Jumat, 15 Juni 2012

100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen - 4

http://www.sarapanpagi.org/100-peristiwa-penting-dalam-sejarah-kristen-vt1555-60.html

Tahun 1620 Para Peziarah Menandatangani Perjanjian Mayflower



Image
Para peziarah di atas kapal menandatangani Perjanjian Mayflower


"Jika tidak ada uskup, tidak ada raja," demikian seru James I, memberitahukan kepada kaum Puritan bahwa mereka memiliki seorang raja, dengan sendirinya mereka juga mempunyai uskup gereja. Namun ia masih belum berhadapan dengan iman fanatik yang melekat pada para "pemurni" (purifiers) gereja tersebut. Di antara mereka ada yang masih ingin bertahan dalam gereja, tetapi mereka tidak merasakan bahwa reformasi akan berhasil di bawah raja yang bersikap bermusuhan ini. Karena keadaan ini, para Separatis mengundurkan diri dari jemaat Anglikan – dan akhirnya dari sang raja juga.

Sebagai respons atas penolakan mereka terhadap Gereja Anglikan, pemerintah telah memenjarakan dan mengusik sejumlah kaum Separatis. Meskipun pemerintah tidak menekan mereka, gerombolan pengusik mengganggu pertemuan-pertemuan para Separatis.

Robert Browne telah memimpin sejumlah kaum Separatis ke Negeri Belanda, yang menunjukkan toleransi kepada para pembangkang. Namun, mereka tetap merupakan orang asing di negeri itu. Bagaimanapun pluralisme Belanda ini tidak membantu dalam membangun komunitas mereka sendiri, dan banyak yang takut jika anak-anak mereka juga akan menjadi orang-orang yang tidak beragama.

Keresahan ini membuat mereka beralih ke Dunia Baru (Amerika). Mungkin di sana mereka dapat membangun gereja murni yang bersih dari kerusakan Gereja Inggris. Di daerah yang tidak mempunyai pemerintahan yang kokoh, mereka dapat menciptakan pemerintahan yang akan mencerminkan idealisme Calvin. Bahkan daerah baru yang liar sekalipun tidak dapat membendung semangat mereka akan harapan kebebasan.

Pemimpin Separatis, John Robinson, berkata, "Mereka tahu bahwa mereka adalah peziarah." Negeri Belanda tidak merupakan tanah perjanjian, jadi mungkin Amerikalah tanah itu. Dengan sebuah kapal bernama Mayflower, 102 Separatis Inggris, yang kembali sejenak ke Inggris, berlayar dari pelabuhan Plymouth.

Meskipun tujuan mereka ialah Virginia, namun badai mengubah arah mereka dan mendaratkan mereka di Massachusetts. Salah seorang Peziarah itu melukiskan daerah baru itu sebagai "rimba yang sunyi dan mengerikan".

Tidak kurang liarnya dengan tempat mereka mendarat, para peziarah takut pada anarki dan liarnya sifat manusia. Izin yang diberikan untuk mendarat di Virginia tidak mempunyai kekuatan hukum di sini. Mereka harus menciptakan pemerintahan yang tertata agar mereka dapat mendirikan kerajaan Allah.

Berdesak-desakan dalam kapal yang mereka tumpangi, empat puluh satu orang menandatangani Perjanjian Mayflower. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa mereka akan mengolah koloni baru ini demi kemuliaan Allah dan demi kemajuan kekristenan. Mereka setuju memberlakukan undang-undang bagi kebaikan masyarakat umum dan berikrar untuk berpegang pada solidaritas kelompok serta menjauhkan kepentingan diri sendiri.

Perjanjian tersebut juga menyatakan bahwa mereka memerintah diri mereka sendiri. Tentunya William Bradford dan Bapa Peziarah lainnya, yang menandatangani perjanjian tersebut, percaya bahwa mereka memerintah tanpa berpisah dari Allah – penguasa segalanya – namun mereka tidak mengadakan persiapan bagi pemerintahan yang dipimpin oleh raja manusia.

James I terkejut mendengar mereka menolak pemerintahan para uskup dan ia juga tidak bersimpati kepada mereka yang menolak pemerintahannya. Tetapi, tanpa harus berurusan dengan kelompok kecil tanpa izin dan liar yang bermukim di seberang lautan ini pun, dia sudah punya cukup masalah.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 6:44 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
60) Tahun 1628 Comenius Diusir dari Negerinya



Orang-orang Katolik secara agresif sedang memaksakan otoritasnya di Bohemia. Kaum Pratestan telah dibuang, meskipun untuk beberapa tahun lamanya mereka berupaya bersembunyi. Ketika bahaya membesar pada tahun 1628, satu rombongan melintasi pegunungan dan masuk ke Polandia.

Yang memimpin mereka dalam pembuangan itu ialah pastor, penulis sekaligus guru, Jan Amos Comenius. Ia berhenti menoleh ke belakang melihat negeri tercintanya, dan memimpin warganya dalam doa, meminta agar Allah memelihara "benih terpendam" dalam diri warganya, suatu kelompok yang akan tumbuh dan menghasilkan buah. Comenius tidak akan pernah melihat negerinya lagi.

Perang tiga puluh tahun telah menyita pusat kehidupan Comenius. Ketika perang dimulai pada tahun 1618, ia adalah seorang pastor baru dan kepala sekolah pada golongan Unity of Brethren (Unitas Fratrum), pewaris ajaran Protestan dari Yohanes Hus.

Ketika itu Eropa terdiri dari kawasan-kawasan Katolik, Lutheran dan Calvinis. Bohemia, kawasan Protestan, tidak senang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi yang suci, maka mereka selalu memberontak. Pada tanggal 23 Mel 1618, sejumlah pemberontak Protestan menyerang istana kerajaan di Praha dan melemparkan para gubernurnya ke luar jendela. Menurut laporan, orang-orang yang terlempar itu mendarat di atas tumpukan kotoran hewan dan tidak terbunuh; namun dengan Defenestration of Prague, revolusi sedang berlangsung.

Dengan bantuan pasukan Spanyol, Kaisar Ferdinand II menghadang para pemberontak pada pertempuran White Mountain tahun 1620, dan daerah tersebut dengan resmi dinyatakan Katolik. Kaum Protestan terpaksa harus meninggalkan tempat itu. Comenius memulai persembunyian tujuh tahunnya. Dengan berpindah-pindah dari ladang ke ladang secara diam-diam, ia mencoba melayani kaum Brethren yang tersisa. Lima tahun sebelum kelahiran John Bunyan, Comenius menulis The Labyrinth of the World (Labirin Dunia), sebuah alegori berliku-liku mirip Pilgrim's Progress.

Comenius dan kumpulan Brethrennya bermukim di Leszno, Polandia. Di sana ia diangkat sebagai uskup bagi Unitas Fratrum dan menerbitkan buku tentang pendidikan anak-anak serta pelajaran bahasa. Teorinya sangat revolusioner. Semua anak laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin harus dididik dengan kurikulum luas yang akan memberikan mereka akses di pelbagai bidang. Pendidikan harus dimulai dari kepedulian ibu, bahkan sejak sebelum lahir, katanya, meskipun hal itu harus melibatkan aspek-aspek bermain dan bukan hanya hafalan. Ia mendukung sederetan periode enam tahun yang dapat dibandingkan dengan prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan pendidikan universitas. Sementara itu, para pengajar harus belajar metode mengajar dari alam. Belajar adalah masalah perkembangan, bukan hanya masalah memperoleh informasi.

Perang tiga puluh tahun merebak terus. Kaum Protestan Denmark menyerang kawasan Katolik, tetapi terpukul balik. Raja Swedia, Gustavus Adolphus, memasuki pergolakan ini dengan berpihak pada Protestan. Ia memperoleh beberapa kemenangan, namun ia meninggal pada tahun 1632.

Sementara itu, Comenius tetap meraih reputasi sebagai seorang terpelajar dan pendidik.
Ia menulis The Way of Light (Jalan Terang) dengan harapan bahwa pendidikan yang benar akan meningkatkan perdamaian. Pada tahun 1641, Parlemen Inggris mengundangnya untuk mempraktikkan teorinya dengan mendirikan perguruan "pansophic" (aneka pengetahuan) di Inggris. Sekali lagi perang saudara merebak, yang memaksa Comenius lari. Untuk sementara waktu ia bermukim di Prusia. Dari sana ia pergi ke Swedia sebagai konsultan pendidikan bagi Perdana Menteri, Axel Oxenstierna. Ia juga meminta perdana menteri agar tidak melupakan perihal Brethren ketika perang hampir usai.

Anehnya, Perancis mengubah arah dalam perang itu. Meskipun merupakan negara Katolik, Perancis melihat kesempatan melumpuhkan kekuatan dinasti Hapsburg dan memenangkan beberapa kawasan baginya sendiri. Pasukan Perancis memasuki kancah perang pada tahun 1635, dan perang terus berlanjut. Pada tahun 1648, Perdamaian Westphalia membagi-bagi rampasan perang yang telah menguras Eropa. Kekaisaran Roma porak-poranda dan ada yang menafsirkan bahwa Jerman telah kehilangan setengah penduduknya dalam peperangan itu. Perancis 'memenangkan kawasan-kawasan baru. Kaum Calvinis dan Lutheran meraih keuntungan dengan pencapaian toleransi kaum Calvinis.

Namun, kaum Brethren tidak menerima baik hak kembali ke Bohemia maupun daerah permukiman baru. Comenius melanjutkan pengembaraannya sepanjang sisa hidupnya. Selama dua puluh dua tahun ia berkelana, melayani kaum Brethren yang terbuang jauh. Ketika rumahnya di Polandia dihakar, ia kehilangan sebagian besar ensiklopedi yang disusunnya. Namun, berkat perlindungan seorang Belanda, ia menerbitkan banyak buku tentang pendidikan – termasuk buku bergambar pertama untuk anak-anak, The World in Pictures (Dunia dalam Gambar).

Comenius dihargai dan dihormati, namun ia jarang didengar. Pada usia tujuh puluh lima tahun ia muncul di sebuah persidangan untuk memohon perdamaian antara Inggris dan Negeri Belanda – tetapi mereka meremehkan sarannya. la mempunyai visi pendidikan yang akan membawa kesempurnaan spiritual dan perdamaian dunia. Meski tujuan pertama menarik beberapa negara, tak satu pun ingin mencoba tujuan kedua.

Walaupun ia dengan tepat dapat dikatakan sebagai salah seorang Bapa Oikumene, Comenius sering tidak dihiraukan. Ia lehih dihargai dunia sekular daripada oleh Gereja, dan ia sering dielukan sebagai Bapa Pendidikan Modern.

"Benih terpendam" yang didoakan Comenius muncul di kemudian hari. Serombongan Brethren bermigrasi ke Herrnhut, di Jerman, pada awal-awal abad kedelapan belas. Di sana terjadilah kebangkitan spiritual yang menyulut upaya misi besar yang merambat ke seluruh dunia.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 6:46 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
61) Tahun 1646 Pengakuan Iman Westminster



Image
Pertemuan Westminster


Tidak semua orang di Inggris menerima gereja negara. Dari awal, banyak yang telah melihat Anglikanisme sebagai sistem yang tidak menjangkau doktrin-doktrin Reformasi. Ratu Elisabeth I telah menyetujui Tiga Puluh Sembilan Pasal pada tahun 1563, yang mendirikan Gereja Inggris episkopal. Dari awal, kaum Puritan telah mendesak terbentuknya pemerintahan Presbiterian dan kebaktian-kebaktian yang kurang ritual, namun permintaan mereka tidak diacuhkan.

Para raja Stuart – James I dan putranya, Charles I – telah berupaya meningkatkan kekuatan sistem episkopal. Charles yang menginginkan keselarasan di Skotlandia dan Inggris, berupaya memaksakan Anglikanisme kepada orang-orang Presbiterian Skotlandia. Situasi yang mudah berubah ini ditangani dengan ceroboh sehingga mengakibatkan Perang Saudara di Inggris.

Charles I mempunyai sejarah pertikaian panjang dengan parlemen. Pada musim semi tahun 1640, ia membentuk parlemen yang menentangnya dengan keras. Serta-merta ia membubarkannya dan membentuk parlemen lain pada musim gugur tahun yang sama. Parlemen berunsurkan Puritan yang bertahan lama inilah yang menjadi penyebab kejatuhannya.

Dua tahun kemudian, pada parlemen yang sama, raja mencoba menangkap sejumlah anggota dewan yang menentangnya. Tuduhannya bahwa orang-orang tersebut telah berkhianat, memicu perang yang membawa Inggris menganut Puritanisme untuk beberapa waktu lamanya.

Pada awal tahun 1643, parlemen telah menghilangkan sistem episkopal. Untuk mendirikan sebuah Gereja Presbiterian sebagai gantinya, mereka mengadakan pertemuan di Westminster Abbey. Seratus dua puluh satu pendeta dan tiga puluh orang awam — beberapa dari mereka adalah orang-orang Skotlandia — berhimpun untuk membangun kembali gereja Inggris.

Selama enam tahun Pertemuan Westminster tersebut, Oliver Cromwell, pemimpin pasukan parlemen itu, membawa para Puritan berkuasa. Sang raja dipenggal kepalanya pada tahun 1649.

Pertemuan Westminster tersebut mewujudkan Pengakuan Iman Westminster (1646), suatu karya yang akan menjadi klasik dalam pemikiran presbterian, dan Katekismus Kecil Westminster (1647) serta Katekismus Besar (1648). Kepercayaan yang mereka gariskan sepenuhnya Calvanistik.

Pengakuan Iman tersebut mengajarkan inspirasi kitab suci dengan menyatakan Alkitab sebagai otoritas tunggal dalam kepercayaan Kristen.

Dalam bahasa aslinya, kitab suci "diinspirasikan (diilhami) Tuhan, dan ... dipelihara kesuciannya sepanjang masa". Namun, jaminan akan otoritas ilahi berasal "dari karya Roh Kudus dari dalam".

Pengakuan Iman Westminster menyertakan juga doktrin takdir – sebuah topik yang tidak
digubris Tiga Puluh Sembilan Pasal. Pengakuan Iman itu menyatakan, "Sebagian manusia dan malaikat ditakdirkan untuk hidup abadi, dan yang lain ditetapkan untuk kematian abadi." Namun, "Allah bukan pencipta dosa, dan bukan juga kekerasan yang ditawarkan bagi kehendak makhluk".

Lebih lanjut, Pengakuan Iman itu menekankan hubungan Allah dengan ciptaan-Nya melalui perjanjian. Penebusan umat manusia merupakan perimbangan antara kedaulatan Allah dan pertanggungjawaban manusia.

Pengakuan Iman ditetapkan oleh para penatua, bukan oleh pastor dan uskup, serta tidak memberi tempat (seperti yang dilakukan oleh Tiga Puluh Sembilan Pasal) bagi transsubstansiasi. Pengakuan Iman itu juga mengikat orang percaya pada hari Sabat, hari yang dikhususkan untuk berdoa secara pribadi dan ibadah umum.

Namun Puritanisme di Inggris tidak bertahan lama. Pada tahun 1658, dengan kematian Oliver Cromwell, tidak ada pemimpin kuat yang muncul dari pihak Puritan. Meskipun putra Cromwell, Richard, telah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Pelindung Inggris, ia tidak memiliki kemampuan memimpin seperti ayahnya. Richard mengundurkan diri secara terhormat, dan Inggris kembali menjadi kerajaan di bawah Charles II, putra Charles I.

Di Inggris, raja baru ini dengan sukses memulihkan sistem episkopal. Namun orang-orang Skotlandia berpegang erat pada Pengakuan Iman Westminster, dengan mengikatnya pada gereja Skotlandia. Melalui Skotlandia, Pengakuan Iman Westminster telah menjadi julukan bagi "Calvinisme yang bersejarah".


Top
 Profile  
 
<.tbody>
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 6:48 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
62) Tahun 1648 George Fox Mendirikan Society of Friends



Image
George Fox pendiri Quaker


Abad ketujuh belas adalah masa perubahan agama dan kebebasan yang sedikit demi sedikit meningkat. Dalam satu gereja "universal", bertumbuh banyak aliran. Reformasi telah mengajarkan bahwa hanya Alkitab yang mendasari iman. Namun pertanyaannya, interpretasi apa yang harus diterima orang Kristen? Perbedaan pun merebak – semuanya atas nama Kitab Suci.

Kaum Puritan menentang Gereja Inggris yang tidak sepaham dengan mereka tentang Kitab Suci. Tetapi, meskipun mereka tidak menyukai sistem imamat Anglikan, mereka tidak memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum rohaniwan.

George Fox, yang mendirikan Society of Friends – atau Quakers – melakukan hal itu.

Seperti yang lainnya, George Fox tidak me-rasa nyaman dengan agama-agama formal pada zamannya. Juga kelompok-kelompok pembangkang seperti Presbiterian dan Independen, bagi Fox, mempunyai amat banyak formalitas. Ia percaya bahwa mereka menyerah pada berbagai tekanan pemerintah. Gereja telah menjadi pelayan umum dan telah menjauhkan diri dari Allah.

Dalam usahanya mencari kedamaian spiritual, Fox mengunjungi banyak penasihat, tetapi tak ada seorang pun yang dapat membantunya. Pada suatu hari, tahun 1647, ada suara yang mengatakan, "Ada satu, yaitu Yesus Kristus, yang dapat berbicara tentang kondisimu." Hal itu membawa perubahan pada Fox, yang sejak itu mendedikasikan dirinya untuk mengikuti terang yang ada pada dirinya (Inner Light) yang telah diberikan Allah – dan pada setiap orang yang menerima-Nya. Semua orang Kristen – semua sahabat Yesus – mempunyai akses langsung kepada Allah. Fox mengajarkan bahwa dengan mengikuti terang yang telah dianugerahkan Allah, siapa pun dapat melumpuhkan kekuatan setan dan cengkeraman dosa.

Ajaran-ajaran Fox yang sederhana tetapi juga keras menarik banyak peminat. Para sahabat (Friends), sebutan bagi mereka, meninggalkan tradisi bersumpah, berpakaian sederhana, makan hati-hati dan bicara dengan jujur. Mereka menentang keterlibatan dalam peperangan. Meskipun ditentang pemerintah, mereka memprotes segala formalitas kebaktian, mereka menolak mengangkat topi bagi siapa pun, mereka tidak membayar persepuluhan (merupakan pajak penghasilan, di Inggris) pada gereja negara.

Banyak Society of Friends bermunculan di Inggris, selama George Fox yang berani itu berkhotbah. Di rumah-rumah tempat mereka mengadakan berbagai pertemuan, para aristokrat dan orang biasa bersama-sama mengikuti kebaktian. Tidak ada rohaniwan yang istimewa. Pria dan wanita dapat berbicara karena mereka merasa bahwa mereka dituntun Rob.

Dalam sebuah kelompok yang bergantung pada dorongan Roh secara pribadi, terdapat juga penyimpangan – dan ini membuat banyak orang yang sebenarnya toleran berhalik menentang Friends. Penekanan Friends pada kebebasan juga mengundang oposisi pemerintah.

Fox dipenjarakan karena ajarannya. Ketika ia berhadapan dengan seorang hakim yang mencela kepercayaan kelompoknya, Fox memperingatkannya untuk "gentar pada firman Allah".

"Kalianlah para pembuat gentar, quakers," jawab hakim tersebut. Nama itu menjadi abadi.
Di bawah pemerintahan Oliver Cromwell, toleransi menjadi peraturan umum bagi berbagai aliran yang berbeda, yang menyusun bala tentara dan kesatuan politiknya. Meskipun Cromwell kagum pada kejujuran dan integritas para Quaker, ia tidak memperluas toleransi terhadap mereka. Meskipun penganiayaan sudah berkurang dibanding pada masa pemerintahan raja-raja, iman yang mencari kebebasan individual seperti itu tidak dapat diterima oleh seorang pemimpin sekaliber Cromwell.

Meskipun menghadapi penganiayaan, Quaker bertumbuh, karena banyak yang merasakan sentuhan iman yang menekankan bahwa setiap individu harus mengalami Kristus di dalam dirinya.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 6:53 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
63) Tahun 1662 Rembrandt Menyelesaikan Lukisan Kembalinya Anak Hilang



Image
REMBRANDT, The Return of the Prodigal Son, The Hermitage, Leningrad.


Karya seni yang sempurna, Kembalinya Anak Hilang diciptakan oleh seorang yang paham tentang apa artinya menjadi seorang pemboros. Melalui karya seninya, ia menunjukkan betapa dalamnya dunia ini membutuhkan keselamatan. Rembrandt Harmenszoon van Rijn menjadi pelukis Protestan terbesar – seorang yang dalam dirinya, iman dan seni terpadu dengan selaras.

Ia dilahirkan dalam keluarga gereja Reformasi yang amat saleh. Meskipun orangtuanya menginginkan ia menjadi orang terpelajar, jelaslah bahwa ia dianugerahi bakat seni lukis. Mengikuti kebiasaan pada waktu itu, Rembrandt magang pada pelukis yang mapan dan belajar melukis cerita-cerita Alkitab, peristiwa-peristiwa dalam sejarah, serta mitologi Romawi dan Yunani. Namun, seni lukis yang ia kembangkan adalah gayanya sendiri yang agak berbeda. Para pelukis Protestan lain membatasi lukisan religiusnya pada gambar-gambar yang ada di Alkitab, dan para pelukis Katolik menggambarkan para santo; tetapi Rembrandt membuat setiap lukisannya sebagai suatu pernyataan iman. Ketika orang-orang Protestan menyatakan bahwa Alkitab sajalah norma agama bagi manusia, Rembrandt memperlihatkan bahwa Kitab Suci dapat juga menjadi norma bagi seni lukis agamawi.

Pada zaman Rembrandt, orang-orang dalam lukisan-lukisan Alkitab tampak seperti pahlawan luar biasa, hanya sedikit berbeda dari para dewa dan manusia setengah dewa seperti yang digambarkan dalam lukisan-lukisan mitologis. Tidak demikian halnya pada gambaran-gambaran Rembrandt. Ia menunjukkan kemanusiaan sebagaimana adanya: cacat, berdosa dan membutuhkan keselamatan. Lelaki dan perempuan "sesungguhnya" mengisi karyanya, termasuk istri dan anaknya – dan juga orang-orang jalanan. Dengan berpakaian seorang pengemis lesu yang mengenakan sorban, Rembrandt menjadikan dirinya potret raja Israel yang menakjubkan. Seorang Yahudi tua digambarkan sebagai Rasul Paulus.

Rembrandt juga menjadikan dirinya sebagai model. Dalam The Raising of the Cross, yang menggambarkan dosa manusia, ia membantu menyalib kristus. Meskipun ia menciptakan gambar tersebut, pelukis tersebut tak luput dari kebutuhan keselamatan pribadi.

Kepiawaiannya menggunakan chiaroscuro – suatu teknik yang mengkontraskan latar belakang gelap dengan cahaya yang menyoroti figur dalam gambar – adalah ciri khas karya Rembrandt yang terbaik. Pekatnya warna gelap seringkali dengan jelas memperlihatkan cahaya spiritual yang timbul dari dalam modelnya.

Namun, tujuan utama Rembrandt bukanlah untuk menginjili. Ia mencari nafkah dengan melukis dan karyanya terdiri dari baik yang "spiritual" maupun "duniawi". Ada karyanya yang meskipun tidak dimaksudkan menggambarkan suasana keagamaan, namun mengandung perspektif sang pelukis tentang dunia dan kemanusiaan. Ia melihat keindahan pada alam ciptaan Allah – dan ia melihat dengan baik keindahan dan dosa pada wajah-wajah manusia di hadapannya.

Meskipun seni lukisnya menunjukkan ketulusan Kristen, kehidupan pribadi Rembrandt tidaklah tanpa cacat. Ia menikahi Saskia, seorang wanita muda dan kaya, yang meninggal pada tahun 1642. Surat wasiatnya mengatakan bahwa: jika Rembrandt menikah lagi, seluruh kekayaannya akan diwarisi anak mereka, Titus. Terhimpit kesukaran keuangan, sang pelukis tentunya merasa bahwa is tidak dapat mengorbankan uang warisan. Karenanya, ia menjadikan wanita pengurus rumah tangganya Hendrickje sebagai istrinya di luar nikah.

Rembrandt menurunkan pada generasi-generasi berikutnya gambaran unik Protestan ten-tang dunia ciptaan Allah. Calvin pernah menyerukan, "Hanya benda-benda yang sanggup dilihat mats yang harus dilukis." Mata Rembrandt menciptakan gambar yang memberitakan kebenaran. Kembalinya Anak Hilang menunjukkan kemanusiaan Rembrandt, cinta akan uraian mendalam dan persepsi yang tajam akan hati manusia. Ayah pemaaf, anak yang menyesal dan anak sulung, dalam pakaian abad ketujuh belas, semuanya sangat cocok dengan perumpamaan Yesus. Hal ini mengingatkan kita akan keabadian dan ketepatan waktu Kitab Suci.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 6:56 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
64) Tahun 1675 Philip Jacob Spener Menerbitkan Pia Desideria



Menjelang akhir abad ketujuh belas, Gereja Lutheran telah menjauh dari pandangannya sendiri akan iman pribadi dan dalam keinginan mencari doktrin yang benar. Seorang pastor menentang keadaan demikian dengan sebuah buku kecil yang mengubah Protestanisme.

Ketika belajar di Universitas Strasbourg, Philip Jacob Spener telah mempelajari bahasa-bahasa, doktrin dan sejarah Alkitab yang umumnya adalah bagian dari pelajaran pelayanan. Tetapi para profesornya juga mengingatkan dia tentang perlunya kelahiran kembali secara spiritual dan etika Kristen. Spener menemukan kebutuhan penerapan kesarjanaannya pada pengalaman pribadinya. Jika seseorang tidak lahir baru maka semua agama formal tidak akan berpengaruh.

Ketika pendeta baru ini berkhotbah menentang kemalasan dan perilaku amoral, dan berupaya agar jemaatnya mempraktikkan iman Kristen secara pribadi, ia berhadapan dengan kontroversi. Kaum rohaniwan Gereja Lutheran yang menganggap diri mereka sebagai pusat gereja merasa terancam dengan pembalikan yang bersifat individualistis seperti yang dikhotbahkannya.

Spener mengadakan berbagai persekutuan doa, yang dikenal sebagai collegia pietatis, yang kemudian menjadi dasar gerakan Pietisme.

Tidak puas dengan berkhotbah dari mimbarnya sendiri di Frankfurt dan pembentukan kelompok-kelompok lokal, pastor Lutheran tersebut menuliskan ide-idenya untuk suatu pembaruan. Pada tahun 1675 ia menerbitkan Pia Desideria, "Hasrat Kesalehan", yang menampilkan enam butir rencana.

Pertama, ia ingin melihat orang-orang Kristen mempunyai pemahaman tentang Kitab Suci yang lebih mendalam dan lebih berpengaruh pada kehidupan. Untuk mencapai tujuan ini, ia menyarankan pertemuan-pertemuan kecil di rumah-rumah. Kalangan Gereja abad ketujuh belas melihat hal ini sebagai sesuatu yang baru dan mungkin merupakan ide yang mengancam.

Spener menghendaki Gereja memandang imamat am semua orang percaya dengan serius, maka ia menyarankan memberi tanggung jawab kepada orang-orang awam yang ada di lingkungan collegia pietatis. Meskipun pastor itu penting adanya, ia tidak harus memikul seluruh beban untuk memberikan santapan rohani.

Untuk menentang ketakutan pada masanya, bahwa individualisme menjurus pada keonaran, Spener menyarankan agar Gereja menekankan pengalaman pribadi. Ia melihat bahwa doktrin yang benar saja akan menjurus ke iman yang mati.

Memetik pelajaran dari Perang Tiga Puluh Tabun yang telah membuktikan bahaya kontroversi agama, Spener berupaya mengelakkan konflik teologis. Jika tidak terelakkan, maka perdebatan harus dilakukan dengan semangat cinta kasih. Namun, ia mendesak orang-orang agar berpegang pada butir-butir iman yang penting saja dan tidak bertele-tele dengan hal-hal remeh. Lebih baik, ia katakan pada mereka, berdoa bagi orang yang melakukan kesalahan daripada memarahi dia.

Para pastor bukan saja harus mempelajari Alkitab dan teologi, mereka juga harus tabu menangani kaum awam, ujar Spener. Imam yang tidak dapat menunjukkan hidup devosi tidak dapat menuntun jemaatnya ke arah itu.

Ia juga mendorong para pastor menyampaikan khotbah yang menerapkan Kitab Suci dalam kehidupan. Mereka harus mengilhami dan memberi pengetahuan yang dapat dimengerti dan membangkitkan. Daripada hanya berceramah, para pastor diharuskan memberi inspirasi kepada umat Tuhan.

Rangsangan yang dibangkitkan oleh ide-ide Spener menyebabkan ia berpindah dari Frankfurt ke Dresden dan kemudian ke Berlin. Di Berlin, pada tahun 1694, ia dan August Francke membentuk Universitas Halle. Di bawah Francke, universitas itu menjadi pusat penginjilan dan misi. Bertahun-tahun setelah Gereja Katolik membawa misinya ke Asia dan Amerika, misi Protestan bermula di Halle, sebagai pusat untuk studi bahasa-bahasa Timur dan penerjemahan Alkitab.

Meskipun kaum rohaniwan melihat ancaman besar pada program reformasi Spener, pro-gram itu membawa kegembiraan bagi kaum awam. Di gereja-gereja yang telah menganut ajarannya, kehidupan keluarga meningkat, standar-standar moral dibangkitkan, dan orangorang memahami bahwa kekristenan lebih daripada sekadar menyetujui suatu katekimus saja. Berbagai pertemuan kelompok-kelompok kecil mewujudkan semangat kekeluargaan dalam jemaat, dan Alkitab menjadi hidup bagi orangorang percaya.

Luther pernah menekankan pentingnya jemaat menyanyikan puji-pujian, namun kebiasaan itu telah melemah. Pietisme memberi dorongan besar bagi puji-pujian, dan penulis seperti Paul Gerhardt, Joachim Neander dan Gerhardt Tersteegen, menciptakan puji-pujian yang di kemudian hari diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai buku-buku kidung Methodis.

Banyak gereja yang terpengaruh Pietisme mengembangkan pemahaman Alkitab, doa kelompok, dan mencapai lebih daripada yang diidealkan pendirinya. Aspek pragmatis Pietisme – yang menekankan perasaan dan penyebaran Kekristenan – akan berdampak jauh dan khususnya berpengaruh dalam perkembangan kekristenan di Amerika.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 6:58 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
65) Tahun 1678 Karya John Bunyan The Pilgrim's Progress Diterbitkan



Salah satu karya klasik Kristen terbesar muncul bukan dari aula-aula universitas, tetapi dari sebuah sel penjara. Orang yang menulis itu bukanlah orang terpelajar, tetapi seorang guru agama berpendidikan rendah.

John Bunyan dilahirkan di Elston, Bedfordshire, pada tahun 1628. Rumahnya adalah gubuk kecil, dan ayahnya seorang tukang solder, yang setiap hari mendorong keretanya di sepanjang jalan, berhenti di rumah-rumah untuk menambal panci-panci.

John mendapat pendidikan di sebuah sekolah grammar (yang mengutamakan bahasa Latin). Tetapi seperti anak-anak lain pada zamannya, ia melanjutkan pekerjaan ayahnya. Pada Perang Saudara Inggris, ia menjadi tentara – besar kemungkinan di pihak Puritan. Pada umur sembilan belas tahun ia menikah, dan istrinya yang Kristen membimbingnya untuk mencoha mengubah hidupnya. Namun, ia seringkali tergelincir pada kebiasaan lamanya. Meskipun hidupnya cukup memberi kesan yang baik pada tetangga-tetangganya, ia menggambarkan dirinya sebagai "seorang yang berpura-pura secara berlebihan".

Pada tahun 1651, Bunyan mulai menghadiri pertemuan Independen di Bedford, dan telah tergerak oleh khotbah alkitabiah yang dibawakan seorang pastor. la mulai merenungkan Kitab Suci, hingga konflik dalam dirinya berakhir dengan jaminan anugerah. Keselamatan telah datang kepadanya. la bergabung dengan jemaat Bedford dan mulai berkhotbah. Di sana ia membuat orang kagum akan kebolehan seorang tukang solder itu.

Meskipun Raja Charles II pada mulanya menjanjikan kebebasan beragama, karena pertumbuhannya (jumlahnya), Gereja Anglikanlah satu-satunya Gereja yang diakui. Pertentangan atau perbedaan pendapat tidak diperbolehkan, dan pada tahun 1661 John dipenjarakan di penjara Bedford karena ajarannya. Ia mendekam di sana hingga tahun 1672, ketika Charles mengeluarkan Declaration of Indulgence, yang memberi kelonggaran bagi kaum non-Anglikan.

Setelah ia dibebaskan, rumah pertemuan kaum Independen memanggilnya untuk menjadi pastor mereka. la menerima surat izin berkhotbah dan dikenal sebagai Uskup Bunyan – mungkin karena merupakan tokoh jenius penyatu kaum Independen di kawasannya. Namun, toleransi tersebut tidak bertahan lama.

Pada tahun 1675 Bunyan sekali lagi dipenjarakan, dan ia memulai karya agungnya: The Pilgrim's Progress (Perjalanan Seorang Safir). Alegori tentang keselamatan dan perjalanan Kristen ini telah menghasilkan ungkapan-ungkapan indah seperti "Vanity Fair", "The Slough of Despond", "House Beautiful", "Muckraking" dan "Hanging is too good for him". Menyimpulkan hanya dari pengalamannya sendiri dan Alkitab, pengajar agama yang tidak terpelajar ini menciptakan sastra yang mempesona bagi mereka yang mengadakan perjalanan atau yang akan mengadakan perjalanan – ziarah dari Kota Kehancuran ke Kota Surgawi.

Mungkin, karena begitu banyak pembaca yang mengalami perjalanan ziarah yang sama dalam hidup mereka, The Pilgrim's Progress menjadi buku devosional Kristen terlaris di dunia. Bunyan menggambarkan keadaan paling intim jiwa-jiwa Kristen. Kesadarannya akan anugerah Allah yang mendalam kepada dirinya sendiri memberikan Bunyan kesanggupan berbicara kepada banyak orang, bahkan berbagai generasi, tentang keadaan spiritual mereka sendiri.

Karya-karya Bunyan lain seperti Grace Abounding to the Chief of Sinners, The Life and Death of Mr. Badman dan The Holy War tidak mencapai popularitas seperti The Pilgrim's Progress. Namun, buku yang ditulis secara sederhana ini telah menyentuh ribuan orang dan telah menjadi buku yang klasik.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 7:03 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
66) Tahun 1685 Kelahiran Johann Sebastian Bach dan George Frederic Handel



J. S. Bach
Image



Pada tahun yang sama, telah lahir dua komposer Jerman di dua tempat yang berjarak kurang dari dua ratus mil. Meskipun mereka berdua tidak pernah bertemu, tetapi keduanya menciptakan karya terbaik musik abadi yang merupakan karya teragung yang dikenal gereja.

Dengan kelahiran seorang lagi anggota keluarga Bach di Eisenach, tidak seorang pun me-rasa kaget jika pada satu hari ia akan menjadi seorang komposer, karena keluarga Bach sendiri terdiri dari banyak musisi.

Setelah mendapatkan pelajaran musik dari ayah dan kakaknya pada tahun 1703, Johann Sebastian Bach yang berumur delapan belas tahun itu menjadi seorang violis pada orkestra kapel kerajaan di Weimar. Tetapi ia segera meninggalkan posisi ini dan berganti posisi menjadi organis gereja. Lalu ia menikahi sepupunya, Maria Barbara Bach, seorang penyanyi yang sudah matang. Mereka dianugerahi tujuh orang anak. Setelah istrinya meninggal, ia menikah lagi dengan Anna Magdalena Wiilken. Empat orang putranya juga menjadi komposer terkenal.

Bach menciptakan komposisi dalam jumlah yang menakjubkan. Sementara menghidupi dua puluh orang anaknya, ia juga menggubah, memainkan dan mengajar musik. Bagi Bach, menggubah kantata dan musik kebaktian lainnya "adalah pekerjaan satu hari penuh", karena posisi yang diemban menuntutnya menyediakan musik. Ia telah menciptakan 198 kantata, di samping musik-musik umum. Karyanya yang terkenal antara lain St. Matthew Passion, Brandenburg Concerto Christmas Oratorio dan Well-Tempered Clavier.

Bach adalah Lutheran sejati dan pada setiap karyanya – sekular dan rohani – ia mencantumkan "In Praise of the Almighty's Will" ("Dengan Pujian Kehendak Yang Mahakuasa") dan "To God Alone Be the Glory" ("Kemuliaan Hanyalah Bagi Allah"). Sang musikus ini juga temperamental orangnya. Ini yang selalu membawanya dalam kesulitan ketika berhubungan dengan atasannya. Ia juga sangat membanggakan kebolehannya sendiri.

Bach pernah tinggal di pelbagai tempat di Jerman. Bach tidak pernah mencapai kemajuan di belahan dunia lainnya, hingga Felix Mendelssohn menemukan dan mempopulerkan kembali karya-karyanya.

Handel dalam beberapa hal mirip dengan orang sezamannya – dan dalam beberapa hal sangat beda. Ia berasal dari kota Halle, tempat ayahnya menjadi dokter. Ketika ayahnya melarang George belajar musik, legenda mengatakan, pada malam hari ia diam-diam pergi ke kamar di bawah atap untuk berlatih dengan organ kecil. Meskipun ayahnya menginginkan George menjadi seorang pengacara, pada akhirnya ia membiarkan putranya belajar dengan seorang organis lokal. Istana Berlin memberi kesempatan kepada George untuk meneruskan pendidikan musiknya, namun ditolak ayahnya. Tetapi pada akhirnya ia tidak dapat menghentikan putranya. Setelah setahun belajar hukum, George meninggalkan studinya dan menjadi seorang violis pada orkestra istana. la juga mulai menulis opera dalam bahasa Italia.



GF HANDEL
Image


Seperti Bach, Handel pun merupakan seorang komposer yang kreatif, namun karya musiknya paling awal bersifat sekular. Oratorium suci bukanlah minat utamanya – seperti opera dan karya instrumentalnya. Untuk membuat perusahaan-perusahaan opera selalu gembira, ia harus senantiasa menyuguhkan bahan-bahan baru. Para pengunjung menginginkan hiburan baru setiap musim, dan komposer yang sukses harus senantiasa mengadakan pertunjukan.

Bagaimana instrumentalis pencinta opera ini sampai menulis Messiah? Ketika diundang ke London untuk menulis sebuah opera, komposer Jerman ini memutuskan untuk berdiam di sana. Opera Itali mulai menurun. Perusahaanperusahaan opera membangkitkan amarahnya, dan tidak lama kemudian Handel mulai menulis oratorium: Messiah, yang pertama dinyanyikan pada tahun 1742 di Dublin, Israel in Egypt, Deborah, Saul, Judas Maccabaeus, Solomon, Samson dan yang lainnya.

Ketika penguasa Hanover, negara bagian Jerman menjadi raja Inggris, keadaannya agak merisaukan Handel. Penjelasan apa yang dapat diberikan kepada majikan lamanya tentang mengapa ia pindah ke negeri orang? Menurut legenda, ia menulis Water Music untuk menenangkan raja tersebut. Hal itu merupakan manuver yang sukses.

Handel berasal dari keluarga Pietis Jerman yang mengingatkan dia tentang pentingnya
kehidupan Kristen yang praktis, seperti halnya perasaan iman. Banyak orang yang telah mendengar Messiah mengalami iman serupa.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 7:06 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
67) Tahun 1707 Penerbitan Hymns and Spritual Songs Karya Isaac Watts



Image
Isaac Watts



Kidung tidak mempunyai sejarah panjang dalam gereja-gereja berbahasa Inggris.
Meskipun Martin Luther, orang yang senang dengan musik dan nyanyian, mendesak agar kidung menjadi bagian dari ibadah para Lutheran, dan ia sendiri menulis beberapa kidung, namun orang-orang Inggris agak lamban menggunakannya.

Para Anglikan memiliki Buku Doa Umum, tetapi liturginya tidak menyertakan musik. Pada tahun 1562, jemaat-jemaat dapat menggunakan koleksi Mazmur berirama, yang lambatlaun disebut Versi Lama dan pada tahun 1696, Nahum Tate dan Nicholas Brady menampilkan Versi Baru yang dapat dinyanyikan. Namun, apa pun yang ada di luar Mazmur dicurigai. Seorang uskup mungkin menulis sebuah kidung yang kadang-kadang dipakai di kapel perguruan tinggi. Para pujangga seperti John Milton dan George Herbert menulis karangan-karangan suci, namun tidaklah untuk dinyanyikan. George Wither mericoba menciptakan buku kidung yang luas pada tahun 1623, namun karyanya tidak begitu sukses.

Sementara kaum Anglikan menentang kidung, kaum Baptis menerimanya – dan pastor dari aliran Independen, Isaac Watts, mengambil keputusan bahwa orang-orangnya membutuhkan nyanyian Baru. Meskipun Mazmur mengekspresikan iman, namun tidak dengan jelas menunjukkan unsur-unsur Kristen seperti kelahiran, ajaran-ajaran, penyaliban dan kenaikan Kristus. Para jemaat tidak dapat bernyanyi tentang Tritunggal, Roh Kudus ataupun gereja.

Pada tahun 1709 Watts menerbitkan Hymns and Spiritual Songs. Koleksi-koleksi lainnya menyusul kemudian, termasuk Psalms of David Imitated in the Language of the New Testament (Mazmur Daud Ditirukan dalam Bahasa Perjanjian Baru). Dalam karya ini Watts mengatakan bahwa ia membuat Daud "berbicara seperti seorang Kristen". Semuanya ia kutip hanya dari Mazmur – "Jesus Shall Reign Where'er the Sun" berdasarkan Mazmur 72, dan "Joy to the World" dari Mazmur 98.

I.ebih dari 600 kidung ciptaan Watts – di antaranya "When I Survey the Wondrous Cross", "O God Our Help in Ages Past", "I Sing the Mighty Power of God" dan "There Is a Land of Pure Delight" – telah membuatnya mendapatkan gelar Bapa Kidung di Inggris. Rohaniwan ini dengan cermat merefleksikan pujian, keheranan dan penyembahan orang-orang Kris-ten terhadap Tuhan. Meskipun ia mungkin telah menyinggung perasaan gerejawan konservatif pada masanya, kidung agungnya meninggalkan kesadaran akan akhirat.

Kidung Watts berpengaruh besar terhadap gereja-gereja non-Anglikan. Tidak ada yang dapat menandinginya hingga Charles Wesley mulai menulis kidung. Tetapi, untuk waktu lama, karya-karya Watts tidak meluas ke Gereja Inggris. Meskipun gereja-gereja lain di Inggris, Amerika dan di tempat-tempat lain menggunakan kidung Watts, tidak ada buku kidung Anglikan yang muncul hingga tahun 1861, yaitu ketika Hymns Ancient and Modern, yang memuat beberapa kidung Watts diterbitkan.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Sep 11, 2007 7:08 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
68) Tahun 1727 Kebangunan Rohani di Herrnhut Mengawali Moravian Brethren



Ini hanyalah kebaktian pengukuhan bagi dua orang gadis. Para Moravian Brethren yang tinggal di pertanahan Pangeran Nicolaus von Zinzendorf mengadakan pertemuan seperti biasa pada tanggal 13 Agustus 1727. Namun, gelora spiritual telah berkobar sejak beberapa minggu sebelumnya. Selama itu Pula telah berlangsung doa semalam suntuk, pengakuan dosa, pemahaman Alkitab dengan sungguh-sungguh dan pengharapan.

Semuanya meledak pada hari itu. Setelah berkat pengukuhan dinyatakan kepada kedua gadis tersebut, gereja itu pun dilanda keharuan yang dahsyat. Ada yang menangis, ada yang menyanyi, banyak yang berdoa. Tidak ada keraguan di benak mereka tentang apa yang sedang terjadi. Mereka sedang dilawat Roh Allah. Mereka telah mendirikan sebuah "badan" di sini, di Herrnhut, namun saat itu mereka adalah satu dalam roh.

Keadaan tidak selalu menyenangkan bagi orang-orang Moravian. Sebagian besar yang ada di sana ialah orang-orang pelarian dari tempat lain karena penganiayaan. Mereka adalah keturunan spiritual Yohanes Hus – bukan Katolik, bukan Lutheran, bukan Calvinis. Tak ada tempat lagi bagi mereka di dunia ini; bahkan pemimpin besarnya yang terkenal karena keilmuwannya, Jan Amos Comenius, tidak dapat mencarikan tempat bagi mereka. Maka mereka pun bubar.

Pengumpulan kembali berawal pada tahun 1722, ketika Christian David muncul di depan pintu tempat kediaman Pangeran Zinzendorf di Dresden. Zinzendorf adalah Lutheran yang saleh dari keluarga kaya, dan ia sangat berminat melayani Tuhan dengan kemampuannya. Sebenarnya ia pernah berpikir untuk mewujudkan sebuah komunitas yang akan mempraktikkan kesucian kristiani. Sekarang, berdiri pula seorang Moravian di ambang pintunya, dengan permintaan agar kelompok tertindasnya itu dapat tinggal di pertanahan Zinzendorf. Pangeran tersebut mengizinkannya.

Ketika Zinzendorf berkenalan dengan para tamunya,. is merasakan persaudaraan spiritual. la mengundang para Moravian lain ke komunitas baru ini dan mulai mendirikan sekolah serta kedai. Tempat itu dinamakan Herrnhut yang artinya, "penjagaan Tuhan". Apakah mereka berjaga-jaga akan Tuhan atau mereka dijagai Tuhan? Kedua-duanya.

Sekitar tahun 1725, ada sembilan puluh Moravian di Herrnhut. Menjelang tahun berikutnya, ada 300. Tetapi bersamaan dengan pertumbuhannya datang juga masalah. Para pengungsi datang dari berbagai tempat dan berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tentunya kesulitan ekonomi tak terelakkan karena para penghuni baru itu mulai melanjutkan pekerjaan lama mereka. Komunitas itu mencakup juga para Lutheran dan Moravian. Jadi, pertengkaran tentang liturgi gereja pun muncul. Seorang guru yang bermukim di sana adalah orang yang telah diusir dari Gereja Lutheran karena ajaran sesatnya, dan karenanya ia sangat marah. Tentu saja kemarahannya ditujukan kepada Lutheran terkemuka di komunitas tersebut, Zinzendorf. Guru itu berjalan mengelilingi kota dengan berteriak bahwa pangeran tersebut adalah "binatang" yang ada dalam Wahyu. Akhirnya orang tersebut menjadi gila.

Khawatir bahwa komunitas tersebut akan berantakan, Zinzendorf memutuskan untuk menerapkan kepemimpinan. Ia berpindah dari istananya ke komunitas itu sendiri dan mulai mengunjungi anggota-anggotanya. Ia menetapkan berbagai peraturan bagi kehidupan komunitas, yang semuanya disetujui. Komunitas tersebut memilih para penatua untuk memimpin mereka. Karya sosial ditetapkan, dan kelompokkelompok kecil dibentuk bagi pertumbuhan rohani.

Pada musim panas tahun 1727, perbedaanperbedaan sepele mulai memudar. Komunitas tersebut telah bersatu, terfokus, dan kebaktian pada tanggal 13 Agustus itulah yang membuktikannya.

Dalam gelora spiritual ini, berdoa dua puluh empat jam sehari telah ditetapkan. Hal ini berlanjut lebih dari satu abad. Kebaktian-kebaktian Kristen di tempat-tempat lain dijelajahi. Hubungan dengan para Moravian di seluruh dunia diadakan, dan mereka mengembangkan sistem yang melibatkan kebersamaan dan korespondensi. Para pemimpin dilatih mengunjungi kelompok-kelompok lain, dan mengadakan sharing dengan mereka tentang apa yang sedang berlangsung di Herrnhut.

Pada tahun 1732, para Moravian berkembang ke dalam misi-misi di luar negeri dengan mengirimkan Leonard Dober dan David Nitschmann ke Hindia Barat. Pada tahun berikutnya, tiga misionaris Moravian pergi ke Greenland. Pada tahun 1734, beberapa yang lainnya pergi ke Lapland dan Georgia, dan 17 relawan bergabung dengan Dober di St. Thomas. Menjelang 1742, lebih dari 70 Moravian meninggalkan komunitas Herrnhut yang terdiri dari 600 orang, untuk pelayanan misi. Ladang misi tersebut mencakup Suriname, Afrika Selatan, Guyana, Aljazair, Sri Langka dan Rumania.

Zinzendorf, sementara itu, berupaya mendirikan basis yang sah bagi Gereja Moravian di Saxony. Dalam penyelidikannya, ia menemukan konstitusi kuno bagi Unitas Fratrum, asal Gereja Moravian. Ini menunjukkan bahwa para Moravian mempunyai pendahulu historis sama seperti kaum Lutheran, dan itu harus diberi pengakuan. Tetapi, musuh-musuh Zinzendorf menyebabkan dia terbuang dari Saxony pada tahun 1736. Ini mengawali kurun waktu perjalanan bagi sang pangeran dan pemimpin Moravian lainnya. Perjalanan tersebut membawanya ke Amerika tempat ia mendirikan Bethlehem, Pennsylvania, sebagai basis karya misinya di antara para Indian. Di kemudian hari, ia menjadikan London sebagai pusat kegiatan Moravian.

Menjelang kematiannya pada tahun 1760, 226 misionaris dikirim keluar oleh para Moravian. Mereka telah membaptis lebih dari 3.000 orang yang bertobat. Ketika ia sekarat, Zinzendorf berkomentar kepada rekannya, "Sungguh suatu khafilah hebat dari gereja kita yang mengelilingi Anak Domba itu!" Hal itu memang benar sampai hari ini.

Gereja Brethren berlanjut hingga hari ini, namun warisannya dapat juga dilihat pada denominasi lain. John Wesley sangat dipengaruhi kaum Moravian dan menggabungkan beberapa perhatian mereka pada gerakan Methodis. William Carey, yang dihormati sebagai orang yang merintis gerakan misi Protestan modern, sesungguhnya mengikuti jejak para misionaris Moravian. "Lihatlah apa yang telah dilakukan para Moravian ini," tuturnya pada suatu kesempatan. "Apakah kita tidak dapat mengikuti contoh mereka dalam kepatuhan kepada Guru Surgawi kita, pergi ke tengah-tengah dunia dan mengabarkan Injil kepada orang-orang kafir?"


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 4:42 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
69) Tahun 1735 Kebangunan Rohani Besar di bawah Jonathan Edwards



Image
Jonathan Edwards


Pada tahun 1630, sepuluh tahun setelah serombongan kecil kaum Peziarah mendirikan permukiman di Plymouth, sebuah migrasi kaum Puritan yang besar mulai mendirikan persemakmuran Kristen di Massachusetts. Lebih makmur dalam harta duniawi daripada Pilgrim Fathers (kaum Puritan pertama di Amerika), kaum Puritan ini juga berbeda dalam tujuannya mendatangi rimba Amerika. Mereka berharap mendirikan masyarakat berdasarkan Alkitab, yang akan menjadi contoh bagi Inggris untuk mengikuti reformasi dan pembaruan. Seperti yang ditulis gubernur mereka, John Winthrop, "Kita harus beranggapan bahwa kita merupakan sebuah kota di atas bukit, dan semua mata menatap kita." Ketika koloni Puritan tersebut bertumbuh dan menjadi makmur, niat keagarnaan mula-mula pemukim tersebut menurun; generasi kedua dan ketiga lebih mempedulikan benda-benda duniawi ketimbang mendirikan kerajaan Allah di Amerika.

Mereka yang setia hanya memperhatikan, dan ada yang meratapi perkembangan-perkembangan tersebut. Ide kaum Puritan bahwa negeri baru akan merupakan tempat yang cocok untuk mengembangkan persemakmuran suci lambat-laun memudar. Mereka yang setia tidak meragukan bahwa meskipun Inggris secara spiritual sakit — ataupun coati — koloni-koloni dapat atau harus memperlihatkan spiritualitas yang mendalam.

Jonathan Edwards — jiwa yang sejati dan berharga, yang masuk ke Perguruan Yale pada usia tiga belas tahun — yakin akan hal ini. Untuk sementara waktu, di bawah kakeknya, orang yang berkuasa dan berpengaruh, Solomon Stoddard, Edwards menjadi pastor pendamping di sebuah gereja di Northampton, Massachusetts. Ketika Stoddard meninggal pada tahun 1729, Edwards bertugas sebagai pastor tunggal.

Tidak lama setelah ia datang ke Northampton, Jonathan menikahi Sarah Pierpont yang bijaksana, cantik dan Lulus. Sementara Edwards mempunyai banyak anak dan juga melayani gereja sebagai pastor, ia juga mengambil waktu untuk menciptakan tulisan-tulisan teologis yang termasyhur di dunia. Bacaan yang luas dan berbagai perubahan dramatis yang terjadi di gereja-gereja tempat ia berkhotbah mempengaruhi teologinya.

Dengan menggali dari kedala man Calvinisme, Edwards percaya pada doktrin pemilihan. Meskipun ia mengakui bahwa Allah memilih siapa yang akan diselamatkan-Nya dan siapa yang tidak, Edwards menginginkan setiap orang menjadi yang terpilih. Ia tahu hal ini tidak mungkin, namun ia mendesak bahwa para pastor harus mengajar tentang beratnya dosa dan perlunya hati untuk berpaling kepada Tuhan. Jika tidak, katanya, para pastor gagal dalam tugasnya, dan ia cukup melihat kaum rohaniwan di New England yang tidak mempunyai semangat hidup sebagai contohnya. Ketika ia mengkhotbahkan "God Glorified in Man's Dependence" (Allah Dimuliakan dalam Ketergantungan Manusia) pada tahun 1731, kepada pengunjung di Boston, ia tahu bahwa banyak pendengarnya tertawa sinis karena tekanannya akan dosa yang berakar dan pentingnya perubahan dari dalam.

Selama enam puluh tahun pelayanannya, Solomon Stoddard telah melihat lima "panen", masa-masa peningkatan tekad spiritual, yang menghasilkan kehidupan yang berubah dan peningkatan ketakwaan. Pada tahun 1730-an, Jonathan Edwards berdoa untuk panen. Ia melihat moral yang bejat dan merasakan bahwa penerimaan Arminianisme yang semakin meningkat akan menyebabkan suatu masa ketergantungan spiritual. Ia mulai mengkhotbahkan hal itu.

Pada musim dingin tahun 1734 dan sepanjang tahun berikutnya, perubahan dialami Northampton. Edwards berkata, "Roh Allah dengan luar biasa mulai bekerja." Gerejanya penuh dengan pendengar, banyak di antaranya mencari kepastian keselamatan. "Kota ini tampaknya penuh dengan kehadiran Allah. Tidak pernah ia begitu penuh dengan kasih ataupun kegembiraan, namun ia penuh dengan kecemasan seperti dulu." Pertengkaran dan gosip lenyap karena hampir seluruh kota mengunjungi gereja.

Namun, orang yang telah mendoakan dan berkhotbah untuk kehidupan kotanya tidak memiliki teknik berkhotbah yang penuh dengan kata-kata indah. Khotbahnya berfokus pada pembenaran oleh iman saja dan menunjukkan kegemaran intelektualnya. Meskipun ia tidak menggunakan metode-metode yang akan membangkitkan emosi, namun ia menerima responsrespons beremosi. Para kritikus mengolok-olok saat-saat ratapan pembungkukan badan yang kadang-kadang mengikuti khotbah kebangunan rohani. Di kemudian hari, ketika ia menulis tentang Kebangunan Rohani Besar, Edwards mengakui bahwa tulisan itu membawa ekses-ekses emosional. Tetapi secara keseluruhan, hal itu adalah bukti bahwa Roh Allah bekerja dalam hati manusia.

Edwards tidak seorang diri dalam berkhotbah yang membawa ke kebangunan rohani. Seorang pastor Jerman di New Jersey, Theodore Freylinghuysen, telah bekerja dengan Jemaat Reformasi Belanda sejak tahun 1720. Berita Injilnya yang berkobar-kobar telah membawa basil — dan juga perselisihan. Ia juga membantu Gilbert Tennant, seorang pastor Presbiterian, yang datang ke New Jersey dari gereja dan sekolah ayahnya di Pennsylvania. Gilbert dan saudara-saudaranya — William, Jr., John dan Charles — semuanya telah menjadi pastor-pastor pekabar Injil yang ampuh di New Jersey.

Orang yang mengikat kedua masa kebangkitan ialah George Whitefield seorang pendeta Anglikan — dan temannya John Wesley — yang mulai mengajar di Amerika pada tahun 1738. Dengan tidak menghiraukan ikatan denominasi, dan karena semuanya untuk Kristus, dengan tidak mengenal rasa lelah ia melintasi berbagai negara bagian, mengajarkan berita pertobatan. Di bawah pengaruhnya, seluruh bangsa itu mengalami kebangunan rohani.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 4:46 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
70) Tahun 1738 Pertobatan John Wesley



Image
Wesley berhadapan dengan perusuh Wednesbury


Sebagai anak berumur lima tahun, John Wesley hampir saja menemui ajalnya dalam kebakaran yang telah menyapu pastoran ayahnya. Sungguh ia adalah "api yang dipetik dari kebakaran itu", seorang yang akan dipakai Allah untuk menyulut iman pada ribuan orang.

Akan tetapi ketika John pergi ke Oxford untuk belajar menjadi pendeta dan kemudian membantu jemaat Anglikan ayahnya selama beberapa tahun, keresahan pun mulai meliputi dia. Meskipun ia tahu doktrin-doktrin keselamatan, namun semuanya itu belum menyenangkan hatinya.

Pada tahun 1729 John kembali ke Oxford. Adiknya, Charles telah memulai "Holy Club" (Klub Suci), yang tidak lama kemudian dipimpin John. Mereka dijuluki Methodis oleh orangorang yang ingin mencemarkan mereka, karena mereka menggunakan metode-metode keras dalam pencarian kesucian. Anak-anak muda itu mencari keselamatan, namun latihan-latihan devosional yang amat keras pun tidak memberi kedamaian kepada John. Seperti Luther, Wesley berupaya mendapatkan anugerah Allah dan menemukan kekosongan.

Pada tahun 1735, John dan Charles pergi ke Georgia dalam suatu perjalanan misioner. Ketika melintasi Samudra Atlantik, John terkesan dengan beberapa orang Moravian. Ketika kapal mereka dihantam badai, John gemetar karena takut, sementara para Moravian dengan tenang menyanyikan pujian.

Charles hanya berdiam selama satu tahun di Georgia. Ia pulang karena kesehatannya. Meskipun John tinggal, namun pelayanannya tidak berjalan mulus. Ia mengikuti jejak saudaranya kembali ke Inggris menjelang tahun 1738. Ia diundang pada pertemuan Moravian di Aldersgate Street, London, dan pada tanggal 24 Mei ia menghadirinya dengan "setengah hati". Pada pertemuan tersebut, ketika seorang membacakan tafsiran Luther tentang Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma, Wesley berkata, "Kira-kira pukul sembilan kurang lima belas, ketika ia sedang menggambarkan perubahan yang diadakan Allah dalam hati melalui iman kepada Kristus, aku merasakan kehangatan dalam hati. Aku merasakan bahwa aku benar-benar percaya kepada Kristus, hanya Kristuslah keselamatan; dan suatu jaminan telah diberikan kepadaku bahwa Ia telah menyingkirkan dosa-dosaku, dan telah menyelamatkan daku dari hukum dosa dan maut."

Wesley dan saudaranya, Charles, yang telah bertobat tiga hari sebelumnya, membawa berita anugerah baru ini dan mengajarkannya di mana saja. Seorang lagi anggota Holy Club, George Whitefield, menerima Kristus pada waktu yang bersamaan. Bersama-sama mereka akan menuntun Inggris dan Amerika menuju kebangkitan kembali.

Ketika Gereja-gereja Anglikan yang bermusuhan menutup pintu bagi berita ini, anak-anak muda tadi berbicara di mana saja, tempat-tempat umum atau lapangan terbuka. Tidak seperti Gereja Anglikan, yang hanya melayani kaum aristokrat, pendengar mereka adalah kaum miskin di Inggris, yang kelaparan akan harapan. Orang-orang mengelilingi mereka ketika mereka bdrkhotbah.

Meskipun Wesley berpendapatan besar melalui tulisan-tulisannya, ia hidup sederhana dengan membagi-bagikan kelebihan uangnya. Ia bertekad menyambut mereka yang berasal dari kelas rendah.

Wesley tanpa merasa letih mengadakan perjalanan sejauh 250.000 mil dengan menunggang kuda, mengajar di seluruh Inggris dan Skotlandia. la membentuk perkumpulan orang-orang percaya di setiap kawasan, dan ketika gerakan tersebut bertumbuh, ia menunjuk para pengajar lain dengan menempatkan seorang bagi satu distrik. Perkumpulan-perkumpulan tersebut, lebih lanjut, dipecah menjadi kelas-kelas rekanan dan kelompok-kelompok doa. Organisasi rumit yang dicap Methodis ini membantu gerakan itu bertahan.

Wesley bersaudara tidak berniat berpisah dari Anglikanisme. Sesungguhnya mereka ingin melihat pembaruan berlangsung dari dalam gereja. Perpecahan itu berlangsung pelan. Ketika pada tahun 1784 John mempersiapkan kelanjutan Methodisme setelah kematiannya, Charles tidak menyetujui perpecahan itu.

Meskipun berada di bawah bayang-bayang kakaknya, Charles pun punya andil yang cukup besar dalam Methodisme. Ia sangat dikenal akan kidungnya, termasuk "O for a Thousand Tongues", "And Can It Be?" dan "Hark the Herald Angels Sing". Tidak seperti gereja Anglikan yang selalu terikat pada Mazmur, dari awal para Methodis merupakan gerakan bernyanyi — sebagian besar karena Charles yang berbakat dalam menyusun kata-kata.

Methodisme telah mengubah masyarakat Inggris dengan perlahan. Meskipun setia pada status quo politik, Methodisme telah membangkitkan semangat liberal yang membawa Inggris ke keadaan yang lebih baik. Banyak sejarawan memuji orang-orang Methodis karena tidak memicu revolusi berdarah seperti yang dialami orang Perancis pada akhir abad kedelapan betas.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 4:57 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
71) Tahun 1780 Robert Raikes Memulai Sekolah Minggu



Image
Monumen Robert Raikes (1736 - 1811) di the Victoria Embankment, London.
Didirikan pada tahun 1880, oleh pematung Sir Thomas Brock, R.A.



Ny. Meredith tidak sanggup menanganinya. Atas permintaan seorang editor Surat kabar yang baik, Robert Raikes, ia menerima segerombolan anak jalanan ke dapur rumahnya di Sooty Alley. Raikes bahkan membayar Ny. Meredith satu shilling setiap hari Minggu untuk mengajar anak-anak berpakaian compang-camping ini membaca Alkitab dan mengulanginya di luar kepala. Tetapi anak-anak ini luar biasa bandel. Terkungkung di sebuah pabrik yang basah dan gelap di Gloucester, Inggris, selama enam hari dalam satu minggu, mereka hanya dapat kesempatan bergembira ria pada hari Minggu, dan pada hari-hari Minggu itulah mereka menjadi liar. Setiap Minggu para petani dan pemilik toko merasa takut pada kenakalan anak-anak ini. Robert Raikes berharap bahwa "Sekolah Minggu" ini akan mengubah hidup mereka, namun mereka membawa kebiasaan mereka yang menjijikkan dan mengerikan itu ke dapur Ny. Meredith.

Raikes tidak membiarkan niatnya pupus. Ia memindahkan sekolah Minggunya ke dapur Ny. King tempat May Critchley mengajar mereka dari pukul sepuluh sampai pukul dua belas siang dan dari pukul satu sampai dengan pukul lima pada petang hari. Ia menghendaki anak-anak hadir setelah tangan dicuci dan rambut disisir. Dalam waktu yang singkat anak-anak itu mau belajar. Tidak lama kemudian terkumpul Sembilan puluh anak menghadiri sekolah Minggu pada setiap hari Minggu. Perlahan-lahan mereka belajar membaca.

Hal ini bukanlah upaya pertama Raikes bagi pembaruan masyarakat. Sebagai seorang editor Gloucester -Journal yang berpikiran liberal, ia sangat sadar akan roda kemiskinan dan kriminalitas. Orang-orang yang tidak dapat membayar utang dipenjarakan, dan bila mereka keluar, tidak ada kehidupan bagi mereka. Maka mereka terdorong berbuat kejahatan. Selama bertahun-tahun Raikes berupaya bekerja bersama mantan napi, untuk membantu mereka agar tidak berbuat kejahatan, namun sia-sia.

"Dunia bergerak maju di atas kaki anak-anak kecil." Kalimat yang berasal dari Raikes itu mengungkapkan pemikiran sekolah Minggu ini. Para orang dewasa telah berjalan terlalu jauh, tetapi anak-anak baru memulainya.

Masalah yang dihadapinya ialah ketidaktahuan. Anak-anak (dari keluarga) kurang mampu tidak pernah mendapat kesempatan pergi ke sekolah — mereka harus bekerja untuk membantu keluarga mereka. Akibatnya, mereka tidak dapat beranjak dari kemiskinan. Namun, jika mereka dapat belajar pelajaran dasarnya — membaca, menulis, berhitung dan moralitas alkitabiah — pada hari libur satu harinya, suatu saat mereka mungkin mengubah semuanya itu.

Jadi, eksperimen itu berawal dari Sooty Alley. Lambat-laun ide ini bertumbuh. Pada tahun 1783, dengan kepercayaan diri bahwa eksperimennya telah berhasil, Raikes mulai mengumumkannya dalam hariannya. Dengan hati-hati ia melaporkan alasan dan hasilnya. ide tersebut menjadi populer.

Orang-orang Kristen yang terpandang mendukung ide tersebut. John Wesley menyukainya, dan kelompok Wesley pun mulai melakukannya. Penulis populer, Hannah More, mengajar agama dan memintal pada gadis-gadis di Cheddar. Seorang pedagang dari London, William Fox, pernah menyumbangkan ide serupa, namun memutuskan menunjang proyek Raikes. Pada tahun 1785, Fox mendirikan perkumpulan untuk menunjang dan mendukung banyak sekolah Minggu di berbagai kawasan di Inggris.

Ratu Charlotte pun membenarkan sekolah Minggu tersebut. Ia memanggil Raikes untuk mendengarkan hal itu dan kemudian ia mengizinkan namanya dipakai untuk upaya pengumpulan dana yang dilaksanakan Fox.

Kemasyhuran membawa pertentangan juga dari para konservatif yang takut akan terganggunya hari Sabat oleh para pedagang, yang khawatir akan kehilangan bisnis pada hari Minggu. Ada beberapa teman Raikes yang mengejeknya "Bobby Wild Goose (pengajar sesuatu yang tidak mungkin tercapai) dan Resimen Gembelnya".

Namun, hingga tahun 1787, ada seperempat juta anak-anak menghadiri sekolah Minggu di Inggris. Lima puluh tahun kemudian, ada 1,5 juta anak di seluruh dunia yang dididik oleh 160.000 tenaga pengajar. Yang menggembirakan ialah perkembangan Manchester pada tahun 1835. Sekolah Minggu tersebut terdiri dari 120 tenaga pengajar, yang 117 di antara mereka adalah mantan murid-murid sekolah-sekolah Minggu itu sendiri.

Dua perubahan besar telah terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Pada awalnya, guru-guru di sana dibayar, tetapi lambat-laun hal itu telah menjadi aktivitas sukarela. Pada awalnya, kurikulum terdiri dari membaca, menulis dan berhitung — dengan Alkitab dipakai sebagai teks yang tersedia. Ketika sekolah Minggu mendapat dana yang lumayan, mereka dapat mengadakan buku-buku teks lain. Tetapi, ketika pendidikan umum berkembang, sekolah-sekolah Minggu memusatkan perhatiannya pada pelajaran Alkitab saja.

Gerakan sekolah Minggu merupakan fenomena besar di Inggris dan Amerika, dengan implikasi religius maupun sekular. Hal ini terjadi di tengah-tengah kebangkitan rohani yang membalikkan Gereja dari kelesuan dan mungkin juga dapat menyelamatkan Inggris dari bencana revolusi yang dahsyat. Perlahan-lahan, orang-orang Kristen yang kaya mulai sadar akan tanggung jawab mereka terhadap kaum miskin. Gerakan sekolah Minggu telah menanamkan benih pendidikan umum dan merevolusi pendidikan agama, khususnya ketika menghidupkan pencetakan materi-materi agama. Pada akhir tahun 1800-an, gerakan sekolah Minggu memberikan Gereja puluhan kidung baru.

Hasil paling besar adalah anak-anak muda yang tak terhitung jumlahnya, yang telah tergerak oleh interaksi sederhana dan pendidikan sekolah Minggu.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 5:01 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
72)Tahun 1793 William Carey Berlayar Menuju India



Image
William Carey di India


Sebuah kapal menaikkan layarnya melawan angin bulan April dan bergerak di sungai Thames menuju Terusan Inggris. Kapal ini herlayar menuju India membawa William Carey (1761 - 1834), seorang tukang sepatu yang menjadi pengkhotbah gigih dan rekan misionarisnya dr. John Thomas.

Kedua orang tersebut telah mengumpulkan dana, telah mengepak barang-barang mereka, dan pamit. Sekarang kapal tersebut menyusuri pantai Inggris sebelum menuju laut luas. Impian, doa dan persiapan bertahun-tahun tampaknya akan terkabul dalam kehidupan Carey.

Namun, laut yang ganas dan peperangan yang berbahaya antara Inggris dan Perancis mengakhiri persiapan Carey – perjalanan dibatalkan. Tanpa dapat dihalangi, Carey – yang menyebut dirinya "orang yang lamban" tetapi sesungguhnya adalah visioner yang tak kenal lelah maju dengan susah payah menembus segala kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Renungkanlah caranya dibesarkan. Ayahnya seorang penenun yang mengajar di sekolah untuk menghidupi kelima orang anaknya. William adalah anak sulung, dan ia gigih belajar membaca dan menulis, membaca cerita-cerita petualangan seperti Robinson Crusoe dan Gulliver's Travels. Kesehatannya tidak pernah baik, tetapi ia berhasil magang pada seorang pengrajin sepatu.

Pada usia tujuh belas tahun, ia memasuki sebuah gereja pembangkang dengan seorang teman dan berjanji kepada Kristus. Ia tinggalkan Gereja Anglikan yang membesarkannya, dengan mengabaikan nasihat ayahnya, dan kian hari kian aktif dengan para pembangkang itu. Ia menikah dan mulai berkhotbah di gereja. Ia berjalan kaki sejauh delapan mil setiap hari Minggu untuk berkhotbah di gereja yang miskin di sebuah kota tetangga. Ia mempelajari Perjanjian Baru dan Bahasa Yunani dengan tekun, serta menyulap sekaligus tiga pekerjaan – tukang sepatu, guru sekolah dan pendeta.

Kesehatannya semakin memburuk karena kesukaran keluarganya. Seorang bayi meninggal. Istrinya mengalami tekanan mental. Mereka sering kekurangan uang untuk makan yang layak. Di atas semua kesulitan ini, obsesi Carey membawa Injil keluar negeri, sebagai kewajiban orang Kristen, meningkat.

Pada rapat-rapat para pendeta di kawasan itu, ia menguraikan secara khusus bahwa orang-orang Kristen harus menyebarkan Injil ke negeri-negeri yang jauh. Ia senantiasa ditolak. "Jika Allah hendak menyelamatkan orang-orang kafir itu, Ia akan berbuat demikian tanpa kau dan saya," jawab mereka kepadanya. Ia meneruskan, dengan menerbitkan sebuah uraian, "An Enquiry into the Obligation of Chistians to Use Means for the Conversion of the Heathen" ("Sebuah Penyelidikan akan Kewajiban Orang-orang Kristen untuk Memberdayakan Segala Upaya Pertobatan Orang-orang Kafir"), yang menyebabkan panggilan bagi misi-misi luar negeri. Suatu karya yang amat baik, tetapi tidak ditanggapi dengan baik.

Tiga Minggu setelah uraian itu diterbitkan, perkumpulan para pendeta mengundangnya untuk menjelaskan kepada mereka. Teks Carey: Yesaya 54:2, 3: "Lapangkanlah tempat kemahmu ...." Temanya: "Nantikanlah perkara-perkara yang agung dari Allah; upayakanlah hal-hal besar bagi Allah." Namun para pendeta tersebut tidak memberi tanggapan. Menjelang berakhirnya pertemuan tersebut, dalam frustrasinya Carey berseru, "Apakah tidak ada lagi yang dapat dilakukan?" Mengapa ia tidak mencari orang lain saja yang mau mengambil bagian dan melakukan visinya?

Sesuatu telah terjadi. Pada pertemuan berikutnya sebuah perkumpulan misi telah terbentuk. Seorang dokter Kristen, John Thomas, rela melayani di India dan ia membutuhkan seorang rekan. Carey merelakan diri untuk pergi bersamanya.

Situasinya tampak agak janggal. Carey mempunyai tiga orang anak kecil dan istrinya sedang hamil. Dapatkah ia sendiri menanggung beban-beban tersebut? Tetapi ini adalah puncak impiannya. Carey terus maju melalui tur pengumpulan dana secara cepat, berita bahwa dr. Thomas dicari-cari para kreditor yang belum dibayar, penolakan istrinya untuk bergabung dengannya, dan terlambatnya pelayaran kapal. Penundaan itu memberi dia kesempatan pulang dan meyakinkan istrinya, Dorothy, untuk bergabung dengan dia.

Tidak lama kemudian mereka berangkat lagi dan mendarat di Calcutta pada bulan November 1793. Namun kesulitan berlanjut. Keadaan sangat memprihatinkan, kesehatan mereka sangat buruk, Thomas berutang lagi, dan tak seorang pun bertobat. Anak mereka yang paling kecil meninggal, dan dua lainnya menjadi liar.

Pada tahun 1800, keluarga Carey pindah ke Serampore, bergabung dengan sekelompok misionaris dari Denmark. Di sana mereka menyaksikan pertobatan yang pertama, sebagian karena hasil usaha anak tertua Carey, Felix, yang sekarang menjadi seorang Kristen. Kemudian sebuah gereja terbentuk dan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Bengali pun telah diselesaikan.

Kesuksesan misi selama tiga dekade baru berawal. Menjelang kematiannya pada tahun 1834, Carey menerjemahkan Alkitab dalam empat puluh empat bahasa atau dialek dan membuka beberapa sekolah. Berbagai pusat misi dengan aktif menginjili India dan sekitarnya, Burma dan Bhutan. Tetapi jauh di atas statistik itu, Carey telah mengembangkan filsafat misi yang hidup dan mempraktikkannya.

Ia mendahului waktunya. Carey sangat menghormati kebudayaan India dan melihat kebutuhan akan sebuah gereja (dengan adat istiadat setempat) India. Daripada mencela agama Hindu, ia menegaskan kematian dan kebangkitan Kristus.

Di samping semua pencapaiannya, ia juga adalah pemain tim yang hebat. Dari pengalaman, ia telah belajar bahwa tim misi lebih kuat daripada keterlibatan secara perorangan. Carey juga cepat mengakui peranan para wanita sebagai bagian dari tim ini.
Seringkali kita mendapatkan ide yang keliru bahwa ia seorang diri membawa gereja ke era misi, namun ia sebenarnya salah seorang dari sejumlah orang Kristen di Barat yang meminta dukungan bagi misi luar negeri. Suaranya merupakan salah satu dari yang paling nyaring, dan ia menunjang kata-katanya dengan hidupnya sendiri.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 5:08 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
73) 1807 Parlemen inggris Mengadakan Pemungutan Suara untuk Menghapuskan Perdagangan Budak


Image
Dalam Film "Amazing Grace", William Wilberforce menyajikan daftar Panjang Petisi Anti Perbudakan di Parlemen Inggris.



Eropa menjelang akhir abad kedelapan belas adalah sebuah masyarakat yang tidak normal, yang kaya menjadi lebih kaya, sedangkan yang miskin kelaparan. Orang-orang yang berutang membusuk di penjara yang basah. Anak-anak yatim piatu menjadi budak di pabrik-pabrik. Kristen menjadi agama tata krama kalangan atas.

Di Perancis, orang-orang miskin meluapkan frustrasi mereka dalam Revolusi Perancis tahun 1789.

Namun, pada awal 1800-an, perasaan lega menandai Gereja Inggris karena Britania telah mengelakkan revolusi. Methodisme telah merangkul kelas bawah, namun masyarakat kelas atas masih belum tersentuh – kecuali segelintir pembaru sosial utama. Orang-orang Kristen ini – William Wilberforce, Elizabeth Fry, George Mueller, Thomas Buxton, John Venn, dan lain-lainnya – percaya bahwa dedikasi mereka pada Kristus berarti melayani masyarakat, bagi yang miskin dan yang membutuhkan.

Suara lantang yang melawan perbudakan di Kerajaan Inggris adalah suara William Wilberforce, seorang Anglikan Evangelikal dan anggota parlemen. Ia bukanlah orang yang digemari dalam segala hal, namun pikirannya yang tajam dan bicaranya yang efektif membuat baik teman maupun musuhnya hormat kepadanya.

Wilberforce lahir pada tahun 1759 dan bertumbuh sebagai seorang muda yang bebas, yang mengabdi pada. politik dan kesenangan. Pada usia dua puluh lima tahun, ia bertobat kembali, mengabdi kembali kepada Kristus yang ia kenal selagi ia masih kanak-kanak. Namun, waktunya kurang memadai. Ia baru saja dipilih untuk menduduki sebuah kursi yang berpengaruh di parlemen. Apakah devosi baru kepada Kristus ini akan mengakhiri ambisi politiknya?

Ia meminta saran seorang pendeta, John Newton. Guru yang terkenal ini, yang pada waktu lalu adalah pedagang budak, dan pencipta kidung klasik "Amazing Grace", menyarankan Wilberforce berpegang pada politik. Allah menghendaki orang-orang seperti Anda di Parlemen, kata Newton – mungkin kita dapat juga menghapus perbudakan.

Hal itu menjadi pergolakan dalam diri Wilberforce. Ia mengemukakan usul ini kepada parlemen pada tahun 1787, tetapi perlawanan ternyata lebih kuat daripada yang diduganya. Para pedagang budak itu tahu cara memainkan politik. Mereka menantang para pendukung penghapusan perbudakan dari segala sudut. Wilberforce mengharapkan dukungan kuat dari teman lama seperguruannya, William Pitt, yang sekarang menjadi perdana menteri. Tetapi Pitt adalah seorang moderat. Ia menginginkan perubahan secara perlahan-lahan, bukan penghapusan perbudakan secara total dan segera.

Bagaimanapun, Wilberforce telah mendapatkan sekutu dari kalangan aktivis Kristen, yang dikenal sebagai Clapham Sect. Nama itu dikutip dari sebuah desa di selatan London, tempat Welberforce tinggal.

Orang-orang tersebut menjadi pemimpin-pemimpin gerakan Evangelikal di Gereja Inggris. Beberapa di antara mereka, termasuk Welberforce, terlibat dalam mendirikan Church Missionary Society (Perkumpulan Misioner Gereja) dan Britisth and Foreign Bible Society (Perkumpulan Alkitab Inggris dan Luar Negeri).

Pada tahun 1806, Pitt meninggal. Para pendukung penghapusan perbudakan berh`sil menyertakan tambahan pada RW yang berkenaan dengan perang melawan Perancis. Hal ini yang merintis jalan bagi RUU tahun 1807 yang menghentikan perdagangan budak di Inggris. (Amerika Serikat memberlakukan peraturan serupa pada tahun itu juga.)

Wilberforce menjadi pahlawan dan memanfaatkan kesohoran yang baru diraihnya untuk mendorong pembaruan sosial lainnya. Ia melanjutkan pekerjaan pemberantasan perbudakan secara internasional dan membantu mendirikan Sierra Leone sebagai tempat permukiman para budak yang dibebaskan.

Pembaru tersebut berharap agar lembaga-lembaga perbudakan menghilang, segera setelah jual-beli budak menjadi ilegal. Ternyata ia salah. Pada tahun 1823, Wilberforce berusaha untuk terakhir kalinya menghapus tuntas perbudakan. Ia berhenti dari parlemen pada tahun 1825, namun melanjutkan perjuangannya memberantas perbudakan. Thomas Buxton mengambil alih pimpinan pendukung penghapusan perbudakan di parlemen. Akhirnya pada bulan Agustus tahun 1833, sebulan setelah kematian Wilberforce, parlemen menetapkan untuk membebaskan para budak dan memberantas semua perbudakan.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 5:12 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
74) Tahun 1811 Para Campbell Mengawali Gerakan Disciples of Christ



Image
Thomas Campbell (1763-1854)


Thomas Campbell benar-benar menyambut orang-orang yang datang dan beribadah di gerejanya. la menggembalakan sebuah jemaat di barat Pennsylvania, yang merupakan milik Seceder Presbyterian Church, denominasi pecahan yang berakar pada orang Skotlandia. Namun, karena terganggu oleh perpecahan se-pale yang disebabkan oleh doktrin-doktrin buatan manusia, Campbell membiarkan warga Presbiterian mana pun untuk datang ke gerejanya dan mengambil komuni, apakah mereka Seceder ataupun tidak.

Namun, klasis tersebut tidak menyukainya. Peraturan-peraturan mereka melarangnya. Mereka secara resmi menyelidiki hal itu dan mengutuk Campbell.

Sebagai tanggapan, Campbell menulis surat kepada sinode. Ia menjelaskan prinsipnya — ideide yang tidak lama kemudian menjurus ke pembentukan denominasi baru. Gereja membutuhkan persatuan dan harus menghentikan formulasi-formulasi teologis manusiawi serta mengikuti ajaran Kitab Suci yang jelas. Ia memenangkan masalah ini. Sinode membatalkan kutukan klasis tersebut, namun terdapat perasaan kurang senang dari pendeta rekan Campbell. la memutuskan membuat cabang tersendiri dan memulai gerejanya sendiri.

Bertahun-tahun Campbell menjadi pendeta di Irlandia Utara, tetapi pindah ke Amerika karena alasan kesehatannya. Ia meninggalkan gereja dan sekolah yang dikelolanya di Irlandia kepada anaknya yang andal, Alexander.

Amerika masih merupakan Dunia Baru. Perbatasannya bermula di Appalachian dan meluas ke arah barat. Secara religius, Amerika masih berada pada lereng rendah Kebangunan Rohani Besar. "Kebangkitan itu diawali Whitefield dan Edwards di pantai timur dan bergerak ke barat. Kebangkitan "pertemuan-pertemuan di tenda" berawal di Kentucky sekitar tahun 1800 dan masih berlangsung sepanjang perbatasan.

Ironisnya, kebangkitan itu berakibat juga pada perpecahan, dan kebangunan di barat sama sekali berbeda dengan yang di timur. Di timur umpamanya, ada Jonathan Edwards yang terpelajar, yang dengan saksama mengulas amarah Allah dan perlunya berdamai. Di barat, hanya ada sekelompok pengkhotbah dengan sedikit pendidikan seminari, yang berdiri di atas kereta dan membujuk orang-orang berdosa berbaikan dengan Tuhan. Ini adalah suatu perbedaan gaya, tetapi sebenarnya juga perbedaan teologi. Kebangkitan di timur lebih Presbiterian, di barat lebih Methodis. Timur lebih condong ke Calvinis, barat lebih condong ke Arminian. Timur berpaling pada gereja, barat lebih individual.

Maka, pada tahun-tahun 1800-an terjadi banyak perpecahan: Cumberland Presbytery,
Shakers, New Light Movement dari Barton Stone, dan sekarang kelompok Thomas Campbell.

Campbell mengadakan pertemuan-pertemuan di mana pun yang memungkinkan – di lumbung-lumbung, di perumahan dan di ladang-ladang. la juga menarik para pengikut dalam jumlah yang cukup lumayan. Ia menyebut kelompok itu sebagai Chrien Association of Washington (Asosiasi Orang-orang Kristen di Washington) untuk daerah Washington dan Pennsylvania. Ia juga menulis "Declaration and Address" yang menjadi dokumen dasar gerakan itu. Seperti halnya para pendiri gereja lainnya, ia tidak berkehnginan memisahkan diri dari gereja yang sudah mapan, namun ia terpaksa bergerak ke arah tertentu. Dan tidak satu pun gereja yang tampaknya bergerak ke arah itu. Bagi Campbell, arah itu bersifat alkitabiah dan sederhana. Mottonya ialah "Di mana Kitab Suci berbicara, kita berbicara, di mana Kitab Suci bungkam, kita pun bungkam".

Putra Thomas, Alexander Campbell, yang tiba dari Irlandia pada tahun 1809, segera bergabung dengan ayahnya dalam proyek baru ini. la baru berumur dua puluh tiga tahun, tetapi dianugerahi bakat berbicara yang bail( dan merupakan pendebat yang tangkas. Mereka berdua rnendirikan Gereja Brush Run pada tahun 1811 (setelah dilarang masuk oleh kaum Presbiterian). Setelah mempelajari Kitab Suci, kedua Campbell tersebut menentukan bahwa membaptis orang percaya dengan cara selamlah yang benar, bukan membaptis anak seperti yang selama ini mereka lakukan. Jadi, mereka mulai membaptis ulang anggota gerejanya.

Dalam hal ini, mereka pada dasarnya termasuk kaum Baptis, maka mereka berafiliasi dengan Redstone Baptist Association pada tahun 1812. Alexander Campbell menjadi frgur terkemuka di Gereja Baptis itu dengan mengadakan pernbicaraan secara luas dan menerbitkan majalah berkala, The Christian Baptist. Ia juga mendirikan sebuah seminari di Bethany, di barat Virginia. Campbell menulis serentetan artikel bagi majalahnya: "A Restoration of the Ancient Order of Things" ("Suatu Pemulihan Hal-hal Tatanan Kuno").

Tidak semua anggota Baptis menyukai hal Campbell berpikir bahwa banyak ajaran
Baptis masih terlampau Calvinistik, dan ia selalu menyerang mereka. la juga tidak setuju
dengan pengertian kaum Baptis tentang pembaptisan. Kaum Baptis melihatnya sebagai peraturan yang menggambarkan keselamatan yang pernah terjadi sebelumnya. Tetapi, Campbell mengambil dari berbagai kutipan mengenai "bertobat dan dibaptislah" di Perjanjian Baru untuk menegaskan bahwa hal itu adalah syarat mutlak bagi pengampunan. Campbell juga menolak upaya-upaya penjelasan tentang Tritunggal di luar Kitab Suci.

Menjelang akhir tahun 1820-an, ketegangan mulai marak. Para pengikut Campbell menarik diri dari asosiasi Baptis dan bergabung pada tahun 1832 dengan Christian Church of Barton Stone. (Campbell dan Stone menginginkan nama alkitabiah sederhana bagi kelompok mereka, untuk menghindari aliran denominasional. Sejak itu, istilah-istilah Christian dan Disciples of Christ dipakai secara bergantian bagi gerakan yang telah bergabung itu.) Sampai di situ, telah ada 25.000 anggota.

Gerakan tersebut bertumbuh terus, sebagian karena kemasyhuran Campbell. Ia bertindak sebagai utusan pada konvensi konstitusional Virginia pada tahun 1829. Seorang rekan utusan, James Madison, berkata, "Saya menganggap dia seorang pengulas Kitab Suci yang paling orisinil dan paling mampu, sejauh yang pernah saya dengar."

Pertumbuhan gerakan itu juga disebabkan oleh perluasan perbatasan bagian barat. Para Disciples mempunyai Injil yang sederhana, untuk waktu yang sederhana. Alexander Campbell juga dari semula anti-perbudakan, namun bukanlah pendukung penghapusan perbudakan yang keras. Jadi, gereja tidak terpecah oleh perang saudara. Menjelang pergantian abad kedua puluhan, terdapat lebih dari satu juta Disciples of Christ.

Pentingnya Campbell bukan raja terletak pada didirikannya denominasi yang kuat, tetapi juga pada dukungan mereka akan iman alkitabiah yang sederhana.

Sejarah Gereja dipenuhi dengan ketegangan antara agama formal dan iman yang sederhana. Para Campbell membawa banyak orang dari tekanan formalitas ke dalam iman yang lebih pribadi. Menetas dan dipupuk di perbatasan suatu negeri yang sedang bertumbuh, para Disciples telah menjadi contoh utama kekristenan Amerika pada zaman itu. Mereka membantu menyediakan medan bagi gerakan-gerakan kebangunan rohani dan fundamentalis.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 5:22 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
75) Tahun 1812 Adoniram dan Ann Judson Berlayar Menuju India



Image
Adoniram Judson (1788 - 1850) dan Ann Haseltine Judson (1789 - 1826)


Hari itu merupakan bulan madu! Adoniram Judson menikahi Ann Hasseltine pada tanggal 5 Februari 1812, dan dalam waktu dua minggu mereka berlayar ke India, karena ditunjuk sebagai misionaris oleh American Board of Commissioners for Foreign Missions (Badan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri) yang baru dibentuk. Tampaknya, sebagian besar waktu mereka di atas kapal mereka habiskan untuk bermain tali, berdansa, mempelajari dan membahas Alkitab.

Mereka membahas baptisan. Dalam studi Kitab Sucinya, Adoniram memutuskan bahwa para Konggregasionalis salah tentang baptisan, dan bahwa para Baptislah yang benar. Ann tentunya menghormati keputusan pribadinya, namun mengingatkan dia bahwa mereka dikirim dan didanai bagi misi mereka sebagai Kongregasionalis. Ada baiknya hal ini dipikirkan matang-matang sebelum terlanjur membuat keputusan.

Adoniram yang agak keras menang dalam pertengkaran itu. Ann pun menjadi seorang Baptis seperti rekan misionaris seperjalanan mereka, Luther Rice. Ketika mereka tiba di Kalkutta, pasangan Judson itu mengirim Rhce kembali dengan surat pengunduran diri dan dengan tugas yang amat berat: mencari dukungan dari gerejagereja Baptis; sebab para Baptis di Amerika belum mempunyai perkumpulan misi.

Rice melakukan tugasnya dengan sangat baik, dan pasangan Judson dapat tinggal di Asia, serta mengukir sejarah sebagai misionaris asing pertama dari Amerika Serikat.

Enam tahun sebelumnya, tak seorang pun menduga bahwa baik Ann maupun Adoniram akan terjun ke dalam tugas-tugas misi. Ann adalah seorang yang berkemauan keras, berinisiatif sendiri dan seorang remaja yang riang. Adoniram seorang yang agak pemarah tetapi pemuda yang cerdas, yang dibesarkan secara religius, namun terhanyut ke dunia panggung di New York. Tulisan-tulisan Hannah More dan John Bunyan telah membawa Ann lebih dekat kepada Allah. Bagi Adoniram, yang membuatnya semakin dekat kepada Allah ialah kematian mendadak seorang teman kuliahnya yang pernah membujuknya menolak kekristenan. Pada tahun 1808, Adoniram pulang ke Boston dan mengabdikan dirinya kepada Kristus.

Membaca tentang negara-negara Asia seperti India dan Myanmar, mereka terpanggil untuk menjadi misionaris di sana. Hal itu tidak mudah karena belum ada badan penginjilan di Amerika yang akan mengirim dia.

The Haystack Prayer Meeting (Persekutuan Doa Penimbunan Jerami) membawa perubahan itu. Sekelompok mahasiswa dari Williams College dan Andover Seminary lari menuju sebuah lumbung untuk berteduh dari hujan. Di situ, dekat setumpuk jerami, mereka mulai mendoakan kebutuhan dunia ini. Setiap yang hadir, termasuk Adoniram Judson, merasa terpanggil untuk pelayanan misioner. Di bawah pimpinan Samuel J. Mills, mereka menghadap Gereja Kongregasional untuk penugasan. American Board of Commissioner for Foreign Missions telah didirikan pada tahun 1810, tetapi perlu waktu untuk mendapatkan dukungan bagi orang-orang yang baru ditunjuk. Karena tidak sabar, Adoniram berlayar ke London, mencoba mencari dukungan dari London Missionary Society (Perkumpulan Misioner London), ketika itu perang sedang berkecamuk antara Perancis dan Inggris dan pihak Perancis menangkap kapalnya. Judson menghabiskan waktu yang kurang menyenangkan untuk beberapa lama sebagai tawanan perang, hingga ia dapat meyakinkan bahwa ia adalah orang Amerika, bukan orang Inggris. Ia kembali ke Boston dengan selamat, dan badan tersebut bersedia mengirimnya bersama empat orang lainnya pada tahun 1812.

Sementara itu, Adoniram bertemu Ann dan menjalin hubungan kasih. Ia menjanjikan Ann kehidupan keras, pelayanan misionaris di ternpat-tempat prirnitif, kerja keras dan tanpa fasilitas. Wanita mana yang dapat bertahan? Namun, dari awal Ann bertindak sebagai seorang rekan setia Adoniram, dengan melibatkan diri sepenuhnya dalam upaya-upaya misi. Ketika ia diteguhkan untuk tugas misi, Ann turut berlutut dengannya, sehari setelah pernikahan mereka. Kemudian mereka berangkat.

Namun, lebih banyak lagi kesulitan yang menanti mereka di India. Para penguasa Inggris di India tidak mengizinkan orang-orang Amerika ini tinggal di India. William Carey menganjurkan mereka pindah ke Myanmar. Putranya, Felix, adalah duta besar di sana dan dapat memberikan pondokan bagi mereka untuk sementara. Banyak lagi kesulitan yang dihadapi untuk masuk ke Myanmar, namun pasangan Judson akhirnya sampai juga dan segera mereka memulai pekerjaannya, belajar bahasa setempat,- mengawali dengan sekolah untuk anak-anak perempuan dan menerjemahkan Perjanjian Baru. Ann belajar bahasa Myanmar seperti Adoniram, dan membantu penerjemahan.

Setelah enam tahun, baru mereka memenangkan jiwa baru yang pertama. Kesukaran berlanjut, Ann mempunyai masalah kesehatan dan harus kembali ke Amerika Serikat untuk sementara. Tidak lama setelah ia kembali ke Myanmar, Perang Inggris – Myanmar pecah. Adoniram ditawan dan dipenjarakan selama dua tahun. Ann pindah ke tempat yang berdekatan dan mengunjunginya secara teratur. Cobaan ini merusak kesehatan Ann dan Adoniram.

Tentara Inggris membebaskan Adoniram, namun tidak lama kemudian Ann meninggal, pada usia tiga puluh enam tahun. Adoniram bekerja dua puluh empat tahun lagi di Myanmar dan sekarang hasilnya lebih banyak lagi. Perjanjian Baru terjemahan bahasa Myanmar oleh pasangan Judson diterbitkan, juga katekisasi yang ditulis oleh Ann. (Ann juga telah menerjemahkan ke dalam bahasa Siam beberapa bagian Kitab Suci.) Judson telah mendirikan enam puluh tiga gereja, sebagian besar di tengah-tengah suku Karen, masyarakat pegunungan antara Myanmar dan Siam. Adalah kepercayaan tradisi Karen bahwa akan ada orang asing yang mengunjungi mereka dan memulihkan pengetahuan tentang Allah yang sesungguhnya, yang telah hilang dari mereka. Sampai sekarang, sudah lebih dari 100.000 orang Karen yang telah dibaptis sebagai orang-orang Kristen. American Baptist Foreign Missioner Society (Perkumpulan Misi Luar Negeri Baptis Amerika) turunan perkumpulan misi Baptis yang dibentuk Luther Rice – mendukung perluasan pekerjaan di tengah-tengah suku Karen.

Suami istri Judson memulai dua misi kemasyarakatan yang berbeda. Hal ini, pada gilirannya, memicu pembentukan beberapa organisasi Kristen dan dewan misi di Amerika. Mereka memelopori suatu pelayanan Kristen di Asia Tenggara. Mereka juga berfungsi sebagai inspirasi bagi para pasangan misionaris yang tak terhitung jumlahnya dalam melakukan misi-misi lapangan yang berat secara bersama-sama.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 5:26 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
76) Tahun 1816 Richard Allen Mendirikan Gereja Episkopal Methodis Afrika



Image
Richard Allen (1760-1831), uskup pertama Gereja Episkopal Methodis Afrika di Amerika Serikat


Kejadian ini terjadi pada tahun 1787 di Gereja Methodis St. George, di Philadelphia. Richard Allen, seorang kulit hitam, telah berkhotbah di sana beberapa kali, tetapi pada hari Minggu ini ia duduk di serambi. Karena sesuatu dan lain hal, bagian yang biasanya dipisahkan untuk orang berkulit hitam pada hari ini tidak tersedia, dan para penjaga pintu telah mengalihkan para pengunjung berkulit hitam ke bagian lain. Namun, tampaknya ada kesalahpahaman, dan mereka duduk di tempat yang salah.

Ketika mereka berlutut untuk berdoa, seorang wali melihat orang-orang kulit hitam yang ada di bagian kulit putih; serta-merta saja ia mendatangi orang-orang kulit hitam itu untuk menyeret keluar salah seorang di antara mereka. Dia adalah Pdt. Absolom Jones, seorang pemimpin Methodis kulit hitam terkemuka. "Kau harus berdiri," seru sang wali tersebut, "Kau tidak boleh berlutut di sini."

"Tunggu sampai doa selesai," jawab Jones.

"Tidak, kau harus berdiri sekarang juga, atau saya akan memanggil bantuan untuk menyeretmu keluar."

"Tunggu sampai doa selesai," Jones mengulangi, "dan saya akan berdiri dan tidak akan menyusahkan Anda lagi."

Akan tetapi tampaknya tidak dapat ditunggu lagi. Sang wali dan seorang penjaga pintu mulai menyeret Jones dan jemaat kulit hitarn lainnya keluar. Sementara itu doa pun telah usai. Allen dan para kulit hitam lainnya keluar. "Mereka tidak lagi kita ganggu," tulis Allen, dan menambahkan bahwa mereka telah mendanai perlengkapan gereja tersebut dengan murah hati. Mereka telah mendanai pemasangan lantai yang di atasnya mereka berlutut.

Allen dan Jones menuntun orang-orangnya mengadakan kebaktian tersendiri di sebuah gudang yang disewa. Lambat-laun mereka membeli sebidang tanah dan membangun sebuah gereja. Namun mereka melanjutkan perjuangan mereka dengan Methodis kulit putih, khususnya mereka yang ada di St. George.

Kejadian-kejadian seperti itu bukannya tidak umum pada masa itu. Tetapi sungguh ironis bahwa kejadian berlutut itu terjadi justru di sebuah Gereja Methodis, karena para Methodis di Amerikalah yang dengan cepat menyikapi bahwa seorang budak pun adalah manusia juga, dan punya kebutuhan untuk mengenal Yesus seperti orang kulit putih mana pun. Misionaris-misionaris Methodis telah ditunjuk untuk membimbing para budak dan mereka yang telah dibebaskan. Dan para pemimpin Methodis mengetahui betul bahwa misionaris kulit hitam lebih efektif untuk saudara-saudaranya yang berkulit hitam.

Richard Allen lahir sebagai seorang budak pada tahun 1760, di rumah Benyamin Chew, seorang pengacara terkemuka di Philadelphia. Keluarganya telah dijual kepada seorang petani di dekat Dover Delaware. Di sana Allen menjadi Kristen pada usia remaja. Ia mulai bergaul dengan kelompok Methodis. Pada suatu kesempatan ia mengatur agar sang pengkhotbah dapat berkhotbah di rumah tuannya. Tuannya, meskipun bukan seorang Kristen, terkesan oleh teks sang pengkhotbah ("Engkau ditimbang di sebuah timbangan dan ditemukan masih kurang"). Akibatnya, Allen dan saudaranya diberi kesempatan membeli kebebasan mereka.

Sebagai orang bebas, Allen bekerja sebagai pembelah kayu dan tukang batu. la tetap sebagai seorang gerejawan aktif. Selama masa Revolusi ia menjadi kusir kereta pengantar garam. Di sepanjang perjalanannya ia juga berkhotbah. Keahliannya berbicara membuatnya populer, baik di kalangan kulit hitam maupun kulit putih. Sepanjang perjalanannya di Delaware, New Jersey dan Pennsylvania, dengan mengambil pekerjaan sambilan, ia juga berkhotbah pada ma-lam hari dan pada akhir pekan.

Pada tahun 1784, Gereja Episkopal Methodis dengan resmi didirikan di Amerika Serikat. John Wesley menunjuk Thomas Coke dan Francis Asbury sebagai "pembantu"nya untuk mengarnati gereja Amerika, dengan Richard Whatcoat dan Thomas Vassey sebagai pemimpin-pemimpin yang diangkat. Selama Perang Revolusi khususnya, gerakan Methodis di Amerika telah terpecah-pecah – sebagian karena masih merupakan gerakan dalam lingkungan Gereja Anglikan, dan perang tersebut justru menekan kesetiaan semacam itu. Tindakan-tindakan Wesley pada tahun 1784 menyatukan perpecahan tersebut, dan untuk pertama kalinya mengukuhkan Methodis sebagai gereja tersendiri.

Richard Allen menarik perhatian Richard Whatcoat, yang ditempatkan di lingkungan Baltimore. Whatcoat mengundang Allen untuk ikut bersamanya tatkala ia mengunjungi gereja. Kemudian Allen dalam perjalanannya diundang untuk bergabung dengan Asbury.

Ketika Allen mendarat di Philadelphia, ia berkhotbah di Gereja St. George jika mempunyai kesempatan, namun pada waktu-waktu itulah akhirnya ia meninggalkan tempat itu, seperti apa yang telah kita lihat. Salah seorang yang berlutut yang ikut tersinggung, Absolom Jones, memisahkan diri dari Methodis pada tahun 1793, dan membentuk Gereja Episkopal Protestan Kulit Hitam, namun Allen menolaknya. "Saya tidak dapat menjadi apa pun kecuali seorang Methodis," tulisnya, "karena saya dilahirkan dan dibangkitkan di bawah mereka, dan saya dapat berjalan terus dengan mereka. "

Ia pun berjalan terus bersama dengan mereka, dengan mengawali Gereja Bethel Episkopal Methodis Afrika di Philadelphia pada tahun 1794. Francis Asbury yang menyampaikan khotbah peresmian. Namun demikian, para pemimpin St. George mencoba menguasai gereja Allen. Sesungguhnya orang-orang kulit hitam tidak mempunyai hak yang leluasa pada masa itu, namun Gereja Bethel berusaha memenangkan kasus pengadilan melawan St. George.

Bintang Allen mulai bersinar lebih terang dalam denominasi Methodis, meskipun tekanan-tekanan dari gereja saingan di seberang kota berlanjut marak. Allen diteguhkan sebagai diaken pada tahun 1799 dan sebagai penatua pada tahun 1816 – dua posisi yang tidak pernah terdengar dicapai oleh seorang kulit hitam. Namun, pada tahun 1816, ia mernutuskan meninggalkan Methodis dan memulai denominasi baru, Gereja Episkopal Methodis Afrika (African Methodist Episcopal [AME] Church). Gereja Allen bergabung dengan beberapa gereja kulit hitam independen lainnya, dan Allen menjadi uskup kelompok baru ini. Baltimore dan Philadelphia menjadi titik-titik fokus denominasi baru ini.

Allen membuat administrasi yang hebat bagi gereja baru ini, dengan corak garis Methodis. Ia terus mengadakan perjalanan, berkhotbah dan mendirikan gereja-gereja baru hingga akhir hayatnya pada tahun 1831. Jumlah gereja AME bertumbuh terus segera setelah masa Perang Saudara, karena budak-budak yang dibebaskan mencari tempat-tempat kebaktian yang sungguh-sungguh bebas.

Denominasi baru ini merupakan inspirasi bagi orang-orang Kristen yang tertekan. Pada saat itu, hal ini merupakan deklarasi kemerdekaan yang hebat. Orang percaya kulit hitam akan melayani Kristus dengan senang hati, tetapi mereka tidak bisa diperlakukan melewati batas oleh saudara-saudara kulit putih mereka. Kepemimpinan Allen yang berani telah berbuat banyak untuk memelihara spiritualitas kulit hitam yang kuat di Amerika, yang sampai sekarang masih hidup.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 5:30 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
77) Tahun 1817 Elizabeth Fry Mengawali Pelayanan bagi Narapidana Perempuan di Penjara


Image
Elizabeth Fry (1780 - 1845)


"Jauh di mata, jauh di hati", begitulah perumpamaan bagi para narapidana Inggris pada awal-awal tahun 1800-an. Keadaan penjara-penjara gelap, tidak bersih, berdesak-desakan dan tanpa harapan. Para tersangka bermacammacam kriminalitas — baik dengan kekerasan ataupun tidak — dimasukkan ke dalam penjara tanpa perbedaan antara terpidana dan terdakwa yang menunggu peradilan. Para wanita yang menjanda ataupun yang ditinggalkan suaminya, sering terlilit utang dan dipenjarakan, dengan membawa anak-anak mereka.

John Howard, seorang awam Kristen yang menjadi sherif Bedfordshire pada tahun 1773, telah meminta perhatian masyarakat tentang kondisi penjara-penjara Eropa yang kotor. Ia mengadakan perjalanan sejauh 50.000 mil dan menghabiskan uangnya sendiri sebanyak 30.000 pound untuk memperjuangkan pembaruan penjara. Malangnya, mereka tergerak tetapi tidak termotivasi untuk mengubah keadaan. Ketika Howard kembali dari sebuah perjalanan yang menyiksa untuk mencari fakta di Italia, ia menyaksikan pengumpulan dana bagi sebuah patung untuk menghormati dia. Satu-satunya wujud peringatan yang diinginkannya, ia berkata pada mereka, adalah melanjutkan pembaruan penjara. Namun sampai awal tahun 1850-an keadaannya tetap sama.

Penerus John Howard yang hampir tidak dapat dipercaya ialah seorang wanita, Elizabeth Fry. Putri seorang pedagang wol dan bankir yang kaya, Elizabeth Gurney dibesarkan di keluarga Quaker yang liberal. Ketika la menjadi seorang gadis kecil, - ia membaca buku-buku Voltaire, Rousseau dan Thomas Paine. Pada usia tujuh belas tahun, dalam buku hariannya ia menulis bahwa ia tidak punya agama.

Akan tetapi tahun berikutnya ia bertemu dengan seorang Quaker dari Amerika, William Savery, yang mengajarkan dia tentang kehadiran Allah. Ia mulai menghadiri pertemuan Quaker yang lebih terbatas dan menjadi lebih serius akan imannya.

Pada usia kedua puluh, Elizabeth menikahi Joseph Fry, juga dari keluarga bankir yang kaya. Ia melahirkan sebelas orang anak. Namun, keterlibatannya dengan pertemuan Quaker bertumbuh, dan pada tahun 1811, pada usia tiga puluh tahun ia diakui sebagai seorang "pendeta".

Tiga tahun kemudian ia mengunjungi Newgate, sebuah penjara dekat London. Terkejut akan kondisinya, ia melakukan apa yang ia dapat, dengan membawa pakaian bagi anak-anak para narapidana wanita. Meskipun John Howard telah berusaha, namun sistem hukuman Inggris bertambah buruk. Antara tahun 1800 dan 1817, angka narapidana bertambah dua kali lipat, dan menimbulkan kepadatan luar biasa. Sesuatu harus dilakukan, khususnya bagi para wanita dan anak-anak, yang dalam banyak hal, satu-satunya kesalahan mereka adalah kemiskinan.

Pada tahun 1817, Fry mengorganisasi sebuah tim wanita untuk menjenguk narapidana wanita secara teratur, membacakan Alkitab kepada mereka, dan mengajar mereka menjahit. Pekerjaan berguna ini mengubah prilaku kehidupan para penghuni penjara itu. Banyak perusahaan di London mulai mendukung upayaupaya Fry dan ia pun dielu-elukan di seluruh Inggris.

Oleh karena perang melawan Napoleon usai, orang-orang Inggris mengalihkan perhatian mereka ke masalah-masalah lain. Satu di antaranya adalah reformasi penjara. Fry memperluas komite-komite wanita pelawat penjaranya ke kawasan-kawasan baru, dan pada tahun 1821 mendirikan British Society for Promoting Reformation of Female Prisoners (Perkumpulan Inggris untuk Meningkatkan Reformasi bagi Narapidana Wanita). Thomas Buxton, yang di kemudian hari akan membantu Wilberforce memenangkan perjuangan untuk memberantas perbudakan, menerbitkan suatu studi tentang penjara Newgate pada tahun 1818, yaitu ketika ia mempertanyakan apakah sistem hukuman sebenarnya membantu atau menyiksa masyarakat. Tidak lama kemudian, reformator ini mendapat perhatian dari Menteri Dalam Negeri Robert Peel yang berkuasa, yang mendesak melalui parlemen agar Undang-undang Penjara tahun 1823 dibatalkan.

Hal ini membarui penjara-penjara Inggris secara radikal dan membatasi jumlah pelanggaran yang digolongkan ke dalam hukuman mati (sampai 500). Robert Peel juga memprakarsai pasukan polisi tetap, yang anggotanya dikenal sebagai "bobbies", dari julukan Peel.

Sampai ajalnya pada tahun 1845, Fry terus meningkatkan perbaikan-perbaikan kondisi penjara. Meskipun negara Eropa lainnya mengikuti jejak Inggris, Inggris sendiri tampaknya kembali dengan sikap yang lebih keras. Namun upaya Fry abadi hasilnya. Bersama-sama dengan tokoh sezamannya, seperti William Wilberforce dan Goerge Mueller, ia mengajak generasi-generasi orang Kristen untuk memangku tanggung jawab sosial mereka secara serius. Ia juga melanjutkan tradisi turun-temurun, yaitu wanita adalah penunjuk jalan bagi usaha-usaha karitatif.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Sep 13, 2007 5:33 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 8006
78) Tahun 1830 Mulainya Kebangunan Rohani Perkotaan oleh Charles G. Finney



Image
Charles G. Finney (1792-1875)


Kebangunan rohani telah melanda selatan dan timur New England, sampai ke perbatasan barat Tennesee dan Kentucky menjelang tahun 1800. Sementara bergerak ke barat, kebangkitan itu semakin dikenal karena emosionalitas mereka yang bertobat.

Seperti kebanyakan Calvinis, para Presbiterian meragukan pertobatan yang beremosi tinggi itu, namun dari jajaran mereka sendiri muncul seorang revivalis abad kesembilan belas yang menarik dan efektif.

Charles Grandison Finney dilahirkan pada tahun 1792 di Connecticut. Seperti kebanyakan orang pada masanya, ia pindah ke barat – pada tahun 1794 orangtuanya pindah ke bagian barat New York. Finney muda belajar di sebuah biro hukum di Adams, New York dan telah diterima sebagai pengacara negara.

Ia tertarik pada Alkitab karena menemui banyak acuan ke Alkitab dalam buku-buku hukum. Finney mulai membaca firman Allah dan menghadiri kebaktian. Setelah pergumulan keras beberapa waktu lamanya, pada tahun 1821 ia bertobat. "Aku telah," katanya, "dibayar Tuhan Yesus Kristus untuk membela perkaraNya." Segera pula ia mulai berkhotbah.

Finney bergabung dengan Gereja Presbiterian dan ditahbiskan pada tahun 1824, setelah ia belajar dari pendetanya. Dengan menunggang kuda ia keluar masuk kampung, sambil mengumpulkan massa. Pengkhotbah yang berperawakan tinggi mempesona dan lantang ini berbicara kepada mereka dengan gaya langsung dan sederhana, seperti ia berhadapan dengan para juri.

Para pengkhotbah pertemuan kebangunan rohani terkenal dalam hal membangkitkan emosi. Meskipun Finney menghindari gaya teater di podium, namun ia berupaya mendapatkan perhatian para pendengarnya. la berkata, "Umat manusia tidak akan bertindak sebelum mereka tertarik." Dengan bekerja soma dengan Roh Kudus, ia berupaya menyampaikan firman Tuhan kepada orang banyak.

Pada tahun 1830, Finney memimpin kebangunan rohani yang meraih sukses hebat di Rochester, New York. Sejak itu, kebangunan rohani menjadi ciri kehidupan perkotaan Amerika.

Pada tahun 1832, Finney pindah ke Gereja Presbiterian Kedua di New York City. Tetapi ia selalu keberatan dengan Presbiterian bermuatan Calvinisme yang tinggi, dan pada tahun 1834 pindah lagi ke Gereja Kongregasional, Broadway Tabernacle, yang dibangun khusus untuknya.

Beberapa metode kebangunan rohani Finney — yang disebut langkah-langkah baru berasal dari para pengkhotbah di perbatasan yang menekankan emosionalisme. Ia menggunakan "bangku kerinduan", yang ditempatkan di depan, agar orang-orang berdosa dapat minta didoakan. Finney mengadakan pertemuan-pertemuan semalam suntuk untuk tnendoakan orang-orang berdosa dengan menyebutkan nama yang bersangkutan, dan para wanita dapat berdoa di muka umum. Meskipun ia tidak mendorong mereka, para revivalis diperkenankan berteriak, meratap dan menunjukkan tanda-tanda emosi lainnya. Langkah-langkah baru ini merupakan standar karya kebangunan rohani. Gereja-gereja yang menganutnya bertumbuh, sekalipun banyak kritikan akan cara-cara ini.

Sebelum Finney mengunjungi sebuah kota, ia merekrut para pendeta dan orang-orang awam dari gereja-gereja setempat. XIereka mengorganisasi pertemuan-pertemuan doa, dan setelah pertemuan kebangunan rohani, mereka dapat bekerja dengan para petobat baru dengan mengunjungi dan mengundang tnereka ke gereja. Jika gereja-gereja setempat tidak bersedia terlibat dalam tindak lanjutnya, Finney tidak akan berkhotbah di tempat tersebut. Itu merupakan peraturan penting.

Selain itu, para pendukung setempat menyebarkan brosur, menempelkan poster-poster dan memasang iklan pada berbagai surat kabar. Promosi telah menjadi bagian dari pekabaran Injil.

Meskipun harus berhadapan &ngan oposisi, namun tenaga, tekad dan kecerdasan Finney – dan sukses langkah-langkah barunya – menjadikan ide-idenya populer. Kebangunan rohani modern telah dimulai.

Dalam tulisannya Lectures on Revivals of Religion (Kuliah tentang Kebangkitan Agama) yang dipublikasikan pada tahun 1835, Finney menjelaskan, "Kebangunan rohani bukanlah mujizat atau bergantung pada mujizat dalam hal apa pun, tetapi merupakan hasil tepat guna dari cara-cara yang sudah ada."

Metode Finney diterima dengan baik oleh sebuah negara yang telah mengembangkan pandangan yang tinggi akan nilai manusia biasa di bawah demokrasi model Jackson. Para revivalis telah membuat orang biasa sebagai partisipan dalam drama religius yang agung, dan mengajak mereka agar yakin bahwa tiap pribadi dapat membuat pilihan yang tepat bagi Tuhan. Dengan berfokus pada kemampuan tiap orang untuk menilai dirinya sendiri, ia sependapat dengan ide orang Amerika bahwa seorang pegawai atau bocah peladang mempunyai rasio yang sama nilainya dengan pemilik perkebunan.

Pada tahun 1835, Finney pergi ke Oberlin College untuk mengajar teologi. Enam tahun kemudian ia menjadi ketua perguruan tersebut. Ia mengadakan kebangunan rohani terus-menerus sampai is wafat pada tahun 1875.

Tidak ada komentar: