Jumat, 28 Februari 2014

MAZMUR – 5



Download:



PASAL 5;

5:1          Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan suling. Mazmur Daud. (5-2) Berilah telinga
               kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku.
5:2          (5-3) Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku
               berdoa.
5:3          (5-4) TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur
               persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.

               “Waktu pagi ENGKAU mendengar seruanku” – menyatakan bahwa Daud berdoa setiap pagi.

               “Mengatur persembahan bagiMU” – menyatakan bahwa Daud setiap pagi selalu berpikir
                apa yang akan dia perbuat untuk TUHAN di sepanjang hari itu, bukan tentang urusan pabrik
                atau kantornya. TUHAN yang utama harus kita pikirkan; apa yang akan saya perbuat untuk
                memuliakan TUHAN di sepanjang hari ini?

                Kita harus menjalin kerjasama dengan ALLAH. Persoalan duniawi kita, kita serahkan kepada
                ALLAH untuk mengurusnya. Biarlah ALLAH yang memecahkan masalah di pabrik atau di
                kantor saya. Utang setumpuk? Biarlah YAHWEH yang melunasinya. Order yang menumpuk
                tak terkerjakan, biarlah YAHWEH yang mengatasi itu. Order sepi atau masalah apapun kita
                serahkan total pada YAHWEH. Tapi apa yang YAHWEH ingin kita lakukan, baiknya itu yang
                menempati pikiran kita.

               “Dan aku menunggu-nunggu.” Apa yang ditunggu Daud? Tentu saja apa yang akan YAHWEH
               berikan kepadanya di hari itu. Keuntungan atau kemalangan yang akan kita dapatkan di
               terbenamnya matahari? Jika itu kemalangan, seperti angin puting beliung atau banjir
               bandang, maka itulah pekerjaan yang TUHAN berikan ke kita untuk kita kerjakan. Sama
               seperti seorang karyawan yang diserahi setumpuk pekerjaan oleh bossnya supaya
               diselesaikannya. Mana boleh ditolak itu?

               Rumah hancur atau suami mati harus tetap kita syukuri. YAHWEH menunggu ucapan syukur
               kita atas kemalangan yang di hadapkan ke kita. Kita akan marah atau mengucap syukur, itu
               yang ingin YAHWEH lihat dari kita.

               Jangan lupa bahwa YAHWEH sanggup mengganti semua itu dengan yang lebih baik. Rumah
               yang hancur akan diganti dengan istana, bahkan suami yang mati akan diganti dengan suami
               baru yang lebih baik.

               TUHAN mengganti anak-anak Ayub yang dibunuh iblis dengan anak-anak yang lebih baik;

               >> Ayub  42:12   TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada
                                            dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing
                                            domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai
                                            betina.
                                42:13     Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan;
                                42:14     dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua
                                            Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh.
                                42:15     Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub,
                                            dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-
                                            saudaranya laki-laki.
                                42:16     Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat
                                            anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.
                                 42:17    Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

               Abigail adalah istrinya Nabal. Nabal adalah orang yang bebal. TUHAN membunuh Nabal
               karena tidak memberikan makanan bagi Daud, kemudian Abigail diambil istri oleh Daud.
               Abigail yang baik akhirnya mendapatkan suami yang lebih baik.

               http://id.wikipedia.org/wiki/Abigail

Kisah pertemuan Abigail ini dengan Daud tersebut terdapat dalam 1 Samuel 25:23-31. Abigail adalah istri dari seorang pengusaha kaya, namanyaNabal, yang dikisahkan pula bebal hatinya. Abigail sangat disorot karena dia dengan cerdik memintakan pengampunan dari Raja Daud ketikaNabal tidak mengindahkan permintaan Raja Daud untuk meminta upeti karena merasa telah berjasa menjaga kambing domba Nabal di Gunung Paran dalam pelariannya dari Raja Saul (Raja Israel yang masih berkuasa dan tidak menerima Daud merebut kekuasaannya). Daud sendiri akhirnya marah karena hinaan Nabal yang menolak memberikan upah kepada utusan Daud itu. Namun Abigail tahu persis bahwa jika Daud marah maka suaminya akan bernasib buruk, sehingga Abigail memohonkan ampun. Dalam peristiwa itu, Abigail membawakan makanan bagi pasukan Daud, dan dari situ pula akhirnya Daud tampak bersimpati pada kebijaksanaan Abigail.[2] Daud mengabulkan permohonan Abigail dan tidak menyerang Nabal. Namun setelah 10 hari, Tuhan sendiri yang memukul Nabal dan akhirnya Nabal mati. Setelah itu Daud menyuruh pasukannya untuk menjemput Abigail dan mengambilnya sebagai istri. Diceritakan bahwa memang Abigail cantik dan bijaksana, sehingga Daud mengambilnya sebagai istri.[3]
Selama menjadi istri Daud, Abigail bersama istri Daud yang lain, Ahinoam, turut berpindah-pindah tempat tinggal dan pernah menetap bersama Daud di kediaman raja Filistin, Akhis, di Gat.[4]Kemudian ketika mereka tinggal di Ziklag, Abigail sempat ditawan oleh orang-orang Amalek yang menyerang perkemahan mereka, ketika Daud sedang berperang di tempat lain, meskipun kemudian berhasil dibebaskan oleh Daud dan orang-orangnya.[5] Akhirnya Abigail mengikuti Daud ke Hebron ketika Daud diurapi di sana menjadi raja Yehuda.[6]

               Jangan takut dengan masalah tapi takutlah dengan kehilangan ALLAH.

5:4          (5-5) Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan
               menumpang pada-Mu.

               Anda mempunyai ALLAH atau tidak, itu bisa anda lihat pada diri anda sendiri; apakah anda
               orang benar atau masih suka dengan kejahatan? Jika anda orang benar, pastikanlah bahwa
               ALLAH masih bersama-sama anda. Karena itu tak usah kuatir dengan segala masalah. Tapi
               kalau anda orang jahat, ya, sepantasnyalah kalau anda kuatir dengan masalah, karena bisa
                dipastikan ALLAH takkan bersama-sama dengan anda.

               Raja Israel yang tidak benar, kalau menghadapi musuh yang kuat larinya ke Mesir untuk
               meminta bantuan, bukan ke TUHAN. Demikian juga dengan orang dunia yang tidak
               mempunyai ALLAH, kalau menghadapi masalah mengandalkan akal pikirannya,
               kekuatannya, hartanya, dan orang-orang pintarnya.

               >> Yesaya   30:2 yang berangkat ke Mesir dengan tidak meminta keputusan-Ku, untuk
                                                          berlindung pada Firaun dan untuk berteduh di bawah naungan Mesir.
                                     30:3   Tetapi perlindungan Firaun akan memalukan kamu, dan perteduhan di
                                                           bawah naungan Mesir akan menodai kamu.

              
5:5          (5-6) Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau membenci semua orang yang
               melakukan kejahatan.
5:6          (5-7) Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat
               penumpah darah dan penipu.
5:7          (5-8) Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu,
               sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.

               Daud menikmati keselamatan bukan berdasarkan pada perbuatannya, melainkan
               mengandalkan pada kasih setia ALLAH yang besar. Bahwa kasih YAHWEH itu setia adanya.
               Kasih YAHWEH tidak berubah oleh sebab kita berubah. Kasih YAHWEH itu sama seperti kasih
               seorang bapak kepada anak-anaknya. Entah anaknya itu baik atau jahat, seorang bapak
               tetap mengasihinya. Entah idiot atau nakal tetap diterima sebagai anak-anaknya.

               Jadi, perbedaan antara anda dengan saya hanya terletak pada TUHAN. Kalau soal dosa, kita
               sama-sama berdosanya. Tapi yang membedakan antara kita adalah apakah anda
               mempunyai TUHAN? Apakah anda mempunyai hubungan yang akrab dengan TUHAN?
               Seperti apakah anda memperlakukan dan menempatkan YAHWEH? Inilah yang penting.
               Sebab seorang bapakpun akan marah kalau dihina atau didurhakai oleh anaknya.

               Dan dalam hal dosa, dosa seperti apakah itu? Dosa yang terjadi oleh sebab alamiah kita atau
               kita sengaja main-main dengan dosa? Kalau dosa alamiah, yaitu sesuatu yang spontan
               terjadinya, bukan direncanakan, maka itu akan diampuni. Tapi kalau dosa yang disengaja
               sekalipun kita tahu itu dosa, inilah yang sulit diampuni.


5:8          (5-9) TUHAN, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu karena seteruku; ratakanlah jalan-Mu di
               depanku.

               Berikanlah kebijaksanaan kepada saya dalam menyikapi musuh-musuh saya.

5:9          (5-10) Sebab perkataan mereka tidak ada yang jujur, batin mereka penuh kebusukan,
               kerongkongan mereka seperti kubur ternganga, lidah mereka merayu-rayu.
5:10        (5-11) Biarlah mereka menanggung kesalahan mereka, ya Allah, biarlah mereka jatuh karena
               rancangannya sendiri; buanglah mereka karena banyaknya pelanggaran mereka, sebab
               mereka memberontak terhadap Engkau.
5:11        (5-12) Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan
               bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan
               bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu.
5:12        (5-13) Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia
               dengan anugerah-Mu seperti perisai.


PASAL 6;

6:1          Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur
               Daud. (6-2) Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah
               menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.

               Siapakah yang ketika dihukum menyadari bahwa itu hukuman untuk kesalahannya, lalu
               memohon kemurahan TUHAN agar TUHAN menghentikan hukumanNYA?

               Tak ada yang mau menyadari bahwa itu adalah hukuman TUHAN atas dosa-dosanya lalu
               memohonkan kemurahan TUHAN. Kenapa? Sebab mereka masih menyukai dosa-dosa itu dan
               masih bermaksud untuk memeliharanya. Sebab mereka sadar kalau mereka sudah
               mengakuinya sebagai dosa, maka mereka harus menghentikannya. Tapi mereka masih
               sayang dengan dosa-dosa itu.

               TUHAN sendiri lebih suka cepat-cepat mengakhiri murkaNYA. Sebab DIA lebih suka membelai
               anda daripada menghajar anda. Sama seperti bapak kita ketika menghajar kita bukanlah
               karena hobinya. Karena itu YAHWEH pasti suka sekali jika anda mengajukan permohonan
               penghukumanNYA. DIA menunggu anda mengajukan keringanan hukuman.

               Tapi anda lebih suka menyembuhkan penyakit ke dokter daripada harus menghentikan dosa-
               dosa kesayangan itu. Itulah sebabnya TUHAN menggempur anda dengan berbagai masalah
               secara sekaligus, sehingga anda membuat suatu peribahasa: “Sudah jatuh ditimpa tangga.”

6:2          (6-3) Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-
               tulangku gemetar,
6:3          (6-4) dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?
6:4          (6-5) Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih
               setia-Mu.

               “Selamatkan aku karena kasih setiaMU”, bukan karena perbuatanku. Sebab tak ada
               perbuatanku yang layak untuk aku pamerkan di hadapanMU supaya aku selamat.

6:5          (6-6) Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur
               kepada-Mu di dalam dunia orang mati?

               Sebab kalau aku ENGKAU binasakan aku tak mungkin bisa menyembahMU. Kalau semua
               manusia dibinasakan, maka manusia mana lagi yang akan menyembahMU? Lalu di mana
               ciptaanMU?

6:6          (6-7) Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air
               mataku aku membanjiri ranjangku.

               Siapakah yang menangisi perbuatan dosanya? Padahal kalau anda di neraka atau ketika
               anda menerima hukuman, anda pasti menangis. Jadi, logislah kalau anda yang diluputkan
               dari hukuman itu menangisi dosa-dosa anda.

               Anda melihat seorang pencuri yang dipenjarakan menangis. Jika anda juga pencuri, tidakkah
               anda juga harusnya dipenjarakan dan andapun pasti akan menangis? Jadi, tidakkah pencuri
               yang menangis itu cerminan dari anda sendiri? Karena itu harusnya anda juga menangis
               sekalipun anda tidak dipenjarakan, melainkan bisa diluputkan dari penjara.

               Tapi kenapa anda tidak menangisi dosa-dosa anda? Sebab anda belum melihat harganya.
               Dosa-dosa itu anda hargai murah sekali. Anda kesulitan membayangkan akibat mengerikan
               yang bakal anda terima. Coba seandainya hukuman itu di hadapkan di depan anda, misalnya
               api neraka, saya yakin anda pasti akan berteriak-teriak histeris.

6:7          (6-8) Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.
6:8          (6-9) Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah
               mendengar tangisku;
6:9          (6-10) TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.
6:10        (6-11) Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat
               malu dalam sekejap mata.

               Kalau anda hendak memusuhi orang pastikanlah bahwa orang itu anaknya setan bukan anak
               ALLAH. Sebab kalau anak ALLAH yang anda musuhi, apakah anda sudah memperhitungkan
               akibat yang akan anda dapatkan jika ALLAH marah? Jika anda hendak mencubit seorang
               anak, pastikanlah anak itu anak yatim-piatu. Sebab kalau anak itu punya bapak, anak itu
               pasti akan lapor bapaknya dan bapaknya pasti akan keluar untuk mencari anda.



>> MAZMUR – 1

      Download:

>> MAZMUR – 2

     Download:

>> MAZMUR – 3

     Download:

>> MAZMUR – 4

      Download:



BANJIR JAKARTA TEMPOE DOELOE

Sejarah Banjir di Jakarta


http://fitriwardhono.wordpress.com/2012/04/06/sejarah-banjir-di-jakarta/

Bagi sebagian orang mungkin tidak percaya kalau bencana banjir di Jakarta ini sudah mulai ada sejak jaman Belanda. Beberapa tahun setelah Belanda mendarat, pemerintahan kolonial sudah merasakan rumitnya menangani banjir di Batavia. Banjir besar pertama kali mereka rasakan di tahun 1621, diikuti tahun 1654 dan 1876.
Sering dilanda banjir pemerintah Belanda merasa perlu untuk mulai mengelola air secara serius. Tahun  1918 Pemerintah  Belanda mulai membangun beberapa. Selanjutnya karena semakin kompleksnya masalah air yang melimpah, memaksa Pemerintahanan Kolonial membangun Banjir Kanal Barat (BKB) pada tahun 1922.
Meski sudah dibangun BKB, bukan berarti persoalan banjir di Jakarta bisa langsung diselesaikan. Pada Januari 1932 lagi-lagi banjir besar melumpuhkan Kota Jakarta. Ratusan rumah di kawasan Jalan Sabang dan Thamrin digenangi air. Saat pemerintahan beralih ke Republik Indonesia masalah banjir  di Jakarta pun tak kunjung bisa diselesaikan. Tercata sejak kemerdekaan beberapa banjir besar terjadi di Jakarta, seperti pada tahun 1976, 1984, 1994, 1996, 1997, 1999, 2002, 2007 dan 2008.
Dari beberapa kejadian banjir besar yang terjadi  tahun 1996, 2002 dan 2007, ada beberapa catatan yang bisa kita ambil berkaitan dengan masalah hidrologi maupun karakter cuaca.
• Bulan Januari dan Pebruari adalah bulan dengan curah hujan tinggi yang berpotensi menyebabkan terjadinya banjir.
• Banjir di Jakarta sering disebabkan karena hujan dengan kapasitas besar terus menerus  turun. Hujan yang  hanya turun sekali biasanya tak sampai membuat Kali Ciliwung melimpas.
• Hujan besar sebelumnya bisa memabah masalah pada hujan besar berikutnya. Ini terlihat dalam kasus banjir tahun 2002. Curah hujan awal Januari membawa banyak material dan menyebabkan terjadinya sedimentasi di dasar sungai. Akibatnya ketika hujan yang sama kembali muncul tanggal 31 Januari, banjir sulit dielakan.
• Tinggi muka air laut tidak mempengaruhi  banjir yang terjadi tahun  1996 , 2002 dan  2007.
Banjir tahun 2002 dan 2007 disebabkan oleh curah hujan ektrim yang turun lebih dari dua hari. Hal ini menyebabkan tinggi muka air Sungai Ciliwung di daerah Manggarai mencapai puncaknya. Untuk tahun 2007 sekaligus terjadi kombinasi penyebaba banjir akibat hujan di daerah hulu dan dan daerah hilir.
Jika kita melihat dari sejarah yang sudah diuraikan diatas, banjir sudah terjadi  sejak jaman kolonial Belanda, hampir empat abad yang lalu. Ini artinya di saat jumlah penduduk Jakarta masih sedikit, banjir pun sudah terjadi di Jakarta. Dalam dekade terakhir, ternyata banjir semakin sering dialami.
Melihat kecenderungan banjir di Jakarta yang semakin  sering serta  semakin banyak daerah yang tergenang, memberikan indikasi bahwa penyebab banjir semakin beragam. Dimana satu dan lain penyebab saling menguatkan sehingga potensi terjadinya genangan semakin besar.
Kenyataan ini tentu membuat tantangan dalam menghadapi  banjir yang akan datang menjadi lebih berat lagi. Permasalahan  terus menerus bertambah sementara penyelesaian yang diambil sangat  terbatas.
Kesadaran perlunya diambil tindakan penanggulangan banjir sudah ada sejak lama. Batavia yang dilanda banjir besar tahun 1918, membuat  Prof. Ir. Herman Van Breen, seorang guru besar berkebangsaan Belanda, merencanakan satu konsep yang lebih strategis dalam menanggulangi banjir.  Konsepnya adalah berusaha mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air masuk kota.
Untuk  itu perlu dibangun saluran kolektor di pinggir selatan kota untuk menampung limpahan air, dan selanjutnya dialirkan ke laut melalui tepian barat kota. Saluran kolektor yang dibangun itu kini dikenal sebagai Banjir Kanal Barat (BKB) yang memotong Kota Jakarta dari Pintu Air Manggarai bermuara di kawasan Muara Angke.
Penetapan Manggarai sebagai titik awal karena saat itu, karena wilayah ini merupakan batas selatan kota yang relatif aman dari gangguan banjir sehingga memudahkan sistem pengendalian aliran air di saat musim hujan. Banjir Kanal Barat (BKB) ini mulai dibangun tahun 1922. Untuk mengatur debit aliran air ke dalam kota, banjir kanal ini dilengkapi beberapa pintu air. Dengan adanya BKB, beban sungai di utara saluran kolektor relatif terkendali. Karena itu, alur-alur tersebut, serta beberapa kanal yang dibangun kemudian, dimanfaatkan sebagai sistem makro drainase kota guna mengatasi genangan air di dalam kota.
Setelah kemerdekaan banyak konsep /studi yang telah dilakukan. Dari beberapa studi yang ada, yang menonjol adalah studi yang dilakukan oleh Nedeco ‘The Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta oleh NEDECO 1973.
Pengendalian banjir didefinisikan oleh NEDECO 1973 sebagai upaya mengalihkan banjir dari sungai-sungai dan mencegahnya mengalir ke dalam wilayah kota. Drainase ini diartikan sebagai upaya evakuasi runoff pada saat hujan lebat yang terjadi di wilayah kota tersebut untuk bisa mengalir dengan lancar ke dalam saluran pengalihan banjir.
NEDECO 1973 merekomendasikan rehabilitasi sistem drainase yang ada untuk penyaluran runoff secara efisien, dan upaya-upaya yang spesifik untuk mengendalikan banjir. Upaya pertama dalam pengendalian banjir adalah usulan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) dari sungai Cipinang ke arah Timur sebagai penampung dan pengalih banjir dari sungai-sungai Cipinang, Sunter, Buaran, dan Cakung. Selain itu direkomendasikan pelebaran saluran BKB pada titik belokan ke utara ke sungai Angke di Pesing, untuk menampung banjir dari sungai Grogol dan Sekretaris.



CURHATLAH KE MANA-MANA RISMA - KAMI DUKUNG

Mari kita dukung bu Risma dengan menggaungkan - menyebarluaskan perkataan ini dan supaya disampaikan ke telinga bu Risma;
 

"CURHATLAH KE MANA-MANA RISMA - KAMI DUKUNG"

MASALAH RISMA WALIKOTA SURABAYA



Download:

Ada hal yang tidak masuk akal dalam masalah konsep kepartaian di Indonesia ini, bahwa seorang pimpinan pemerintahan yang diusung oleh suatu partai dia masih dikendalikan oleh partai asalnya. Padahal yang menjadikannya pimpinan pemerintahan[baca: kepala daerah/presiden] adalah masyarakat pemilih, bukan partai. Partai itu hanya seumpama toko yang menjual suatu barang, sedangkan masyarakat adalah pembelinya. Karena itu barang yang sudah dibeli masyarakat seharusnya adalah hak milik masyarakat. Kenapa toko masih bersikap seolah-olah itu barang miliknya?

Kalau bicara tentang kuasa partai di pemerintahan itu ada di DPR/DPRD. Orang-orang yang duduk di DPR/DPRD itu adalah merupakan perwakilan partai. Mereka memang harus berbicara atas nama partai, sebab partai adalah pemilik program yang dibeli oleh masyarakat. Dalam pemilihan umum legislatif yang dijual oleh partai ke masyarakat adalah program-programnya.

Jadi, ceritanya begini;
Cara pengelolahan pemerintahan yang seperti apakah yang dikehendaki oleh masyarakat, di sini ada berbagai macam solusinya. Masing-masing partai menawarkan program-programnya yang akan dilaksanakannya apabila ia berhasil memenangkan pemilu. Misal pemenangnya partai Golkar, maka melalui oarng-orangnya yang duduk di DPR/DPRD, Golkar akan merealisasikan program-programnya, misalnya: mengusahakan sekolah gratis.

Siapa saja orang-orang yang akan didudukkan di DPR/DPRD, Golkar mempunyai mekanisme pemilihannya yang kemudian ditawarkan ke masyarakat untuk dipilih siapa orang yang diharapkannya duduk di DPR/DPRD sebagai wakil Golkar. Orang-orang yang terpilih itulah yang akan duduk di DPR/DPRD sebagai wakil partai Golkar. Hanya sampai sebatas ini saja pengejawantahan suatu partai di pemerintahan. Sebab sekarang ini pemilihan presidennya dilakukan secara langsung oleh masyarakat. Kalau dulu yang memilih presiden itu DPR/MPR, bukan masyarakat secara langsung. Karena itu dulu pemilihan umumnya hanya sekali saja. Sekarang ‘kan dua kali.

Di pemilihan presiden, seorang yang mencalonkan diri menjadi presiden akan memilih dilatarbelakangi oleh partai yang banyak pemilihnya. Misalkan saya adalah orang yang terkenal dan partai yang saya perkirakan bakal memenangkan pemilihan legislatif adalah partai PDIP, maka saya akan menawarkan diri ke PDIP, apakah partai tersebut mau mempromosikan saya? – Biasanya partai sudah memiliki calon presiden sendiri, yakni dari kader-kadernya, bukan dari orang luar yang belum pernah menjadi anggota. Tapi itu tidak menutup kemungkinan jika orang tersebut berbobot. Misalnya saja Jokowi atau Risma yang sedang ngetop namanya di masyarakat. Mereka ini pasti akan diterima dengan senang hati oleh segala partai. Tapi pemilihan presiden secara langsung sama sekali tidak ada urusannya dengan kepartaian. Sebab masyarakat dari simpatisan partai apa saja bisa memilih calon presiden yang diinginkannya. Misalkan saya simpatisan partai Gerindra, dan Gerindra mencalonkan Prabowo sebagai presiden pilihannya, sedangkan saya tidak suka dengan Prabowo, melainkan lebih menyukai Jokowi yang dari PDIP, saya sah-sah saja tidak memilih Prabowo tapi menjatuhkan pilihan pada Jokowi, sekalipun partai Gerindra mengharapkan simpatisannya memilih calon presiden yang dijagokannya.

Berbeda dengan pemilihan legislatif. Karena saya sebagai pemilih suka dengan program-program partai Golkar, maka saya mau tak mau pasti akan mencoblos partai tersebut, supaya partai tersebut menang.

Jadi, pemilihan presiden atau kepala daerah secara langsung tidak ada kaitannya dengan kepartaian. Fungsi partai hanya seperti sebuah bus saja, yakni penghantar, bukan penguasaan. Setelah saya terpilih sebagai presiden oleh pilihan langsung masyarakat, maka saya adalah presidennya rakyat Indonesia, bukan lagi presidennya partai. Jikapun saya harus berikatan dengan partai yang melahirkan saya, itu hanya sebatas ikatan batin saja, tidak boleh sampai mengikat kedinasan saya.

Karena itu lucu jika Megawati dan Puan Maharani hendak mengurusi kedinasan bu Risma sebagai walikota Surabaya, yaitu melarang bu Risma curhat ke mana-mana. Kenapa tidak boleh jika itu memang merupakan sebuah kebutuhan dalam rangka menyelesaikan permasalahan? Harus itu. Bu Risma harus curhat ke mana-mana supaya semakin banyak orang yang mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di Surabaya. Sebab bu Risma hanya seekor semut yang harus melawan gajah pengusaha, gajah gubernur dan gajah menteri. Tiga ekor gajah yang harus bu Risma lawan dan kalahkan. Dan satu-satunya yang bisa menjadi dewa penyelamat hanyalah presiden SBY yang berjanji untuk membantu persoalan Risma. Tapi apakah benar SBY itu dewa penyelamat, atau justru gajah yang keempat?

Karena itulah Risma lebih mementingkan ketemu dengan Priyo, ketua DPR yang dari partai Golkar daripada ketemu dengan Megawati. Sebab kalau ketemu Megawati pasti akan dibungkam mulutnya. Sama seperti pembantu rumahtangga yang dianiaya oleh istri jendral. Ketika istri jendral tidak bisa dijadikan pelindung, malah penganiaya, maka pembantu itu kabur dan meminta tolong pada orang luar. Dan itu ternyata adalah langkah yang benar. Karena itu, mari kita dukung kepada Risma dan kita katakan kepadanya: “CURHATLAH KE MANA-MANA, RISMA, DEMI KOTA SURABAYA.”


Tidakkah Indonesia kini mempunyai Jokowi, Ahok dan Risma? Ini harta, bung!

Ingin Mundur dari Wali Kota Surabaya, Ini Akar Masalah Risma


 VIVAnews – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengutus petingginya ke Surabaya untuk menjumpai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Niat Risma mundur dari kursi kepala daerah yang didudukinya direspons serius oleh partai pimpinan Megawati Soekarnoputri. Pesan PDIP kepada Risma jelas: jangan mundur, tuntaskan masa jabatan.

PDIP mengakui ada konflik antara Risma dengan struktur Dewan Pimpinan Cabang PDIP Surabaya dan Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Timur. Konflik itu terjadi karena perbedaan sudut pandang.
“Tidak ada hal prinsipiil yang dipertentangkan. Cuma ada beberapa hal yang harus diklopkan. Ini karena Bu Risma bukan pengurus partai, tapi petugas partai di eksekutif. Ini hanya dinamika politik lokal antara Bu Risma dengan Pak Wisnu,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Ahmad Basarah, Selasa 18 Februari 2014.

Wisnu yang ia maksud merupakan Ketua DPC PDIP Surabaya yang Januari 2014 dilantik menjadi Wakil Wali Kota Surabaya untuk mendampingi Risma. Wakil Wali Kota Surabaya yang sebelumnya, Bambang Dwi Hartono, telah mundur ketika maju pada Pilkada Jawa Timur 2013. Namun Risma dikabarkan merasa tak cocok dengan Wisnu yang menggantikan Bambang.

PDIP menyatakan, perbedaan persepsi antara Risma dan Wisnu bisa dijembatani. PDIP meminta Risma, Wisnu, dan struktur PDIP di Surabaya dan Jawa Timur untuk saling introspeksi diri. “Untuk Bu Risma, pertimbangkan hal-hal yang lebih penting, yaitu masyarakat Surabaya,” ujar Basarah.

Januari kemarin, Risma tak hadir dalam pelantikan Wisnu sebagai Wakil Wali Kota Surabaya. Alasannya, sakit. Risma mengatakan tak punya masalah pribadi dengan Wisnu. Ia hanya mempersoalkan proses pemilihan Wakil Wali Kota Surabaya yang menurutnya tak sesuai prosedur. Wisnu dipilih dalam rapat paripurna anggota DPRD Surabaya yang alot.

Risma yakin ada pemalsuan tanda tangan dalam proses terpilihnya Wisnu sebagai Wakil Wali Kota Surabaya. Ia menerima laporan, Ketua Panitia Pemilihan Wakil Wali Kota Surabaya merasa tidak menandatangani kelengkapan berkas calon wakil wali kota seperti yang seharusnya.

“Ada proses yang tida dilalui. Ada tanda tangan yang dipalsukan,” kata Risma beberapa waktu lalu. Panitia Pemilihan bahkan mengirim surat ke Menteri Dalam Negeri terkait prosedur yang salah tersebut.

Apapun, PDIP menyatakan dukungan penuhnya kepada Risma. “PDIP pusat tetap mendukung Risma sebagai Wali Kota Surabaya. Semua Dewan Pimpinan Cabang dan Dewan Pimpinan Daerah PDIP juga harus memiliki sikap sama, mendukung Risma,” kata Basarah.

Wasekjen PDIP itu meminta Risma bersabar. “Ini ujian Bu Risma untuk jadi pemimpin yang lebih besar lagi. Bu Risma harus fokus sampai selesai masa jabatannya. Kalau pemimpin berhenti di tengah jalan dengan alasan yang tidak bisa ditolerir, bisa negatif,” ujarnya. (umi)

Dilema Ibu Risma, Wakil Walikota dan Tol Dalam Kota


 JAKARTA, GRESNEWS.COM - Kabar akan mundurnya Walikota Surabaya Tri Rismaharini, kini tengah menjadi pembicaraan hangat di berbagai media dan menjadi trending topic di berbagai media sosial. Hashtag #SaveRisma pun banyak disertakan di postingan. Isu mundurnya Risma memang sudah lama berhembus. Sang walikota memang dikabarkan tidak tahan menghadapi tekanan politik terkait masalah pembangunan jalan tol dalam kota Surabaya dan soal pengangkatan Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti Buana.

Kedua kasus itu sebenarnya terkait erat. Pertama, dalam soal tol jalan kota, Risma memang seperti berhadapan dengan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, yang menyetujui pembangunan proyek jalan tol tersebut. Proyek itu dicanangkan pada tahun 2006 silam yang bertujuan untuk mengatasi kemacetan lalulintas di dalam kota Surabaya. Jalan tol itu direncanakan akan membentang sejauh 25 kilometer dari kawasan Bundaran Waru sampai ke Tanjung Perak. Dana yang dianggarkan lumayan besar, mencapai Rp 9,2 triliun rupiah.

Proyek ini kemudian tertunda selama 4 tahun karena masalah pendanaan dan pihak konsorsium PT Margaraya Jawa Tol baru bisa menyanggupi pembangunan tol itu pada tahun 2010. Konsorsium tersebut nyaris diakuisisi oleh Jasa Marga karena hampir dicabut kontraknya oleh Badan Pengatur Jalan Tol akibat penundaan ini.

Namun akhirnya konsorsium itu tetap bisa berjalan dan masih mengupayakan pendanaan lewat pinjaman dari pihak ketiga. Konsorsium ini memang masih membutuhkan dana sebesar Rp 6,5 triliun untuk melanjutkan proyek tersebut. Di luar masalah pendanaan konsorisum yang terengah-engah, Gubernur Jawa Timur Soekarwo sebenarnya sudah menyetujui pelaksanaan proyek ini.

Sayangnya soal perizinan, ternyata masih terganjal oleh kegigihan Tri Rismaharini sang walikota yang justru menolak pembangunan tol tengah kota tersebut. Alasan Risma, sebenarnya sederhana saja, dia bilang tol tengah kota akan menambah kemacetan kota, dan mengorbankan hak banyak warga yang rumahnya bakal tergusur proyek itu. Risma juga memperhitungkan banyak bisnis warga setempat yang mati jika jalan tol itu jadi dibangun.

Selain itu dari sisi estetika dia bilang tol akan merusak keindahan kota. Dan, dia memperhitungkan pembangunan jalan tol akan megakibatkan banjir. Dia mengaku tak mau nantinya warga Surabaya menyumpahi dia karena salah mengambil kebijakan. Toh Risma tak menolak tampa solusi. Dia setuju jika yang dibangun adalah jalan lingkar timur dan lingkar barat Surabaya. Dia memandang, pembangunan jalan lingkar ini justru akan mengurangi beban kemacetan di tengah kota.

Penolakan inilah yang membuat dia kemudian seolah berhadap-hadapan dengan Soekarwo. "Kebijakan jalan tol di Surabaya, posisi walikota berseberangan dengan posisi Gubernur Jatim dengan berbagai kepentingannya," kata Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo.

Pakde Karwo sebagai Gubernur Jatim di satu sisi adalah kepanjangan tangan pemerintah yang tentu punya kewajiban juga mengamankan kebijakan pusat termasuk soal pembangunan tol dalam kota Surabaya. Maklum, dalam kampanyenya dia juga mengusung program pembangunan infrastruktur jalan sebagai salah satu program unggulan menggenjot perekonomian Jawa Timur, termasuk proyek tol Surabaya yang merupakan warisan gubernur sebelumnya.

Di sisi lain sebagai gubernur Jawa Timur, dia juga harus mengayomi dan memahami posisi Risma sebagai Walikota Surabaya. Karena itu dalam kasus ini, Soekarwo sepertinya memang menggantung sikapnya. Di satu sisi dia menekankan agar masalah kemacetan diatasi. "Yang dipentingkan bukan Tol Tengah Kota, tapi solusi terhadap kemacetan," kata Soekarwo kepada wartawan usai orasi politik di gedung Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Rabu (12/2) lalu.

Kenapa Risma Pilih Ketemu Priyo daripada Megawati?


 Tri Rismaharini (Foto: Antara)
Tri Rismaharini (Foto: Antara)
JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan menyesalkan sikap salah satu kadernya yang juga Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang menemui Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso.

Seharusnya, Risma berkonsultasi terlebih dahulu dengan internal partai, termasuk bertemu Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, bukan malah menemui kader partai lain meskipun posisinya sebagai pimpinan DPR.

"Bu Risma harusnya berkordinasi dengan Ketum PDI Perjuangan. Kalau soal pemerintahan, tidak juga kalau langsung ke Wakil Ketua DPR, harusnya lapor ke partai juga," ujar politikus PDI Perjuangan, Budiman Sudjatmiko di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/2/2014).

Diterangkan Budiman, ada mekanisme di mana seorang kepala daerah atau wali kota hendak melakukan konsultasi dengan DPR. Pertama adalah melakukan konsultasi dengan pimpinan serta anggota Komisi II DPR yang membidangi masalah pemerintahan.

Jika memang hendak menemui pimpinan DPR, Budiman melanjutkan, seharusnya Risma bisa bertemu dengan pimpinan DPR yang berasal dari PDI Perjuangan, yakni Pramono Anung.

"Kalaupun mau ke DPR bisa ke komisi dulu. Kalau belum selesai baru ke wakil ketua DPR. Kalau wakil kan ada mas Pramono juga," sesal Budiman.

Seperti diketahui, Kamis 20 Februari lalu Risma menemui Priyo Budi Santoso di Gedung DPR. Ia hendak berkonsultasi perihal adanya kesalahan proses pengangkatan Wisnu Sakti Buana sebagai Wakil Wali Kota Surabaya.

Tak hanya dengan Priyo, Risma bahkan pernah berkomunikasi dengan Presiden Susilo Babmang Yudhoyono (SBY). Dalam percakapannya itu, SBY meminta Risma untuk terus melanjutkan jabatannya hingga masa baktinya sebagai wali kota berakhir.

Namun anehnya sampai saat ini Risma belum bertemu dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Puan Minta Risma Tak Curhat ke Mana-mana 


 Puan Minta Risma Tak Curhat ke Mana-mana  
Ketua fraksi PDIP DPR Puan Maharani. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.COJakarta - Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Puan Maharani meminta Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini fokus pada tugasnya memimpin Kota Pahlawan. Puan meminta Risma tak membawa persoalan terkait dengan pemilihan wakil wali kota ke berbagai pihak.

"Jangan menambah curhat ke mana-mana," kata Puan saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senin, 24 Februari 2014. Risma sebelumnya sudah bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso terkait dengan pemilihan Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana yang dinilainya melanggar prosedur. (Baca juga: Demi Evan Dimas, Risma Batalkan Acara di Jakarta)

Puan mengatakan partainya sudah mengklarifikasi dan menjernihkan persoalan ini. Dia menegaskan, bagi partainya, persoalan pemilihan wakil wali kota ini sudah selesai. Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini meminta semua pihak menjaga suasana agar tetap kondusif. Puan meminta Risma fokus bekerja sesuai penugasan. "Kami sudah jembatani dan sudahclear," ujar putri Megawati Soekarnoputri ini.

Terkait dengan wacana Risma menjadi calon wakil presiden, Puan tak berkomentar banyak. Hanya dia meminta Risma menjaga ambisi dan emosi dengan menjalankan tugas sebak-baiknya. Dia menilai boleh saja sebagai manusia berkeluh kesah, "Tapi jangan memperkeruh suasana," kata dia.

Pemilihan Wakil Wali Kota Surabaya berbuntut panjang karena Risma mempersoalkan prosedur pemilihan. Wakil wali kota terpilih, Wisnu Sakti Buana, dikenal kerap berseberangan dengan Risma dan ikut mendukung upaya pemakzulan Risma terkait dengan kenaikan pajak reklame.

 TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Ketua DPP PDI-P Puan Maharani mengharapkan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengucapkan agar kulanuwun (minta permisi/pamitan) jika benar-benar ingin meninggalkan PDI-P bergabung dengan partai lain.
"Mau tetap (di PDI-P) atau tidak yah harus kulo nowun. Kita harus paham fatsun politik beretika," kata Puan di gedung DPR RI Jakarta, Senin (24/2/2014).
Puan yang juga Ketua Fraksi PDI-P ini menyayangkan manuver politik Risma yang curhat ke sana-sini.
"Jadi lebih baik kita sama-sama menjaga kondusifitas. Karena dari PDI Perjuangan sebaiknya tidak usah curhat ke mana-mana. Lebih baik fokus ke tugas dan kerja sesuai tugas," tegas Puan.
Ketua Fraksi PDIP DPR  ini mengimbau Risma tetap fokus  mengurusi tanggung jawabnya sebagai  wali kota Surabaya. "Masalah internal sudah kami jembatani. Jadi ya sudahlah, kerja saja," kata dia.

Risma Harus Berani 'Lawan' Partai Pengusung


 SURABAYA- Polemik isu pengunduran diri Wali kota Surabaya Tri Rismaharini terus bergulir. Isu tersebut santer karena wali kota perempuan ini tidak cocok dengan Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana.  
 
Sekretaris Solusi Pemuda Surabaya (SPS), Umar Farouq, menganggap Risma memang terkesan mengabaikan partai pendukungnya yakni PDI Perjuangan. Namun secara kinerja, Mantan Kepala Bappeko Surabaya ini sudah berada di jalur yang benar.
 
“Risma terbukti sukses memimpin Surabaya. Tapi hanya karena mengabaikan partai pengusung, Risma dimusuhi,” ujarnya dalam diskusi “Risma Teraniaya” yang digelar SPS di Surabaya, Kamis (27/2/2014).
 
Kata Umar, sudah seharusnya kepala daerah tidak tunduk pada kepentingan partai politik. Bahkan, terhadap parpol yang mengusungnya sebagai kepala daerah. Karena, sebagai kepala daerah memiliki tanggung jawab kepada rakyat bukan kepada partai pengusung.
 
Polemik Risma ini tentunya dapat menjadi cambuk bagi kepala daerah lainnya agar tidak tunduk kepada hegemoni parpol. Jika ada partai pengusung yang mencoba mengekang, kepala daerah harus berani melawannya.
 
“Risma sudah berani melawan, meskipun dia dianiaya. Ini harus menjadi inspirasi bagi kepala daerah lainnya,” ujarnya.
 
Besarnya dukungan masyarakat ini menunjukkan bahwa Risma memang kuat. Ia berharap, pengabdiaannya sebagai wali kota tidak terganggu dengan intrik-intrik politik di parpol.
 
“Sosok Risma adalah pemimpin yang diinginkan masyarakat saat ini. Kita harus menyatukan barisan mendukung dan melindunginya dari intrik-intrik politik,” tukasnya.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) dikabarkan akan mundur dari jabatannya sebagai orang nomor satu di Kota Surabaya. Tak hanya itu saja, peraih 51 penghargaan itu kabarnya tidak tahan dengan tekanan-tekanan dari partai pengusungnya, yakni PDI Perjuangan. 
Menurut Sekretaris Jenderal ProDem, Andrianto, Risma akan menjadi rising star baru karena sikap politiknya sangat progresif bahkan terlampau maju.

"Kepopuleran Risma ini bak pisau bermata dua. Risma bukanlah kader sejati banteng, Risma seorang teknokrat yang tulus mengabdi. Sebagai wanita sosoknya dapat menggerus 'putri mahkota' yakni Puan Maharani," ujar Andrianto, Minggu (23/2). 

Kata dia, sikap Risma yang taat aturan dalam penunjukan wakil Wali Kota harus jadi pembelanjaran partai apapun yang berkuasa dan janganlah bertindak sewenang-wenang dengan memaksakan pilihannya tanpa konsultasi terlebih dahulu.

"Harusnya PDI Perjuangan bertanya sama Risma, sosok wakilnya ini Kan masih dua tahun lagi. Bayangkan kalau Risma bersanding dengan figur yang kurang cocok. Kesannya terjadi kawin paksa, kalau begitu, Risma Siti Nurbaya dari Surabaya," kelakarnya.

Direktur The Sun Institute ini melanjutkan, amat keliru jika PDI Perjuangan lantas 'membonsai' Risma. 

"Peristiwa ini mirip dengan kasus Gamawan Fauzi di Sumatera Barat, dulu disokong banteng namun tidak kuat berlama-lama di tanduk banteng, dan akhirnya lepas juga," pungkasnya.
Rencana mundurnya Tri Rismaharini dari kursi Wali Kota Surabaya pun bisa menjadi "bola panas" bagi PDI Perjuangan sebagai partai pengusung. "Ketika dia (Risma) benar-benar mundur, akan menjadi bola panas bagi PDI Perjuangan. Padahal Risma sebagai aset besar," kata pengamat politik, Gun Gun, Minggu (23/2).

Menurutnya, Risma terlihat tertekan ketika bicara di media soal keinginannya untuk mundur. "Dan dia tak mau menggaransi untuk tidak mengundurkan diri. Risma memang bukan dari kaderisasi partai. Artinya potensi dia mundur sangat besar. Kalau sampai mengundurkan diri, ini artinya lampu kuning menjadi lampu merah bagi PDI Perjuangan," bebernya. 

Sebab itu, lanjut Gun Gun, polemik itu kemungkinan besar akan dimanfaatkan bagi partai lain untuk menggaet Risma. "Potensi untuk pindah partai itu ada. Tapi saya belum melakukan analisa yang lebih dalam. Kasus ini tentu dimanfaatkan partai lain kalau sampai mundur," tegasnya. (dbs)