Rabu, 31 Oktober 2012

KENALILAH PUNCAKMU - SALAM PERPISAHAN

Setiap gunung ada puncaknya. Demikian halnya dengan kita, ada batas-batasnya. Jika kita mengenali dan mau menerima batas-batas yang TUHAN berikan ke kita, sebagaimana lautanpun dibatasi oleh pantai, maka kita akan selamat. Tapi orang yang tidak memiliki hikmat, seperti mantan presiden Soeharto yang berambisi melanggengkan jabatan presidennya, jatuh dengan kesakitan lahir-bathin.

Puji TUHAN, saya diberikan hikmat untuk mengenali dan mau menerima batasan-batasan saya. Bahkan saya sendiri telah menetapkan batasan-batasan untuk diri saya sendiri, yaitu tidak mau diseret oleh arus materi, arus ilmu pengetahuan dan arus teknologi.

Telah semingguan ini Yahoo melakukan verifikasi terhadap email-email saya. Terkadang saya ditanyakan pertanyaan rahasia yang saya lupa mengisinya. dan terkadang verifikasi kode melalui Handphone. Nah, beberapa telah berhasil saya kuasai lagi dengan meminjam nomor HP seorang sobat. Tapi saya juga harus tahu diri 'kan?! Tidak mungkin saya memintainya tolong secara terus-terusan. Karena telah mulai menggerogoti batas-batas saya, yaitu menuntut duit, menuntut teknis dan lain-lainnya, maka saya telah memikirkan masak-masak untuk sedikit demi sedikit mengundurkan diri dari kegiatan milis ini. Email-email yang terhadang verifikasi takkan saya usahakan untuk membukanya, - saya anggap email itu hilang.

Nah, sebelum aktifitas saya ini terhentikan secara total oleh keterbatasan saya, saya berikan kesempatan kepada orang-orang yang hendak menuntut pertanggungan jawab saya, untuk menuntut pertanggungjawaban saya, baik secara hukum maupun secara rohani atas segala perbuatan saya yang anda anggap tidak menyenangkan anda. Sebab setelah selesainya kegiatan ini, saya bermaksud hendak merantau ke Sumatera, ke kota Waikanan - Lampung. Di sana saya disediakan pekerjaan menjaga dan memelihara kebun jeruk. Saya akan pergunakan sisa waktu saya untuk berdoa syafaat dan mungkin akan melakukan pemuridan di desa tersebut, supaya ajaran-ajaran saya tidak musnah begitu saja.

Saya umumkan juga tentang "sumbangan pembelian Netbook," berdasarkan konfirmasi dari sobat saya pemilik rekening, bahwa tidak ada sumbangan yang masuk sama sekali. Pendeta Budi Asali juga belum memberikan jawaban untuk permohonan diskusi saya. Karena itu masalah sumbangan pembelian Netbook saya nyatakan saya tutup sejak sekarang ini.

Keterangan: Saya tetap penginjil. Saya tidak menyatakan berhenti sebagai penginjil. Saya juga tidak menyatakan mengundurkan diri buat selama-lamanya dari dunia internet. Siapa tahu kelak TUHAN menyuruh saya berbicara di milis lagi?!

Demikian saya sudah mengumumkan rencana pengunduran diri saya sementara waktu. Secara pribadi saya memohon maaf atas semua perbuatan saya yang anda nilai negatif. Terimalah tulisan ini sebagai salam perpisahan saya yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

JESHUA HAMASHIA bersama kita senantiasa. Amien.

Bls: [beritadinanti_bd] Re: Bls: Peringatan Utk Sdr

Hua..ha..ha....... saya ada kelupaan tidak meminta maaf kepada anda sekalian. Baiklah, 
saya meminta maaf kepada anda. Saya tulus, pak, sebab itu bukan materi diskusi tapi saya menyebutkan nama. Jelas sekali suatu kesalahan. 

Kesalahan sudah saya perbuat, maka biarlah saya menanggung konsekwensinya apapun itu bentuknya. Saya takkan mempermalukan nama JESHUA HAMASHIA. Biarlah saya dikenang orang sebagai orang yang berani berbuat berani bertanggungjawab.

Saya takkan mengulangi itu, tapi bukan berarti saya tak bisa berbuat kesalahan yang lain lagi. Because saya manusia asli, darah dan daging, bukan hantu. Jadi, mustahil saya bisa sempurna seperti yang orang inginkan. 

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Dari: Elisa Sagala <elisasagala@ymail.com>
 
Dear Pak Rudy,

Salut atas kejantanan Bapak.
Mari kita manusia ini belajar terus, belajar dari apa saja selama masih ada nyawa. Tidak ada yang perlu disombongkan, terlebih hal rohani.

Saya sangat berharap agar beliau memaafkan Bapak.
Salam kasih,
Elisa Sagala
 

PEKERJAAN PEMBAHARUAN -- 26


PEKERJAAN PEMBAHARUAN   --   26

      Pekerjaan pembaharuan hari Sabat yang akan dilakukan pada akhir zaman telah diramalkan dalam nubuatan nabi Yesaya.   "Beginilah firman Tuhan: Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan. Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya; yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat."  "Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada Tuhan untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama Tuhan dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku." (Yes. 56:1,2,6,7).
      Kata-kata ini berlaku pada zaman Kristen, sebagaimana ditunjukkan dalam konteks, "Demikianlah firman Tuhan Allah yang menghimpun orang-orang Israel yang terbuang: Aku akan mengimpunkan orang kepadanya lagi sebagai tembahan kepada orang-orangnya yang telah terhimpun." (Yes. 56:8). Di sini dibayangkan tentang pengumpulan bangsa-bangsa lain oleh Injil. Dan bagi mereka yang menghormati hari Sabat, telah dinyatakan berkat-berkat. Dengan demikian kewajiban memelihara hukum keempat itu berlaku terus sesudah penyaliban, kebangkitan dan kenaikan Kristus, sampai kepada waktu hamba-hamba-Nya menyiarkan kabar kesukaan itu kepada semua bangsa.
      Tuhan bersabda melalui nabi yang sama, "Aku harus menyimpan kesaksian ini dan memeteraikan pengajaran ini di antara murid-murid-Ku." (Yes. 8:16). Meterai hukum Allah terdapat pada hukum yang keempat. Hanya yang keempat ini dari hukum yang sepuluh itu yang menunjukkan nama dan jabatan atau gelar sipemberi hukum itu. Hukum keempat menyatakan Dia sebagai Khalik, Pencipta langit dan bumi, dan dengan demikian menunjukkan tuntutan-Nya untuk dihormati dan disembah di atas segala yang lain. Selain pada hukum keempat ini, tidak ada lagi di dalam hukum yang sepuluh itu ditunjukkan dengan kuasa siapa hukum itu diberikan. Pada waktu hari Sabat diganti atas kuasa kepausan, meterai dari hukum itu telah dicabut dari hukum itu. Murid-murid Yesus dipanggil untuk mengembalikannya dengan meninggikan hari Sabat, hukum yang keempat itu kepada posisinya yang sebenarnya sebagai tanda peringatan Khalik, Pencipta dan tanda kekuasaan-Nya.
      "Carilah pengajaran dan kesaksian!"  Sementara doktrin-doktrin dan hari-hari yang bertentangan merajalela, hanya hukum Allahlahsatu-satunya peraturan yang tidak bisa salah oleh mana semua pemikiran, doktrin-doktrin dan teori-teori diuji. Nabi itu berkata, "Siapa yang berbicara tidak sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak akan terbit fajar." (Yes. 8:16,20).
      Sekali lagi Tuhan berkata memberi perintah, "Serukanlah kuat-kuat, jangan tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! Bukanlah dunia yang jahat ini, tetapi mereka yang disebut Tuhan sebagai "umat-Ku," yang akan ditegur karena pelanggaran-pelanggaran mereka.  Dikatakan lebih jauh, "Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allah." (Yes. 58:1,2).
      Di sini dimunculkan satu golongan yang menganggap dirinya benar, dan kelihatannya menunjukkan perhatian besar dalam pelayanan Allah;  tetapi teguran yang keras dan sungguh-sungguh dari Penyelidik hati membuktikan bahwa mereka menginjak-injak ajaran ilahi.
      Jadi nabi itu menunjukkan hukum Allah yang telah mereka tinggalkan: "Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan 'yang memperbaiki tembok yang tembus,'  'yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.'  Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat, dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat hari kenikmatan, dan hari kudus Tuhan  'hari yang mulia;'  apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, maka engkau akan bersenang-senang karena Tuhan." (Yes. 58:12-14). Nubuatan ini juga berlaku pada zaman kita. "Tembok yang tembus" telah terjadi pada hukum Allah pada waktu hari Sabat diubah oleh kepausan Roma. Tetapi waktunya telah datang untuk mengembalikan lembaga ilahi ini kepada kedudukannya yang sebenarnya. "Tembok yang tembus" itu diperbaiki, dan reruntuhan yang berabad-abad akan dibangun.

      Hari Sabat yang dikuduskan oleh Pencipta dengan beristirahat pada hari itu dan memberkatinya, dipelihara oleh Adam di dalam keadaannya yang teidak berdosa di Taman Eden yang kudus; dipelihara oleh Adam yang jatuh ke dalam dosa namun bertobat pada waktu ia diusir dari tempat kediamannya yang menyenangkan itu. Hari Sabat itu dipelihara oleh para Bapa, mulai dari Habil sampai kepada Nuh yang benar, sampai kepada Abraham, dan kepada Yakub. Pada waktu umat pilihan itu berada di perhambaan di Mesir, banyak yang tidak mengetahui hukum Allah, karena mereka berada di tengah-tengah penyembahan berhala yang merajalela. Tetapi pada waktu Tuhan melepaskan Israel, Ia mengumumkan hukum-Nya di dalam kebesarannya yang mengerikan kepada khalayak ramai yang berkumpul, agar mereka mengetahui kehendak-Nya, dan takut akan Dia dan menuruti-Nya selamanya.
      Sejak waktu itu hingga sekarang, pengetahuan akan hukum Allah telah terpelihara di dunia ini, dan hari Sabat hukum yang keempat itu telah dipelihara. Walaupun "manusia berdosa" berhasil menginjak-injak hari kudus Allah, bahkan pada masa supremasi "manusia berdosa" itupun masih ada orang-orang yang setia yang tetap menghormati hukum dan hari itu di tempat-tempat yang tersembunyi. Sejak Pembaharuan, pada setiap generasi ada saja orang yang mempertahankan pemeliharaan hukum itu. Meskipun sering berada di tengah-tengah celaan dan penganiayaan, kesaksian yang terus menerus telah dibawakan mengenai kekekalan hukum Allah, dan kewajiban suci atas penciptaan Sabat itu.
      Kebenaran-kebenaran ini sebagaimana dinyatakan dalam Wahyu 14 sehubungan dengan "Injil kekal," akan membedakan gereja Kristus dari dunia ini pada waktu kedatangan-Nya. Karena sebagai akibat dari pekabaran rangkap tiga, diumumkan, "Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus." Dan pekabaran ini adalah pekabaran yang terakhir diberikan sebelum kedatangan Tuhan. Segera sesudah pekabaran itu disiarkan, Anak Manusia dilihat oleh nabi, datang dalam kemuliaan untuk menuai dunia ini.
      Mereka yang menerima terang mengenai tempat kudus dan ketidak-berubahan hukum Allah, dipenuhi dengan sukacita dan kekaguman, sementara mereka melihat keindahan keselarasan sistem kebenaran yang dibukakan kepada pengertian mereka. Mereka rindu agar terang yang nyata kepada mereka begitu berharga dapat diberikan kepada semua orang Kristen. Dan mereka percaya bahwa hal itu akan diterima dengan sukacita. Tetapi kebenaran yang akan membuat mereka berbeda dengan dunia ini tidak disambut oleh banyak orang yang mengaku pengikut Kristus. Penurutan kepada hukum yang keempat itu menuntut suatu pengorbanan, sehingga kebanyakan orang menarik diri dari menurutinya.
      Sementara tuntutan-tuntutan Sabat dikemukakan, banyak orang yang memberikan alasan-alasan dari sudut pandang duniawi. Mereka berkata, "Kami selalu memelihara hari Minggu, nenek moyang kami memelihara hari Minggu. Dan banyaklah orang-orang baik dan saleh yang telah meninggal dengan berbahagia sementara memelihara hari Minggu. Jika mereka itu benar, maka demikian juga kami. Pemeliharaan hari Sabat yang baru ini akan membuat kita tersingkir dari keharmonisan dengan dunia ini, dan menyebabkan kita kehilangan pengaruh atas mereka. Apa yang diharapkan oleh kelompok kecil yang memelihara hari ketujuh dapat dicapai melawan seluruh dunia ini yang memelihara hari Minggu?" Argumen yang sama yang menyebabkan orang Yahudi berusaha membenarkan penolakan mereka akan Kristus. Leluhur mereka telah diterima Allah dalam mempersembahkan persembahan korban, dan mengapa anak-anak mereka tidak mendapat keselamatan dalam meneruskan cara yang sama? Demikian juga pada zaman Luther. Para pengikut paus memberi alasan bahwa orang-orang Kristen yang benar telah mati di dalam iman Katolik, oleh sebab itu agama itu telah cukup untuk keselamatan. Alasan seperti itu merupakan penghalang yang efektif kepada kemajuan iman dan praktek agama.
      Banyak orang yang mengatakan bahwa pemeliharaan hari Minggu telah menjadi doktrin yang sudah tetap dan adat kebiasaan gereja yang telah menyebar luas selama berabad-abad. Terhadap argumentasi ini telah ditunjukkan bahwa hari Sabat dan pemeliharaannya lebih tua dan lebih meluas, bahkan setua dunia ini sendiri, dan diperkuat oleh baik malaikat maupun Allah. Pada waktu asas dunia diletakkan, pada waktu bintang-bintang fajar bernyanyi bersama dan semua anak-anak Allah bersorak-sorai dalam sukacita, pada waktu itulah asas dunia diletakkan. (Ayub 38:6,7; Kej. 2:1-3). Institusi ini layak menuntut penghormatan kita; ia ditetapkan bukan oleh kekuasaan manusia, dan tidak terletak atas tradisi manusia. Institusi itu ditetapkan oleh Yang Lanjut Usianya, dan diperintahkan oleh firman-Nya yang kekal.
      Sementara perhatian orang-orang ditarik kepada pokok permasalahan mengenai pembaharuan Sabat, para pendeta memutarbalikkan firman Allah, membuat penafsiran seperti itu menjadi kesaksian yang akan mendiamkan pikiran orang-orang yang sedang bertanya-tanya. Dan mereka yang tidak menyelidiki Alkitab itu untuk diri mereka sendiri akan puas menerima kesimpulan yang sesuai dengan keinginan mereka. Dengan argumen, sofisme, tradisi para leluhur, dan kekuasaan gereja, banyak yang berusaha membuangkan kebenaran. Para pengikutnya berpaling kepada Alkitab untuk mempertahankan keabsahan hukum keempat. Orang-orang sederhana yang dipersenjatai hanya dengan firman kebenaran dapat melawan serangan orang-orang terpelajar yang terkejut dan marah, mendapati tipuan licik mereka tidak berdaya terhadap alasan-alasan sederhana dan terus terang dari orang-orang yang mengetahui ayat-ayat Alkitab daripada mereka yang menggunakan kecerdikan dari sekolah. Tanpa adanya kesaksian Alkitab, banyak yang dengan keteguhan hati dan tanpa mengenal lelah mendesak,  --  dengan melupakan bagaimana alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang sama digunakan melawan Kristus dan rasul-rasul-Nya --  "Mengapa orang-orang besar kita tidak mengetahui masalah Sabat itu? Tetapi hanya sedikit yang percaya seperti kamu. Tidak mungkin hanya kamu yang benar dan sementara semua orang terpelajar dunia salah."

      Untuk membuktikan argumen seperti itu tidak benar, diperlukan hanya mengutip ajaran-ajaran Alkitab dan sejarah perlakuan Tuhan kepada umat-Nya sepanjang zaman. Allah bekerja melalui mereka yang mendengar dan menuruti suara-Nya, mereka yang jika diperlukan berbicara mengenai kebenaran-kebenaran yang tidak menyenangkan, mereka yang tidak gentar menegur dosa-dosa umum. Alasan mengapa Ia sering tidak memilih orang-orang yang terdidik dan yang berkedudukan tinggi memimpin gerakan pembaharuan adalah karena mereka sering percaya kepada pengajaran-pengajaran dan pemikiran-pemikiran sendiri, teori-teori sendiri, dan sistem teologi sendiri, dan merasa tidak perlu diajar oleh Tuhan. Hanya mereka yang mempunyai hubungan langsung dengan Sumber Hikmat yang sanggup mengerti atau menerangkan Alkitab. Manusia yang mempunyai hanya sedikit pengetahuan dari sekolah kadang-kadang dipanggil untuk menyatakan kebenaran bukan karena mereka tidak bersekolah, tetapi karena mereka tidak menganggap dirinya terlalu pintar untuk diajar oleh Allah. Mereka belajar di Sekolah Kristus, dan kerendahan hati dan penurutan mereka membuat mereka menjadi orang-orang besar. Di dalam memberikan kepada mereka pengetahuan kebenaran-Nya, Allah menganugerahkan kepada mereka kehormatan, yang tidak dapat dibandingkan dengan kehormatan dan kebesaran dunia ini.
      Kebanyakan orang-orang Advent menolak kebenaran tentang tempat kudus dan hukum Allah, dan banyak yang tidak percaya kepada Pergerakan Advent, dan menerima pandangan-pandangan yang tidak kuat dan bertentangan mengenai nubuatan-nubuatan yang berhubungan dengan pekerjaan itu. Sebagian dituntun kepada kesalahan yang berulang-ulang menentukan waktu kedatangan Kristus. Terang yang sekarang bersinar mengenai tempat kudus telah menunjukkan kepada mereka bahwa tidak ada masa-masa nubuatan yang berlanjut sampai kepada kedatangan yang kedua kali; bahwa waktu yang tepat mengenai kedatangan ini tidak diramalkan. Akan tetapi, karena berbalik dari terang itu, mereka terus menentukan waktu ke waktu kedatangan Tuhan, dan sesering itu pula mereka kecewa.
      Pada waktu jemaat Tesalonika menerima pandangan-pandangan yang salah mengenai kedatangan Kristus, Rasul Paulus menasihatkan mereka untuk menguji harapan-harapan dan antisipasi-antisipasi mereka dengan cermat oleh firman Allah. Ia mengutip kepada mereka nubuatan-nubuatan yang menyatakan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum Kristus datang, dan menunjukkan bahwa mereka tidak punya dasar untuk mengharapkan kedatangan-Nya pada zaman mereka. "Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga," (2 Tes. 2:3), adalah kata-kata amarannya. Seandainya mereka keranjingan dengan harapan-harapan yang tidak setuju dengan Alkitab, mereka akan dituntun kepada tindakan-tindakan yang salah. Kekecewaan akan menyebabkan mereka diejek oleh orang-orang yang tidak percaya, dan mereka berada dalam bahaya tawar hati, serta akan tergoda meragukan kebenaran yang perlu bagi keselamatan mereka. Nasihat rasul kepada orang Tesalonika berisi satu pelajaran penting bagi mereka yang hidup pada akhir zaman. Banyak orang-orang Advent merasa bahwa kecuali mereka bisa memusatkan imannya pada suatu waktu tertentu pada kedatangan Tuhan, mereka tidak akan bisa bersemangat dan rajin dalam pekerjaan persediaan. Tetapi sementara harapan-harapan mereka berulang-ulang bangkit, tetapi hanya untuk dikecewakan dan dihancurkan, iman mereka menerima pukulan sehingga menjadi hampir-hampir tidak mungkin lagi bagi mereka terkesan oleh nubuatan kebenaran agung itu.
      Pekabaran waktu yang tertentu mengenai penghakiman, seperti yang diberikan pada pekabaran pertama, adalah diperintahkan oleh Allah. Perhitungan masa-masa nubuatan atas mana pekabaran itu didasarkan, yang menempatkan penutupan 2300 hari jatuh pada musim gugur 1844, tidak ada keragu-raguan. Usaha yang berulang-ulang untuk menemukan tanggal baru permulaan dan penutupan masa-masa nubuatan itu, dan alasan-alasan yang tidak kuat untuk mendukung pendirian ini, bukan saja menuntun pikiran kita jauh dari kebenaran masa kini, tetapi menghinakan semua usaha untuk menerangkan nubuatan-nubuatan itu. Semakin sering waktu tertentu ditetapkan untuk kedatangan kedua kali, dan semakin luas hal itu diajarkan, maka semakin baiklah hal itu sesuai dengan rencana Setan. Setelah waktu tertentu itu berlalu, Setan membangkitkan ejekan dan penghinaan bagi penganjur-penganjurnya, dan dengan demikian melemparkan celaan kepada Pergerakan Advent besar pada tahun 1843 dan 1844. Mereka yang bertetap pada kesalahan ini akhirnya menetapkan waktu yang terlalu jauh kepada waktu yang akan datang kedatangan Kristus itu. Dengan demikian mereka dituntun kepada perasaan aman yang palsu, dan bnyak yang akan tertipu sampai waktunya sudah terlambat.
      Sejarah Israel kuno merupakan suatu gambaran hebat pengalaman masa lalu orang-orang Advent. Allah memimpin umat-Nya dalam Pergerakan Advent, seperti Ia memimpin orang-orang Israel keluar dari Mesir. Dalam kekecewaan yang besar itu iman mereka diuji sebagaimana orang-orang Iberani diuji di Laut Merah. Seandainya mereka masih terus percaya kepada tangan yang memimpin mereka pada pengalaman-pengalaman masa lalu, mereka sudah akan melihat keselamatan yang dari Allah. Jikalau semua yang sudah bekerja bersatu dalam pekerjaan pada tahun 1844 menerima pekabaran malaikat yang ketigan dan menyiarkannya dalam kuasa Roh Kudus, maka Tuhan akan bekerja dengan hebat dalam usaha-usaha mereka. Terang yang besar akan dipancarkan ke bumi ini. Bertahun-tahun yang lalu penduduk bumi seharusnya sudah diamarkan, pekerjaan penutupan sudah diselesaikan dan Kristus sudah datang untuk menebus umat-Nya.

      Bukanlah kehendak Allah agar bangsa Israel selama empat puluh tahun di padang belantara. Ia rindu memimpin mereka langsung ke tanah Kanaan, dan menempatkan mereka di sana sebagai umat yang kudus dan berbahagia. Akan tetapi "mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka." (Iberani 3:19). Oleh karena kemurtadan mereka, mereka binasa di padang gurun, dan yang lain dipelihara untuk memasuki tanah perjanjian. Demikian juga, bukanlah kehendak Allah menunda kedatangan Kristus itu begitu lama, dan umat-Nya harus tinggal di dunia yang penuh dosa dan dukacita ini. Tetapi ketidakpercayaanlah yang memisahkan mereka dari Allah. Sementara mereka menolak untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka, yang lain dibangkitkan untuk mengabarkan pekabaran itu. Oleh karena kasih-Nya kepada dunia ini Yesus menunda kedatangan-Nya, agar orang-orang yang berdosa mempunyai kesempatan mendengar amaran dan memperoleh perlindungan pada-Nya sebelum murka Allah dicurahkan ke dunia ini.
      Sekarang, sebagaimana juga pada masa-masa sebelumnya, penyampaian kebenaran yang menegur dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan pada zaman itu, akan menimbulkan perlawanan. "Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak." (Yoh. 3:20). Sementara manusia melihat bahwa mereka tidak bisa mempertahankan kedudukannya oleh Alkitab, banyak yang berkeras untuk mempertahankannya dengan segala risiko. Dan dengan roh dengki mereka menyerang tabiat dan motif mereka yang mempertahankan kebenaran yang tidak populer itu. Kebijakan seperti itulah yang dilakukan sepanjang masa. Elia dinyatakan sebagai pengacau di Israel, Yeremia seorang pengkhianat, Rasul Paulus sebagai seorang yang mengotori kaabah. Sejak dulu sampai sekarang, mereka yang mau setia kepada kebenaran telah dipersalahkan sebagai penghasut, bida'ah, atau pemecah belah. Orang-orang yang terlalu ragu-ragu menerima perkataan pasti nubuatan, akan menerima dengan mudah suatu tuduhan melawan mereka yang berani menegur dosa-dosa modern. Roh seperti ini akan semakin bertambah. Dan Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa waktunya sudah dekat bilamana hukum-hukum negara akan bertentangan dengan hukum Allah, sehingga barang siapa yang akan menuruti semua petunjuk-petunjuk ilahi harus berani ditegur dan dihukum sebagai seorang pelaku kejahatan.
      Melihat keadaan di atas, apakah tugas jurukabar kebenaran? Apakah ia akan menyimpulkan bahwa kebenaran itu tidak akan disampaikan, karena sering pengaruhnya hanya membangkitkan orang-orang untuk menghindari atau menolak tuntutan kebenaran itu? Tidak. Tidak ada alasan baginya untuk menahan kesaksian firman Allah, oleh karena itu akan menimbulkan perlawanan seperti yang dialami pembaharu-pembaharu yang terdahulu. Pengakuan iman yang dilakukan oleh orang-orang kudus dan para syuhada dicatat untuk kepentingan generasi-generasi berikut. Mereka yang hidup menjadi teladan kesucian dan keteguhan integritas telah mengilhamkan keberanian bagi mereka yang sekarang dipanggil untuk berdiri teguh sebagai saksi-saksi bagi Allah. Mereka menerima rahmat dan kebenaran, bukan untuk mereka sendiri, tetapi, agar pengetahuan mengenai Allah boleh menerangi dunia ini melalui mereka. Apakah Allah memberikan terang kepada hamba-hambanya pada zaman atau generasi ini? Kalau begitu mereka harus menyinarkannya ke dunia ini.
      Pada zaman dahulu Tuhan menyatakan kepada seseorang yang berbicara dalam nama-Nya, "Akan tetapi kaum Israel tidak mau mendengarkan engkau, sebab mereka tidak mau mendengarkan Aku."  Namun Ia berkata "Sampaikanlah perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak." (Yehez. 3:7; 2:7). Perintah ini ditujukan kepada hamba Allah pada zaman ini, "Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka, dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!" (Yes. 58:1).
      Sejauh kesempatan masih diberikan, setiap orang yang telah menerima terang kebenaran, mempunyai tanggungjawa yang sama yang sungguh-sungguh dan penting seperti nabi Israel kepada siapa firman Tuhan ini datang, yang berkata, "Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman daripada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati!  -- dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya daripadamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu." (Yehez. 33:7-9).
      Hambatan besar baik penerimaan maupun penyebarluasan kebenaran, adalah kenyataan bahwa hal itu melibatkan ketidaknyamanan dan penghinaan. Inilah argumen satu-satunya terhadap kebenaran yang tidak sanggup disangkal oleh penganjur-penganjurnya. Tetapi hal ini tidak menghalangi pengikut-pengikut Kristus yang benar. Hal ini tidak menunggu kebenaran itu terkenal dahulu. Setelah mereka yakin mengenai tugas kewajiban mereka, ,mereka menerima salib tanpa ragu-ragu, dan bersama Rasul Paulus menganggap bahwa "penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya." (2 Kor. 4:17); dan dengan salah seorang yang hidup zaman dahulu, "menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir." (Iberani 11:26).

      Apapun yang menjadi pekerjaan mereka, hanya mereka yang melayani dunia dengan hatinya yang akan bertindak berdasarkan kebijaksanaan gantinya bertindak atas prinsip keagamaan. Kita harus memilih yang benar karena itu adalah benar, dan menyerahkan segala konsekwensinya kepada Allah. Kepada orang-orang yang berprinsip, beriman dan mempunyai keberanian, dunia ini berhutang karena pembaharuan yang besar. Oleh orang-orang seperti itu pekerjaan pembaharuan bagi zaman ini harus diteruskan.
      Demikianlah firman Tuhan, "Dengarkanlah Aku hai kamu yang mengetahui apa yang benar, hai bangsa yang menyimpan pengajaran-Ku dalam hatimu! Janganlah takut jika diaibkan oleh manusia dan janganlah terkejut jika dinista oleh mereka. Sebab ngengat akan memakan mereka seperti memakan kain bulu domba; tetapi keselamatan yang dari pada-Ku akan tetap untuk selama-lamanya dan kelepasan yang Kuberikan akan lanjut dari keturunan kepada keturunan." (Yes. 51:7,8).


SATU MALAM Dl ATAS TASIK


Pasal 40

SATU MALAM Dl ATAS TASIK

SEMENTARA mereka duduk di atas rumput yang terhampar itu, pada petang hari musim semi, orang banyak itu makan makanan yang telah disediakan Kristus. Firman yang mereka dengar sepanjang hari itu sampai kepada mereka sebagai suara Allah. Mukjizat penyembuhan yang telah mereka saksikan, adalah mukjizat yang hanya dapat dilakukan oleh kuasa Ilahi. Tetapi mukjizat ketul roti ini sangat menarik hati setiap orang yang ada di dalam rombongan itu. Semua mendapat bagian dari berkatnya. Pada zaman Musa, Allah telah memberi makan bangsa Israel dengan manna di padang belantara; dan siapakah gerangan orang ini yang telah memberi makan orang banyak hari ini, melainkan Dia yang telah dikatakan lebih dahulu oleh Musa? Tiada kuasa manusia yang dapat menjadikan hanya dari lima ketul roti dan dua ekor ikan kecil untuk memberi makanan yang cukup bagi ribuan orang yang sedang lapar itu. Dan berkatalah mereka kepada sesama sendirinya: "Sesungguhnya Ia inilah Nabi, yang datang ke dalam dunia ini."
------------
Pasal ini dialaskan pada Mat. 14:22‑23; Mrk. 6 :45‑52; Yoh. 6: 14‑21.

Sepanjang hari itu keyakinan mereka dikuatkan. Tindakan memahkotai merupakan jaminan yang sudah lama dirindukan bahwa Pelepas berada di antara mereka. Pengharapan orang banyak semakin besar. Inilah Orangnya yang akan menjadikan Yudea suatu Firdaus di atas bumi, suatu negeri yang penuh susu dan madu. Ia dapat memuaskan setiap kerinduan. Ia dapat menghancurkan kuasa orang Rom yang dibenci itu. Ia dapat melepaskan Yehuda dan Yerusalem. Ia dapat menyembuhkan tentara‑tentara yang luka dalam perternpuran. Ia dapat menyediakan perbekalan bagi seluruh bala tentara. Ia dapat mengalahkan bangsa‑bangsa, dan memberikan pada Israel kekuasaan yang telah lama dicari.
Di dalam keadaan yang bersemangat itu orang banyak sudah siap sedia untuk memahkotai Dia menjadi raja. Mereka melihat bahwa Ia tidak mengadakan usaha untuk menarik perhatian atau mendapatkan penghormatan bagi Dirinya sendiri. Di dalam hal ini Ia sangat berbeda dengan imam‑imam dan penghulu‑penghulu, dan mereka kuatir kalau‑kalau Ia tidak akan pernah menuntut takhta Daud. Setelah mereka berunding bersama, mereka bersepakat mengangkat Dia dengan paksa, serta mengumurnkan Dia sebagai raja Israel. Murid‑murid itu bersatu dengan orang banyak menuntut bahwa pantaslah takhta Daud diwarisi oleh Guru mereka. Kata mereka, adalah karena kerendahan hati Kristus maka Ia menolak penghormatan yang semacam itu. Biarlah orang banyak meninggikan Pelepas mereka. Biarlah imam‑imam dan penghulu‑penghulu yang angkuh dipaksa untuk menghormati Dia yang datang diselubungi dengan kuasa Allah.
Dengan penuh kerinduan mereka mengatur pelaksanaan maksud mereka; tetapi Yesus melihat apa yang sedang terjadi dan mengerti apa yang mereka tidak pahami, apa yang akan terjadi sebagai akibat suatu pergerakan yang semacam itu. Hingga saat ini imam‑imam dan penghulu‑penghulu sedang memburu nyawa‑Nya. Mereka menuduh Dia menarik orang banyak dari mereka. Kekerasan dan huru‑hara akan mengikuti usaha mereka menempatkan Dia di atas takhta, sehingga pekerjaan kerajaan rohani akan terhalang. Pergerakan itu harus dengan segera diatasi. Ia memanggil murid‑murid‑Nya dan menyuruh mereka mengambil perahu, lalu kembali dengan segera ke Kapernaum, dan dengan demikian Ia menyuruh orang banyak itu.
Belum pernah ada suatu perintah dari Kristus yang tampaknya begitu mustahil untuk dilaksanakan. Murid‑murid telah lama mengharapkan suatu pergerakan yang populer untuk menempatkan Yesus di atas takhta; mereka kesal karena semangat pengharapan yang meluap‑luap ini menjadi lenyap sama sekali. Orang banyak yang telah berkumpul untuk merayakan Hari Raya Pasah sangat mengharapkan untuk melihat nabi yang baru. Bagi pengikut‑pengikut‑Nya hal ini merupakan suatu kesempatan yang gemilang untuk mengukuhkan Guru mereka yang dikasihi duduk di atas takhta Israel. Di dalam ambisi yang baru ini adalah sangat sukar bagi mereka untuk pergi dan meninggal Yesus sendirian di pantai yang sunyi itu. Mereka mengecam rencana itu; tetapi Yesus kini berbicara dengan suatu kuasa yang belum pernah diperlihatkan‑Nya kepada mereka. Mereka mengetahui bahwa perlawanan mereka yang berikut tidak akan ada gunanya, dan dangan diam‑diam rnereka menuju tasik.
Kini Yesus menyuruh orang banyak itu supaya bubar; dan cara‑Nya begitu tegas sehingga tiada yang berani melawan. Perkataan pujian dan pujaan pun mati di bibir mereka. Di saat hendak menangkap Dia, langkah kaki mereka terpaku, kegembiraan mereka lenyap dari wajah mereka. Di dalam rombongan itu terdapatlah orang yang berhati keras dan bertekad bulat; tetapi wajah Yesus yang agung, dan beberapa patah perkataan‑Nya, mendiamkan kekacauan dan menghentikan rencana mereka. Mereka mengakui bahwa di dalam Dia terdapat suatu kuasa yang melebihi segala kuasa dunia, dan tanpa suatu pertanyaan pun mereka tunduk.
Manakala Yesus ditinggalkan sendirian, Ia "naik ke atas gunung hendak berdoa." Berjam‑jam lamanya Ia berdoa kepada Allah. Tetapi doa itu bukan untuk Dirinya melainkan untuk manusia. Ia berdoa memohon kuasa untuk menyatakan kepada manusia sifat Ilahi tugas‑Nya, agar Setan tidak membutakan pengertian mereka dan memutar‑balikkan pertimbangan mereka. Juruselamat mengetahui bahwa hari‑hari pelayanan pribadinya di atas dunia sudah.hampir berakhir, dan hanya sedikit orang yang akan menerima Dia sebagai Penebus mereka. Di dalam kesusahan dan pergumulan jiwa‑Nya Ia mendoakan murid‑murid‑Nya. Mereka akan mendapat ujian yang sangat berat. Pengharapan mereka yang telah lama dirindukan, yang didasarkan atas suatu penipuan yang populer, harus dikecewakan di dalam suatu cara yang amat menyakitkan dan hina. Sebagai gantinya dinobatkan di takhta Daud, mereka menyaksikan penyaliban‑Nya. Inilah yang disebut penobatan‑Nya yang sebenarnya. Tetapi mereka tidak dapat memperhatikan hal ini, dan sebagai akibatnya pencobaan yang berat akan menimpa mereka, yang sangat sulit bagi mereka untuk mengenal sebagai pencobaan. Tanpa Roh Suci yang menerangi pikiran dan memperluas pengertian iman murid‑murid itu akan runtuh. Yesus merasa sangat sedih karena pengertian mereka tentang kerajaan‑Nya, diukur oleh kemuliaan dan penghormatan dunia. Bagi mereka itu beban berat pada hati‑Nya, sehingga Ia mencurahkan permohonan‑Nya dengan jiwa yang hancur disertai air mata.
Murid‑murid itu tidak dengan segera meninggalkan daratan sebagaimana yang disuruh‑Nya kepada mereka. Mereka menunggu sebentar dengan harapan bahwa Ia akan datang kepada mereka. Tetapi ketika mereka melihat bahwa hari sudah hampir malam "mereka itu naik ke dalam perahu akan menyeberang tasik menuju ke Kapernaum." Mereka telah meninggalkan Yesus dengan hati yang tidak puas, tidak sabar akan Dia lebih daripada sebelum  mereka  mengakui Dia sebagai Tuhan mereka. Mereka bersungut‑sungut karena mereka tidak diperkenankan untuk memaklumkan Dia sebagai raja. Mereka mempersalahkan diri mereka sendiri karena terlalu cepat tunduk pada perintah‑Nya. Mereka berpendapat bahwa apabila mereka lebih tekun maksud mereka dapat terlaksana.
Sifat tidak percaya telah memiliki hati dan pikiran mereka. Kasih akan kehormatan telah membutakan mereka. Mereka mengetahui bahwa Yesus  dibenci oleh orang Parisi, sehingga mereka rindu melihat Dia diagungkan sesuai dengan pikiran mereka. Bersatu dengan seorang guru yang dapat melakukan mukjizat yang besar; malahan dicaci sebagai seorang penipu, adalah suatu ujian yang dapat mereka tanggung dengan sukar. Apakah mereka selalu dianggap sebagai pengikut seorang nabi palsu? Apakah Kristus tidak pernah akan menyatakan kuasa‑Nya sebagai raja? Mengapa Ia yang mempunyai kuasa yang semacam itu tidak memperlihatkan diri‑Nya sendiri di dalam sifat‑Nya yang sejati, dan membuat jalan mereka tidak begitu susah? Mengapakah Ia tidak menyelamatkan Yohanes Pembaptis dari kematian yang ngeri itu? Demikianlah pikiran murid‑murid itu sehingga mereka menyelubungi diri mereka sendiri dengan kegelapan rohani yang besar. Mereka bertanya: Mungkinkah Yesus seorang penipu, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang Parisi?
Hari itu murid‑murid telah menyaksikan perbuatan ajaib yang diadakan Kristus. Seakan‑akan surga telah turun ke bumi. Kenangan hari itu yang indah dan mulia seharusnya memenuhi mereka dengan iman dan pengharapan. Jikalau mereka, terpancar dari kesungguhan hati mereka, bertobat bersama‑sama dengan melihat perkara‑perkara ini, mereka tidak akan masuk ke dalam pencobaan. Tetapi kekecewaan mereka telah menyerap pikiran mereka.  Firman Kristus: "Kumpulkanlah segala sisanya, supaya barang apa pun jangan terbuang," tidak dihiraukan. Saat itu sebenarnya adalah suatu saat yang mendatangkan berkat besar bagi murid‑murid itu, tetapi mereka telah melupakannya sama sekali. Mereka berada di tengah kesusahan besar. Pikiran mereka kacau dan bergolak, dan Tuhan memberikan pada mereka sesuatu hal yang lain untuk merundung jiwa mereka dan mengisi pikiran mereka. Allah sering berbuat seperti hal ini bila manusia membuat beban sendiri serta menyulitkan diri mereka sendiri. Murid‑murid seharusnya tidak perlu menimbulkan kesukaran. Bahaya besar sedang mengancam.
Suatu topan yang dahsyat telah menghantam mereka, mereka tidak bersedia menghadapinya. Itu suatu perbedaan yang tajam, karena hari yang baru lalu sangat cerah; dan waktu topan memukul, mereka menjadi ketakutan. Mereka lupa akan kekecewaan, kurang percaya, dan kekurang sabaran mereka. Setiap orang berusaha agar perahu itu tidak tenggelam. Jaraknya tidak terlalu jauh lewat tasik dari Baitsaida, di mana mereka berharap akan bertemu dengan Yesus, dan jika dalam keadaan cuaca yang baik perjalanan itu hanya memerlukan beberapa jam saja; tetapi kini mereka dihanyutkan semakin jauh dari tujuan mereka. Hingga pukul empat dinihari mereka mendayung. Kemudian orang yang telah letih ini menyerahkan nasib mereka bagi yang hilang. Di dalam topan dan kegelapan tasik telah mengajarkan kepada mereka keadaan mereka yang tidak berdaya itu, dan mereka rindu akan kehadiran Tuhan mereka.
Yesus tidak melupakan mereka. Penjaga berdiri di pantai melihat orang‑orang yang ketakutan itu bergumul melawan topan. Tiada sekejap mata pun perhatian‑Nya lepas dari murid‑murid‑Nya. Dengan perhatian yang penuh mata‑Nya mengikuti perahu yang diombang‑ambingkan topan dengan penumpang.penumpang yang sangat berharga itu; karena orang‑orang ini akan menjadi terang dunia. Sebagai seorang ibu dengan penuh kasih sayang memperhatikan anaknya, demikian pula Tuhan yang penuh kasih memperhatikan murid‑murid‑Nya. Apabila hati mereka telah ditundukkan, dan cita‑cita mereka yang tidak suci itu dipadamkan serta dengan kerendahan hati mereka berdoa memohon pertolongan, maka pertolongan pun diberikan kepada mereka.
Pada saat mereka merasa bahwa mereka akan binasa, suatu sinar terang menampakkan sesosok tubuh yang aneh berjalan di atas air menghampiri mereka. Tetapi mereka tidak mengetahui bahwa itulah Yesus. Seorang yang telah datang untuk menolong mereka, dianggap sebagai seorang musuh. Kengerian telah menguasai mereka. Tangan‑tangan yang memegang dayung dengan otot‑otot bagaikan besi kini menjadi lemah. Perahu dibiarkan diombang‑ambingkan oleh gelombang; semua mata ditujukan pada pemandangan orang yang sedang berjalan di atas ombak air tasik yang sedang bergelora itu.
Mereka kira sosok tubuh itu adalah hantu yang akan membinasakan mereka, maka berteriaklah mereka karena ketakutan. Yesus berjalan terus seakan‑akan hendak melewati mereka; tetapi mereka mengenal Dia, dan berserulah mereka meminta pertolongan‑Nya. Guru yang mereka kasihi itu berpaling, suara‑Nya menghilangkan perasaan takut mereka: "InilahAku, jangan takut."
Segera setelah mereka yakin, Petrus sangat bersuka. Dengan perasaan seolah‑olah tidak percaya betul, ia berseru: "Ya Tuhan, jikalau sungguh Tuhan, suruhlah hamba datang kepada Tuhan, berjalanlah di atas air juga." "Maka kata‑Nya, marilah."
Dengan memandang pada Yesus, Petrus berjalan dengan selamat; tetapi di saat perasaan kesombongannya muncul ia menoleh ke belakang kepada teman‑temannya yang di dalam perahu, pandangannya dipalingkan dari Juruselamat. Angin mengamuk. Ombak bergulung tinggi, datang di antara dia dan Guru; ia pun takutlah. Seketika itu pandangannya lepas daripada Kristus, lalu imannya pun runtuhlah. Ia mulai tenggelam. Tetapi waktu gelombang mengancam nyawanya, Petrus mengangkat matanya dari air yang bergelora itu dan mengarahkan pandangannya kepada Yesus, sambil berserulah ia, katanya: "Ya Tuhan, tolonglah hamba." Dengan segera Yesus mengulurkan tangannya sambil berkata kepadanya: "Hai engkau yang kurang percaya apakah sebabnya bimbang hatimu?"
Waktu berjalan berdampingan, dengan tangan Petrus dipegang oleh Tuhan, mereka naik ke dalam perahu bersama‑sama. Tetapi kini Petrus menjadi tunduk dan diam. Tiada alasan baginya menyombongkan diri di hadapan kawan‑kawannya, karena oleh kurang percaya dan kesombongannya ia hampir kehilangan nyawanya. Bila ia memalingkan matanya dari Yesus, langkahnya lenyap dan ia tenggelam di tengah‑tengah gelombang.
Apabila kesusahan menimpa kita, betapa sering kita seperti Petrus! Kita memandang gelombang itu, gantinya menujukan mata kita pada Juruselamat. Langkah‑langkah kita tergelincir, dan gelombang hidup keangkuhan itu menimpa jiwa kita. Yesus tidak menyuruh Petrus datang kepada‑Nya agar ia binasa; Ia tidak memanggil kita mengikut Dia, dan kemudian meninggalkan kita. "Janganlah," Firman‑Nya, "sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalaaaaaan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah Tuhan, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu." Yesaya 43:1‑3 .
Yesus membaca tabiat murid‑murid‑Nya. Ia tahu betapa hebatnya irnan mereka diuji. Di dalam peristiwa di atas laut ini Ia ingin menunjukkan kepada Petrus kelemahannya, untuk menunjukkan bahwa keselamatannya terletak dalam ketergantungannya yang terus‑menerus pada kuasa Ilahi. Di tengah‑tengah amukan topan pencobaan ia dapat berjalan dengan selamat hanyalah jikalau ia tidak bersandar pada dirinya sendiri, melainkan harus bergantung pada Juruselarnat. Di saat ia merasa dirinya kuat di saat itulah Petrus lemah; dan sampai ia melihat kelemahannya barulah ia dapat menyadari perlunya ia bergantung pada Kristus. Jikalau ia telah mempelajari pelajaran yang telah ditunjukkan untuk mengajar dia di dalam pengalaman di atas tasik itu, ia tidak akan gagal bila pencobaan yang besar datang kepadanya.
Hari demi hari Allah mengajar anak‑anak‑Nya. Melalui keadaan hidup sehari‑hari Ia sedang menyiapkan mereka untuk melakukan bahagian mereka akan tugas yang lebih luas yang telah ditetapkan oleh takdir‑Nya yang telah ditunjukkan‑Nya bagi mereka. Oleh pencobaan setiap hari itulah yang menentukan kemenangan atau kekalahan mereka dalam krisis hidup yang besar.
Mereka yang gagal menyadari perlunya ketergantungan mereka yang tetap kepada Allah akan dikalahkan oleh pencobaan. Sekarang kita dapat menduga bahwa kaki kita berdiri teguh, dan bahwa kita tidak akan pernah bergerak dari sana. Kita dapat berkata dengan penuh keyakinan, Aku tahu kepada siapa aku percaya; tiada sesuatu yang dapat menggoncangkan imanku kepada Allah dan Firman‑Nya. Tetapi Setan bermaksud untuk mengambil keuntungan dari tabiat warisan dan sifat‑sifat yang dipupuk, serta membutakan mata kita akan keperluan dan kekurangan kita. Hanyalah dengan menyadari akan kebenaran kita sendiri dan dengan teguh memandang pada Yesus, kita dapat berjalan dengan selamat.
Tidak lama setelah Yesus naik di dalam perahu maka angin pun berhentilah, "langsunglah perahu itu sampai ke pantai, ke tempat yang ditujunya." Malam yang penuh ketakutan telah digantikan oleh cahaya fajar. Murid‑murid dan orang yang lain yang berada di dalam perahu itu, tunduk menyembah sujud di kaki Yesus dengan hati yang bersyukur sambil berkata: "Sesungguhnya Tuhanlah Anak Allah."