penghulu berusaha merencanakan kematian‑Nya, demikian juga sekarang mereka berusaha menangkap Dia; tetapi mereka dihalangi oleh kuasa yang tidak kelihatan, yang membatasi amarah mereka, yang mengatakan kepada mereka, sekian jauhnya kamu boleh pergi, dan jangan lebih jauh.
Di antara khalayak ramai banyak yang percaya kepada‑Nya, dan mereka berkata, "Apabila Kristus datang, adakah Ia mengadakan tanda ajaib lebih banyak daripada yang diadakan oleh orang ini?" Para pemimpin orang Farisi, yang memperhatikan dengan cemasnya jalannya peristiwa, melihat adanya pernyataan simpati di antara orang banyak itu. Setelah lekas‑lekas mendapatkan imam‑imam besar, mereka mengadakan rencana untuk menangkap Dia.
Tetapi mereka mengatur hendak menangkap Dia ketika Ia sendirian, karena mereka tidak berani menangkap Dia di hadapan orang banyak. Sekali lagi Yesus menunjukkan dengan jelas bahwa Ia membaca niat mereka. "Hanyalah seketika lamanya lagi Aku bersama‑sama dengan kamu, lalu Aku pergi kepada Dia yang menyuruhkan Aku. Kamu akan mencari Aku, maka tiada kamu dapat, dan di mana Aku ada, kamu ini tiada boleh datang." Tidak lama lagi Ia akan mendapat perlindungan yang tidak dapat dicapai oleh celaan dan kebencian mereka. Ia akan naik kepada Bapa, sekali lagi dipuja oleh malaikat‑malaikat; dan ke tempat itulah para pembunuh‑Nya sekali‑kali tidak dapat sampai.
Dengan nada mengejek rabbi‑rabbi berkata, "Ke manakah orang ini hendak pergi yang kita tiada boleh dapat Dia? Hendak pergi kepada orang yang tercerai‑berai di antara orang Gerika, serta mengajar orang Gerikakah?" Sedikit sekali para pengeritik ini mengimpikan bahwa dalam perkataan mereka yang mengejek itu mereka sedang menggambarkan tugas Kristus. Sepanjang hari telah mengulurkan tangan‑Nya kepada orang banyak yang tidak menurut dan membantah itu, meski pun demikian Ia akan didapat oleh mereka yang tidak mencari Dia; di antara orang banyak yang tidak menyebut nama‑Nya Ia akan dinyatakan. Roma 10:20, 21.
Banyak orang yang diyakinkan bahwa Yesus adalah Anak Allah disesatkan oleh pertimbangan yang keliru dari imam‑imam dan rabbi‑rabbi. Guru‑guru ini telah mengulangi nubuatan‑nubuatan tentang Mesias dengan besar hasilnya bahwa Ia akan "memerintah di gunung Sion dan di Yerusalem, dan Ia akan menunjukkan kemuliaan-Nya di depan tua-tua umat-Nya." "Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!" Yes. 24:23; Mzm. 72:8. Kemudian mereka mengadakan perbandingan yang memandang rendah antara kemuliaan yang digambarkan di sini dengan rupa Yesus yang hina itu. Justeru perkataan nubuatan sangatlah diputar‑balikkan agar membenarkan kesalahan. Sekiranya orang banyak dengan ketulusan hati mempelajari sabda itu bagi diri mereka sendiri, maka sudah tentu mereka tidak akan tersesat. Yesaya pasal enampuluh satu menyaksikan bahwa Kristus harus melakukan pekerjaan yang dilakukan‑Nya itu. Pasal limapuluh tiga menyatakan perihal la ditolak serta penderitaan‑Nya di dunia, dan pasal limapuluh sembilan melukiskan tabiat imam‑imam dan rabbi‑rabbi.
Allah tidak memaksa manusia meninggalkan kurang percaya mereka. Di hadapan mereka adalah terang dan kegelapan, kebenaran dan kesalahan. Merekalah yang harus memutuskan mana yang akan mereka terima. Pikiran manusia dianugerahi kuasa untuk membedakan yang benar dan yang salah. Allah merencanakan agar manusia tidak mengambil keputusan dari dorongan hati, melainkan dari kuatnya bukti, membandingkan ayat Kitab Suci dengan ayat Kitab Suci dengan saksama. Sekiranya orang Yahudi telah mengesampingkan prasangka dan membandingkan nubuatan yang tersurat dengan kenyataan yang menjadi ciri‑ciri kehidupan Yesus, maka sudah tentu mereka akan melihat keselarasan yang indah antara nubuatan‑nubuatan dan kegenapannya dalam kehidupan dan pelayanan orang Galilea yang hina itu.
Banyak orang tertipu dewasa ini dalam cara yang sama seperti orang Yahudi. Guru‑guru agama membaca Alkitab dalam terang pengertian mereka sendiri dan tradisi; dan orang banyak tidak menyelidiki Alkitab bagi diri sendiri, dan menghakimkan bagi diri sendiri mengenai apakah kebenaran itu; tetapi mereka meninggalkan pertimbangan mereka dan menyerahkan jiwa mereka kepada para pemimpin mereka. Memasyhurkan dan mengajarkan sabda‑Nya, adalah salah satu ikhtiar yang telah ditentukan Allah untuk memancarkan terang; tetapi kita harus menguji setiap ajaran manusia dengan Kitab Suci. Siapa saja yang mau menyelidiki Alkitab dengan doa, dengan keinginan untuk mengetahui kebenaran agar ia menurutnya, akan menerima penerangan Ilahi. Ia akan mengerti Kitab Suci. "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri." Yoh. 7:17.
