Kamis, 14 November 2013

Teori Konspirasi dalam Kampanye Anti Rokok

Saya membaca tulisan dari seorang pengamat sosio-politik yang entah maksudnya apa, tapi dari tulisannya seolah mengadvokasi para pengusaha tembakau dan rokok kretek Indonesia. Tulisannya bisa dibaca di sini. Mungkin bagi para penggemar teori konspirasi yang biasanya ada di ranah agama dan berkutat soal freemason, illuminati, dkk, bisa ikut menggemari yang ini.
“Kampanye anti-rokok internasional sebagai suatu acuan, atau bahkan suatu model yang dijiplak habis oleh aktivis anti-rokok Indonesia telah menjadi objek studi yang intensif dari sejumlah ahli. Salah satu sisi disoroti ialah paralel historis yang mencolok antara kampanye anti-rokok internasional dengan kampanye serupa yang dilakukan Nazi Jerman pada era 1940-1945.”
“Histeria anti-rokok yang diciptakan Nazi berlangsung sukses atas dukungan sang Fuhrer, karena Hitler secara pribadi vegetarian dan membenci rokok. Kendati ia seorang perokok berat di masa mudanya, Hitler memutuskan bahwa rokok berbahaya bagi kemurnian ras Aria dan giat menyokong kampanye anti-rokok. Merokok diberi label yang menyeramkan sebagai fenomena “epidemik”, “wabah”, “mabuk kering” (sebagai lawan “mabuk basah” akibat alkohol), “masturbasi paru-paru”, “penyakit peradaban”, dan “sisa-sisa gaya hidup liberal”. Persis seperti jargon-jargon gerakan kampanye anti-rokok yang digalang WHO, baik melalui FCTC maupun forum lainnya. Pejabat Nazi juga menggalang dukungan dari otoritas ilmiah di bidang kesehatan demi melancarkan pelarangan rokok melalui propaganda, humas dan peraturan resmi. Kementerian Sains dan Pendidikan Jerman memerintahkan murid-murid di sekolah untuk mendiskusikan bahaya rokok dan Kementerian Kesehatan mempublikasi pamflet-pamflet peringatan tidak merokok kepada generasi muda. Kegiatan-kegiatan yang disponsori Kementerian Kesehatan Jerman; seperti ceramah tentang kesehatan ibu, vaksinasi dan sebagainya, dinyatakan “bebas rokok”. Demikian pula serikat pekerja Nazi (Deutschen Handwerks) mengkampanyekan agar anggotanya untuk tidak merokok di tempat kerja.”
Demikian beberapa paragraf yang saya kutip dari tulisan tersebut. Akan tetapi, sebagai perokok aktif saya mempunyai pendapat sendiri mengenai kampanye anti rokok. Saya tidak terlalu pusing dengan gencarnya kampanye anti rokok yang diserukan oleh berbagai elemen dan institusi. Seorang perokok, menurut saya, mempunyai tanggung jawab pribadi atas apa yang dia hisap. Karena itu, saya sendiri–entah perokok lain seperti apa–tak pernah yang namanya merokok di tempat umum. Anda akan melihat saya bukan sebagai perokok jika berada di tempat seperti mal, kantor, jalan raya, terminal, dan sebagainya. Bahkan, terus terang saya sendiri merasa kesal dengan orang yang seenaknya merokok dalam angkutan umum. Demikian pula di restoran, tapi berbeda kalau di warteg atau warkop pinggir jalan karena di situ memang semuanya rata-rata yang singgah adalah perokok.
Bagi saya, merokok paling nikmat ya di kamar, atau di teras sambil ngopi. Begitu juga kalau main ke kontrakan kawan saya pas nonton bola, tak lengkap tanpa rokok. Saya jadi ingat video Soekarno yang kalau tidak salah sedang diwawancarai Cindy Adams, jurnalis kawakan di masanya, dan waktu itu presiden RI pertama kita asik saja menjawab pertanyaan sambil mengembuskan asap rokoknya. Kenikmatan ngobrol dan diskusi dengan kawan saya mengenai topik apapun, saya rasa memang asik ditemani rokok. Jadi, terlepas dari kampanye anti rokok, tak ada salahnya jika seorang perokok yang memang belum berniat untuk berhenti, atau bahkan tak mau berhenti, bisa lebih menempatkan diri saja di mana dia harus mengisap rokoknya.
ps.
A: Kamu ngerokok?
B: Iya
A: Sehari berapa bungkus?
B: Sebungkus, kenapa?
A: Sejak kapan?
B: Sejak kuliah.
A: Coba hitung berapa uang yang sudah kamu keluarkan untuk beli rokok, kalau kamu tabung pasti uangnya bisa untuk beli mobil misalnya.
B: Iya sih? kamu sendiri ngerokok gak?
A: Nggak.
B: Terus, sudah punya mobil sekarang?
A: Nggak.
B: coba kamu nggak beli baju dari bayi, udah punya private jet kali.

Tidak ada komentar: