Rabu, 31 Oktober 2012

SATU MALAM Dl ATAS TASIK


Pasal 40

SATU MALAM Dl ATAS TASIK

SEMENTARA mereka duduk di atas rumput yang terhampar itu, pada petang hari musim semi, orang banyak itu makan makanan yang telah disediakan Kristus. Firman yang mereka dengar sepanjang hari itu sampai kepada mereka sebagai suara Allah. Mukjizat penyembuhan yang telah mereka saksikan, adalah mukjizat yang hanya dapat dilakukan oleh kuasa Ilahi. Tetapi mukjizat ketul roti ini sangat menarik hati setiap orang yang ada di dalam rombongan itu. Semua mendapat bagian dari berkatnya. Pada zaman Musa, Allah telah memberi makan bangsa Israel dengan manna di padang belantara; dan siapakah gerangan orang ini yang telah memberi makan orang banyak hari ini, melainkan Dia yang telah dikatakan lebih dahulu oleh Musa? Tiada kuasa manusia yang dapat menjadikan hanya dari lima ketul roti dan dua ekor ikan kecil untuk memberi makanan yang cukup bagi ribuan orang yang sedang lapar itu. Dan berkatalah mereka kepada sesama sendirinya: "Sesungguhnya Ia inilah Nabi, yang datang ke dalam dunia ini."
------------
Pasal ini dialaskan pada Mat. 14:22‑23; Mrk. 6 :45‑52; Yoh. 6: 14‑21.

Sepanjang hari itu keyakinan mereka dikuatkan. Tindakan memahkotai merupakan jaminan yang sudah lama dirindukan bahwa Pelepas berada di antara mereka. Pengharapan orang banyak semakin besar. Inilah Orangnya yang akan menjadikan Yudea suatu Firdaus di atas bumi, suatu negeri yang penuh susu dan madu. Ia dapat memuaskan setiap kerinduan. Ia dapat menghancurkan kuasa orang Rom yang dibenci itu. Ia dapat melepaskan Yehuda dan Yerusalem. Ia dapat menyembuhkan tentara‑tentara yang luka dalam perternpuran. Ia dapat menyediakan perbekalan bagi seluruh bala tentara. Ia dapat mengalahkan bangsa‑bangsa, dan memberikan pada Israel kekuasaan yang telah lama dicari.
Di dalam keadaan yang bersemangat itu orang banyak sudah siap sedia untuk memahkotai Dia menjadi raja. Mereka melihat bahwa Ia tidak mengadakan usaha untuk menarik perhatian atau mendapatkan penghormatan bagi Dirinya sendiri. Di dalam hal ini Ia sangat berbeda dengan imam‑imam dan penghulu‑penghulu, dan mereka kuatir kalau‑kalau Ia tidak akan pernah menuntut takhta Daud. Setelah mereka berunding bersama, mereka bersepakat mengangkat Dia dengan paksa, serta mengumurnkan Dia sebagai raja Israel. Murid‑murid itu bersatu dengan orang banyak menuntut bahwa pantaslah takhta Daud diwarisi oleh Guru mereka. Kata mereka, adalah karena kerendahan hati Kristus maka Ia menolak penghormatan yang semacam itu. Biarlah orang banyak meninggikan Pelepas mereka. Biarlah imam‑imam dan penghulu‑penghulu yang angkuh dipaksa untuk menghormati Dia yang datang diselubungi dengan kuasa Allah.
Dengan penuh kerinduan mereka mengatur pelaksanaan maksud mereka; tetapi Yesus melihat apa yang sedang terjadi dan mengerti apa yang mereka tidak pahami, apa yang akan terjadi sebagai akibat suatu pergerakan yang semacam itu. Hingga saat ini imam‑imam dan penghulu‑penghulu sedang memburu nyawa‑Nya. Mereka menuduh Dia menarik orang banyak dari mereka. Kekerasan dan huru‑hara akan mengikuti usaha mereka menempatkan Dia di atas takhta, sehingga pekerjaan kerajaan rohani akan terhalang. Pergerakan itu harus dengan segera diatasi. Ia memanggil murid‑murid‑Nya dan menyuruh mereka mengambil perahu, lalu kembali dengan segera ke Kapernaum, dan dengan demikian Ia menyuruh orang banyak itu.
Belum pernah ada suatu perintah dari Kristus yang tampaknya begitu mustahil untuk dilaksanakan. Murid‑murid telah lama mengharapkan suatu pergerakan yang populer untuk menempatkan Yesus di atas takhta; mereka kesal karena semangat pengharapan yang meluap‑luap ini menjadi lenyap sama sekali. Orang banyak yang telah berkumpul untuk merayakan Hari Raya Pasah sangat mengharapkan untuk melihat nabi yang baru. Bagi pengikut‑pengikut‑Nya hal ini merupakan suatu kesempatan yang gemilang untuk mengukuhkan Guru mereka yang dikasihi duduk di atas takhta Israel. Di dalam ambisi yang baru ini adalah sangat sukar bagi mereka untuk pergi dan meninggal Yesus sendirian di pantai yang sunyi itu. Mereka mengecam rencana itu; tetapi Yesus kini berbicara dengan suatu kuasa yang belum pernah diperlihatkan‑Nya kepada mereka. Mereka mengetahui bahwa perlawanan mereka yang berikut tidak akan ada gunanya, dan dangan diam‑diam rnereka menuju tasik.
Kini Yesus menyuruh orang banyak itu supaya bubar; dan cara‑Nya begitu tegas sehingga tiada yang berani melawan. Perkataan pujian dan pujaan pun mati di bibir mereka. Di saat hendak menangkap Dia, langkah kaki mereka terpaku, kegembiraan mereka lenyap dari wajah mereka. Di dalam rombongan itu terdapatlah orang yang berhati keras dan bertekad bulat; tetapi wajah Yesus yang agung, dan beberapa patah perkataan‑Nya, mendiamkan kekacauan dan menghentikan rencana mereka. Mereka mengakui bahwa di dalam Dia terdapat suatu kuasa yang melebihi segala kuasa dunia, dan tanpa suatu pertanyaan pun mereka tunduk.
Manakala Yesus ditinggalkan sendirian, Ia "naik ke atas gunung hendak berdoa." Berjam‑jam lamanya Ia berdoa kepada Allah. Tetapi doa itu bukan untuk Dirinya melainkan untuk manusia. Ia berdoa memohon kuasa untuk menyatakan kepada manusia sifat Ilahi tugas‑Nya, agar Setan tidak membutakan pengertian mereka dan memutar‑balikkan pertimbangan mereka. Juruselamat mengetahui bahwa hari‑hari pelayanan pribadinya di atas dunia sudah.hampir berakhir, dan hanya sedikit orang yang akan menerima Dia sebagai Penebus mereka. Di dalam kesusahan dan pergumulan jiwa‑Nya Ia mendoakan murid‑murid‑Nya. Mereka akan mendapat ujian yang sangat berat. Pengharapan mereka yang telah lama dirindukan, yang didasarkan atas suatu penipuan yang populer, harus dikecewakan di dalam suatu cara yang amat menyakitkan dan hina. Sebagai gantinya dinobatkan di takhta Daud, mereka menyaksikan penyaliban‑Nya. Inilah yang disebut penobatan‑Nya yang sebenarnya. Tetapi mereka tidak dapat memperhatikan hal ini, dan sebagai akibatnya pencobaan yang berat akan menimpa mereka, yang sangat sulit bagi mereka untuk mengenal sebagai pencobaan. Tanpa Roh Suci yang menerangi pikiran dan memperluas pengertian iman murid‑murid itu akan runtuh. Yesus merasa sangat sedih karena pengertian mereka tentang kerajaan‑Nya, diukur oleh kemuliaan dan penghormatan dunia. Bagi mereka itu beban berat pada hati‑Nya, sehingga Ia mencurahkan permohonan‑Nya dengan jiwa yang hancur disertai air mata.
Murid‑murid itu tidak dengan segera meninggalkan daratan sebagaimana yang disuruh‑Nya kepada mereka. Mereka menunggu sebentar dengan harapan bahwa Ia akan datang kepada mereka. Tetapi ketika mereka melihat bahwa hari sudah hampir malam "mereka itu naik ke dalam perahu akan menyeberang tasik menuju ke Kapernaum." Mereka telah meninggalkan Yesus dengan hati yang tidak puas, tidak sabar akan Dia lebih daripada sebelum  mereka  mengakui Dia sebagai Tuhan mereka. Mereka bersungut‑sungut karena mereka tidak diperkenankan untuk memaklumkan Dia sebagai raja. Mereka mempersalahkan diri mereka sendiri karena terlalu cepat tunduk pada perintah‑Nya. Mereka berpendapat bahwa apabila mereka lebih tekun maksud mereka dapat terlaksana.
Sifat tidak percaya telah memiliki hati dan pikiran mereka. Kasih akan kehormatan telah membutakan mereka. Mereka mengetahui bahwa Yesus  dibenci oleh orang Parisi, sehingga mereka rindu melihat Dia diagungkan sesuai dengan pikiran mereka. Bersatu dengan seorang guru yang dapat melakukan mukjizat yang besar; malahan dicaci sebagai seorang penipu, adalah suatu ujian yang dapat mereka tanggung dengan sukar. Apakah mereka selalu dianggap sebagai pengikut seorang nabi palsu? Apakah Kristus tidak pernah akan menyatakan kuasa‑Nya sebagai raja? Mengapa Ia yang mempunyai kuasa yang semacam itu tidak memperlihatkan diri‑Nya sendiri di dalam sifat‑Nya yang sejati, dan membuat jalan mereka tidak begitu susah? Mengapakah Ia tidak menyelamatkan Yohanes Pembaptis dari kematian yang ngeri itu? Demikianlah pikiran murid‑murid itu sehingga mereka menyelubungi diri mereka sendiri dengan kegelapan rohani yang besar. Mereka bertanya: Mungkinkah Yesus seorang penipu, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang Parisi?
Hari itu murid‑murid telah menyaksikan perbuatan ajaib yang diadakan Kristus. Seakan‑akan surga telah turun ke bumi. Kenangan hari itu yang indah dan mulia seharusnya memenuhi mereka dengan iman dan pengharapan. Jikalau mereka, terpancar dari kesungguhan hati mereka, bertobat bersama‑sama dengan melihat perkara‑perkara ini, mereka tidak akan masuk ke dalam pencobaan. Tetapi kekecewaan mereka telah menyerap pikiran mereka.  Firman Kristus: "Kumpulkanlah segala sisanya, supaya barang apa pun jangan terbuang," tidak dihiraukan. Saat itu sebenarnya adalah suatu saat yang mendatangkan berkat besar bagi murid‑murid itu, tetapi mereka telah melupakannya sama sekali. Mereka berada di tengah kesusahan besar. Pikiran mereka kacau dan bergolak, dan Tuhan memberikan pada mereka sesuatu hal yang lain untuk merundung jiwa mereka dan mengisi pikiran mereka. Allah sering berbuat seperti hal ini bila manusia membuat beban sendiri serta menyulitkan diri mereka sendiri. Murid‑murid seharusnya tidak perlu menimbulkan kesukaran. Bahaya besar sedang mengancam.
Suatu topan yang dahsyat telah menghantam mereka, mereka tidak bersedia menghadapinya. Itu suatu perbedaan yang tajam, karena hari yang baru lalu sangat cerah; dan waktu topan memukul, mereka menjadi ketakutan. Mereka lupa akan kekecewaan, kurang percaya, dan kekurang sabaran mereka. Setiap orang berusaha agar perahu itu tidak tenggelam. Jaraknya tidak terlalu jauh lewat tasik dari Baitsaida, di mana mereka berharap akan bertemu dengan Yesus, dan jika dalam keadaan cuaca yang baik perjalanan itu hanya memerlukan beberapa jam saja; tetapi kini mereka dihanyutkan semakin jauh dari tujuan mereka. Hingga pukul empat dinihari mereka mendayung. Kemudian orang yang telah letih ini menyerahkan nasib mereka bagi yang hilang. Di dalam topan dan kegelapan tasik telah mengajarkan kepada mereka keadaan mereka yang tidak berdaya itu, dan mereka rindu akan kehadiran Tuhan mereka.
Yesus tidak melupakan mereka. Penjaga berdiri di pantai melihat orang‑orang yang ketakutan itu bergumul melawan topan. Tiada sekejap mata pun perhatian‑Nya lepas dari murid‑murid‑Nya. Dengan perhatian yang penuh mata‑Nya mengikuti perahu yang diombang‑ambingkan topan dengan penumpang.penumpang yang sangat berharga itu; karena orang‑orang ini akan menjadi terang dunia. Sebagai seorang ibu dengan penuh kasih sayang memperhatikan anaknya, demikian pula Tuhan yang penuh kasih memperhatikan murid‑murid‑Nya. Apabila hati mereka telah ditundukkan, dan cita‑cita mereka yang tidak suci itu dipadamkan serta dengan kerendahan hati mereka berdoa memohon pertolongan, maka pertolongan pun diberikan kepada mereka.
Pada saat mereka merasa bahwa mereka akan binasa, suatu sinar terang menampakkan sesosok tubuh yang aneh berjalan di atas air menghampiri mereka. Tetapi mereka tidak mengetahui bahwa itulah Yesus. Seorang yang telah datang untuk menolong mereka, dianggap sebagai seorang musuh. Kengerian telah menguasai mereka. Tangan‑tangan yang memegang dayung dengan otot‑otot bagaikan besi kini menjadi lemah. Perahu dibiarkan diombang‑ambingkan oleh gelombang; semua mata ditujukan pada pemandangan orang yang sedang berjalan di atas ombak air tasik yang sedang bergelora itu.
Mereka kira sosok tubuh itu adalah hantu yang akan membinasakan mereka, maka berteriaklah mereka karena ketakutan. Yesus berjalan terus seakan‑akan hendak melewati mereka; tetapi mereka mengenal Dia, dan berserulah mereka meminta pertolongan‑Nya. Guru yang mereka kasihi itu berpaling, suara‑Nya menghilangkan perasaan takut mereka: "InilahAku, jangan takut."
Segera setelah mereka yakin, Petrus sangat bersuka. Dengan perasaan seolah‑olah tidak percaya betul, ia berseru: "Ya Tuhan, jikalau sungguh Tuhan, suruhlah hamba datang kepada Tuhan, berjalanlah di atas air juga." "Maka kata‑Nya, marilah."
Dengan memandang pada Yesus, Petrus berjalan dengan selamat; tetapi di saat perasaan kesombongannya muncul ia menoleh ke belakang kepada teman‑temannya yang di dalam perahu, pandangannya dipalingkan dari Juruselamat. Angin mengamuk. Ombak bergulung tinggi, datang di antara dia dan Guru; ia pun takutlah. Seketika itu pandangannya lepas daripada Kristus, lalu imannya pun runtuhlah. Ia mulai tenggelam. Tetapi waktu gelombang mengancam nyawanya, Petrus mengangkat matanya dari air yang bergelora itu dan mengarahkan pandangannya kepada Yesus, sambil berserulah ia, katanya: "Ya Tuhan, tolonglah hamba." Dengan segera Yesus mengulurkan tangannya sambil berkata kepadanya: "Hai engkau yang kurang percaya apakah sebabnya bimbang hatimu?"
Waktu berjalan berdampingan, dengan tangan Petrus dipegang oleh Tuhan, mereka naik ke dalam perahu bersama‑sama. Tetapi kini Petrus menjadi tunduk dan diam. Tiada alasan baginya menyombongkan diri di hadapan kawan‑kawannya, karena oleh kurang percaya dan kesombongannya ia hampir kehilangan nyawanya. Bila ia memalingkan matanya dari Yesus, langkahnya lenyap dan ia tenggelam di tengah‑tengah gelombang.
Apabila kesusahan menimpa kita, betapa sering kita seperti Petrus! Kita memandang gelombang itu, gantinya menujukan mata kita pada Juruselamat. Langkah‑langkah kita tergelincir, dan gelombang hidup keangkuhan itu menimpa jiwa kita. Yesus tidak menyuruh Petrus datang kepada‑Nya agar ia binasa; Ia tidak memanggil kita mengikut Dia, dan kemudian meninggalkan kita. "Janganlah," Firman‑Nya, "sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalaaaaaan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah Tuhan, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu." Yesaya 43:1‑3 .
Yesus membaca tabiat murid‑murid‑Nya. Ia tahu betapa hebatnya irnan mereka diuji. Di dalam peristiwa di atas laut ini Ia ingin menunjukkan kepada Petrus kelemahannya, untuk menunjukkan bahwa keselamatannya terletak dalam ketergantungannya yang terus‑menerus pada kuasa Ilahi. Di tengah‑tengah amukan topan pencobaan ia dapat berjalan dengan selamat hanyalah jikalau ia tidak bersandar pada dirinya sendiri, melainkan harus bergantung pada Juruselarnat. Di saat ia merasa dirinya kuat di saat itulah Petrus lemah; dan sampai ia melihat kelemahannya barulah ia dapat menyadari perlunya ia bergantung pada Kristus. Jikalau ia telah mempelajari pelajaran yang telah ditunjukkan untuk mengajar dia di dalam pengalaman di atas tasik itu, ia tidak akan gagal bila pencobaan yang besar datang kepadanya.
Hari demi hari Allah mengajar anak‑anak‑Nya. Melalui keadaan hidup sehari‑hari Ia sedang menyiapkan mereka untuk melakukan bahagian mereka akan tugas yang lebih luas yang telah ditetapkan oleh takdir‑Nya yang telah ditunjukkan‑Nya bagi mereka. Oleh pencobaan setiap hari itulah yang menentukan kemenangan atau kekalahan mereka dalam krisis hidup yang besar.
Mereka yang gagal menyadari perlunya ketergantungan mereka yang tetap kepada Allah akan dikalahkan oleh pencobaan. Sekarang kita dapat menduga bahwa kaki kita berdiri teguh, dan bahwa kita tidak akan pernah bergerak dari sana. Kita dapat berkata dengan penuh keyakinan, Aku tahu kepada siapa aku percaya; tiada sesuatu yang dapat menggoncangkan imanku kepada Allah dan Firman‑Nya. Tetapi Setan bermaksud untuk mengambil keuntungan dari tabiat warisan dan sifat‑sifat yang dipupuk, serta membutakan mata kita akan keperluan dan kekurangan kita. Hanyalah dengan menyadari akan kebenaran kita sendiri dan dengan teguh memandang pada Yesus, kita dapat berjalan dengan selamat.
Tidak lama setelah Yesus naik di dalam perahu maka angin pun berhentilah, "langsunglah perahu itu sampai ke pantai, ke tempat yang ditujunya." Malam yang penuh ketakutan telah digantikan oleh cahaya fajar. Murid‑murid dan orang yang lain yang berada di dalam perahu itu, tunduk menyembah sujud di kaki Yesus dengan hati yang bersyukur sambil berkata: "Sesungguhnya Tuhanlah Anak Allah."






Tidak ada komentar: