Senin, 18 November 2013

MAZMUR 147


147:1Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.
147:2TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai;
147:3Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;
147:4Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya.
147:5Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.
147:6TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.
147:7Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!
147:8Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput.
147:9Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil.
147:10Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki;
147:11TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.
147:12Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!
147:13Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu.
147:14Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.
147:15Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari.
147:16Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu.
147:17Ia melemparkan air batu seperti pecahan-pecahan. Siapakah yang tahan berdiri menghadapi dingin-Nya?
147:18Ia menyampaikan firman-Nya, lalu mencairkan semuanya, Ia meniupkan angin-Nya, maka air mengalir.
147:19Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel.
147:20Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!



26

Dari Laut  Merah ke Sinai
--------------
Pasal ini dialaskan atas Keluaran 15:22‑27; 16‑18.

Dari Laut Merah bangsa Israel melanjutkan perjalanan mereka di bawah naungan tiang awan. Pemandangan di sekeliling mereka sangat membosankan tandus, bukit‑bukit yang kelihatannya sunyi senyap, padang yang gersang, dan laut membentang luas, pantainya dipenuhi oleh mayat musuh mereka; tetapi mereka dipenuhi oleh kesukaan atas kesadaran bahwa sekarang mereka adalah bangsa yang merdeka, dan setiap pemikiran tentang rasa tidak puas dilenyapkan.

Tetapi tiga hari lamanya apabila mereka berjalan, mereka tidak menemukan air. Persediaan yang mereka bawa telah habis. Tidak ada sesuatu yang dapat melenyapkan rasa haus mereka apabila mereka dengan letih lesu berjalan pelahan‑lahan di atas padang yang ditimpa teriknya sinar matahari. Musa, yang mengetahui seluk beluk daerah ini, mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain, bahwa di Mara, pos yang terdekat tempat terdapatnya mata air, airnya tidak baik untuk digunakan. Dengan rasa cemas yang dalam ia mengamat‑amati awan yang memimpin mereka itu. Dengan hati yang susah ia mendengar teriakan yang penuh kegembiraan, "Air! Air!", menggema di antara orang banyak itu. Laki‑laki dan perempuan, anak‑anak dengan gembira dan dengan cepat berkumpul di sekeliling mata air itu, tetapi saat itu juga terdengar teriakan kekecewaan dari antara orang banyak itu--airnya terasa pahit.

Dengan rasa marah dan kecewa mereka bersungut kepada Musa karena telah memimpin mereka ke jalan itu, mereka tidak ingat bahwa kehadiran Ilahi di dalam awan misterius itu telah memimpin dia juga sebagaimana memimpin mereka. Dengan rasa susah oleh karena kemarahan mereka itu Musa telah melakukan sesuatu yang mereka lupa lakukan, ia berseru dengan sungguh‑sungguh kepada Allah meminta pertolongan. "Tuhan menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis." Di tempat ini satu janji telah diberikan kepada Israel melalui Musa, "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau!"


Dari Mara mereka berangkat menuju ke Elim di tempat mana mereka telah menemukan "dua belas mata air dan tujuh puluh pohon kurma." Di tempat ini mereka tinggal beberapa hari sebelum memasuki padang belantara Sin. Setelah satu bulan meninggalkan Mesir mereka mendirikan kemah‑kemah mereka di padang belantara. Persediaan makanan mereka kini sudah mulai menipis. Rumput sukar sekali dicari di padang belantara dan kawanan domba mereka mulai berkurang. Bagaimana makanan bisa disediakan bagi orang yang sangat banyak itu? Kebimbangan memenuhi hati mereka, dan kembali mereka pun bersungut‑sungut. Sekali pun pemimpin‑pemimpin dan tua‑tua daripada orang banyak itu ikut serta dalam persungutan terhadap pemimpin yang telah diangkat oleh Allah itu. "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami ke luar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."
Sebenarnya mereka belum menderita karena kelaparan; kebutuhan mereka saat itu masih dipenuhi tetapi mereka takut akan hari depan. Mereka tidak dapat mengerti bagaimana orang banyak ini bisa hidup di dalam perjalanan mereka melalui padang belantara dan di dalam angan‑angan mereka membayangkan anak‑anak mereka kelaparan. Tuhan membiarkan kesulitan‑kesulitan mengelilingi mereka, dan persediaan makanan mereka itu dibiarkan berkurang agar hati mereka berpaling kepada Dia yang sampai kepada saat itu telah menjadi Pembebas mereka. Jikalau di dalam kekurangan mereka itu telah berseru kepada Dia, maka Ia masih mau memberikan kepada mereka tanda‑tanda yang nyata akan kasih serta penjagaan‑Nya. Ia telah berjanji bahwa jikalau mereka mau menurut hukum‑hukum‑Nya, maka tidak akan ada penyakit akan datang kepada mereka, dan adalah sikap tidak mau percaya yang penuh dosa itu yang menyebabkan mereka membayang‑bayangkan bahwa mereka atau anak‑anak mereka akan mati kelaparan.

Allah telah berjanji akan menjadi Allah mereka, membawa mereka kepada diri‑Nya sebagai satu umat, dan memimpin mereka kepada satu negeri yang luas dan subur, tetapi mereka mudah menjadi putus asa setiap kali rintangan menghambat di dalam perjalanan mereka ke negeri itu. Di dalam satu keadaan yang ajaib Ia telah membawa mereka keluar dari perbudakan mereka di Mesir, agar Ia dapat meninggikan dan membuat mereka agung serta terpuji di dalam dunia ini. Tetapi perlu bagi mereka untuk menemui kesulitan‑kesulitan dan menahan penderitaan. Allah sedang membawa mereka dari satu keadaan yang sudah merosot dan melayakkan mereka untuk menduduki satu tempat yang terhormat di antara bangsa‑bangsa dan menerima kepercayaan yang penting dan suci. Kalau saja mereka mempunyai iman di dalam Dia dengan mengingat segala sesuatu yang telah diperbuat‑Nya bagi mereka, maka dengan sukacita mereka akan menanggung segala kesulitan, halangan bahkan penderitaan; tetapi mereka tidak mau berharap kepada Tuhan lebih jauh daripada apa yang mereka dapat saksikan sebagai bukti yang tetap dari kuasa‑Nya. Mereka telah melupakan pengalaman perbudakan yang getir di Mesir. Mereka telah melupakan kebaikan serta kuasa Allah yang telah dinyatakan bagi mereka di dalam kelepasan mereka dari perbudakan. Mereka telah melupakan bagaimana anak‑anak mereka telah dipelihara pada waktu malaikat pembinasa itu membunuh semua anak sulung di negeri Mesir. Mereka telah melupakan pertunjukan kuasa Ilahi yang hebat itu di Laut Merah. Mereka telah melupakan bahwa sementara mereka menyeberangi dengan selamat jalan yang telah terbuka bagi mereka itu, bala tentara musuh yang berusaha untuk mengejar mereka telah dihancurkan oleh air laut itu. Mereka hanya melihat dan merasakan ujian‑ujian serta kesulitan‑kesulitan mereka sekarang ini; dan gantinya berkata, "Allah telah berbuat perkara‑perkara yang besar bagi kita; dimana dulunya kita adalah budak‑budak, sekarang Ia menjadikan kita satu bangsa yang besar," mereka telah membicarakan tentang kesulitan‑kesulitan di sepanjang jalan, dan bertanya‑tanya kapan masa pengembaraan mereka itu akan berakhir.


Sejarah kehidupan bangsa Israel di padang belantara itu telah dicatat untuk menjadi manfaat bagi Israel milik Allah sampai kesudahan zaman. Catatan tentang perlakuan Allah terhadap pengembara‑pengembara di padang pasir itu di dalam segala perjalanan hilir‑mudik mereka, di dalam menghadapi pengalaman kelaparan, dahaga dan kelelahan dan di dalam pernyataan yang nyata tentang kuasa‑Nya untuk meringankan beban mereka, dipenuhi oleh amaran dan petunjuk bagi umat‑Nya di segala zaman. Pengalaman orang Israel yang beraneka ragam itu adalah satu sekolah persiapan untuk memasuki rumah yang telah dijanjikan bagi mereka di Kanaan. Allah menghendaki agar umat‑Nya pada zaman sekarang ini dengan rendah hati dan sikap yang mau diajar merenung‑renungkan kembali akan segala ujian yang telah dilalui oleh Israel kuno itu agar mereka memperoleh pelajaran untuk menyediakan diri bagi Kanaan semawi itu.
Banyak orang yang menoleh kembali kepada bangsa Israel dan merasa heran terhadap sikap mereka yang tidak mau percaya dan bersungut‑sungut, sambil merasa bahwa mereka sendiri tidak akan memanjakan sikap tidak tahu berterima kasih seperti itu; tetapi bilamana iman mereka ini diuji, sekali pun oleh cobaan yang kecil saja, mereka tidak menunjukkan iman atau kesabaran sebagaimana halnya orang Israel dahulu. Bilamana dituntun kepada jalan yang sempit, mereka bersungut‑sungut terhadap proses yang telah dipilih Allah untuk menyucikan mereka. Walau pun keperluan mereka yang sekarang ini dipenuhi, banyak orang yang merasa enggan berharap kepada Allah akan hari depannya, dan mereka terus‑menerus merasa cemas jangan‑jangan kemelaratan akan menimpa mereka, dan anak‑anak mereka akan dibiarkan menderita. Beberapa orang selalu mengharap‑harapkan hal‑hal yang tidak baik atau membesar‑besarkan kesulitan yang ada sehingga mata mereka dibutakan terhadap berkat‑berkat yang limpah untuk mana seharusnya mereka bersyukur. Halangan‑halangan yang mereka hadapi, gantinya menuntun mereka untuk mencari pertolongan dari Allah, sebagai satu‑satunya Sumber kekuatan, telah memisahkan mereka dari Dia, oleh sebab mereka telah membangkitkan di dalam diri mereka kegelisahan dan rasa tidak puas.


Apakah kita juga bersikap tidak mau percaya seperti itu? Mengapa kita harus bersikap tidak tahu berterima kasih dan tidak mau berharap? Yesus adalah sahabat kita; segenap surga menaruh perhatian akan kesejahteraan kita; dan kecemasan serta ketakutan yang ada dalam diri kita mendukakan Roh Kudus Allah. Janganlah kita memanjakan kecemasan yang hanya akan mengganggu serta merusak diri kita, tetapi tidak menolong kita untuk menahan ujian‑ujian itu. Jangan berikan tempat di dalam diri kita kepada sikap tidak berharap kepada Allah, sikap ini akan menuntun kita untuk menjadikan persiapan menghadapi kebutuhan masa depan sebagai sesuatu yang terutama di dalam hidup kita, seolah‑olah kebahagiaan kita itu terdiri dari perkara‑perkara duniawi. Bukanlah kehendak Allah agar umat‑Nya itu dibebani oleh urusan‑urusan hidup. Tetapi Tuhan tidak pernah mengatakan kepada kita bahwa tidak akan ada bahaya di jalan kita. Ia tidak bermaksud untuk mengambil umat‑Nya keluar dari dunia yang jahat dan berdosa ini, tetapi Ia menunjukkan kepada kita satu perlindungan yang tidak pernah gagal. Ia mengundang orang‑orang yang dalam kesusahan dan menanggung berat, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Matius 11:28. Lepaskanlah beban kecemasan serta urusan‑urusan duniawi yang telah engkau sendiri kenakan pada lehermu, dan "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." (Ayat 29). Kita akan mendapat sentosa dan damai dalam Allah, bilamana kita menyerahkan beban kita kepada‑Nya; karena Ia mau memeliharakan kita. (1 Petrus 5:7).

Kata rasul Paulus, "Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup." Ibrani 3:12. Dengan menyadari segala sesuatu yang telah diperbuat Allah bagi kita, iman kita harus menjadi kuat, giat dan bisa bertahan. Gantinya bersungut‑sungut, bahasa daripada jiwa kita seharusnya, "Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya." Mazmur 103:1, 2.

Allah tidak melupakan kebutuhan‑kebutuhan orang Israel. Ia berkata kepada pemimpin mereka, "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan ke luar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari." Musa memberikan jaminan kepada perhimpunan orang banyak itu bahwa keperluan mereka akan dipenuhi: :Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti." Dan ia menambahkan, "apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada Tuhan." Lebih jauh ia memerintahkan kepada Harun untuk berkata kepada mereka, "Marilah dekat ke hadapan Tuhan, sebab Ia telah mendengar sungut-sungutmu." Sementara Harun sedang berkata‑kata, "mereka mengarahkan mata ke padang belantara itu, bahwa sesungguhnya kelihatanlah kemuliaan Tuhan di dalam awan." Satu keindahan seperti yang belum pernah mereka saksikan telah melambangkan Kehadiran Ilahi. Melalui pernyataan‑pernyataan yang dinyatakan ke indera mereka, mereka memperoleh pengetahuan akan Allah. Mereka harus diajar bahwa Yang Mahatinggi, dan bukan semata‑mata Musa, adalah pemimpin mereka, agar mereka merasa takut akan nama‑Nya dan menurut kepada suara‑Nya.


Pada waktu senja hari kemah‑kemah mereka dikelilingi oleh burung puyuh dalam jumlah yang sangat besar yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh perhimpunan itu. Pada pagi harinya di atas permukaan tanah terdapat, "sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi," Mereka menyebutnya "manna". Musa berkata, "Inilah roti yang diberikan Tuhan kepadamu menjadi makananmu." Orang banyak mengumpulkan manna itu dan mendapati bahwa ternyata cukup persediaan bagi mereka semua. Mereka "menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar." Bilangan 11:8. "Rasanya seperti rasa panganan yang digoreng." Mereka diperintahkan untuk mengumpulkan tiap‑tiap hari satu gomer satu orang; dan mereka tidak boleh menyimpannya sampai hari esok. Beberapa dari antara mereka mencoba menyimpannya sampai keesokan paginya tetapi mereka dapati itu tidak baik untuk dimakan. Persediaan untuk satu hari harus dikumpulkan waktu pagi; karena semua yang tinggal di tanah akan meleleh oleh sinar matahari.

Di dalam mengumpulkan manna itu didapati bahwa orang yang telah mengumpulkan lebih banyak dan yang lain lebih sedikit daripada jumlah yang telah ditentukan; tetapi "apabila diukurnya dengan gomer, maka yang telah memungut banyak itu tidak lebih, dan yang memungut sedikit itu tiada kurang." Keterangan dari ayat ini dan juga pelajaran yang praktis daripadanya, diberikan oleh rasul Paulus di dalam suratnya yang kedua kepada orang‑orang di Korintus. Ia berkata, "Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: 'Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan." 2 Korintus 8:13‑15.

Pada hari yang keenam orang banyak mengumpulkan dua gomer untuk masing‑masing mereka. Pemimpin‑pemimpin mereka dengan segera pergi mendapatkan Musa dan mengadukan kepada Musa apa yang telah dilakukan. Jawabnya adalah, "Inilah yang dimaksudkan Tuhan: Besok adalah hari perhentian penuh, Sabat yang kudus bagi Tuhan; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi." Mereka telah melakukan demikian, dan mereka dapati bahwa manna itu tidak berubah. "Selanjutnya kata Musa: 'Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah Sabat untuk Tuhan, pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang. Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang Ketujuh ada Sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu."

Tuhan menuntut agar hari‑Nya yang suci itu dipelihara sama kudusnya seperti pada zaman Israel dahulu. Perintah yang diberikan kepada orang Israel itu harus dianggap oleh semua orang Kristen sebagai satu perintah dari Allah kepada mereka. Hari sebelum Sabat harus menjadi sebagai satu hari persediaan, agar segala sesuatu dapat dipersiapkan untuk jam‑jam yang suci itu. Bagaimanapun juga janganlah urusan kita dibiarkan mengambil waktu yang suci itu. Allah telah memerintahkan agar orang sakit dan yang menderita dirawat; pekerjaan yang dituntut untuk meringankan beban mereka adalah satu pekerjaan rahmat, dan bukan merupakan pelanggaran terhadap Sabat; tetapi segala pekerjaan yang tidak perlu harus dihindarkan. Banyak orang dengan lalainya telah menunda sampai kepada permulaan hari Sabat perkara‑perkara kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan pada hari persediaan. Hal seperti ini janganlah terjadi. Pekerjaan yang dibiarkan sampai kepada permulaan Sabat harus tetap dibiarkan sampai Sabat berlalu. Cara seperti ini akan dapat menolong ingatan daripada yang lalai itu, dan menjadikan mereka lebih berhati‑hati untuk melaksanakan tugas mereka dalam enam hari bekerja itu.
Setiap minggu selama dalam perjalanan mereka di padang belantara, orang Israel menyaksikan satu mukjizat rangkap tiga, yang dimaksudkan untuk mengesankan pikiran mereka akan sucinya Sabat itu; manna dalam jumlah dua kali lipat diturunkan pada hari yang keenam, tidak ada manna pada hari yang Ketujuh, dan persediaan yang diperlukan untuk Sabat terpelihara dan tetap mulus dan bersih, sedangkan jikalau dibiarkan tersisa pada hari‑hari yang lainnya, manna itu tidak baik lagi untuk dimakan.


Di dalam keadaan‑keadaan yang berhubungan dengan pemberian manna itu kita mempunyai bukti yang menentukan bahwa Sabat bukanlah ditetapkan, seperti yang dikatakan oleh banyak orang, pada waktu hukum itu diberikan di bukit Sinai. Sebelum orang‑orang Israel tiba di Sinai mereka telah mengerti bahwa Sabat merupakan sesuatu yang dituntut dari mereka. Dengan diperintahkannya untuk mengumpulkan manna dua kali lebih banyak setiap hari Jumat sebagai hari persediaan untuk Sabat, dimana tidak akan ada manna yang jatuh, sifat yang suci daripada hari perhentian itu tetap diingatkan kepada mereka. Dan bilamana beberapa dari antara orang banyak itu keluar pada hari Sabat untuk mengumpulkan manna, Tuhan bertanya, "Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintah-Ku dan hukum-Ku?"

"Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan." Untuk empat puluh tahun lamanya mereka telah diingatkan tiap‑tiap hari oleh persediaan yang ajaib ini, akan kasih serta penjagaan Allah yang tidak pernah gagal. Dengan kata‑kata pemazmur, Allah telah memberikan kepada mereka, "gandum dari langit. Setiap orang telah makan roti malaikat" (Mazmur 78:24, 25)--yaitu, makanan yang disediakan bagi mereka oleh malaikat‑malaikat. Dicukupkan oleh "gandum dari langit" mereka itu setiap hari diajar bahwa dengan memiliki janji Allah, mereka itu terpelihara daripada kekurangan sama halnya seperti mereka itu seolah‑olah dikelilingi oleh ladang‑ladang gandum di padang yang subur di tanah Kanaan.

Manna yang jatuh dari langit untuk memberi makan Israel adalah satu lambang daripada Dia yang datang dari Allah untuk memberikan hidup kepada dunia. Yesus berkata, "Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Yohanes 6:48‑51. Dan di antara janji‑janji berkat bagi umat Allah untuk kehidupan yang akan datang, telah tersurat, "Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi." Wahyu 2:17.


Setelah meninggalkan padang belantara Sin, orang Israel mendirikan kemahnya di Rafidim. Di tempat ini tidak ada air dan kembali mereka tidak percaya akan pimpinan Allah. Di dalam kebutaan mereka dan dengan sembrono mereka datang kepada Musa dengan satu tuntutan, "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum." Tetapi ia tidak kehilangan sabar. "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku," katanya, "mengapakah engkau mencobai Tuhan?" Dengan marah mereka berteriak, "Mengapa pula engkau memimpin kami ke luar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" Pada waktu mereka diberi makanan dengan berkelimpahan, dengan rasa malu mereka mengingat kembali akan sikap mereka yang tidak percaya dan persungutan mereka, dan berjanji akan berharap kepada Tuhan di masa mendatang; tetapi dengan segera mereka melupakan janji mereka itu dan gagal dalam menghadapi ujian yang pertama daripada iman mereka itu. Tiang awan yang memimpin mereka seolah‑olah menutupi satu misteri yang menakutkan. Dan Musa--siapakah dia? tanya mereka, dan apakah yang menjadi tujuannya dengan membawa mereka itu keluar dari Mesir? Kecurigaan dan tidak percaya memenuhi hati mereka dan dengan berani menuduh bahwa ia bermaksud akan membunuh mereka dan anak‑anak mereka oleh kesulitan serta penderitaan, agar ia dapat memperkaya dirinya dengan harta milik mereka. Di dalam kegaduhan serta amarah mereka hampir‑hampir melempari Musa dengan batu.

Dengan rasa susah Musa berseru kepada Tuhan, "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini?" Ia diperintahkan untuk membawa pemimpin‑pemimpin bangsa Israel itu, dan juga tongkat oleh mana ia telah mengadakan keajaiban‑keajaiban di Mesir dan pergi kepada orang banyak. Dan Tuhan berkata kepadanya, "Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan ke luar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Ia menurutinya, dan air keluar dalam satu pancaran yang hidup yang dengan limpahnya memenuhi kebutuhan segenap perhimpunan itu. Gantinya memerintahkan Musa untuk mengangkat tongkatnya dan meminta turunnya kutuk yang mengerikan, seperti yang di Mesir itu, terhadap pemimpin‑pemimpin daripada orang‑orang yang jahat dan bersungut‑sungut itu, Tuhan di dalam rahmat‑Nya telah menjadikan tongkat itu sebagai alatnya untuk memberikan kelepasan kepada mereka.

"Dibelah-Nya gunung batu di padang gurun, diberi-Nya mereka minum banyak air seperti dari samudera raya; dibuat-Nya aliran air ke luar dari bukit batu, dan dibuat-Nya air turun seperti sungai." Mazmur 78:15, 16. Musa telah memukul batu itu, tetapi adalah Anak Allah yang, terlindung di dalam awan itu, berdiri di samping Musa dan menjadikan air pemberi hidup itu telah mengalir. Bukan hanya Musa dan pemimpin‑pemimpin saja, tetapi semua orang yang berdiri dari jauh, telah melihat kemuliaan Tuhan; tetapi kalau saja awan itu diangkat, mereka akan binasa oleh terang yang hebat daripada Dia yang tinggal di dalamnya.

Di dalam kehausan mereka telah mencobai Allah, dengan berkata, "Apakah Tuhan ada di antara kita, ataukah tidak? Jikalau Allah telah membawa kita ke tempat ini, mengapakah Ia tidak memberikan air kepada kita sebagaimana roti?" Sikap tidak percaya yang dinyatakan dengan cara itu adalah satu kejahatan dan Musa merasa takut bahwa hukuman Allah akan menimpa mereka. Dan ia menyebut tempat itu Masa, "cobaan," dan Meriba, "perbantahan," sebagai peringatan akan dosa mereka.


Satu bahaya yang baru kini mengancam mereka. Oleh sebab persungutan mereka terhadap Dia, Tuhan telah membiarkan mereka diserang oleh musuh‑musuh mereka. Bangsa Amalek, satu bangsa yang buas dan suka berperang yang menempati daerah itu, telah datang menyerang serta membinasakan mereka yang, karena letih, telah tertinggal di belakang. Musa, menyadari bahwa orang banyak ini tidak bersedia untuk berperang, telah memerintahkan Yusak untuk memilih dari antara suku‑suku bangsa ini satu rombongan tentara dan memimpin mereka pada keesokan harinya untuk menyerang musuh, sementara ia sendiri akan berdiri di satu tempat yang tinggi dekat di tempat itu dengan tongkat Allah di tangannya. Kemudian pada keesokan harinya Yusak dan rombongannya telah menyerang musuh itu, sementara Musa, Harun dan Hur berada di atas sebuah bukit sambil memandang ke medan pertempuran itu. Dengan kedua belah tangannya terangkat ke langit sambil memegang tongkat Allah pada tangan kanannya, Musa berdoa untuk kemenangan tentara Israel. Sementara peperangan itu berlangsung, ternyata bahwa selama tangannya diangkat ke atas, Israel menang, tetapi bilamana tangan itu diturunkan pihak musuhlah yang menang. Oleh karena Musa merasa letih, Harun dan Hur telah menunjang tangannya itu sampai matahari terbenam bilamana musuh telah dipukul mundur.

Sementara Harun dan Hur menolong mengangkat tangan Musa, mereka menunjukkan kepada orang banyak akan tugas mereka untuk menolong dia dalam tanggung-jawabnya yang besar sementara ia menerima Firman dari Allah untuk dikatakan kepada mereka. Dan tindakan Musa itu juga penuh arti, menunjukkan bahwa Allah memegang nasib mereka  di dalam tangan‑Nya, apabila mereka menjadikan Dia sebagai penolong mereka, Ia akan berperang bagi mereka serta mengalahkan musuh mereka; tetapi bilamana mereka melepaskan pegangan mereka kepada Dia dan berharap kepada kuasa mereka sendiri, mereka akan menjadi lebih lemah daripada orang‑orang yang tidak mengenal Allah dan musuh mereka akan menang terhadap mereka.

Sebagaimana orang Israel itu menang bilamana Musa mengangkat tangannya ke atas dan memohon dalam doa bagi mereka, demikian pula Israel Allah akan menang apabila dengan iman mereka berpegang kepada kekuatan Penolong mereka yang berkuasa itu. Namun demikian, kekuatan Ilahi harus digabungkan dengan usaha manusia. Musa tidak percaya bahwa Allah akan mengalahkan musuh mereka sementara Israel tinggal diam. Sementara pemimpin besar itu berdoa kepada Tuhan, Yusak dan pengikut‑pengikutnya yang berani mengerahkan segenap usahanya untuk menyerang musuh Israel dan musuh Allah.

Sesudah dikalahkannya orang Amalek itu, Tuhan memerintahkan Musa, "Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit." Sesaat sebelum kematiannya, pemimpin besar itu telah menyampaikan kepada bangsanya satu amanat yang khidmat: "Ingatlah apa yang dilakukan orang Amalek kepadamu pada waktu perjalananmu ke luar dari Mesir; bahwa engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Allah. Maka apabila Tuhan, Allahmu, sudah mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada segala musuhmu di sekeliling, di negeri yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki sebagai milik pusaka, maka haruslah engkau menghapuskan ingatan kepada Amalek dari kosong langit. Janganlah lupa!" Ulangan 25:17‑19. Sehubungan dengan bangsa yang jahat ini Tuhan berkata, "Tangan di atas panji-panji Tuhan! Tuhan berperang melawan Amalek turun-temurun." Keluaran 17:16.

Bangsa Amalek bukannya tidak mengetahui tentang sifat Allah atau sifat daripada pemerintahan Allah, tetapi gantinya mereka takut di hadapan‑Nya, mereka telah menetapkan dalam diri mereka untuk menentang kuasa‑Nya. Keajaiban‑keajaiban yang telah diadakan oleh Musa di hadapan orang Mesir telah dijadikan bahan ejekan oleh orang Amalek dan kegentaran daripada bangsa‑bangsa di sekitarnya telah dicemoohkannya. Mereka telah mengambil sumpah di hadapan dewa‑dewa mereka bahwa mereka akan membinasakan orang Ibrani agar jangan seorang pun terlepas, dan mereka membanggakan bahwa Allah orang Israel tidak akan berdaya untuk melawan mereka. Mereka tidak pernah disakiti atau diancam oleh orang Israel. Serangan mereka itu sama sekali tidak beralasan. Mereka berusaha menghancurkan umat Allah untuk menyatakan kebencian dan perlawanan mereka terhadap Allah. Sudah lama bangsa Amalek ini merupakan orang‑orang berdosa yang sombong dan tekebur, dan kejahatan mereka telah naik kepada Tuhan untuk mendapat pembalasan, tetapi rahmat‑Nya masih tetap memanggil mereka untuk bertobat; tetapi apabila orang Amalek itu menyerang bangsa Israel yang letih dan tidak bersenjata itu, mereka telah memeteraikan kebinasaan bangsa mereka. Perlindungan Allah menaungi anak‑anak‑Nya yang paling lemah. Tidak ada satu tindakan yang kejam atau yang menindas mereka yang tidak dicatat oleh surga. Di atas semua orang yang takut dan cinta kepada‑Nya, tangan‑Nya melindungi sebagai perisai; biarlah manusia berhati‑hati agar jangan mereka memukul tangan itu; karena itu memegang pedang keadilan.

Tidak jauh dari tempat di mana Israel sekarang sedang mendirikan kemahnya, terdapat rumah Yitro, mertua Musa.

Yetero telah mendengar tentang kelepasan orang Israel, dan sekarang ia berangkat untuk mengunjungi mereka serta menyerahkan kembali kepada Musa istrinya dan kedua anak laki‑lakinya. Pemimpin besar itu diberi tahu oleh pesuruh‑pesuruh tentang kedatangan mereka, dan ia pergi menyambut mereka dengan penuh kegembiraan, dan sesudah saling memberi salam, mereka pun dibawa ke kemahnya. Ia telah mengirim kembali keluarganya pada waktu dalam perjalanan untuk memimpin Israel ke luar dari Mesir yang penuh bahaya itu, tetapi kini kembali ia dapat menikmati penghiburan serta kegembiraan dengan adanya mereka itu. Kepada Yitro ia telah menceritakan kembali akan perbuatan Allah yang ajaib itu terhadap Israel, dan Yitro pun merasa gembira dan memuji akan Allah, dan bersama‑sama dengan Musa dan pemimpin‑pemimpin Israel ia menggabungkan diri untuk mempersembahkan korban dan mengadakan satu upacara pesta yang khidmat untuk memperingati akan rahmat Allah.

Sementara Yitro tinggal di tenda‑tenda itu, ia melihat bagaimana beratnya beban yang ada di atas bahu Musa. Untuk mempertahankan tata tertib dan disiplin di antara orang banyak yang jumlahnya besar itu, yang bodoh dan tidak terlatih itu, sungguh merupakan satu tugas yang berat. Musa adalah pemimpin dan pemerintah yang mereka akui dan bukan saja kepentingan umum dan tugas daripada orang banyak itu, tetapi segala persengketaan yang timbul di antara mereka juga dihadapkan kepada Musa. Ia telah membiarkan hal ini, karena itu memberikan kepadanya satu kesempatan untuk memberi petunjuk kepada mereka; sebagaimana yang dikatakannya, "Aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah." Tetapi Yitro menentang hal ini, dengan berkata, "Pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." "Engkau akan menjadi sangat lelah," dan ia menasihati Musa untuk mengangkat orang‑orang yang layak sebagai pemimpin atas seribu orang; dan yang lain sebagai pemimpin atas seratus orang, dan yang lain atas sepuluh orang. Mereka haruslah "orang‑orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap." Mereka inilah yang akan menjadi hakim atas perkara yang kecil‑kecil, sementara soal‑soal yang paling sulit dan penting harus dibawa kepada Musa, yang untuk orang banyak harus, kata Yitro, "kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah"; "kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani dan pekerjaan yang harus dilakukan." Nasihat ini diterima, dan ini bukan hanya memberikan keringanan kepada Musa, tetapi telah menyerahkan terciptanya satu tata tertib yang lebih sempurna di antara bangsa itu.

Tuhan telah menghormati Musa dan telah mengadakan perbuatan‑perbuatan yang ajaib oleh tangan‑Nya; tetapi kenyataan bahwa ia telah dipilih untuk memberi petunjuk kepada orang lain tidaklah menjadikan dia untuk mengambil kesimpulan bahwa ia sendiri tidak memerlukan petunjuk. Pemimpin Israel yang terpilih ini mendengarkan dengan gembira kepada usul‑usul daripada imam yang beribadat yang berasal dari Midian itu, dan telah melaksanakan rencana tersebut sebagai cara pengaturan yang bijaksana.

Dari Rafidim bangsa itu melanjutkan perjalanan mereka, mengikuti gerak daripada tiang awan itu. Jejak langkah mereka telah menyusuri padang‑padang yang tandus, tebing yang curam dan melalui deretan gunung batu. Sering sementara mereka sedang berjalan di padang pasir itu, mereka melihat di hadapan mereka gunung‑gunung yang curam seperti benteng‑benteng raksasa, menjulang tinggi ke atas dan menghalangi jalan mereka dan seolah‑olah tidak memungkinkan mereka untuk maju terus. Tetapi apabila mereka telah berada di dekatnya, di sana sini terlihat jalan terbuka di gunung‑gunung itu dan di seberang sana, satu padang datar yang luas terbentang di hadapan mereka. Sekarang mereka dipimpin untuk melewati salah satu jalan kecil yang berbatu‑batu. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat hebat dan mengesankan. Di antara gunung‑gunung batu yang menjulang tinggi beratus‑ratus kaki sebelah menyebelah, seperti air sungai yang mengalir, sejauh mata memandang, bangsa Israel bersama‑sama dengan kawanan kambing domba mereka itu bergerak maju. Dan sekarang di hadapan mereka dengan megahnya Bukit Sinai menampilkan bagian depannya. Tiang awan itu berhenti di atas puncaknya, dan mereka itu pun mendirikan kemah‑kemah mereka di atas padang di kaki bukit itu. Tempat ini menjadi tempat kediaman mereka hampir satu tahun lamanya. Pada waktu malam tiang api memberikan jaminan kepada mereka akan perlindungan Ilahi dan sementara mereka tertidur, dengan perlahan‑lahan roti surga itu jatuh ke atas tempat kediaman mereka.


Fajar melapisi puncak‑puncak gunung yang gelap itu dengan warna keemasan dan sinar sang surya memancar menembusi lorong‑lorong yang dalam di antara bukit‑bukit batu, dan kepada pengembara‑pengembara yang letih lesu itu nampaknya seperti terang rahmat yang memancar dari takhta Allah. Di sekeliling mereka puncak‑puncak gunung yang tinggi itu, di tengah‑tengah suasana alam yang hening seolah‑olah menyatakan keagungan yang abadi. Di tempat ini pikiran mereka dipenuhi oleh rasa kagum dan khidmat. Manusia dapat merasakan kebodohan serta kelemahannya di hadirat Dia yang "menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca." Yesaya 40:12. Di sini bangsa Israel menerima Wahyu yang paling ajaib yang pernah dinyatakan Allah kepada manusia. Di sini Allah telah mengumpulkan umat‑Nya agar Ia dapat mengesankan mereka akan kesucian tuntutan‑tuntutan‑Nya dengan mengumumkan oleh suara‑Nya sendiri akan hukum‑Nya yang kudus itu. Perubahan‑perubahan besar dan radikal harus diadakan di dalam diri mereka; karena pengaruh-pengaruh yang merusakkan sebagai akibat daripada perbudakan itu, dan pergaulan yang lama dengan penyembahan berhala telah meninggalkan bekas kepada kebiasaan dan tabiat mereka. Allah sedang bekerja untuk mengangkat mereka kepada tingkatan akhlak yang lebih tinggi dengan memberikan kepada mereka satu pengetahuan tentang diri‑Nya sendiri.








Tidak ada komentar: