Sabtu, 23 November 2013

KEBERUNTUNGAN BERSAMA ORANG YANG CERDAS

MEMBUKTIKAN BABI DI KISAH 10
Bung Tapson menuntut saya membuktikan adanya kata-kata: “Babi” di dalam Kisah 10. Jika ada maka saya akan dihadiahi sebuah mobil BMW.

Tentunya saya perlu bertanya dahulu: membuktikannya secara bagaimana? Secara orang bodoh atau secara orang cerdas? Dengan logika anak-anak atau dengan logika orang dewasa? Harus masuk pada kedunguan anda atau bisa dengan kecerdasan saya?

Kalau secara bodoh-bodohan, berarti anda memang orang bodoh. Gitu, ‘kan?!
Kalau secara kanak-kanak, berarti anda memang anak TK. Gitu, ‘kan?!

Ketika anak saya bermain tanah lumpur, saya berkata kepadanya: “Jangan main tanah, karena di tanah banyak telor cacingnya.” Anak saya membantah: “Mana telor cacingnya, pa?” Maka saya jawab: “Bego loe, harus dilihat pakai mikroskop, nak.”

Suatu kali saya periksa ke dokter, dan dokter itu berkata: “Dalam ususmu ada cacing pitanya.” Saya berkata: “Akh, dokter ada-ada saja. Perut saya mulus begini, lho?!” Tapi apa kata dokter itu? “Bego loe, perut loe harus di rontgen dulu.”

Suatu kali saya menulis di word, saya kasih judul: “IMAMAT 11.” Lalu file tersebut saya masukkan ke dalam folder yang saya kasih judul: “KISAH 10.”

Pertanyaan saya adalah: Jika saya hendak menemukan file “IMAMAT 11”, saya harus mencarinya di folder manakah? Siapa bisa jawab?

Sekarang kita buka Kisah 10;

>> Kisah    10:14                Tetapi Petrus menjawab: "Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah
                                            makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir."

Apakah yang dilihat Petrus? Makanan yang haram. Seperti apakah makanan haram itu?

>> Kisah  10:12  Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan
                              burung.

Salah satu tanda binatang itu adalah berkaki empat. Binatang apakah yang berkaki empat yang dilarang dalam Imamat 11?

>> Imamat   11:7              Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya
                                            bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.

Yang dilihat oleh Petrus dalam Kisah 10 adalah bermacam-macam binatang. Bukan hanya satu. Jadi, Babi adalah salah satunya. Karena itu jika ditanyakan apakah ada kata-kata “Babi” dalam Kisah 10, maka itu harus dilihat berdasarkan pada ciri-ciri yang disebutkan dalam Kisah 10 tersebut. Lalu dicocokkan dengan Imamat 11, apakah Babi termasuk yang dilarang? Ternyata Babi memang termasuk yang dilarang. Karena itu Babi ada dalam Kisah 10 tersebut.

Apakah ada telor cacing di tanah? Ada. Tapi harus dilihat dengan mikroskop. Kalau tidak dengan mikroskop? Bego loe! Jangan karena tidak bisa dilihat oleh mata, lalu kamu katakan tidak ada. Bego sekali namanya.

Sekarang bagaimana kalau anda di ruang tamu, sedangkan istri anda di kamar mandi, lalu ada orang bertanya: “Apakah istri anda ada di rumah?” Apa jawaban anda? Kalau anda jawab: “Ada” nyatanya tidak ada di ruang tamu. Kalau anda jawab: “tidak ada”, apakah bukan bego sekali namanya?!

Picik sekali itu. Dan kepicikan tidak pernah dijadikan standart kebenaran. Sebab memang tidak ada kebenarannya.

Sekarang cocokkan dengan kata-kata anda ini:

Bung, saya sangat setuju sekali..., tapi tunggu dulu, tolong cek baik-baik, mana babi nya bung? Sudah kamu bacakah selengkapnya fasal itu? Koq tidak ada babinya ya? Kalau ada kata "Babi" di dalam Kisah 10 itu, kamu boleh ambil mobil BMW biru saya. Mobil tersebut tidak dalam masa kredit, sudah lunas. Kalau kamu gak suka make, kamu boleh jual, daripada kamu menjadi penginjil yang mengemis terus. 


JADI, SESUAI DENGAN PERKATAANMU SENDIRI, SERAHKAN MOBIL ITU KE SAYA. SURUHLAH ADIKMU EDDY UNTUK MENGANTARKAN KE SAYA.



Tidak ada komentar: