Minggu, 25 Agustus 2013

BUKTI-BUKTI ARKEOLOGIS ALKITAB-24

SAMARIA

Download:


[Berkaitan dengan Kaum Syemer].


1. Kota yang mulai dibangun oleh Raja Omri kira-kira pada pertengahan abad kesepuluh SM; ibu kota kerajaan Israel di utara selama lebih dari 200 tahun. Omri membeli gunung Samaria dari Syemer seharga dua talenta perak, sebanding dengan $13.212, dan di atasnya ia membangun kota ini. (1Raj 16:23, 24) Gunung maupun kota itu tetap disebut menurut nama pemiliknya yang terdahulu ini.—Am 4:1; 6:1.
Lokasi. Samaria dianggap sama dengan reruntuhan yang disebut Syomeron di dekat Sabastiya, sebuah perkampungan Arab kira-kira 55 km di sebelah utara Yerusalem dan 11 km di sebelah barat laut Syikhem. Samaria terletak di daerah Manasye. Sewaktu Samaria digambarkan sebagai ”kepala” Efraim, yang dimaksud adalah posisinya sebagai ibu kota kerajaan sepuluh suku karena Efraim merupakan suku yang paling dominan di kerajaan itu. (Yes 7:9) Samaria terletak dekat, atau mungkin lokasi yang sama dengan, ”Syamir di wilayah pegunungan Efraim”, kota asal Hakim Tola, yang melayani pada zaman Hakim-Hakim.—Hak 10:1, 2.
Puncak bukit Samaria yang agak rata, membentang kira-kira 2 km dari timur ke barat, merupakan lokasi yang ideal untuk sebuah kota. Bukitnya menjulang kira-kira 90 m dari dataran di bawah sehingga lokasi ini mudah dipertahankan. Pemandangannya pun luar biasa karena di utara, timur, dan selatan terdapat puncak-puncak yang lebih tinggi, sedangkan di barat tanahnya melandai dari ketinggian 463 m ke L. Tengah yang biru, sejauh 34 km.
Sebagian besar sejarah Samaria bertalian dengan catatan tentang 14 raja Israel yang tidak taat, dari Omri sampai Hosyea.—1Raj 16:28, 29; 22:51, 52; 2Raj 3:1, 2; 10:35, 36; 13:1, 10; 14:23; 15:8, 13, 14, 17, 23, 25, 27; 17:1.
Pada Zaman Ahab. Setelah Omri mati, putranya, Ahab, melanjutkan pembangunan kota itu selama 22 tahun masa pemerintahannya. Ada pembangunan kuil Baal, pendirian sebuah mezbah bagi Baal dan ”tonggak suci” untuk penyembahan—semuanya merupakan bukti bahwa, di kota yang baru didirikan ini, agama orang Kanaan yang disponsori oleh istri Ahab, Izebel, yang berasal dari Fenisia dipraktekkan. (1Raj 16:28-33; 18:18, 19; 2Raj 13:6) Ahab juga mendekorasi Samaria dengan ”rumah gading” yang mungkin diperlengkapi dengan ”pembaringan gading” mirip dengan yang disebutkan oleh nabi Amos seratus tahun kemudian. (1Raj 22:39; Am 3:12, 15; 6:1, 4) Para arkeolog telah menemukan lebih dari 500 potongan gading, yang sebagian besar dipahat secara artistik, di antara reruntuhan Samaria.
Pada pengujung masa pemerintahan Ahab, Raja Ben-hadad II dari Siria mengepung Samaria, dan bersumpah bahwa ia akan menjarah kota itu habis-habisan sehingga tidak ada cukup banyak debu untuk memenuhi genggaman orang-orang dalam pasukannya. Akan tetapi, orang Israel diberi kemenangan supaya Ahab tahu bahwa Yehuwa adalah Allah Yang Mahakuasa. (1Raj 20:1-21) Dalam pertemuan yang kedua kurang dari satu tahun kemudian, ketika Ben-hadad dipaksa untuk menyerah, Ahab membiarkannya pergi berdasarkan perjanjian bahwa kota-kota akan dikembalikan kepada Israel dan ’jalan-jalan di Damaskus akan ditetapkan’ bagi Ahab sebagaimana ayah Ben-hadad telah menetapkan jalan-jalan di Samaria bagi dirinya sendiri. (1Raj 20:26-34) ’Jalan-jalan’ ini tampaknya telah digunakan untuk mendirikan pasar-pasar guna memajukan kepentingan dagang ayah Ben-hadad. Meskipun demikian, Ahab kembali ke Samaria dengan perasaan sedih dan murung karena Yehuwa memberitahukan bahwa nyawanya sendiri terancam sebab ia telah membiarkan Ben-hadad hidup.—1Raj 20:35-43.
Nubuat tersebut tergenap pada tahun ketiga setelah itu, ketika Ahab mengundang Raja Yehosyafat dari Yehuda untuk membantunya merebut kembali Ramot-gilead dari Siria. Kedua raja itu mengadakan pertemuan resmi di pintu masuk Samaria dan, setelah mengabaikan nabi Yehuwa dan mendengarkan nasihat yang menyesatkan dari para nabi palsu, mereka pun berangkat ke medan pertempuran. (1Raj 22:1-28; 2Taw 18:2, 9) Ahab menyamar, tetapi ia terkena anak panah, meski pemanah dari pihak musuh tidak mengenalinya sebagai raja. Ahab mati kehabisan darah di keretanya. Ia dibawa kembali ke ibu kotanya untuk dikuburkan, dan kereta itu dicuci di tepi kolam Samaria. (1Raj 22:29-38) Bisa jadi ini adalah kolam besar berbentuk segi empat dan agak dangkal yang ditemukan para arkeolog di sana.
Pembalasan terakhir atas keluarga Ahab terjadi melalui tangan Yehu, yang Yehuwa urapi untuk melaksanakan tugas eksekusi ini. (2Raj 9:6-10) Sesudah membunuh putra Ahab bernama Yehoram, cucu Ahab, Ahazia, dan janda Ahab, Izebel (2Raj 9:22-37), Yehu selanjutnya berkiriman surat dengan para pemimpin dan tua-tua yang tinggal di Samaria sebagai persiapan untuk memancung kepala ke-70 putra Ahab yang masih tersisa. ”Maka ketahuilah,” Yehu mengumumkan, ”bahwa tidak satu pun dari firman Yehuwa, yang telah Yehuwa ucapkan melawan keluarga Ahab, akan jatuh ke tanah tanpa digenapi; dan Yehuwa telah melakukan apa yang ia ucapkan melalui Elia, hambanya.”—2Raj 10:1-12, 17.
Pernyataan-pernyataan lain Yehuwa melalui para nabi-Nya, yakni Elia dan Elisa, serta peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan mereka, terjadi di Samaria dan sekitarnya. Misalnya, putra Ahab bernama Ahazia jatuh dari kisi-kisi ruangan di atap istananya di Samaria (2Raj 1:2-17), penderita kusta dari Siria yang bernama Naaman datang ke Samaria untuk mencari penyembuhan (2Raj 5:1-14), dan pasukan militer Siria, yang dikirim untuk menangkap Elisa, dibutakan secara mental dan dibawa ke Samaria, tempat orang-orang itu diberi makan dan disuruh pulang ke negeri mereka (2Raj 6:13-23). Selama masa pemerintahan putra Ahab, Yehoram, orang-orang Siria mengepung Samaria dan menyebabkan suatu bala kelaparan yang hebat sehingga beberapa orang memakan anak-anaknya sendiri. Tetapi kemudian, sebagai penggenapan nubuat Elisa, bala kelaparan terhenti dalam satu malam ketika Yehuwa membuat orang-orang Siria itu melarikan diri dalam keadaan panik dan meninggalkan perbekalan mereka.—2Raj 6:24-29; 7:1-20.
Saingan Yerusalem. Dari waktu ke waktu persaingan dan kebencian yang hebat antara Samaria dan Yerusalem, yaitu ibu kota kerajaan utara dan kerajaan selatan, mendadak berkembang menjadi perang terbuka. Sekali peristiwa raja Yehuda, ketika akan menyerang Edom, memulangkan 100.000 tentara bayaran dari Israel atas perintah Yehuwa. Dan meskipun telah dibayar 100 talenta perak ($660.600), orang-orang Israel ini menjadi begitu murka sehingga mereka melakukan penyergapan dan menjarah kota-kota Yehuda ”dari Samaria sampai ke Bet-horon”. (2Taw 25:5-13) Raja Yehuda, yang diliputi semangat yang menggelora karena kemenangan atas Edom, kemudian memancing pertikaian dengan raja Samaria, pertikaian yang baru reda setelah semua emas serta perak dari rumah Yehuwa dan perbendaharaan istana raja di Yerusalem dibawa ke Samaria. (2Raj 14:8-14; 2Taw 25:17-24) Akan tetapi, bertahun-tahun kemudian, setelah kekalahan Raja Ahaz dari Yehuda, orang-orang Israel memulangkan beberapa tawanan dan rampasan yang mereka bawa ke Samaria agar terluput dari murka Yehuwa.—2Taw 28:5-15.
Kota Samaria akhirnya dihancurkan karena penyembahan berhalanya, kemerosotan moralnya, dan karena terus mengabaikan hukum-hukum serta prinsip-prinsip Allah. (2Raj 17:7-18) Berulang-ulang Yehuwa memperingatkan para penguasa dan rakyatnya melalui mulut para nabi seperti Yesaya (8:4; 9:9), Hosea (7:1; 8:5, 6; 10:5, 7; 13:16), Amos (3:9; 8:14), Mikha (1:1, 5, 6), dan yang lain-lain (1Raj 20:13, 28, 35-42; 22:8), serta Elia dan Elisa. Kemudian, setelah kehancurannya, nabi-nabi lain menyebutkan Samaria sebagaicontoh peringatan bagi orang-orang yang menolak perintah-perintah Yehuwa.—2Raj 21:10-13; Yer 23:13; Yeh 16:46, 51, 53, 55; 23:4, 33.
Sejarah Selanjutnya. Pada tahun 742 SM, Raja Syalmaneser V dari Asiria mengepung Samaria, tetapi kota itu dapat bertahan selama hampir tiga tahun. Ketika kota itu akhirnya jatuh pada tahun 740 SM, banyak di antara penduduknya yang terkemuka dideportasi ke pembuangan dan tinggal di Mesopotamia dan Media. Siapa yang dianggap berjasa merebut kota itu pada akhirnya, entah Syalmaneser V atau penerusnya, Sargon II, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.—2Raj 17:1-6, 22, 23; 18:9-12; lihat SARGON.
Dengan jatuhnya Samaria ke tangan Asiria, berakhir pula sejarah yang terperinci mengenai kota itu dalam Alkitab. Setelah itu, kota tersebut sering disebutkan, meski tidak selalu (2Raj 23:18; Kis 8:5), dalam bentuk pengingat akan apa yang bakal terjadi atas orang-orang yang memberontak terhadap Yehuwa. (2Raj 18:34; 21:13; Yes 10:9-11; 36:19) Alkitab menceritakan bahwa setelah kehancuran Yerusalem dan kemudian pembunuhan Gedalia, 80 pria dari Syikhem, Syilo, dan Samaria datang ke Mizpa dan menemui Ismael, si pembunuh. Ismael membantai banyak di antara orang-orang ini, dan membiarkan hidup beberapa orang yang berjanji akan memperlihatkan kepadanya di mana mereka telah menyembunyikan barang-barang yang berharga berupa gandum, barli, minyak, dan madu.—Yer 41:1-9.
Catatan-catatan sekuler menceritakan beberapa hal tentang sejarah Samaria pada zaman Aleksander Agung dan setelahnya. Pada zaman Romawi, kesemarakan kota itu adalah hasil proyek pembangunan Herodes Agung, yang menamai kembali kota itu menjadi Sebaste (bentuk feminin dalam bhs. Yunani untuk nama Latin Agustus), guna menghormati Agustus, kaisar pertama. Sekarang nama Arabnya, Sabastiya, melestarikan nama yang Herodes berikan untuk kota itu. Karena itu, tidaklah mengejutkan apabila hasil-hasil penggalian di lokasi ini menyingkapkan puing-puing dari banyak periode sejarah yang berbeda; beberapa di antara puing-puing ini berasal dari zaman raja-raja Israel.
2. Daerah kerajaan Israel sepuluh suku di utara. Nama ibu kotanya, Samaria, kadang-kadang digunakan untuk seluruh daerah ini. Ahab misalnya, disebut ”raja Samaria”, yang memaksudkan bahwa ia tidak saja menjadi raja atas kota itu, tetapi dalam pengertian yang lebih luas sebagai raja atas sepuluh suku. (1Raj 21:1) Demikian pula ”kota-kota Samaria” memaksudkan tempat-tempat yang tersebar di seluruh daerah sepuluh suku itu, dan bukan gugusan kota di sekitar ibu kota. (2Raj 23:19; ungkapan yang sama ini dicatat di1Raj 13:32, seolah-olah digunakan sebelum kota Samaria dibangun, yang jika bukan bersifat nubuat, mungkin diperkenalkan oleh penyusun catatan buku Raja-Raja.) Bala kelaparan yang timbul ”di Samaria” pada zaman Ahab begitu luas di seluruh kerajaan Samaria dan, sebenarnya, bahkan terjadi di Fenisia, mencakup setidaknya dari Wadi Kherit, di sebelah timur S. Yordan, sampai Zarefat di tepi L. Tengah. (1Raj 17:1-12; 18:2, 5, 6) Demikian pula, janji pemulihan sehubungan dengan ”gunung-gunung Samaria” tentu mencakup seluruh wilayah Samaria.—Yer 31:5.
Tiglat-pileser III tampaknya adalah yang pertama memindahkan orang-orang Israel dari daerah Samaria; beberapa orang terkemuka suku Ruben, Gad, dan Manasye dari daerah di sebelah timur S. Yordan termasuk di antara orang-orang yang dipindahkan ke Asiria. (1Taw 5:6, 26) Sewaktu kerajaan utara akhirnya jatuh, lebih banyak orang lagi yang dibawa ke pembuangan. (2Raj 17:6) Tetapi kali ini raja Asiria mengganti orang-orang Israel tersebut dengan orang-orang dari bagian-bagian lain kerajaannya, suatu kebijakan pemindahan orang yang dilanjutkan oleh Esar-hadon dan Asenapar (Asyurbanipal).—2Raj 17:24; Ezr 4:2, 10.
Singa-singa mulai berlipat ganda di negeri itu, mungkin karena seluruh, atau sebagian besar negeri itu telah ditelantarkan selama beberapa waktu. (Bdk. Kel 23:29.) Karena percaya takhayul, para pemukim ini pasti merasa bahwa hal itu terjadi sebab mereka tidak mengerti bagaimana menyembah allah negeri itu. Oleh karena itu raja Asiria mengirimkan kembali seorang imam Israel penyembah anak lembu dari pembuangan. Ia mengajar para pemukim tentang Yehuwa, tetapi dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Yeroboam, sehingga meskipun ada hal-hal yang mereka pelajari tentang Yehuwa, mereka sebetulnya terus menyembah allah-allah palsu mereka sendiri.—2Raj 17:24-41.
3. Distrik Romawi yang kadang-kadang dilalui oleh Yesus sewaktu melakukan perjalanan, dan ke sinilah para rasul belakangan menyampaikan berita Kekristenan. Batas-batas daerahnya tidak diketahui dengan pasti sekarang, tetapi, pada umumnya, kota itu terletak antara Galilea di sebelah utara dan Yudea di sebelah selatan, dan membentang dari S. Yordan ke arah barat, ke dataran pesisir L. Tengah. Bagian terbesar distrik itu meliputi daerah-daerah yang dahulu menjadi milik suku Efraim dan setengah suku Manasye (di sebelah barat S. Yordan).
Dari waktu ke waktu, dalam perjalanan ke dan dari Yerusalem, Yesus melewati Samaria karena letaknya di antara distrik Yudea dan distrik Galilea. (Luk 17:11; Yoh 4:3-6) Namun, Yesus biasanya tidak mengabar di daerah ini, malah memberi tahu 12 murid yang diutusnya untuk menghindari kota-kota orang Samaria dan, sebaliknya, untuk ’terus pergi kepada domba-domba yang hilang dari keturunan Israel’, yaitu orang-orang Yahudi.—Mat 10:5, 6.
Akan tetapi, larangan ini hanya berlaku sebentar, karena persis sebelum Yesus naik ke surga, ia memberi tahu para muridnya bahwa mereka hendaknya menyampaikan kabar baik tidak hanya ke Samaria tetapi sampai ke bagian yang paling jauh di bumi. (Kis 1:8, 9) Jadi, pada waktu timbul penindasan di Yerusalem itulah para murid, khususnya Filipus, melayani di Samaria. Petrus dan Yohanes belakangan dikirim ke sana, yang menghasilkan ekspansi Kekristenan lebih lanjut.—Kis 8:1-17, 25; 9:31; 15:3.





Posting Komentar