Sabtu, 30 Juni 2012

Di Antara Jerat‑jerat

Pasal 50

Di Antara Jerat‑jerat

SELAMA Yesus di Yerusalem sepanjang hari raya itu Ia dibayangi oleh mata‑mata. Dari hari ke hari rencana‑rencana baru untuk mendiamkan Dia telah dicoba. Imam‑imam dan penghulu‑penghulu memperhatikan dengan cermat untuk menjebak Dia. Mereka sedang berencana hendak menghentikan Dia dengan kekerasan. Tetapi bukan ini saja. Mereka mau merendahkan rabbi Galilea ini di hadapan orang banyak.
Pada hari pertama kehadiran‑Nya pada hari raya itu, penghulu‑penghulu telah datang kepada‑Nya, sambil menuntut dengan kuasa apa Ia mengajar. Mereka ingin mengalihkan perhatian dari Dia kepada pertanyaan mengenai hak‑Nya untuk mengajar, dan dengan demikian kepada pentingnya mereka dan kekuasaan mereka sendiri.
"Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri," kata Yesus, "tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri."
-------------------
Pasal ini dialaskan atas Yohanes 7:16‑36, 40‑53; 8:1‑11.

Yoh. 7:16, 17. Pertanyaan para pengeritik ini dihadapi oleh Yesus, bukannya oleh menjawab kritik itu, melainkan oleh memaparkan kebenaran yang penting sekali demi keselamatan jiwa. Ia mengatakan bahwa pengertian dan penghargaan akan kebenaran bergantung pada hati lebih daripada pikiran. Kebenaran harus diterima ke dalam jiwa, dan dituntutnya pernyataan bakti daripada kemauan. Jika kebenaran dapat diserahkan kepada pertimbangan itu saja, maka kesombongan tidak akan merupakan penghalang untuk menerimanya. Tetapi kebenaran itu harus diterima dengan perantaraan pekerjaan anugerah dalam hati; dan penerimaannya bergantung pada pembuangan setiap dosa yang dinyatakan oleh Roh Allah. Kesempatan manusia untuk mendapat pengetahuan akan kebenaran, betapa besarnya sekali pun, akan terbukti tidak bermanfaat baginya kecuali hati terbuka untuk menerima kebenaran, dan dengan sungguh‑sungguh ada penyerahan setiap kebiasaan yang bertentangan dengan prinsip‑prinsipnya. Bagi mereka yang menyerahkan diri dengan cara demikian kepada Allah, dengan kerinduan yang jujur untuk mengetahui dan melakukan kehendak‑Nya, kebenaran itu dinyatakan sebagai kuasa Allah untuk keselamatan mereka. Orang‑orang ini akan sanggup membedakan antara dia yang berbicara bagi Allah, dan dia yang berbicara hanya dari dirinya sendiri. Orang Farisi tidak menaruh kemauan mereka di pihak kemauan Allah. Mereka tidak berkuasa mengetahui kebenaran, melainkan mencari suatu maaf untuk menghindarinya; Kristus menunjukkan bahwa inilah sebabnya mereka tidak mengerti akan ajaran‑Nya.
Sekarang Ia memberikan suatu ujian yang dengan itu guru sejati dapat dibedakan dari sipenipu: "Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya." Yoh. 7:18. Ia yang mencari kemuliaannya sendiri berbicara hanya dari dirinya sendiri. Roh itu menunjukkan bahwa hal itu sangat memanjakan dirinya. Tetapi Kristus mencari kemuliaan Allah. Ia mengucapkan sabda Allah. Inilah bukti kekuasaan‑Nya sebagai seorang guru kebenaran.
Yesus memberikan kepada rabbi‑rabbi suatu bukti keilahian‑Nya dengan menunjukkan bahwa Ia membaca hati mereka. Sejak penyembuhan di Baitesda mereka telah bersekongkol hendak membunuh Dia. Dengan demikian mereka sendiri melanggar hukum yang sedang mereka pura‑pura pertahankan. "Tiadakah Musa memberi taurat kepadamu?" kata‑Nya. "Maka seorang pun tiada daripada kamu yang melakukan taurat itu. Apakah sebabnya kamu mencari jalan hendak membunuh Aku?"
Laksana suatu cahaya sinar yang cepat perkataan ini menyatakan kepada rabbi‑rabbi jurang kebinasaan yang ke dalamnya mereka hampir terjun. Seketika lamanya mereka dipenuhi dengan ketakutan. Mereka melihat bahwa mereka ada dalam pertentangan dengan Kuasa Yang Tidak Terbatas. Tetapi mereka tidak mau diamarkan. Untuk mempertahankan pengaruh mereka kepada orang banyak, rencana mereka untuk membunuh harus disembunyikan. Untuk menghindari pertanyaan Yesus, mereka berseru, "Engkau ada bersetan. Siapakah gerangan mencari jalan hendak membunuh engkau?" Mereka menyindir bahwa perbuatan Yesus yang ajaib itu dihasut oleh roh jahat.
Kristus tidak menghiraukan sindirian itu. Ia meneruskan untuk menunjukkan bahwa penyembuhan‑Nya di Baitesda sesuai dengan hukum Sabat, dan bahwa hal itu dibenarkan oleh tafsiran orang Yahudi sendiri terhadap hukum itu. Ia berkata, "Maka Musa sudah memberi kamu hukum bersunat itu . . . maka kamu menyunatkan orang pada hari Sabat." Sesuai dengan hukum, setiap anak harus disunat pada hari kedelapan. Sekiranya hari kedelapan jatuh pada hari Sabat, upacara harus dilakukan pada saat itu. Lebih‑lebih pula hal itu harus sesuai dengan‑roh hukum itu untuk "menyembuhkan seorang seluruh tubuhnya pada hari Sabat." Dan Ia mengamarkan kepada mereka agar jangan "hakimkan menurut rupa sahaja, melainkan jatuhkanlah hukum dengan adil."
Penghulu‑penghulu terdiam, dan banyak dari orang banyak itu berseru, Bukankah ini Dia yang dicari orang jalan hendak membunuh? Tengoklah, Ia berkata‑kata dengan bebasnya, maka mereka itu tiada berkata apa‑apa kepada‑Nya. Bolehkah jadi yang segala penghulu itu tahu dengan sesungguhnya bahwa Ia inilah Kristus?"
Banyak dari antara para pendengar Kristus yang tinggal di Yerusalem, yang bukannya tidak tahu akan rencana jahat penghulu‑penghulu untuk melawan Dia, merasa diri mereka tertarik kepada‑Nya oleh kuasa yang tidak dapat dihalangi. Keyakinan menyatakan dengan tegas kepada mereka bahwa Ialah Anak Allah. Tetapi Setan bersedia memasukkan kebimbangan, dan untuk inijalan disediakan oleh pendapat mereka sendiri yang keliru tentang Mesias dan kedatangan‑Nya. Umumnya orang percaya bahwa Kristus akan dilahirkan di Betlehem, tetapi bahwa beberapa waktu lamanya Ia akan menghilang, dan pada waktu Ia muncul kedua kalinya tidak seorang pun mengetahui dari mana Ia datang. Bukan sedikit orang yang percaya bahwa Mesias tidak akan mempunyai hubungan alamiah dengan manusia. Dan karena pendapat khalayak ramai tentang kemuliaan Mesias tidak dipenuhi oleh Yesus orang Nazaret, maka banyak orang memperhatikan perasaan itu, "Memang akan orang ini kami tahu darimana asalnya; tetapi apabila Kristus datang kelak, tiada seorang pun yang mengetahui darimana asalnya."
Sementara mereka ragu‑ragu antara kebimbangan dan iman, Yesus membaca pikiran mereka dan menjawab mereka: "Kamu sekalian mengenal Aku, dan kamu pula mengetahui darimana asal‑Ku; dan tiada Aku datang dengan kehendak‑Ku sendiri, melainkan Ia yang menyuruhkan Aku itu ada benar, yaitu yang tiada kamu kenal. "Mereka menuntut suatu pengetahuan tentang apa sebenarnya asal‑mula Kristus, tetapi mereka sangat tidak mengetahuinya. Sekiranya mereka telah hidup sesuai dengan kehendak Allah, maka mereka akan mengenal Anak‑Nya ketika Ia dinyatakan kepada mereka.
Setidak‑tidaknya para pendengar mengerti akan perkataan Kristus. Jelaslah bahwa perkataan itu merupakan ulangan tuntutan yang telah diadakan‑Nya di hadapan Sanhedrin berbulan‑bulan sebelumnya, ketika Ia menyatakan diri‑Nya sebagai Anak Allah. Sebagaimana pada saat itu penghulu‑penghulu berusaha merencanakan kematian‑Nya, demikian juga sekarang mereka berusaha menangkap Dia; tetapi mereka dihalangi oleh kuasa yang tidak kelihatan, yang membatasi amarah mereka, yang mengatakan kepada mereka, sekian jauhnya kamu boleh pergi, dan jangan lebih jauh.
Di antara khalayak ramai banyak yang percaya kepada‑Nya, dan mereka berkata, "Apabila Kristus datang, adakah Ia mengadakan tanda ajaib lebih banyak daripada yang diadakan oleh orang ini?" Para pemimpin orang Farisi, yang memperhatikan dengan cemasnya jalannya peristiwa, melihat adanya pernyataan simpati di antara orang banyak itu. Setelah lekas‑lekas mendapatkan imam‑imam besar, mereka mengadakan rencana untuk menangkap Dia.
Tetapi mereka mengatur hendak menangkap Dia ketika Ia sendirian, karena mereka tidak berani menangkap Dia di hadapan orang banyak. Sekali lagi Yesus menunjukkan dengan jelas bahwa Ia membaca niat mereka. "Hanyalah seketika lamanya lagi Aku bersama‑sama dengan kamu, lalu Aku pergi kepada Dia yang menyuruhkan Aku. Kamu akan mencari Aku, maka tiada kamu dapat, dan di mana Aku ada, kamu ini tiada boleh datang." Tidak lama lagi Ia akan mendapat perlindungan yang tidak dapat dicapai oleh celaan dan kebencian mereka. Ia akan naik kepada Bapa, sekali lagi dipuja oleh malaikat‑malaikat; dan ke tempat itulah para pembunuh‑Nya sekali‑kali tidak dapat sampai.
Dengan nada mengejek rabbi‑rabbi berkata, "Ke manakah orang ini hendak pergi yang kita tiada boleh dapat Dia? Hendak pergi kepada orang yang tercerai‑berai di antara orang Gerika, serta mengajar orang Gerikakah?" Sedikit sekali para pengeritik ini mengimpikan bahwa dalam perkataan mereka yang mengejek itu mereka sedang menggambarkan tugas Kristus. Sepanjang hari telah mengulurkan tangan‑Nya kepada orang banyak yang tidak menurut dan membantah itu, meski pun demikian Ia akan didapat oleh mereka yang tidak mencari Dia; di antara orang banyak yang tidak menyebut nama‑Nya Ia akan dinyatakan. Roma 10:20, 21.
Banyak orang yang diyakinkan bahwa Yesus adalah Anak Allah disesatkan oleh pertimbangan yang keliru dari imam‑imam dan rabbi‑rabbi. Guru‑guru ini telah mengulangi nubuatan‑nubuatan tentang Mesias dengan besar hasilnya bahwa Ia akan "memerintah di gunung Sion dan di Yerusalem, dan Ia akan menunjukkan kemuliaan-Nya di depan tua-tua umat-Nya." "Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!" Yes. 24:23; Mzm. 72:8. Kemudian mereka mengadakan perbandingan yang memandang rendah antara kemuliaan yang digambarkan di sini dengan rupa Yesus yang hina itu. Justeru perkataan nubuatan sangatlah diputar‑balikkan agar membenarkan kesalahan. Sekiranya orang banyak dengan ketulusan hati mempelajari sabda itu bagi diri mereka sendiri, maka sudah tentu mereka tidak akan tersesat. Yesaya pasal enampuluh satu menyaksikan bahwa Kristus harus melakukan pekerjaan yang dilakukan‑Nya itu. Pasal limapuluh tiga menyatakan perihal la ditolak serta penderitaan‑Nya di dunia, dan pasal limapuluh sembilan melukiskan tabiat imam‑imam dan rabbi‑rabbi.
Allah tidak memaksa manusia meninggalkan kurang percaya mereka. Di hadapan mereka adalah terang dan kegelapan, kebenaran dan kesalahan. Merekalah yang harus memutuskan mana yang akan mereka terima. Pikiran manusia dianugerahi kuasa untuk membedakan yang benar dan yang salah. Allah merencanakan agar manusia tidak mengambil keputusan dari dorongan hati, melainkan dari kuatnya bukti, membandingkan ayat Kitab Suci dengan ayat Kitab Suci dengan saksama. Sekiranya orang Yahudi telah mengesampingkan prasangka dan membandingkan nubuatan yang tersurat dengan kenyataan yang menjadi ciri‑ciri kehidupan Yesus, maka sudah tentu mereka akan melihat keselarasan yang indah antara nubuatan‑nubuatan dan kegenapannya dalam kehidupan dan pelayanan orang Galilea yang hina itu.
Banyak orang tertipu dewasa ini dalam cara yang sama seperti orang Yahudi. Guru‑guru agama membaca Alkitab dalam terang pengertian mereka sendiri dan tradisi; dan orang banyak tidak menyelidiki Alkitab bagi diri sendiri, dan menghakimkan bagi diri sendiri mengenai apakah kebenaran itu; tetapi mereka meninggalkan pertimbangan mereka dan menyerahkan jiwa mereka kepada para pemimpin mereka. Memasyhurkan dan mengajarkan sabda‑Nya, adalah salah satu ikhtiar yang telah ditentukan Allah untuk memancarkan terang; tetapi kita harus menguji setiap ajaran manusia dengan Kitab Suci. Siapa saja yang mau menyelidiki Alkitab dengan doa, dengan keinginan untuk mengetahui kebenaran agar ia menurutnya, akan menerima penerangan Ilahi. Ia akan mengerti Kitab Suci. "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri." Yoh. 7:17.
Pada hari terakhir masa raya itu, hamba‑hamba yang diutus oleh imam‑imam dan penghulu‑penghulu untuk menangkap Yesus, kembali tanpa Dia. Mereka ditanyai dengan marahnya, "Apakah sebabnya kamu tiada membawa Dia?" mereka hanya dapat menjawab, "Belum pernah orang berkata‑kata seperti orang ini."
Imam‑imam dan penghulu‑penghulu, ketika datang mula‑mula ke hadapan Kristus, telah merasakan keyakinan seperti itu. Hati mereka sangat terharu, dan pendapat dipaksakan kepada mereka, "Belum pernah orang berkata‑kata seperti orang ini." Tetapi mereka telah memadamkan keyakinan Roh Kudus. Sekarang, dalam kemarahan karena alat hukum sekali pun dipengaruhi oleh orang Galilea yang dibenci itu, mereka berseru, "Sudahkah kamu juga tersesat? Adakah seorang jua pun daripada sekalian penghulu atau orang Farisi, yang percaya akan Dia? Cih, orang ramai ini, yang tiada tahu akan taurat itu, terkutuklah mereka itu."
Mereka yang kepadanya pekabaran kebenaran diucapkan jarang bertanya, "Bernarkah itu?" melainkan, "Oleh siapakah hal itu dianjurkan?" Orang banyak menilainya oleh banyaknya orang yang menerimanya, dan pertanyaan masih ditanyakan, "Adakah orang terpelajar atau pemimpin agama yang telah mempercayainya?" Orang‑orang tidak lebih menyukai kesalehan sejati sekarang daripada pada zaman Kristus. Mereka justeru bersungguh‑sungguh mencari keuntungan duniawi, sehingga melalaikan kekayaan abadi; dan hal itu bukannya merupakan suatu bantahan terhadap kebenaran, yang banyak orang tidak bersedia menerimanya, atau tidak diterima oleh orang‑orang besar di dunia, malah oleh para pemimpin agama.
Sekali lagi imam‑imam dan penghulu‑penghulu melanjutkan rencana hendak menangkap Yesus. Ditegaskan bahwa jika Ia diberi kebebasan lebih lama, Ia akan menarik orang banyak dari para pemimpin yang sudah ditetapkan, dan satu‑satunya jalan yang aman ialah mendiamkan Dia tanpa bertangguh. Ketika mereka sedang ramai memperbincangkannya, dengan tiba‑tiba mereka dihentikan. Nikodemus bertanya, "Adakah taurat itu menghukumkan orang, sebelum didengar apa yang dikatakannya, dan diketahui apa yang diperbuatnya?" Perhimpunan itu pun terdiamlah. Perkataan Nikodemus menempelak angan‑angan hati mereka. Mereka tidak dapat mempersalahkan seseorang tanpa memberi dia kesempatan untuk membela diri. Tetapi bukan saja untuk alasan ini penghulu‑penghulu yang congkak itu tinggal diam, sambil memandang kepadanya yang telah berani berbicara di pihak keadilan. Mereka dikejutkan dan dikecewakan karena salah seorang dari mereka sendiri sudah sangat dipengaruhi dengan tabiat Yesus sehingga ia mengucapkan suatu perkataan untuk membela‑Nya. Setelah sadar kembali dari keheranan, mereka menyapa Nikodemus dengan sindiran yang tajam, "Engkau pun dari Galileakah? Selidiklah dan amatilah, bahwa dari Galilea itu tiada terbit seorang nabi pun."
Meskipun demikian protes itu mengakibatkan ditangguhkannya tindakan majelis itu. Penghulu‑penghulu tidak sanggup melaksanakan niat mereka dan menghukum Yesus tanpa memberikan kesempatan untuk membela diri. Karena telah dikalahkan pada saat itu, "Masing‑masing pun pulanglah ke rumahnya. Tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun."
Dari kesibukan dan kebingungan kota itu, dari orang banyak yang berhasrat dan rabbi‑rabbi yang tidak dapat dipercayai, Yesus berbalik ke ketenangan semak pohon zaitun, di mana Ia dapat sendirian dengan Allah. Tetapi pagi‑pagi benar Ia pun kembalilah ke kaabah, dan ketika orang banyak mengerumuni Dia, Ia pun duduklah dan mengajar mereka.
Tidak lama kemudian Ia pun terganggulah. Serombongan orang Farisi dan ahli Taurat menghampiri Dia, dengan menyeret seorang wanita yang sangat ketakutan, yang dengan suara yang keras penuh hasrat mereka tuduh melanggar hukum ketujuh. Setelah mendorong dia ke hadapan Yesus, mereka mengatakan kepada‑Nya, dengan pura‑pura menunjukkan hormat. "Di dalam taurat dipesan oleh Musa akan merajam perempuan yang demikian. Apakah kata Guru dari halnya?"
Rasa penghormatan mereka yang pura‑pura menyelubungi rencana jahat yang terpendam dalam hati mereka untuk membinasakan Dia. Mereka telah menggunakan kesempatan ini untuk menyalahkan Dia, dengan berpendapat bahwa keputusan apa saja yang diambil‑Nya, mereka akan mendapat alasan untuk menuduh Dia. Seandainya Ia membebaskan wanita itu, Ia mungkin dituduh menghina hukum Musa. Seandainya Ia menyatakan wanita itu patut dibunuh, Ia dapat dituduh kepada orang Roma sebagai seorang yang mengambil kekuasaan yang hanya menjadi hak mereka.
Yesus memandang seketika lamanya pada peristiwa itu—mangsa yang gemetar dalam perasaan malu, para pemuka yang berwaja kejam, yang tidak mempunyai belas kasihan manusia sekali pun. Roh kesucian‑Nya yang tidak bercacat‑cela itu tidak menyukai pemandangan yang ada di hadapannya. Ia mengetahui benar untuk maksud apa perkara ini telah dibawa kepada‑Nya. Ia membaca hati, dan mengetahui tabiat dan sejarah hidup setiap orang di hadapan‑Nya. Orang‑orang yang seharusnya menjaga keadilan justeru mereka sendirilah yang menuntun mangsa mereka ke dalam dosa, supaya mereka dapat memasang jerat bagi Yesus. Tanpa memberikan tanda bahwa Ia telah mendengar pertanyaan mereka, Ia pun membungkuklah, dan sambil menatap tanah, mulailah Ia menulis di tanah.
Karena tidak sabar lagi melihat Yesus berlambat‑lambat dan tampaknya bersikap acuh tak acuh, para penuduh itu pun mendekati‑Nya, sambil mendesakkan persoalan itu agar mendapat perhatian‑Nya. Tetapi ketika mata mereka mengikuti mata Yesus dan tertuju di tempat Ia berdiri, berubahlah air muka mereka. Di situlah, tertera di hadapan mereka rahasia‑rahasia kesalahan dari kehidupan mereka sendiri. Orang banyak yang menonton melihat perubahan air muka yang tiba‑tiba, dan mendesak maju ke muka hendak mengetahui apa yang sedang mereka perhatikan dengan perasaan heran dan malu.
Dengan segala pengakuan bahwa mereka menghormati hukum, rabbi‑rabbi ini tidak mengindahkan syarat‑syaratnya dalam menuduh wanita itu. Suamilah yang berkewajiban mengambil tindakan terhadap dia, dan pihak‑pihak yang bersalah harus sama‑sama dihukum. Tindakan para penuduh itu semata‑mata tidak dikuasakan kepada mereka. Meski pun demikian, Yesus menemui mereka sebagaimana mereka ada. Hukum memperincikan bahwa dalam menghukum dengan melempari batu, saksi‑saksi dalam perkara itu harus mula‑mula melontarkan sebuah batu. Sekarang sambil berdiri dan menatap tua‑tua yang berencana jahat ini, Yesus berkata, "Siapa di antara kamu yang tiada berdosa, hendaklah ia dahulu melempar batu kepada perempuan ini." Dan sambil membungkuk, Ia meneruskan menulis di tanah.
Ia tidak mengesampingkan hukum yang diberikan dengan perantaraan Musa, atau pun melanggar kekuasaan Roma. Para penuduh sudah dikalahkan. Sekarang, karena jubah kesucian sekedar rupa itu sudah dicarik dari mereka, berdirilah mereka dalam keadaan bersalah dan dihukum di hadapan Kesucian Yang Tidak Terbatas. Mereka gemetar agar jangan kesalahan dalam kehidupan mereka yang tersembunyi itu dipaparkan kepada orang banyak; dan seorang demi seorang, dengan menundukkan kepala dan mata yang memandang ke bawah, mereka pun pergilah dengan diam‑diam, seraya meninggalkan mangsa mereka dengan Juruselamat yang penuh belas kasihan.
Yesus berdiri, dan sambil memandang pada perempuan itu berkata, "Hai perempuan, di manakah mereka itu? Tiadakah seorang pun yang menyalahkan engkau? Maka kata perempuan itu: Seorang pun tiada, ya Rabbi. Lalu kata Yesus kepadanya: Kalau demikian Aku ini pun tiada mau menghukumkan engkau; pergilah engkau, dan daripada sekarang ini jangan berbuat dosa lagi."
Wanita itu telah berdiri di hadapan Yesus, sambil membungkuk karena ketakutan. Perkataan‑Nya, "Siapa di antara kamu yang tiada berdosa, hendaklah ia dahulu melempar batu kepada perempuan ini," telah sampai kepadanya sebagai suatu hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya. Ia tidak berani memandang kepada wajah Juruselamat, melainkan menunggu nasibnya dengan tenang. Dengan keheranan ia melihat para penuduhnya meninggalkan tempat itu dalam keadaan bungkam dan bingung; kemudian perkataan harapan itu sampai ke telinganya, "Aku ini pun tiada mau menghukumkan engkau; pergilah engkau dan daripada sekarang ini jangan berbuat dosa lagi." Hatinya hancur, dan ia tersungkur di kaki Yesus, sambil tersedu‑sedu karena kasihnya yang penuh rasa terima kasih, dan dengan air mata sedih mengakui dosa‑dosanya.
Inilah permulaan hidup baru baginya, suatu hidup kesucian dan damai, diabdikan pada pekerjaan Allah. Dalam mengangkat jiwa yang jatuh ini, Yesus mengadakan suatu mukjizat yang lebih besar daripada dalam menyembuhkan penyakit jasmani yang paling menyedihkan; Ia menyembuhkan penyakit rohani yang membawa kepada kematian kekal. Wanita yang bertobat ini menjadi salah seorang pengikut‑Nya yang paling tekun. Dengan kasih dan ketekunan yang mengorbankan diri ia membalas kemurahan‑Nya yang mengampuni itu.
Dalam tindakan‑Nya memaafkan wanita ini serta memberanikan dia untuk hidup lebih baik, tabiat Yesus bersinar dalam keindahan kebenaran yang sempurna. Meski pun Ia tidak memaafkan dosa, atau pun mengurangi perasaan bersalah, namun Ia tidak berusaha menghukum, melainkan menyelamatkan. Dunia memberikan hanya penghinaan dan ejekan kepada wanita yang bersalah ini; tetapi Yesus mengucapkan perkataan penghiburan dan harapan. Ia Yang Tidak Berdosa menaruh belas kasihan terhadap kelemahan orang berdosa, dan mengulurkan tangan untuk menolong dia. Meski pun orang Farisi yang pura‑pura itu menuduh, namun Yesus menyuruh dia, "Pergilah engkau dan . . . jangan berbuat dosa lagi."
Orang yang mengalihkan pandangan dan berbalik dari orang yang bersalah, meninggalkan mereka untuk mengikuti jalan mereka kepada kebinasaan dengan leluasa, bukannya pengikut Kristus. Mereka yang cepat menuduh orang‑orang lain, dan rajin membawa orang‑orang itu untuk diadili, sering dalam kehidupan mereka sendiri lebih bersalah dari orang‑orang yang mereka tuduh itu. Manusia membenci orang berdosa, sedangkan mereka mengasihi dosa. Kristus membenci dosa, tetapi mengasihi orang berdosa. Inilah yang akan menjadi roh semua orang yang mengikut Dia. Kasih orang Kristen larnbat mengeritik, cepat melihat penyesalan, bersedia mengampuni, memberanikan, menuntun orang yang tersesat pada jalan kesucian, dan menetapkan kakinya di jalan itu.




Posting Komentar