Pada hari terakhir masa raya itu, hamba‑hamba yang diutus oleh imam‑imam dan penghulu‑penghulu untuk menangkap Yesus, kembali tanpa Dia. Mereka ditanyai dengan marahnya, "Apakah sebabnya kamu tiada membawa Dia?" mereka hanya dapat menjawab, "Belum pernah orang berkata‑kata seperti orang ini."
Imam‑imam dan penghulu‑penghulu, ketika datang mula‑mula ke hadapan Kristus, telah merasakan keyakinan seperti itu. Hati mereka sangat terharu, dan pendapat dipaksakan kepada mereka, "Belum pernah orang berkata‑kata seperti orang ini." Tetapi mereka telah memadamkan keyakinan Roh Kudus. Sekarang, dalam kemarahan karena alat hukum sekali pun dipengaruhi oleh orang Galilea yang dibenci itu, mereka berseru, "Sudahkah kamu juga tersesat? Adakah seorang jua pun daripada sekalian penghulu atau orang Farisi, yang percaya akan Dia? Cih, orang ramai ini, yang tiada tahu akan taurat itu, terkutuklah mereka itu."
Mereka yang kepadanya pekabaran kebenaran diucapkan jarang bertanya, "Bernarkah itu?" melainkan, "Oleh siapakah hal itu dianjurkan?" Orang banyak menilainya oleh banyaknya orang yang menerimanya, dan pertanyaan masih ditanyakan, "Adakah orang terpelajar atau pemimpin agama yang telah mempercayainya?" Orang‑orang tidak lebih menyukai kesalehan sejati sekarang daripada pada zaman Kristus. Mereka justeru bersungguh‑sungguh mencari keuntungan duniawi, sehingga melalaikan kekayaan abadi; dan hal itu bukannya merupakan suatu bantahan terhadap kebenaran, yang banyak orang tidak bersedia menerimanya, atau tidak diterima oleh orang‑orang besar di dunia, malah oleh para pemimpin agama.
Sekali lagi imam‑imam dan penghulu‑penghulu melanjutkan rencana hendak menangkap Yesus. Ditegaskan bahwa jika Ia diberi kebebasan lebih lama, Ia akan menarik orang banyak dari para pemimpin yang sudah ditetapkan, dan satu‑satunya jalan yang aman ialah mendiamkan Dia tanpa bertangguh. Ketika mereka sedang ramai memperbincangkannya, dengan tiba‑tiba mereka dihentikan. Nikodemus bertanya, "Adakah taurat itu menghukumkan orang, sebelum didengar apa yang dikatakannya, dan diketahui apa yang diperbuatnya?" Perhimpunan itu pun terdiamlah. Perkataan Nikodemus menempelak angan‑angan hati mereka. Mereka tidak dapat mempersalahkan seseorang tanpa memberi dia kesempatan untuk membela diri. Tetapi bukan saja untuk alasan ini penghulu‑penghulu yang congkak itu tinggal diam, sambil memandang kepadanya yang telah berani berbicara di pihak keadilan. Mereka dikejutkan dan dikecewakan karena salah seorang dari mereka sendiri sudah sangat dipengaruhi dengan tabiat Yesus sehingga ia mengucapkan suatu perkataan untuk membela‑Nya. Setelah sadar kembali dari keheranan, mereka menyapa Nikodemus dengan sindiran yang tajam, "Engkau pun dari Galileakah? Selidiklah dan amatilah, bahwa dari Galilea itu tiada terbit seorang nabi pun."
Meskipun demikian protes itu mengakibatkan ditangguhkannya tindakan majelis itu. Penghulu‑penghulu tidak sanggup melaksanakan niat mereka dan menghukum Yesus tanpa memberikan kesempatan untuk membela diri. Karena telah dikalahkan pada saat itu, "Masing‑masing pun pulanglah ke rumahnya. Tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun."
Dari kesibukan dan kebingungan kota itu, dari orang banyak yang berhasrat dan rabbi‑rabbi yang tidak dapat dipercayai, Yesus berbalik ke ketenangan semak pohon zaitun, di mana Ia dapat sendirian dengan Allah. Tetapi pagi‑pagi benar Ia pun kembalilah ke kaabah, dan ketika orang banyak mengerumuni Dia, Ia pun duduklah dan mengajar mereka.
Tidak lama kemudian Ia pun terganggulah. Serombongan orang Farisi dan ahli Taurat menghampiri Dia, dengan menyeret seorang wanita yang sangat ketakutan, yang dengan suara yang keras penuh hasrat mereka tuduh melanggar hukum ketujuh. Setelah mendorong dia ke hadapan Yesus, mereka mengatakan kepada‑Nya, dengan pura‑pura menunjukkan hormat. "Di dalam taurat dipesan oleh Musa akan merajam perempuan yang demikian. Apakah kata Guru dari halnya?"
Rasa penghormatan mereka yang pura‑pura menyelubungi rencana jahat yang terpendam dalam hati mereka untuk membinasakan Dia. Mereka telah menggunakan kesempatan ini untuk menyalahkan Dia, dengan berpendapat bahwa keputusan apa saja yang diambil‑Nya, mereka akan mendapat alasan untuk menuduh Dia. Seandainya Ia membebaskan wanita itu, Ia mungkin dituduh menghina hukum Musa. Seandainya Ia menyatakan wanita itu patut dibunuh, Ia dapat dituduh kepada orang Roma sebagai seorang yang mengambil kekuasaan yang hanya menjadi hak mereka.
Yesus memandang seketika lamanya pada peristiwa itu—mangsa yang gemetar dalam perasaan malu, para pemuka yang berwaja kejam, yang tidak mempunyai belas kasihan manusia sekali pun. Roh kesucian‑Nya yang tidak bercacat‑cela itu tidak menyukai pemandangan yang ada di hadapannya. Ia mengetahui benar untuk maksud apa perkara ini telah dibawa kepada‑Nya. Ia membaca hati, dan mengetahui tabiat dan sejarah hidup setiap orang di hadapan‑Nya. Orang‑orang yang seharusnya menjaga keadilan justeru mereka sendirilah yang menuntun mangsa mereka ke dalam dosa, supaya mereka dapat memasang jerat bagi Yesus. Tanpa memberikan tanda bahwa Ia telah mendengar pertanyaan mereka, Ia pun membungkuklah, dan sambil menatap tanah, mulailah Ia menulis di tanah.
Karena tidak sabar lagi melihat Yesus berlambat‑lambat dan tampaknya bersikap acuh tak acuh, para penuduh itu pun mendekati‑Nya, sambil mendesakkan persoalan itu agar mendapat perhatian‑Nya. Tetapi ketika mata mereka mengikuti mata Yesus dan tertuju di tempat Ia berdiri, berubahlah air muka mereka. Di situlah, tertera di hadapan mereka rahasia‑rahasia kesalahan dari kehidupan mereka sendiri. Orang banyak yang menonton melihat perubahan air muka yang tiba‑tiba, dan mendesak maju ke muka hendak mengetahui apa yang sedang mereka perhatikan dengan perasaan heran dan malu.
Dengan segala pengakuan bahwa mereka menghormati hukum, rabbi‑rabbi ini tidak mengindahkan syarat‑syaratnya dalam menuduh wanita itu. Suamilah yang berkewajiban mengambil tindakan terhadap dia, dan pihak‑pihak yang bersalah harus sama‑sama dihukum. Tindakan para penuduh itu semata‑mata tidak dikuasakan kepada mereka. Meski pun demikian, Yesus menemui mereka sebagaimana mereka ada. Hukum memperincikan bahwa dalam menghukum dengan melempari batu, saksi‑saksi dalam perkara itu harus mula‑mula melontarkan sebuah batu. Sekarang sambil berdiri dan menatap tua‑tua yang berencana jahat ini, Yesus berkata, "Siapa di antara kamu yang tiada berdosa, hendaklah ia dahulu melempar batu kepada perempuan ini." Dan sambil membungkuk, Ia meneruskan menulis di tanah.
Ia tidak mengesampingkan hukum yang diberikan dengan perantaraan Musa, atau pun melanggar kekuasaan Roma. Para penuduh sudah dikalahkan. Sekarang, karena jubah kesucian sekedar rupa itu sudah dicarik dari mereka, berdirilah mereka dalam keadaan bersalah dan dihukum di hadapan Kesucian Yang Tidak Terbatas. Mereka gemetar agar jangan kesalahan dalam kehidupan mereka yang tersembunyi itu dipaparkan kepada orang banyak; dan seorang demi seorang, dengan menundukkan kepala dan mata yang memandang ke bawah, mereka pun pergilah dengan diam‑diam, seraya meninggalkan mangsa mereka dengan Juruselamat yang penuh belas kasihan.
Yesus berdiri, dan sambil memandang pada perempuan itu berkata, "Hai perempuan, di manakah mereka itu? Tiadakah seorang pun yang menyalahkan engkau? Maka kata perempuan itu: Seorang pun tiada, ya Rabbi. Lalu kata Yesus kepadanya: Kalau demikian Aku ini pun tiada mau menghukumkan engkau; pergilah engkau, dan daripada sekarang ini jangan berbuat dosa lagi."
Wanita itu telah berdiri di hadapan Yesus, sambil membungkuk karena ketakutan. Perkataan‑Nya, "Siapa di antara kamu yang tiada berdosa, hendaklah ia dahulu melempar batu kepada perempuan ini," telah sampai kepadanya sebagai suatu hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya. Ia tidak berani memandang kepada wajah Juruselamat, melainkan menunggu nasibnya dengan tenang. Dengan keheranan ia melihat para penuduhnya meninggalkan tempat itu dalam keadaan bungkam dan bingung; kemudian perkataan harapan itu sampai ke telinganya, "Aku ini pun tiada mau menghukumkan engkau; pergilah engkau dan daripada sekarang ini jangan berbuat dosa lagi." Hatinya hancur, dan ia tersungkur di kaki Yesus, sambil tersedu‑sedu karena kasihnya yang penuh rasa terima kasih, dan dengan air mata sedih mengakui dosa‑dosanya.
Inilah permulaan hidup baru baginya, suatu hidup kesucian dan damai, diabdikan pada pekerjaan Allah. Dalam mengangkat jiwa yang jatuh ini, Yesus mengadakan suatu mukjizat yang lebih besar daripada dalam menyembuhkan penyakit jasmani yang paling menyedihkan; Ia menyembuhkan penyakit rohani yang membawa kepada kematian kekal. Wanita yang bertobat ini menjadi salah seorang pengikut‑Nya yang paling tekun. Dengan kasih dan ketekunan yang mengorbankan diri ia membalas kemurahan‑Nya yang mengampuni itu.
Dalam tindakan‑Nya memaafkan wanita ini serta memberanikan dia untuk hidup lebih baik, tabiat Yesus bersinar dalam keindahan kebenaran yang sempurna. Meski pun Ia tidak memaafkan dosa, atau pun mengurangi perasaan bersalah, namun Ia tidak berusaha menghukum, melainkan menyelamatkan. Dunia memberikan hanya penghinaan dan ejekan kepada wanita yang bersalah ini; tetapi Yesus mengucapkan perkataan penghiburan dan harapan. Ia Yang Tidak Berdosa menaruh belas kasihan terhadap kelemahan orang berdosa, dan mengulurkan tangan untuk menolong dia. Meski pun orang Farisi yang pura‑pura itu menuduh, namun Yesus menyuruh dia, "Pergilah engkau dan . . . jangan berbuat dosa lagi."
Orang yang mengalihkan pandangan dan berbalik dari orang yang bersalah, meninggalkan mereka untuk mengikuti jalan mereka kepada kebinasaan dengan leluasa, bukannya pengikut Kristus. Mereka yang cepat menuduh orang‑orang lain, dan rajin membawa orang‑orang itu untuk diadili, sering dalam kehidupan mereka sendiri lebih bersalah dari orang‑orang yang mereka tuduh itu. Manusia membenci orang berdosa, sedangkan mereka mengasihi dosa. Kristus membenci dosa, tetapi mengasihi orang berdosa. Inilah yang akan menjadi roh semua orang yang mengikut Dia. Kasih orang Kristen larnbat mengeritik, cepat melihat penyesalan, bersedia mengampuni, memberanikan, menuntun orang yang tersesat pada jalan kesucian, dan menetapkan kakinya di jalan itu.




Pada Hari Raya Pondok Daun‑daunan

Pasal49

Pada Hari Raya
Pondok Daun‑daunan

TIGA KALI setahun orang Yahudi dituntut berhimpun di Yerusalem untuk urusan keagamaan. Dalam keadaan terselubung dengan tiang awan, Pemimpin Israel yang tidak kelihatan itu telah memberikan petunjuk‑petunjuk mengenai perhimpunan ini. Selama orang Yahudi dalam tawanan, perhimpunan seperti itu tidak dapat diadakan; tetapi ketika bangsa itu dikembalikan ke negeri mereka, pemeliharaan hari‑hari peringatan ini dimulai sekali lagi. Allah merencanakan agar hari ulang tahun ini hendaknya mengingatkan Dia pada pikiran orang banyak. Tetapi dengan beberapa pengecualian, imam‑imam dan pemimpin‑pemimpin bangsa sudah lupa akan maksud ini. Ia yang telah menentukan pertemuan nasional ini dan mengerti maknanya menyaksikan penyelewengan mereka.
Hari Raya Pondok Daun‑daunan merupakan perhimpunan tahunan yang terakhir. Allah merencanakan agar pada saat ini orang banyak merenungkan kebaikan dan kemurahan‑Nya. Segenap negeri sudah berada dalam bimbingan‑Nya, dan menerima berkat‑Nya. Siang dan malam penjagaan-
--------------
Pasal ini dialaskan atas Yohanes 7:1‑15; 37‑39.

Nya telah berlangsung. Matahari dan hujan telah menyebabkan bumi menghasilkan buah‑buahnya. Dari lembah dan dataran Palestina panen sudah dikumpulkan. Buah zaitun sudah dipetik, dan minyak yang berharga sudah disimpan dalam botol. Pohon kurma telah menghasilkan persediaannya. Tandan buah anggur yang ungu telah diperas dalam apitan anggur.
Hari raya itu berlangsung selama tujuh hari, dan untuk merayakannya, penduduk Palestina, dengan banyak penduduk dari negeri‑negeri lain, meninggalkan rumah mereka, dan datang ke Yeruselam. Dari jauh dan dekat orang datang, sambil membawa di tangan mereka suatu tanda kegembiraan. Tua dan muda, kaya dan miskin, semuanya membawa suatu pemberian sebagai persembahan pengucapan syukur kepada‑Nya yang telah menganugerahi tahun itu dengan kebaikan‑Nya, serta menjadikan panen mereka amat limpah. Segala sesuatu yang dapat menyenangkan mata, serta mengungkapkan kegembiraan menyeluruh, sudah dibawa dari hutan; kota tampak seperti hutan yang indah.
Hari raya ini bukannya hanya merupakan pengucapan syukur panen, melainkan peringatan akan perlindungan Allah pada orang Israel di padang belantara. Dalam memperingati kehidupan mereka di tenda‑tenda, orang Israel selama hari raya itu tinggal dalam tenda atau pondok dari dahan‑dahan hijau. Pondok‑pondok ini didirikan di jalan‑jalan, di halaman kaabah atau di sutuh rumah. Bukit‑bukit dan lembah‑lembah yang mengelilingi Yerusalem disebari juga dengan tempat tinggal dari daun‑daun ini, dan tampaknya hidup dengan adanya orang banyak.
Dengan nyanyian suci dan pengucapan syukur orang‑orang yang berbakti merayakan peristiwa ini. Belum lama sebelum hari raya itu adalah Hari Grafirat, ketika orang‑orang dinyatakan sudah berdamai dengan surga sesudah mengakui dosa mereka. Dengan demikian sudah tersedialah jalan untuk kegembiraan hari raya itu. "Haleluya! Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya" (Mzm. 106:1) dinyaringkan dengan nada kemenangan, sementara segala jenis musik, diiringi dengan sorak hosana, menyertai nyanyian bersama. Kaabah menjadi pusat kegembiraan orang banyak. Di sinilah terdapat kebesaran upacara korban. Di sinilah, berjejer pada kedua sisi tangga bangunan suci yang terbuat dari pualam putih, biduan orang Lewi memimpin acara nyanyian. Orang banyak yang datang berbakti, sambil melambai‑lambaikan pelepah korma dan murd, menyaringkan suara dan menggemakan nyanyian bersama; dan sekali lagi lagu itu disambut dengan suara‑suara yang dekat dan jauh, sampai ke bukit‑bukit yang mengelilinginya di penuhi dengan suara pujian.
Pada malam hari kaabah dan halamannya bersinar‑sinar dengan terang buatan. Musik, lambaian pelepah korma, sorak hosana yang menggembirakan, himpunan orang banyak, yang disinari dengan terang yang memancar dari lampu‑lampu yang bergantungan, jubah imam‑imam, serta kebesaran upacara‑upacara itu, dipadukan untuk menjadikan suatu pemandangan yang sangat berkesan kepada orang‑orang yang memandangnya. Tetapi upacara yang paling berkesan dari hari raya itu, yang menimbulkan kegembiraan terbesar, ialah upacara yang memperingati peristiwa pengembaraan sementara di padang belantara.
Ketika fajar mula‑mula menyingsing, imam‑imam meniup nafiri perak itu lama‑lama dan nyaring, dan nafiri yang menyambut, dan sorak‑sorai yang gembira dari orang banyak di pondok‑pondok mereka, yang bergema di bukit dan lembah menyambut hari perayaan itu. Kemudian imam menciduk dari air yang mengalir di Kidron sebuli‑buli air, dan sambil mengangkatnya tinggi‑tinggi, sementara nafiri dibunyikan, ia menaiki anak tangga kaabah yang lebar itu, mengikuti irama musik dengan langkah yang lambat dan teratur, seraya menyanyikan dalam pada itu, "Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem." Mzm. 122:2.
Ia membawa buli‑buli itu ke mezbah, yang terletak di tengah halaman imam‑imam itu. Di sinilah terdapat dua bokor perak, dengan seorang imam berdiri di sisi setiap bokor itu. Buli‑buli air itu dituangkan ke dalam satu bokor, dan sebuah buli‑buli anggur ke dalam bokor yang lain; dan isi keduanya mengalir ke dalam sebuah pipa yang menghubungkan dengan Kidron, dan dialirkan ke Laut Mati. Pertunjukan air yang disucikan ini menggambarkan pancaran air yang atas perintah Allah telah memancar dari batu karang untuk memuaskan dahaga anak‑anak Israel. Kemudian lagu kemenangan pun bergemalah, "Sebab Tuhan Allah itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan." Yes. 12:2, 3.
Ketika anak‑anak Yusuf mengadakan persiapan untuk menghadiri Hari Raya Pondok Daun‑daunan, mereka melihat bahwa Kristus tidak mengadakan usaha yang menandakan niat‑Nya untuk menghadirinya. Mereka memperhatikan Dia dengan sifat ingin tahu. Sejak penyembuhan di Baitesda Ia tidak menghadiri perhimpunan nasional. Untuk menghindarkan pertentangan yang tidak berguna dengan para pemimpin di Yerusalem, Ia telah membatasi pekerjaan‑Nya di Galilea. Sikapnya yang tampaknya melalaikan perhimpunan keagamaan yang besar, serta permusuhan yang ditunjukkan kepada‑Nya oleh imam‑imam dan rabbi‑rabbi, menyebabkan kebingungan bagi orangorang di sekelilingnya, malah kepada murid‑murid‑Nya dan sanak saudara‑Nya sendiri. Dalam ajaran‑Nya Ia telah menekankan berkat‑berkat penurutan hukum Allah, namun Ia Sendiri tampaknya bersikap acuh tak acuh terhadap pelayanan yang telah ditetapkan Allah. Pergaulan‑Nya dengan para pemungut cukai serta orang‑orang lain yang mempunyai nama yang tidak baik, sikap‑Nya yang tidak mengindahkan segala peraturan yang dipelihara oleh rabbi‑rabbi, serta kebebasan dalam mengesampingkan tuntutan tradisi mengenai Sabat, semuanya tampaknya menempatkan Dia dalam perlawanan terhadap para pemimpin agama, dan menimbulkan banyak pertanyaan. Saudara‑saudara‑Nya berpendapat bahwa sikap‑Nya yang merenggangkan hubungan‑Nya dengan orang orang besar dan terpelajar dari bangsa itu salah adanya. Mereka merasa bahwa orang orang ini sudah mesti benar, dan bahwa Yesus sudah salah oleh menempatkan diri‑Nya dalam perlawanan terhadap mereka. Tetapi mereka telah menyaksikan kehidupan‑Nya yang tidak bercela, dan meski pun mereka tidak menyetarakan diri dengan murid‑murid‑Nya, namun mereka sangat terharu oleh perbuatan‑Nya. Kepopuleran‑Nya di Galilea memuaskan cita‑cita mereka, mereka masih mengharapkan agar Ia memberikan suatu bukti kuasa‑Nya yang akan menginsafkan orang Farisi bahwa tuntutan‑Nya benar adanya. Apakah akan terjadi jika benar Ialah Mesias, Putera Israel? Mereka menaruh pendapat ini dalam hati mereka dengan perasaan puas yang membanggakan.
Mereka sangat cemas akan hal ini sehingga mereka mendesak Kristus pergi ke Yerusalem. "Berangkatlah dari sini," kata mereka, "dan pergilah ke tanah Yudea, supaya murid‑murid‑Mu juga boleh memandang segala mukjizat yang Engkau adakan. Karena seorang pun tiada membuat barang sesuatu dengan sembunyi, jikalau ia sendiri hendak menjadi masyhur. Jikalau Engkau membuat perkara yang demikian, nyatakanlah diri‑Mu kepada dunia." *) Kata "jikalau" menyatakan keraguan dan kurang percaya. Mereka berpendapat bahwa Ia pengecut dan lemah. Jikalau Ia mengetahui bahwa Ialah Mesias, mengapa Ia menahan diri dan tidak bertindak? Jikalau sesungguhnya Ia memiliki kuasa seperti itu, mengapa tidak pergi dengan beraninya ke Yerusalem, dan mempertahankan tuntutan‑Nya? Mengapa tidak mengadakan di Yerusalem perbuatan yang ajaib yang dilaporkan tentang Dia di Galilea? Jangan bersembunyi di daerah‑daerah terpencil, mereka mengatakan, dan lakukanlah perbuatanmu yang sangat besar demi keuntungan petani dan nelayan yang tidak berpengetahuan. Perkenalkanlah dirimu di ibu kota, carilah dukungan imam‑imam dan penghulu‑penghulu dan satukanlah bangsa itu dalam mendirikan kerajaan yang baru.
Saudara‑saudara Yesus ini memberikan pertimbangan dari motif yang mementingkan diri yang sering terdapat dalam hati orang‑orang yang bercita‑cita hendak memperagakan dirinya. Roh ini adalah roh dunia yang berkuasa. Mereka disakiti hati karena, gantinya mencari takhta duniawi, Kristus telah menyatakan diri‑Nya sebagai roti hidup. Mereka sangat dikecewakan ketika banyak sekali murid‑murid‑Nya meninggalkan Dia. Mereka sendiri berbalik dari Dia untuk menghindari salib dalam mengakui apa yang dinyatakan oleh perbuatan‑Nya—bahwa Ia diutus Allah.
"Maka kata Yesus kepada mereka itu: Saat‑Ku belum sampai, tetapi

(*) Yoh. 7:4 menurut terjemahan Klinkert

saatmu itu senantiasa sedia. Tiada dapat isi dunia ini membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, oleh karena Aku ini menyaksikan dari halnya, bahwa segala perbuatannya jahat adanya. Hendaklah kamu pergi memuliakan hari raya. Aku belum hendak pergi memuliakan hari raya ini, karena saat‑Ku belum sampai. Lalu tinggallah Ia di Galilea setelah sudah Ia berkata demikian kepada mereka itu." Saudara‑saudara‑Nya telah berbicara kepada‑Nya dalam nada kekuasaan, menentukan jalan yang harus diikuti‑Nya. Ia membalikkan teguran mereka kepada mereka, menggolongkan mereka bukannya dengan murid‑murid yang menyangkal diri, melainkan dengan dunia. "Tiada dapat isi dunia ini membenci‑kamu," kata‑Nya, "tetapi ia membenci Aku, oleh karena Aku ini menyaksikan dari halnya, bahwa segala perbuatannya jahat adanya." Dunia tidak membenci mereka yang serupa dengan dia dalam roh, dunia mengasihi mereka yang seperti dirinya sendiri.
Dunia bagi Kristus bukannya tempat menyenangkan dan membesarkan diri. Ia tidak mencari suatu kesempatan untuk memperoleh kekuasaan dan kemuliaannya. Tidak ditawarkannya hadiah seperti itu bagi‑Nya. Itulah tempat yang dituju‑Nya, yang disuruh Bapa‑Nya. Ia telah dikaruniakan untuk kehidupan dunia ini, mengerjakan rencana penebusan yang besar itu. Ia sedang melaksanakan pekerjaan‑Nya bagi umat manusia yang sudah jatuh. Tetapi Ia tidak boleh bersikap tekebur, tidak boleh lekas‑lekas masuk ke dalam bahaya, tidak boleh memperlekas suatu krisis. Setiap peristiwa dalam pekerjaan‑Nya sudah ditentukan waktunya. Ia harus menunggu dengan sabar. Ia mengetahui bahwa la harus menerima kebencian dunia, Ia mengetahui bahwa pekerjaan‑Nya akan mengakibatkan kematian‑Nya; tetapi mempertunjukkan diri‑Nya belum pada waktunya bukannya kehendak Bapa‑Nya.
Dari Yerusalem laporan tentang mukjizat‑mukjizat Kristus telah tersebar ke mana saja orang Yahudi berpencar, dan meski pun berbulan‑bulan lamanya Ia tidak menghadiri hari raya, namun.perhatian kepada‑Nya tidak berkurang. Banyak dari orang dari segala pelosok dunia telah datang mengunjungi Hari Raya Pondok Daun‑daunan dengan berharap hendak melihat Dia. Pada permulaan hari raya itu banyak pertanyaan tentang Dia. Orang‑orang Farisi dan penghulu‑penghulu menantikan Dia datang, dengan mengharapkan suatu kesempatan untuk mempersalahkan Dia. Mereka bertanya dengan cemasnya, "Di manakah Dia?" tetapi tidak seorang pun mengetahuinya. Ialah yang paling banyak dipikirkan oleh semua orang. Karena takut akan imam‑imam dan penghulu‑penghulu, tidak seorang pun berani mengakui Dia sebagai Mesias, tetapi di mana‑mana terdapatlah perbincangan diam‑diam namun sungguh‑sungguh mengenai Dia. Banyak orang mempertahankan Dia sebagai seorang yang diutus Allah, sedangkan yang lain menuduh Dia sebagai penipu orang banyak. Dalam pada itu Yesus sudah tiba dengan diam‑diam di Yerusalem. Ia telah memilih suatu jalan yang jarang ditempuh orang, agar menghindari orang‑orang yang sedang mengadakan perjalanan ke kota itu dari‑segala jurusan. Sekiranya Ia telah menggabungkan diri dengan suatu kafilah yang menuju perayaan itu, maka sudah tentu perhatian khalayak ramai akan tertarik kepada‑Nya ketika Ia memasuki kota itu, dan suatu demonstrasi dari khalayak ramai yang menyenangi‑Nya sudah tentu akan membangkitkan perasaan para penguasa melawan Dia. Untuk menghindarinya Ia memilih mengadakan perjalanan itu sendirian.
Pada pertengahan hari raya itu, ketika perasaan yang berkobar‑kobar mengenai Dia sudah rnemuncak, masuklah Ia ke halaman kaabah disaksikan oleh orang banyak. Karena ketidak‑hadiran‑Nya pada hari raya itu, maka sudah dinyatakan bahwa Ia tidak berani menempatkan diri‑Nya dalam kekuasaan imam‑imam dan penghulu‑penghulu. Semua orang keheranan melihat Dia hadir dengan tidak disangka‑sangka. Setiap suara didiamkan. Semua orang keheranan melihat kebesaran dan keberanian perilaku‑Nya di tengah‑tengah musuh‑musuh‑Nya yang berkuasa yang haus akan nyawa‑Nya.
Sambil berdiri dengan cara yang demikian, sebagai pusat perhatian orang banyak itu, Yesus berbicara kepada mereka dalam cara yang belum pernah dilakukan oleh orang lain. Perkataan‑Nya menunjukkan bahwa Ia mengetahui tentang hukum‑hukum dan kebiasaan‑kebiasaan orang Israel, tentang upacara korban dan ajaran nabi‑nabi, jauh melebihi imam‑imam dan rabbi‑rabbi. Ia merubuhkan penghalang berupa tata cara dan tradisi. Pemandangan tentang kehidupan pada masa depan tampaknya terhampar di hadapan‑Nya. Sebagai seorang yang memandang Yang Tidak Kelihatan, Ia berbicara tentang perkara dunia dan surga, manusia dan Ilahi, dengan kekuasaan yang tentu. Perkataan‑Nya paling jelas dan meyakinkan, dan sekali lagi, sebagaimana di Kapernaum, orang banyak tercengang‑cengang mendengar ajaran‑Nya, "sebab perkataan‑Nya penuh kuasa." Luk. 4:32. Dengan menggunakan berbagai‑bagai gambaran Ia mengamarkan para pendengar‑Nya tentang malapetaka yang akan dialami oleh semua orang yang menolak berkat‑berkat yang dibawa‑Nya kepada mereka. Ia telah memberikan kepada mereka setiap bukti sedapat‑dapatnya bahwa Ia datang dari Allah, dan mengadakan usaha sedapat‑dapatnya untuk membawa mereka kepada pertobatan. Ia tidak akan ditolak atau dibunuh oleh bangsa‑Nya sendiri jika Ia dapat menyelamatkan mereka dari kesalahan perbuatan seperti itu.
Semua keheran‑heranan menyaksikan pengetahuan‑Nya akan hukum dan nubuatan‑nubuatan, dan pertanyaan itu disampaikan dari satu orang kepada yang lain, "Bagaimanakah orang ini paham akan kitab‑kitab dengan tiada belajar?" Tidak seorang pun dianggap sanggup menjadi guru agama, kecuali ia telah belajar di sekolah rabbi‑rabbi, dan baik Yesus mau pun Yohanes telah digambarkan sebagai tidak berpengetahuan sebab mereka tidak mendapat pendidikan ini. Mereka yang mendengarnya tercengang‑cengang karena pengetahuan mereka akan Kitab Suci, "dengan tiada belajar." Pengetahuan dari manusia memang tidak mereka miliki, tetapi Allah yang di surga adalah guru mereka, daripada‑Nyalah mereka mendapat hikmat tertinggi itu.
Ketika Yesus berbicara di halaman kaabah, orang banyak terpesona. Justeru orang‑orang yang paling keras menentang Dia merasa diri tidak berkuasa menyusahkan Dia. Pada saat itu, segala perhatian lain dilupakan.
Dari hari ke hari Ia mengajar orang banyak, sampai hari terakhir, "hari yang besar pada masa raya itu." Pada pagi hari ini orang banyak sudah dalam keadaan letih karena kegembiraan perayaan yang panjang itu. Tiba‑tiba Yesus menyaringkan suara‑Nya, dalam nada yang memenuhi halaman kaabah:
"Jikalau seorang yang dahaga, hendaklah ia datang kepada‑Ku, lalu minum. Barang siapa yang percaya akan Daku, seperti yang tersebut di dalam Alkitab, dari dalamnya itu akan mengalir beberapa sungai air hidup." Keadaan orang banyak menjadikan seruan ini sangat meyakinkan. Mereka sudah sibuk dengan peristiwa kebesaran dan perayaan yang tidak habis‑habisnya, mata mereka sudah disilaukan dengan terang dan warna, dan telinga mereka telah menikmati musik yang paling merdu; tetapi tiada suatu pun dalam segala kegiatan upacara ini memenuhi keperluan jiwa, tiada suatu pun memuaskan dahaga jiwa untuk sesuatu yang tidak akan binasa. Yesus mengundang mereka datang dan minum dari pancaran kehidupan, dari sesuatu yang akan menjadi suatu mata air dalam diri mereka, yang memancar kepada hidup kekal.
Pada pagi itu imam telah melakukan upacara yang memperingati pemukulan bukit batu di padang belantara. Bukit batu itu melambangkan Dia, yang oleh kematian‑Nya, akan menyebabkan aliran keselamatan yang hidup mengalir kepada semua orang yang dahaga. Perkataan Kristus adalah air hidup. Di situlah, di hadapan orang banyak yang berhimpun, Ia mengasingkan diri‑Nya untuk dipalu, agar air hidup boleh mengalir kepada dunia. Dalam memalu Kristus, Setan bermaksud membinasakan Putera Kehidupan; tetapi dari bukit batu yang dipalu itu mengalirlah air hidup. Ketika Yesus mengucapkan perkataan yang demikian kepada orang banyak hati mereka terharu dengan kekaguman yang aneh, dan banyak orang sudah hampir berseru dengan perempuan Samaria, "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus." Yoh. 4:15.
Yesus mengetahui keperluan jiwa. Kebesaran, kekayaan, dan kehormatan tidak dapat memuaskan hati. "Jikalau seorang yang dahaga, hendaklah ia datang kepada‑Ku." Yang kaya, yang miskin, yang tinggi, yang rendah, sama‑sama disambut. Ia menjanjikan hendak meringankan pikiran yang dibebani, menghiburkan yang bersusah, dan memberikan harapan kepada yang putus asa. Banyak dari mereka yang mendengar Yesus bersedih karena harapan yang dikecewakan, banyak yang sedang hidup dalam kesedihan yang tersembunyi, banyak yang sedang berusaha memuaskan kerinduan mereka yang penuh kegelisahan dengan perkara‑perkara duniawi dan pujian manusia; tetapi ketika semuanya sudah diperoleh, mereka dapati bahwa mereka sudah membanting tulang hanya untuk mencapai tempat cadangan air yang sudah pecah, yang daripadanya mereka tidak dapat memuaskan dahaga. Di tengah seri pemandangan yang menggembirakan, mereka berdiri dalam keadaan kecewa dan susah. Seruan yang tiba‑tiba "Jikalau seorang yang dahaga," mengejutkan mereka dari renungan mereka yang penuh kesedihan, dan ketika mereka mendengarkan perkataan yang menyusul, pikiran mereka dikobarkan dengan suatu harapan baru. Roh Kudus mengemukakan lambang itu kepada mereka sampai mereka melihat dalamnya tawaran karunia keselamatan yang tidak ternilai itu.
Seruan Kristus kepada jiwa yang haus masih dinyaringkan dan memohon kepada kita dengan kuasa yang malah lebih besar lagi daripada kepada mereka yang mendengarnya di kaabah pada hari terakhir masa raya itu. Pancaran air terbuka bagi semua Orang. Kepada orang yang lelah dan lesu ditawarkan aliran hidup kekal yang menyegarkan. Yesus masih berseru, "Marilah! Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa ayang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma." "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanaya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." Why. 22:17; Yoh. 4:14.