Minggu, 24 November 2013

Mengenai persembahan khusus

Keluaran 25:1-9
25:1Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
25:2"Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu.
25:3Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga;
25:4kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing;
25:5kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga;
25:6minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian,
25:7permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.
25:8Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.
25:9Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya."


30

Baitsuci dan Upacara-upacara
---------------
Pasal ini dialaskan atas Keluaran 25‑40; Imamat 4 dan 16.

Perintah telah disampaikan kepada Musa pada waktu berada di atas gunung bersama Allah, "Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka," dan petunjuk‑petunjuk yang sepenuhnya telah diberikan untuk mendirikan baitsuci itu. Oleh kemurtadan mereka, bangsa Israel telah kehilangan berkat dari Hadirat Ilahi, dan untuk jangka waktu yang tertentu mustahil untuk didirikannya sebuah baitsuci bagi Allah di antara mereka. Tetapi setelah mereka diperkenankan kembali oleh surga, maka pemimpin besar itu menyuruh untuk melaksanakan perintah Ilahi.

Orang‑orang yang dikaruniai Allah dengan keahlian dan hikmat telah dipilih untuk mendirikan bangunan yang suci itu. Allah Sendiri telah memberikan kepada Musa rencana bangunan itu, dengan petunjuk‑petunjuk yang terperinci tentang ukuran dan bentuknya, bahan‑bahan yang harus digunakan dan setiap perkakas yang harus ada di dalamnya. Tempat‑tempat yang suci yang dibuat oleh tangan manusia ini harus menjadi "gambaran dari yang sebenarnya," "lambang apa yang ada di surga," (Ibrani 9:24, 23)satu penampilan dalam bentuk kecil dari baitsuci surga dimana Kristus, Imam Besar kita, setelah mempersembahkan hidup‑Nya sebagai satu korban, akan melayani demi untuk orang yang berdosa. Allah menunjukkan kepada Musa di atas gunung itu satu penglihatan akan baitsuci surga, dan memerintahkannya untuk membuat segala sesuatunya sesuai dengan pola yang ditunjukkan kepadanya. Segala petunjuk‑petunjuk ini dengan saksama dicatat oleh Musa, yang kemudian telah menyampaikannya kepada pemimpin‑pemimpin bangsa itu.

Untuk pembangunan baitsuci itu persiapan‑persiapan yang mahal dan banyak diperlukan, bahan‑bahan yang paling mahal dan berharga dalam jumlah yang besar harus disediakan; namun demikian Tuhan hanya menerima persembahan sukarela. "Dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu," adalah perintah Ilahi yang diulangi oleh Musa kepada perhimpunan itu. Penyerahan kepada Allah dan satu Roh pengorbanan adalah syarat‑syarat pertama dalam mempersiapkan satu tempat tinggal bagi Yang Mahatinggi.

Semua orang dengan serentak memberikan jawabnya. "Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada Tuhan untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa antinng-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi Tuhan."


"Juga setiap orang yang mempunyai kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit lumba-lumba, datang membawanya. Setiap orang yang hendak mempersembahkan persembahan khusus dari perak atau tembaga, membawa persembahan khusus yang kepada Tuhan itu, dan setiap orang yang mempunyai kayu penaga membawanya juga untuk segala pekerjaan mendirikan itu. Setiap perempuan yang ahli, memintal dengan tangannya sendiri dan membawa yang dipintalnya itu, yakni kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus. Semua perempuan yang tergerak hatinya oleh karena ia berkeahlian, memintal bulu kambing.."

"Pemimpin-pemimpin membawa permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada, rempah-rempah dan minyak untuk penerangan, untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian." Keluaran 35:21‑28.

Sementara pembangunan baitsuci itu sedang berlangsung, orang banyak itu, tua dan muda--laki‑laki, perempuan dan anak‑anak--tetap memberikan persembahan mereka, sampai mereka yang mengawasi pekerjaan itu mendapati bahwa jumlah pemberian itu sudah cukup, bahkan melebihi daripada apa yang dapat mereka gunakan. Dan Musa menyuruh untuk mengumumkan ke seluruh perhimpunan itu, "Baik orang laki‑laki baik orang perempuan, jangan lagi susah akan membawa persembahan tatangan kepada tempat yang suci itu! Maka demikianlah orang banyak itu ditahani daripada membawa akan dia lagi." Persungutan bangsa Israel dan diturunkannya hukuman Allah oleh sebab dosa‑dosa mereka telah dicatat sebagai satu amaran kepada generasi‑generasi mendatang. Dan pengabdian, semangat dan kedermawanan hati mereka, adalah satu teladan yang patut untuk dicontoh. Semua orang yang mengasihi perbaktian kepada Allah dan menghargai berkat hadirat‑Nya yang suci akan menyatakan Roh pengorbanan yang sama dalam menyediakan satu rumah dimana Ia dapat bertemu dengan mereka. Mereka mau membawa kepada Tuhan satu persembahan yang terbaik yang mereka miliki. Sebuah rumah yang dibangun bagi Allah janganlah dibiarkan dalam keadaan berutang oleh karena dengan cara itu Ia dihinakan. Satu jumlah yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan itu harus diberikan dengan sukarela, agar pekerja‑pekerja itu dapat juga berkata, seperti pembangun‑pembangun baitsuci itu, "Jangan bawa lagi persembahan."


Baitsuci itu dibuat sedemikian rupa bentuknya sehingga itu dapat dipisah‑pisahkan bagian‑bagiannya dan dapat dibawa oleh bangsa Israel dalam perjalanan mereka. Oleh sebab itu ukurannya kecil, panjangnya tidak lebih dari lima puluh lima kaki, lebar dan tingginya masing‑masing delapan belas kaki. Tetapi itu merupakan satu bangunan yang megah. Kayu yang digunakan untuk bangunan ini dan perkakasnya adalah kayu pohon penaga, yang lebih tahan terhadap kebusukan dibandingkan dengan kayu‑kayu lain yang dapat diperoleh di Sinai. Dinding‑dindingnya terdiri dari papan yang tegak lurus, yang didirikan di atas alas kakinya yang terbuat dari perak, dan dikukuhkan oleh tiang‑tiang dan kayu‑kayu palang yang menghubungkan satu dengan yang lainnya; dan semuanya ini harus dilapisi dengan mas, sehingga bangunan itu akan kelihatan seperti seluruhnya terbuat dari mas. Atapnya dibuat dari empat lapis kain, yang paling dalam terbuat dari "kain lenan halus yang dipintal benangnya dan yang berwarna biru laut, ungu dan kirmizi; dengan ada kerubnya, buatan ahli‑ahli tenun," ketiga lapisan lainnya berturut‑turut adalah yang terbuat dari bulu kambing, dari kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit singa laut, yang disusun sedemikian rupa sehingga memberikan perlindungan yang sempurna.

Bangunan itu dibagi menjadi dua ruangan oleh sehelai tirai yang indah dan mahal yang digantungkan kepada tiang‑tiang yang berlapis mas; dan satu tirai yang sama menutup pintu masuk ke ruangan yang pertama. Semuanya ini, seperti penutup‑penutup yang di bagian dalam yaitu langit‑langitnya, haruslah diberi corak warna yang paling indah, biru ungu dan darah kirmizi, yang diatur dengan indah, dan juga gambar‑gambar kerubium yang terbuat dari benang mas dianyamkan ke tirai itu untuk menggambarkan bala tentara malaikat yang berhubungan dengan pekerjaan baitsuci surga, dan yang juga merupakan Roh‑Roh yang melayani kepada umat Allah di dunia ini.

Kemah suci ini ditempatkan di atas satu lapangan yang terbuka yang disebut halaman  yang dikelilingi oleh helaian‑helaian kain halus yang bergantung pada tiang tembaga. Pintu masuk ke halaman ini ada di sebelah timur. Ini ditutupi oleh tirai‑tirai yang terbuat dari bahan‑bahan yang mahal buatan orang ahli, sekalipun tidak seindah seperti yang ada di dalam baitsuci itu. Oleh karena tinggi tirai‑tirai yang menutupi halaman baitsuci itu hanya setengahnya saja daripada tinggi dinding‑dinding baitsuci, maka bangunan baitsuci itu dengan jelas dapat dilihat oleh orang banyak dari luar. Di dalam halaman baitsuci itu, dekat sekali dengan pintu masuk, terdapat mezbah korban bakaran yang terbuat dari tembaga. Di atas mezbah ini dibakar segala korban‑korban itu oleh api bagi Tuhan dan tanduknya dipercik oleh darah tebusan itu. Di antara mezbah dan pintu baitsuci itu terdapat sebuah bejana kuningan yang terbuat dari cermin yang telah diberikan oleh kaum wanita Israel sebagai persembahan sukarela. Pada bejana ini imam‑imam harus membasuh tangan dan kaki mereka apabila mereka masuk ke dalam ruangan‑ruangan yang suci itu, atau pergi ke mezbah untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan.


Di dalam ruangan yang pertama, atau ruangan yang suci, terdapat meja roti sajian, kaki dian dan mezbah pedupaan. Meja roti sajian ada di sebelah utara. Dengan mahkota hiasannya meja ini dilapisi oleh mas murni. Di atas meja ini imam tiap hari Sabat harus menaruh dua belas potong roti yang disusun dalam dua baris, dan dipercik dengan kemenyan. Roti‑roti yang diambil dari meja ini oleh karena dianggap suci harus dimakan oleh imam-imam. Di sebelah Selatan terdapat kaki dian yang bercabang tujuh dengan Ketujuh lampunya. Cabang‑cabangnya dihiasi dengan bunga yang dibuat dengan indah sekali menyerupai bunga badam dan seluruhnya terbuat dari satu batang mas. Oleh karena baitsuci itu tidak berjendela maka lampu‑lampu ini tidak pernah dipadamkan semuanya pada waktu yang sama, tetapi memancarkan terangnya siang dan malam. Tepat di hadapan tirai yang memisahkan ruangan yang suci dengan ruangan yang Mahasuci dan dekat sekali dengan hadirat Allah terdapat mezbah pedupaan yang terbuat dari mas. Di atas mezbah ini imam harus membakar kemenyan setiap pagi dan petang, tanduk‑tanduknya harus diolesi dengan darah korban karena dosa, dan itu akan dipercik dengan darah pada hari Grafirat yang besar. Api di atas mezbah ini dinyalakan oleh Allah sendiri dan dianggap suci. Siang dan malam pedupaan yang suci ini menyebarkan bau yang harum semerbak ke seluruh ruangan‑ruangan suci itu dan juga keluar, jauh di sekeliling baitsuci itu.

Di balik tirai yang di sebelah dalam itu terdapat ruangan yang Mahasuci suci, dimana terpusat semua upacara penebusan dan pengantaraan yang bersifat simbolis itu, dan yang menjadi mata rantai penghubung antara surga dan dunia. Di dalam ruangan ini terdapat peti perjanjian, sebuah peti yang terbuat dari kayu penaga, luar dan dalamnya dilapisi emas, dan di atasnya terdapat mahkota emas. Itu dibuat untuk menjadi tempat menyimpan kedua loh batu, di atas mana Tuhan sendiri telah menuliskan Hukum Sepuluh. Oleh sebab itu peti ini disebut peti wasiat Allah atau peti perjanjian, oleh karena Hukum Sepuluh itu adalah dasar daripada perjanjian yang diadakan antara Allah dan Israel.

Penutup peti yang suci ini disebut tutupan pendamaian. Ini dibuat dari satu mas batangan dan di atasnya terdapat kerub keemasan, masing‑masing berdiri di ujung‑ujungnya. Satu sayap dari masing‑masingnya terjulur ke atas sementara sayap yang lain terlipat pada tubuhnya (lihat Yehezkiel 1: 11) sebagai tanda hormat dan rendah hati. Letak kerub ini, dengan muka yang saling berhadapan, dan memandang ke bawah dengan penuh hormat kepada peti perjanjian itu, menggambarkan sikap hormat oleh mana segenap penghuni surga memandang kepada hukum Allah dan perhatian mereka di dalam rencana penebusan itu.

Di atas tutupan pendamaian itu terdapat Shekinah, pernyataan daripada Hadirat Ilahi; dan dari antara kerub ini Allah menyatakan kehendak‑Nya. Pesan‑pesan Ilahi kadang‑kadang disampaikan kepada imam besar oleh satu suara dari awan. Kadang‑kadang seberkas cahaya terpancar ke atas malaikat yang di sebelah kanan yang mengartikan persetujuan atau penerimaan, atau segumpal awan turun ke atas malaikat yang di sebelah kiri yang menyatakan tidak setuju atau penolakan.

Hukum Allah yang disimpan di dalam peti itu adalah undang‑undang yang besar dari kebenaran dan pehukuman. Hukum itu menuntut hukuman mati terhadap orang‑orang yang melanggar; tetapi di atas hukum itu terdapat tutupan pendamaian, di atas mana hadirat Allah dinyatakan dan dari mana, oleh jasa penebusan, keampunan diberikan kepada orang berdosa yang bertobat. Dengan demikian, di dalam pekerjaan Kristus bagi penebusan kita, yang dilambangkan oleh upacara‑upacara baitsuci ini, "kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium‑ciuman." Mazmur 85:11.

Tidak ada bahasa yang dapat menggambarkan kemuliaan daripada pemandangan yang ditampilkan di dalam baitsuci dinding‑dinding yang dilapisi emas memantulkan terang dari kaki dian emas itu, warna‑warna yang cemerlang dari tirai‑tirai yang dihias dengan megahnya dengan malaikat-malaikatnya yang berkilauan, meja itu, mezbah pedupaan, yang berkilauan dengan mas; di balik tirai yang kedua, tabut perjanjian itu dengan kerub yang mistik dan di atasnya Shekinah yang suci, pernyataan hadirat Tuhan yang kelihatan; semuanya ini hanyalah merupakan pantulan yang samar daripada kemuliaan baitsuci Allah yang di surga, pusat pekerjaan penebusan manusia.


Satu jangka waktu kurang lebih setengah tahun telah digunakan untuk mendirikan baitsuci ini. Setelah selesai, Musa memeriksa semua pekerjaan pembangun‑pembangun itu, sambil membandingkannya dengan pola yang ditunjukkan kepadanya di atas gunung, dan dengan petunjuk‑petunjuk yang ia terima dari Allah. "Sebagaimana yang Allah telah perintahkan, begitulah mereka telah melaksanakannya: dan Musa pun memberkati mereka." Dengan perhatian yang dalam bangsa Israel berhimpun di sekelilingnya untuk melihat bangunan yang suci itu. Sementara mereka sedang merenung‑renungkan pemandangan itu dengan penuh kepuasan yang disertai rasa hormat, tiang awan itu terbang ke atas baitsuci itu dan kemudian turun menyelimutinya. "Dan kemuliaan Tuhan memenuhi baitsuci itu." Keagungan Ilahi dinyatakan pada waktu itu, dan untuk sementara waktu Musa sekali pun tidak dapat memasukinya. Dengan luapan perasaan yang dalam bangsa itu melihat tanda bahwa pekerjaan tangan mereka itu telah diterima. Saat itu tidak terdengar pernyataan kegembiraan yang ribut. Satu suasana khidmat mencengkam semua orang. Tetapi kegembiraan hati mereka meluap dalam air mata kesukaan, dan dengan suara yang rendah berbisik‑bisik mengucapkan syukur bahwa Allah telah turun untuk tinggal bersama mereka.

Oleh petunjuk Ilahi suku bangsa Lewi telah diasingkan untuk melayani upacara‑upacara baitsuci. Pada zaman dulu setiap orang laki‑laki adalah imam rumah tangganya. Pada zaman Abraham keimamatan dianggap sebagai hak sulung anak laki‑laki yang tertua. Sekarang, gantinya anak sulung bangsa Israel itu, Tuhan menerima suku Lewi untuk pekerjaan baitsuci. Oleh kehormatan yang nyata ini Ia menyatakan persetujuan‑Nya terhadap kesetiaan mereka, baik dalam kesetiaan dalam pelayanannya, dan juga dalam melaksanakan hukuman‑Nya pada waktu Israel murtad di dalam penyembahan terhadap patung emas anak lembu itu.

Namun demikian, keimamatan dibatasi kepada keluarga Harun saja. Harun dan anak lelakinya saja yang diizinkan untuk melayani di hadapan Tuhan; suku‑suku yang lainnya diberi tugas untuk mengawasi baitsuci dan perkakas‑perkakasnya, dan mereka harus mendampingi imam‑imam di dalam pelayanan mereka, tetapi orang‑orang Lewi ini tidak boleh mempersembahkan korban, membakar kemenyan, atau melihat kepada benda‑benda yang suci itu sampai semuanya ditutupi.

Sesuai dengan tugas mereka, satu jubah yang khusus telah ditentukan bagi imam‑imam ini. "Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, sebagai perhiasan kemuliaan," adalah perintah Ilahi kepada Musa. Jubah imam biasa harus terbuat dari kain lenan putih dan yang ditenun jadi satu helai. Itu harus menjulur hampir mengenai kakinya dan di dekat pinggangnya diikat oleh ikat pinggang yang terbuat dari kain lenan putih yang dibubuhi dengan warna biru, ungu dan merah. Satu serban yang terbuat dari kain lenan putih merupakan pelengkap daripada pakaian luarnya. Musa di dekat belukar yang menyala itu telah diperintahkan untuk membuka sepatunya, oleh karena tempat dimana ia berdiri itu suci adanya. Demikian pula imam‑imam tidak boleh memasuki baitsuci itu dengan kaki yang bersepatu. Debu yang melekat kepada sepatu itu akan menajiskan tempat yang suci. Mereka harus meninggalkan sepatu itu di halaman baitsuci sebelum memasukinya, dan juga harus membasuh tangan dan kaki mereka sebelum melayani di dalam baitsuci atau pada mezbah korban bakaran. Dengan demikian pelajaran senantiasa diajarkan bahwa segala kenajisan harus dibuangkan dari mereka yang akan datang ke hadirat Allah.

Jubah imam besar terbuat dari bahan yang mahal dan buatan orang yang ahli, sesuai dengan kedudukannya yang tinggi. Sebagai tambahan kepada pakaian lenan imam biasa, ia memakai satu jubah biru yang juga ditenun jadi satu helai.

Sekeliling jubah itu dihiasi dengan giring‑giring emas dan buah delima yang berwarna biru, ungu dan merah kirmizi. Di bagian luar jubah itu terdapat baju efod, satu jubah yang lebih pendek terbuat dari emas, berwarna biru, ungu dan merah kirmizi. Dan itu diikat oleh sebuah ikat pinggang yang sama warnanya dan dibuat dengan indah sekali. Baju efod itu tidak berlengan, dan di atas sulaman emas di bagian bahunya dilekatkan dua buah batu permata krisopras yang di atasnya terukir nama‑nama daripada kedua belas suku bangsa Israel.

Di atas efod itu terdapat tutup dada, yang paling suci di antara semua pakaian keimamatan itu. Ini terbuat dari bahan yang sama seperti efod. Bentuknya empat segi, panjangnya satu jengkal dan tergantung dari bahunya oleh seutas tali berwarna biru yang diikatkan pada gelang‑gelang emas. Pinggirnya ditatah dengan bermacam‑macam batu permata, sama dengan yang membentuk kedua belas dasar Kota Allah. Pada tutup dada ini terdapat dua belas batu permata yang diikat oleh mas, diatur dalam empat jajar dan, seperti batu‑batu permata yang ada di atas bahunya, pada tiap‑tiap permata diukirkan nama masing‑masing suku bangsa itu. Perintah Tuhan adalah, "Demikianlah di atas jantungnya harus dibawa Harun nama para anak Israel pada tutup dada pernyataan keputusan itu, apabila ia masuk ke dalam tempat kudus, supaya menjadi tanda peringatan yang tetap di hadapan Tuhan." Keluaran 28:29. Demikian juga Kristus, Imam Besar yang agung itu, yang menghadapkan darah‑Nya kepada Bapa demi orang berdosa, membawa di atas jantung‑Nya nama‑nama setiap orang yang bertobat dan percaya. Kata pemazmur, "Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikan aku!" Mazmur 40:18.

Di sebelah kanan dan kiri tutup dada itu terdapat dua batu permata yang besar dan amat berkilauan. Batu‑batu itu dikenal dengan nama Urim dan Tumim. Oleh kedua batu ini kehendak Allah diberitahukan melalui imam besar. Apabila pertanyaan‑pertanyaan dikemukakan untuk memperoleh keputusan di hadapan Tuhan, seberkas cahaya yang melingkari batu permata yang di sebelah kanan menandakan persetujuan Ilahi, sedangkan segumpal awan yang menyelimuti batu yang di sebelah kiri adalah bukti penyangkalan atau penolakan.

Tutup kepala imam besar terdiri dari serban lenan putih, ke atasnya dilekatkan oleh seutas tali yang berwarna biru, sebuah patam dari emas yang bertuliskan, "Kesucian bagi Tuhan." Segala sesuatu yang berhubungan dengan perhiasan dan pembawaan imam‑imam haruslah sedemikian rupa sehingga akan memberi kesan orang‑orang yang melihatnya dengan satu perasaan akan kesucian Allah, kesucian daripada perbaktian‑Nya, dan kesucian yang dituntut dari mereka yang datang ke hadirat‑Nya.

Bukan hanya baitsuci itu sendiri, tetapi juga pelayanan‑pelayanan imam‑imam, haruslah "gambaran dan bayangan dari apa yang ada di surga." Ibrani 8:5. Dengan demikian itu merupakan satu hal yang amat penting; dan Tuhan, melalui Musa, telah memberikan petunjuk tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara‑upacara simbolis ini. Upacara baitsuci itu terdiri dari dua bagian, upacara harian dan upacara tahunan. Upacara harian dilaksanakan di mezbah korban bakaran di halaman baitsuci dan di dalam ruangan yang suci; sedangkan upacara tahunan diadakan di dalam ruangan yang Mahasuci suci.


Tidak ada seorang pun dari antara manusia yang fana, kecuali imam besar itu, yang boleh melihat ke ruangan yang Mahasuci suci baitsuci itu. Hanya sekali setahun imam itu dapat masuk ke dalamnya, dan itupun setelah mengadakan persiapan yang saksama dan khidmat. Dengan gemetar ia akan masuk untuk menghadap Allah, dan dengan penuh hormat dan tenang orang banyak itu menunggu dia kembali, hati mereka terangkat dalam doa yang sungguh memohon berkat Ilahi. Di hadapan tutupan Grafirat itu imam besar mengadakan tebusan bagi Israel; dan di dalam awan kemuliaan, Allah bertemu dengan dia. Tinggalnya dia di tempat itu apabila melebihi waktu yang biasa akan menggentarkan hatinya, kalau-kalau oleh sebab dosa mereka atau dosanya sendiri ia akan dibinasakan oleh kemuliaan Tuhan.

Upacara harian terdiri dari upacara korban bakaran pagi dan petang, persembahan kemenyan yang harum di atas mezbah keemasan dan persembahan khusus bagi dosa‑dosa pribadi. Dan ada juga persembahan bagi hari‑hari Sabat, bulan baru dan hari‑hari raya istimewa.

Setiap pagi dan petang seekor anak domba yang berumur satu tahun dibakar di atas mezbah, dagingnya dipersembahkan dengan sepatutnya, dengan demikian melambangkan penyerahan harian dari bangsa itu kepada Tuhan, dan ketergantungan mereka yang tetap kepada darah Kristus yang menebus. Allah dengan nyata memerintahkan agar setiap korban yang dipersembahkan bagi upacara baitsuci haruslah "tidak bercela." Keluaran 12:5. Imam‑imam harus memeriksa semua binatang yang dibawa sebagai satu korban dan harus menolak binatang yang ada cacatnya. Hanya satu korban yang "tanpa cacat cela" dapat menjadi satu lambang daripada kesucian‑Nya yang sempurna yang akan menyerahkan diri‑Nya sebagai "Anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." 1 Petrus 1:19. Rasul Paulus menunjuk kepada korban‑korban ini sebagai satu gambaran tentang bagaimana seharusnya hidup pengikut‑pengikut Kristus itu. Ia berkata, "Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." Roma 12:1. Kita harus menyerahkan diri kita kepada pelayanan akan Allah dan kita harus berusaha untuk menjadikan persembahan itu sesempurna‑sempurnanya. Allah tidak merasa senang terhadap segala sesuatu yang kurang dari yang terbaik yang dapat kita berikan. Mereka yang mengasihi Dia dengan segenap hatinya akan mau memberikan kepada‑Nya pelayanan hidup yang terbaik, dan mereka akan tetap berusaha untuk membawakan hidupnya selaras dengan hukum‑hukum yang akan menambah kesanggupan mereka untuk melakukan kehendak‑Nya.


Di dalam mempersembahkan kemenyan imam dibawa kepada hubungan yang lebih dekat lagi dengan hadirat Allah daripada dalam pekerjaan lainnya sehubungan dengan upacara harian itu. Oleh karena tirai yang lebih ke dalam di baitsuci itu tidaklah sampai ke langit‑langitnya, maka kemuliaan Allah, yang dinyatakan di atas tutupan pendamaian itu, dapat terlihat sebagian dari ruangan yang pertama. Bilamana imam itu mempersembahkan kemenyan di hadapan Tuhan, ia memandang kepada peti perjanjian itu; dan apabila asap kemenyan itu naik, kemuliaan Ilahi turun ke atas tutupan pendamaian dan memenuhi ruangan yang Mahasuci suci dan sering memenuhi kedua ruangan itu sedemikian rupa sehingga imam itu diharuskan mundur sampai ke pintu baitsuci. Sebagaimana di dalam upacara simbolis itu imam memandang dengan iman kepada tutupan pendamaian yang tidak dapat dilihatnya, demikian pula umat Allah sekarang harus mengangkat doa mereka kepada Kristus, Imam Besar mereka yang agung, yang tidak terlihat kepada pandangan manusia, sedang memohon demi untuk mereka di dalam baitsuci yang di surga.

Dupa yang naik bersama‑sama dengan doa orang Israel, menggambarkan jasa dan pengantaraan Kristus, kebenaran‑Nya yang sempurna, yang melalui iman dihisabkan kepada umat‑Nya, yang olehnya saja dapat menjadikan perbaktian manusia yang berdosa dapat berkenan di hadapan Allah. Di hadapan tirai ruangan yang Mahasuci suci itu terdapat sebuah mezbah pengantaraan yang terus‑menerus. Oleh darah dan kemenyan Allah harus didekati lambang‑lambang yang menunjuk kepada Pengantara yang agung itu, melalui mana orang‑orang berdosa bisa datang dekat kepada Tuhan, dan melalui Dia sendiri sajalah rahmat dan keselamatan dapat diberikan kepada orang yang percaya dan bertobat.

Sementara imam‑imam itu pada waktu pagi dan petang memasuki ruangan yang suci pada saat mempersembahkan kemenyan, korban‑korban harian disiapkan untuk dipersembahkan di atas mezbah yang terdapat di halaman baitsuci. Ini merupakan satu waktu yang amat menarik kepada orang‑orang yang sedang berbakti yang berhimpun di sekeliling baitsuci itu. Sebelum memasuki hadirat Allah melalui pekerjaan imam itu, mereka harus lebih dulu memeriksa hati mereka dengan sungguh‑sungguh dan mengakui dosa‑dosa. Mereka bersatu dalam doa dalam hati, dengan wajah mereka tertuju kepada ruangan yang suci.

Dengan demikian permohonan mereka naik bersama‑sama dengan asap dupa itu, sementara iman mereka berpegang kepada jasa‑jasa Juruselamat yang dijanjikan itu yang dilambangkan oleh korban penebusan. Jam‑jam yang ditetapkan untuk korban pagi dan petang harus dianggap suci, dan semuanya itu harus dijaga sebagai waktu yang telah ditetapkan bagi perbaktian di antara segenap bangsa Yahudi. Dan apabila pada masa mendatang bangsa Yahudi dicerai‑beraikan sebagai orang‑orang tawanan di negeri‑negeri yang jauh, mereka tetap pada jam yang ditentukan itu memalingkan wajah mereka ke arah Yerusalem dan menghadapkan permohonan mereka kepada Allah orang Israel. Dalam adat kebiasaan ini orang Kristen mempunyai satu contoh untuk kebaktian pagi dan petang. Sementara Allah menghukumkan upacara kebaktian yang sekadar rupa saja, tanpa Roh kebaktian, Ia memandang dengan penuh kesukaan terhadap mereka yang mengasihi Dia, yang setiap pagi dan petang mencari keampunan dosa‑dosa yang diperbuatnya, dan menghadapkan permohonan mereka untuk memperoleh berkat‑berkat yang diperlukan.


Roti sajian selalu diletakkan di hadapan Tuhan sebagai satu persembahan yang terus‑menerus. Dengan demikian itu merupakan sebagian upacara harian. Itu disebut roti pertunjukan, atau "roti kehadiran" oleh karena itu senantiasa ada di hadapan wajah Tuhan. Itu merupakan satu pengakuan bahwa manusia bergantung kepada Allah baik untuk makanan rohani atau pun jasmani, dan itu diterima hanyalah melalui pengantaraan Kristus. Allah telah memberi makan Israel di padang belantara dengan roti dari surga, dan mereka masih tetap bergantung kepada kebajikan‑Nya, baik untuk makanan jasmani ataupun berkat‑berkat rohani. Baik manna atau roti sajian itu menunjuk kepada Kristus, Roti hidup itu, yang senantiasa berada di hadirat Allah demi kita. Ia sendiri berkata, "Akulah Roti hidup yang telah turun dari surga." Yohanes 6:48‑51. Kemenyan dibubuhkan ke atas roti itu. Apabila setiap Sabat roti itu diangkat, diganti dengan roti yang baru, kemenyan itu dibakar di atas mezbah sebagai satu peringatan di hadapan Allah.

Bagian yang paling penting dari upacara harian itu adalah pekerjaan yang diadakan untuk pribadi‑pribadi orang Israel. Orang berdosa yang bertobat membawa persembahannya ke pintu baitsuci, dan sambil meletakkan tangannya ke atas kepala korban itu, ia mengaku dosa‑dosanya, dengan demikian secara simbolis memindahkan dosanya dari dirinya kepada korban yang tidak bersalah itu. Kemudian oleh tangannya sendiri binatang itu disembelih, dan darahnya dibawa oleh imam itu ke dalam ruangan yang suci, dan memercikkannya di hadapan tirai, yang di bagian belakangnya terdapat peti yang berisi hukum yang telah dilanggar oleh orang berdosa itu. Oleh upacara ini dosa, melalui darah itu, dipindahkan secara simbolis kepada baitsuci. Di dalam beberapa masalah darah itu tidak dibawa ke ruangan yang suci; tetapi dagingnya harus dimakan oleh imam itu, sebagaimana yang diperintahkan oleh Musa kepada anak‑anak Harun, sambil berkata, "Tuhan memberikannya kepadamu, supaya kamu mengangkut kesalahan umat itu." Imamat 10:17. Kedua upacara ini sama‑sama melambangkan pemindahan dosa dari orang yang berdosa ke baitsuci.

Demikianlah pekerjaan yang berlangsung hari demi hari sepanjang tahun. Dosa‑dosa orang Israel dipindahkan ke baitsuci dengan cara demikian. sehingga ruangan yang suci itu dinodai, dan satu pekerjaan yang khusus diperlukan untuk memindahkan dosa‑dosa itu. Allah memerintahkan agar satu penebusan diadakan untuk masing‑masing ruangan yang suci itu, demikian juga untuk mezbah itu, untuk "mentahirkan serta menguduskannya dari segala kenajisan orang Israel." Imamat 16:19.

Sekali setahun, pada Hari Pendamaian yang besar, imam itu memasuki ruangan yang Mahasuci suci untuk membersihkan baitsuci. Pekerjaan yang dilaksanakan di tempat itu melengkapkan pekerjaan yang telah diadakan sepanjang tahun.

Pada hari Pendamaian dua ekor kambing dibawa ke pintu baitsuci dan kemudian ia membuang undi atas kedua ekor kambing itu, "sebuah undi bagi Tuhan, sebuah undi lagi bagi Azazel." Kambing yang untuk Tuhan harus disembelih sebagai satu korban karena dosa orang banyak. Dan imam itu harus membawa darahnya melalui tirai itu dan memercikkannya di atas tutupan pendamaian. "Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka." Imamat 16:16.


"Dan Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu." Imamat 16:21. Sebelum kambing itu dilepaskan ke gurun orang banyak belum menganggap bahwa diri mereka telah bebas dari beban dosa mereka. Setiap orang harus memeriksa diri sementara pekerjaan penebusan ini sedang berlangsung. Segala urusan pekerjaan harus ditinggalkan dan seluruh perhimpunan Israel harus menggunakan hari itu untuk merendahkan diri dengan penuh khidmat di hadapan Allah, dengan disertai doa, puasa dan penyelidikan hati yang sungguh‑sungguh.

Kebenaran‑kebenaran yang penting sehubungan dengan penebusan diajarkan kepada orang banyak melalui upacara tahunan. Di dalam korban‑korban karena dosa yang dipersembahkan sepanjang tahun, satu pengganti bagi dirinya telah diterima; tetapi darah korban itu belum mengadakan penebusan yang sepenuhnya bagi dosa itu. Itu baru menyediakan satu alat oleh mana dosa dipindahkan ke baitsuci. Oleh mempersembahkan darah, orang berdosa mengakui wewenang hukum, mengakui kesalahan pelanggarannya, dan menyatakan imannya kepada Dia yang harus mengangkat dosa dunia ini; tetapi ia belum dibebaskan sama sekali dari tuntutan hukum itu. Pada Hari Pendamaian, imam besar itu, setelah membawa korban bagi perhimpunan itu, pergi ke ruangan yang Mahasuci dengan membawa darah dan memercikkannya ke atas tutupan pendamaian, yang ada di atas loh batu hukum itu. Dengan demikian tuntutan hukum itu, yang menuntut nyawa orang berdosa, telah dipenuhi. Kemudian dalam peranannya sebagai pengantara, imam itu memindahkan dosa itu kepada dirinya sendiri dan sambil meninggalkan baitsuci itu ia membawa beban dosa Israel. Di pintu baitsuci ia meletakkan tangannya ke atas kepala kambing yang hidup itu dan mengadakan pengakuan "segala kesalahan Israel dan segala pelanggaran mereka, apa pun dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu." Dan apabila kambing yang menanggung dosa ini dilepaskan ke gurun, dosa‑dosa itu tertanggung ke atas dirinya dan untuk selama‑lamanya terpisah dari orang banyak itu. Demikianlah pekerjaan yang dilakukan "untuk menjadi gambaran dan bayangan daripada apa yang ada di surga." Ibrani 8:5.

Seperti telah dikatakan, baitsuci yang ada di dunia ini didirikan oleh Musa sesuai dengan pola yang ditunjukkan kepadanya di atas gunung. Itu adalah "kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan," kedua ruangan yang suci itu adalah "Lambang apa yang ada di surga;" Kristus, Imam Besar kita, adalah "yang melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam kemah sejati, yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia." Ibrani 9:9, 23; 8:2. Apabila di dalam khayal rasul Yohanes diizinkan untuk melihat ke dalam baitsuci Allah di surga, ia melihat di sana "tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu." Ia melihat seorang malaikat "dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu." Wahyu 4:5; 8:3. Di sini nabi diizinkan untuk melihat ruangan yang pertama dari baitsuci di surga; dan ia melihat di sana "Ketujuh pelita itu" dan "mezbah emas" yang dilambangkan oleh kaki dian emas dan mezbah pedupaan di dalam baitsuci di dunia. Kembali "terbukalah Bait Suci Allah" (Wahyu 11:19), dan ia melihat ke dalam tirai yang lebih ke dalam, yaitu kepada ruangan yang Mahasuci suci. Di sini ia melihat "tabut Perjanjian-Nya" (Wahyu 11:19), yang dilambangkan oleh peti yang suci yang diperbuat oleh Musa untuk menjadi tempat menyimpan hukum Allah.


Musa telah membuat baitsuci duniawi, "menurut contoh yang telah dilihatnya." Paulus menyatakan bahwa "kemah dan semua alat untuk ibadah," bilamana disempurnakan, merupakan "melambangkan apa yang ada di surga." Kisah 7:44; Ibrani 9 :21, 23. Dan Yohanes menyatakan bahwa ia melihat baitsuci di dalam surga. Baitsuci itu, dimana Yesus melayani demi kita, adalah baitsuci yang aslinya, untuk mana baitsuci yang didirikan oleh Musa merupakan satu gambaran."

Baitsuci surga, tempat tinggalnya Raja atas segala raja, di mana "beribu‑ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa‑laksa berdiri di hadapan‑Nya" (Daniel 7:10), baitsuci ini dipenuhi oleh kemuliaan takhta yang kekal, dimana malaikat-malaikat penjaganya yang berkilau‑kilauan itu, menudungi wajah mereka sebagai penghormatan--tidak ada bangunan di dunia ini yang dapat menggambarkan kehebatan dan kemuliaannya. Namun demikian kebenaran‑kebenaran yang penting sehubungan dengan baitsuci surga dan pekerjaan yang besar yang dilaksanakan di sana untuk penebusan manusia diajarkan oleh baitsuci duniawi dan upacara‑upacaranya.

Setelah kenaikan‑Nya, Juruselamat kita harus memulai pekerjaan‑Nya sebagai Imam Besar kita. Paulus berkata, "Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita." Ibrani 9:24. Sebagaimana pelayanan Kristus terdiri atas dua bagian besar, masing‑masing mengambil satu jangka waktu dan diadakan pada tempat yang berbeda di dalam baitsuci surga, demikian juga pelayanan simbolis terdiri atas dua bahagian, upacara harian dan upacara tahunan, dan untuk masing‑masing upacara ini telah disediakan satu ruangan.
Sebagaimana Kristus pada waktu kenaikan‑Nya tampil di hadapan Allah untuk menghadapkan darah‑Nya untuk orang percaya yang bertobat, demikian juga imam itu di dalam upacara harian memercikkan darah korban itu di tempat yang suci untuk orang berdosa.

Darah Kristus, sementara itu harus membebaskan orang berdosa yang bertobat dari tuntutan hukum, itu tidaklah menghapuskan dosa; dosa akan tetap tercatat di dalam baitsuci sampai penebusan yang terakhir; demikian juga di dalam upacara simbolis darah korban karena dosa memindahkan dosa dari orang yang bertobat, tetapi itu tetap ada di dalam baitsuci sampai kepada Hari Pendamaian.

Pada hari yang besar itu dimana pahala yang terakhir diberikan, orang mati akan "dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu." Wahyu 20:12. Kemudian oleh jasa daripada darah Kristus yang menebus, dosa‑dosa semua orang yang sungguh‑sungguh bertobat dihapuskan dari buku‑buku surga. Dengan demikian baitsuci akan dibebaskan, atau dibersihkan, dari catatan dosa. Di dalam upacara simbolis, pekerjaan penebusan yang besar ini, atau penghapusan dosa itu, digambarkan oleh upacara‑upacara yang diadakan pada Hari Pendamaian--pembersihan baitsuci duniawi, yang dilaksanakan dengan memindahkan dosa yang telah mengotorinya, dengan memindahkannya melalui darah korban karena dosa.


Sebagaimana di dalam penebusan yang terakhir dosa‑dosa orang yang bertobat dengan sungguh‑sungguh itu dihapuskan dari catatan surga, tidak akan lagi diingat atau terlintas kepada pikiran, demikian juga di dalam upacara simbolis dosa‑dosa itu dibuang ke gurun, terpisah dari perhimpunan itu untuk selama‑lamanya.

Oleh karena Setan adalah makhluk yang memulai dosa, biang keladi segala dosa yang telah menyebabkan kematian Anak Allah, maka keadilan menuntut agar Setan menanggung hukuman yang terakhir. Pekerjaan Kristus untuk penebusan manusia dan penyucian alam semesta dari dosa akan diakhiri oleh pemindahan dosa dari baitsuci surga, dan meletakkan dosa‑dosa ini ke atas diri Setan, yang akan menanggung hukuman yang terakhir. Demikian juga di dalam upacara simbolis itu, upacara‑upacara yang berlangsung sepanjang tahun diakhiri oleh penyucian baitsuci dan pengakuan dosa‑dosa di atas kepala Azazel.

Dengan demikian di dalam upacara‑upacara baitsuci duniawi dan di dalam baitsuci yang di surga, orang banyak itu diajar setiap hari tentang kebenaran‑kebenaran yang agung sehubungan dengan kematian dan pelayanan Kristus, dan sekali setahun pikiran mereka diarahkan kepada peristiwa‑peristiwa terakhir dari pertentangan yang besar antara Kristus dan Setan, penyucian yang terakhir dari alam semesta ini dari dosa dan orang‑orang yang berdosa.




Tidak ada komentar: