Sabtu, 30 Juni 2012

Pada Hari Raya Pondok Daun‑daunan

Pasal49

Pada Hari Raya
Pondok Daun‑daunan

TIGA KALI setahun orang Yahudi dituntut berhimpun di Yerusalem untuk urusan keagamaan. Dalam keadaan terselubung dengan tiang awan, Pemimpin Israel yang tidak kelihatan itu telah memberikan petunjuk‑petunjuk mengenai perhimpunan ini. Selama orang Yahudi dalam tawanan, perhimpunan seperti itu tidak dapat diadakan; tetapi ketika bangsa itu dikembalikan ke negeri mereka, pemeliharaan hari‑hari peringatan ini dimulai sekali lagi. Allah merencanakan agar hari ulang tahun ini hendaknya mengingatkan Dia pada pikiran orang banyak. Tetapi dengan beberapa pengecualian, imam‑imam dan pemimpin‑pemimpin bangsa sudah lupa akan maksud ini. Ia yang telah menentukan pertemuan nasional ini dan mengerti maknanya menyaksikan penyelewengan mereka.
Hari Raya Pondok Daun‑daunan merupakan perhimpunan tahunan yang terakhir. Allah merencanakan agar pada saat ini orang banyak merenungkan kebaikan dan kemurahan‑Nya. Segenap negeri sudah berada dalam bimbingan‑Nya, dan menerima berkat‑Nya. Siang dan malam penjagaan-
--------------
Pasal ini dialaskan atas Yohanes 7:1‑15; 37‑39.

Nya telah berlangsung. Matahari dan hujan telah menyebabkan bumi menghasilkan buah‑buahnya. Dari lembah dan dataran Palestina panen sudah dikumpulkan. Buah zaitun sudah dipetik, dan minyak yang berharga sudah disimpan dalam botol. Pohon kurma telah menghasilkan persediaannya. Tandan buah anggur yang ungu telah diperas dalam apitan anggur.
Hari raya itu berlangsung selama tujuh hari, dan untuk merayakannya, penduduk Palestina, dengan banyak penduduk dari negeri‑negeri lain, meninggalkan rumah mereka, dan datang ke Yeruselam. Dari jauh dan dekat orang datang, sambil membawa di tangan mereka suatu tanda kegembiraan. Tua dan muda, kaya dan miskin, semuanya membawa suatu pemberian sebagai persembahan pengucapan syukur kepada‑Nya yang telah menganugerahi tahun itu dengan kebaikan‑Nya, serta menjadikan panen mereka amat limpah. Segala sesuatu yang dapat menyenangkan mata, serta mengungkapkan kegembiraan menyeluruh, sudah dibawa dari hutan; kota tampak seperti hutan yang indah.
Hari raya ini bukannya hanya merupakan pengucapan syukur panen, melainkan peringatan akan perlindungan Allah pada orang Israel di padang belantara. Dalam memperingati kehidupan mereka di tenda‑tenda, orang Israel selama hari raya itu tinggal dalam tenda atau pondok dari dahan‑dahan hijau. Pondok‑pondok ini didirikan di jalan‑jalan, di halaman kaabah atau di sutuh rumah. Bukit‑bukit dan lembah‑lembah yang mengelilingi Yerusalem disebari juga dengan tempat tinggal dari daun‑daun ini, dan tampaknya hidup dengan adanya orang banyak.
Dengan nyanyian suci dan pengucapan syukur orang‑orang yang berbakti merayakan peristiwa ini. Belum lama sebelum hari raya itu adalah Hari Grafirat, ketika orang‑orang dinyatakan sudah berdamai dengan surga sesudah mengakui dosa mereka. Dengan demikian sudah tersedialah jalan untuk kegembiraan hari raya itu. "Haleluya! Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya" (Mzm. 106:1) dinyaringkan dengan nada kemenangan, sementara segala jenis musik, diiringi dengan sorak hosana, menyertai nyanyian bersama. Kaabah menjadi pusat kegembiraan orang banyak. Di sinilah terdapat kebesaran upacara korban. Di sinilah, berjejer pada kedua sisi tangga bangunan suci yang terbuat dari pualam putih, biduan orang Lewi memimpin acara nyanyian. Orang banyak yang datang berbakti, sambil melambai‑lambaikan pelepah korma dan murd, menyaringkan suara dan menggemakan nyanyian bersama; dan sekali lagi lagu itu disambut dengan suara‑suara yang dekat dan jauh, sampai ke bukit‑bukit yang mengelilinginya di penuhi dengan suara pujian.
Pada malam hari kaabah dan halamannya bersinar‑sinar dengan terang buatan. Musik, lambaian pelepah korma, sorak hosana yang menggembirakan, himpunan orang banyak, yang disinari dengan terang yang memancar dari lampu‑lampu yang bergantungan, jubah imam‑imam, serta kebesaran upacara‑upacara itu, dipadukan untuk menjadikan suatu pemandangan yang sangat berkesan kepada orang‑orang yang memandangnya. Tetapi upacara yang paling berkesan dari hari raya itu, yang menimbulkan kegembiraan terbesar, ialah upacara yang memperingati peristiwa pengembaraan sementara di padang belantara.
Ketika fajar mula‑mula menyingsing, imam‑imam meniup nafiri perak itu lama‑lama dan nyaring, dan nafiri yang menyambut, dan sorak‑sorai yang gembira dari orang banyak di pondok‑pondok mereka, yang bergema di bukit dan lembah menyambut hari perayaan itu. Kemudian imam menciduk dari air yang mengalir di Kidron sebuli‑buli air, dan sambil mengangkatnya tinggi‑tinggi, sementara nafiri dibunyikan, ia menaiki anak tangga kaabah yang lebar itu, mengikuti irama musik dengan langkah yang lambat dan teratur, seraya menyanyikan dalam pada itu, "Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem." Mzm. 122:2.
Ia membawa buli‑buli itu ke mezbah, yang terletak di tengah halaman imam‑imam itu. Di sinilah terdapat dua bokor perak, dengan seorang imam berdiri di sisi setiap bokor itu. Buli‑buli air itu dituangkan ke dalam satu bokor, dan sebuah buli‑buli anggur ke dalam bokor yang lain; dan isi keduanya mengalir ke dalam sebuah pipa yang menghubungkan dengan Kidron, dan dialirkan ke Laut Mati. Pertunjukan air yang disucikan ini menggambarkan pancaran air yang atas perintah Allah telah memancar dari batu karang untuk memuaskan dahaga anak‑anak Israel. Kemudian lagu kemenangan pun bergemalah, "Sebab Tuhan Allah itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan." Yes. 12:2, 3.
Ketika anak‑anak Yusuf mengadakan persiapan untuk menghadiri Hari Raya Pondok Daun‑daunan, mereka melihat bahwa Kristus tidak mengadakan usaha yang menandakan niat‑Nya untuk menghadirinya. Mereka memperhatikan Dia dengan sifat ingin tahu. Sejak penyembuhan di Baitesda Ia tidak menghadiri perhimpunan nasional. Untuk menghindarkan pertentangan yang tidak berguna dengan para pemimpin di Yerusalem, Ia telah membatasi pekerjaan‑Nya di Galilea. Sikapnya yang tampaknya melalaikan perhimpunan keagamaan yang besar, serta permusuhan yang ditunjukkan kepada‑Nya oleh imam‑imam dan rabbi‑rabbi, menyebabkan kebingungan bagi orangorang di sekelilingnya, malah kepada murid‑murid‑Nya dan sanak saudara‑Nya sendiri. Dalam ajaran‑Nya Ia telah menekankan berkat‑berkat penurutan hukum Allah, namun Ia Sendiri tampaknya bersikap acuh tak acuh terhadap pelayanan yang telah ditetapkan Allah. Pergaulan‑Nya dengan para pemungut cukai serta orang‑orang lain yang mempunyai nama yang tidak baik, sikap‑Nya yang tidak mengindahkan segala peraturan yang dipelihara oleh rabbi‑rabbi, serta kebebasan dalam mengesampingkan tuntutan tradisi mengenai Sabat, semuanya tampaknya menempatkan Dia dalam perlawanan terhadap para pemimpin agama, dan menimbulkan banyak pertanyaan. Saudara‑saudara‑Nya berpendapat bahwa sikap‑Nya yang merenggangkan hubungan‑Nya dengan orang orang besar dan terpelajar dari bangsa itu salah adanya. Mereka merasa bahwa orang orang ini sudah mesti benar, dan bahwa Yesus sudah salah oleh menempatkan diri‑Nya dalam perlawanan terhadap mereka. Tetapi mereka telah menyaksikan kehidupan‑Nya yang tidak bercela, dan meski pun mereka tidak menyetarakan diri dengan murid‑murid‑Nya, namun mereka sangat terharu oleh perbuatan‑Nya. Kepopuleran‑Nya di Galilea memuaskan cita‑cita mereka, mereka masih mengharapkan agar Ia memberikan suatu bukti kuasa‑Nya yang akan menginsafkan orang Farisi bahwa tuntutan‑Nya benar adanya. Apakah akan terjadi jika benar Ialah Mesias, Putera Israel? Mereka menaruh pendapat ini dalam hati mereka dengan perasaan puas yang membanggakan.
Mereka sangat cemas akan hal ini sehingga mereka mendesak Kristus pergi ke Yerusalem. "Berangkatlah dari sini," kata mereka, "dan pergilah ke tanah Yudea, supaya murid‑murid‑Mu juga boleh memandang segala mukjizat yang Engkau adakan. Karena seorang pun tiada membuat barang sesuatu dengan sembunyi, jikalau ia sendiri hendak menjadi masyhur. Jikalau Engkau membuat perkara yang demikian, nyatakanlah diri‑Mu kepada dunia." *) Kata "jikalau" menyatakan keraguan dan kurang percaya. Mereka berpendapat bahwa Ia pengecut dan lemah. Jikalau Ia mengetahui bahwa Ialah Mesias, mengapa Ia menahan diri dan tidak bertindak? Jikalau sesungguhnya Ia memiliki kuasa seperti itu, mengapa tidak pergi dengan beraninya ke Yerusalem, dan mempertahankan tuntutan‑Nya? Mengapa tidak mengadakan di Yerusalem perbuatan yang ajaib yang dilaporkan tentang Dia di Galilea? Jangan bersembunyi di daerah‑daerah terpencil, mereka mengatakan, dan lakukanlah perbuatanmu yang sangat besar demi keuntungan petani dan nelayan yang tidak berpengetahuan. Perkenalkanlah dirimu di ibu kota, carilah dukungan imam‑imam dan penghulu‑penghulu dan satukanlah bangsa itu dalam mendirikan kerajaan yang baru.
Saudara‑saudara Yesus ini memberikan pertimbangan dari motif yang mementingkan diri yang sering terdapat dalam hati orang‑orang yang bercita‑cita hendak memperagakan dirinya. Roh ini adalah roh dunia yang berkuasa. Mereka disakiti hati karena, gantinya mencari takhta duniawi, Kristus telah menyatakan diri‑Nya sebagai roti hidup. Mereka sangat dikecewakan ketika banyak sekali murid‑murid‑Nya meninggalkan Dia. Mereka sendiri berbalik dari Dia untuk menghindari salib dalam mengakui apa yang dinyatakan oleh perbuatan‑Nya—bahwa Ia diutus Allah.
"Maka kata Yesus kepada mereka itu: Saat‑Ku belum sampai, tetapi

(*) Yoh. 7:4 menurut terjemahan Klinkert

saatmu itu senantiasa sedia. Tiada dapat isi dunia ini membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, oleh karena Aku ini menyaksikan dari halnya, bahwa segala perbuatannya jahat adanya. Hendaklah kamu pergi memuliakan hari raya. Aku belum hendak pergi memuliakan hari raya ini, karena saat‑Ku belum sampai. Lalu tinggallah Ia di Galilea setelah sudah Ia berkata demikian kepada mereka itu." Saudara‑saudara‑Nya telah berbicara kepada‑Nya dalam nada kekuasaan, menentukan jalan yang harus diikuti‑Nya. Ia membalikkan teguran mereka kepada mereka, menggolongkan mereka bukannya dengan murid‑murid yang menyangkal diri, melainkan dengan dunia. "Tiada dapat isi dunia ini membenci‑kamu," kata‑Nya, "tetapi ia membenci Aku, oleh karena Aku ini menyaksikan dari halnya, bahwa segala perbuatannya jahat adanya." Dunia tidak membenci mereka yang serupa dengan dia dalam roh, dunia mengasihi mereka yang seperti dirinya sendiri.
Dunia bagi Kristus bukannya tempat menyenangkan dan membesarkan diri. Ia tidak mencari suatu kesempatan untuk memperoleh kekuasaan dan kemuliaannya. Tidak ditawarkannya hadiah seperti itu bagi‑Nya. Itulah tempat yang dituju‑Nya, yang disuruh Bapa‑Nya. Ia telah dikaruniakan untuk kehidupan dunia ini, mengerjakan rencana penebusan yang besar itu. Ia sedang melaksanakan pekerjaan‑Nya bagi umat manusia yang sudah jatuh. Tetapi Ia tidak boleh bersikap tekebur, tidak boleh lekas‑lekas masuk ke dalam bahaya, tidak boleh memperlekas suatu krisis. Setiap peristiwa dalam pekerjaan‑Nya sudah ditentukan waktunya. Ia harus menunggu dengan sabar. Ia mengetahui bahwa la harus menerima kebencian dunia, Ia mengetahui bahwa pekerjaan‑Nya akan mengakibatkan kematian‑Nya; tetapi mempertunjukkan diri‑Nya belum pada waktunya bukannya kehendak Bapa‑Nya.
Dari Yerusalem laporan tentang mukjizat‑mukjizat Kristus telah tersebar ke mana saja orang Yahudi berpencar, dan meski pun berbulan‑bulan lamanya Ia tidak menghadiri hari raya, namun.perhatian kepada‑Nya tidak berkurang. Banyak dari orang dari segala pelosok dunia telah datang mengunjungi Hari Raya Pondok Daun‑daunan dengan berharap hendak melihat Dia. Pada permulaan hari raya itu banyak pertanyaan tentang Dia. Orang‑orang Farisi dan penghulu‑penghulu menantikan Dia datang, dengan mengharapkan suatu kesempatan untuk mempersalahkan Dia. Mereka bertanya dengan cemasnya, "Di manakah Dia?" tetapi tidak seorang pun mengetahuinya. Ialah yang paling banyak dipikirkan oleh semua orang. Karena takut akan imam‑imam dan penghulu‑penghulu, tidak seorang pun berani mengakui Dia sebagai Mesias, tetapi di mana‑mana terdapatlah perbincangan diam‑diam namun sungguh‑sungguh mengenai Dia. Banyak orang mempertahankan Dia sebagai seorang yang diutus Allah, sedangkan yang lain menuduh Dia sebagai penipu orang banyak. Dalam pada itu Yesus sudah tiba dengan diam‑diam di Yerusalem. Ia telah memilih suatu jalan yang jarang ditempuh orang, agar menghindari orang‑orang yang sedang mengadakan perjalanan ke kota itu dari‑segala jurusan. Sekiranya Ia telah menggabungkan diri dengan suatu kafilah yang menuju perayaan itu, maka sudah tentu perhatian khalayak ramai akan tertarik kepada‑Nya ketika Ia memasuki kota itu, dan suatu demonstrasi dari khalayak ramai yang menyenangi‑Nya sudah tentu akan membangkitkan perasaan para penguasa melawan Dia. Untuk menghindarinya Ia memilih mengadakan perjalanan itu sendirian.
Pada pertengahan hari raya itu, ketika perasaan yang berkobar‑kobar mengenai Dia sudah rnemuncak, masuklah Ia ke halaman kaabah disaksikan oleh orang banyak. Karena ketidak‑hadiran‑Nya pada hari raya itu, maka sudah dinyatakan bahwa Ia tidak berani menempatkan diri‑Nya dalam kekuasaan imam‑imam dan penghulu‑penghulu. Semua orang keheranan melihat Dia hadir dengan tidak disangka‑sangka. Setiap suara didiamkan. Semua orang keheranan melihat kebesaran dan keberanian perilaku‑Nya di tengah‑tengah musuh‑musuh‑Nya yang berkuasa yang haus akan nyawa‑Nya.
Sambil berdiri dengan cara yang demikian, sebagai pusat perhatian orang banyak itu, Yesus berbicara kepada mereka dalam cara yang belum pernah dilakukan oleh orang lain. Perkataan‑Nya menunjukkan bahwa Ia mengetahui tentang hukum‑hukum dan kebiasaan‑kebiasaan orang Israel, tentang upacara korban dan ajaran nabi‑nabi, jauh melebihi imam‑imam dan rabbi‑rabbi. Ia merubuhkan penghalang berupa tata cara dan tradisi. Pemandangan tentang kehidupan pada masa depan tampaknya terhampar di hadapan‑Nya. Sebagai seorang yang memandang Yang Tidak Kelihatan, Ia berbicara tentang perkara dunia dan surga, manusia dan Ilahi, dengan kekuasaan yang tentu. Perkataan‑Nya paling jelas dan meyakinkan, dan sekali lagi, sebagaimana di Kapernaum, orang banyak tercengang‑cengang mendengar ajaran‑Nya, "sebab perkataan‑Nya penuh kuasa." Luk. 4:32. Dengan menggunakan berbagai‑bagai gambaran Ia mengamarkan para pendengar‑Nya tentang malapetaka yang akan dialami oleh semua orang yang menolak berkat‑berkat yang dibawa‑Nya kepada mereka. Ia telah memberikan kepada mereka setiap bukti sedapat‑dapatnya bahwa Ia datang dari Allah, dan mengadakan usaha sedapat‑dapatnya untuk membawa mereka kepada pertobatan. Ia tidak akan ditolak atau dibunuh oleh bangsa‑Nya sendiri jika Ia dapat menyelamatkan mereka dari kesalahan perbuatan seperti itu.
Semua keheran‑heranan menyaksikan pengetahuan‑Nya akan hukum dan nubuatan‑nubuatan, dan pertanyaan itu disampaikan dari satu orang kepada yang lain, "Bagaimanakah orang ini paham akan kitab‑kitab dengan tiada belajar?" Tidak seorang pun dianggap sanggup menjadi guru agama, kecuali ia telah belajar di sekolah rabbi‑rabbi, dan baik Yesus mau pun Yohanes telah digambarkan sebagai tidak berpengetahuan sebab mereka tidak mendapat pendidikan ini. Mereka yang mendengarnya tercengang‑cengang karena pengetahuan mereka akan Kitab Suci, "dengan tiada belajar." Pengetahuan dari manusia memang tidak mereka miliki, tetapi Allah yang di surga adalah guru mereka, daripada‑Nyalah mereka mendapat hikmat tertinggi itu.
Ketika Yesus berbicara di halaman kaabah, orang banyak terpesona. Justeru orang‑orang yang paling keras menentang Dia merasa diri tidak berkuasa menyusahkan Dia. Pada saat itu, segala perhatian lain dilupakan.
Dari hari ke hari Ia mengajar orang banyak, sampai hari terakhir, "hari yang besar pada masa raya itu." Pada pagi hari ini orang banyak sudah dalam keadaan letih karena kegembiraan perayaan yang panjang itu. Tiba‑tiba Yesus menyaringkan suara‑Nya, dalam nada yang memenuhi halaman kaabah:
"Jikalau seorang yang dahaga, hendaklah ia datang kepada‑Ku, lalu minum. Barang siapa yang percaya akan Daku, seperti yang tersebut di dalam Alkitab, dari dalamnya itu akan mengalir beberapa sungai air hidup." Keadaan orang banyak menjadikan seruan ini sangat meyakinkan. Mereka sudah sibuk dengan peristiwa kebesaran dan perayaan yang tidak habis‑habisnya, mata mereka sudah disilaukan dengan terang dan warna, dan telinga mereka telah menikmati musik yang paling merdu; tetapi tiada suatu pun dalam segala kegiatan upacara ini memenuhi keperluan jiwa, tiada suatu pun memuaskan dahaga jiwa untuk sesuatu yang tidak akan binasa. Yesus mengundang mereka datang dan minum dari pancaran kehidupan, dari sesuatu yang akan menjadi suatu mata air dalam diri mereka, yang memancar kepada hidup kekal.
Pada pagi itu imam telah melakukan upacara yang memperingati pemukulan bukit batu di padang belantara. Bukit batu itu melambangkan Dia, yang oleh kematian‑Nya, akan menyebabkan aliran keselamatan yang hidup mengalir kepada semua orang yang dahaga. Perkataan Kristus adalah air hidup. Di situlah, di hadapan orang banyak yang berhimpun, Ia mengasingkan diri‑Nya untuk dipalu, agar air hidup boleh mengalir kepada dunia. Dalam memalu Kristus, Setan bermaksud membinasakan Putera Kehidupan; tetapi dari bukit batu yang dipalu itu mengalirlah air hidup. Ketika Yesus mengucapkan perkataan yang demikian kepada orang banyak hati mereka terharu dengan kekaguman yang aneh, dan banyak orang sudah hampir berseru dengan perempuan Samaria, "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus." Yoh. 4:15.
Yesus mengetahui keperluan jiwa. Kebesaran, kekayaan, dan kehormatan tidak dapat memuaskan hati. "Jikalau seorang yang dahaga, hendaklah ia datang kepada‑Ku." Yang kaya, yang miskin, yang tinggi, yang rendah, sama‑sama disambut. Ia menjanjikan hendak meringankan pikiran yang dibebani, menghiburkan yang bersusah, dan memberikan harapan kepada yang putus asa. Banyak dari mereka yang mendengar Yesus bersedih karena harapan yang dikecewakan, banyak yang sedang hidup dalam kesedihan yang tersembunyi, banyak yang sedang berusaha memuaskan kerinduan mereka yang penuh kegelisahan dengan perkara‑perkara duniawi dan pujian manusia; tetapi ketika semuanya sudah diperoleh, mereka dapati bahwa mereka sudah membanting tulang hanya untuk mencapai tempat cadangan air yang sudah pecah, yang daripadanya mereka tidak dapat memuaskan dahaga. Di tengah seri pemandangan yang menggembirakan, mereka berdiri dalam keadaan kecewa dan susah. Seruan yang tiba‑tiba "Jikalau seorang yang dahaga," mengejutkan mereka dari renungan mereka yang penuh kesedihan, dan ketika mereka mendengarkan perkataan yang menyusul, pikiran mereka dikobarkan dengan suatu harapan baru. Roh Kudus mengemukakan lambang itu kepada mereka sampai mereka melihat dalamnya tawaran karunia keselamatan yang tidak ternilai itu.
Seruan Kristus kepada jiwa yang haus masih dinyaringkan dan memohon kepada kita dengan kuasa yang malah lebih besar lagi daripada kepada mereka yang mendengarnya di kaabah pada hari terakhir masa raya itu. Pancaran air terbuka bagi semua Orang. Kepada orang yang lelah dan lesu ditawarkan aliran hidup kekal yang menyegarkan. Yesus masih berseru, "Marilah! Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa ayang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma." "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanaya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." Why. 22:17; Yoh. 4:14.





Posting Komentar