Sabtu, 17 Agustus 2013

BUKTI-BUKTI ARKEOLOGIS ALKITAB-15

Apa yang Mereka Temukan di Yizreel?
                                                                                                             
Download:


SELAMA berabad-abad, kota purba Yizreel tidak berpenghuni. Padahal, kota ini pernah jaya menurut sejarah Alkitab. Sekarang, setelah pudar kejayaannya dan terkubur dalam lapisan-lapisan tanah, kota ini tinggal tumpukan puing. Pada tahun-tahun belakangan ini, para arkeolog mulai meneliti puing-puing tersebut. Apa yang tersingkap dari puing-puing ini bila dihubungkan dengan catatan Alkitab?
Yizreel di Alkitab
Kota Yizreel, yang terletak di bagian timur Lembah Yizreel, merupakan salah satu daerah subur Israel zaman dahulu. Tepat di seberang utara lembah terdapat Bukit More, tempat orang Midian berkemah sewaktu hendak menyerang Hakim Gideon dan pasukannya. Sedikit ke timur terdapat sumur Harod, di kaki Gunung Gilboa. Di sinilah Yehuwa mengurangi jumlah pasukan Gideon dari ribuan menjadi hanya 300 pria guna mempertunjukkan kesanggupannya untuk menyelamatkan umat-Nya tanpa kekuatan militer yang besar. (Hakim 7:1-25; Zakharia 4:6) Dekat Gunung Gilboa, Saul, raja Israel pertama, dikalahkan orang Filistin dalam sebuah pertempuran yang dramatis, yang menewaskan Yonatan serta kedua putra Saul lainnya, dan Saul sendiri bunuh diri.—1 Samuel 31:1-5.
Rujukan Alkitab tentang kota purba Yizreel memperlihatkan kontras-kontras yang menarik. Rujukan-rujukan tersebut menceritakan tentang penyalahgunaan kekuasaan dan kemurtadan raja-raja Israel dan juga tentang kesetiaan serta gairah hamba-hamba Yehuwa. Di Yizreel-lah Raja Ahab—raja Israel sepuluh suku di bagian utara, pada paruh kedua abad kesepuluh SM—mendirikan istananya, meskipun ibu kota resminya adalah Samaria. (1 Raja 21:1) Dari Yizreel-lah nabi Yehuwa, Elia, diancam akan dibunuh oleh istri asing Ahab, Izebel. Wanita itu marah karena Elia tanpa gentar mengeksekusi nabi-nabi Baal, setelah peristiwa ujian keilahian sejati yang Elia selenggarakan di Gunung Karmel.—1 Raja 18:36–19:2.
Kemudian, sebuah tindak kejahatan dilakukan di Yizreel. Nabot orang Yizreel dibunuh. Raja Ahab mengingini kebun anggur Nabot. Sewaktu raja itu memintanya, Nabot dengan loyal menjawab, ”Dari sudut pandangan Yehuwa, mustahil aku memberikan milik pusaka bapak-bapak leluhurku kepadamu.” Jawaban yang berprinsip ini membuat Ahab sangat tidak senang. Melihat kesusahan hati Ahab, Ratu Izebel merancang sebuah pengadilan pura-pura, mendakwa Nabot sebagai penghujah. Nabot yang tak bersalah dinyatakan bersalah dan dirajam hingga mati, dan Ahab mengambil alih kebun anggur tersebut.—1 Raja 21:1-16.
Karena perbuatan jahat ini, Elia bernubuat, ”Anjing akan memakan Izebel di tanah di Yizreel.” Kemudian, sang nabi melanjutkan, ”Siapa pun dari keluarga Ahab yang mati di kota, anjing akan memakannya habis . . . Tanpa perkecualian tidak seorang pun seperti Ahab, yangmenjual dirinya untuk melakukan apa yang buruk di mata Yehuwa, karena didesak oleh Izebel, istrinya.” Namun, karena Ahab merendahkan dirinya sewaktu Elia mengucapkan penghakiman Yehuwa, Yehuwa menyatakan bahwa hukuman ini tidak akan terjadi selama masa hidup Ahab. (1 Raja 21:23-29) Kisah Alkitab ini menceritakan lebih lanjut bahwa pada masa Elisa, penerus Elia, Yehu diurapi menjadi raja Israel. Sesampainya Yehu di Yizreel, ia memerintahkan agar Izebel dilemparkan lewat jendela istananya, dan setelah jatuh, wanita itu diinjak-injak kuda. Kemudian, orang-orang menemukan mayat Izebel yang hanya tinggal tengkorak, kaki, dan telapak tangannya; selebihnya telah dimakan oleh anjing-anjing liar. (2 Raja 9:30-37) Peristiwa terakhir yang berkaitan langsung dengan Yizreel adalah eksekusi ke-70 anak lelaki Ahab. Yehu menumpukkan kepala mereka menjadi dua tumpukan besar di gerbang kota Yizreel, setelah sebelumnya ia membunuh pria-pria dan imam-imam terkemuka lainnya yang menjadi bagian dari rezim Ahab yang murtad.—2 Raja 10:6-11.
Apa yang Ditemukan Para Arkeolog?
Pada tahun 1990, sebuah proyek gabungan penggalian lokasi Yizreel dimulai. Pihak-pihak yang berpartisipasi adalah Institut Arkeologi Universitas Tel Aviv (diwakili oleh David Ussishkin) dan Sekolah Arkeologi Inggris di Yerusalem (diwakili oleh John Woodhead). Antara 80 sampai 100 relawan bekerja di lokasi tersebut selama tujuh musim (satu musim lamanya enam minggu), sejak tahun 1990 hingga 1996.
Pendekatan modern ilmu arkeologi adalah untuk meneliti petunjuk-petunjuk yang terdapat pada lokasi semata-mata, tanpa merujuk pada ide dan teori yang sudah ada. Oleh karena itu, bagi para arkeolog yang mempelajari negeri-negeri Alkitab, catatan Alkitab bukanlah keputusan akhirnya. Semua sumber dan petunjuk fisik lainnya harus dipertimbangkan dan dievaluasi dengan hati-hati. Akan tetapi, seperti yang dinyatakan oleh John Woodhead, tidak ada bukti tulisan kuno mengenai Yizreel selain dari beberapa pasal di Alkitab. Jadi, catatan dan kronologi Alkitab harus menjadi bagian dari semua penelitian. Apa yang tersingkap dari upaya para arkeolog ini?
Seraya benteng-benteng dan tembikar ditemukan, tampak jelas sejak awal bahwa keruntuhan itu terjadi pada Zaman Besi, sehingga cocok dengan periode waktu Alkitab tentang Yizreel. Namun, seraya penggalian terus dilakukan, terdapat beberapa kejutan. Yang pertama adalah ukuran lokasi dan benteng-bentengnya yang kuat. Para arkeolog mengira akan menemukan lokasi yang benteng-bentengnya serupa dengan yang ada di Samaria kuno, ibu kota kerajaan Israel. Akan tetapi, seraya penggalian berlanjut, terlihat lebih jelas bahwa Yizreel lebih luas. Dengan panjang tembok 300 meter kali 150 meter, luas total daerah yang terdapat di dalam benteng tiga kali lebih luas daripada kota-kota lain di Israel pada masa tersebut. Kota itu dikelilingi parit kering, yang menyebabkan penurunan sepanjang 11 meter dari benteng. Menurut Profesor Ussishkin, parit ini merupakan ciri baru dalam zaman Alkitab. ”Kami belum pernah menemukan struktur semacam ini di Israel sebelum zaman Perang Salib,” katanya.
Aspek yang mengejutkan lain adalah tidak didapatinya struktur bangunan yang luas di pusat kota. Sejumlah besar tanah liat yang dibawa untuk membangun kota itu digunakan untuk menguruk permukaan tanahnya—sehingga terbentuklah semacam podium atau panggung besar—di dalam benteng. Second Preliminary Report berkomentar tentang penggalian di Tel Jezreel itu, mengatakan bahwa podium yang menonjol ini boleh jadi merupakan petunjuk bahwa Yizreel tidak hanya berfungsi sebagai tempat kediaman raja. Laporan tersebut mengatakan, ”Ada kemungkinan bahwa Yizreel adalah markas besar militer pasukan kerajaan Israel pada masa dinasti Omri . . . tempat penyimpanan serta pelatihan pasukan kereta dan kuda.” Dilihat dari ukuran podium, juga dari ukuran daerah di dalam benteng, Woodhead berspekulasi bahwa tempat ini mungkin digunakan sebagai lapangan parade untuk memamerkan pasukan kereta kuda terbesar di Timur Tengah pada masa itu.
Reruntuhan gerbang kota yang berhasil digali merupakan hal yang menarik bagi para arkeolog. Gerbang tersebut terdiri dari setidaknya empat ruang. Namun, karena adanya penjarahan puing-puing selama berabad-abad, temuan tersebut kurang memadai. Woodhead berpendapat bahwa reruntuhan tersebut merujuk pada gerbang bersekat enam seperti yang ditemukan di Megido, Hazor, dan Gezer.*
Temuan-temuan arkeologi tersebut menyingkapkan betapa singkatnya kejayaan kota yang begitu strategis, baik secara militer maupun geografis. Woodhead menekankan bahwa sebagai kota benteng yang besar, kejayaan Yizreel hanya terjadi pada satu periode—selama beberapa puluh tahun saja. Hal ini sangat kontras dengan banyak lokasi penting lainnya di Alkitab, seperti Megido, Hazor, dan ibu kota Samaria, yang berulang-kali dibangun, diperluas, dan dihuni dalam berbagai periode. Mengapa kota yang strategis ini begitu cepat runtuh? Woodhead memperkirakan bahwa Ahab dan dinastinya menghambur-hamburkan kekayaan bangsa itu sehingga hampir menyebabkan keruntuhan ekonomi. Ini terbukti dari besarnya ukuran dan kekuatan Yizreel. Rezim baru di bawah pemerintahan Yehu tampaknya ingin menghapus total kenangan akan Raja Ahab dan dengan demikian meninggalkan kota tersebut.
Semua petunjuk yang diperoleh dari penggalian sejauh ini meneguhkan bahwa Yizreel adalah pusat kegiatan orang Israel pada Zaman Besi. Ukuran dan benteng-bentengnya sesuai dengan keterangan Alkitab bahwa kota itu merupakan tempat kediaman yang megah bagi Ahab dan Izebel. Petunjuk-petunjuk tentang singkatnya tempat ini dihuni cocok dengan catatan Alkitab tentang kota tersebut: Yizreel cepat naik daun pada masa pemerintahan Ahab, kemudian, atas perintah Yehuwa, diruntuhkan secara hina sewaktu Yehu ”membunuh semua orang yang tertinggal dari keluarga Ahab di Yizreel serta semua orang terpandang dan kenalan-kenalan dan imam-imamnya, sampai tidak seorang pun dari orang-orang Ahab dibiarkannya tetap hidup”.—2 Raja 10:11.
Kronologi Yizreel
”Dalam ilmu arkeologi, sukar sekali untuk mendapatkan dasar yang tepat guna menentukan penanggalan,” John Woodhead mengakui. Maka, sambil memeriksa hasil penggalian selama tujuh tahun itu, para arkeolog juga membandingkannya dengan temuan-temuan pada lokasi arkeologis lainnya. Hal ini menimbulkan evaluasi ulang dan perdebatan. Mengapa? Karena sejak arkeolog Israel Yigael Yadin melakukan penggalian di Megido pada tahun 1960-an dan awal 1970-an, dunia arkeologi menganggap bahwa ia telah menemukan benteng dan kota dari zaman Raja Salomo. Sekarang, benteng, tembikar, dan gerbang yang ditemukan di Yizreel menimbulkan keraguan terhadap kesimpulan tadi.
Misalnya, tembikar yang ditemukan di Yizreel sama dengan yang ditemukan di Megido yang Yadin katakan berasal dari masa pemerintahan Salomo. Struktur dan dimensi gerbang dari kedua lokasi tersebut mirip, bahkan sama. Woodhead mengatakan, ”Semua petunjuk yang ada bisa mengarahkan Yizreel ke zaman Salomo atau juga bisa memajukan lokasi-lokasi yang lain [Megido dan Hazor] ke zaman Ahab.” Karena Alkitab dengan jelas menghubungkan lokasi Yizreel dengan zaman Ahab, Woodhead berpendapat bahwa lebih masuk akal untuk menerima bahwa lapisan yang digali ini berasal dari zaman pemerintahan Ahab. David Ussishkin sependapat, ”Alkitab mengatakan bahwa Salomo membangun Megido—namun tidak mengatakan bahwa ia membangun gerbang-gerbang tersebut.”
Dapatkah Sejarah Yizreel Diketahui?
Apakah temuan-temuan arkeologi dan perdebatan ini menimbulkan keraguan terhadap kisah Alkitab tentang Yizreel maupun Salomo? Sebenarnya, pro dan kontra arkeologi tidak banyak berhubungan dengan kisah Alkitab. Dasar yang digunakan arkeologi dalam meneliti sejarah berbeda dengan dasar yang digunakan Alkitab dalam bernarasi. Masing-masing memiliki permasalahan dan penekanan yang berbeda. Pelajar Alkitab dan arkeolog seperti dua orang yang melakukan perjalanan di rute yang sejajar. Yang satu mengendarai mobil di jalanan dan yang satu lagi berjalan kaki di trotoar. Masing-masing memiliki fokus dan perhatian yang berbeda. Namun, sudut pandang mereka biasanya saling melengkapi, bukan saling berlawanan. Membandingkan kesan kedua orang yang melakukan perjalanan tadi menghasilkan pemahaman yang menarik.
Alkitab berisi catatan tertulis tentang kejadian dan orang-orang di zaman dahulu; arkeologi mencoba untuk menghadirkan kembali informasi tentang kejadian-kejadian dan orang-orang ini dengan meneliti semua peninggalan yang ditemukan dalam tanah. Namun, peninggalan-peninggalan ini umumnya tidak lengkap dan dapat menimbulkan pemahaman yang berbeda-beda. Amihai Mazar, dalam bukunya yang berjudul Archaeology of the Land of the Bible10,000−586 B.C.E., mengomentari hal ini, ”Pekerjaan lapangan arkeologi . . . secara umum merupakan suatu seni dan kombinasi dari pelatihan dan keterampilan profesional. Metodologi baku tidak menjamin keberhasilan, maka pemikiran yang fleksibel dan kreatif sang manajer lapangan mutlak dibutuhkan. Sifat, bakat, dan akal sehat para arkeolog sama pentingnya dengan latihan yang mereka lakukan serta sumber-sumber yang tersedia.”
Arkeologi telah meneguhkan keberadaan sebuah pusat kerajaan dan militer di Yizreel, yang masa kejayaannya begitu singkat selama periode sejarah pemerintahan Ahab—tepat seperti yang dikatakan Alkitab. Banyak pertanyaan menarik lainnya masih harus dipelajari oleh para arkeolog di tahun-tahun mendatang. Namun, halaman-halaman Firman Allah, Alkitab, tetap memuat keterangan yang jelas, menyediakan kisah lengkap melebihi yang dapat dilakukan para arkeolog.

 


Posting Komentar