Kamis, 28 Februari 2013

Persepuluhan dan Persembahan


50

Persepuluhan dan Persembahan

Di dalam peraturan ekonomi bangsa Israel, sepersepuluh dari penghasilan mereka dipisahkan untuk membiayai perbaktian umum kepada Tuhan. Dengan demikian Musa telah mengumumkan kepada Israel: "Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik Tuhan; itulah persembahan kudus bagi Tuhan." "Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, . . . harus menjadi persembahan kudus bagi Tuhan." Imamat 27:30, 32.

Tetapi sistem persepuluhan bukanlah berasal dari bangsa Israel. Dari sejak lama sebelumnya, Tuhan telah menuntut persepuluhan sebagai milik‑Nya, dan tuntutan‑Nya itu diakui dan dihormati. Abraham membayar persepuluhan kepada Melkisedek, imam Allah yang Mahatinggi. Kejadian 14:20. Yakub, pada waktu di Betel, sebagai seorang buangan dan pengembara, telah berjanji kepada Tuhan, "Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu." Kejadian 28:22. Apabila Israel akan segera ditetapkan sebagai satu bangsa, undang‑undang persepuluhan diteguhkan kembali, sebagai salah satu peraturan yang telah ditetapkan oleh Ilahi, dan penurutan kepada undang‑undang ini merupakan syarat kemakmuran mereka.

Sistem persepuluhan dan persembahan ini dimaksudkan untuk mengingatkan satu kebenaran yang besar kepada pikiran mereka--bahwa Allah adalah sumber daripada segala berkat kepada makhluk‑makhluk‑Nya--dan kepada‑Nyalah rasa syukur manusia harus disampaikan atas segala pemberian‑pemberian yang baik daripada pimpinan‑Nya.

"Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang." Kisah Para Rasul 17:25. Tuhan menyatakan, "Sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung." "Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas." "Sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan." (Mazmur 50:10; Hagai 2:9; Ulangan 8:18). Sebagai suatu pengakuan bahwa segala sesuatu datang dari Dia, Tuhan memerintahkan agar sebahagian daripada kelimpahan‑Nya itu dikembalikan kepada Dia dalam bentuk pemberian dan persembahan untuk membiayai perbaktian kepada‑Nya.

"Persepuluhan . . . adalah milik Tuhan." Dalam hal ini bentuk daripada pernyataan yang sama telah digunakan sebagaimana halnya dalam hukum hari Sabat. "Tetapi hari Ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu." Keluaran 20:10. Allah telah memisahkan bagi diri‑Nya satu bagian yang telah ditetapkan dari waktu dan harta manusia, dan tidak ada seorang pun yang dapat, tanpa berbuat salah, menggunakan salah satu daripadanya untuk kepentingan dirinya sendiri.


Persepuluhan sepenuhnya digunakan untuk keperluan suku Lewi, suku bangsa yang telah diasingkan untuk melayani pekerjaan baitsuci. Tetapi hal ini bagaimanapun juga bukan merupakan batas daripada sumbangan‑sumbangan yang dapat diberikan untuk maksud‑maksud keagamaan. Kemah perhimpunan, sebagaimana juga halnya baitsuci kemudian hari, telah didirikan seluruhnya oleh pemberian‑pemberian sukarela, dan sebagai biaya untuk perbaikan‑perbaikan yang diperlukan, dan pengeluaran‑pengeluaran lainnya, Musa telah memerintahkan bahwa setiap kali orang banyak itu dihitung jumlahnya, masing‑masing harus memberikan sumbangan setengah syikal untuk "pekerjaan kemah perhimpunan itu." Pada zaman Nehemia suatu sumbangan ditetapkan setiap tahun untuk maksud ini. (Keluaran 30:12‑16; 2 Raja‑raja 12: 4, 5; 2 Tawarikh 24:4‑13; Nehemia 10: 32, 33). Dari waktu ke waktu, korban karena dosa dan persembahan syukur dibawa kepada Tuhan. Semuanya ini diberikan dalam jumlah yang besar pada waktu hari raya tahunan. Dan pemberian yang paling banyak telah diadakan untuk orang‑orang miskin.

Bahkan sebelum persepuluhan itu diasingkan, sudah ada suatu pengakuan tentang tuntutan Allah. Buah sulung hasil tanaman dikhususkan kepada‑Nya. Hasil yang pertama dari bulu domba yang digunting, dari gandum yang digiling, dari minyak dan anggur, telah diasingkan bagi Allah. Demikian pula anak sulung dari segala binatang; dan satu harga tebusan diadakan bagi anak sulung manusia. Buah‑buah sulung ini harus dibawa ke hadapan Allah di dalam baitsuci, dan harus diserahkan untuk keperluan imam‑imam.

Dengan demikian orang banyak itu selalu diingatkan bahwa Allah adalah pemilik yang sesungguhnya ladang‑ladang mereka, kawanan binatang mereka, dan kawanan kambing mereka; bahwa Ia telah memberikan sinar matahari kepada mereka dan hujan untuk masa menabur dan panen, dan bahwa segala sesuatu yang mereka miliki adalah ciptaan‑Nya, dan Ia telah menjadikan mereka sebagai penatalayan segala harta milik‑Nya.

Apabila orang Israel, sambil membawa kelimpahan buah‑buah sulung hasil ladangnya, dan kebun jeruk dan anggur, berkumpul di baitsuci, maka diadakanlah satu pengakuan umum tentang kebajikan Allah. Pada waktu imam menerima pemberian itu, si pemberi, sambil berkata‑kata seolah‑olah di hadapan Tuhan, berkata, "Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara," dan ia menerangkan pengembaraan di Mesir itu, dan penderitaan dari tempat mana Allah telah melepaskan Israel "dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizat." Dan ia berkata, "Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya Tuhan." Ulangan 26:5, 8‑10. Pemberian yang dituntut dari orang Israel untuk maksud‑maksud sosial dan keagamaan berjumlah seperempat daripada pendapatan mereka. Satu pajak yang demikian berat yang dikenakan kepada pendapatan orang banyak itu bisa diharapkan akan menjadikan mereka melarat; tetapi sebaliknya, penurutan yang setia kepada peraturan ini adalah salah satu daripada syarat‑syarat untuk kemakmuran mereka. Dengan syarat penurutan mereka, Allah telah memberikan kepada mereka janji ini, "Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu.... Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, Firman Tuhan semesta alam." Maleakhi 3:11, 12.


Satu gambaran yang mencolok tentang akibat daripada sifat mementingkan diri dengan menahan sekalipun persembahan sukarela dari pekerjaan Tuhan, telah diberikan pada zaman nabi Hagai. Setelah mereka kembali dari tawanan Babilon, bangsa Israel berusaha membangun kembali baitsuci Tuhan; tetapi apabila menemui pertentangan yang hebat dari musuh mereka, mereka menghentikan pekerjaan mereka; dan satu musim kemarau yang dahsyat, oleh mana mereka telah menderita kekurangan, telah meyakinkan mereka bahwa mustahil untuk menyelesaikan pembangunan baitsuci itu. "Sekarang belum tiba," kata mereka, "waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan!" Tetapi satu pekabaran telah diberikan kepada mereka oleh nabi Tuhan: "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? Oleh sebab itu, beginilah Firman Tuhan semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlubang!" Dan kemudian sebabnya diberikan: "Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah Firman Tuhan semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha." Hagai 1:2‑11. "Ketika orang pergi melihat suatu timbunan gandum yang seharusnya sebanyak dua puluh gantang, hanya ada sepuluh; dan ketika orang pergi ke tempat pemerasan anggur untuk mencedok lima puluh takar, hanya ada dua puluh. Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum dan segala yang dibuat tanganmu dengan hujan batu." Hagai 2:17‑18.

Digentarkan oleh amaran‑amaran ini, orang banyak telah mempersiapkan diri mereka untuk membangun rumah Allah. Kemudian Firman Allah datang kepada mereka: "Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya--mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait Tuhan, . . . Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!" Hagai 2:19, 20.
Kata orang bijaksana itu, "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." Amsal 11:24. Dan pelajaran yang sama itu diajarkan pula di dalam Perjanjian Baru oleh rasul Paulus: "Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." 2 Korintus 9:6, 8.


Allah bermaksud agar umat‑Nya, Israel, harus menjadi pembawa terang kepada segenap penduduk bumi ini. Di dalam mempertahankan perbaktian kepada‑Nya secara umum mereka sedang memberikan kesaksian akan adanya serta kekuasaan Allah yang hidup itu. Dan untuk perbaktian ini suatu kesempatan bagi mereka untuk mempertahankan, sebagai satu pernyataan kasih dan kesetiaan mereka kepada‑Nya. Tuhan telah menetapkan bahwa penyebar‑luasan terang dan kebenaran ke seluruh dunia ini akan bergantung kepada usaha dan persembahan dari mereka yang ikut ambil bagian dalam pemberian‑pemberian surga. Ia sebenarnya dapat menjadikan malaikat‑malaikat sebagai utusan‑utusan kebenaran‑Nya; Ia bisa saja menyatakan kehendak‑Nya, sebagaimana Ia telah mengumumkan hukum itu dari bukit Sinai, oleh suara‑Nya sendiri; tetapi di dalam hikmat serta kasih‑Nya yang tidak terbatas itu Ia telah memanggil manusia untuk menjadi orang‑orang yang akan bekerja sama dengan diri‑Nya sendiri, dengan memilih mereka melakukan pekerjaan ini.

Pada zaman Israel persepuluhan dan persembahan sukarela diperlukan untuk mempertahankan upacara‑upacara kebaktian kepada Tuhan. Apakah umat Allah sekarang ini memberikan kurang dari itu? Prinsip yang telah ditetapkan oleh Kristus adalah supaya persembahan kita kepada Allah harus sebanding dengan terang dan kesempatan‑kesempatan yang telah dinikmati. "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut." Lukas 12:48. Kata Juruselamat kepada murid‑murid‑Nya, apabila Ia mengutus mereka, "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma." Matius 10:8. Apabila berkat‑berkat serta kesempatan‑kesempatan kita ditambahkan--dan di atas segala sesuatunya, apabila kita melihat di hadapan kita pengorbanan yang tidak ada taranya dari Anak Allah yang mulia itu--tidakkah rasa syukur kita akan diperlihatkan melalui pemberian yang lebih limpah untuk menyampaikan kabar keselamatan itu kepada orang lain? Pekerjaan Injil itu, sementara itu disebarluaskan, memerlukan biaya yang lebih besar untuk melaksanakannya daripada apa yang diperlukan pada zaman dulu; dan hal ini menjadikan undang‑undang persepuluhan dan persembahan lebih mendesak lagi sekarang ini daripada pada zaman bangsa Israel itu. Jikalau umat‑Nya bersifat dermawan untuk membantu pekerjaan‑Nya oleh memberikan persembahan‑persembahan mereka yang sukarela, gantinya menggunakan cara‑cara yang tidak bersifat Kristen dan tidak suci untuk memenuhi perbendaharaan, maka Allah akan dihormati, dan lebih banyak jiwa lagi akan dimenangkan kepada Kristus.

Rencana Musa untuk mengumpulkan dana pembangunan baitsuci sangat berhasil. Tidak perlu ada desakan‑desakan. Ia tidak menggunakan cara‑cara yang sekarang ini sering digunakan oleh gereja‑gereja. Ia tidak mengadakan pesta‑pesta besar. Ia tidak mengundang orang banyak menghadiri upacara‑upacara yang meriah, dansa‑dansi, dan hiburan‑hiburan umum; ia tidak pernah menggunakan lotre, atau sesuatu yang sejenisnya, untuk memperoleh biaya membangun baitsuci. Tuhan memerintahkan Musa mengundang orang Israel supaya membawa persembahan mereka. Ia harus menerima pemberian‑pemberian setiap orang yang mau memberi dengan tulus hatinya. Dan persembahan itu datang dengan berkelimpahan sehingga Musa menyuruh orang banyak jangan membawanya lagi, oleh karena mereka telah memberikan ‑ lebih daripada apa yang akan digunakan.


Allah telah menjadikan manusia sebagai penatalayan‑penatalayan‑Nya. Harta benda yang telah diletakkan di dalam tangannya oleh Tuhan adalah merupakan alat‑alat yang telah disediakan‑Nya untuk mengabarkan Injil. Kepada mereka yang membuktikan dirinya sebagai penatalayan yang setia Ia akan mempercayakan perkara yang lebih besar lagi. Kata Tuhan "Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati." "Allah mengasihi orang yang memberi dengan suka cita," dan apabila umat‑Nya, dengan rasa syukur, membawa persembahan serta pemberian mereka kepada Dia, "tidak dengan sedih hati atau paksaan," maka berkat‑berkat‑Nya akan menjadi bahagian mereka, sebagaimana yang telah dijanjikan‑Nya. "Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." 1 Samuel 2:30; 2 Korintus 9:7; Maleakhi 3:10.




Tidak ada komentar: