Rabu, 29 Mei 2013

SURAT KOLOSE




Download:

I. PENDAHULUAN

Alasan Penulisan:


Kolose abad pertama merupakan sebuah pusat dagang kuno yang makin memudar kejayaannya, terletak sekitar seratus mil ke timur dari Efesus, terletak pada jalur kafilah di Lembah Lykhus dekat kota Laodikea dan Hierapolis (bdg. 4: 13). Sekalipun usaha untuk memberitakan Injil sebelumnya (oleh orang Kristen dari Galatia?) tidak dapat diabaikan, orang-orang di Kolose mungkin pertama kali mendengar amanat Kristen ketika Paulus melayani di Efesus (sekitar tahun 53-56 M; bdg. Kisah 19: 1O).

Paulus mungkin melewati Kolose ketika menuju ke Efesus, tetapi dia tidak mengenal secara pribadi jemaat di sana (bdg. 2:1). Rekan sekerjanya, Epafras, yang melayani jemaat ini, mengunjungi sang rasul dan melaporkan perkembangan orang-orang percaya di sana dan munculnya sehuah ajaran sesat yang sedang merongrong mereka.

Orang-orang Yahudi sudah menetap di propinsi Frigia ini selama dua ahad (Josefus, Antiquities 12. hlm. 147). Jelas tidak begitu berhaluan ortodoks, mereka disebut dalam Talmud sebagai berikut, "Anggur dan tempat mandi di Frigia telah memisahkan kesepuluh suku dari saudara-saudara mereka" (Shabbath, 147b). Penyesuaian diri dengan berbagai praktik orang non-Yahudi ikut menandai orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen. Di propinsi perbatasan Galatia iman yang masih baru ini terancam oleh legalisme, sebuah aliran Yudaisme yang sesat; di sini, seperti halnya di Efesus (bdg. Kisah 19:14, 18), bahayanya terletak pada pengaruh agama campuran Helenisme- Yudaisme. Untuk mengatasi masalah yang pertama Paulus menulis surat kepada jemaat-jemaat di Galatia: untuk mengatasi masalah yang sama-sama sulitnya di Kolose ini dia menuliskan surat ini.


Ajaran Sesat di Kolose:

Pada abad kedua gereja berhadapan dengan munculnya sebuah gerakan dengan ajaran sesat yang dikenal dengan nama Gnostik. Beberapa prinsip dasarnya sudah dikenal pada abad pertama, hukum hanya di gereja Kristen, tetapi juga di kalangan Yudaisme Diaspora (bdg. R. McL. Wilson, The Gnostic Problem; C. H. Dodd, The Interpretation of the Fourth Gospel, hlm. 97 dst.; Rudolf Bultrnann, "Gnosis," Bible Keywords, II). Gnostik yang baru muncul ini lebih merupakan sebuah sikap dan kecenderungan berpikir religius-filosofis daripada sebuah sistem, dan sikap ini dapat menyesuaikan diri dengan pandangan Yahudi, Kristen atau kelompok-kelompok kafir lainnya kebutuhan. Sekalipun demikian, tampaknya beberapa pokok tertentu merupakan ciri khas pandangan Gnostik pada umumnya: dualisme metafisika, makhluk-makhluk perantara, penebusan melalui pengetahuan atau g nosis. Semua agama, menurut ajaran Gnostik , yang merupakan manifestasi dari satu kebenaran yang tersembunyi. berusaha untuk menuntun orang menuju pengetahuan mengenai kebenaran tersebut. Pengetahuan atau γνωσις - gnôsis ini bukan pemahaman intelektual tetapi pencerahan yang diperoleh melului pengalaman mistik. Karena manusia terikat pada dunia materi yang jahat, dia hanya dapat menghampiri Allah dengan bantuan berbagai makhluk seperti malaikat. Dengan bantuan kekuatan-kekuatan ini dan dengan menafsirkan kitab-kitab suci secara alegoris dan mistis, dapat dicapai pencerahan rohani dan pembebasan dari dunia materi dan dosa dapat dipastikan.

Tentu saja dan mungkin pasti sebagian orang dari jemaat mula-mula berusaha untuk memperkaya atau menyesuaikan iman mereka denuan pemikiran religius yang sedang marak: orang-orang percaya yang kurang memahami kekristenan mungkin secara tidak sadar sudah mencampurkan kepercayaan-kepercayaan mereka sebelumnya dengan konsep-konsep Kristen. Mungkin ini pula yang menjadi awal dari pengaruh Gnostik yang muncul di sejumlah Jemaat yang didirikan Paulus. Di Korintus, misalnya kerinduan akan hikmat spekulatif (I Korintus 1:7 dst.) dan pengabaian tubuh jasmaniah (tercermin dalam penyangkalan kebangkitan, dalam askese dan dalam kebebasan seksual: bdg. I Korintus 15:5, 7), menunjukkan pengaruh Gnostik.

Ajaran sesat di Kolese menggabungkan unsur-unsur Yahudi dan Helenis, Ketaatan kepada peraturan-peraturan makanan dan hari Sabat. upacara penyunatan dan mungkin juga fungsi perantara dari para malaikat mengingatkan pada kebiasaan dan kepercayaan Yahudi (2: 11, 16, 18): penekanan pada "hikmat" dan "pengetahuan," plêrôma (peenuhan) dari kekuatan-kekuatan alam dan penilaian rendah terhadap tubuh jasmaniah mencerminkan pernikan Yunani (2:3. 8. 23). Beberapa orang Yahudi yang bertobat mungkin membawa campuran 1111 dari Yudaisme heterodoks dan mengembangkannva lebih jauh lagi sesudah mereka menjadi orang Kristen.

Di dalam strategi yang dipakai di tempat lainnya. Paulus mempergunakan Istilah dan golongan yang salah ini untuk menyerang ajaran mereka dan di dalam melakukan hal itu, mengembangkan doktrin "Kristus yang meliputi alam semesta." Di dalam Kristus, satu-satunya Perantara itu, terdapat segala hikmat dim pengetahuan di dalam kematian dim kebangkitanNya semua kuasa yang ada di alam semesta ini sudah dikalahkan dim tunduk kepada-Nya (2:3, 9, 10, 15). Setiap pengajaran yang tidak menjadikan Kristus sebagai sentral dengan dalih menuntun orang kepada kedewasaan dan kesempurnaan merupakan penyimpangan yang mengancam hakikat iman. Sang rasul dengan demikian mengidentifikasi dim mengungkapkan akar dari kesalahan yang ada di Kolose.


Asal-usul dan Tanggal Penulisan:

Surat Kolose, seperti halnya surat-surat Efesus. Filipi dan Filemon ditulis oleh Paulus dari penjara dan disampaikan bersama dengan surat kepada Filemon dan (mungkin juga) jemaat di Efesus oleh Tikhikus dan Onesimus (4:3, 7-9: Filemon 12: Efesus 6:12). Tradisi dari I.aman gereja mula-mula menetapkan bahwa surat ini ditulis di Roma ketika Paulus dipenjarakan sebagaimana dikisahkan dalam Kisah 28 (kurang lebih tahun 61-63 M). Sekalipun pandangan ini tetap kuat sampai saat ini, sejumlah pakar menunjukkan bahwa pemenjaraan yang lebih awal di Kaisarea (sekitar tahun 58-60 M) atau di Efesus (sekitar tahun 55/56 M) merupakan saat yang lebih mungkin untuk penulisan surat ini. Tentang Kaisarea hanya sedikit orang yang mendukungnya dewasa ini, tetapi teori pelnenjaraan di Efesus telah menarik banyak perhatian. Paling akhir teori ini dibuktikan oleh G. S. Duncan (St. Paul's Ephesian Ministry) yang mengemukakan bahwa:
(1) Surat II Korintus (6:5: 11 :23) yang ditulis pada akhir dari pelayanan di Efesus. menunjukkan bahwa Paulus dipenjarakan beberapa kali. namun tidak disebutkan dalam Kisah Para Rasul; andaikata I Korintus 15:32 ditafsirkan secara harfiah, karena rasanya itu yang paling masuk akal. maka setidak-tidaknya salah satu pemenjaraan tersebut adalah di Efesus.
(2) Kunjungan Epafras (Kolose 1:7: 4: 12) dan kehadiran budak yang melarikan diri bernama Onesimus lebih sesuai dengan teori tentang penulisan surat di Efesus dibandingkan dengan di Roma yang letaknya sangat jauh.
(3) Paulus merencanakan untuk mengunjungi Lembah Likhus ketika dibebaskan (Filemon 22). tetapi menurut kisah tradisi Paulus berangkat ke Barat menuju ke Spanyol sesudah dibebaskan dari penjara di Roma (bdg. Roma 15:24).

Alasan-alasan yang dikemukakan Duncan lebih meyakinkan untuk surat Filipi, namun gagasannya tetap merupakan sebuah pilihan terbuka untuk surat-surat penjara lainnya. Mereka yang terus menganut pandangan bahwa Roma merupakan tempat penulisan surat-surat ini menganggap bahwa alasan-alasan yang dikemukakan untuk kota-kota yang lain itu tidak meyakinkan, dan mereka menunjuk kepada kebenaran dari kisah tradisi zaman gereja mulamula dan kepada teologi yang lebih berkembang (khususnya) untuk kasus surat Kolese dan Efesus. Mungkinkah surat ini ditulis sedini masa pelayanan di Efesus?


Kepenulisan:

Bahwa Paulus merupakan penulis surat ini masih tetap disangkal di kalangan tertentu, tetapi pandangan mayoritas berlawanan. Beberapa orang peneliti, terpengaruh oleh kenyataan bahwa seperempat surat Kolose ini juga terdapat dalam Efesus, telah menganggap surat ini sebagai perluasan dari sebuah korespondensi Paulus. Namun hubungan di antara kedua surat ini secarapaling mudah dan memadai dijelaskan sebagai – sadar atau tidak sadar – hasil pikiran sang rasul sendiri ketika ia menulis tentang pokok yang sama.

Keberatan-keberatan utama terhadap pendapat bahwa Pauluslah penulisnya adalah :
1. Pikiran dan penekanan dalam surat ini tidak sesuai dengan yang terdapat dalam Roma, Korintus dan Galatia;
2. Ajaran sesat yang beredar di Kolose mustahil sudah berkembang dengan begitu cepat. Bagaimanapun juga adalah salah untuk menggambarkan Paulus seakan-akan memuaskan untuk menerangkan terjadinya perubahan tema dan kosa-kata. Aneka penelitian akhir-akhir ini telah menunjukkan secara cukup meyakinkan bahwa Gnostik, setidak-tidaknya yang dalam bentuk awalnya yang muncul di Kolose, sudah merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan pada abad pertama. Suara bulat dari tradisigereja mula-mula bersatu dengan mayoritas pakar masa kini dalam menegaskan keaslian surat ini; kita dapat meyakini kebenaran keputusan ini.


Aneka Tema dan Perkembangan Pemikiran

Susunan surat ini mengikuti pola Paulus yan sudah dikenal yang di dalamnya terdapat bagian doktrin (yang harus dipercayai) yang dilanjutkan denan nasehat (bagaimana harus bertindak). Untuk melawan ajaran palsu. Paulus menekankan sifat agung dari ke-Tuhanan Yesus Kristus serta maknanya bagi orang-orang yang telah dipersatukan dengan Dia. Sebagai Tuhan atas ciptaan, Yesus merupakan wujud Tuhan yang sempurna; selaku Kepala Gereja dan Pendamai umat-Nya. Dia secara efektif menjadi perantara melalui penebusan dosa untuk menghubungkan manusia dengan Allah (1:15-22; 2:9). Untuk membuktikan bahwa Yesus saja cukup sebagai satu-satunya Tuhan dan Penebus (berlawanan dengan Gnostik yang menggantinya dengan disiplin-disiplin yang diharapkan dapat menebus dan suatu plêrôma (peenuhan) atau kelimpahan kekuatan yang menjadi perantara). Paulus menekankan kedua aspek dari watak Kristus tersebut.

Yang penting dalam hal ini ialah konsep mengenai tubuh Kristus yang pasti cukup dikenal jemaat di Kolose (1:18, 24; 2:17; 3:15). Hubungan yang misterius dan unik ini, yang terpisah dari hubungan yang lain, menjadikan anathema (kutuk) suatu keyakinan atau praktik yang menggantikan kedudukan sentral Yesus sebagai Penebus dan Penyempurna umat-Nya. "Tubuh Kristus" merupakan sebuah tema yang tertanam sangat dalam di dalam sub-struktur teologi Perjanjian Baru. Sebagian orang berusaha menemukan asal-usulnya di dalam pemikiran Paulus, tetapi mungkin akar-akarnya terdapat dalam ajaran Tuhan sendiri (bdg, Markus 14:58; Yohanes 2:19-22; E. E. Ellis, Paul's One of the Old Testament, hlm. 92). Anggota persekutuan yang dipandang sebagai bagian dari tubuh merupakan suatu kiasan yang asing di dunia Yunani, misalnya di kalangan Stoa. Sekalipun demikian, pemakaian gambaran ini oleh Paulus lebih daripada sekadar kiasan dim harus dipahami di dalam kerangka konsep Ihrani yang kuno dan realistis tentang solidaritas bersarna (Iih. R. P. Shedd, Man in Community).

Di dalam I Korintus 12:12-21 "tubuh" (Kristus) dilukiskan secara lengkap dengan "kepala." Karena itu seorang Kristen dapat diumpamakan sebagai mata atau telinga dan juga sebagai tangan. Di dalam surat Kolose dan Efesus, di mana Kristus diumpamakan sebagai "kepala" dari tubuh, gambaran ini mula-mula kelihatannya mengalami peruhahan y,mg hakiki. Jika demikian. gambaran yiUlg berbeda itu merupakan suatu penyesuaian terhadap keinginan sang rasul untuk menekankan di dalam surat-surat ini hubungan yang akrab antara Kristus dcngan umat-Nya dan hukan hanya suatu perkembangan yang sudah lama dari konsepnya yang terdahulu. Gambaran-gambaran yang dipakai oleh Paulus harus dipahami dalam kerangkanya sendiri-sendiri dan "sebuah analisis tunggal terhadap konsepnya secara menyeluruh akan sama bergunanya untuk menafsirkan tulisan sang rasul dengan sebuah buldozer untuk mengolah sebuah taman mini" (A Farrar, The Glass of Vision, hlm. 45).

Sekalipun demikian. mungkin sckali Kepala ilahi ini sama sekali bukan gambaran yang berheda dengan "Tubuh" tadi, melainkan justru suatu gamharan yang melengkapi. Konsep mengenai Kristus sebagai Kepala (kephalê) Gereja disamakan dengan konsep dalam I Korintus 11:3, "Kepala dari tiap-tiap laki-laki." Lebih spesifik lagi: "Suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh" (Efesus 5:23). Gambaran tentang "Kepala" yang berkenaan dengan Kristus dan Gereja. harus dipahami dengan analogi suami-istri. Gambaran ini mengungkapkan kesatuan Kristus dengan Gereja. sebab suami dan istri adalah "satu daging." Tetapi yang lebih penting lagi gambaran ini melukiskan perbedaan Kristus dengan Gereja. kewenangan Kristus atas Gereja dan tindakan-Nya menebus Gereja (bdg. 2: 10). Definisi Gereja sebagai perluasan dari lnkarnasi kurang mencerminkan aspek kiasan Paulus ini.

Di dalam tulisan-tulisan Paulus hubungan orang Kristen dengan zaman baru dipandang sebagai peristiwa yang sudah lalu dan sebagai suatu harapan pada masa mendatang. Pada masa lalu. orang-orang Kristen disalibkan bersama dengan Kristus. dihangkitkan untuk hidup yang baru. dipindahkan ke; dalam kerajaan-Nya. dimuliakan dan didudukkan di samping-Nya di surga (Efesus 2:5-7: Kolose 1:13: 2:11-13: Roma 8:30). Sekalipun demikian. menjelang akhir hidupnya. Paulus mengungkapkan kerinduannya untuk "mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya. di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati" (Filipi 3: 10-11). Makna dari berbagai perspektif kronologis yang berbeda ini, dim hubungan mereka, sangatlah penting untuk memahami cara berpikir Paulus (E. E. Ellis, Paul and his Recent lnterpreters, hlm. 37-40). Singkatnya, dapat dikemukakan bahwa konsep mengenai Tubuh Kristus merupakan petunjuk untuk memahami cara berpikir Paulus tersebut. Ketika Paulus berbicara tentang orang-orang Kristen yang sudah mati dan bangkit untuk hidup baru, dia berbicara tentang suatu realitas bersama yang dialami oleh Yesus secara pribadi pada tahun 30 M, tetapi sebagai perantara bagi orang Kristen secara bersama melalui Roh yang diam di dalam mereka. Setelah menyatu dengan tubuh Kristus dan ditetapkan untuk secara prihadi menjadi serupa dcngan Kristus, orang Kristen sekarang harus mewujudkan di dalam kehidupan pribadinya suatu kehidupan "di dalam Kristus," yang ke dalamnya dia sudah dibawa. Sementara diri di dalam kcfanaunnya akan "mengenakan yang tidak dapat mati" pada saat paro usia, kedatangan Tuhan kembali (I Korintus 15:51-54), diri di dalam perwujudan moral dan psikologisnya mulai mengaktualisasikan berbagai realitas zaman-baru di dalam kehidupan saat ini: "Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus . . . mengapakah kamu menaklukkan dirimu kepada rupa-rupa peraturan?" "Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas." "Kamu telah menanggalkan manusia lama ... dan telah mengenakan manusia baru" (2:20: 3: I, 9, 10). Watak dan pikiran Kristus dan di dalam kebangkitan-Nya. hidup-Nya yang tidak bisa mati harus direalisasikan di dalam Tubuh-Nya. Di dalam kerangka inilah "nasihat" Paulus tampak terkait erat dengan ajaran teolog.

GARIS BESAR

I. Pendahuluan (1:1,2)

II. Sifat dari Ketuhanan Kristus
A. Ucapan Syukur Atas Iman Jemaat di Kolose Dalam Kristus (1:3-8)
B. Doa Agar Mereka Bertumbuh di Dalam Kristus (1:9-14)
C. Kristus sebagai Tuhan (1:15-19)
1.Tuhan atas Ciptaan (1:15-17)
2. Tuhan atas Ciptaan Baru (1:18-19)
D. Kristus Sebagai Pendamai dari Allah
1. Mendamaikan segala sesuatu (1:20) lihat di propisiasi-penebusan-vt1472.html
2. Mendamaikan Orang Kristen di Kolose (1:21-23)
E. Paulus: Hamba Kristus untuk Pendamaian (1:24-29)
1. Ikut berbagi Penderitaan Kristus (1:24)
2. Pembawa Berita Tentang Rahasia Kristen (1:25-27)
3. Pengajar Orang-orang Kudus (1:28, 29)
F. Keprihatinan Paulus terhadap Orang Kristen di Lembah Likhus (2:1-7)

III. Ketuhanan Kristus dan Ajaram Palsu di Kolose (2:8 - 3:4)
A. Kecukupan Mutlak dari Kristus (2:8-15)
1. Kristus: Tuhan Atas Segala Pemerintah dan Penguasa (2:8-10)
2. Kristus: Sumber Kehidupan Baru Orang Kristen (2: 11-14)
3. Kristus: Pemenang Atas Segala Kuasa di Bumi (2: 15)
B. Berbagai Praktik Jemaat Kolose yang Bersifat Menyangkal Ketuhanan Kristus (2: 16-19)
1. Keterikatan pada Ritual, Kemunduran ke Masa Lalu (2: 16: 17)
2. Tunduk kepada Kekuatan-Kekuatan Seperti Malaikat. Meninggalkan Kristus (2: 18, 19) .
C. Berbagai Praktik Jemaat Kolose yang Bertentangan dengan Kehidupan Bersama Mereka Dalam Kristus (2:20 - 3:4).
1. Mati Bersama Kristus Berarti Mati Terhadap Peruturan-peraturan "Zaman Lama" (2:20-23)
2. Kebangkitan Bersama Kristus Menuntut Suatu Pandangan Hidup 'Zaman Baru" (3:1-4)


IV. Ketuhanan Kristus Dalam Kehidupan Kristen (3:5 - 4:6)
A. Kewajiban Kristiani: Amalkan Secara Pribadi Kenyataan Hidup "di Dalam Kristus" (3:5-17)
1. Sifat Zaman Lama Harus Ditanggalkan (3:5-9)
2. Sifat Zaman Baru Harus Dikenakan (3: 10-I7)

B. Ketetapan-ketetapan Khusus (3:18 - 4:6)
1. Rumah Tangga Kristen (3:18 - 4:1)
2. Doa (4:2-4)
3. Hubungan dengan Orang Non-Kristen (4:5. 6)

V. Penutup
A. Rekomendasi untuk Para Pembawa Surat (4:7-9)
B. Salam dari Rekan-rekan Sekerja Paulus (4: 10-14)
C. Salam dan Berkat dari Sang Rasul (4: 15-18)

Sumber :
The Wycliffe Bible Commentary, Vol 3, Moody Bible Institute of Chicago USA, 1962, p 793-799.


Artikel terkait: kolose-vt4228.html#p23083

Tidak ada komentar: