Kamis, 14 Juni 2012

Gerakan-Gerakan yang Timbul Untuk Menuju Reformasi Gereja

Gerakan-Gerakan yang Timbul Untuk Menuju Reformasi Gereja


http://christianreformedink.wordpress.com/reformed-theology-2/ecclesiology/reformation-events/gerakan-gerakan-yang-timbul-untuk-menuju-reformas-gereja/

Sejak permulaan abad ke-14, gerakan-gerakan pikiran yang baru menantang gereja. Salah satunya disebut  Nominalisme. William dari Okham menantang semacam teori yang telah diajarkan Aquinas. Dia menyatakan bahwa konsepsi universal tidak mempunyai keberadaan. Sehingga tidak dapat mengatur sistem-sistem pikiran melalui pengunaan akal dan oleh karena itu tidak mungkin dapat mengerti Tuhan dengan akal. Itu berarti bahwa semua ajaran gereja harus diterima oleh iman. Ajaran tersebut tidak dapat dibuktikan oleh akal. Skeptisisme ini berpengaruh kuat pada gereja, dan meskipun ajaran itu ditolak oleh gereja, ajaran tersebut mencarikan jalannya masuk ke universitas-universitas, dan mempunyai pengaruh yang panjang. Ajaran ini juga mempengaruhi kaum Reformis.

John Wyclif, dari Universitas Oxford, adalah salah satu ahli filsafat yang terkemuka pada zamannya. Dia mengajarkan bahwa gereja yang benar adalah gereja yang rohani dan tak kelihatan, dan hanya beranggotakan orang-orang yang diselamatkan. Dia berpendapat bahwa gereja yang tampak, yang diperintah oleh Paus-paus dan bishop-bishop tidak dapat menjadi gereja yang benar. Dia juga mengajarkan bahwa Kristus hidup dalam kemiskinan, dan gereja adalah tubuh rohani semata-mata tanpa kekayaan. Dia berpendapat bahwa otoritas dalam gereja harus didasarkan pada Alkitab, dan bahwa semua ajaran dan perbuatan gereja seharusnya diuji berdasarkan Alkitab. Oleh karena itu dia ingin agar setiap orang dapat membacanya. Wyclif juga menentang ajaran transubstansiasi. Dia juga orang pertama yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, tetapi pada tahun 1407 semua versi Alkitab dalam bahasa Inggris dilarang. Setelah kematiannya pada tahun 1384, pengikutnya, dikenal sebagai Lollards (istilah yang  berarti orang yang suka beromong kosong), terus membaca tulisannya, tetapi mereka, pada umumnya, dianiaya, dan tidak dapat mengembangkan ajaran lebih lanjut.

Di Bohemia, Johnn Huss, dekan Fakultas Filsafat pada Universitas Prague, tertarik pada ide-ide Wyclif. Dia berkata dengan tegas untuk mereformasi gereja, tetapi dia dikucilkan oleh salah satu dari ketiga Paus. Dia naik banding ke Konsili Umum yang mengadakan pertemuan di Constance pada tahun 1415. Konsili itu menyelesaikan masalah tentang tiga paus, tetapi menjatuhkan hukuman terhadap Huss. Dia dibakar mati di tiang pembakaran. Pemberontakan nasional di Czechoslovakia terjadi setelah kematiannya. Beberapa penganutnya menetap di Moravia, dan  berpengaruh di Inggris pada masa Wesley, pada abad ke-18.

Reformasi dan perubahan lain dicoba pada akhir abad ke-15. Savanarola di Florence mencoba mereformasi kehidupan orang-orang Kristen dan gereja. Dia meyakinkan orang-orang untuk melepaskan kekayaan mereka dan untuk hidup sederhana. Dia sangat populer untuk sementara waktu di Florence, tetapi akhirnya Paus dan gereja menjadi terlalu kuat, dan dia dibakar sebagai seorang yang bidah.

Di Inggris, William Tyndale menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris pada permulaan abad ke-16.  Tyndale adalah sarjana dari Universitas Oxford yang dipaksa melarikan diri ke Belanda karena kepercayaannya. Pada tahun 1525-6 Tyndale menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris. Alkitab Inggris ini menjadi dasar untuk semua terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris kelak. Sebelum wafatnya sekitar 16,000 jilit Alkitab Inggris diselundupkan ke Inggris. Tyndale dibunuh di Belanda pada tahun 1536 oleh petugas Kaisar Roma Suci dengan persetujuan Bishop London dan Raja Henry VIII.

Di Italia humanisme berkembang sementara para peneliti menolak perdebatan kaum skolastik dan mulai mencari pengertian hidup manusia melalui sastra kuno. Perhatian baru terhadap karya tulis yang berasal dari Yunani dan Romawi kuno timbul.   Akibat perluasan Kekaisaran Ottoman (Turki), banyak naskah purbakala tersebar dari tempat di Timur, seperti Constantinople (Istanbul), ke Eropa.  Naskah itu dibawa oleh para pengungsi. Sarjana-sarjana mengumpulkan naskah kuno dan menerbitkan edisi yang baru. Gerakan ini dikenal sebagai Renaissance. Mesin cetak dikembangkan pada abad ke-15 dan gagasan-gagasan baru mulai meluas.

Di Eropa utara gerakan baru yang dikenal sebagai Devotio Moderna mulai mentransformasikan kehidupan para orang Kristen. Tujuannya adalah hidup sederhana, yang penuh dengan doa-doa dan ibadah. Biara-biara baru didirikan. Erasmus, seorang Belanda, adalah biarawan Augustine yang dipengaruhi oleh Devotio Moderna. Dia tidak menyukai hidup sebagai biarawan, dia malah menjadi editor naskah-naskah. Dia beralih ke teologi, belajar bahasa Yunani, dan kemudian menerbitkan  edisi baru karya bapa-bapa gereja Latin dan Yunani, dan juga pada tahun 1516, edisi baru Perjanian Baru dalam bahasa Yunani. Peristiwa ini  berpengaruh kuat pada cara orang Kristen memahami imannya, karena naskah Perjanjian Baru ini memberikan pengertian yang berbeda.  Sebelumnya orang membaca Alkitab versi Vulgate dalam bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh Jerome pada abad ke-14. Perjanjian Baru Erasmuslah yang merupakan Alkitab terpenting di tangan kaum Reformis.

Pada tahun 1517 Martin Luther, seorang biarawan Jerman, menentang Gereja Jerman, dan kemudian juga Sri Paus,  mengenai banyak penyalahgunaan yang berkembang di Gereja, misalnya penjualan Indulgences (yaitu, “surat penghapusan dosa, atau surat jaminan pengurangan hukuman dalam api penyucian” – istilahnya adalah Purgatory)

Banyak penyalahgunaan yang terjadi di Gereja didasarkan atas pikiran bahwa orang harus melakukan perbuatan baik agar diselamatkan; tetapi apabila perbuatan baik itu tidak cukup, jasa orang kudus dapat ditambahkan pada perbuatan baik tersebut.

Salah satu masalah yang paling penting pada masa Reformasi adalah mengenai bagaimana orang mendapatkan pembenaran Allah. Menurut Luther pesan Alkitab yang jelas adalah bahwa pembenaran hanya terjadi karena iman.

Luther menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman supaya orang Kristen Jerman bisa membaca Alkitab dalam bahasanya sendiri ketimbang dalam bahasa Latin.

Lutheranisme

Pada tahun 395 Augustine menjadi Bishop Hippo di Afrika Utara. Tulisan-tulisannya tentang gereja dan tentang keselamatan menjadi penting sejak waktu itu. Pada tahun 1490 seorang pencetak Swis mencetak edisi baru karya Augustine (diperlukan 16 tahun untuk menyelesaikannya). Pemikiran baru yang terkandung dalam karya Augustine ini telah mempengaruhi banyak orang dalam lingkup gereja; salah satu di antaranya adalah Martin Luther.

Luther adalah biarawan dari ordo religius Augustinian, dan dosen teologi pada Universitas Wittenberg. Kuliahnya tentang kitab Mazmur dan Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma memberikan pengertian baru tentang pembenaran karena iman. Pada tahun 1517 Luther memesang 95 Tesis pada pintu gereja di Wittenberg. Dia mengundang orang lain untuk memperdebatkan masalah gereja yang menurutnya harus diubah.

Protes Luther tidak hanya terbatas pada penyalahgunaan yang terjadi dalam gereja. Ia juga terdorong oleh gagasan besar bahwa seseorang dibenarkan oleh Allah melalui iman karena kasih karunia Allah. Luther memperoleh gagasan ini dari Augustine dan  dari Alkitab.

Luther dikucilkan dari gereja oleh Sri Paus. Banyak orang Jerman dan orang lain mengikuti ajaran Luther dan gerakan reformasi kemudian meluas Eropa Utara.

Luther tidak melakukan reformasi dalam semua hal di gereja lama. Dia tidak merasa khawatir tentang patung-patung. Menurut Luther transubstantiasi adalah salah, tetapi dia mempercayai kehadiran sesungguhnya dari Kristus secara rohani dalam Perjamuan Kudus. Luther berpendapat bahwa para pendeta seharusnya diperbolehkan menikah. Teologi yang dianut Luther tentang Gereja dan Perjamuan Tuhan berbeda dari yang dianut oleh Calvin dan Zwingli.

 

Zwingli

Huldrych Zwingli membaca Perjanjian Baru Erasmus dalam bahasa Yunani pada tahun 1516 dan pikirannya mulai berubah. Dia melihat bahwa gereja pada jamannya berbeda daripada gereja yang digambarkan dalam Perjanjian Baru. Zwingli menjadi pengkhotbah di Zurich (di negeri Swis) pada tahun 1518.

Dua sumbangan utamanya kepada Reformasi adalah idenya tentang Perjamuan Tuhan dan ajarannya tentang Perjanjian.

Zwingli  menyatakan bahwa roti dan anggur di dalam Perjamuan Kudus adalah simbol-simbol yang dimaksudkan untuk mengingatkan kita akan kematian Kristus.

Dia tidak setuju dengan pandangan Luther. Namun, reformis lain misalnya Bullinger (yang mengikuti Zwingli di Zurich), Calvin, dan Cranmer menyatakan teologinya secara berbeda dari Zwingli.

Ide Zwingli tentang perjanjian dikembangkan lebih lanjut oleh reformis lain. Ide perjanjian ini membantu memberi teori untuk pembaptisan bayi, dasar untuk perilaku moral, dan cara mengaitkan politik negeri dengan Alkitab. Idenya adalah beberapa perjanjian, yang Allah buat dengan manusia, bersyarat (undang-undang harus ditaati) dan beberapa tidak bersyarat (kasih karunia Allah diberikan tanpa syarat). Perjanjian-perjanjian juga dibuat dengan kelompok, misalnya negeri atau suku. Jadi, semua orang dalam kelompok itu berada di bawah perjanjian. Mereka memperoleh keuntungan dari perjanjian itu dan harus mentaatinya.

Calvin

Jean Calvin adalah orang Prancis yang melarikan diri dari penganiayaan di Paris ke Basel, tempat dia pada tahun 1536 menulis edisi pertama ”Institutes of the Christian Religion”. Pada tahun yang sama dia pergi ke Jenewa dan diminta menjadi pengajar di gereja. Calvin diminta meninggalkan Jenewa pada tahun 1538 dan dia pergi ke Strassburg. Pada tahun 1541 dia diundang kembali ke Jenewa . Selain karya “Institutes”nya, yang baru saja direvisi sebelum wafatnya pada tahun 1559, Calvin juga terkenal untuk khotbah dan penjelasan Alkitabnya. Di Jenewa Calvin berhasil menyusun struktur baru untuk gereja. Dia menyatakan bahwa ada empat fungsi pelayan di Perjanjian Baru: gembala (pastor), pengajar, penatua, dan diaken. Gembala dan pengajar itu bersama-sama merupakan Kelompok Gembala. Penatua bertanggung jawab untuk disiplin gereja. Struktur ini menjadi dasar gereja reformis lain.

Tidak ada komentar: