Jumat, 22 November 2013

MAZMUR 149

149:1Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh.
149:2Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka!
149:3Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi!
149:4Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.
149:5Biarlah orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur mereka!
149:6Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka,
149:7untuk melakukan pembalasan terhadap bangsa-bangsa, penyiksaan-penyiksaan terhadap suku-suku bangsa,
149:8untuk membelenggu raja-raja mereka dengan rantai, dan orang-orang mereka yang mulia dengan tali-tali besi,
149:9untuk melaksanakan terhadap mereka hukuman seperti yang tertulis. Itulah semarak bagi semua orang yang dikasihi-Nya. Haleluya!


28

Penyembahan Berhala di Sinai
-----------------
Pasal ini dialaskan atas Keluaran 32‑34.

Selama Musa tidak berada di antara mereka, bagi Israel hal itu merupakan satu waktu menunggu dengan rasa cemas. Orang banyak mengetahui bahwa ia telah naik ke atas gunung bersama Yusak dan telah memasuki awan tebal yang dapat dilihat dari tempat mereka tinggal, yang ada di puncak gunung itu, dan dari waktu ke waktu diterangi oleh kilat yang memancar dari hadirat Ilahi. Dengan penuh kerinduan mereka menunggu kembalinya Musa. Oleh karena selama berada di Mesir sudah terbiasa dengan ilah‑ilah yang diwakili dengan benda‑benda, maka sukarlah bagi mereka untuk berharap kepada satu oknum yang tidak kelihatan, dan selama ini mereka telah bergantung kepada Musa untuk menguatkan iman mereka. Sekarang ia telah diambil dari antara mereka. Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu tetapi Musa belum juga kembali. Sekali pun awan itu masih tampak, bagi orang banyak yang ada di tenda‑tenda itu seolah‑olah Musa telah meninggalkan mereka, atau telah dimusnahkan oleh api yang menghanguskan itu.

Selama waktu menunggu itu, sebenarnya ada kesempatan bagi mereka untuk merenung‑renungkan hukum Allah yang sudah mereka dengar itu, dan untuk menyediakan hati mereka untuk menerima kenyataan yang lebih jauh yang dapat diberikan‑Nya kepada mereka. Mereka tidak mengambil waktu untuk hal itu; dan andaikata mereka telah berusaha mencari pengertian yang lebih jelas akan tuntutan‑tuntutan Allah itu, dan merendahkan hati di hadapan‑Nya, mereka akan terlindung dari pencobaan. Tetapi mereka tidak melakukan hal ini, dan dengan segera mereka pun menjadi lalai, tidak berhati‑hati dan menjadi jahat. Hal ini terutama sekali terjadi di antara bangsa campuran itu. Mereka menjadi tidak sabar untuk berada dalam perjalanan menuju tanah Perjanjian itu--negeri yang berkelimpahan susu dan madu. Hanyalah dengan syarat penurutan bahwa negeri yang subur itu dijanjikan kepada mereka, tetapi mereka telah kehilangan pandangan akan hal ini. Ada beberapa yang mengusulkan agar kembali saja ke Mesir, tetapi apakah itu maju terus ke Kanaan atau kembali ke Mesir, orang banyak sudah bertekad tidak lagi mau menunggu akan Musa.


Merasa tidak berdaya oleh karena tidak hadirnya pemimpin mereka, mereka telah kembali kepada takhyul‑takhyul mereka yang dulu. Bangsa campuran itu adalah yang pertama‑tama telah bersungut‑sungut dan bersikap tidak sabar dan merekalah pemimpin dalam kemurtadan yang terjadi selanjutnya. Di antara benda‑benda yang dianggap oleh orang‑orang Mesir sebagai lambang ilah mereka adalah lembu atau anaknya, dan adalah atas anjuran mereka yang sudah pernah mempraktikkan bentuk penyembahan berhala ini di Mesir dimana sekarang telah dibuat dan disembah satu patung anak lembu. Orang banyak menghendaki satu patung untuk melambangkan Allah dan memimpin mereka sebagai pengganti Musa. Allah tidak pernah memberikan patung apa pun untuk menggambarkan diri‑Nya, dan Ia telah melarang dibuatnya patung‑patung untuk maksud itu. Mukjizat‑mukjizat yang hebat di Mesir dan di Laut Merah dimaksudkan untuk meneguhkan iman di dalam Dia sebagai Penolong Israel yang tidak kelihatan, dan yang Mahakuasa kuasa, satu‑satunya Allah yang benar. Dan keinginan untuk memperoleh satu pernyataan yang kelihatan akan hadirat‑Nya telah dikabulkan dalam tiang awan dan api yang telah memimpin mereka, dan juga dalam pernyataan kemuliaan‑Nya di gunung Sinai. Tetapi dengan awan Hadirat‑Nya yang masih tampak di hadapan mereka, mereka telah berpaling dalam hati mereka kepada penyembahan berhala di Mesir, dan menggambarkan kemuliaan Allah yang tidak kelihatan itu dengan patung seekor lembu!

Selagi Musa bepergian, wewenang pemerintahan telah dipercayakan kepada Harun, dan sekelompok orang banyak telah mengerumuni kemahnya, dengan tuntutan, "Mari, buatlah untuk kami Allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia." Awan itu, kata mereka, yang telah memimpin mereka sampai ke tempat itu, sekarang telah tinggal menetap di atas gunung, itu tidak akan lagi memimpin mereka dalam perjalanan. Mereka harus mempunyai sebuah patung sebagai penggantinya; dan jikalau, seperti telah diusulkan, mereka harus kembali ke Mesir, maka mereka akan memperoleh belas kasihan dari orang Mesir dengan membawa patung ini di hadapan mereka, dan mengakuinya sebagai dewa mereka.
Dalam kemelut seperti ini diperlukan orang yang teguh, yang berani mengambil keputusan, yang betul‑betul berani; seorang yang lebih mengutamakan kehormatan Allah lebih daripada untuk menjadi populer, lebih daripada keselamatan diri atau daripada hidup itu sendiri. Tetapi pemimpin Israel yang sekarang itu tidaklah mempunyai watak seperti itu. Harun dengan lembek memprotes tuntutan itu, tetapi kebimbangan serta perasaan takutnya pada saat yang kritis itu hanyalah membuat mereka menjadi lebih nekad lagi. Kekacauan semakin bertambah. Kegaduhan yang membabi‑buta dan tidak beralasan tampaknya menguasai orang banyak itu. Banyak yang setia atas perjanjian mereka dengan Allah, tetapi jauh lebih banyak orang‑orang yang menggabungkan diri dalam kemurtadan ini. Beberapa orang yang berani untuk menyatakan bahwa pembuatan patung seperti yang telah direncanakan itu adalah penyembahan berhala, telah diperlakukan dengan kasar dan di dalam kekacauan serta kegaduhan itu akhirnya mereka telah kehilangan nyawa.


Harun merasa takut akan keselamatan dirinya; dan gantinya berdiri teguh untuk kehormatan nama Tuhan, ia telah menyerah kepada tuntutan orang banyak. Tindakannya yang pertama adalah menyuruh agar anting‑anting emas dikumpulkan dari semua orang dan dibawa kepadanya, dengan mengharapkan bahwa kesombongan mereka akan menjadikan mereka enggan untuk mengadakan pengorbanan seperti itu. Tetapi dengan sukarela mereka telah menyerahkan perhiasan‑perhiasan mereka; dan dari benda‑benda ini ia telah membuat sebuah patung tuangan, yang menyerupai dewa Mesir. Orang banyak itu kemudian mengumumkan, "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau ke luar dari tanah Mesir." Dan Harun telah mengizinkan penghinaan yang keji ini terhadap Tuhan. Dan ia berbuat lebih dari itu. Melihat bagaimana puasnya orang banyak itu telah menerima dewa keemasan itu, ia telah mendirikan sebuah mezbah di hadapannya, serta memberikan satu pengumuman, "Besok hari raya bagi Tuhan." Pengumuman itu didahului oleh peniup‑peniup terompet dari satu kelompok kepada kelompok yang lain di seluruh perkemahan itu. "Maka pada keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi‑pagi, lalu dipersembahkannya korban bakaran dan dibawanya korban syukur pula, maka orang banyak itu pun duduklah makan minum, kemudian bangkitlah mereka berdiri hendak bermain ramai‑ramai. Dengan berpura‑pura mengadakan "satu upacara bagi Tuhan," mereka telah menyerahkan diri mereka kepada pesta pora yang gelojoh dan penuh nafsu.

Betapa sering, pada zaman kita ini, cinta kepelesiran ditutupi dengan satu "bentuk peribadatan"! Satu agama yang mengizinkan manusia, sementara mengadakan upacara kebaktian, untuk menyerahkan diri kepada pemanjaan hawa nafsu dan sifat mementingkan diri, adalah sangat menarik kepada orang banyak sekarang ini seperti pada zaman Israel itu. Dan hingga kini masih ada Harun‑harun yang lembek, yang, sementara menduduki jabatan yang berwenang di dalam sidang, akan menyerah kepada keinginan orang‑orang yang belum berserah, dan dengan demikian mendorong mereka berbuat dosa.

Baru beberapa hari saja berlalu semenjak orang‑orang Israel itu telah mengadakan satu janji yang khidmat dengan Allah untuk menurut Firman‑Nya. Mereka telah berdiri dengan penuh kegentaran di dekat gunung itu, sambil mendengar sabda Tuhan, "Jangan ada Allah lain di hadapan hadirat‑Ku." Kemuliaan Allah masih terlihat kepada mereka di atas gunung Sinai; tetapi mereka telah berpaling dan meminta akan dewa‑dewa yang lain. "Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput." Mazmur 106:19, 20. Tidak ada sikap tidak tahu berterimakasih yang lebih buruk daripada itu, atau penghinaan yang lebih keji daripada itu, yang dapat dinyatakan kepada Dia yang telah menyatakan diri‑Nya kepada mereka sebagai seorang Bapa yang lemah lembut dan sebagai seorang Raja yang Mahakuasa kuasa!

Musa yang berada di atas gunung telah diamarkan tentang kemurtadan yang terjadi di perkemahan itu, dan diperintahkan supaya kembali dengan segera. Allah bersabda, "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin ke luar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah." Allah sebenarnya dapat menghentikan pergerakan itu dari awalnya; tetapi Ia membiarkan hal itu berlaku sampai ke puncaknya agar Ia dapat memberikan pelajaran dalam hukuman‑Nya terhadap penggunaan dan kemurtadan.

Perjanjian Allah dengan umat‑Nya telah dibatalkan, dan Ia menyatakan kepada Musa, "Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." Bangsa Israel, terutama sekali bangsa campuran itu, akan senantiasa cenderung untuk memberontak terhadap Allah. Mereka juga bersungut‑sungut terhadap pemimpin mereka dan menduka‑citakan hatinya melalui sikap tidak percaya dan keras kepala, dan adalah satu tanggung jawab yang berat dan benar‑benar menguji jiwa seseorang untuk memimpin mereka terus sampai ke Tanah Perjanjian. Dosa‑dosa mereka telah meniadakan belas kasihan Allah kepada mereka dan keadilan menuntut agar mereka itu dibinasakan. Oleh sebab itu Allah bermaksud untuk membinasakan mereka dan menjadikan Musa sebagai satu bangsa yang berkuasa.

"Biarkanlah Aku . . .  Aku akan binasakan mereka," adalah sabda Allah. Jikalau Allah telah bermaksud untuk membinasakan Israel siapakah yang dapat memohon untuk dapat menyelamatkan mereka? Betapa sedikitnya orang yang enggan untuk membiarkan orang berdosa kepada nasib mereka! Betapa sedikitnya orang yang enggan untuk menukar satu tanggung jawab yang berat, sukar dan penuh pengorbanan, yang dibalas dengan persungutan dan sikap tidak berterima kasih dengan satu kedudukan yang empuk dan terhormat, pada saat dimana Allah sendiri yang menawarkannya.

Tetapi Musa dapat melihat adanya dasar pengharapan dimana seolah‑olah yang ada hanyalah kekecewaan dan murka. Firman Allah, "Biarkanlah Aku," ia tafsirkan bukan sebagai sesuatu yang melarang melainkan mendorong untuk diadakannya pembelaan, yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu kecuali doa Musa dapat menyelamatkan Israel, dan jikalau diminta dengan cara itu, maka Allah akan membiarkan umat‑Nya hidup. Ia menyembah sujud di hadapan hadirat Tuhan, Allahnya, sambil sembahnya: "Mengapakah, Tuhan, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa ke luar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?"

Allah telah menyatakan bahwa Ia menolak umat‑Nya. Ia telah mengatakan kepada Musa tentang mereka sebagai "bangsamu, yang engkau telah bawa keluar dari Mesir." Tetapi Musa dengan rendah hati menolak untuk mengaku bahwa ia adalah pemimpin Israel. Mereka bukanlah miliknya, melainkan milik Allah, "Umat-Mu, yang Engkau telah bawa keluar . . . dengan kuasa yang besar dan dengan tangan yang kuat. Oleh sebab itu," katanya, "orang Mesir akan berkata demikian: "Dengan niat jahat telah dihantarkannya mereka itu keluar, hendak dibunuhnya mereka itu di antara gunung‑gunung serta dibinasakannya mereka itu dari atas muka bumi?"

Selama beberapa bulan semenjak Israel meninggalkan Mesir, kabar tentang kelepasan mereka yang ajaib itu telah tersebar ke seluruh bangsa‑bangsa yang  ada di sekitarnya. Rasa takut akan datangnya malapetaka yang hebat memenuhi bangsa‑bangsa kafir. Semua orang mengamat‑amati apa yang akan diperbuat Allah orang Israel terhadap umat‑Nya. Jikalau mereka sekarang ini dibinasakan, musuh mereka akan menang, dan Allah akan dihinakan. Orang Mesir akan menyatakan bahwa tuduhan‑tuduhan mereka itu benar--gantinya memimpin umat‑Nya ke padang belantara untuk mempersembahkan korban, Ia telah menyebabkan mereka untuk dikorbankan. Mereka tidak akan mempertimbangkan dosa‑dosa Israel; kebinasaan daripada bangsa yang telah dipermuliakan‑Nya dengan nyata sekali akan mendatangkan kehinaan terhadap nama‑Nya. Betapa besar tanggung jawab yang tertanggung ke atas mereka yang telah dihormati Allah untuk menjadikan nama‑Nya dipuji di atas dunia ini! Kita harus tetap waspada agar jangan berbuat dosa, yang akan mendatangkan hukuman‑Nya, dan menyebabkan nama‑Nya dihina oleh orang kafir.


Apabila Musa mengadakan permohonan bagi Israel, rasa takutnya hilang ditelan oleh perhatian dan kasihnya yang dalam bagi mereka yang untuknya ia telah (di dalam tangan Allah) menjadi sebagai satu alat yang berbuat banyak perkara. Tuhan mendengar permohonannya itu, dan mengabulkan doanya yang tidak mementingkan diri itu. Allah telah menguji hamba‑Nya; Ia telah menguji kesetiaan dan kasihnya bagi bangsa yang bersalah dan tidak tahu berterima kasih itu, dan dengan agungnya Musa telah menjalani ujian itu. Perhatiannya terhadap Israel bersumber dari motif yang tidak mementingkan diri sendiri. Kemakmuran umat Allah baginya lebih berharga daripada kehormatan pribadi, lebih mahal daripada kesempatan untuk menjadi bapa dari satu bangsa yang berkuasa. Allah merasa senang dengan kesetiaannya, kerendahan hatinya dan ketulusan hatinya, dan Ia telah menyerahkan kepadanya sebagai seorang gembala yang setia, tugas yang besar untuk memimpin Israel menuju ke Tanah Perjanjian.

Apabila Musa dan Yusak turun dari atas gunung, Musa membawa "loh batu kesaksian itu," mereka mendengar pekikan dan teriakan orang banyak yang gaduh, rupanya mereka ada dalam keadaan hiruk pikuk. Kepada Yusak seorang serdadu, yang pertama terlintas dalam pikirannya adalah teriakan daripada musuh yang sedang menyerang. "Ada sorak orang berperang dalam balatentara," katanya. Tetapi Musa memberikan pertimbangan yang lebih tepat sehubungan dengan kegaduhan itu. Suara itu bukanlah bunyi peperangan tetapi suara orang yang sedang berpesta. "Bukan bunyi nyanyian kemenangan, bukan bunyi nyanyian kekalahan--bunyi orang menyanyi berbalas-balasan, itulah yang kudengar."

Apabila mereka berada lebih dekat dengan perkemahan mereka itu, mereka melihat orang banyak sedang berteriak‑teriak dan menari‑nari di sekeliling berhala mereka. Hal itu adalah satu pemandangan upacara kekafiran, satu perbuatan yang menyerupai upacara penyembahan berhala di Mesir; tetapi betapa jauh bedanya dengan perbaktian kepada Allah yang suasananya penuh hormat serta khidmat! Musa merasa heran. Ia baru saja keluar dari hadirat Allah yang penuh dengan kemuliaan, dan sekali pun ia telah diamarkan tentang apa yang sedang terjadi ia tidak bersedia untuk melihat pertunjukan yang hebat daripada kemerosotan Israel. Kemarahannya meluap‑luap. Untuk menunjukkan rasa jijiknya terhadap kejahatan mereka itu, ia melemparkan kedua loh batu itu, dan kedua‑duanya hancur di hadapan semua orang, dengan demikian itu mengartikan bahwa sebagaimana mereka telah menghancurkan perjanjian mereka dengan Allah, demikian juga Allah telah menghancurkan perjanjian‑Nya dengan mereka.

Apabila ia memasuki perkemahan itu, Musa melewati orang banyak yang sedang berpesta pora itu, kemudian ia mengambil berhala itu dan mencampakkannya ke dalam api. Setelah itu ia menggilingnya menjadi seperti tepung, dan setelah menghamburkannya ke dalam satu sungai yang mengalir dari atas gunung, ia menyuruh orang banyak meminum airnya. Dengan demikian ditunjukkan bagaimana sia‑sianya dewa yang mereka sembah itu.

Pemimpin besar itu memanggil saudaranya yang bersalah itu, dan dengan tegas menanyakan, "Engkau dipengapakan orang banyak ini maka engkau mendatangkan atasnya salah yang begitu besar?" Harun berusaha untuk membela dirinya dengan menceritakan desakan orang banyak; sehingga jikalau ia tidak mengabulkan keinginan mereka, maka ia akan dibunuh. Ia berkata, "Janganlah bangkit amarah tuanku; engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata. Mereka berkata kepadaku: Buatlah untuk kami Allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami ke luar dari tanah Mesir--kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia. Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan ke luarlah anak lembu ini." Ia mau membujuk Musa untuk mempercayai bahwa satu mukjizat telah terjadi--bahwa emas itu telah dilemparkan ke dalam api, dan oleh satu kuasa gaib telah berubah menjadi satu patung anak lembu. Tetapi dalih‑dalih serta keterangan palsunya itu tidak menolongnya. Dengan adil ia telah diperlakukan sebagai pemimpin kemurtadan itu.

Kenyataan bahwa Harun telah diberkati serta dihormati jauh lebih tinggi di atas orang banyak itulah yang justru menjadikan dosanya itu begitu keji. Adalah Harun, "orang kudus Tuhan" (Mazmur 106:16) yang telah membuat berhala itu dan mengumumkan pesta itu. Adalah dia yang telah diangkat sebagai jurubicara bagi Musa, dan tentang siapa Allah sendiri telah bersaksi, "Aku tahu, bahwa ia pandai bicara" (Keluaran 4:14) yang telah gagal untuk mencegah penyembah‑penyembah berhala itu di dalam maksud mereka yang bertentangan dengan surga. Ia yang Allah telah gunakan sebagai alat untuk menurunkan hukuman baik kepada orang Mesir dan juga kepada dewa‑dewa mereka tidak merasa apa‑apa pada waktu mendengar pengumuman di hadapan patung itu, "Hai orang Israel, inilah dewamu, yang telah membawa akan kamu keluar dari negeri Mesir." Adalah dia yang telah bersama‑sama dengan Musa di atas gunung dan telah melihat kemuliaan Tuhan, yang telah melihat bahwa di dalam penyataan‑penyataan kemuliaan itu tidak ada suatupun untuk mana satu patung dapat dibuat--dialah yang telah menukar kemuliaan itu menjadi satu patung yang menyerupai anak lembu. Ia, yang kepadanya Allah telah mempercayakan pemerintahan atas bangsa itu waktu ditinggalkan Musa telah kedapatan membenarkan pemberontakan mereka. "Maka akan Harun pun sangatlah murka Tuhan, sehingga hendak dibinasakan-Nya dia." Tetapi sebagai jawab terhadap doa Musa yang sungguh‑sungguh, hidupnya telah dipeliharakan; dan di dalam kerendahan hati satu pertobatan akan dosanya yang besar itu, ia telah diperkenankan Allah kembali.
Jikalau Harun mempunyai keberanian untuk berdiri bagi yang benar, dengan tidak mempedulikan akibatnya, maka ia akan dapat mencegah kemurtadan itu. Jikalau ia dengan teguh telah mempertahankan kesetiaannya sendiri kepada Allah, jikalau ia telah menunjukkan mereka kepada mara bahaya di Sinai dan telah mengingatkan mereka akan janji mereka yang khidmat kepada Allah untuk menurut hukum‑Nya, maka perbuatan jahat itu akan dapat dicegah. Tetapi persetujuannya terhadap keinginan orang banyak dan jaminan oleh mana ia telah memimpin untuk menjalankan rencana mereka telah memberanikan mereka untuk pergi lebih jauh dalam dosa daripada apa yang ada dalam pikiran mereka sebelumnya.


Pada waktu Musa, sekembalinya ke perkemahan, berhadapan dengan pemberontak‑pemberontak itu, tempelakan serta kemarahannya yang meluap‑luap yang ia nyatakan dengan menghancurkan loh batu hukum yang suci itu telah diperbandingkan dengan kata‑kata yang lemah lembut dari saudaranya, dan juga pembawaannya yang agung, dan orang banyak menaruh simpati kepada Harun. Untuk membenarkan dirinya, Harun telah berusaha untuk menjadikan orang banyak itu bertanggung jawab atas kelembekannya yang telah menyerah kepada tuntutan mereka; namun demikian, mereka dipenuhi dengan rasa kagum akan kesabaran serta kelemah‑lembutannya. Tetapi Allah melihat bukan seperti manusia melihat. Roh Harun yang mudah menyerah dan keinginannya untuk menyenangkan orang lain telah membutakan matanya terhadap kekejian kejahatan yang ia benarkan. Tindakannya dalam memberikan pengaruh untuk berbuat dosa di kalangan orang Israel telah menyebabkan tewasnya ribuan manusia. Betapa bedanya dengan tindakan Musa, yang, sementara dengan setia melaksanakan pehukuman Allah, telah menunjukkan bahwa kesejahteraan Israel baginya lebih berharga daripada kemakmuran, kehormatan ataupun nyawa.

Daripada segala macam dosa yang akan dihukum oleh Allah, tidak ada yang lebih keji pada pemandangan‑Nya daripada mereka yang mendorong orang lain untuk berbuat kejahatan. Allah mau agar hamba‑hamba‑Nya membuktikan kesetiaan mereka dengan menempelak pelanggaran bagaimanapun menyakitkannya tindakan tersebut. Mereka yang telah diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas Ilahi janganlah menjadi orang yang lemah, yang mudah digoyahkan oleh keadaan. Mereka janganlah bertujuan untuk meninggikan diri atau menghindarkan diri dari tanggung jawab yang tidak menyenangkan hati, melainkan melaksanakan pekerjaan Allah dengan kejujuran yang tak tergoyahkan.

Sekalipun Allah telah mengabulkan doa Musa dengan menghindarkan Israel dari kebinasaan, kemurtadan mereka harus dihukum dengan cara nyata. Pelanggaran dan pemberontakan ke dalam mana Harun telah membiarkan mereka jatuh, jikalau tidak segera dihancurkan akan menyebabkan merajalelanya kejahatan, dan akan melibatkan bangsa itu ke dalam kehancuran yang tidak akan dapat dielakkan lagi. Oleh kekerasan yang dahsyat, kejahatan harus dimusnahkan. Sambil berdiri di pintu gerbang perkemahan itu Musa telah memanggil orang banyak, "Siapakah yang memihak Tuhan? biarlah ia datang kepadaku." Mereka yang tidak ikut dalam kemurtadan harus berdiri di sebelah kanan Musa; mereka yang bersalah tetapi sudah bertobat, di sebelah kiri. Perintah itu diturut. Didapati bahwa suku bangsa Lewi tidak ambil bahagian dalam penyembahan berhala itu. Dari antara suku‑suku lainnya banyak yang, sekali pun mereka telah berdosa, sekarang menyatakan pertobatan mereka. Tetapi satu kelompok yang besar, kebanyakan dari bangsa campuran itu yang telah mendesak untuk dibuatnya patung itu, dengan keras kepala tetap bertahan dalam pemberontakan mereka. Di dalam nama "Tuhan Allah Israel," Musa sekarang memerintahkan mereka yang ada di sebelah kanannya, yang telah memelihara diri mereka bersih daripada penyembahan berhala, untuk menghunus pedangnya dan membunuh semua orang yang berkeras dalam pemberontakan. "Pada hari itu tewaslah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu." Tanpa memandang pangkat, suku bangsa atau pun sahabat, pemimpin‑pemimpin dalam kejahatan itu dibinasakan; tetapi semua orang yang bertobat dan merendahkan diri telah dibiarkan hidup.


Mereka yang melaksanakan pekerjaan pehukuman yang hebat itu bertindak atas wewenang Ilahi, menjalankan hukuman dari Raja surga. Manusia harus berhati‑hati bagaimana mereka, dalam kebutaan mereka sebagai manusia, menghakimkan dan menghukumkan sesama mereka; tetapi bilamana Allah memerintahkan mereka untuk melaksanakan hukum‑Nya terhadap kejahatan, Ia harus diturut. Mereka yang menjalankan pekerjaan yang menyakitkan ini, dengan demikian menyatakan rasa muak mereka terhadap pemberontakan dan penyembahan berhala, dan menyerahkan diri mereka dengan lebih sempurna kepada pelayanan akan Allah yang benar. Tuhan menghormati kesetiaan mereka oleh menganugerahkan kedudukan yang istimewa kepada suku bangsa Lewi.

Bangsa Israel telah bersalah dengan berbuat pengkhianatan dan melawan seorang Raja yang telah memberikan kepada mereka hal‑hal yang menguntungkan, dan yang wewenang‑Nya mereka akan turut sesuai dengan janji yang mereka adakan dengan sukarela. Agar pemerintahan Ilahi dapat dipertahankan, keadilan harus dinyatakan kepada pengkhianat‑pengkhianat itu. Namun demikian pada saat itu rahmat Allah juga dinyatakan. Sementara Ia mempertahankan hukum‑Nya, Ia memberikan kebebasan untuk memilih dan kesempatan untuk bertobat bagi semua. Hanya mereka yang berkeras dalam pemberontakan telah dibinasakan.

Perlu dosa ini dihukum, sebagai satu kesaksian kepada bangsa‑bangsa di sekelilingnya tentang kebencian Allah terhadap penyembahan berhala. Oleh menjalankan keadilan terhadap yang bersalah, Musa, sebagai alat Allah, harus mencatat satu protes yang bersifat umum serta khidmat terhadap kejahatan mereka. Apabila di kemudian hari bangsa Israel harus menghukumkan penyembahan berhala yang dilakukan oleh bangsa‑bangsa di sekitarnya, musuh‑musuh mereka akan melemparkan kepada mereka tuduhan bahwa bangsa yang mengaku Tuhan sebagai Allah mereka telah membuat patung seekor lembu dan menyembahnya di Horeb. Kemudian walau pun harus mengakui kenyataan yang menghinakan mereka itu, Israel dapat menunjukkan nasib yang mengerikan dari orang‑orang yang melanggar, sebagai bukti bahwa dosa mereka tidak dibenarkan atau dimaafkan.

Kasih tidak berbeda halnya dengan keadilan menuntut agar terhadap dosa ini dijatuhkan hukuman. Allah adalah pelindung sebagaimana juga pemerintah dari umat‑Nya. Ia membinasakan mereka yang bertahan dalam pemberontakan, agar mereka tidak menuntun orang lain ke dalam kehancuran. Dengan membiarkan Kain hidup, Allah telah menunjukkan kepada alam semesta apa akibatnya bilamana dosa dibiarkan tanpa menerima hukuman. Pengaruh yang telah diberikannya kepada keturunannya melalui kehidupan dan pengajarannya telah memimpin mereka kepada satu keadaan yang penuh kejahatan sehingga harus dibinasakannya dunia ini oleh air bah. Sejarah sebelum zaman air bah menyaksikan bahwa umur panjang bukanlah satu berkat kepada orang berdosa; panjang sabar Allah tidak menghapuskan kejahatan mereka. Lebih lama manusia hidup, lebih jahat lagi mereka jadinya.


Demikian pula dengan kemurtadan di Sinai. Kecuali dengan segera hukuman dijatuhkan ke atas pelanggaran, maka akibat‑akibat yang sama akan terlihat kembali. Bumi ini akan sama jahatnya seperti pada zaman Nuh. Jikalau orang‑orang yang melanggar ini telah dibiarkan hidup, kejahatan‑kejahatan akan mengikutinya, yang lebih besar daripada apa yang telah diakibatkan oleh dibiarkannya Kain hidup. Adalah merupakan rahmat Allah dimana ribuan orang harus menderita, untuk mencegah diturunkannya hukuman ke atas jutaan manusia. Agar supaya menyelamatkan orang banyak itu, Ia harus menghukum yang sedikit. Lebih jauh lagi, apabila orang banyak telah memutuskan kesetiaannya kepada Allah, mereka kehilangan perlindungan Ilahi, dan dengan hilangnya perlindungan mereka itu maka seluruh bangsa itu terbuka kepada kuasa daripada musuh mereka. Andaikata kejahatan tidak segera dilenyapkan, maka mereka segera akan menjadi mangsa daripada musuh mereka yang banyak dan kuat itu. Adalah perlu demi untuk kebaikan Israel, dan juga sebagai satu pelajaran kepada generasi‑generasi mendatang, bahwa kejahatan harus dihukum dengan segera. Dan adalah merupakan rahmat Allah kepada orang berdosa bahwa mereka itu harus dibinasakan dalam kejahatan mereka. Kalau mereka dibiarkan hidup, maka Roh yang sama yang telah memimpin mereka untuk memberontak terhadap Allah akan tetap nyata dalam kebencian serta perkelahian di antara mereka sendiri, dan akhirnya mereka akan saling membunuh satu dengan yang lainnya. Adalah dalam rasa kasih kepada dunia ini, kasih kepada Israel dan bahkan kasih kepada orang‑orang yang melanggar itu dimana kejahatan telah dihukum dengan segera dan dengan hebat.

Apabila bangsa itu mulai menyadari kejinya kesalahan mereka, kegentaran memenuhi segenap perkemahan itu. Dikhawatirkan bahwa setiap orang yang telah berbuat kesalahan itu akan dibinasakan. Merasa kasihan atas kesusahan mereka itu, Musa berjanji akan memohon sekali lagi kepada Allah demi mereka.

Ia berkata, "Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap Tuhan, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu." Ia pun pergilah dan di dalam pengakuannya di hadapan Allah ia berkata, "Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat Allah emas bagi mereka. Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni mereka--dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis." Jawab-Nya adalah, "Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku. Tetapi pergilah sekarang, tuntunlah bangsa itu ke tempat yang telah Kusebutkan kepadamu; akan berjalan malaikat-Ku di depanmu, tetapi pada hari pembalasan-Ku itu Aku akan membalaskan dosa mereka kepada mereka."

Di dalam doa Musa pikiran kita diarahkan kepada catatan‑catatan surga dimana nama‑nama semua orang ditulis dan perbuatan mereka, yang baik atau jahat, dicatat dengan teliti. Buku alhayat berisi nama‑nama dari semua orang yang pernah memasuki pelayanan akan Allah. Jikalau seseorang dari antara mereka ini berpaling daripada‑Nya, kemudian berkeras kepala dalam dosa sehingga akhirnya tidak dapat lagi dipengaruhi oleh Roh Kudus, maka nama‑nama mereka di dalam pehukuman akan dihapuskan dari buku alhayat itu, dan mereka sendiri akan dibiarkan binasa. Musa menyadari betapa ngerinya nasib orang berdosa itu; tetapi jikalau bangsa Israel akan ditolak oleh Tuhan, ia menghendaki agar namanya bersama‑sama dengan nama mereka dihapuskan dari buku alhayat itu; ia tidak tahan untuk melihat hukuman Allah dijatuhkan ke atas mereka yang dengan penuh kemurahan telah dibebaskan. Pekerjaan Musa sebagai pengantara untuk bangsa Israel merupakan gambaran dari pekerjaan Kristus sebagai pengantara bagi umat manusia yang berdosa. Tetapi Tuhan tidak mengizinkan Musa untuk menanggung, sebagaimana halnya Kristus, kesalahan orang‑orang yang melanggar itu. Ia berkata, "Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku."


Dengan rasa duka yang dalam bangsa itu telah menguburkan orang‑orang yang telah dibinasakan itu. Tiga ribu orang telah binasa oleh pedang; segera setelah itu satu bala telah datang ke seluruh perkemahan itu; dan sekarang tersiar kabar di antara mereka bahwa Hadirat Ilahi tidak lagi akan menyertai mereka di dalam perjalanan mereka itu. Tuhan telah mengumumkan, "Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan." Dan perintah diberikan, "Oleh sebab itu, tanggalkanlah perhiasanmu, maka Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepadamu." Kini rasa murung memenuhi segenap perkemahan itu. Dengan rendah hati dan pertobatan "demikianlah orang Israel tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi sejak dari gunung Horeb."

Oleh perintah Ilahi kemah yang telah digunakan sebagai satu tempat kebaktian yang sementara telah "dipindahkan jauh dari perkemahan mereka." Hal ini merupakan satu bukti yang lebih jauh bahwa Allah telah menarik hadirat‑Nya dari mereka. Ia akan menyatakan diri‑Nya kepada Musa, tetapi tidak kepada bangsa yang seperti itu. Tempelakan ini benar‑benar terasa, dan kepada perhimpunan yang terhukum oleh hati nurani mereka itu hal ini seolah‑olah satu pertanda akan datangnya malapetaka yang lebih hebat. Bukankah Tuhan telah memisahkan Musa dari perhimpunan itu agar Ia dapat membinasakan mereka semua? Tetapi mereka tidak dibiarkan tanpa pengharapan. Kemah itu didirikan di luar perkemahan mereka, tetapi Musa menamainya "kemah perhimpunan." Semua orang yang benar‑benar bertobat dan ingin kembali kepada Tuhan, diperintahkan pergi ke sana untuk mengaku dosa‑dosa mereka dengan mencari rahmat‑Nya. Apabila mereka kembali ke kemah‑kemah mereka, Musa memasuki kemah itu. Dengan perhatian yang dalam bangsa itu menantikan tanda‑tanda bahwa pekerjaan Musa sebagai pengantara mereka telah diterima. Jikalau Allah turun untuk menemui dia, maka mereka dapat mengharapkan bahwa mereka tidak akan dibinasakan. Bilamana tiang awan itu turun dan berdiri di pintu masuk kemah itu; orang banyak menangis karena gembiranya dan mereka pun "bangun dan sujud menyembah, masing-masing di pintu kemahnya."

Musa mengetahui dengan baik akan kekerasan hati dan keadaan yang buta dari mereka yang telah dipercayakan kepada penjagaannya; ia mengetahui kesulitan‑kesulitan yang harus dihadapinya. Tetapi ia telah belajar bahwa supaya ia menang terhadap orang banyak itu, ia harus mendapat pertolongan dari Allah. Ia memohon untuk kenyataan yang lebih jelas akan kehendak Allah, dan juga satu jaminan akan kehadiran‑Nya: "Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku. Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu."


Jawab‑Nya adalah, "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu." Tetapi Musa belum merasa puas. Jiwanya tertekan oleh satu perasaan akan datangnya akibat yang dahsyat seandainya Tuhan membiarkan Israel kepada kekerasan hati serta keadaan mereka yang tidak bertobat. Ia tidak dapat menanggung derita jikalau kesejahteraannya itu dipisahkan dari kesejahteraan saudara‑saudaranya, dan ia pun berdoa agar umat‑Nya dapat diperkenankan‑Nya kembali, dan agar tanda dari hadirat‑Nya itu tetap memimpin perjalanan mereka: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini."

Dan Tuhan berkata, "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau." Tetap nabi itu melanjutkan doanya. Setiap doa telah dijawab tetapi ia merasa haus akan tanda‑tanda yang nyata akan kemurahan Tuhan. Sekarang ia mengajukan satu permohonan yang belum pernah dilakukan oleh manusia.

"Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku."
Allah tidak menempelak permohonannya ini sebagai satu tindakan yang gegabah; melainkan kata‑kata yang penuh rahmat telah diucapkan, "Bahwa aku akan menjalankan segala kebajikanku lalu daripada matamu." Kemuliaan Allah yang tidak terlindung, tidak seorang pun dalam keadaannya yang fana dapat melihatnya dan tinggal hidup; tetapi Musa diberi jaminan bahwa ia akan melihat seberapa banyak dari kemuliaan Allah yang sanggup untuk dilihatnya. Kembali ia dipanggil ke puncak gunung; kemudian tangan yang telah menjadikan dunia ini, "Dialah yang memindahkan gunung-gunung dengan tidak diketahui orang," (Ayub 9:5), telah membawa makhluk yang terbuat dari tanah itu, manusia yang teguh imannya itu, dan menempatkannya di satu celah batu karang, sementara kemuliaan Allah dan segala kebajikan‑Nya berlalu di hadapannya.

Pengalaman ini--di atas segala sesuatu yang lainnya janji bahwa Hadirat Ilahi akan menyertainya--bagi Musa merupakan satu jaminan sukses daripada pekerjaan yang ada di hadapannya; dan ia menilainya jauh lebih berharga daripada segala ilmu pengetahuan Mesir atau pun segala hasil yang telah dicapainya sebagai seorang ahli kenegaraan dan seorang pemimpin kemiliteran. Tidak ada kekuasaan, keahlian atau ilmu pengetahuan duniawi yang dapat menggantikan hadirat Allah yang menyertai seseorang. Bagi orang yang melanggar adalah satu perkara yang menakutkan untuk jatuh ke tangan Allah yang hidup; tetapi Musa berdiri sendirian di dalam hadirat Yang Kekal itu, dan ia tidak merasa takut; karena jiwanya selaras dengan kehendak Khaliknya. Kata pemazmur, "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar." Mazmur 66:18; Tetapi "Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." Mazmur 25:14.

Tuhan menyatakan diri‑Nya sendiri, "Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman."

"Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah." Kembali ia memohon agar Allah mau mengampuni kejahatan umat‑Nya. Doanya dikabulkan. Dengan penuh kemurahan Allah berjanji untuk memperkenankan Israel kembali dan akan mengadakan keajaiban bagi mereka seperti yang belum pernah terjadi "di seluruh bumi di antara segala bangsa."

Empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya Musa tinggal di atas gunung; dan selama waktu ini, sebagaimana yang pertama itu, dengan secara ajaib ia telah dikuatkan. Tidak seorang pun diizinkan untuk naik bersama dengan dia ataupun diizinkan untuk mendekati gunung itu selama ia tidak berada bersama dengan mereka. Atas perintah Allah ia telah menyediakan dua loh batu dan membawanya ke puncak gunung; dan sekali lagi Tuhan "telah menuliskan di atas kedua loh batu itu kata‑kata perjanjian itu, yaitu Sepuluh Hukum."

Selama waktu yang lama yang digunakan untuk berhubungan dengan Allah, wajah Musa telah memantulkan kemuliaan dari Hadirat Ilahi; dengan tidak diketahuinya wajahnya bersinar dengan terangnya pada waktu ia turun dari gunung itu. Terang seperti itu telah menerangi wajah Stefanus pada waktu dibawa menghadap kepada hakim‑hakimnya, "Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat." Kisah 6:15. Harun sebagaimana orang banyak itu, undur dari Musa dan "takutlah mereka mendekati dia." Melihat kekacauan serta kegentaran mereka, tanpa mengetahui sebabnya, ia mengajak mereka supaya datang dekat. Ia menunjukkan kepada mereka janji daripada perdamaian Allah, dan memberikan jaminan kepada mereka bahwa mereka telah diperkenankan Allah kembali. Terlalu takut untuk berkata‑kata, Harun dengan diam‑diam telah menunjuk kepada wajah Musa dan kemudian menunjuk ke atas. Musa mengerti maksudnya itu. Di dalam kesadaran bahwa mereka telah bersalah, dan merasa bahwa mereka masih berada di bawah murka Allah, mereka tidak tahan terhadap terang surga itu, yang kalau saja mereka tetap menurut kepada Allah, akan memenuhi mereka dengan kesukaan. Ada ketakutan di dalam perasaan bersalah. Jiwa yang bebas daripada dosa tidak akan mau bersembunyi dari terang surga.

Musa mempunyai banyak hal untuk disampaikan kepada mereka; dan karena merasa kasihan terhadap mereka yang ketakutan itu, ia telah menudungi mukanya, dan terus berbuat demikian setiap kali ia kembali ke kemahnya setelah berhubungan dengan Allah.

Melalui terang yang menyilaukan itu Allah bermaksud untuk memberi kesan kepada Israel tentang sifat‑sifat hukum‑Nya yang suci dan agung itu. Sementara Musa berada di atas gunung, Allah memberikan kepadanya bukan saja kedua loh batu yang berisi hukum itu, tetapi juga rencana keselamatan. Ia melihat bahwa pengorbanan Kristus telah digambarkan lebih dulu oleh segala lambang‑lambang pada zaman orang Yahudi; dan terang surga yang memancar dari bukit Golgota, yang tidak kurang daripada kemuliaan Allah itu, yang telah memancar dengan terangnya kepada wajah Musa. Terang Ilahi itu melambangkan kemuliaan daripada zaman dimana Musa merupakan sebagai pengantara yang kelihatan, satu gambaran daripada Pengantara yang benar itu.

Kemuliaan yang terpantul di dalam wajah Musa menggambarkan berkat‑berkat yang akan diterima oleh umat Allah yang menurut hukum‑hukum‑Nya melalui pengantaraan Kristus. Hal ini menyaksikan bahwa lebih erat hubungan kita dengan Allah, dan lebih jelas pengetahuan kita akan tuntutan‑tuntutan‑Nya itu, maka kita akan lebih sempurna dalam menyerupai peta Ilahi, dan kita akan lebih bersedia untuk mengambil bagian dalam sifat‑sifat Ilahi.


Musa adalah satu lambang daripada Kristus. Sebagaimana pengantar Israel itu menudungi wajahnya, oleh karena orang banyak itu tidak tahan untuk melihat kemuliaannya, demikian juga Kristus, Pengantara Ilahi itu menudungi keilahian‑Nya dengan kemanusiaan pada waktu datang ke dunia ini. Jikalau Ia telah datang disertai oleh kemuliaan surga, ia tidak akan dapat mendekati manusia dalam keadaannya yang berdosa. Mereka tidak akan tahan terhadap kemuliaan hadirat‑Nya. Oleh sebab itu Ia telah merendahkan diri‑Nya, dan dijadikan "serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa." (Roma 8:3), agar Ia dapat menjangkau umat manusia yang berdosa itu. dan mengangkatnya.



Tidak ada komentar: