Sabtu, 29 September 2012

Pernikahan Ishak

15

Pernikahan Ishak
-----------------
Pasal ini dialaskan atas Kejadian 24.

Abraham telah lanjut usia, dan berharap segera akan mati; tetapi masih ada satu lagi hal yang harus dilaksanakannya untuk memperoleh kegenapan janji kepada keturunannya. Ishak adalah seorang yang telah ditetapkan oleh Ilahi untuk menggantikannya sebagai pemelihara hukum Allah, dan bapa daripada bangsa pilihan itu, tetapi ia belum menikah. Penduduk Kanaan adalah penyembah berhala, dan Allah telah melarang kawin campur antara umat‑Nya dengan mereka, menyadari bahwa pernikahan seperti itu akan menuntun kepada kemurtadan. Abraham merasa takut akan akibat pengaruh‑pengaruh jahat yang mengelilingi anaknya. Iman Abraham akan Allah dan penyerahannya kepada kehendak‑Nya yang selalu menjadi kebiasaannya telah terpantul di dalam tabiat Ishak; tetapi kasih anak muda itu sangat kuat, dan di dalam pembawaannya ia bersifat lemah lembut dan berserah. Jikalau dipersatukan dengan seorang yang tidak takut akan Allah, ia berada dalam bahaya mengorbankan prinsip demi keserasian. Di dalam pikiran Abraham, pilihan akan seorang istri bagi anaknya merupakan satu hal yang amat penting, ia menghendaki agar ia menikah dengan seorang yang tidak akan menuntun dia berpaling dari Allah.

Pada zaman dulu, ikatan pernikahan pada umumnya diadakan oleh para orang tua, dan ini merupakan satu adat kebiasaan di antara mereka yang berbakti kepada Allah. Tidak seorang pun dituntut untuk menikah dengan seorang yang tidak dapat dikasihinya; tetapi di dalam menyatakan kasih mereka, orang muda itu dibimbing oleh pertimbangan‑pertimbangan orang‑orang tua mereka yang berpengalaman serta takut akan Allah. Mengikuti satu cara yang bertentangan dengan hal tersebut dianggap sebagai satu penghinaan terhadap orang tua, bahkan sebagai satu kejahatan.


Ishak yang berharap kepada kasih serta kebijaksanaan bapanya, merasa puas untuk menyerahkan persoalannya kepada bapanya, sambil mempercayai bahwa Allah sendiri akan memimpin di dalam pilihan yang diadakan. Pikiran Abraham tertuju kepada keluarga bapanya di tanah Mesopotamia. Sekalipun tidak bebas dari penyembahan berhala, mereka memelihara pengetahuan serta perbaktian akan Allah yang benar. Ishak tidak boleh meninggalkan Kanaan untuk pergi kepada mereka, tetapi boleh jadi bahwa di antara mereka akan didapati seorang wanita yang mau meninggalkan rumahnya dan bersatu dengan dia di dalam mempertahankan perbaktian yang murni akan Allah yang hidup. Abraham menyerahkan persoalan yang penting ini kepada "hambanya yang paling tua," seorang yang berbakti, berpengalaman dan memiliki pertimbangan yang matang, yang telah lama dan setia bekerja baginya. Ia menuntut agar hamba ini mengadakan satu sumpah yang khidmat di hadapan Tuhan, bahwa ia tidak akan mengambil seorang Kanaan sebagai istri Ishak, melainkan memilih seorang anak perempuan dari keluarga Nahor di Mesopotamia. Ia memerintahkannya agar jangan membawa Ishak ke sana. Apabila tiada didapati seorang anak perempuan yang mau meninggalkan kaum keluarganya, maka utusan itu bebas dari tuntutan sumpahnya. Abraham memberikan dorongan kepadanya di dalam usahanya yang sukar dan pelik itu, dengan satu jaminan bahwa Allah akan memahkotai tugasnya itu dengan sukses. "Tuhan Allah yang empunya langit, katanya, "yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, . . . Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu."

Utusan itu pergi tanpa berlambatan. Dengan membawa sepuluh ekor unta untuk digunakan oleh pengikut‑pengikutnya dan rombongan pengantin yang akan kembali bersama‑sama dengan dia, dan dengan dilengkapi dengan pemberian‑pemberian bagi calon istri dan sahabat‑sahabatnya, ia telah menempuh satu perjalanan yang jauh melewati Damsyik, dan terus ke padang‑padang yang subur yang berbatasan dengan sungai besar di Timur. Setibanya di Aram, "kota daripada Nahor," ia berhenti di dekat tembok, dekat sumur di mana wanita‑wanita di tempat itu biasa mengambil air pada waktu sore hari. Itu merupakan satu waktu yang dipenuhi oleh rasa cemas baginya. Hasil‑hasil yang penting, bukan hanya kepada keluarga majikannya saja tetapi juga kepada generasi‑generasi mendatang, akan timbul sebagai hasil pilihan yang akan diadakannya; dan bagaimanakah ia harus mengadakan pilihannya dengan bijaksana di antara orang‑orang yang semuanya asing kepadanya? Dengan mengingat kata‑kata Abraham, bahwa Allah akan mengirimkan malaikat‑Nya bersama dengan dia, ia berdoa dengan sungguh‑sungguh meminta pimpinan yang pasti. Di dalam keluarga majikannya ia telah terbiasa dengan berlaku manis budi serta ramah, dan sekarang ia meminta agar satu perbuatan yang sopan santun dapat menjadi tanda daripada anak gadis yang telah dipilih Allah.


Sebelum doa itu selesai diucapkan jawaban telah diberikan. Di antara wanita‑wanita yang berkumpul di sumur itu, pembawaan yang sopan dari seseorang telah menarik perhatiannya. Apabila wanita itu kembali dari sumur, orang asing itu pergi menemui dia, sambil meminta air yang di dalam buyung yang ada di atas bahunya. Permintaan itu dijawab dengan ramah sekali, dengan satu tawaran untuk memberi minum unta‑untanya pula, satu pelayanan yang sudah menjadi adat bagi anak‑anak perempuan raja‑raja yang biasa dilakukannya bagi kawanan kambing domba bapanya. Dengan demikian tanda yang dikehendaki itu telah diberikan. Anak perempuan itu "elok parasnya kepada pemandangan mata" dan kesopansantunannya memberikan bukti akan satu hati yang baik, rajin, dan bersemangat. Sebegitu jauh tangan Ilahi telah menyertai dia. Setelah membalas budi baiknya dengan memberikan pemberian‑pemberian yang banyak, pesuruh itu menanyakan tentang orang tuanya, dan setelah mengetahui bahwa dia adalah anak perempuan Betuel, keponakan Abraham, ia "sujud menyembah Tuhan."

Orang itu telah meminta agar ia dijamu di rumah bapa anak perempuan itu, dan di dalam terima kasihnya telah dinyatakan bukti bahwa ia mempunyai hubungan dengan Abraham. Setibanya di rumah, anak perempuan itu telah menceritakan apa yang telah terjadi, dan Laban, saudaranya, pada saat itu juga bergegas‑gegas untuk membawa orang asing serta sahabat‑sahabatnya itu untuk menikmati keramah‑tamahan mereka.
Eliezer tidak mau menyantap hidangan itu sebelum ia menceritakan tentang maksud kedatangannya itu, tentang doanya di sumur itu, dengan segala kejadian‑kejadian yang menyertainya. Kemudian ia berkata, "Jadi sekarang, apabila kamu mau menunjukkan kasih dan setia kepada tuanku itu, beritahukanlah kepadaku; dan jika tidak, beritahukanlah juga kepadaku, supaya aku tahu entah berpaling ke kanan atau ke kiri." Jawabnya adalah, "Semuanya ini datangnya dari Tuhan; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya. Lihat, Ribka ada di depanmu, bawalah dia dan pergilah, supaya ia menjadi istri anak tuanmu, seperti yang difirmankan Tuhan."

Setelah persetujuan keluarga itu diperoleh, Ribkah sendiri dimintai pendapatnya apakah ia mau pergi ke satu tempat yang amat jauh dari rumah bapanya, untuk menikah dengan anak Abraham. Ia percaya, dengan melihat apa yang telah terjadi, bahwa Allah telah memilih dia untuk menjadi istri Ishak dan ia pun berkata, "Saya mau pergi."

Hamba itu, yang mengharapkan bahwa majikannya akan bersuka‑suka atas keberhasilan tugasnya, merasa tidak sabar lagi untuk pergi; dan keesokan harinya mereka pun memulai perjalanan pulang ke rumah. Abraham tinggal di Bersyeba, dan Ishak, yang tengah menggembalakan dombanya, di satu negeri yang berdekatan dengan tempat itu, telah pulang ke tenda bapanya untuk menyambut kedatangan utusan dari Haran. "Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang. Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Katanya kepada hamba itu: 'Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?' Jawab hamba itu: 'Dialah tuanku itu.' Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia. Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi istrinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal."

Abraham telah mengamat‑amati akibat daripada kawin campur antara mereka yang takut akan Tuhan dengan mereka yang tidak takut akan Dia semenjak zaman Kain sampai kepada zamannya. Akibat daripada perkawinannya dengan Hagar, dan perkawinan Ismael, dan juga Lot ada di hadapan matanya. Kurangnya iman di pihak Abraham dan Sarah, telah mengakibatkan lahirnya Ismael, perpaduan antara benih yang benar dengan yang tidak beribadat. Pengaruh bapa terhadap anaknya dihapuskan oleh pengaruh kaum keluarga ibunya yang menyembah berhala dan oleh hubungan Ismael dengan istri‑istrinya yang kafir. Rasa cemburu Hagar, dan istri‑istri yang telah dipilihnya bagi Ismael, telah mengelilingi keluarganya dengan satu pagar yang tidak dapat ditembus oleh Abraham.

Pengajaran Abraham yang mula‑mula bukanlah tanpa pengaruh terhadap Ismael; tetapi pengaruh daripada istrinya telah mengakibatkan berkembangnya penyembahan berhala di dalam keluarganya. Terpisah dari bapanya, tertekan oleh persengketaan dalam rumah tangga yang tidak mempunyai kasih dan takut akan Allah, Ismael terpaksa memilih satu kehidupan sebagai seorang pemimpin pengembara yang buas di padang belantara, "tangannya" "akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia," Kejadian 16:12. Di hari tuanya ia bertobat daripada jalannya yang jahat, dan kembali kepada Allah bapanya, tetapi cap daripada tabiatnya tetap meninggalkan bekas pada keturunannya. Bangsa yang kuat yang turun daripadanya adalah satu bangsa kafir yang tidak terkendalikan yang selalu mengganggu dan menganiaya keturunan Ishak.


Istri Lot adalah seorang perempuan yang serakah dan tidak beragama, dan pengaruhnya digunakan untuk memisahkan suaminya dari Abraham. Kecuali untuk istrinya itu, sebenarnya Lot tidak mau tetap tinggal di Sodom tanpa memiliki nasihat‑nasihat dari Abraham yang bijaksana serta takut akan Tuhan itu. Pengaruh daripada istrinya, dan pergaulan dalam kota yang jahat itu akan dapat membawa dia kepada kemurtadan dari Allah kalau saja bukan karena petunjuk‑petunjuk yang telah diterimanya dari Abraham pada masa mudanya. Perkawinan Lot dan pilihannya akan Sodom sebagai rumahnya adalah merupakan mata rantai yang pertama dalam rangkaian peristiwa‑peristiwa yang mendatangkan kejahatan kepada dunia untuk generasi‑generasi berikutnya. Tidak seorang pun yang takut akan Allah dapat menggabungkan dirinya dengan seorang yang tidak takut kepada‑Nya tanpa menghadapi bahaya. "Bolehkah dua orang berjalan bersama‑sama jikalau tiada seorang bersetuju dengan seorang." Kebahagiaan serta kemakmuran daripada ikatan pernikahan bergantung atas persatuan kedua belah pihak; tetapi di antara orang yang percaya dan orang yang tidak percaya ada satu perbedaan yang besar dalam selera, kecenderungan serta maksud‑maksud. Mereka sedang melayani dua majikan yang tidak pernah bersepakat. Bagaimanapun murni dan benarnya prinsip seseorang, pengaruh dari teman hidup yang tidak percaya itu mempunyai satu kecenderungan untuk memimpinnya menyeleweng dari Allah.

Orang yang telah memasuki pernikahan sebelum masa pertobatannya, oleh pertobatannya itu ia berada di bawah satu tanggung jawab yang lebih besar untuk tetap setia kepada teman hidupnya, bagaimanapun besarnya perbedaan agama mereka; tetapi tuntutan Allah harus diutamakan lebih daripada segala perhubungan duniawi, sekalipun akan berakibat ujian dan penganiayaan. Dengan Roh kasih dan kelemah lembutan, kesetiaannya itu dapat memberikan satu pengaruh untuk memenangkan teman hidupnya yang tidak percaya. Tetapi pernikahan antara orang Kristen dengan orang yang tidak beribadat dilarang dalam Alkitab. Petunjuk Tuhan berbunyi, "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." 2 Korintus 6:14, 17, 18.

Ishak sangat dihormati oleh Allah, dengan dijadikannya sebagai pewaris daripada janji‑janji melalui mana dunia ini akan diberkati; namun demikian pada waktu ia berusia empat puluh tahun ia menyerah kepada pertimbangan bapanya dalam menugaskan hambanya yang berpengalaman dan takut akan Allah untuk memilih seorang istri baginya. Dan sekarang sebagai akibat daripada pernikahan itu, sebagaimana yang dikemukakan dalam Alkitab, adalah satu gambaran yang indah daripada kebahagiaan rumah tangga: "Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi istrinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal."


Betapa berbeda jalan yang ditempuh oleh Ishak dengan yang biasa diikuti oleh orang‑orang muda pada zaman kita, sekalipun di kalangan orang yang mengaku Kristen! Orang‑orang muda sering merasa bahwa soal menyatakan cinta adalah satu persoalan di mana diri sendiri adalah satu‑satunya yang harus dimintai pendapat--satu soal yang, baik Allah ataupun orang tua, tidak perlu ikut campur. Lama sebelum menginjak masa dewasa, mereka merasa diri sanggup untuk mengadakan pilihan mereka sendiri tanpa bantuan orang tua. Beberapa tahun dari kehidupan berumah tangga biasanya cukup untuk menunjukkan kepada mereka akan kesalahan mereka, tetapi sering sudah terlambat untuk mencegah akibat‑akibatnya yang mengerikan. Oleh karena sikap yang kurang bijaksana serta kurang pengendalian diri yang sama yang telah mengadakan pilihan dengan tergesa‑gesa itu dibiarkan untuk memperbesar kejahatan, sehingga hubungan pernikahan itu menjadi satu kuk yang menindih. Dengan demikian banyak orang yang telah merusakkan kebahagiaan mereka di dalam hidup yang sekarang ini dan pengharapan mereka akan hidup yang akan datang.

Jikalau ada satu soal yang harus dipertimbangkan masak‑masak, di mana nasihat dari orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman harus dicari, yakni adalah soal perkawinan; jikalau pernah Alkitab diperlukan sebagai satu penasihat, jikalau pernah pimpinan Ilahi harus dicari dalam doa, itu adalah sebelum mengambil satu langkah yang mengikat mereka bersama‑sama untuk seumur hidup. Para orang tua janganlah sekali‑kali kehilangan pandangan akan tanggung jawab mereka sendiri bagi kebahagiaan masa depan dari anak‑anak mereka. Penyerahan Ishak kepada pertimbangan bapanya adalah hasil daripada latihan yang telah mengajar dia untuk menyukai satu kehidupan yang penuh dengan penurutan. Sementara Abraham menuntut anak‑anaknya untuk menghormati wewenang orang tua, kehidupannya sehari‑hari menyaksikan bahwa wewenang tersebut bukanlah satu cara pengendalian yang bersifat mementingkan diri atau sewenang‑wenang, melainkan dialaskan atas kasih dan bertujuan untuk kebahagiaan serta kesejahteraan mereka.


Ibu‑ibu dan bapa‑bapa harus merasa bahwa ada satu tanggung jawab di atas bahu mereka untuk menuntun cinta kasih daripada orang‑orang muda, agar cinta itu dinyatakan kepada mereka yang akan menjadi teman hidupnya yang pantas. Mereka harus merasa adanya satu tanggung jawab, oleh pengajaran serta teladan hidup mereka, dengan pertolongan anugerah Allah, untuk membentuk tabiat anak‑anak mereka demikian rupa dari tahun‑tahun permulaan hidup mereka sehingga mereka akan menjadi suci, agung dan akan tertarik kepada perkara‑perkara yang baik dan benar. Orang yang bersifat sama akan saling menarik dan menghargai satu sama lain. Biarlah kasih akan kebenaran, kesucian dan kebajikan ditanamkan di dalam jiwanya semenjak kecilnya, dan orang‑orang muda itu akan mencari satu masyarakat yang terdiri dari orang‑orang yang memiliki sifat‑sifat ini.

Biarlah para orang tua berusaha, di dalam tabiat mereka dan di dalam hidup rumah tangga mereka, untuk menyatakan kasih serta kebaikan daripada Bapa yang di surga. Biarlah rumah tangga itu dipenuhi oleh sinar matahari. Ini akan jauh lebih berharga kepada anak‑anak daripada tanah atau uang. Biarlah kasih rumah tangga dibiarkan hidup di dalam hati mereka, agar mereka dapat menoleh kembali kepada rumah tangga mereka semasa kanak‑kanak sebagai tempat yang damai dan penuh dengan kebahagiaan yang setingkat lebih rendah daripada surga. Anggota‑anggota keluarga tidaklah semuanya mempunyai cap tabiat yang sama, dan sering akan datang peristiwa‑peristiwa yang membutuhkan kesabaran; tetapi melalui kasih dan disiplin diri sendiri semua dapat diikat bersama‑sama dalam satu persatuan yang paling erat.

Kasih yang sejati adalah satu prinsip yang luhur dan suci, sama sekali berbeda dalam sifatnya daripada kasih yang dibangkitkan oleh rangsangan, dan yang lenyap dengan mendadak bilamana menghadapi ujian yang berat. Adalah oleh kesetiaan kepada tugas dalam rumah tangga orang tua di mana anak‑anak muda menyediakan diri untuk mendirikan rumah tangga mereka sendiri. Biarlah mereka di sini mempraktikkan penyangkalan diri dan menyatakan sifat manis budi, sopan santun dan simpati orang Kristen. Dengan demikian kasih akan tetap hangat di dalam hati, dan ia yang keluar dari satu rumah tangga seperti itu untuk berdiri sebagai kepala rumah tangganya sendiri, akan mengetahui bagaimana caranya memupuk kebahagiaan dia yang telah dipilihnya sebagai teman hidupnya. Pernikahan, gantinya sebagai akhir daripada kasih, akan menjadi sebagai permulaannya.




Tidak ada komentar: