Kamis, 21 November 2013

MAZMUR 148

148:1Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi!
148:2Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya!
148:3Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang!
148:4Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit!
148:5Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.
148:6Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar.
148:7Pujilah TUHAN di bumi, hai ular-ular naga dan segenap samudera raya;
148:8hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya;
148:9hai gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras:
148:10hai binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap;
148:11hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia;
148:12hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda!
148:13Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.
148:14Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya, menjadi puji-pujian bagi semua orang yang dikasihi-Nya, bagi orang Israel, umat yang dekat pada-Nya. Haleluya!


27

Hukum diberikan Kepada Israel
----------------
Pasal ini dialaskan atas Keluaran 19‑24.

Segera setelah berkemah di Sinai, Musa dipanggil ke atas gunung untuk bertemu dengan Allah. Sendirian ia mendaki jalan yang curam dan berbatu itu, dan mendekati awan yang menandai tempat hadirat Tuhan. Israel sekarang ini akan dibawa ke satu hubungan yang intim dan istimewa, kepada Yang Mahatinggi itu--untuk ditetapkan sebagai satu gereja dan satu bangsa di bawah pemerintahan Allah. Pesan kepada Musa untuk disampaikan kepada bangsa itu adalah:
"Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan Firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya Firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel."

Musa kembali ke tenda‑tenda mereka dan setelah mengumpulkan pemimpin‑pemimpin orang Israel, ia mengulangi kembali kepada mereka pesan Ilahi itu. Dan jawab mereka adalah, "Segala yang difirmankan Tuhan akan kami lakukan." Dengan demikian mereka telah memasuki satu perjanjian yang khidmat dengan Allah, mereka berjanji akan menerima Dia sebagai pemerintah atas mereka, yang dengan demikian mereka menjadi, dalam cara yang istimewa, sebagai rakyat kekuasaan Allah.

Kembali pemimpin mereka itu naik ke atas gunung, dan Tuhan berkata kepadanya, "Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu

Apabila mereka menemui kesulitan‑kesulitan dalam perjalanan, mereka cenderung untuk bersungut‑sungut terhadap Musa dan Harun, dan menuduh mereka telah memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir untuk membinasakan mereka. Tuhan menghormati Musa di hadapan mereka, agar mereka dapat dituntun untuk mentaati segala petunjuk‑petunjuknya.


Allah bermaksud untuk menjadikan peristiwa dimana Ia akan mengucapkan hukum‑Nya itu sebagai satu pemandangan yang hebat dan mengagumkan, sesuai dengan sifat‑Nya yang agung itu. Bangsa itu harus diberi kesan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pelayanan kepada Allah harus diperlakukan dengan sikap hormat yang paling dalam. Tuhan berkata kepada Musa, "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya. Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga Tuhan akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai." Selama dua hari itu semua orang harus memakai waktunya dalam persiapan yang khidmat untuk menghadap Allah. Diri dan pakaian mereka harus dibersihkan dari kekotoran. Dan apabila Musa menunjukkan dosa‑dosa mereka, mereka harus merendahkan hati, berpuasa dan berdoa agar hati mereka dapat dibersihkan dari kejahatan.
Persiapan‑persiapan itu diadakan sesuai dengan perintah; dan sehubungan dengan anjuran yang berikutnya, Musa memerintahkan agar satu pagar didirikan di sekeliling gunung itu, agar supaya jangan ada baik manusia atau binatang menjejakkan kakinya ke atas tempat yang suci itu. Jikalau seseorang berani sekalipun hanya menyentuhnya saja, maka hukumannya adalah mati seketika itu juga.

Pada pagi hari yang ketiga, apabila pandangan semua orang itu diarahkan ke gunung itu, puncaknya ditutupi awan yang tebal, yang semakin lama semakin gelap dan pekat, dan kemudian awan itu terus turun sampai ke kakinya sehingga seluruh gunung itupun diselimuti oleh kegelapan dan misteri yang mengagumkan. Kemudian satu bunyi seperti bunyi sebuah terompet terdengar, menyuruh bangsa itu untuk berkumpul dan menghadap kepada Tuhan; dan Musa memimpin mereka bergerak maju ke kaki bukit itu. Dari kegelapan yang pekat itu kilat memancar dengan terangnya, sementara gemuruh guntur menggema di antara puncak‑puncak gunung yang ada di sekitarnya. "Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena Tuhan turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat." "Kemuliaan Allah seperti api yang menghanguskan di atas puncak gunung itu" kepada penglihatan daripada perhimpunan orang banyak itu. Dan "bunyi terompet itu berkumandang lama sekali, dan semakin lama menjadi semakin keras." Begitu dahsyat tanda‑tanda daripada kehadiran Tuhan sehingga orang‑orang Israel gemetar ketakutan dan bersujud dengan muka mereka sampai ke bumi. Sedangkan Musa sendiri berseru, "Aku sangat gemetar dan sangat ketakutan." Ibrani 12:21.

Dan sekarang gemuruh guntur berhenti; bunyi terompet tidak terdengar lagi; bumi menjadi hening sekali. Suasana waktu itu tenang dan khidmat, dan kemudian suara Allah terdengar. Dengan bersabda dari dalam kegelapan yang pekat yang menyelimuti‑Nya, apabila Ia berdiri di atas bukit itu dengan dikelilingi oleh sepasukan malaikat, Tuhan telah memberitahukan hukum‑Nya. Musa dalam menggambarkan pemandangan itu, berkata, "Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kanan-Nya tampak kepada mereka api yang menyala. Sungguh Ia mengasihi umat-Nya; semua orang-Nya yang kudus--di dalam tangan-Mulah mereka, pada kaki-Mulah mereka duduk, menangkap sesuatu dari Firman-Mu." Ulangan 33:2, 3.


Tuhan telah menyatakan diri‑Nya, bukan saja di dalam keagungan yang hebat dari seorang hakim dan pemberi hukum, tetapi juga sebagai penjaga yang penuh belas kasihan kepada umat‑Nya: "Akulah Tuhan, Allahmu, yang telah menghantarkan kamu keluar dari negeri Mesir, dari dalam tempat perhambaan itu." Ia, yang mereka telah kenal sebagai Penuntun serta Pembebas mereka, yang telah membawa mereka keluar dari Mesir, yang membuka jalan bagi mereka untuk menyeberangi laut dan menghancurkan Firaun dengan segala bala tentaranya, yang dengan demikian telah menyatakan bahwa diri‑Nya lebih berkuasa daripada segala dewa‑dewa Mesir Dialah yang sekarang ini memberitahukan hukum‑Nya.

Hukum yang diucapkan pada saat itu bukanlah terbatas hanya untuk keuntungan orang Israel saja. Allah telah menghormati mereka dengan menjadikan mereka sebagai penjaga dan pemelihara hukum‑Nya, tetapi itu harus dijaga sebagai barang titipan yang suci bagi seluruh dunia. Peraturan‑peraturan Hukum Sepuluh itu disesuaikan kepada seluruh umat manusia, dan semuanya itu diberikan untuk menjadi petunjuk serta pemerintah bagi semua orang.

Sepuluh peraturan, singkat, mencakup keseluruhan, dan mempunyai wewenang, mencakup tanggung jawab manusia kepada Allah dan kepada sesama manusia; dan semuanya itu dialaskan atas prinsip kasih yang agung itu. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Lukas 10:27. (Lihat juga Ulangan 6:4, 5; Imamat 19:18). Di dalam Sepuluh Hukum itu prinsip‑prinsip ini dijelaskan dengan terperinci, dan dapat digunakan kepada keadaan sekeliling dalam hidup manusia.

"Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku."
Tuhan, yang kekal, yang jadi dengan sendirinya, satu Oknum yang tidak diciptakan, Dia sendiri sebagai Sumber dan Pemberi hidup kepada semua orang, adalah satu‑satunya Oknum yang berhak untuk disembah dan mendapat kehormatan yang terutama. Manusia dilarang untuk memberikan kepada benda‑benda lainnya tempat yang utama di dalam pelayanan dan kasih mereka. Apa saja yang kita manjakan yang cenderung untuk mengurangi kasih kita kepada Allah atau menghalangi pelayanan yang harus diberikan kepada Dia, maka kita telah menjadikan hal itu sebagai ilah.

"Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya."

Hukum yang kedua melarang perbaktian kepada Allah yang benar melalui patung‑patung atau barang peta. Banyak bangsa kafir mengatakan bahwa patung‑patung mereka itu hanyalah sekadar gambaran atau lambang oleh mana Allah itu disembah, tetapi Allah telah menyatakan bahwa perbaktian seperti itu adalah dosa. Usaha untuk menggambarkan Oknum yang Kekal itu oleh benda‑benda materi akan merendahkan dasar pemikiran manusia tentang Allah. Pikiran kita, bila dipalingkan dari kesempurnaan Tuhan yang tidak terbatas itu, akan tertarik kepada benda yang dijadikan gantinya kepada Khalik itu. Dan apabila pandangannya tentang Allah telah direndahkan, maka demikian juga manusia itu akan menjadi merosot martabatnya.

"Sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu." Hubungan yang intim dan suci antara Allah dengan umat‑Nya dilambangkan sebagai satu pernikahan. Oleh karena penyembahan berhala merupakan perzinahan rohani, maka rasa tidak senang Allah terhadap hal itu dengan tepat sekali disebut sebagai kecemburuan.


"Yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku." Tidaklah dapat dielakkan bahwa anak‑anak harus menderita akibat‑akibat daripada kesalahan orang tua, tetapi mereka tidak dihukum oleh karena dosa orang tua, kecuali bilamana mereka ikut serta dalam dosa‑dosa mereka. Namun demikian, yang biasanya terjadi ialah bahwa anak‑anak mengikut jejak orang tua mereka. Oleh warisan dan teladan hidup anak‑anak mengambil bahagian dalam dosa bapak. Kecenderungan‑kecenderungan yang salah, selera makan yang dirusakkan, dan akhlak yang merosot sebagaimana juga penyakit dan kelemahan‑kelemahan jasmani diturunkan sebagai satu warisan dari bapa kepada anak, sampai kepada generasi yang ketiga dan keempat. Kenyataan yang menakutkan ini seharusnya mempunyai satu kuasa yang khidmat untuk menegahkan manusia daripada mengikuti satu hidup yang penuh dosa.

"Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku." Di dalam melarang perbaktian terhadap ilah‑ilah yang palsu, hukum yang kedua dengan secara tidak langsung meneguhkan perbaktian kepada Allah yang benar. Dan kepada mereka yang setia di dalam pelayanan kepada Allah, rahmat dijanjikan, bukan hanya sampai kepada gilir yang ketiga atau keempat sebagaimana halnya murka yang dinyatakan terhadap mereka yang membenci Dia, melainkan sampai kepada ribuan generasi.
"Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan."

Hukum ini bukan hanya melarang sumpah palsu dan sumpah‑sumpah biasa, tetapi juga melarang kita untuk menggunakan nama Allah di dalam cara yang sembrono, tanpa menyadari akan artinya yang hebat itu. Dengan menyebut nama Allah secara tidak hati‑hati dalam pembicaraan‑pembicaraan yang biasa, dengan memohonkan perkara‑perkara yang remeh kepada‑Nya dan dengan sering mengulang‑ulangi nama‑Nya tanpa pemikiran, kita tidak menghormati Dia. "Dan nama‑Nya kudus dan dahsyat." Mazmur 111:9. Semua orang harus merenung‑renungkan akan keagungan‑Nya, kesucian‑Nya agar supaya hati kita dapat dikesankan oleh satu perasaan akan tabiat‑Nya yang mulia itu; dan nama‑Nya yang suci itu harus diucapkan dengan sikap hormat serta khidmat.

"Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari Ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari Ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya."


Hari Sabat tidak ditampilkan sebagai satu lembaga yang baru tetapi sebagai sesuatu yang telah dimulaikan waktu penciptaan bumi ini. Itu harus diingat dan dipelihara sebagai satu peringatan daripada pekerjaan Khalik. Dengan menunjuk kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi, Sabat membedakan Allah yang benar daripada ilah‑ilah yang palsu. Semua orang yang memelihara hari yang Ketujuh menyatakan oleh perbuatan ini bahwa mereka adalah penyembah‑penyembah Tuhan. Dengan demikian, Sabat merupakan tanda kesetiaan manusia kepada Allah selama di dunia ini masih ada seseorang yang melayani Dia. Hukum yang keempat adalah satu‑satunya dari antara sepuluh hukum itu, dimana di dalamnya didapati baik nama dan juga gelar Pemberi Hukum itu. Itu adalah satu‑satunya yang menunjukkan oleh kuasa siapa bahwa hukum itu telah diberikan. Dengan demikian itu mengandung meterai Allah, yang dicantumkan dalam hukum‑Nya sebagai bukti bahwa hukum itu otentik dan mempunyai kuasa yang mengikat.

Allah telah memberikan kepada manusia enam hari untuk bekerja dan Ia menuntut agar pekerjaan mereka itu dilakukan dalam enam hari kerja itu. Perbuatan‑perbuatan yang bersifat menuntut dan berkemurahan diizinkan pada hari Sabat, orang sakit dan yang menderita harus dirawat; tetapi pekerjaan‑pekerjaan yang tidak perlu harus sama sekali dihindarkan. "Tegahkanlah kakimu daripada membuat kehendakmu pada Sabat, yaitu pada hari yang disucikan bagi‑Ku, dan engkau membilang Sabat itu akan hari kesukaan, yang patut disucikan bagi Tuhan, yang harus dihormati dan engkau mempermuliakan hari itu dengan tiada menurut jalanmu sendiri atau membuat kehendakmu." Larangan ini tidak berhenti sampai di sini. "Atau mengatakan perkataan yang sia‑sia," kata nabi itu. Mereka yang memperbincangkan soal‑soal urusan dagang atau mengadakan rencana‑rencana pada hari Sabat dianggap oleh Allah seakan‑akan telah mengadakan dengan sebenarnya transaksi dari pada urusan itu. Untuk memelihara hari Sabat suci, Kita jangan membiarkan pikiran kita sekali pun untuk memikir‑mikirkan tentang perkara‑perkara yang bersifat duniawi. Dan hukum ini mencakup semua orang yang ada di dalam pintu gerbang kita. Semua anggota keluarga dalam rumah harus mengesampingkan urusan duniawi mereka selama jam‑jam yang suci itu. Semua harus bersatu untuk menghormati Allah oleh pelayanan yang sukarela pada hari‑Nya yang suci itu.

"Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu."
Orang tua berhak memperoleh kasih dan hormat yang melebihi kasih dan hormat yang dapat dinyatakan kepada orang lain. Allah sendiri, yang telah meletakkan ke atas bahu mereka satu tanggung jawab bagi jiwa‑jiwa yang telah dipercayakan kepada pengawasan mereka, telah menetapkan bahwa selama tahun‑tahun permulaan dari kehidupan seseorang, orang tua akan berdiri di tempat Allah, kepada anak‑anak mereka. Dan ia yang menentang wewenang yang benar dari orang tuanya, berarti menolak wewenang Allah. Hukum yang kelima menuntut agar anak‑anak menunjukkan bukan hanya sikap hormat, ketaatan dan penurutan kepada orang tua mereka, tetapi juga memberikan kepada mereka kasih dan kelemah‑lembutan, meringankan beban mereka, dan menjaga nama baik mereka dan menolong serta menghiburnya pada masa tuanya. Hukum ini juga menuntut sikap hormat terhadap pendeta‑pendeta dan pemimpin‑pemimpin, dan semua yang lainnya yang kepadanya Allah telah memberikan wewenang.

Hal ini menurut rasul, "adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini." Efesus 6:2. Bagi Israel, yang mengharapkan dengan segera akan memasuki Kanaan, itu merupakan satu janji kepada yang menurut, janji akan menikmati umur yang panjang di negeri yang baik itu; tetapi itu mempunyai satu arti yang luas, yang mencakup semua Israel Allah, dan menjanjikan hidup yang kekal di atas bumi ini bilamana itu telah dibebaskan dari kutuk dosa.


"Jangan membunuh."
Segala tindakan yang tidak adil yang cenderung untuk mempersingkat kehidupan; Roh kebencian dan balas dendam atau pemanjaan terhadap suatu nafsu yang menuntun kepada perbuatan yang menyakiti orang lain atau menyebabkan kita menghendaki agar mereka itu disakiti (karena "barangsiapa yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh");  kelalaian untuk merawat orang miskin atau yang menderita oleh sebab Roh mementingkan diri;  segala bentuk pemanjaan diri atau penderitaan yang sebenarnya bisa dihindarkan atau kerja yang berlebih‑lebihan yang cenderung untuk merusak kesehatan--semuanya ini, sedikit banyak merupakan pelanggaran terhadap hukum yang keenam.

"Jangan berzina."
Hukum ini melarang bukan saja perbuatan‑perbuatan yang mesum, tetapi juga pikiran dan keinginan yang penuh dengan hawa nafsu atau setiap perbuatan yang cenderung untuk membangkitkan nafsu. Kesucian dituntut bukan saja dari kehidupan yang dapat dilihat dari luar tetapi juga dalam keinginan‑keinginan yang tersembunyi serta perasaan hati. Kristus, yang mengajarkan tentang tuntutan hukum Allah yang mencakup daerah yang amat luas, menyatakan bahwa pandangan atau pemikiran yang jahat itu adalah juga dosa dalam arti yang sebenarnya sebagaimana halnya perbuatan yang melanggar hukum.

"Jangan mencuri."
Baik dosa‑dosa umum atau pun secara pribadi tercakup dalam karangan ini. Undang‑undang yang kedelapan ini menghukum penculikan dan soal perbudakan, dan melarang peperangan untuk menguasai orang lain. Itu menghukumkan pencurian dan perampokan. Yaitu menuntut kejujuran dalam soal‑soal yang paling kecil di dalam urusan kehidupan ini. Hukum itu melarang ketamakan dalam perdagangan dan menuntut pembayaran utang dan gaji. Menyatakan bahwa setiap usaha untuk mencari keuntungan bagi diri dari kelalaian, kelemahan serta kemalangan orang lain dicatat sebagai satu penipuan di dalam buku surga.
"Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu."
Perkataan bohong di dalam segala hal, setiap usaha atau maksud untuk menipu tetangga kita, tercakup dalam hukum ini. Satu rencana untuk menipu adalah juga termasuk kepada dusta. Oleh satu lirikan mata, satu gerak tangan, satu gerak gambaran wajah, satu dusta bisa diadakan dengan secara mantap sama seperti oleh kata‑kata. Segala pernyataan yang berlebih‑lebihan yang disengaja, setiap pernyataan yang tidak langsung yang dimaksudkan untuk memberikan kesan yang salah dan dibesar‑besarkan, bahkan pernyataan daripada kenyataan yang diucapkan sedemikian rupa sehingga itu akan memberikan kesan yang salah, semuanya ini termasuk dusta. Hukum ini melarang setiap usaha untuk merusak nama baik daripada tetangga kita oleh penampilan yang salah atau sangkaan yang jahat, oleh laporan yang palsu atau membawa‑bawa berita yang tidak benar. Bahkan menyembunyikan kebenaran dengan sengaja, oleh mana orang lain akan dirugikan, adalah merupakan pelanggaran terhadap hukum yang kesembilan ini.

"Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."


Hukum kesepuluh menyerang akar daripada segala dosa, melarang keinginan yang mementingkan diri, dari mana bersumber perbuatan keji. Ia yang dalam penurutan kepada hukum Allah menegahkan diri dari memanjakan sekali pun hanya satu keinginan yang keji akan barang milik orang lain tidak akan melakukan tindakan yang salah terhadap sesamanya.

Demikianlah peraturan‑peraturan yang suci daripada Hukum Sepuluh yang diucapkan di tengah‑tengah guntur dan nyala api dan dengan satu pertunjukan yang ajaib daripada kuasa serta keagungan Pemberi hukum itu. Tuhan sengaja mengikut‑sertakan pertunjukan kuasa serta kemuliaan‑Nya bersama‑sama dengan pengumuman akan hukum‑Nya agar supaya umat‑Nya tidak akan melupakan peristiwa ini, dan agar mereka dapat dikesankan dengan sikap hormat yang dalam terhadap Pencipta hukum itu, Khalik langit dan bumi. Ia juga ingin menunjukkan kepada semua manusia akan kesucian, pentingnya dan kekekalan hukum‑Nya itu.

Bangsa Israel diliputi oleh kegentaran. Kuasa Allah yang hebat dalam mengucapkan hukum itu kelihatannya lebih besar daripada apa yang dapat ditanggung oleh hati mereka yang dipenuhi kegentaran itu. Oleh karena apabila undang‑undang yang agung itu dihadapkan kepada mereka, mereka baru menyadari tentang kejinya sifat dosa itu, dan juga kesalahan mereka dalam pemandangan Allah. Mereka undur dari bukit itu dengan rasa gentar dan takut. Orang banyak itu berseru kepada Musa, "Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati."

Pemimpin itu menjawab, "Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa." Namun demikian, bangsa itu tinggal diam di satu tempat yang agak jauh sambil mengarahkan mata kepada pemandangan itu dengan kegentaran, sementara Musa "pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada."
Pikiran orang banyak itu, digelapkan dan dirusak oleh perbudakan dan kekafiran, tidak bersedia untuk menghargai dengan sepenuhnya akan prinsip‑prinsip Sepuluh Hukum yang mencakup daerah yang amat luas itu Agar supaya tuntutan hukum itu dapat dimengerti dan dilaksanakan dengan sepenuhnya, maka peraturan‑peraturan tambahan telah diberikan, untuk menggambarkan serta menggunakan prinsip hukum itu.

Peraturan ini disebut pengadilan oleh karena semuanya itu dibuat dalam hikmat yang tak terbatas serta keadilan, dan juga karena pemimpin‑pemimpin mereka harus mengadakan keputusan sesuai dengan itu. Berbeda halnya dengan Hukum Sepuluh, peraturan‑peraturan ini disampaikan secara pribadi kepada Musa yang kemudian harus menyampaikannya kepada bangsa itu.


Yang pertama daripada peraturan ini berhubungan dengan soal hamba‑hamba. Pada zaman dulu penjahat‑penjahat kadang‑kadang dijual ke dalam perbudakan oleh hakim; di dalam soal yang lain, orang yang berutang dijual oleh yang empunya piutang; dan kemelaratan bisa menyebabkan seseorang untuk menjual dirinya atau anak‑anaknya. Tetapi seorang Ibrani tidak dapat dijual sebagai budak untuk seumur hidup. Masa pelayanannya dibatasi sampai enam tahun; pada tahun Ketujuh ia harus dibebaskan. Penculikan, pembunuhan dengan sengaja, pemberontakan terhadap wewenang orang tua harus dihukum mati. Menahan hamba‑hamba yang tidak berdarah Israel diizinkan, tetapi hidup serta pribadi orang itu harus dijaga dengan baik. Pembunuh seorang hamba harus dihukum; satu pemukulan terhadap seorang hamba oleh majikannya, sekali pun tidak lebih daripada hanya kehilangan giginya, memberi hak kepada hamba itu untuk dibebaskan.

Tidak lama sebelumnya bangsa Israel sendiri adalah budak‑budak, dan kini apabila mereka sendiri mempunyai budak‑budak di bawah kekuasaan mereka, maka mereka harus berhati‑hati agar jangan memanjakan Roh kebengisan dan kekejaman yang pernah mereka sendiri alami di bawah kekuasaan mandur‑mandur orang Mesir itu. Kesan getirnya masa perhambaan mereka haruslah menyanggupkan mereka untuk menempatkan diri di tempat budak‑budak itu, serta menuntun mereka supaya murah hati dan berbelas kasihan, dan memperlakukan orang lain sebagaimana mereka ingin diperlakukan.

Hak‑hak para janda dan yatim‑piatu dijaga dengan cara yang istimewa, dan ditetapkan pula agar keadaan mereka yang tidak berdaya itu diperlakukan dengan lemah lembut. Tuhan berkata, "Jikalau kiranya kamu menganiaya akan dia sedikit jua, dan mereka itu berseru kepadaku, niscaya kudengar serunya kelak; maka murkaku bernyala‑nyala dan aku membunuh kamu dengan pedang dan segala bini kamu akan menjadi janda dan segala anakmu akan menjadi piatu." Orang‑orang asing yang menggabungkan diri dengan bangsa Israel harus dilindungi dari perbuatan salah atau aniaya. "Maka jangan kamu usik akan orang dagang atau menganiaya akan dia, karena kamu pun telah menjadi orang dagang di negeri Mesir."

Mengambil bunga uang dari orang miskin dilarang. Pakaian atau selimut orang miskin yang diambil sebagai satu jaminan harus dikembalikan kepadanya sebelum matahari terbenam. Ia yang bersalah telah melakukan pencurian harus mengembalikannya dua kali lipat. Sikap hormat terhadap pemimpin‑pemimpin ditetapkan dan hakim‑hakim diperingatkan agar jangan mengadakan keputusan yang tidak adil, atau membela yang salah atau menerima uang suap. Tuduhan serta laporan palsu dilarang, dan perbuatan‑perbuatan yang murah hati diharuskan sekali pun terhadap musuh pribadi.

Bangsa itu kembali diingatkan akan tuntutan penyucian hari Sabat. Pesta‑pesta tahunan ditetapkan, dimana semua orang dari bangsa itu harus berkumpul di hadapan Tuhan sambil membawa kepada‑Nya persembahan syukur dan persembahan hulu hasil daripada kelimpahan‑Nya. Tujuan semua peraturan‑peraturan ini dengan jelas disebutkan: semuanya ini diadakan bukan semata‑mata sebagai tindakan yang sewenang‑wenang dari kekuasaan Allah; tetapi semua ini ditetapkan demi untuk kebaikan bangsa Israel. Tuhan berkata, "Engkau akan menjadi satu umat yang suci bagi‑Ku"--layak untuk diakui oleh Allah yang suci.
Peraturan‑peraturan ini harus dicatat oleh Musa dengan saksama dan dijaga sebagai dasar undang‑undang bangsa itu, dan bersama‑sama dengan Sepuluh Hukum yang digambarkan oleh peraturan‑peraturan ini, menjadi sebagai syarat kegenapan janji‑janji Allah kepada Israel.


Kini amanat diberikan kepada mereka dari Tuhan: "Bahwa sesungguhnya Aku mengirimkan seorang malaikat di hadapanmu, supaya dipeliharakannya kamu pada jalan ini dan dihantarnya akan kamu ke tempat yang telah kusediakan itu. Ingatlah akan dirimu di hadapannya, turutlah akan perintahnya dan jangan kamu mendurhaka kepadanya, karena tiada disabarkannya durhakamu, sebab nama‑Ku ada di dalam dia. Tetapi jikalau selalu kamu menurut katanya dan kamu membuat segala sesuatu yang Firman‑Ku, maka Aku akan menjadi seteru daripada seterumu dan lawan segala lawanmu." Selama masa pengembaraan Israel, Kristus, di dalam tiang awan dan api, adalah Pemimpin mereka. Sekalipun ada lambang‑lambang yang menunjukkan kepada seorang Juruselamat yang akan datang, bersama dengan mereka itu ada juga seorang Juruselamat yang hadir, yang telah memberikan kepada Musa perintah bagi bangsa itu, dan yang telah ditetapkan di hadapan mereka sebagai satu‑satunya saluran berkat.

Setibanya Musa dari atas gunung itu, "Maka datanglah Musa memberitahu segala Firman dan hukum Tuhan kepada orang banyak itu, lalu mereka sekalian pun menyahut dengan serentak, katanya: Akan segala hukum ini, yang Firman Tuhan, kami akan turut." Janji ini bersama‑sama dengan Firman Allah yang menuntut mereka supaya menurut dicatat oleh Musa dalam sebuah buku.

Kemudian menyusul pengesahan janji itu. Sebuah mezbah telah didirikan di kaki gunung itu dan di sampingnya dua belas tiang batu, "sesuai dengan bilangan kedua belas suku bangsa Israel," sebagai satu kesaksian tentang penerimaan mereka akan perjanjian itu. Korban‑korban kemudian dipersembahkan oleh orang‑orang muda yang telah dipilih untuk menjalankan upacara itu.

Setelah memercik mezbah itu dengan darah korban, Musa, "mengambil buku perjanjian itu dan membacakannya di hadapan orang banyak itu." Dengan demikian syarat‑syarat perjanjian itu dengan khidmat telah diulangi, dan semua orang bebas memilih apakah mereka mau menurut semuanya itu atau tidak. Mula‑mula mereka telah berjanji akan menurut suara Allah; tetapi sebenarnya mereka telah berjanji semenjak mereka mendengar hukum‑Nya itu diumumkan; dan prinsip‑prinsipnya telah diperincikan dengan jelas agar supaya mereka dapat mengetahui apa‑apa saja yang tercakup dalam perjanjian ini. Sekali lagi orang banyak itu menjawab dengan serentak, "Segala sesuatu yang Tuhan telah katakan, kami akan menurutnya dan melakukannya." "Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat, sambil berkata: 'Inilah darah perjanjian yang ditetapkan Allah bagi kamu." Ibrani 9:19, 20. 


Rencana‑rencana sekarang diadakan untuk menetapkan dengan sepenuhnya bangsa pilihan itu di bawah pemerintahan Tuhan sebagai raja mereka. Musa telah menerima perintah, "Naiklah kamu menghadap Tuhan, baik engkau dan Harun dan Nadab dan Abihu dan tujuh puluh tua‑tua orang Israel lalu sujudlah kamu dari jauh. Lalu hendaknya hanya Musa seorang dirinya menghampiri Tuhan." Sementara orang banyak berbakti di kaki gunung itu, orang‑orang yang dipilih itu dipanggil untuk naik ke puncaknya. Ketujuh puluh tua‑tua itu harus membantu Musa memerintah Israel, dan Allah mencurahkan Roh Sucinya ke atas mereka dan menghormati mereka dengan diizinkannya mereka untuk melihat kuasa dan kebesaran‑Nya. "Maka kelihatanlah kepada mereka itu Allah Israel, maka di bawah kaki‑Nya adalah sesuatu seakan‑akan daripada batu nilam perbuatannya, rupanya bagaikan langit apabila terang cuaca adanya." Mereka tidak melihat Tuhan, tetapi mereka melihat kemuliaan hadirat‑Nya. Sebelumnya mereka tidak tahan melihat pemandangan seperti itu; tetapi pertunjukan kuasa Allah telah menuntun mereka kepada pertobatan; mereka telah merenung‑renungkan kemuliaan, kesucian, dan rahmat‑Nya sehingga mereka dapat datang lebih dekat kepada Dia yang telah menjadi bahan renungan mereka.

Musa dan "hambanya Yusak" sekarang dipanggil menghadap kepada Tuhan. Dan selama kepergian mereka itu, Musa telah mengangkat Harun dan Hur, dengan dibantu oleh tua‑tua itu, untuk bertindak atas namanya. "Setelah Musa naik ke atas bukit, datanglah sebuah awan menudungi bukit itu. Maka kemuliaan Tuhan duduklah di atas bukit Torsina." Enam hari lamanya awan menutupi gunung itu sebagai tanda kehadiran Allah yang istimewa; tetapi saat itu tidak ada satu kenyataan tentang Dirinya atau pun pernyataan daripada kehendak‑Nya. Selama jangka waktu ini Musa tetap tinggal sambil menunggu panggilan untuk menghadap ke hadirat Yang Mahatinggi. Ia telah diperintahkan, "Naiklah engkau ke atas bukit menghadap Aku dan tinggallah di sana," dan sekali pun kesabaran dan penurutannya diuji, ia tidak menjadi letih untuk menunggu atau pun meninggalkan tempatnya. Saat‑saat menunggu ini baginya merupakan satu waktu persiapan, dan penyelidikan diri yang sungguh‑sungguh. Hamba Allah yang berkenan di hadapan‑Nya sekali pun tidak dapat sekaligus datang ke hadirat‑Nya dan tahan untuk melihat pertunjukan kemuliaan‑Nya. Enam hari harus dipakai untuk menyerahkan dirinya kepada Allah dengan memeriksa hati, renungan dan doa sebelum ia bersedia untuk mengadakan hubungan langsung dengan Khaliknya.

Pada hari yang Ketujuh, yaitu Sabat, Musa dipanggil ke dalam awan. Awan tebal itu terbuka di hadapan mata bangsa Israel dan kemuliaan Tuhan memancar seperti api yang menghanguskan. "Maka Musa pun masuklah ke dalam awan itu setelah sudah ia naik ke atas bukit, dan adalah Musa di atas bukit itu empat puluh hari empat puluh malam lamanya." Waktu selama empat puluh hari di atas gunung itu tidaklah termasuk keenam hari persiapan tadi. Selama enam hari itu Yusak ada bersama‑sama dengan Musa dari mereka makan manna dan minum "dari sungai yang keluar dari atas gunung itu." Tetapi Yusak tidak ikut masuk ke dalam awan bersama dengan Musa. Ia tinggal di luar dan terus makan dan minum setiap hari sementara menunggu kembalinya Musa, tetapi Musa puasa selama empat puluh hari.

Selama tinggalnya di atas gunung, Musa menerima petunjuk‑petunjuk untuk membangun sebuah baitsuci dimana hadirat Ilahi akan dinyatakan secara istimewa. "Maka hendaklah mereka itu memperbuatkan akan Daku sebuah baitulmukadis, supaya Aku duduk di antara mereka itu," adalah perintah dari Allah. Untuk ketiga kalinya pemeliharaan Sabat ditekankan. Tuhan berfirman, "Maka Sabat itulah menjadi suatu tanda di antara Aku dengan segala bani Israel sampai selama‑lamanya, maka ia itu sebab Tuhan pun telah menjadikan langit dan bumi dalam enam hari lamanya dan Tuhan telah berhenti pada hari yang Ketujuh serta disenangkannya diri‑Nya. Katakanlah olehmu kepada bani Israel; Peliharakanlah olehmu baik‑baik segala Sabat‑Ku, karena ia itulah suatu tanda di antara Aku dengan kamu dan segala benihmu, supaya diketahui oranglah, bahwa Aku ini Tuhan, yang menyucikan kamu.

Sebab itu peliharakanlah olehmu Sabat itu, bahkan, ia itu menjadi suatu kesucian bagimu! Barangsiapa yang menghinakan dia, ia itu tak akan jangan mati dibunuh; karena barangsiapa yang bekerja pada hari itu, ia itu jiwanya akan ditumpas dari antara bangsanya." Petunjuk‑petunjuk baru saja diberikan untuk mendirikan dengan segera sebuah baitsuci untuk berbakti kepada Allah; dan sekarang orang banyak boleh jadi berkesimpulan, oleh karena tujuan yang ada dalam pikiran mereka adalah untuk kemuliaan Tuhan, dan juga oleh sebab mereka amat memerlukan satu tempat berbakti, bahwa mereka akan dibenarkan untuk melaksanakan pembangunan itu pada hari Sabat. Untuk menjaga mereka dari perbuatan yang salah ini amaran telah diberikan. Sekali pun pekerjaan yang istimewa bagi Allah yang suci serta mendesak itu tidak boleh menuntun mereka untuk melanggar hari perhentian‑Nya yang suci itu.

Mulai saat itu mereka mendapat kehormatan dengan kehadiran yang tetap daripada Raja mereka. "Aku akan tinggal di antara orang Israel dan akan menjadi Allah mereka," "dan baitsuci itu akan disucikan oleh kemuliaan‑Ku," (Keluaran 24:45, 43) adalah jaminan yang diberikan kepada Musa. Sebagai lambang daripada wewenang Allah dan wujud daripada kehendak‑Nya, maka diserahkan kepada Musa Hukum Sepuluh yang ditulis oleh jari Allah sendiri di atas dua loh batu  (Ulangan 9:10 ; Keluaran 32:1 5, 1 6), untuk ditaruh di dalam baitsuci, yang sesudah itu didirikan, akan menjadi pusat perbaktian bangsa itu.

Dari satu bangsa yang terdiri dari budak‑budak, Israel telah diangkat lebih tinggi daripada segala bangsa yang lain untuk menjadi harta yang terpilih dari Raja di atas segala raja. Allah telah mengasingkan mereka dari dunia ini, agar Ia dapat menyerahkan kepada mereka satu barang titipan yang suci. Ia telah menjadikan mereka penjaga hukum‑Nya dan Ia bermaksud, melalui mereka, untuk memelihara pengetahuan tentang Allah di antara umat manusia. Dengan demikian terang surga akan memancar kepada satu dunia yang diselimuti oleh kegelapan, dan satu suara harus terdengar untuk mengajak semua orang berpaling dari penyembahan berhala kepada pelayanan akan Allah yang hidup. Jikalau orang Israel mau setia kepada tugas yang dipercayakan kepada mereka itu, mereka akan menjadi satu kuasa di dalam dunia ini. Allah akan menjadi pembela mereka, dan Ia akan mengangkat mereka lebih tinggi dari bangsa‑bangsa yang lain. Terang dan kebenaran‑Nya akan dinyatakan melalui mereka, dan mereka akan berdiri teguh di bawah pemerintahan‑Nya yang suci dan bijaksana, sebagai satu contoh tentang keagungan daripada perbaktian kepada Allah yang melebihi segala bentuk penyembahan berhala.




Tidak ada komentar: