Minggu, 11 Agustus 2013

BUKTI-BUKTI ARKEOLOGIS ALKITAB-10


NINIWE

Download:

Kota di Asiria yang didirikan oleh Nimrod, ”seorang pemburu perkasa yang menentang Yehuwa”. Bersama Rehobot-Ir, Kala, dan Resen, Niniwe merupakan ”kota yang besar itu”. (Kej 10:9, 11, 12; Mi 5:6) Lama setelah itu, Niniwe menjadi ibu kota Imperium Asiria, dan dikenal sebagai ”kota penumpahan darah” (Nah 3:1), sebab orang Asiria melakukan banyak penaklukan dengan peperangan, dan menggunakan cara-cara yang sangat kejam untuk membunuh para pejuang yang mereka tawan. Tidak diragukan lagi, kekayaan kota itu sebagian besar diperoleh dari kampanye-kampanye militer mereka. (Nah 2:9) Istar, dewi cinta dan perang, kelihatannya adalah ilah utama kota Niniwe.
Penelitian Arkeologis. Kuyunjik dan Nebi Yunus, dua gundukan di sebelah timur S. Tigris di seberang Mosul, bagian utara Irak, adalah lokasi kota besar Niniwe pada zaman dahulu. Di Nebi Yunus sekarang ini terdapat sebuah desa dengan sebuah pekuburan dan mesjid. Itulah sebabnya gundukan ini, yang menutupi sebuah istana milik Esar-hadon, belum banyak diselidiki. Akan tetapi, penggalian di Kuyunjik, mengungkapkan banyak hal yang membuktikan kejayaan Niniwe pada masa lampau. Antara lain, telah ditemukan ribuan lempeng berhuruf paku dari perpustakaan Asyurbanipal, juga puing-puing istana Sanherib dan istana Asyurbanipal. Istana-istana ini pada masa lampau adalah bangunan-bangunan yang mengesankan. Berdasarkan temuannya, Sir Austen Layard menulis,
”Bagian dalam istana Asiria pasti megah dan mengesankan. Pembaca yang kubawa berkeliling melewati puing-puingnya boleh memperkirakan kesan apa yang pasti diberikan oleh ruangan-ruangannya—yang memang telah dirancang untuk membuat takjub para pengunjung—pada diri tamu yang pada zaman dahulu untuk pertama kali memasuki kediaman raja-raja Asiria itu. Ia dibawa masuk melalui gapura yang dijaga oleh singa-singa atau lembu-lembu raksasa dari batu pualam putih. Dalam ruangan pertama, ia mendapati dirinya dikelilingi oleh pahatan yang bercerita tentang imperium itu. Pertempuran, pengepungan, kemenangan, prestasi perburuan, upacara agama, digambarkan pada dinding, dipahatkan pada batu pualam, dan dicat dengan warna-warni yang sangat semarak. Di bawah tiap gambar terdapat inskripsi, dengan huruf-huruf dari tembaga yang berkilauan, yang memberikan penjelasan tentang gambar-gambar pada pahatan itu. Di sebelah atas pahatan itu terdapat lukisan peristiwa-peristiwa lain—sang raja yang sedang dilayani oleh para sida-sida dan para pejuangnya, menerima para tahanan, mengadakan aliansi dengan penguasa lain, atau melaksanakan tugas suci tertentu. Gambar-gambar ini diberi bingkai-bingkai yang berwarna-warni, dengan desain yang sangat halus dan indah. Pohon yang mempunyai arti simbolis, lembu-lembu bersayap, dan binatang-binatang raksasa yang aneh, terlihat mencolok di antara hiasan-hiasan tersebut. Di bagian atas ujung ruangan itu terdapat patung raksasa raja yang sedang memuja dewa tertinggi, atau menerima cawan suci dari sida-sidanya. Ia dilayani oleh para pejuang yang membawa senjatanya, dan oleh para imam atau dewa-dewi pemimpin. Jubahnya, dan jubah para pengikutnya, dihiasi kumpulan-kumpulan gambar, binatang, dan bunga, yang dilukis dengan warna-warni yang cerah.
”Sang tamu menjejakkan kakinya di atas tegel-tegel pualam, yang masing-masing memuat inskripsi tentang gelar, silsilah, dan prestasi sang raja besar. Beberapa pintu gerbang, yang terbentuk oleh singa-singa atau lembu-lembu raksasa yang bersayap, atau oleh patung-patung dewa-dewi pelindung, menuju ke bagian-bagian lain, dan kemudian ke ruangan-ruangan lain lagi yang letaknya lebih jauh. Dalam tiap ruangan terdapat pahatan-pahatan yang berlainan. Di sepanjang dinding beberapa ruangan terdapat pahatan yang sangat besar—pria-pria bersenjata dan para sida-sida yang mengikuti sang raja, para pejuang yang mengangkut jarahan, menggiring tahanan, atau membawa hadiah dan persembahan bagi dewa-dewa. Di dinding ruangan-ruangan lain tampak imam-imam yang bersayap, atau dewa-dewi pemimpin, berdiri di hadapan pohon-pohon suci.
”Langit-langit di atas terbagi menjadi bagian-bagian berbentuk persegi, yang diberi lukisan bunga, atau binatang. Beberapa dilapisi gading, dan setiap bagian diberi bingkai dan hiasan timbul yang indah. Balok-baloknya, maupun sisi-sisi kamar-kamarnya, mungkin dilapisi, atau disepuh emas dan perak; kayu-kayu yang digunakan adalah dari jenis yang paling langka, terutama kayu aras. Pada langit-langit kamar terdapat lubang-lubang persegi agar cahaya matahari dapat masuk.”—Nineveh and Its Remains, 1856, Bagian II, hlm. 207-209.
Pada Zaman Yunus. Pada abad kesembilan SM, Yunus, nabi Yehuwa, mengumumkan bahwa Niniwe akan segera ditimpa kebinasaan oleh karena kefasikan penduduknya. Tetapi karena rakyatnya, termasuk rajanya, bertobat, Yehuwa tidak jadi membinasakan kota itu. (Yun 1:1, 2; 3:2, 5-10) Pada waktu itu, Niniwe adalah kota besar ”yang luasnya tiga hari berjalan kaki”. (Yun 3:3) Jumlah penduduknya lebih dari 120.000 orang. (Yun 4:11) Gambaran yang diberikan Alkitab ini tidak bertentangan dengan bukti arkeologis. AndrĂ© Parrot, Kurator-Kepala Museum-Museum Nasional Prancis, menyatakan,
”Sama seperti zaman sekarang, bagian kota London yang terletak di dalam perbatasan kunonya sangat berbeda dengan apa yang disebut ’London Raya’—istilah yang mencakup bagian pinggiran kota dan yang menyatakan daerah yang jauh lebih luas—maka mungkin bagi orang-orang yang tinggal jauh dari Asiria, kata ’Niniwe’ memaksudkan apa yang sekarang dikenal sebagai ’segitiga Asiria’ . . . , yang membentang dari Khorsabad di utara sampai ke Nimrud di selatan dan, dengan adanya sederetan permukiman yang hampir tak terputus, meliputi jarak sekitar dua puluh enam mil. . . .
”Menurut perkiraan Felix Jones, penduduk Niniwe berjumlah 174.000 orang, dan belum lama ini, dalam penggalian di Nimrud, M. E. L. Mallowan menemukan sebuah stela Asyurnazirpal yang memuat catatan bahwa ia mengundang 69.574 orang tamu, suatu jumlah yang luar biasa, ke suatu perjamuan. Mallowan berpendapat bahwa, setelah dikurangi orang-orang asing, penduduk Kalakh (Nimrud) mungkin berjumlah 65.000 orang. Tetapi Niniwe dua kali lebih luas daripada Nimrud, dan karena itu dapat dianggap bahwa bilangan yang tertera dalam Yunus 4.11 secara tidak langsung telah diteguhkan kebenarannya.”—Nineveh and the Old Testament, 1955, hlm. 85, 86; lihat YUNUS No. 1;YUNUS, BUKU.

Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"

Kehancurannya Menggenapi Nubuat. Meskipun orang-orang Niniwe bertobat oleh karena pemberitaan Yunus (Mat 12:41; Luk 11:30, 32), mereka kembali menempuh haluan yang fasik. Beberapa tahun setelah Sanherib, raja Asiria, dibunuh di Niniwe di rumah allahnya, Nisrokh (2Raj 19:36, 37; Yes 37:37, 38), Nahum (1:1; 2:8–3:19) dan Zefanya (2:13-15) menubuatkan kehancuran kota yang fasik itu. Nubuat mereka digenapi ketika pasukan gabungan Nabopolasar, raja Babilon, dan Kyaksares, orang Media, mengepung dan merebut Niniwe. Kota itu tampaknya dibakar, sebab pada banyak relief Asiria terlihat bekas-bekas kerusakan atau noda yang disebabkan oleh api dan asap. Sehubungan dengan Niniwe, sebuah tawarikh Babilonia melaporkan, ”Mereka mengangkut hasil rampasan yang sangat besar dari kota itu serta kuilnya (dan) [menjadikan] kota itu timbunan puing.” (Assyrian and Babylonian Chronicles, karya A. K. Grayson, 1975, hlm. 94; GAMBAR, Jil. 1, hlm. 958) Sampai sekarang Niniwe adalah tempat yang tandus dan telantar, dan pada musim semi, kawanan ternak merumput di dekat atau di atas gundukan Kuyunjik.
Tahun Kejatuhan Niniwe. Walaupun huruf-huruf yang menyatakan tahun terjadinya peristiwa ini, yaitu tahun ke-14 masa pemerintahan Nabopolasar, telah terkikis dari lempeng berhuruf paku yang masih ada yang menceritakan tentang kejatuhan Niniwe, hal ini dapat ditentukan berdasarkan konteksnya. Kehancuran Niniwe juga dapat dimasukkan dalam kerangka kronologi Alkitab. Menurut sebuah tawarikh Babilonia, orang Mesir dikalahkan di Karkhemis pada tahun ke-21 masa pemerintahan Nabopolasar. Alkitab memperlihatkan bahwa ini terjadi pada tahun keempat masa pemerintahan Yehoyakim atau pada tahun 625 SM. (Yer 46:2) Jadi, penaklukan Niniwe (kira-kira tujuh tahun sebelumnya), pada tahun ke-14 masa pemerintahan Nabopolasar, terjadi pada tahun 632 SM.—Lihat ASIRIA (Kejatuhan imperium ini).



Tidak ada komentar: