Jumat, 31 Januari 2014

Membuat meja roti sajian

Keluaran 37:10-16
37:10Dibuatnyalah meja itu dari kayu penaga, dua hasta panjangnya, sehasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya.
37:11Disalutnyalah itu dengan emas murni dan dibuatnya bingkai emas sekelilingnya.
37:12Dibuatnyalah sekelilingnya jalur pinggir yang setapak tangan lebarnya dan dibuatnya bingkai emas sekeliling jalur pinggirnya itu.
37:13Dituangnyalah untuk meja itu empat gelang emas dan dipasangnyalah gelang-gelang itu di keempat penjurunya, pada keempat kakinya.
37:14Dekat ke jalur pinggirnyalah gelang itu, yakni tempat memasukkan kayu pengusung, supaya meja itu dapat diangkut.
37:15Dibuatnyalah kayu pengusung itu dari kayu penaga dan disalutnya dengan emas, yaitu supaya meja itu dapat diangkut.
37:16Dan dibuatnyalah perkakas yang di atas meja itu, yakni pinggannya, cawannya, piala dan kendinya, yang dipakai untuk persembahan curahan, semuanya dari emas murni.


57

Tabut Perjanjian Diambil oleh Orang Filistin
--------------
Pasal ini dialaskan atas 1 Samuel 3‑7.

Amaran yang lain harus diberikan kepada rumah tangga Eli. Allah tidak dapat berhubungan dengan imam besar dan anak‑anaknya; dosa‑dosa mereka, seperti satu awan yang tebal, telah menutup kehadiran Roh Kudus‑Nya. Tetapi di tengah‑tengah kejahatan, Samuel yang masih muda itu tetap setia kepada Surga, dan kabar pehukuman kepada rumah tangga Eli merupakan tugas dari Samuel sebagai seorang nabi Yang Mahatinggi.

"Pada masa itu Firman Tuhan jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering. Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya. Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci Tuhan, tempat tabut Allah. Lalu Tuhan memanggil: 'Samuel! Samuel!', dan ia menjawab: 'Ya, bapa.' Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: 'Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?' Tetapi Eli berkata: 'Aku tidak memanggil; tidurlah kembali.' Lalu pergilah ia tidur. Dan Tuhan memanggil Samuel sekali lagi, Samuel pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: 'Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?' Tetapi Eli berkata: 'Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.' Samuel belum mengenal Tuhan; Firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya. Dan Tuhan memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: 'Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?'" Tiga kali Samuel dipanggil, dan tiga kali ia menyahut dengan cara yang sama. Dan kemudian Eli mengerti bahwa panggilan yang ajaib itu adalah suara Allah. Tuhan telah menggunakan hamba‑Nya yang terpilih itu, seorang yang rambutnya sudah memutih, untuk berhubungan dengan seorang kanak‑kanak. Hal ini sendiri sudah merupakan suatu teguran yang pahit tetapi sepatutnya diberikan kepada Eli dan anak‑anaknya.

Tidak ada perasaan iri hati atau cemburu timbul di hati Eli. Ia menyuruh Samuel supaya menjawab, jikalau dipanggil lagi, "Hendaklah Tuhan kiranya berfirman, karena hambamu ini mendengar juga." Sekali lagi suara itu terdengar, dan anak itu menjawab, "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar." Begitu heran ia atas pemikiran bahwa Allah yang besar itu harus berbicara kepadanya, sehingga dia tidak dapat mengingat dengan tepat kata‑kata yang diucapkan Eli supaya dikatakannya.

"Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: 'Ketahuilah, Aku akan melakukan sesuatu di Israel, sehingga setiap orang yang mendengarnya, akan bising kedua telinganya. Pada waktu itu Aku akan menepati kepada Eli segala yang telah Kufirmankan tentang keluarganya, dari mula sampai akhir. Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka! Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya."

Sebelum menerima pekabaran ini dari Allah, "Samuel belum mengenal Tuhan; Firman Tuhan belum pernah dinyatakan kepadanya," yaitu, ia belum mengetahui pernyataan yang langsung dari hadirat Allah yang sedemikian rupa yang diberikan kepada nabi‑nabi. Allah bermaksud menyatakan diri‑Nya di dalam satu cara yang tidak diharap‑harapkan, agar Eli dapat mendengarnya melalui rasa heran serta sikap bertanya‑tanya anak muda itu.

Samuel dipenuhi oleh ketakutan dan rasa heran mengingat adanya satu pekabaran yang amat hebat yang telah dipercayakan kepadanya. Keesokan paginya ia pergi untuk melaksanakan tugasnya sebagaimana biasanya, tetapi dengan satu beban yang berat di dalam hatinya yang masih muda itu. Tuhan tidak memerintahkan dia untuk menyatakan hukuman yang menakutkan itu, oleh sebab itu ia tetap diam, menghindarkan, sedapat‑dapatnya, kehadiran Eli. Ia gemetar, jangan‑jangan beberapa pertanyaan akan memaksa dia menyatakan hukuman Ilahi terhadap seseorang yang ia kasihi dan hormati. Eli merasa yakin bahwa pekabaran itu meramalkan beberapa malapetaka yang besar kepada dia dan rumah tangganya. Ia memanggil Samuel, dan menyuruh dia supaya dengan setia memaparkan apa yang telah Tuhan nyatakan. Anak muda itu menurutnya, dan orang tua itu tertunduk disertai sikap menyerah atas hukuman yang mengagetkan itu. "Dia Tuhan, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik."

Namun demikian Eli tidak menyatakan buah‑buah pertobatan yang sejati. Ia mengakui kesalahannya, tetapi gagal meninggalkan dosanya. Tahun demi tahun Tuhan menunda hukuman yang telah diberikan‑Nya itu. Banyak hal sebenarnya dapat dilakukan selama tahun‑tahun itu untuk menebus kegagalan‑kegagalan pada masa yang lalu; tetapi imam yang tua ini tidak mengadakan usaha yang baik untuk memperbaiki kesalahan‑kesalahan yang menajiskan baitsuci Tuhan dan menuntun ribuan orang Israel ke dalam kebinasaan. Sikap panjang sabar Allah telah menyebabkan Hofni dan Pinehas mengeraskan hati mereka, dan menjadi lebih berani lagi dalam pelanggaran mereka. Pekabaran amaran dan teguran kepada rumah tangganya diberitahukan oleh Eli kepada seluruh bangsa itu. Dengan cara ini ia berharap untuk menentang seberapa dapat, pengaruh jahat karena kelalaiannya pada masa yang lalu. Tetapi amaran‑amaran itu tidak dipedulikan oleh orang banyak, sebagaimana mereka telah diabaikan oleh para imam. Bangsa‑bangsa yang ada di sekeliling yang mengetahui adanya kejahatan yang dilakukan dengan terang‑terangan di antara orang Israel, juga menjadi lebih berani lagi dalam kejahatan dan penyembahan berhala mereka. Mereka tidak merasakan adanya kesalahan dari dosa mereka, sebagaimana yang akan mereka rasakan jikalau bangsa Israel telah mempertahankan kejujuran mereka. Tetapi satu hari pembalasan sedang mendekat. Wewenang Allah telah disisihkan, dan perbaktian kepada‑Nya telah diabaikan dan dihinakan, dan perlulah bagi‑Nya campur tangan, agar supaya kehormatan nama‑Nya dapat dipertahankan.


"Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek." Tindakan ini telah diadakan oleh orang Israel tanpa nasihat dari Allah, tanpa persetujuan imam besar atau pun nabi. "Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu." Apabila bala tentara yang hancur dan kecewa itu kembali ke perkemahan mereka, "Mengapa Tuhan membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini?" Bangsa itu telah matang untuk menerima pehukuman Allah, namun demikian mereka tidak melihat bahwa dosa‑dosa mereka telah menjadi sebab dari malapetaka yang mengerikan ini. Dan mereka berkata, "Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian Tuhan, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita." Tuhan tidak memberikan perintah atau izin agar tabut perjanjian itu harus dibawa ke tengah‑tengah bala tentara itu; namun demikian Israel merasa yakin bahwa kemenangan akan menjadi bagian mereka, dan mereka berseru‑seru dengan kerasnya pada waktu tabut itu dibawa ke kemah mereka oleh anak‑anak Eli.

Bangsa Filistin menganggap tabut perjanjian itu sebagai dewa orang Israel. Segala perbuatan ajaib yang Tuhan telah adakan bagi umat‑Nya telah dianggap sebagai hasil kuasanya. Apabila mereka mendengar teriakan kesukaan itu mendekati mereka, mereka berkata, "'Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?' Ketika diketahui mereka, bahwa tabut Tuhan telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: 'Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,' dan mereka berkata: 'Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang Mahadahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun. Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!" Orang Filistin mengadakan satu serangan yang kejam sekali, yang telah mengakibatkan kekalahan Israel, dengan satu pembantaian yang besar. Tiga puluh ribu orang terkapar mati di tengah padang, dan tabut Tuhan telah diambil, kedua anak Eli telah mati sementara sedang berjuang mempertahankannya.

Dengan demikian kembali telah tercatat di atas lembaran sejarah suatu kesaksian bagi segala zaman yang akan datang--bahwa kejahatan umat Allah tidak akan dibiarkan tanpa mendapat hukuman. Lebih besar pengetahuan akan kehendak Allah, maka lebih besar dosa mereka yang tidak mengindahkannya.


Malapetaka yang paling mengerikan yang dapat terjadi telah berlaku atas Israel. Tabut Tuhan telah direbut, dan berada di bawah kekuasaan musuh. Kemuliaan itu benar‑benar telah undur dari Israel apabila lambang hadirat dan kuasa Tuhan telah diangkat dari tengah‑tengah mereka. Kepada peti yang suci ini telah dihubung‑hubungkan pernyataan yang paling ajaib daripada kebenaran dan kuasa Allah. Pada zaman dulu, kemenangan‑kemenangan ajaib telah diperoleh jikalau tabut itu sudah kelihatan. Tabut itu dinaungi oleh sayap kerubium keemasan, dan kemuliaan yang tidak terkatakan dari hadirat Ilahi, lambang yang bisa dilihat daripada Allah yang Mahatinggi, telah turun ke atasnya di dalam ruangan yang maha suci. Tetapi sekarang itu tidak memberikan kemenangan. Itu tidak terbukti sebagai suatu pertahanan pada peristiwa ini, dan di seluruh Israel terdapat kesedihan.

Mereka tidak menyadari bahwa iman mereka hanyalah merupakan sebagai satu iman yang cuma nama saja, dan telah kehilangan kuasanya untuk menang bersama dengan Allah. Hukum Allah, yang terdapat di dalam tabut itu, adalah juga lambang daripada hadirat‑Nya; tetapi mereka telah mencemoohkan hukum itu, telah mengabaikan tuntutan‑tuntutannya, dan telah mendukakan Roh Tuhan dari antara mereka. Bilamana orang banyak itu menurut akan hukum yang suci itu, Tuhan bersama dengan mereka untuk bekerja bagi mereka melalui kuasa‑Nya yang tidak terbatas itu; tetapi bilamana mereka melihat kepada tabut itu, dan tidak menghubungkannya dengan Allah, atau menghormati kehendak‑Nya yang telah dinyatakan itu oleh penurutan kepada hukum‑Nya, maka itu tidak akan lebih berarti kepada mereka sebagaimana halnya satu peti yang biasa. Mereka memandang kepada tabut itu seperti bangsa‑bangsa penyembah berhala memandang kepada dewa‑dewa mereka, seolah‑olah benda itu, di dalam dirinya sendiri, memiliki unsur‑unsur kuasa dan keselamatan.

Mereka melanggar hukum yang terdapat di dalamnya; karena perbaktian mereka terhadap tabut itu sendiri telah menuntun mereka kepada perbaktian secara rupa saja, kepada sifat munafik, dan penyembahan berhala. Dosa mereka telah memisahkan mereka dari Allah, dan Ia tidak dapat memberikan kepada mereka kemenangan sebelum mereka bertobat dan meninggalkan dosa mereka.

Tidak cukup bahwa tabut dan baitsuci berada di tengah‑tengah Israel. Tidaklah cukup bahwa para imam mempersembahkan korban, dan bahwa bangsa itu disebut sebagai anak‑anak Allah. Tuhan tidak mempedulikan permohonan mereka yang memanjakan kejahatan di dalam hatinya; tersurat bahwa "Siapa yang memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian." Amsal 28:9.

Pada waktu bala tentara itu pergi berperang, Eli, yang buta dan tua itu, tetap tinggal di Silo. Dengan hati yang gundah, ia telah menunggu hasil peperangan itu, "sebab hatinya berdebar-debar karena tabut Allah itu." Sambil menempatkan dirinya di luar pintu baitsuci itu, ia duduk di tepi jalan dari hari ke hari sambil mengharap‑harapkan datangnya seorang pesuruh dari medan peperangan.

Akhirnya seorang dari suku Benyamin dari antara bala tentara itu, "dengan pakaiannya terkoyak‑koyak dan dengan tanah di kepalanya," dengan cepat‑cepat datang melalui jalan naik ke kota itu. Dengan tidak memperhatikan orang tua yang ada di pinggir jalan itu, ia bergegas‑gegas pergi ke kota, dan menceritakan kembali kepada orang banyak yang sedang menunggu‑nunggu itu berita tentang kekalahan serta kerugian.


Bunyi ratapan dan kesedihan tiba di telinga orang yang sedang menunggu di samping baitsuci itu. Pesuruh itu dibawa kepadanya. Dan orang itu berkata kepada Eli, "Orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin; kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas." Eli bisa menahan semuanya ini, bagaimanapun hebatnya hal itu, karena ia sudah mengharapkannya. Tetapi tatkala pesuruh itu menambahkan, "Dan tabut Allah sudah dirampas musuh," suatu keadaan yang amat menyedihkan tampak pada raut mukanya. Pemikiran bahwa dosanya telah menghinakan Tuhan dengan sedemikian rupa, dan menyebabkan sehingga Ia telah menarik hadirat‑Nya dari antara Israel, adalah lebih daripada apa yang bisa ditanggungnya, kekuatannya hilang daripadanya, ia jatuh, "batang lehernya patah dan ia mati."

Istri Pinehas, sekalipun suaminya jahat, adalah seorang perempuan yang takut akan Allah. Kematian mertuanya dan suaminya, dan di atas sekaliannya itu, kabar yang mengerikan bahwa tabut Allah telah direbut, telah menyebabkan kematiannya. Ia merasa bahwa pengharapan Israel yang terakhir telah musnah; dan ia telah menamai anaknya yang dilahirkan dalam jam-jam yang penuh kesusahan ini, Ikabod, atau "telah lenyap kemuliaan dari Israel," bersama‑sama dengan napasnya yang terakhir ia mengulangi kembali kata‑kata, "Telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas."

Tetapi Tuhan tidak sama sekali meninggalkan umat‑Nya, ataupun membiarkan kesombongan bangsa kafir itu. Ia telah menggunakan orang Filistin sebagai alat menghukum Israel, dan Ia telah menggunakan tabut itu untuk menghukum orang Filistin. Pada waktu silam hadirat Ilahi telah menyertainya, untuk menjadi kemuliaan dan kekuatan umat‑Nya yang menurut. Hadirat yang tidak terlihat itu masih tetap menyertainya, untuk mendatangkan kegentaran dan kebinasaan kepada orang‑orang yang melanggar hukum‑Nya yang suci itu. Tuhan sering menggunakan musuh‑Nya yang paling kejam untuk menghukum ketidak‑setiaan orang yang mengaku diri sebagai umat‑Nya. Untuk sementara waktu orang jahat itu merasa diri menang apabila mereka melihat Israel menderita hukuman, tetapi waktunya akan datang bilamana mereka juga harus berhadapan dengan hukuman dari Allah yang suci, dan membenci dosa. Di mana saja kejahatan dimanjakan, maka di sana, dengan segera dan dengan tidak salah, hukuman Ilahi akan mengikutinya.

Dengan disertai suasana kemenangan orang Filistin telah memindahkan tabut Allah itu ke Asbod, salah satu dari kota‑kota utama mereka, dan menempatkannya di dalam rumah dewa mereka, Dagon. Mereka menyangka bahwa kuasa yang hingga saat itu telah menyertai tabut itu akan menjadi milik mereka, dan bahwa hal ini, digabungkan dengan kuasa Dagon, akan menjadikan mereka tidak terkalahkan. Tetapi pada waktu mereka memasuki tempat kebaktian mereka keesokan harinya, mereka melihat suatu pemandangan yang memenuhi diri mereka dengan kegentaran. Dagon telah terjerembab dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut Tuhan itu. Dengan penuh sikap hormat para imam mengangkat berhala itu, dan mendirikannya kembali pada tempatnya. Tetapi keesokan paginya mereka dapati dewanya itu, dengan cara yang ganjil, telah tergeletak kembali di atas tanah di hadapan tabut Allah. Bagian atas berhala ini menyerupai bentuk manusia, dan bagian bawahnya menyerupai bentuk seekor ikan. Sekarang setiap bagian yang menyerupai bentuk manusia telah terpotong‑potong, dan hanya badan dari seekor ikan saja yang tetap utuh.

Para imam dan orang banyak dipenuhi kegentaran; mereka menganggap peristiwa yang ganjil itu sebagai suatu pertanda buruk, kebinasaan yang akan datang menimpa diri mereka dan berhala‑berhala mereka di hadapan Allah orang Ibrani. Sekarang mereka memindahkan tabut itu dari rumah kebaktian mereka, dan menempatkannya di dalam satu gedung sendirian.


Penduduk Asdod ditimpa oleh penyakit yang mengganggu dan mematikan. Mengingat kutuk yang telah dijatuhkan ke atas Mesir oleh Allah Israel, orang banyak beranggapan bahwa penderitaan mereka itu telah disebabkan oleh hadirnya tabut Tuhan di antara mereka. Keputusan diadakan untuk memindahkannya ke Gat. Tetapi bala penyakit itu mengikutinya tidak lama setelah pemindahannya itu, dan orang‑orang di kota itupun mengirimkannya ke Ekron. Di tempat ini orang banyak itu menerimanya dengan penuh ketakutan, sambil berseru, "Mereka memindahkan tabut Allah Israel itu kepada kita untuk mematikan kita dan bangsa kita." Mereka berpaling kepada dewa‑dewa mereka untuk meminta perlindungan, seperti yang telah diperbuat oleh orang‑orang di Gat dan Asdod; tetapi pekerjaan si pembinasa itu berlangsung terus, sampai di dalam kesusahan mereka, "sehingga teriakan kota itu naik ke langit." Merasa takut untuk menahan tabut itu lebih lama lagi di antara rumah‑rumah orang itu, mereka kemudian meletakkannya di sebuah ladang yang terbuka. Di tempat itu kemudian suatu hama tikus telah terjadi, yang merusak tanah itu, sambil membinasakan hasil bumi, baik yang ada di dalam lumbung dan yang ada di ladang. Kebinasaan total, oleh penyakit dan bala kelaparan, sekarang mengancam bangsa itu.

Selama tujuh bulan tabut Allah tinggal di antara orang Filistin, dan selama itu bangsa Israel tidak berusaha membawanya kembali. Tetapi sekarang orang Filistin ingin membebaskan diri mereka dari kehadirannya sama seperti pada waktu mereka menginginkannya. Gantinya menjadi sebagai suatu sumber kekuatan kepada mereka, itu telah menjadi sebagai satu beban besar dan kutuk yang hebat. Namun demikian mereka tidak mengetahui jalan apa yang harus ditempuh; oleh karena ke mana saja tabut itu ditaruh, hukuman Allah mengikutinya. Orang banyak itu memanggil penghulu‑penghulu bangsa itu, bersama dengan para imam dan ahli tenung mereka, dan dengan sungguh‑sungguh bertanya, "Apakah yang harus kami lakukan dengan tabut Tuhan itu? Beritahukanlah kepada kami, bagaimana kami harus mengantarkannya kembali ke tempatnya?" Mereka dinasihatkan supaya mengembalikannya dengan disertai suatu korban karena pelanggaran yang mahal sekali. "Kamu akan mengetahui," kata imam‑imam itu, "mengapa tangan-Nya tidak undur dari padamu."

Untuk menahan atau membuangkan satu bala, maka adalah satu adat pada zaman dulu di antara orang kafir, untuk membuat sebuah patung emas, perak atau bahan lainnya, daripada sesuatu yang telah menyebabkan kebinasaan, atau dari benda atau bagian dari tubuh yang terutama sekali telah menderita. Kemudian patung ini diletakkan di atas sebuah tiang atau di satu tempat yang ramai, dan ini dianggap sebagai suatu pelindung yang ampuh terhadap malapetaka yang telah dilambangkan dengan cara demikian. Satu praktik yang sama masih ada di antara beberapa bangsa kafir. Bilamana seseorang yang menderita oleh karena suatu penyakit pergi ke rumah kebaktian berhala mereka untuk meminta kesembuhan, ia akan membawa sebuah gambar daripada bagian yang telah terkena penyakit itu, yang ia hadapkan sebagai satu korban kepada dewanya.

Sesuai dengan takhyul yang biasa pada zaman itu, dimana pemimpin‑pemimpin orang Filistin itu telah memerintahkan bangsa itu untuk membuat gambar‑gambar daripada bala oleh mana mereka telah menderita, "lima borok emas dan lima tikus emas, menurut jumlah raja-raja kota orang Filistin," kata mereka, "sebab tulah yang sama menimpa kamu sekalian dan raja-raja kotamu."


Orang‑orang bijaksana ini mengakui satu kuasa gaib yang menyertai tabut itu‑‑suatu kuasa yang tidak dapat mereka hadapi. Namun demikian mereka tidak menasihatkan bangsa itu untuk berpaling dari penyembahan berhala mereka untuk melayani Tuhan. Mereka tetap membenci Allah Israel, sekali pun dipaksa oleh hukuman yang hebat itu untuk menyerah kepada kekuasaan‑Nya. Dengan demikian orang berdosa bisa diyakinkan oleh hukuman‑hukuman Allah bahwa tiadalah gunanya berdebat melawan‑Nya. Mereka bisa dipaksa menyerah kepada kuasa‑Nya, sementara di dalam hati mereka memberontak terhadap pengendalian‑Nya. Penyerahan seperti itu tidak dapat menyelamatkan orang berdosa. Hati harus diserahkan kepada Allah--harus ditaklukkan oleh anugerah Ilahi‑‑sebelum pertobatan manusia dapat diterima.

Betapa besarnya sikap sabar Allah terhadap orang jahat! Bangsa Filistin yang menyembah berhala dan orang Israel yang murtad itu sama‑sama menikmati pemberian‑pemberian dari pimpinan‑Nya. Puluhan ribu rahmat‑Nya yang tidak kelihatan dengan diam‑diam telah turun pada jalan orang‑orang yang tidak tahu berterima kasih dan memberontak itu. Setiap berkat menyatakan kepada mereka tentang Pemberinya, tetapi mereka bersikap acuh tak acuh terhadap kasih‑Nya. Kesabaran Allah sangat besar kepada anak‑anak manusia; tetapi apabila mereka dengan keras hati tetap bertahan dalam kejahatan mereka, Ia mengangkat dari mereka tangan perlindungan‑Nya. Mereka telah menolak mendengar suara‑Nya di dalam perkara‑perkara yang telah dijadikan‑Nya, dan di dalam amaran‑amaran, nasihat dan teguran dari sabda‑Nya, dan dengan demikian Ia telah dipaksa berbicara kepada mereka melalui hukuman.

Ada beberapa dari antara orang Filistin yang siap menentang pengembalian tabut itu ke negerinya. Pengakuan terhadap kuasa Allah Israel seperti itu akan merupakan suatu kehinaan kepada kecongkakan orang Filistin. Tetapi "imam‑imam dan tukang tenung" menasihatkan mereka agar jangan meniru kekerasan hati Firaun dan orang Mesir, dan dengan demikian akan mendatangkan atas diri mereka penderitaan yang lebih besar lagi. Suatu rencana yang telah mendapatkan persetujuan dari semua orang sekarang telah digariskan, dan dengan segera dilaksanakan. Tabut itu, beserta dengan korban pelanggaran yang terbuat dari emas, diletakkan di atas sebuah pedati yang baru, dengan demikian menjauhkan kemungkinan adanya kenajisan; kepada pedati ini diikatkan dua ekor lembu, yang belum pernah dikenakan kuk pada leher mereka. Anak‑anak lembunya dikurung di dalam kandangnya, dan kedua lembu itu dibiarkan pergi sesuka hatinya. Jikalau tabut itu akan kembali kepada Israel melalui jalan Bet‑Semes, kota yang terdekat dari suku Lewi, maka orang Filistin akan menerima hal ini sebagai bukti bahwa Allah Israel telah mendatangkan atas mereka penderitaan itu, "dan jika tidak," kata mereka, "maka kita mengetahui, bahwa bukanlah tangan-Nya yang telah menimpa kita; kebetulan saja hal itu terjadi kepada kita."

Pada waktu dilepaskan, lembu‑lembu itu berpaling dari anak‑anak mereka, dan sambil menguak pada waktu mereka berangkat, mereka telah mengambil jalan yang langsung ke Bet‑Semes. Tanpa dipimpin oleh tangan manusia, kedua ekor binatang yang sabar ini meneruskan perjalanan mereka. Hadirat Ilahi menyertai tabut itu, dan telah bergerak maju dengan selamat tiba di tempat yang telah ditentukan.


Saat itu adalah waktu penuaian gandum, dan orang‑orang di Bet‑Semes sedang menuai di lembah itu. "Ketika mereka mengangkat muka, maka tampaklah kepada mereka tabut itu, lalu bersukacitalah mereka melihatnya. Kereta itu sampai ke ladang Yosua, orang Bet-Semes itu, dan berhenti di sana. Di sana ada batu besar. Mereka membelah kayu kereta itu dan mereka mempersembahkan lembu-lembu sebagai korban bakaran kepada Tuhan." Para pemimpin orang Filistin, yang telah mengikuti tabut itu "sampai ke daerah Bait‑semes," dan telah menyaksikan penyambutannya, sekarang kembali ke Ekron. Kutuk itu telah berhenti, dan mereka diyakinkan bahwa malapetaka yang telah menimpa mereka itu adalah merupakan hukuman dari Allah Israel.

Orang‑orang Bet‑Semes dengan segera menyebar‑luaskan kabar bahwa tabut Allah ada pada mereka, dan orang‑orang dari negeri-negeri sekelilingnya datang berbondong‑bondong menyambut kembalinya tabut itu. Tabut itu telah ditempatkan di atas batu yang mula‑mula telah digunakan sebagai sebuah mezbah, dan di hadapannya korban‑korban tambahan telah dipersembahkan kepada Tuhan. Jikalau orang‑orang yang berbakti ini telah bertobat dari dosa‑dosa mereka, berkat Allah akan menjadi bahagian mereka. Tetapi mereka tidak setia dalam mentaati hukum‑Nya; dan sementara mereka bersuka‑suka atas kembalinya tabut itu sebagai suatu pertanda akan datangnya perkara yang baik, mereka tidak memiliki perasaan yang sebenarnya atas kesuciannya. Gantinya menyediakan satu tempat yang patut untuk penyambutannya, mereka telah membiarkan tabut itu terletak di atas sebuah ladang yang sedang dituai. Apabila mereka terus‑menerus memandang kepada peti yang suci itu, dan membicarakan tentang keadaan yang ajaib yang menyebabkannya dikembalikan, mereka mulai menyelidiki di manakah letak kekuasaannya yang ganjil itu. Akhirnya, karena dikuasai oleh rasa ingin tahu, mereka telah membuka tutupnya dengan beraninya.

Semua orang Israel telah diajar untuk memandang kepada tabut itu dengan sikap takut dan hormat. Bilamana disuruh untuk memindahkannya dari satu tempat ke tempat yang lain, orang Lewi sekalipun tidak berani melihat kepadanya. Hanya sekali setahun imam besar diizinkan melihat tabut Allah itu. Orang Filistin yang kafir itu sekalipun tidak berani memindahkan penutupnya. Malaikat‑malaikat surga, yang tidak terlihat, senantiasa menyertai dalam segala perjalanannya. Sikap tidak hormat yang gegabah dari orang Bet‑Semes itu dengan segera telah dihukum. Banyak dari antara mereka yang telah dibunuh seketika itu juga.

Mereka yang masih hidup tidak dituntun oleh hukuman ini supaya bertobat dari dosa‑dosa mereka, tetapi hanya memandang tabut itu dengan rasa takut yang penuh dengan takhyul. Dengan merasa ingin dibebaskan dari kehadirannya, tetapi tidak berani untuk memindahnya, orang‑orang Bet‑Semes telah mengirimkan kabar kepada penduduk Kiryat‑Yearim, sambil mengundang mereka untuk membawanya. Dengan kesukaan yang besar orang‑orang ini telah menyambut peti yang suci itu. Mereka mengetahui bahwa itu adalah tanda dari kasih Allah kepada mereka yang menurut dan setia. Dengan kegembiraan yang khidmat mereka telah membawanya ke kota mereka, dan menempatkannya di rumah Abinadab, seorang Lewi. Orang ini mengangkat anaknya Eliezer untuk mengawasinya, dan tabut itu tinggal di tempat itu bertahun‑tahun lamanya.

Selama tahun‑tahun semenjak Tuhan untuk pertama kalinya menyatakan diri‑Nya kepada anak Hana, panggilan Samuel kepada jabatannya sebagai nabi telah diakui oleh segenap bangsa itu. Oleh menyampaikan amaran Ilahi dengan setianya kepada rumah tangga Eli, sekalipun tugas itu terasa menguji dan menyakitkan, Samuel telah memberikan bukti akan kejujurannya sebagai pesuruh Tuhan, "Dan Tuhan menyertai dia dan tidak ada satupun dari Firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan."

Israel sebagai satu bangsa masih terus berada dalam keadaan tidak beragama dan menyembah berhala, dan sebagai satu hukuman mereka tetap berada di bawah penjajahan bangsa Filistin. Selama masa ini, Samuel telah mengunjungi kota‑kota dan kampung‑kampung di seluruh negeri itu, sambil berusaha untuk memalingkan hati orang banyak kepada Allah leluhur mereka; dan usahanya bukannya tanpa mendatangkan hasil yang baik. Setelah menderita tekanan‑tekanan dari musuh mereka selama dua puluh tahun bangsa Israel "mengeluh kepada Tuhan." Samuel menasihatkan mereka, "Jika kamu berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati, maka jauhkanlah para Allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada Tuhan dan beribadahlah hanya kepada-Nya," di sini kita melihat bahwa kesalehan yang praktis, agama hati itu, telah diajarkan pada zaman Samuel sebagaimana diajarkan oleh Kristus, bentuk luar dari agama tidaklah berguna kepada bangsa Israel zaman dahulu. Hal yang sama juga berlaku kepada Israel modern.

Sekarang ini perlu diadakannya satu kebangunan agama hati yang sebenarnya, sebagaimana yang telah dialami oleh Israel kuno. Pertobatan adalah langkah yang pertama yang harus diambil oleh semua orang yang mau kembali kepada Allah. Tidak seorang pun dapat melaksanakan hal ini bagi orang lain. Secara pribadi kita harus merendahkan diri di hadapan Allah, dan membuangkan berhala‑berhala kita. Bilamana kita sudah melakukan segala sesuatu yang dapat kita lakukan, maka Tuhan akan menyatakan kepada kita keselamatan‑Nya.

Dengan kerja sama pemimpin‑pemimpin suku bangsa itu, suatu perhimpunan yang besar telah diadakan di Mizpa. Di tempat ini mereka telah berpuasa dengan khidmat sekali. Dengan kerendahan hati orang banyak itu telah mengakui dosa‑dosa mereka, dan sebagai satu bukti dari tekad mereka untuk menurut petunjuk‑petunjuk yang telah mereka dengar itu, mereka telah memberikan kepada Samuel wewenang sebagai seorang hakim.

Bangsa Filistin menyangka bahwa perkumpulan ini sebagai perundingan untuk mengadakan peperangan, dan dengan suatu bala tentara yang kuat mereka telah mengadakan serangan kepada bangsa Israel sebelum rencana mereka ini menjadi matang. Kabar tentang kedatangan mereka telah menyebabkan satu kegentaran yang besar di antara orang Israel. Orang banyak berseru kepada Samuel, "Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada Tuhan, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu."


Sementara Samuel sedang mempersembahkan seekor domba sebagai korban bakaran, orang Filistin telah berada dekat untuk berperang. Kemudian Yang Mahakuasa yang telah turun di atas Sinai di tengah‑tengah api dan asap dan guntur, yang telah membelah Laut Merah, dan menyediakan satu jalan bagi bangsa Israel, sekali lagi telah menyatakan kuasa‑Nya. Angin topan yang dahsyat telah menyerang bala tentara yang sedang bergerak maju itu, dan bumi telah dipenuhi oleh mayat‑mayat daripada serdadu‑serdadu yang kuat itu.

Bangsa Israel berdiri dengan diam penuh keheranan, gemetar dengan harapan yang bercampur ketakutan. Apabila mereka menyaksikan kebinasaan musuh mereka itu, mereka tahu bahwa Allah telah menerima pertobatan mereka. Sekalipun tidak bersedia untuk mengadakan peperangan, mereka telah mengambil senjata‑senjata dari orang Filistin yang sudah mati itu, dan mengejar mereka yang lari sampai ke Bet‑Kar. Kemenangan besar ini telah diperoleh di atas ladang yang sama di mana, dua puluh tahun sebelumnya, Israel telah dipukul mundur di hadapan orang Filistin, para imam dibunuh, dan tabut Allah telah direbut. Bagi bangsa, sebagaimana juga halnya untuk pribadi, jalan penurutan kepada Allah adalah jalan keselamatan dan kebahagiaan, sementara jalan pelanggaran akan memimpin hanya kepada malapetaka dan kekalahan. Sekarang bangsa Filistin sama sekali telah ditaklukkan sehingga mereka telah menyerahkan benteng‑benteng yang telah direbutnya dari Israel, dan selama bertahun‑tahun tidak mengadakan tindakan‑tindakan yang bermusuhan. Bangsa‑bangsa lain mengikuti teladannya, dan bangsa Israel menikmati damai sampai akhir dari pemerintahan Samuel yang sendirian itu.

Agar peristiwa itu tidak pernah dilupakan, Samuel telah mendirikan di antara Mizpa dan Sen, sebuah batu yang besar sebagai suatu peringatan. Ia telah menamai tempat itu Eben‑Haezer, "batu pertolongan," sambil berkata kepada orang banyak itu, "Sampai di sini Tuhan menolong kita."



Posting Komentar