Sabtu, 31 Mei 2014

AYUB – 2




Download:



PASAL  2;

2:1          Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang
               juga Iblis untuk menghadap TUHAN.

               Babak pertama Ayub memenangkan ujiannya bagi kemuliaan TUHAN. Kini masuk ke babak
               kedua.

               Coba renungkan; sepanjang anda menjadi orang Kristen, pernahkah anda memenangkan
               ujian bagi kemuliaan TUHAN, seperti Ayub?

               >> Ayub  1:21      katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan
                                            telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN
                                            yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

               Perkataan Ayub ini amat populer dalam kehidupan kita sehari-hari, baik bagi kaum Muslim,
               Kristen, Hindu, Buddha, dan sekutu-sekutunya. Kita semua menyetujui bahwa harta yang kita
               miliki hanyalah titipan, bukan milik kita sendiri, karena kita lahir tak membawa apa-apa. Tapi
               sayang tak pernah teraplikasikan ke dalam kehidupan nyata kita. Ucapan tersebut
               kelihatannya masih sebatas hiasan bibir belaka, selain kumis.

2:2          Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN:
              "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."

               “Dari mana engkau?” – Apakah engkau masih menebarkan kejahatan juga?

               Jawab iblis: “Demikianlah TUHAN, itu memang profesi saya, mengelilingi bumi untuk tipu sini
               tipu sana.”

2:3          Firman TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada
               seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan
               menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk
               Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan."

               “Apa salahku?” Banyak orang merasa heran ketika dirinya ditimpa kemalangan padahal tak
               merasa bersalah apa-apa. “Mengapa kamu memukul aku? Apa salahku?”, “Mengapa kamu
               memusuhi aku, apa salahku?”

               Jangan kaget bahwa di dunia ini ada banyak orang yang kesenangannya membuat gara-
               gara, menciptakan perkara tanpa alasan. Dan tanpa adanya orang-orang seperti itu maka
               dunia ini takkan ramai. Tiba-tiba rumah kita digerayangi maling, didatangi perampok,
               sekalipun kita tak bersalah apa-apa terhadap mereka.

               Itu ada. Manusia yang kerjanya tanpa otak, tanpa nalar yang jelas, itu ada. Jangan heran dan
               jangan kaget, sebab mereka itu antek-antek iblis. Bahkan sampai lahir ungkapan: “Air susu
                dibalas dengan air tuba.” Dikasih kebaikan balasannya kejahatan. Dikasih kebenaran
                balasannya salib. Kejahatan demikian itu sudah ada sejak lahirnya ungkapan itu.

               Istilah lainnya lagi: “anak durhaka.” Ini adalah kejahatan anak terhadap orangtuanya.
               Gantinya hormat pada orangtua, kurangajar. Jadi, sekali lagi: jangan heran dan jangan
               kaget. Tapi sebagai gantinya heran dan kaget lebih baik kita pikirkan bagaimana kita harus
               menyikapinya? Bagaimana ajaran Kristen menyikapi semua ini?

               1. Sabar.

                    Terimalah apa saja yang ditimpakan kepada kita dengan kesabaran yang maksimal. Tak
                    perlu gusar atau marah-marah. Pertahankanlah diri anda tetap sebagai orang yang baik.
                    Jangan terjebak untuk menjadi sama-sama jahatnya.

                    >> Roma   12:12            Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan
                                                          bertekunlah dalam doa!

               2. Bersyukurlah.

                    Bersyukurlah bahwa pelaku kejahatan itu bukan anda. Bersyukurlah anda bisa tabah
                    menghadapinya. Bersyukurlah bahwa TUHAN mempercayai anda untuk menghadapi
                    masalah itu. Bukankah kalau di bidang pekerjaan, anda senang sekali kalau dipercayai
                    boss untuk menangani suatu masalah yang rumit? Bukankah anda merasa bangga
                    memperoleh kesempatan diperhatikan oleh boss?

                    >> 1Petrus   2:20           Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena
                                                          kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu
                                                          kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.

                    Pencobaan itu adalah kasih karunia YAHWEH.

               3. Ampunilah.

                   Ampunilah kesalahan orang itu, sebab dia tidak kebagian mendapatkan pengetahuan
                   tentang kebenaran. Sebab seandainya orang itu memiliki pengertian, tentu dia tidak akan
                   melakukan kejahatan itu. Jadi, kasihanilah dia sebab dia tidak tahu dengan perbuatannya.
                   Seumpama pakaian yang terkena noda, bersihkanlah itu. Bersihkanlah jiwa anda dari
                   kotoran permusuhan terhadap siapapun. Sebab jika jiwa anda masih kotor, anda tak
                   diperbolehkan menghadap TUHAN. Karena itu lepaskanlah pengampunan baginya. Marah,
                   boleh, tapi untuk mendidik, bukan untuk balas dendam. Justru kalau anda tidak
                   menghardik orang yang salah, anda bersalah juga. Sebab sebagai orang Kristen kita ini
                   dibebani kewajiban untuk membimbing orang-orang yang berdosa.

                   >> Matius  5:23              Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas
                                                          mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati
                                                          saudaramu terhadap engkau,
                                      5:24  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah
                                                          berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk
                                                           mempersembahkan persembahanmu itu.

2:4          Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang
               dipunyainya ganti nyawanya.

               Kulit ganti kulit, artinya; orang baru akan bereaksi frontal kalau nyawanya terancam.

2:5          Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau
               di hadapan-Mu."

               Kalau di babak pertama pencobaan Ayub dari luar tubuhnya, kini iblis meminta untuk
               mencobai tubuh Ayub.

2:6          Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya."

               Syarat TUHAN: jangan cabut nyawanya.

2:7          Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk
               dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.

               Ayub ditimpa penyakit sebagai ujian baginya. Tidak ada pasal bahwa Ayub kesalahan pola
               makanannya.

2:8          Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di
               tengah-tengah abu.

               Jiwa Ayub ini jiwa yang praktis sekali. Apa masalahnya itulah yang dia tangani, di mana
               masalahnya di situlah yang dia atasi. Gatal kulitnya, ya dia garuk. Ayub tidak mau
               melebarkan masalahnya hingga ke mana-mana. Sakit ya diobati. Tidak ada gunanya mencari
               kambing hitam; menuduh salah makan atau menuduh perbuatan YAHWEH. Jangan mereka-
               rekakan hal yang tidak jelas. Resikonya bisa tambah dosa tambah parah penyakitnya. Lebih
               baik konsentrasikan diri pada satu hal saja, yakni apa masalahnya itulah yang diatasi.

2:9          Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?
               Kutukilah Allahmu dan matilah!"

               Perkataan istrinya itu merupakan ujian kesetiaan Ayub; apakah Ayub masih tetap setia pada
               YAHWEH jika keadaannya seperti itu? Sementara dirinya sendiri terbukti tidak setia terhadap
               Ayub, suaminya. Si istri hanya mau menerima Ayub ketika keadaannya baik-baik, seperti kata
               peribahasa: ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.

               Apakah Ayub sama seperti istrinya, mari kita lihat!

2:10        Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau
               menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya
               itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

               Ternyata Ayub tidak sama seperti istrinya yang tidak setia. Ayub tetap setia pada YAHWEH,
               baik ketika senang maupun ketika susah.

               Kaum Muslim mempunyai ajaran poligami yang mengajarkan ketidaksetiaan;

               >> Seorang laki-laki boleh mempunyai istri hingga 4 orang.

               >> Jika seorang istri oleh suatu penyakit sehingga tidak bisa melayani hasrat seksual
                     suaminya, maka si suami boleh kawin lagi.

               >> Ketika di sorga, istrinya digantikan dengan 77 bidadari yang bisa selalu perawan.

               Celakalah perempuan Muslim dunia-akherat! Di dunia boleh diperlakukan semau gue oleh
               suaminya, di akherat dizholimi 77 bidadari. Betapa jahat dan kejamnya masyarakat sorga
               Muslim itu?! Tuhannya Muhammad benar-benar tidak adil dan ngawur konsep kerjanya.


2:11        Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia,
               maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan
               Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan
               belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.

               Si Ayub yang sakit tidak susah, sahabat-sahabatnya berbelasungkawa dan menghiburnya.
               Jika Ayub membawa api, para sahabatnya datang membawa air yang memadamkan api
               Ayub. Suatu kehadiran yang tidak tepat yang sering dilakukan oleh mereka yang menamakan
               dirinya sahabat. Mereka seharusnya datang untuk memberikan semangat kepada Ayub
               dalam ucapan syukurnya, tapi mereka datang untuk menjadi beban yang menekan pikiran
               Ayub.

               Ketika seorang berkelahi, sahabat-sahabatnya datang bukan untuk memperdamaikan, tapi
               malah menciptakan tawuran. Ketika seorang mengajak berjudi, sahabat bukannya
               menasehati, tapi malah ikut berjudi. Seringkali sahabat itu menjerumuskan kita pada
               keadaan semakin jahat.

               Sebagai orang Kristen kalau kita membezuk orang sakit atau kesusahan, kita harus berusaha
               menciptakan suasana yang membangkitkan semangat, bukannya malah memadamkannya,
               seperti sahabat-sahabat Ayub itu.

2:12        Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah
               mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala
                terhadap langit.

               Ayub saja tidak menangis dan tidak menaburkan debu di kepala terhadap langit, artinya
               protes kepada YAHWEH.

2:13        Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun
               tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat
               penderitaannya.

               Mari kita hitung berapa banyak serangan yang dialami Ayub; anak-anaknya mati, hartanya
               habis, tubuhnya diserang barah, dihina istrinya dan didukakan oleh ke-3 sahabatnya. Tapi
               semua serangan itu bisa ditahan oleh Ayub.


>> AYUB – 1

      Download:




Tidak ada komentar: