Senin, 11 November 2013

MAZMUR 144

144:1Dari Daud. Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang;
144:2yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!
144:3Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?
144:4Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.
144:5Ya TUHAN, tekukkanlah langit-Mu dan turunlah, sentuhlah gunung-gunung, sehingga berasap!
144:6Lontarkanlah kilat-kilat dan serakkanlah mereka, lepaskanlah panah-panah-Mu, sehingga mereka kacau!
144:7Ulurkanlah tangan-Mu dari tempat tinggi, bebaskanlah aku dan lepaskanlah aku dari banjir, dari tangan orang-orang asing,
144:8yang mulutnya mengucapkan tipu dan yang tangan kanannya adalah tangan kanan dusta.
144:9Ya Allah, aku hendak menyanyikan nyanyian baru bagi-Mu, dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur bagi-Mu,
144:10Engkau yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!
144:11Bebaskanlah aku dari pada pedang celaka dan lepaskanlah aku dari tangan orang-orang asing, yang mulutnya mengucapkan tipu, dan yang tangan kanannya adalah tangan kanan dusta.
144:12Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!
144:13Semoga gudang-gudang kita penuh, mengeluarkan beraneka ragam barang; semoga kambing domba kita menjadi beribu-ribu, berlaksa-laksa di padang-padang kita!
144:14Semoga lembu sapi kita sarat; semoga tidak ada kegagalan dan tidak ada keguguran, dan tidak ada jeritan di lapangan-lapangan kita!
144:15Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN!


23

Laknat atas Mesir
-------------------
Pasal ini dialaskan atas Keluaran 5‑10.

Harun, setelah menerima petunjuk dari malaikat‑malaikat, berangkat untuk menemui saudaranya, yang telah lama berpisah dengannya; dan mereka bertemu di tengah‑tengah padang pasir yang sunyi di dekat Horeb. Di sini mereka berunding bersama‑sama, dan Musa menceritakan kepada Harun "segala Firman Tuhan yang disuruhkan-Nya kepadanya untuk disampaikan dan segala tanda mukjizat yang diperintahkan-Nya kepadanya untuk dibuat." Mereka berangkat bersama‑sama ke Mesir, dan setibanya di tanah Gosyen mereka terus menghimpun pemimpin‑pemimpin Israel. Harun mengulangi kepada mereka segala percakapan Tuhan dengan Musa, dan kemudian tanda‑tanda yang telah diberikan Allah kepada Musa ditunjukkan di hadapan orang banyak. "Lalu percayalah bangsa itu, dan ketika mereka mendengar, bahwa Tuhan telah mengindahkan orang Israel dan telah melihat kesengsaraan mereka, maka berlututlah mereka dan sujud menyembah."

Kepada Musa juga telah dipercayakan satu pekabaran bagi raja. Kedua bersaudara itu memasuki istana Firaun sebagai duta‑duta dari Raja atas segala raja, dan mereka berkata‑kata di dalam nama‑Nya: "Beginilah Firman Tuhan, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun."

"Siapakah Tuhan itu yang harus kudengarkan Firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi?" tanya raja itu: "Tidak kenal aku Tuhan itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi."

Jawab mereka, "Allah orang Ibrani telah menemui kami; izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya, untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, Allah kami, supaya jangan nanti mendatangkan kepada kami penyakit sampar atau pedang."

Kabar‑kabar tentang mereka dan perhatian yang telah mereka timbulkan di antara orang banyak telah sampai di telinga raja. Kemarahannya berkobar‑kobar. "Musa dan Harun, mengapakah kamu bawa-bawa bangsa ini melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu," katanya. Sudah cukup kerajaan ini menderita kerugian dengan campur tangannya orang‑orang asing ini. Dengan pemikiran ini ia menambahkan, "Lihat, sekarang telah terlalu banyak bangsamu di negeri ini, masakan kamu hendak menghentikan mereka dari kerja paksanya?"


Di dalam masa perbudakan mereka, orang‑orang Israel sedikit banyak telah kehilangan pengetahuan akan hukum Allah, dan mereka telah menyimpang dari peraturan‑peraturan-Nya. Pada umumnya hari Sabat telah diabaikan, dan kebengisan mandor‑mandor mereka itu kelihatannya tidak memungkinkan mereka memelihara hari itu. Tetapi Musa telah menunjukkan kepada bangsanya bahwa penurutan kepada Allah adalah merupakan syarat utama bagi kelepasan mereka; dan usaha‑usaha yang telah diadakan untuk memulihkan kembali pemeliharaan hari Sabat itu telah menarik perhatian orang‑orang yang menjajah mereka.

Raja dengan diliputi kemarahan menyangka bahwa orang‑orang Israel bermaksud memberontak, dan mau membebaskan diri dari perhambaan. Ketidak‑setiaan ini adalah merupakan akibat daripada kemalasan, raja mengusahakan agar jangan diberi kesempatan bagi mereka untuk mengadakan rencana‑rencana yang membahayakan. Dan dengan segera ia mengadakan cara‑cara untuk membuat pekerjaan mereka lebih ketat, dan menghancurkan semangat mereka untuk memperoleh kemerdekaan. Pada hari yang sama itu juga perintah‑perintah dikeluarkan yang menyebabkan beban kerja mereka itu lebih berat dan lebih menekan. Bahan‑bahan bangunan yang paling umum digunakan di negeri itu adalah batu‑batu bata yang dikeringkan oleh sinar matahari; dinding‑dinding bangunan yang paling megah terbuat dari bahan ini, dan kemudian dilapisi dengan batu‑batu; dan untuk pembuatan bata ini diperlukan banyak sekali tenaga kerja. Jerami‑jerami yang dipotong dan kemudian dicampur dengan tanah liat agar dapat mengikatnya dengan kuat, amat diperlukan untuk pekerjaan tersebut; sekarang raja memerintahkan agar supaya jerami‑jerami tersebut jangan lagi disediakan; pekerja‑pekerja itu harus pergi mencarinya sendiri, dan sementara itu jumlah batu bata yang sama harus dihasilkan.

Perintah ini menimbulkan kesulitan yang besar di antara orang‑orang Israel di seluruh negeri itu. Mandor‑mandor orang Mesir itu mengangkat pengawas‑pengawas dari orang Israel untuk mengawasi pekerjaan orang banyak, dan pengawas‑pengawas ini bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang berada di bawah pimpinannya. Apabila tuntutan raja itu dijalankan dalam kekerasan, orang banyak itu berpencar‑pencar ke seluruh negeri untuk mengumpulkan tunggul jerami gantinya jerami; tetapi mereka dapati bahwa mustahil untuk dapat menghasilkan jumlah yang sama seperti biasanya. Karena kegagalan ini pengawas‑pengawas orang Israel itu dengan kejamnya telah disiksa.

Pengawas‑pengawas ini menyangka bahwa tekanan‑tekanan terhadap diri mereka itu datang dari mandor‑mandor, dan bukan dari raja itu sendiri; dan mereka pun pergi menghadap raja dengan segala keluhan mereka. Pengaduan mereka itu dijawab oleh Firaun dengan satu kecaman: "Pemalas kamu, pemalas! Itulah sebabnya kamu berkata: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada Tuhan!" Mereka disuruh kembali kepada pekerjaan mereka, dengan satu pemberitahuan bahwa beban mereka sama sekali tidak akan dijadikan lebih ringan. Sekembalinya ke tempat kerja, mereka menemui Musa dan Harun, dan berseru‑seru kepada mereka, "Kiranya Tuhan memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami."


Apabila Musa mendengarkan keluhan-keluhan, ia sungguh‑sungguh merasa susah hati. Penderitaan orang banyak semakin bertambah‑tambah. Di mana‑mana di seluruh negeri itu satu teriakan putus asa tercetus dari orang‑orang tua dan muda, dan mereka semua bersatu dalam menuduh Musa sebagai penyebab perubahan yang kejam sehubungan dengan keadaan mereka itu. Di dalam kegetiran jiwanya itu, Musa datang menghampiri Allah sambil berseru, "Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali." Tuhan menjawab, "Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya." Sekali lagi kepadanya ditunjukkan perjanjian Allah yang diadakan dengan leluhurnya, dan kepadanya diberikan jaminan bahwa janji itu akan digenapkan.

Selama masa perbudakan Israel di Mesir, di antara orang‑orang Israel itu ada beberapa orang yang tetap menyembah Allah. Mereka ini merasa susah apabila mereka melihat setiap hari anak‑anak mereka menyaksikan kekejian orang‑orang kafir, bahkan ikut‑ikutan menyembah kepada dewa‑dewa palsu mereka itu. Di dalam kesusahan itu mereka berseru kepada Tuhan, dan meminta kelepasan dari penjajahan Mesir agar mereka dibebaskan dari pengaruh‑pengaruh jahat daripada penyembahan berhala. Mereka tidak menyembunyikan iman mereka melainkan menyatakan kepada orang‑orang Mesir bahwa tujuan perbaktian mereka itu adalah Khalik langit dan bumi, satu‑satunya Allah yang hidup dan benar. Mereka mengulangi kembali bukti‑bukti akan adanya serta kuasa Allah, dari masa penciptaan dunia sampai kepada masa Yakub. Dengan demikian orang‑orang Mesir mempunyai kesempatan untuk mengenal agama orang Israel; tetapi sambil menolak diberi petunjuk‑petunjuk oleh budak‑budak itu, mereka berusaha memperdayakan penyembah‑penyembah Allah itu dengan janji akan diberi upah, dan apabila cara seperti itu tidak berhasil, mereka mencobanya dengan tindakan‑tindakan kejam serta ancaman‑ancaman .

Pemimpin‑pemimpin Israel berusaha menguatkan iman saudara‑saudara mereka yang telah mulai pudar itu dengan mengulangi kembali janji‑janji yang telah diadakan kepada leluhur mereka, dan juga kata‑kata nubuat dari Yusuf sebelum kematiannya, yang meramalkan tentang kelepasan mereka dari Mesir. Beberapa dari antara mereka mau mendengarkannya dan percaya. Yang lain, dengan melihat keadaan yang mengelilingi mereka, tidak mau menerima pengharapan tersebut. Orang‑orang Mesir, setelah mendengar apa yang sedang sibuk dibicarakan di antara budak‑budak itu, mengolok‑olok pengharapan mereka itu, dan dengan cemoohan menyangkal kuasa Allah mereka. Mereka menunjuk kepada keadaan orang Israel sebagai satu bangsa yang terdiri dari budak‑budak, dan sambil mengejek mereka berkata, "Jikalau Allahmu itu adil dan berkemurahan dan mempunyai kuasa lebih daripada dewa‑dewa Mesir, mengapa Ia tidak menjadikan engkau satu bangsa yang merdeka?" Mereka mengalihkan perhatian orang Israel kepada keadaan mereka. Mereka menyembah ilah‑ilah, yang disebut orang Israel sebagai dewa‑dewa palsu, tetapi mereka adalah satu bangsa yang kaya dan berkuasa. Mereka menyatakan bahwa dewa‑dewa itu telah memberkati mereka dengan kemakmuran, dan telah memberikan kepada mereka orang‑orang Israel sebagai hamba‑hamba, dan mereka merasa bangga atas kuasa mereka untuk menjajah dan membinasakan penyembah‑penyembah Allah. Firaun sendiri membanggakan bahwa Allah orang Ibrani itu tidak akan dapat melepaskan mereka dari tangannya.


Kata‑kata seperti ini telah menghancurkan harapan banyak orang Israel. Nampaknya keadaan mereka itu adalah tepat seperti apa yang dikatakan oleh orang Mesir. Benarlah bahwa mereka adalah budak‑budak, dan harus menanggung apa saja yang mau ditanggungkan mandor‑mandor mereka yang kejam itu. Anak‑anak mereka telah dikejar‑kejar dan dibunuh, dan kehidupan mereka sendiri merupakan satu beban. Tetapi mereka ini berbakti kepada Allah yang ada di surga. Jikalau Allah itu benar‑benar melebihi segala dewa‑dewa, tentu Ia tidak akan membiarkan mereka berada di dalam perbudakan kepada penyembah‑penyembah berhala itu. Tetapi mereka yang setia kepada Allah mengerti bahwa oleh karena penyelewengan Israel dari Allah--oleh sebab kecenderungan yang ada pada mereka untuk kawin dengan orang kafir, dan dengan demikian terbawa‑bawa kepada penyembahan berhala--bahwa Allah telah membiarkan mereka menjadi budak‑budak; dan mereka mencoba untuk meyakinkan saudara‑saudara mereka bahwa segera Ia akan menghancurkan belenggu penjajah itu.

Orang‑orang Israel itu telah mengharapkan akan memperoleh kebebasan tanpa melalui ujian iman ataupun kesukaran serta penderitaan. Tetapi mereka belum bersedia untuk kelepasan itu. Mereka mempunyai iman yang kecil akan Allah, dan tidak mau dengan sabar menahan penderitaan sampai kepada saat bilamana Allah melihat sudah sepatutnya diadakan sesuatu tindakan bagi mereka. Banyak yang merasa puas untuk tetap tinggal dalam perbudakan gantinya menghadapi kesulitan‑kesulitan yang berhubungan dengan dipindahkannya mereka ke satu negeri yang asing; dan kebiasaan‑kebiasaan beberapa orang telah menjadi sama seperti orang‑orang Mesir sehingga mereka lebih suka menetap di Mesir. Oleh sebab itu Tuhan tidak melepaskan mereka oleh kenyataan yang pertama dari kekuasaan‑Nya di hadapan Firaun. Ia mengendalikan peristiwa‑peristiwa yang berlaku agar menjadi lebih sempurna untuk mengembangkan roh tirani daripada raja Mesir itu, dan juga untuk menyatakan diri‑Nya kepada umat‑Nya. Dengan melihat akan keadilan‑Nya, kuasa‑Nya dan kasih‑Nya, mereka akan memilih untuk meninggalkan Mesir dan menyerahkan diri mereka kepada pelayanan‑Nya. Tugas Musa tidak akan menjadi sesulit itu andaikata tidak banyak dari antara orang Israel yang telah menjadi begitu jahat sehingga mereka tidak mau meninggalkan Mesir.

Tuhan memerintahkan Musa supaya kembali lagi kepada orang banyak dan mengulangi janji kelepasan itu, dengan satu jaminan yang baru akan pertolongan Ilahi. Ia pergi sebagaimana telah diperintahkan; tetapi mereka tidak mau mendengar. Kata Alkitab, "Tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu." Sekali lagi perintah Ilahi datang kepada Musa, "Pergilah menghadap, katakanlah kepada Firaun, raja Mesir, bahwa ia harus membiarkan orang Israel pergi dari negerinya." Dalam kekecewaan ia menjawab, "Orang Israel sendiri tidak mendengarkan aku, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku, aku seorang yang tidak petah lidahnya!" Ia diperintahkan untuk membawa Harun bersama dengan dia, dan pergi menghadap Firaun dan kembali menuntut "agar membiarkan orang Israel pergi dari negerinya."


Kepadanya diberitahukan bahwa raja itu tidak akan menyerah hingga Allah harus mendatangkan hukuman ke atas Mesir, dan membawa Israel ke luar dengan pernyataan kekuasaan‑Nya. Sebelum dijatuhkannya setiap kutuk, Musa harus menerangkan tentang sifat‑sifat dan akibatnya agar raja itu dapat menyelamatkan dirinya daripada kutuk tersebut jika ia mau. Setiap pehukuman yang ditolak akan diikuti oleh hukuman yang lebih dahsyat lagi, sampai hatinya yang congkak itu akan direndahkan, dan ia mau mengakui Khalik langit dan bumi sebagai Allah yang hidup dan benar. Tuhan ingin memberikan kepada orang Mesir satu kesempatan untuk melihat betapa sia‑sianya hikmat orang‑orang kuat dari bangsa mereka itu, betapa lemahnya kekuasaan dewa‑dewa mereka itu, bilamana dihadapkan dengan perintah Allah. Ia akan menghukum orang Mesir oleh karena penyembahan berhala mereka, dan membungkamkan kesombongan mereka yang mengaku telah menerima berkat‑berkat dari dewa‑dewa mereka yang tidak bernyawa itu. Allah akan mempermuliakan nama‑Nya sendiri agar bangsa‑bangsa lain dapat mendengar tentang kuasa‑Nya, dan merasa gentar akan perbuatan‑perbuatan‑Nya yang hebat itu, dan agar umat‑Nya dapat dipimpin kembali dari penyembahan berhala mereka dan berbakti kepada Allah dengan benar.

Kembali Musa dan Harun memasuki ruangan yang megah, ruangan istana raja Mesir. Di sana, dikelilingi oleh tiang‑tiang yang tinggi dan perhiasan‑perhiasan yang gemerlapan, oleh lukisan‑lukisan yang mahal dan patung‑patung ukiran dewa kafir, di hadapan raja kerajaan yang paling berkuasa yang ada pada zaman itu, berdirilah kedua wakil bangsa yang terjajah itu untuk mengulangi perintah dari Allah bagi kelepasan orang Israel. Raja menuntut diadakannya mukjizat sebagai bukti bahwa tugas mereka itu berasal dari Tuhan. Musa dan Harun telah diberi petunjuk bagaimana untuk bertindak seandainya tuntutan seperti itu diadakan, dan sekarang Harun mengambil tongkat itu dan melemparkannya di hadapan Firaun. Tongkat itu menjadi seekor ular. Raja kemudian memanggil "orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir," yang ada di istananya, yang kemudian "mereka pun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka. Masing-masing mereka melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular; tetapi tongkat Harun menelan tongkat-tongkat mereka." Kemudian raja, lebih nekad daripada sebelumnya, mengumumkan bahwa tukang‑tukang sihirnya itu mempunyai kuasa yang setaraf dengan Musa dan Harun; ia menuduh hamba‑hamba Allah itu sebagai penipu‑penipu, dan ia merasa diri aman dalam menolak tuntutan‑tuntutan mereka itu. Namun demikian, sementara ia menghinakan pekabaran mereka itu, ia telah dikendalikan oleh kuasa Ilahi agar tidak menyakiti mereka.

Tangan Allahlah, dan bukan pengaruh atau kuasa kemanusiaan yang dimiliki oleh Musa dan Harun, yang telah mengadakan mukjizat‑mukjizat yang mereka tunjukkan di hadapan Firaun. Tanda‑tanda dan keajaiban‑keajaiban itu dimaksudkan untuk meyakinkan Firaun bahwa "AKU ADA" yang agung itu telah mengirimkan Musa, dan bahwa adalah tugas raja untuk mengizinkan Israel pergi, agar mereka dapat melayani Allah yang hidup. Tukang‑tukang sihir itu juga menunjukkan tanda‑tanda serta keajaiban‑keajaiban; karena mereka melakukannya bukan hanya oleh keahlian mereka sendiri, tetapi oleh kuasa dewa mereka yaitu Setan yang membantu mereka dalam memalsukan pekerjaan Allah.

Ahli‑ahli sihir itu sebenarnya tidak mengubahkan tongkat‑tongkat itu menjadi ular; tetapi oleh sihir, dibantu oleh si penipu yang besar itu, mereka sanggup untuk menjadikan hal itu kelihatannya demikian. Adalah di luar kekuasaan Setan untuk mengubahkan tongkat menjadi ular yang hidup. Penghulu kejahatan itu, sekali pun memiliki segala hikmat dan kekuasaan seorang malaikat yang berdosa, tidaklah mempunyai kuasa untuk menciptakan atau memberi kehidupan; hal ini merupakan hak mutlak Allah sendiri. Tetapi segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaan Setan untuk melakukannya, ia telah lakukan; ia membuat yang palsu. Bagi penglihatan manusia, tongkat‑tongkat itu telah diubah menjadi ular.

Demikianlah apa yang telah dipercayai oleh Firaun dan orang‑orang seistananya. Dari apa yang kelihatan di luar tidak ada sesuatu yang membedakan tongkat‑tongkat itu dari ular‑ular yang telah dijadikan oleh Musa; Sekalipun Tuhan sudah berbuat sedemikian rupa sehingga ular yang benar telah menelan ular yang palsu itu, hal ini dianggap oleh Firaun bukan sebagai satu hasil kerja kuasa Allah, melainkan satu akibat dari sejenis sihir yang lebih unggul daripada sihir yang diperbuat oleh hamba‑hambanya itu.

Firaun ingin membenarkan kekerasan hatinya dalam menolak perintah Ilahi, dan oleh sebab itu ia berusaha mencari dalih untuk mengabaikan mukjizat‑mukjizat yang telah diadakan Allah melalui Musa. Setan telah memberikan kepadanya apa yang ia inginkan. Oleh pekerjaan yang telah diadakannya melalui ahli‑ahli sihir itu, ia telah melakukannya sedemikian rupa sehingga kelihatannya kepada orang‑orang Mesir bahwa Musa dan Harun hanyalah petenung‑petenung dan ahli‑ahli sihir, dan bahwa pekabaran yang mereka sampaikan itu tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang datang dari satu oknum yang lebih tinggi. Dengan demikian pemalsuan Setan itu telah mencapai tujuannya, yaitu menguatkan orang‑orang Mesir dalam agama mereka, dan menyebabkan Firaun mengeraskan hatinya terhadap bukti yang meyakinkan itu. Setan juga mengharapkan untuk dapat menggoyahkan iman Musa dan Harun, sehubungan dengan tugas mereka yang berasal dari Tuhan, agar alat‑alat yang digunakannya itu bisa berhasil. Ia tidak mau orang‑orang Israel itu dibebaskan dari perbudakan untuk melayani Allah yang hidup.

Tetapi penghulu kejahatan itu mempunyai satu maksud yang lebih besar lagi dalam menyatakan tanda‑tanda ajaibnya melalui ahli‑ahli sihir itu. Ia mengetahui dengan baik bahwa Musa, di dalam menghancurkan belenggu penjajahan yang mengikat Israel itu, melambangkan Kristus yang akan menghancurkan pemerintahan dosa terhadap umat manusia. Ia tahu bahwa bilamana Kristus datang, mukjizat‑mukjizat yang besar akan diadakan sebagai satu bukti kepada dunia ini, bahwa Allah telah mengutus Dia. Setan gemetar melihat kuasa‑Nya itu. Oleh memalsukan pekerjaan Allah melalui Musa itu, ia mengharapkan bukan hanya agar dapat menghalangi kelepasan Israel tetapi juga untuk memberikan satu pengaruh sepanjang abad‑abad mendatang untuk menghancurkan iman dalam mukjizat‑mukjizat Kristus. Setan senantiasa berusaha memalsukan pekerjaan Kristus, dan untuk menguatkan kekuasaan dan tuntutan‑tuntutannya. Ia menuntun manusia untuk menganggap mukjizat‑mukjizat Kristus itu hanyalah sebagai hasil daripada keahlian dan kuasa manusia. Dengan demikian dalam pikiran banyak orang ia telah merusakkan iman di dalam Kristus sebagai Anak Allah, dan memimpin mereka untuk menolak tawaran rahmat melalui rencana penebusan.


Keesokan harinya Musa dan Harun diperintahkan untuk pergi ke tepi sungai, ke tempat yang biasa dikunjungi raja. Kelimpahan air sungai Nil yang menjadi sumber makanan dan kekayaan Mesir, menyebabkan sungai itu disembah sebagai satu ilah dan setiap hari raja pergi ke sana untuk memujanya. Di tempat ini kembali kedua bersaudara itu mengulangi pekabaran itu kepadanya, dan kemudian mereka mengangkat tongkat itu ke atas dan memukulkannya ke atas air. Air sungai itu berubah menjadi darah, ikan‑ikan mati dan sungai itu mengeluarkan bau busuk. Air yang ada di rumah‑rumah, persediaan air yang ada di dalam bejana‑bejana semuanya berubah menjadi darah. Tetapi "para ahli Mesir membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera," dan "Firaun berpaling, lalu masuk ke istananya dan tidak mau memperhatikan hal itu juga." Tujuh hari lamanya kutuk ini berlangsung tetapi tidak mendatangkan pengaruh apa‑apa. Sekali lagi tongkat itu diulurkan ke atas air dan katak ke luar dari dalam sungai itu serta memenuhi seluruh negeri itu. Mereka memenuhi rumah‑rumah, memasuh kamar‑kamar tidur bahkan tempat membakar dan memasak kue. Katak dianggap suci oleh orang‑orang Mesir, dan mereka tidak mau membinasakannya; tetapi sekarang hewan kotor itu tidak dapat dibiarkan lagi. Mereka memenuhi istana Firaun, dan raja merasa tidak sabar dan meminta supaya katak-katak itu dimusnahkan saja. Ahli‑ahli sihir itu kelihatannya dapat menjadikan katak tetapi tidak dapat memusnahkannya. Melihat hal ini Firaun merasa seperti direndahkan. Ia memanggil Musa dan Harun dan berkata: "Berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya katak-katak itu dari padaku dan dari pada rakyatku; maka aku akan membiarkan bangsa itu pergi, supaya mereka mempersembahkan korban kepada Tuhan." Setelah mengingatkan kembali kepada raja atas kecongkakannya yang dulu itu, mereka meminta agar dia menetapkan satu waktu kapan mereka harus berdoa untuk mengusir kutuk itu. Ia menetapkan hari yang berikutnya, dan dengan diam‑diam mengharapkan bahwa di antara waktu itu katak-katak itu akan lenyap dengan sendirinya. Sehingga dengan demikian melepaskan dia dari perasaan yang tertekan karena harus menyerah kepada Allah orang Israel. Namun demikian, kutuk itu berlangsung terus sampai kepada waktu yang telah ditetapkan bilamana di seluruh negeri Mesir katak-katak itu mati, tetapi bangkai‑bangkainya yang membusuk itu tetap tinggal serta mengotori udara.

Tuhan sebenarnya dapat menjadikan katak-katak itu kembali kepada tanah dalam sekejap; tetapi Ia tidak melakukan hal ini karena jangan‑jangan setelah katak itu tidak ada lagi, maka raja dan orang banyak akan menyatakan bahwa itu adalah sebagai akibat daripada mantera‑mantera atau jampi‑jampi seperti pekerjaan ahli‑ahli sihir itu. Katak-katak itu mati dan kemudian bangkainya dikumpulkan bertumpuk‑tumpuk. Sekarang raja dan orang Mesir melihat bukti yang tidak dapat dibantah oleh filsafat‑filsafat mereka yang sia‑sia itu, bahwa pekerjaan ini bukan jadi oleh karena sihir, melainkan satu hukuman dari Allah yang di surga.

"Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa telah terasa kelegaan, ia tetap berkeras hati." Oleh perintah Allah Harun mengangkat tangannya, dan debu tanah itu berubah menjadi nyamuk di seluruh negeri Mesir. Firaun memanggil para ahli sihirnya serta memerintahkan agar mereka melakukan hal yang sama tetapi mereka tidak bisa. Dengan demikian terbuktilah bahwa pekerjaan Allah lebih unggul daripada perbuatan Setan. Ahli‑ahli sihir itu pun mengakui, "Inilah tangan Allah." Tetapi tetap hati raja itu tidak terubahkan.


Bujukan dan amaran tidak berhasil, dan satu hukuman yang lain pun diturunkan. Saat terjadinya telah diramalkan lebih dulu, agar hal itu jangan dikatakan terjadi karena kebetulan saja. Pikat memenuhi rumah‑rumah dan seluruh negeri Mesir, "sehingga rumah-rumah orang Mesir, bahkan tanah, di mana mereka berdiri akan penuh dengan pikat." Pikat ini besar‑besar dan berbisa, dan sengatnya amat menyakitkan baik kepada manusia dan juga kepada hewan‑hewan. Dan sebagaimana telah diramalkan hukuman ini tidak berlaku di tanah Gosyen.

Sekarang Firaun menawarkan izin bagi Israel untuk berbakti dan memberikan persembahan di Mesir tetapi menolak tawaran dengan syarat tersebut. "Tidak mungkin kami berbuat demikian," kata Musa, "sebab korban yang akan kami persembahkan kepada Tuhan, Allah kami, adalah kekejian bagi orang Mesir. Apabila kami mempersembahkan korban yang menjadi kekejian bagi orang Mesir itu, di depan mata mereka, tidakkah mereka akan melempari kami dengan batu?" Binatang‑binatang yang harus dikorbankan oleh orang‑orang Israel itu adalah binatang‑binatang yang termasuk kepada golongan yang dianggap suci oleh orang‑orang Mesir; dan begitu besar rasa hormat mereka terhadap binatang‑binatang itu sehingga bila ada seseorang membunuhnya, sekalipun dengan tidak sengaja, dianggap sebagai tindakan kejahatan yang harus dihukum mati. Adalah mustahil bagi orang‑orang Israel itu untuk mengadakan perbaktian di Mesir tanpa menyinggung perasaan majikan‑majikannya itu. Sekali lagi Musa meminta agar mereka diizinkan pergi sejauh tiga hari perjalanan ke dalam padang belantara. Raja menyetujui dan meminta agar hamba‑hamba Allah itu berdoa agar kutuk‑kutuk itu dapat diangkat dari dalam negerinya. Mereka berjanji akan melaksanakannya tetapi mengamarkan kepadanya agar jangan mendustai mereka. Kutuk itu diangkat tetapi hati raja telah menjadi keras oleh pemberontakan yang terus‑menerus, dan ia tetap menolak untuk menyerah.

Satu kutuk yang lebih hebat diturunkan bala sampar ke atas ternak orang Mesir yang ada di padang. Baik binatang‑binatang yang dianggap suci dan juga ternak biasa--sapi, lembu, domba, kuda, unta dan keledai--semuanya dibinasakan. Dengan jelas sudah dinyatakan bahwa binatang‑binatang kepunyaan orang Israel terpelihara dari bala sampar tersebut; dan Firaun dengan mengutus pesuruh‑pesuruhnya untuk mendatangi rumah‑rumah orang Israel, dapat menyadari kebenaran pernyataan Musa itu. "Dari ternak orang Israel tidak ada seekor pun yang mati." Tetapi raja tetap berkeras hati.
Kemudian Musa diperintahkan untuk mengambil abu dari dapur peleburan dan "harus menghamburkannya ke udara di depan mata Firaun." Tindakan ini mempunyai arti yang dalam. Empat ratus tahun sebelumnya, Allah telah menunjukkan kepada Abraham tentang penjajahan yang kemudian akan terjadi terhadap diri umat‑Nya, dengan memakai lambang satu dapur peleburan yang berasap dan sebuah lampu yang menyala. Ia telah menyatakan bahwa Ia akan menjatuhkan hukuman ke atas penjajah‑penjajah mereka itu, dan akan membebaskan orang‑orang yang tertawan dengan membawa harta yang banyak. Di negeri Mesir, Israel sudah lama menderita di dalam dapur api penganiayaan. Tindakan Musa ini merupakan satu jaminan kepada mereka bahwa Allah mengingat perjanjian‑Nya, dan bahwa saat kelepasan mereka telah tiba.


Apabila abu itu dihamburkan ke atas, benda‑benda kecil itu memenuhi segenap negeri Mesir dan apapun yang terkena olehnya, menderita penyakit barah "yang memecah sebagai gelembung, pada manusia dan binatang di seluruh tanah Mesir." Imam‑imam dan ahli‑ahli sihir hingga saat itu telah memberi dorongan kepada Firaun supaya tetap berkeras, tetapi sekarang satu hukuman telah diturunkan, yang kena kepada diri mereka. Terpukul oleh bala yang menyakitkan itu, kuasa yang mereka banggakan itu hanya membuat mereka menjadi bahan ejekan, dan mereka tidak lagi dapat melawan Allah orang Israel. Segenap bangsa itu sekarang menyadari betapa bodohnya untuk berharap kepada ahli‑ahli sihir itu, dimana ternyata sekarang bahwa mereka tidak sanggup melindungi sekalipun diri mereka sendiri.

"Tetapi Tuhan mengeraskan hati Firaun. Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: 'Bangunlah pagi--pagi dan berdirilah menantikan Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah Firman Tuhan, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku. Sebab sekali ini Aku akan melepaskan segala tulah-Ku terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi....' Inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku." Ini bukanlah berarti bahwa Allah telah menjadikan Firaun untuk maksud ini, melainkan pimpinan‑Nya telah mengendalikan peristiwa‑peristiwa untuk menempatkan dia pada takhtanya pada saat yang telah ditetapkan untuk kelepasan Israel.

Sekalipun penguasa kejam yang congkak ini, oleh kejahatannya telah menolak rahmat Allah, tetapi ia dibiarkan hidup agar melalui kekerasan hatinya itu Allah dapat menyatakan perbuatan‑perbuatan ajaib‑Nya di negeri Mesir. Berlangsungnya peristiwa‑peristiwa serta kejadian‑kejadian ini adalah oleh sebab pimpinan Allah. Ia dapat menempatkan di atas takhta itu seorang raja yang lebih murah hati, yang tidak akan berani melawan kenyataan yang hebat dari kuasa Ilahi. Tetapi di dalam hal ini maksud Allah tidak akan dapat dilaksanakan. Umat‑Nya diizinkan untuk mengalami penindasan yang kejam dari orang Mesir agar mereka jangan tertipu oleh pengaruh‑pengaruh penyembahan berhala yang keji itu. Di dalam perlakuan‑Nya terhadap Firaun, Tuhan menyatakan kebencian‑Nya terhadap penyembahan berhala, dan juga sikap‑Nya untuk menghukum orang‑orang yang menindas serta menjajah.

Tentang Firaun, Tuhan telah menyatakan, "Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga tiada diberinya bangsa itu pergi." Dalam hal ini bukanlah berarti bahwa ada kuasa gaib yang dipakai untuk mengeraskan hati raja. Allah telah memberikan kepada Firaun bukti yang paling nyata tentang kuasa Ilahi, tetapi raja itu dengan hati yang keras menolak untuk memberikan perhatian terhadap terang itu. Setiap pernyataan kuasa Ilahi yang ditolak olehnya menjadikan dirinya lebih nekad di dalam pemberontakannya. Benih‑benih pemberontakan yang ditaburkannya pada waktu ia menolak mukjizat yang pertama kini akibat‑akibatnya harus dituai. Apabila ia terus‑menerus memberanikan diri dalam tindakan‑tindakannya yang semakin membangkang, hatinya menjadi semakin keras sampai kepada saat dimana ia harus memandang kepada wajah anak sulungnya yang mati.


Allah berbicara kepada manusia melalui hamba‑hamba‑Nya, memberikan amaran‑amaran dan menempelak dosa‑dosa. Ia memberikan kepada setiap orang satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan‑kesalahannya sebelum mereka menjadi tidak terubahkan dalam tabiat; tetapi jikalau seseorang menolak untuk diperbaiki, kuasa Ilahi tidak akan campur tangan untuk menghalangi kecenderungan daripada tindakannya. Ia akan mendapati bahwa lebih mudah baginya untuk mengulangi tindakan yang sama. Ia sedang mengeraskan hatinya terhadap pengaruh Roh Suci. Penolakan yang lebih jauh terhadap terang akan menempatkan dirinya dalam satu keadaan di mana satu pengaruh yang jauh lebih kuat pun tidak akan berhasil untuk memberikan kesan yang dalam.

Ia yang satu kali menyerah kepada pencobaan akan lebih mudah lagi menyerah untuk kedua kalinya. Setiap ulangan dalam perbuatan dosa akan mengurangi kekuatannya untuk mengadakan perlawanan, membutakan matanya, dan melenyapkan keyakinan. Setiap benih pemanjaan diri yang ditaburkan akan menghasilkan buah‑buahnya. Allah tidak akan mengadakan mukjizat untuk mencegah penuaiannya. "Barang yang ditabur orang, itu juga akan dituainya." Ia yang menyatakan kekerasan hatinya, sikap acuh tak acuh terhadap kebenaran Ilahi sedang menuai hasil daripada apa yang sudah ditaburkannya sendiri. Dengan keadaan yang seperti itulah, di mana banyak orang bersikap masa bodoh terhadap kebenaran‑kebenaran yang tadinya dapat menjamah jiwa mereka. Mereka telah menabur kelalaian dan penolakan terhadap kebenaran, dan demikianlah hasil yang mereka tuai.

Mereka yang mencoba mendiamkan angan‑angan hati yang bersalah dengan anggapan bahwa mereka dapat mengubah hidup mereka yang jahat kapan saja mereka mau, bahwa mereka dapat mempermainkan panggilan rahmat dan berharap bahwa mereka masih dapat diyakinkan, adalah sedang berada dalam sikap yang membahayakan dirinya. Mereka berpikir bahwa setelah menyatakan diri berpihak dengan sepenuhnya kepada si pemberontak yang besar itu, maka pada satu saat yang benar‑benar sulit, bilamana bahaya mengancam dirinya, mereka dapat menukar pemimpin mereka. Tetapi hal ini tidak dapat dilakukan semudah itu. Pengalaman, pendidikan, kebiasaan dari satu hidup yang penuh dosa, telah membentuk tabiatnya begitu rupa sehingga mereka tidak dapat lagi menerima peta Yesus. Berbeda halnya seandainya terang kebenaran itu belum pernah dinyatakan kepada jalan hidup mereka. Rahmat akan campur tangan dan memberikan kepada mereka satu kesempatan untuk menerima panggilannya; tetapi lama setelah terang itu ditolak dan dicemoohkan, maka akhirnya terang itu akan diangkat daripadanya.

Ancaman yang berikutnya dinyatakan kepada Firaun adalah hujan es dengan disertai amaran, "Oleh sebab itu, ternakmu dan segala yang kaupunyai di padang, suruhlah dibawa ke tempat yang aman; semua orang dan segala hewan, yang ada di padang dan tidak pulang berkumpul ke rumah, akan ditimpa oleh hujan es itu, sehingga mati." Hujan es bukanlah sesuatu yang sering terjadi di Mesir, dan hal seperti ini belum pernah dilihat oleh orang Mesir. Ini tersebar dengan cepat, dan semua orang yang percaya akan Firman Tuhan telah mengumpulkan ternak mereka sementara mereka yang mencemoohkan amaran itu membiarkan ternaknya di padang. Dengan demikian di tengah‑tengah hukuman, rahmat Allah telah dinyatakan, orang banyak diuji, dan nyatalah sekarang berapa banyak yang telah dituntun untuk takut kepada Allah oleh penyataan kuasa‑Nya.


Hujan es itupun turun seperti yang telah diramalkan--guntur dan rambun bercampur dengan api, "Dan turunlah hujan es, beserta api yang berkilat-kilat di tengah-tengah hujan es itu, terlalu dahsyat, seperti yang belum pernah terjadi di seluruh negeri orang Mesir, sejak mereka menjadi suatu bangsa. Hujan es itu menimpa binasa segala sesuatu yang ada di padang, di seluruh tanah Mesir, dari manusia sampai binatang; juga segala tumbuh-tumbuhan di padang ditimpa binasa oleh hujan itu dan segala pohon di padang ditumbangkannya." Puing‑puing dan kehancuran menandai jalan yang dilalui oleh malaikat‑malaikat yang membawa kebinasaan itu. Tanah Gosyen saja yang terhindar dari kutuk ini. Dengan demikian ditunjukkanlah kepada orang Mesir bahwa bumi ini berada di bawah pengendalian Allah yang hidup, bahwa anasir‑anasir di dalam alam ini mentaati suara‑Nya dan satu‑satunya jalan untuk beroleh keselamatan adalah dengan menurut Dia.

Segenap negeri Mesir gemetar di hadapan curahan pehukuman Ilahi itu. Dengan segera Firaun memanggil kedua bersaudara itu dan berseru, "Aku telah berdosa sekali ini, Tuhan itu yang benar, tetapi aku dan rakyatkulah yang bersalah. Berdoalah kepada Tuhan; guruh yang sangat dahsyat dan hujan es itu sudah cukup. Maka aku akan membiarkan kamu pergi, tidak usah kamu tinggal lebih lama lagi." Dan jawabnya adalah, "Sekeluar aku dari kota ini, aku akan mengembangkan tanganku kepada Tuhan; guruh akan berhenti dan hujan es tidak akan turun lagi, supaya engkau mengetahui, bahwa bumi adalah milik Tuhan. Tetapi tentang engkau dan para pegawaimu, aku tahu, bahwa kamu belum takut kepada Tuhan Allah."

Musa mengetahui bahwa pertarungan itu belum berakhir. Pengakuan serta janji Firaun bukanlah merupakan akibat daripada adanya perubahan yang cepat di dalam hati dan pikirannya, melainkan tercetus dari mulutnya oleh karena rasa gentar dan penderitaan hebat yang dialaminya. Namun demikian, Musa berjanji akan mengabulkan permintaannya; karena ia tidak mau memberikan kepadanya kesempatan untuk lebih mengeraskan hatinya. Nabi itu berjalan terus, tanpa mempedulikan amukan dan topan itu, dan Firaun beserta dengan segenap rakyatnya menyaksikan akan adanya kuasa Allah untuk melindungi pesuruh‑Nya itu. Apabila Musa tiba di luar kota itu, "dikembangkannyalah tangannya kepada Tuhan, maka berhentilah guruh dan hujan es dan hujan tidak tercurah lagi ke bumi." Tetapi segera setelah rasa takutnya itu hilang dari dalam hatinya saat itu juga raja kembali kepada sikapnya yang jahat itu.

Kemudian Tuhan berkata kepada Musa, "Pergilah menghadap Firaun, sebab Aku telah membuat hatinya dan hati para pegawainya berkeras, supaya Aku mengadakan tanda-tanda mukjizat yang Kubuat ini di antara mereka, dan supaya engkau dapat menceritakan kepada anak cucumu, bagaimana Aku mempermain-mainkan orang Mesir dan tanda-tanda mukjizat mana yang telah Kulakukan di antara mereka, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah Tuhan." Tuhan menunjukkan kuasa‑Nya, untuk meneguhkan iman orang Israel dalam Dia sebagai satu‑satunya Allah yang benar dan hidup. Ia mau memberikan bukti yang nyata tentang perbedaan yang ditetapkan Allah antara mereka dengan orang‑orang Mesir, dan akan menjadikan segala bangsa mengetahui bahwa orang‑orang Israel, yang telah mereka nista dan jajah, berada di bawah lindungan Allah yang ada di surga.

Musa mengamarkan raja bahwa jikalau ia tetap berkeras, satu kutuk berupa belalang akan diturunkan, yang akan menutupi permukaan bumi dan membinasakan setiap tanaman yang masih tinggal; mereka akan memenuhi rumah‑rumah, bahkan istana raja sendiri; dan bala seperti itu, katanya, "belum pernah dilihat oleh bapamu dan nenek moyangmu, sejak mereka lahir ke bumi sampai hari ini."

Penasihat‑penasihat Firaun berdiri ternganga. Bangsa itu telah menderita kerugian besar dengan musnahnya ternak mereka. Banyak orang telah binasa sebagai akibat hujan rambun itu. Hutan‑hutan rusak binasa, dan hasil ladang mereka hancur. Mereka dengan cepat telah kehilangan segala sesuatu yang telah diperoleh sebagai hasil kerja daripada orang‑orang Israel. Segenap negeri terancam bahaya kelaparan. Penghulu‑penghulu dan pegawai‑pegawai istana lainnya dengan marah mendesak serta menuntut kepada raja, "Berapa lama lagi orang ini akan menjadi jerat kepada kita? Biarkanlah orang-orang itu pergi supaya mereka beribadah kepada Tuhan, Allah mereka. Belumkah tuanku insaf, bahwa Mesir pasti akan binasa?"
Kembali Musa dan Harun dipanggil untuk menghadap raja, dan raja berkata kepada mereka, "Pergilah, beribadahlah kepada Tuhan, Allahmu. Siapa-siapa sebenarnya yang akan pergi itu?"

Jawabnya adalah, "Kami hendak pergi dengan orang-orang yang muda dan yang tua; dengan anak-anak lelaki kami dan perempuan, dengan kambing domba kami dan lembu sapi kami, sebab kami harus mengadakan perayaan untuk Tuhan."

Raja dipenuhi dengan rasa marah. Ia berseru, "'Tuhan boleh menyertai kamu, jika aku membiarkan kamu pergi dengan anak-anakmu! Lihat, jahatlah maksudmu! Bukan demikian, kamu boleh pergi, tetapi hanya laki-laki, dan beribadahlah kepada Tuhan, sebab itulah yang kamu kehendaki.' Lalu mereka diusir dari depan Firaun." Firaun telah berusaha untuk membinasakan orang Israel dengan cara kerja keras tetapi sekarang ini ia berpura‑pura mempunyai perhatian yang dalam terhadap kesejahteraan mereka, dan juga terhadap pemeliharaan anak‑anak mereka yang masih kecil. Tujuan yang sebenarnya adalah untuk menahan semua orang perempuan dan anak‑anak sebagai jaminan akan kembalinya kaum laki‑laki.

Sekarang Musa mengangkat tongkatnya ke atas negeri itu, dan angin timur pun bertiuplah dan mendatangkan belalang. "Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian." Mereka memenuhi angkasa sehingga negeri itu menjadi gelap dan memusnahkan segala tanaman yang masih tinggal. Dengan segera Firaun memanggil nabi dan berkata, "Aku telah berbuat dosa terhadap Tuhan, Allahmu, dan terhadap kamu. Oleh sebab itu, ampunilah kiranya dosaku untuk sekali ini saja dan berdoalah kepada Tuhan, Allahmu itu, supaya bahaya maut ini dijauhkan-Nya dari padaku." Mereka perbuat hal itu, dan angin barat yang bertiup dengan kuatnya menghembus belalang‑belalang itu ke Laut Merah. Tetapi raja tetap berkeras dalam tekadnya itu.

Orang Mesir sudah hampir putus asa. Kutuk‑kutuk yang telah menimpa diri mereka itu kelihatannya melebihi daya tahan mereka, dan mereka dipenuhi oleh rasa takut akan masa depan. Bangsa itu menyembah Firaun sebagai seorang wakil dari dewa mereka. tetapi sekarang banyak dari antara mereka itu merasa yakin bahwa ia sedang melawan Seorang yang menjadikan segala kuasa alam ini sebagai pelayan‑pelayan kehendak‑Nya. Budak‑budak Israel itu yang terlindung dengan secara ajaib, lebih merasa yakin akan kelepasan mereka. Mandor mereka tidak lagi berani menindas mereka seperti waktu‑waktu sebelumnya. Di seluruh negeri Mesir terdapat perasaan takut yang tersembunyi bahwa bangsa yang terjajah itu akan bangkit dan mengadakan balas dendam. Di mana‑mana orang banyak dengan perasaan cemas bertanya‑tanya, Apakah yang akan terjadi kemudian?

Tiba‑tiba kegelapan menyelubungi negeri itu, begitu pekat sehingga "orang dapat meraba gelap itu." Orang banyak bukan saja tidak mempunyai cahaya terang tetapi udara menjadi begitu sesak sehingga menyebabkan mereka sulit bernapas. "Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya." Matahari dan bulan adalah benda‑benda yang disembah oleh orang Mesir; di dalam kegelapan yang ganjil ini orang banyak bersama‑sama dengan dewa mereka telah ditimpa oleh kuasa yang telah membela nasib budak‑budak itu. Tetapi bagaimana pun menakutkannya kegelapan itu, pehukuman itu merupakan satu bukti tentang belas kasihan Allah serta rasa enggan‑Nya untuk membinasakan mereka. Ia mau memberikan kepada mereka suatu kesempatan untuk berpikir‑pikir dan bertobat sebelum menjatuhkan ke atas diri mereka kutuk terakhir yang paling dahsyat.

Akhirnya rasa takut memaksa Firaun meminta untuk dikasihani. Pada akhir hari yang ketiga daripada kegelapan itu, ia memanggil Musa untuk menghadap serta menyetujui kepergian orang Israel, asalkan kawanan kambing domba mereka dibiarkan tinggal di Mesir. "Seekor pun tidak akan kami tinggalkan," kata orang Israel yang teguh pendiriannya itu. "Kami tidak tahu, dengan apa kami harus beribadah kepada Tuhan, sebelum kami sampai di sana." Kemarahan raja meledak tak terkendalikan lagi. Ia berteriak, "Pergilah dari padaku; awaslah engkau, jangan lihat mukaku lagi, sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati." Jawab Musa, "Tepat seperti ucapanmu itu! Aku takkan melihat mukamu lagi!"

"Musa adalah seorang yang sangat terpandang di tanah Mesir, di mata pegawai-pegawai Firaun dan di mata rakyat." Musa disegani oleh orang‑orang Mesir. Raja tidak berani mengusik dia karena orang banyak menganggap dia sebagai satu‑satunya orang yang memiliki kuasa untuk menghentikan kutuk itu. Mereka menghendaki agar orang Israel diizinkan meninggalkan Mesir. Raja sendiri dan imam‑imam itu yang menentang tuntutan Musa yang terakhir.




Posting Komentar