Minggu, 10 November 2013

MAZMUR 143

143:1Mazmur Daud. Ya TUHAN, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada permohonanku! Jawablah aku dalam kesetiaan-Mu, demi keadilan-Mu!
143:2Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan-Mu.
143:3Sebab musuh telah mengejar aku dan mencampakkan nyawaku ke tanah, menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati.
143:4Semangatku lemah lesu dalam diriku, hatiku tertegun dalam tubuhku.
143:5Aku teringat kepada hari-hari dahulu kala, aku merenungkan segala pekerjaan-Mu, aku memikirkan perbuatan tangan-Mu.
143:6Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela
143:7Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur.
143:8Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.
143:9Lepaskanlah aku dari pada musuh-musuhku, ya TUHAN, pada-Mulah aku berteduh!
143:10Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!
143:11Hidupkanlah aku oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, keluarkanlah jiwaku dari dalam kesesakan demi keadilan-Mu!
143:12Binasakanlah musuh-musuhku demi kasih setia-Mu, dan lenyapkanlah semua orang yang mendesak aku, sebab aku ini hamba-Mu!


22

Musa
---------------------
Pasal ini dialaskan atas Keluaran 1-4.

Orang‑orang Mesir, agar dapat memperoleh persediaan makanan bagi diri mereka, telah menjual tanah dan ternak mereka kepada raja dan akhirnya menyerahkan diri kepada perhambaan untuk selama‑lamanya. Dengan penuh kebijaksanaan Yusuf telah menyediakan jalan untuk membebaskan mereka; ia mengizinkan mereka untuk menjadi sebagai pekerja‑pekerja istana, yang mengawasi tanah milik raja, dan setiap tahun harus membayar upeti seperlima daripada hasil kerja mereka.

Tetapi anak‑anak Yakub tidak dituntut untuk mengikuti syarat‑syarat seperti itu. Oleh karena pelayanan yang Yusuf telah berikan kepada bangsa Mesir, mereka bukan saja telah diberi sebagian daripada negeri itu sebagai tempat tinggal mereka, tetapi juga telah dibebaskan dari pajak dan diberi persediaan makanan yang limpah selama berlangsungnya masa kelaparan itu. Di hadapan umum raja menyatakan bahwa adalah karena campur tangan Allahnya Yusuf yang penuh rahmat itu sehingga Mesir telah menikmati kelimpahan sementara bangsa‑bangsa lainnya binasa oleh karena kelaparan. Ia juga menyaksikan bahwa kepemimpinan Yusuf telah memperkaya kerajaan itu dengan limpah sekali, dan rasa terima kasihnya itu dinyatakan kepada keluarga Yakub dengan perbuatan‑perbuatan kebajikan.

Tetapi apabila waktu berlalu, orang besar yang kepadanya Mesir berutang banyak, dan orang banyak telah menerima berkat daripada pekerjaannya, telah mati. Dan "naiklah seorang raja yang baru di Mesir yang tidak mengenal Yusuf." Bukannya ia tidak mengetahui tentang pelayanan Yusuf kepada bangsa itu, melainkan ia tidak mau mengakuinya, dan ia berusaha untuk sejauh‑jauhnya menghapuskannya dari ingatan. "Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan--jika terjadi peperangan--jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini."


Bangsa Israel telah berkembang menjadi satu bangsa yang besar; mereka "beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka." Di bawah asuhan Yusuf yang bersifat memajukan itu, dan juga karena kebajikan raja yang memerintah pada waktu itu, dengan cepat mereka telah tersebar luas di seluruh negeri itu. Tetapi mereka telah memelihara diri sebagai satu bangsa yang berbeda dan tidak mau membiasakan diri dengan adat atau pun agama orang Mesir; dan jumlah mereka yang bertambah‑tambah sekarang telah menimbulkan ketakutan raja serta orang‑orang Mesir, jangan‑jangan kalau terjadi peperangan mereka ini akan menggabungkan diri dengan musuh‑musuh bangsa Mesir. Tetapi peraturan melarang mereka untuk mengusir orang Israel ini dari dalam negeri mereka. Banyak dari antara orang Israel ini adalah pekerja‑pekerja yang mempunyai pengetahuan serta kesanggupan, dan mereka telah memberikan sumbangan yang besar bagi kekayaan bangsa; raja memerlukan pekerja‑pekerja seperti itu untuk membangun istana‑istana serta kuil‑kuil yang megah. Oleh sebab itu ia telah menggolongkan mereka itu sama dengan orang Mesir yang telah menjual diri serta segala harta milik mereka itu kepada raja. Segera diangkatlah orang‑orang yang bertindak sebagai mandur terhadap mereka, dan mereka pun berada di bawah perhambaan sepenuhnya. "Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu." "Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka."

Raja dan penasihat‑penasihatnya mengharapkan bahwa mereka akan dapat menaklukkan orang Israel melalui kerja berat, dan dengan demikian mengurangi jumlah mereka serta menghancurkan semangat mereka untuk menjadi satu bangsa yang merdeka. Gagal melaksanakan maksud mereka itu, mereka mulai menggunakan cara‑cara yang lebih kejam lagi. Perintah telah dikeluarkan kepada kaum wanita yang pekerjaannya memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat melaksanakannya, yaitu membunuh setiap bayi laki‑laki orang Ibrani pada waktu dilahirkan. Setan sendirilah penggerak rencana ini. Ia mengetahui bahwa seorang penebus akan bangkit dari antara orang Israel; dan dengan mendorong raja untuk membinasakan anak‑anak Ibrani itu, ia mengharapkan akan dapat menggagalkan rencana Ilahi. Tetapi perempuan‑perempuan itu takut akan Allah dan tidak berani melaksanakan perintah yang kejam itu. Tuhan berkenan atas sikap mereka itu, dan Ia telah menjadikan mereka makmur.

Raja, yang merasa marah oleh karena gagalnya rencana tersebut, telah menjadikan perintah itu lebih mendesak dan lebih berat lagi. Seluruh bangsa diperintahkan mencari dan membantai korban‑korban yang tidak berdaya itu. "Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: 'Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup."

Sementara perintah ini sedang hangat‑hangatnya dilaksanakan, seorang anak laki‑laki telah lahir kepada Amran dan Yokhebed, orang‑orang Israel yang tekun daripada suku bangsa Lewi. Bayi itu "elok rupanya," dan orang tuanya, merasa yakin bahwa masa kelepasan Israel sudah semakin dekat dan bahwa Allah akan membangkitkan seorang pembebas bagi umat‑Nya, telah bertekad tidak akan membiarkan anaknya menjadi korban. Iman kepada Allah menguatkan hati mereka, "mereka tidak takut terhadap perintah raja." Ibrani 11:23.


Si ibu berhasil menyembunyikan bayinya selama tiga bulan. Kemudian menyadari bahwa ia tidak akan lagi dapat menyimpan bayinya dengan aman, ia telah menyediakan sebuah keranjang yang terbuat dari buluh rantik yang tidak tembus air oleh karena dilapisi dengan gala‑gala dan minyak keruwing; dan setelah bayi itu dibaringkannya di dalam keranjang tadi, ia menaruh keranjang itu di antara rumput‑rumput di tepi sungai. Ia tidak berani tinggal di sana dan menjagainya, karena jangan‑jangan hal ini akan menyebabkan kematiannya dan kematian anaknya itu juga; tetapi kakak perempuannya, Meriam, tinggal dekat tempat itu, bersikap seolah‑olah tidak mengetahui apa‑apa padahal dengan saksama ia memperhatikan apa yang akan terjadi terhadap adiknya yang masih kecil itu. Dengan doa yang sungguh‑sungguh si ibu telah menyerahkan bayinya kepada penjagaan Allah; dan malaikat‑malaikat, yang tidak kelihatan menaungi tempat terbaringnya bayi itu. Malaikat‑malaikat telah menuntun putri Firaun datang ke tempat ini. Rasa ingin tahunya telah timbul apabila ia melihat keranjang yang kecil itu, dan apabila ia melihat bayi manis yang ada di dalamnya, dengan cepat ia dapat membaca cerita yang sebenarnya. Air mata bayi itu telah membangkitkan rasa belas kasihannya, dan rasa simpatinya telah mengajak dia untuk memikirkan ibu yang tidak dikenalnya itu, yang telah menggunakan cara seperti itu untuk menyelamatkan hidup daripada bayinya yang manis ini. Ia bertekad untuk menyelamatkan bayi manis ini, dan mengangkatnya sebagai anaknya sendiri.

Dengan diam‑diam Meriam telah mengamat‑amati segala gerak‑gerik mereka; dan melihat bahwa bayi itu diperlakukan dengan lemah lembutnya ia telah memberanikan diri untuk datang lebih dekat, dan akhirnya berkata, "Akan kupanggilkan bagi tuan putri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan putri?" Dan ia pun diizinkan.

Dengan cepat ia berlari kepada ibunya, dan memberitahukan tentang kabar yang baik itu, dan dengan tidak berlambatan mereka kembali kepada putri Firaun itu. "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu," kata putri itu.

Allah telah mendengar doa‑doa ibu itu; imannya telah mendapat pahala. Adalah dengan rasa syukur yang dalam di mana sekarang ia telah menerima tugas yang aman dan membahagiakan itu. Dengan setia ia gunakan kesempatan itu untuk mendidik anaknya bagi Allah. Ia merasa yakin bahwa anaknya itu telah diselamatkan untuk melaksanakan satu tugas yang besar, dan ia tahu bahwa dengan segera anak itu harus diserahkan kembali kepada ibunya yang ada di istana, untuk kemudian dikelilingi oleh pengaruh‑pengaruh yang cenderung akan memalingkannya dari Allah. Pemikiran ini telah membuat dia lebih tekun dan lebih rajin dalam memberi petunjuk‑petunjuk kepada anak ini dibandingkan dengan anak‑anaknya yang lain. Dia berusaha untuk menanamkan di dalam pikirannya rasa takut akan Allah, dan kasih akan kebenaran serta keadilan, dan dengan sungguh‑sungguh berdoa agar ia dipelihara dari segala pengaruh‑pengaruh yang jahat. Ia menunjukkan kepadanya kebodohan dan dosa daripada penyembahan berhala itu, dan mengajar dia semasa kecilnya untuk bersujud serta berdoa kepada Allah yang  hidup, satu‑satunya yang dapat mendengar dia serta menolongnya dalam keadaan darurat.

Ia memeliharakan anak itu selama yang dapat diusahakannya, tetapi harus melepaskannya pada waktu ia sudah mencapai usia dua belas tahun. Dari rumahnya yang sederhana itu ia dibawa ke dalam istana kerajaan, kepada putri Firaun, "dan menjadi anaknya." Namun demikian, sekali pun berada di tempat ini ia tidak kehilangan kesan yang diperolehnya pada masa kanak‑kanaknya. Pelajaran‑pelajaran yang didapat di sisi ibunya tidak dapat dilupakannya. Semuanya itu  merupakan satu perisai terhadap kesombongan, kekafiran dan kejahatan yang merajalela di tengah‑tengah kemegahan istana itu.


Betapa besarnya hasil pengaruh perempuan Ibrani itu, dan ia hanyalah seorang buangan, seorang hamba! Seluruh masa depan hidup Musa, tugas besar yang dia laksanakan sebagai pemimpin Israel menyatakan pentingnya pekerjaan ibu‑ibu Kristen. Tidak ada pekerjaan lain yang dapat menyamai hal ini. Sedemikian jauh ibu‑ibu memegang nasib anak‑anaknya. Ia sedang berhadapan dengan tugas mengembangkan pikiran dan tabiat, bekerja bukan hanya untuk sekarang ini saja, tetapi untuk masa yang kekal. Ia sedang menaburkan benih‑benih yang kemudian akan bersemi dan menghasilkan buah, yang baik atau yang jahat. Ia bukanlah melukis satu bentuk keindahan di atas sehelai kain, atau memahat batu pualam tetapi sedang menanamkan peta Ilahi di dalam jiwa manusia. Tanggung jawab ada di atas bahunya untuk membentuk tabiat anak‑anaknya terutama sekali pada tahun‑tahun permulaan kehidupan mereka. Kesan‑kesan yang kita tanamkan di dalam pikiran mereka yang sedang berkembang itu akan tetap tinggal dengan mereka selama hidupnya. Para orang tua harus memberikan petunjuk serta latihan kepada anak‑anak mereka selagi masih kecil, dengan tujuan agar mereka menjadi orang Kristen. Anak‑anak dipercayakan kepada pengawasan kita untuk dididik, bukan sebagai pewaris‑pewaris takhta kerajaan duniawi, melainkan sebagai raja‑raja bagi Allah, untuk memerintah selama masa kekekalan.

Biarlah setiap ibu menyadari bahwa waktunya itu amat berharga; pekerjaannya akan diuji pada hari pehukuman. Pada saat itu akan didapati bahwa banyak dari antara kegagalan‑kegagalan dan kejahatan manusia adalah merupakan akibat daripada kealpaan serta kelalaian mereka yang tanggung jawabnya adalah untuk menuntun jejak langkah kaki mereka pada jalan yang benar di waktu masa kecilnya. Pada waktu itu akan didapati bahwa banyak daripada orang‑orang yang telah menjadi berkat kepada dunia ini dalam memberikan terang pengetahuan, kebenaran serta kesucian itu, berutang budi kepada seorang ibu Kristen yang tekun dalam doa yang telah memberikan kepada mereka prinsip‑prinsip yang menjadi sumber daripada pengaruh serta sukses mereka.

Di istana Firaun, Musa menerima latihan sipil dan militer yang tertinggi. Raja telah menetapkan untuk menjadikan cucu angkatnya itu sebagai penggantinya, dan anak muda itu telah dididik untuk pangkat itu. "Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya." Kisah Para Rasul 7:22. Kesanggupannya sebagai seorang pemimpin dalam ketentaraan telah menjadikan dia sebagai seorang yang disenangi oleh tentara‑tentara Mesir, dan oleh orang banyak dianggap sebagai seorang tokoh yang menonjol. Maksud Setan telah digagalkan. Perintah yang sama yang merupakan hukuman mati terhadap anak‑anak Ibrani telah diubahkan oleh Allah untuk maksud latihan serta pendidikan calon pemimpin umat‑Nya.


Pemimpin‑pemimpin orang Israel telah diberi tahu oleh malaikat‑malaikat bahwa waktu kelepasan mereka sudah dekat, dan bahwa Musa adalah orang yang Allah akan gunakan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Malaikat‑malaikat memberitahukan kepada Musa bahwa Allah telah memilih dia untuk menghancurkan belenggu penjajahan terhadap umat‑Nya. Dengan menyangka bahwa mereka akan memperoleh kebebasan oleh kekuatan senjata, Musa mengharap akan memimpin bangsa Ibrani ini untuk berperang melawan tentara Mesir, dan dengan pandangan ini, ia berhati‑hati sekali di dalam membawakan hidupnya, agar jangan di dalam hubungannya yang ada dengan ibu angkatnya itu atau dengan Firaun, ia menjadi tidak bebas untuk melaksanakan kehendak Allah.

Oleh undang‑undang Mesir semua orang yang menduduki takhta Firaun harus menjadi anggota kasta imam‑imam; dan Musa, sebagai calon pewaris mahkota, harus diperkenalkan kepada rahasia‑rahasia agama bangsa itu. Tugas ini diserahkan kepada imam‑imam. Tetapi sekalipun ia adalah seorang pelajar yang tekun dan tidak mengenal lelah, ia tidak dapat dipengaruhi untuk ikut serta dalam penyembahan dewa‑dewa. Ia diancam akan kehilangan mahkota dan diamarkan bahwa ia akan dibuang oleh putri Firaun kalau ia tetap berpegang kepada kepercayaan orang Ibrani. Tetapi ia tidak tergoyahkan dalam tekadnya untuk tidak menghormati seorang pun kecuali Allah yang satu itu, yaitu Khalik langit dan bumi. Ia berdalih dengan imam‑imam serta penyembah‑penyembah berhala itu, dan menunjukkan kebodohan daripada sikap mengagung‑agungkan benda‑benda yang tidak bernyawa itu. Tidak ada seorang pun yang dapat membantah alasannya atau mengubah tekadnya, tetapi untuk sementara waktu keteguhan hatinya itu dibiarkan oleh mereka oleh sebab kedudukan yang tinggi, dan juga ia disenangi baik oleh raja mau pun oleh orang banyak.

"Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak putri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah." Ibrani 11:24‑26. Musa layak untuk menduduki tempat yang terkemuka di antara orang‑orang besar di dunia ini, untuk bersinar‑sinar dalam istana kerajaan yang paling megah serta memegang tongkat kekuasaan. Daya pikirnya yang kuat membuat dirinya menonjol di atas orang‑orang besar sepanjang zaman. Sebagai ahli sejarah, ahli sastra, ahli filsafat, panglima tentara dan ahli hukum, ia berdiri tanpa bandingan. Namun demikian, sekali pun dunia ada pada jangkauannya, ia mempunyai kekuatan akhlak untuk menolak harapan akan kekayaan, kebesaran dan kemasyhuran, "ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa."

Musa telah diajar tentang adanya pahala yang terakhir yang akan diberikan kepada hamba‑hamba Allah yang rendah hati dan taat, dan keuntungan duniawi menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan pahala tersebut. Istana Firaun yang megah dan takhta raja dihadapkan kepada Musa sebagai satu alat untuk menggodanya; tetapi ia mengetahui dengan baik bahwa kepelesiran yang penuh dosa yang dapat membuat manusia lupa kepada Allah, ada di dalam istana kemuliaan itu. Ia melihat jauh di seberang istana yang mewah, jauh di seberang mahkota raja kepada kemuliaan yang tinggi yang akan dianugerahkan kepada orang‑orang suci daripada Yang Mahatinggi di dalam satu kerajaan yang bebas daripada noda dosa. Oleh iman ia memandang kepada satu mahkota yang tidak akan binasa, yang Raja surga akan letakkan di atas kepala daripada orang‑orang yang menang. Iman ini telah menuntun dia untuk memalingkan diri daripada mahkota‑mahkota kerajaan duniawi, dan menggabungkan diri dengan bangsa yang hina, miskin dan rendah yang telah memilih untuk menurut kepada Allah gantinya untuk melayani dosa.


Musa tinggal di dalam istana sampai ia berusia empat puluh tahun. Pikirannya sering tertuju kepada keadaan daripada umatnya yang malang itu, dan ia mengunjungi saudara‑saudaranya yang berada dalam perbudakan itu, dan memberikan semangat kepada mereka dengan jaminan bahwa Allah akan berbuat sesuatu untuk kelepasan mereka. Sering, terdorong oleh kemarahan karena ketidakadilan serta penindasan itu, ia tergoda sekali untuk mengadakan pembalasan terhadap perbuatan jahat mereka itu. Pada suatu hari, sementara ia sedang keluar mengunjungi saudara‑saudaranya itu, ia melihat seorang Mesir sedang menganiaya seorang Israel, kemudian ia pun mendekati mereka dan membunuh orang Mesir itu. Kecuali orang Israel itu, tidak ada seorang pun yang menyaksikan perbuatannya itu, dan dengan segera Musa mengubur mayatnya di dalam pasir. Sekarang ia telah menunjukkan bahwa dirinya sudah siap untuk membela nasib bangsanya itu, dan ia akan berharap melihat mereka bangkit untuk memperoleh kemerdekaan mereka. "Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti." Kisah 7:25. Mereka belum bersedia untuk menjadi bangsa yang merdeka. Pada hari yang berikutnya Musa melihat dua orang Ibrani sedang berkelahi, dan salah seorang dari antara mereka ternyata bersalah. Musa menegur yang bersalah itu, yang dengan segera juga membalas kembali kepada Musa dengan mengatakan bahwa ia tidak berhak untuk mencampuri urusan mereka, dan menuduh dia telah berbuat kejahatan: "Siapa yang telah menjadikan dikau penghulu dan hakim atas kami?" katanya, "Maka demikian katamu sebab hendak membunuh akan daku pun seperti telah kau bunuh orang Mesir itu?"

Segala perkara ini dengan cepat diberitahukan kepada orang‑orang Mesir, dan berita yang amat dibesar‑besarkan itu, dengan segera pula sampai ke telinga Firaun. Dinyatakan kepada raja bahwa tindakan ini berarti banyak; bahwa Musa bermaksud untuk memimpin bangsanya melawan orang Mesir, untuk menggulingkan pemerintah, dan menempatkan dirinya di atas takhta dan bahwa tidak akan ada keamanan bagi kerajaan Mesir selama ia masih hidup. Pada saat itu juga diputuskan oleh raja bahwa Musa harus dibunuh; tetapi menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya, Musa telah melarikan diri ke tanah Arab.

Tuhan memimpin perjalanannya itu, dan ia memperoleh tempat bernaung bersama dengan Jetero, imam dan juga penghulu di Midian, yang juga seorang penyembah Allah. Setelah beberapa waktu Musa menikah dengan salah seorang anak perempuan Jetero; dan di tempat ini, di dalam pelayanannya kepada mertuanya sebagai gembala dari kawanan dombanya, ia tinggal selama empat puluh tahun.

Dengan membunuh orang Mesir itu, Musa telah jatuh ke dalam kesalahan yang sama yang sangat sering diperbuat oleh leluhur‑leluhurnya, yaitu melaksanakan dengan tangannya sendiri apa yang telah dijanjikan Allah akan dilakukan‑Nya. Bukanlah kehendak Allah untuk melepaskan bangsa itu dengan jalan berperang, sebagaimana yang disangka Musa, melainkan oleh kuasa‑Nya yang besar itu, agar supaya kemuliaan itu hanya diberikan kepada‑Nya saja. Namun demikian, sekalipun tindakannya yang kejam itu telah dikendalikan oleh Allah sehingga itu dapat melaksanakan maksud‑maksud‑Nya. Musa belum bersedia untuk tugasnya yang besar itu. Ia masih harus mempelajari pelajaran yang sama tentang iman yang telah diajarkan kepada Abraham dan Yakub--untuk tidak bersandar kepada kekuatan manusia atau kebijaksanaan manusia tetapi kepada kuasa Allah bagi kegenapan janji‑janji‑Nya. Dan ada juga pelajaran lain yang, di tengah‑tengah kesunyian di antara gunung‑gunung itu, harus dipelajari oleh Musa. Di dalam sekolah penyangkalan diri serta kesukaran ia harus belajar untuk sabar dan untuk menahan nafsunya. Sebelum ia dapat memerintah dengan bijaksana, ia harus diajar untuk menurut. Hatinya harus selaras dengan Allah sebelum ia dapat mengajarkan pengetahuan tentang kehendak‑Nya kepada Israel. Oleh pengalamannya sendiri ia harus dipersiapkan untuk mempraktikkan penjagaannya sebagai seorang bapa terhadap semua orang yang memerlukan pertolongannya.

Manusia tidak akan mau menjalani jangka waktu yang lama yang penuh dengan kesukaran, dan dalam keadaan yang terpencil seperti itu, dan menganggapnya sebagai pemborosan waktu. Tetapi Hikmat Yang Tidak Terbatas itu telah memanggil dia yang akan menjadi pemimpin bangsa‑Nya untuk memakai jangka waktu empat puluh tahun itu, di dalam pekerjaan yang rendah sebagai seorang gembala. Kebiasaan untuk menjaga, kebiasaan untuk melupakan diri serta memelihara kawanan dombanya itu, bila dikembangkan, akan menyediakan dirinya untuk menjadi gembala Israel yang berbelas‑kasihan dan panjang sabar. Tidak ada keuntungan yang dapat diberikan oleh pendidikan manusia yang dapat menjadi pengganti bagi pengalaman ini.

Musa telah belajar banyak perkara yang sekarang harus ia lupakan. Pengaruh‑pengaruh yang mengelilinginya di Mesir--kasih kepada ibu angkatnya, kedudukannya sendiri yang tinggi sebagai cucu raja, kehidupan yang gelojoh di sekitarnya, penarikan, tipu daya dan sifat mistik agama palsu, kemegahan daripada penyembahan berhala, keagungan daripada bangunan dan patung‑patung--semuanya ini telah meninggalkan kesan yang dalam pada pikirannya yang sedang berkembang dan sedikit banyaknya telah membentuk kebiasaan serta tabiatnya. Waktu, perubahan sekelilingnya, dan perhubungan dengan Allah dapat menghapuskan kesan‑kesan ini. Hal ini menuntut dari pihak Musa sendiri satu pergumulan yang sungguh‑sungguh untuk meninggalkan kesalahan dan menerima kebenaran, tetapi Allah akan menjadi penolongnya bilamana pergumulan tersebut menjadi terlalu hebat bagi kekuatan manusia.


Di dalam diri semua orang yang telah dipilih untuk melaksanakan satu tugas bagi Allah terlihat adanya unsur‑unsur kemanusiaan. Tetapi mereka bukanlah manusia yang tabiat dan kebiasaannya tidak dapat diubahkan, yang merasa puas untuk tetap berada dalam keadaan seperti itu. Mereka dengan sungguh‑sungguh rindu untuk memperoleh kebijaksanaan dari Allah, dan untuk belajar bekerja bagi‑Nya. Kata rasul, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,--yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya." Yakobus 1:5. Tetapi Allah tidak akan memberikan kepada manusia terang Ilahi sementara mereka merasa puas untuk tinggal dalam kegelapan. Agar dapat menerima pertolongan Allah, manusia harus menyadari kelemahan dan kekurangan‑kekurangannya; ia harus menyerahkan pikirannya kepada perubahan besar yang akan dilaksanakan di dalam dirinya; ia harus sadar untuk ambil bahagian dalam usaha dan doa yang sungguh‑sungguh serta tekun. Adat serta kebiasaan‑kebiasaan yang salah harus ditinggalkan; dan hanyalah oleh usaha yang disertai tekad untuk memperbaiki kesalahan‑kesalahan yang menyelaraskan diri kepada prinsip‑prinsip yang benar, kemenangan itu akan diperoleh. Banyak orang tidak pernah sampai kepada kedudukan yang sebenarnya mereka dapat capai oleh sebab mereka menunggu Allah untuk melakukan bagi mereka sesuatu yang Ia telah berikan kuasa bagi mereka untuk dapat melakukannya. Semua orang yang ingin menjadi layak untuk pelayanan harus dilatih oleh disiplin mental dan moral yang paling ketat, dan Allah akan menolong mereka oleh menggabungkan kuasa Ilahi dan usaha manusia.

Dikelilingi oleh barisan gunung‑gunung, Musa terasing bersama dengan Allah. Kuil‑kuil Mesir yang megah itu tidak lagi mengesankan pikirannya dengan segala takhyul dan kepalsuannya. Di dalam suasana khidmat di antara bukit‑bukit itu, ia dapat melihat keagungan Yang Mahatinggi, dan sebaliknya, kini ia menyadari betapa tidak berdayanya dan tidak berartinya ilah‑ilah Mesir itu. Di mana‑mana nama Khalik tertulis. Musa seolah‑olah berdiri di dalam hadirat‑Nya dan dikelilingi oleh kuasa‑Nya. Di tempat ini kesombongannya dan sifat merasa diri cukup sama sekali dihapuskan. Di dalam kesederhanaan hidup di padang belantara, akibat‑akibat daripada kemewahan dan kesenangan Mesir hilang dari dalam dirinya. Musa menjadi orang yang sabar, bersikap hormat dan rendah hati, "sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi." (Bilangan 12:3), tetapi kuat di dalam iman kepada Allah Yakub yang berkuasa itu.

Apabila tahun demi tahun berlalu dan ia bersama‑sama dengan kawanan dombanya itu menjelajahi tempat‑tempat yang terpencil, sambil merenung‑renungkan keadaan bangsanya yang terjajah itu, ia mengingat kembali perlakuan Allah terhadap leluhurnya, dan janji‑janji yang menjadi warisan daripada bangsa yang terpilih, dan doanya bagi Israel naik kepada Allah siang dan malam. Malaikat‑malaikat surga memancarkan terang mereka ke sekeliling diri Musa. Di tempat ini, dengan ilham Roh Kudus, ia telah menulis buku Kejadian. Jangka waktu yang lama yang dilaluinya di tengah‑tengah padang pasir yang sunyi senyap penuh dengan berkat limpah, bukan saja bagi Musa dan bangsanya, tetapi juga kepada seluruh dunia pada generasi‑generasi mendatang.


"Maka beberapa tahun kemudian, setelah sudah mangkat raja Mesir itu, maka berkeluh kesahlah orang‑orang Israel serta berserulah mereka itu dari sebab pekerjaannya yang berat itu, maka tangisnya sampai ke hadirat Allah. Maka didengar Allah akan pengaduh mereka itu serta ingatlah Allah akan perjanjian‑Nya dengan Abraham, dan dengan Ishak dan dengan Yakub. Maka ditilik Allah akan bani Israel serta diketahui‑Nya." Saat untuk kelepasan Israel telah tiba. Tetapi maksud Allah harus dilaksanakan dengan satu cara yang akan menghinakan kesombongan manusia. Yang melepaskan bangsa ini harus pergi sebagai seorang gembala yang hina, dengan hanya sebatang tongkat pada tangannya; tetapi Allah akan menjadikan tongkat itu sebagai lambang kekuasaan‑Nya. Sementara menggembalakan domba‑dombanya pada suatu hari di dekat bukit Horeb, "bukit Allah," Musa telah melihat satu semak belukar yang menyala tetapi tidak terbakar. Ia mendekati tempat itu untuk menyaksikan pemandangan yang ajaib itu, dan pada saat itu juga satu suara dari dalam nyala api itu terdengar memanggil namanya. Dengan bibir yang gemetar ia menjawab, "Sahaya Tuhan." Kepadanya diamarkan agar jangan mendekatinya dengan sikap yang tidak hormat: "Tanggalkanlah kasut daripada kakimu, karena tempat engkau berdiri itu tanah yang suci adanya . . . Aku inilah Allah bapamu, yaitu Allah Abraham, dan Allah Ishak dan Allah Yakub." Itu adalah Dia yang, sebagai Malaikat Perjanjian itu, telah menyatakan diri‑Nya kepada bapa‑bapa zaman dahulu. "Maka ditudungkan Musa mukanya, sebab takutlah ia memandang kepada Allah."

Kerendahan hati dan sikap hormat harus menandai pembawaan semua orang yang datang ke hadirat Allah. Di dalam nama Yesus kita bisa datang kepada‑Nya dengan satu keyakinan, tetapi janganlah datang menghampirinya dengan keberanian yang sembrono, seolah‑olah Dia itu sama tarafnya dengan diri kita. Ada orang‑orang yang memanggil Allah yang agung, suci dan maha kuasa, yang bersemayam di tengah‑tengah terang yang tidak terhampiri itu, seperti mereka memanggil orang‑orang yang setaraf dengan diri mereka, bahkan seperti kepada seorang yang lebih rendah daripadanya. Ada orang‑orang yang membawakan dirinya di dalam rumah‑Nya dengan satu cara yang ia tidak akan berani melakukannya bilamana ia sedang berada di ruang pertemuan bersama dengan seorang pemimpin dunia. Mereka ini harus mengingat bahwa mereka sedang berada di dalam hadirat Dia yang diagungkan oleh malaikat, yang di hadapan‑Nya malaikat‑malaikat menutupi mukanya. Allah harus dihormati; semua orang yang sungguh‑sungguh menyadari kehadiran‑Nya akan bersembah sujud dengan rendah hati di hadapan‑Nya, dan seperti Yakub yang sedang melihat khayal tentang Allah, mereka akan berseru, "Bagaimana hebatnya tempat ini! bukannya lain, melainkan rumah Allah juga dan inilah pintu surga adanya."

Sementara Musa dengan sikap hormat dan rasa gentar menunggu di hadapan Allah, suara Allah selanjutnya terdengar: "Bahwa sesungguhnya telah kulihat segala aniaya yang berlaku atas umat‑Ku, yang di Mesir itu, serta Kudengar tangis mereka itu dari karena segala pengerahnya, bahkan, Aku mengetahui segala sengsaranya. Maka sebab itu telah Aku turun hendak melepaskan mereka itu daripada tangan orang Mesir dan membawa mereka itu ke luar daripada negeri ini kepada sebuah negeri yang baik dan luas, kepada sebuah negeri yang berkelimpahan air susu dan madu.... Marilah sekarang, Aku hendak menyuruhkan dikau menghadap Firaun, supaya engkau membawa akan umat‑Ku, yaitu bani Israel keluar dari negeri Mesir."

Oleh karena merasa heran dan gentar mendengar perintah itu, Musa mundur ke belakang, sambil berkata, "Siapakah hambamu ini, maka hamba akan menghadap; Firaun dan membawa bani Israel keluar dari negeri Mesir?" Dan jawab‑Nya adalah, "bahwasanya Aku kelak menyertai akan dikau dan inilah akan menjadi suatu tanda bagimu, bahwa Aku menyuruhkan dikau; apabila bangsa ini telah kau bawa keluar dari Mesir, maka kamu akan berbuat bakti kepada Allah di atas bukit ini."


Musa memikirkan tentang kesulitan‑kesulitan yang akan dihadapinya, dan juga tentang kealpaan, kebodohan serta sikap tidak percaya daripada bangsanya itu, banyak dari antara mereka yang tidak mempunyai pengetahuan akan Allah. "Bahwa sesungguhnya," katanya, "apabila hamba datang mendapatkan bani Israel serta kata hamba kepada mereka itu: Bahwa Allah leluhur kamu telah menyuruhkan aku mendapatkan kamu, maka bertanyalah mereka itu: Siapakah namanya? maka apa gerangan hamba sahut kepadanya? Jawabnya adalah:

"AKU ADALAH AKU." "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."
Pertama‑tama Musa diperintahkan untuk menghimpun pemimpin‑pemimpin bangsa Israel, orang‑orang yang paling bangsawan dan orang‑orang yang benar di antara mereka, yang sudah lama merasa sedih karena penjajahan yang mereka alami, dan mengumumkan kepada mereka satu pekabaran dari Allah, dengan satu janji kelepasan. Kemudian ia harus pergi bersama‑sama dengan pemimpin‑pemimpin orang Israel itu menghadap raja dan berkata kepadanya, "Tuhan, Allah orang Ibrani, telah menemui kami; oleh sebab itu, izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allah kami."
Musa telah diamarkan lebih dulu bahwa Firaun akan menolak permintaan untuk membiarkan Israel pergi. Tetapi semangat hamba Allah itu tidak boleh goyah; karena Tuhan akan menjadikan peristiwa ini untuk menyatakan kuasa‑Nya di hadapan "orang‑orang Mesir dan di hadapan umat‑Nya." "Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi."

Petunjuk‑petunjuk juga diberikan sehubungan dengan persiapan‑persiapan yang harus mereka adakan untuk perjalanan yang akan mereka tempuh itu. Tuhan mengumumkan: "Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa, tetapi tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan." Orang‑orang Mesir telah menjadi kaya oleh karena kerja yang secara tidak adil telah dipaksakan kepada bangsa Israel, dan apabila orang‑orang Israel ini akan memulai perjalanan ke rumah mereka yang baru, maka adalah benar bagi mereka untuk menuntut upah jerih payah mereka. Mereka harus meminta barang‑barang berharga yang dengan mudah dapat dibawa, dan Allah akan menjadikan mereka itu mendapat kasihan dari orang‑orang Mesir. Mukjizat ajaib yang diadakan untuk kelepasan mereka akan menggentarkan sipenjajah itu, sehingga permohonan mereka itu dikabulkan.


Musa melihat di hadapannya ada kesulitan‑kesulitan yang nampaknya tidak akan dapat diatasi. Bukti apakah yang dapat ia berikan kepada bangsanya bahwa Allah benar‑benar telah mengutusnya? "Bagaimana jika," katanya, "mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: Tuhan tidak menampakkan diri kepadamu?" Sekarang bukti yang dapat meyakinkan indranya itupun diberikan kepadanya. Ia disuruh untuk melemparkan tongkatnya ke atas tanah. Apabila ia melakukannya, "tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya." Ia diperintahkan untuk menangkapnya dan di dalam tangannya ular itu kembali menjadi sebuah tongkat. Ia diperintahkan untuk memasukkan tangannya ke dalam baju pada bagian dadanya. Ia menurutnya dan "setelah ditariknya ke luar, maka tangannya kena kusta, putih seperti salju." Kemudian ia disuruh untuk memasukkan tangannya itu kembali, dan pada waktu ditariknya ke luar tangannya itu menjadi pulih kembali seperti tangan sebelahnya. Dengan tanda‑tanda ini Tuhan memberikan jaminan kepada Musa bahwa bangsa‑Nya itu, sebagaimana juga Firaun, akan diyakinkan bahwa Seseorang yang lebih berkuasa daripada raja Mesir ada di antara mereka.

Tetapi hamba Allah itu masih tetap diliputi oleh pemikiran tentang pekerjaan yang ganjil dan mengherankan yang ada di hadapannya. Di dalam rasa takut dan susahnya itu sekarang ia mengemukakan satu dalih bahwa ia tidak dapat berkata‑kata dengan fasih. "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Ia sudah terlalu lama terpisah dari Mesir sehingga ia tidak mempunyai pengetahuan yang jelas, dan juga tidak lagi dapat menggunakan bahasa mereka dengan baik seperti pada waktu ia masih berada di antara mereka.

Tuhan berkata kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?" Kepada kata‑kata ini ditambahkan pula satu jaminan yang lain tentang pertolongan Ilahi: "Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." Tetapi Musa masih tetap membujuk agar dipilih seorang yang lebih sanggup. Alasan‑alasan ini pada mulanya datang dari perasaan rendah hati dan malu, tetapi setelah Tuhan berjanji akan meniadakan segala kesulitan itu, dan memberikan kepadanya sukses yang terakhir, maka dalih serta persungutan yang selanjutnya bahwa ia tidak layak menunjukkan bahwa ia tidak percaya kepada Tuhan. Itu menyatakan adanya satu perasaan takut bahwa Allah tidak sanggup untuk melayakkan dia bagi tugas yang besar untuk mana Allah telah memanggil dia atau bahwa Ia telah berbuat satu kesalahan di dalam memilih orang‑Nya.

Musa sekarang disuruh untuk menemui Harun, kakaknya yang karena setiap hari menggunakan bahasa Mesir, dapat berkata‑kata dengan sempurna dalam bahasa mereka itu. Kepadanya diberitahukan bahwa Harun sedang datang untuk menemui dia. Kata‑kata yang berikutnya dari Tuhan merupakan satu perintah yang mendesak: "Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan. Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya. Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mukjizat." Ia tidak lagi dapat menolak perintah ini karena segala alasan dan dalih telah terjawab.

Perintah Ilahi yang diberikan kepada Musa menjadikan dia tidak percaya kepada diri, lambat berkata‑kata dan takut. Ia diliputi dengan satu perasaan tidak sanggup untuk menjadi jurubicara Allah kepada Israel. Tetapi sekali setelah menerima tugas itu, ia menjalankannya dengan segenap hati, sambil menaruh segenap pengharapannya di dalam Tuhan. Keagungan tugasnya itu menuntutnya untuk menggunakan segenap pikirannya. Allah memberkati penurutannya itu, dan ia pun menjadi seorang yang fasih lidah, berharap dapat menguasai diri, dan layak untuk menjalankan tugas yang terbesar yang pernah diberikan kepada manusia. Ini adalah satu contoh tentang apa yang Allah perbuat untuk menguatkan tabiat mereka yang berharap sepenuhnya kepada Dia, dan menyerahkan diri seluruhnya kepada perintah‑Nya.


Seorang manusia akan memperoleh kuasa dan kesanggupan apabila ia menerima tanggung jawab yang diberikan Allah kepadanya, dan dengan segenap jiwanya berusaha untuk menjadikan dirinya layak untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Bagaimana pun rendah kedudukannya atau terbatasnya kesanggupan seseorang akan memperoleh keagungan yang sejati bilamana, sambil berharap kepada kekuatan dan kebijaksaan Ilahi, berusaha untuk melaksanakan tugasnya dengan setia. Andaikata Musa telah bergantung kepada kekuatannya, dan kebijaksanaannya sendiri, dan menerima tugas yang besar itu dengan penuh keinginan, maka ia telah membuktikan bahwa ia sama sekali tidak layak untuk tugas itu. Kenyataan bahwa seorang manusia merasakan kelemahannya paling sedikit merupakan bukti bahwa ia menyadari kebesaran tugas yang ditetapkan baginya, dan ia akan menjadikan Allah sebagai penasihat dan kekuatannya.

Musa kembali kepada mertuanya, dan menyatakan kerinduannya untuk mengunjungi saudara‑saudaranya di Mesir. Persetujuan Jetero diberikan kepadanya dengan disertai berkat daripadanya, "Pergilah dengan sejahtera." Bersama dengan istri dan anak‑anaknya, Musa memulai perjalanannya. Ia tidak berani memberitahukan tujuan daripada tugasnya itu, karena jangan‑jangan mereka tidak diizinkan untuk pergi bersama‑sama dengan dia. Namun demikian, sebelum tiba di Mesir ia berpikir dalam hatinya adalah lebih baik untuk mengirimkan mereka kembali ke rumah mereka di Midian demi keselamatan mereka.

Rasa takut yang terpendam dalam hatinya terhadap Firaun dan orang‑orang Mesir, yang kemarahannya telah berkobar‑kobar terhadap dirinya empat puluh tahun yang silam, menjadikan Musa merasa segan kembali ke Mesir; tetapi setelah ia memulai perjalanannya sesuai dengan perintah Ilahi, Tuhan menyatakan kepadanya bahwa musuh‑musuhnya itu sudah mati.

Dalam perjalanan dari Midian, Musa telah menerima satu amaran yang mengherankan dan menggentarkan tentang kemarahan Allah. Seorang malaikat menampakkan diri ‑ kepadanya dalam sikap yang mengancam seolah‑olah ia dengan segera akan membinasakannya. Tidak ada keterangan yang diberikan; tetapi Musa dapat mengingat bahwa ia telah mengabaikan salah satu dari tuntutan‑tuntutan Allah; yaitu dengan menyerah kepada bujukan istrinya, ia telah melalaikan untuk melaksanakan sunat bagi anaknya yang bungsu. Ia telah gagal untuk memenuhi syarat oleh mana anaknya dapat memperoleh hak terhadap berkat‑berkat perjanjian Allah dengan Israel; dengan satu kelalaian seperti itu di pihak pemimpin mereka yang terpilih itu akan melemahkan kekuatan peraturan‑peraturan Ilahi terhadap umat‑Nya.

Zipora, merasa takut bahwa suaminya akan dibunuh, telah melaksanakan upacara penyunatan itu oleh dirinya sendiri, dan malaikat pun kemudian mengizinkan Musa untuk melanjutkan perjalanannya. Di dalam tugasnya menghadap Firaun, Musa ditempatkan dalam satu keadaan yang amat berbahaya; hidupnya dapat dipelihara hanya melalui perlindungan malaikat‑malaikat suci. Tetapi apabila ia hidup dengan satu kelalaian terhadap tugas yang diketahuinya, ia tidak akan selamat; oleh karena ia tidak dapat dilindungi oleh malaikat‑malaikat Allah.


Di dalam masa kepicikan tepat sebelum kedatangan Kristus, orang benar akan dipelihara melalui pelayanan malaikat‑malaikat surga; tetapi tidak akan ada keselamatan bagi orang‑orang yang melanggar hukum Allah. Pada saat itu malaikat‑malaikat tidak dapat melindungi mereka yang mengabaikan salah satu daripada hukum‑hukum‑Nya itu.




Posting Komentar