Sabtu, 31 Mei 2014

GEREJA SESUDAH MASA KONSTANTIN AGUNG



Download:


Sesudah Konstantin Agung merebut tahta Roma (312 Masehi), keadaan gerejapun berubahlah. Mulai dengan pengakuan negara terhadap gereja sampai kepada gereja negara. Agama Kristen menjadi agama negara. Rakyat banyak masuk agama Kristen, sedangkan Kaisar adalah kepala gereja. Kemudian dengan pengembangan kePausan, Pauslah kepala gereja. Gereja menjadi kaya dan kuat secara duniawi tapi bersamaan dengan itu dunia juga masuk ke dalam gereja.
Kuasa rohani gerejapun menjadi lemah. Tradisi gereja lebih berkuasa dari Firman Raja gereja itu sendiri. Kuasa dan pemerintahan Kristus dalam segala bidang kehidupan melalui Firman dan RohNya, ditafsirkan sebagai pemerintahan gereja melalui pemimpin-pemimpinnya.


Gereja Reformasi melepaskan gereja dari pemerintahan tradisi gereja, mengembalikan gereja kepada kuasa Firman saja, keselamatan hanya karena anugerah.
Luther mengajarkan gereja reformasi untuk meninggalkan pedang duniawi, bahwa gereja harus menundukkan diri pada kekuasaan Firman Tuhan sebagai satu-satunya otoritas rohani.
Calvin membukakan penglihatan gereja akan pentingnya pengakuan kedaulatan Tuhan dalam segala lapangan hidup. Dalam bukunya, Iman Kristen dan Politik, O. Notohamidjojo menulis,
Calvinisme mengajarkan, bahwa juga penguasa wajib menundukkan diri kepada Tuhan dan bahwa penguasa itu terikat kepada Firman dan Hukumnya. Dengan demikian Calvinisme menolak segala kemahakuasaan negara dan pen-dewa-dewaan raja.
Lain daripada itu Calvinisme mengakui, bahwa penguasa itu suatu lembaga Tuhan, yang di samping gereja mempunyai kewajiban sendiri.
Menurut faham Calvin, gereja dan negara itu masing-masing mempunyai tempat dan panggilan dalam dunia. Keduanya wajib saling menghormati kewajiban dan batas masing-masing. Negara tidak tunduk kepada gereja; gereja tidak tunduk kepada negara. Negara dan gereja ke-dua-duanya tunduk kepada Tuhan dan kedua-duanya sederajat. Selanjutnya Calvin mengakui hak-hak penguasa bawahan. Ia menolak segala macam diktator, dan menuntut, supaya penguasa atasan mengakui hak-hak penguasa bawahan, dan supaya penguasa atasan dan bawahan itu saling mengawasi.
Lagi pula ia menuntut pengaruh rakyat yang sehat terhadap pemerintahan. Rakyat harus mengingatkan penguasa akan kewajibannya. Dipimpin oleh Firman Tuhan, rakyat wajib mengajak penguasa supaya patuh kepada Firman itu dan untuk menjamin hak-hak dan kebebasan asasi rakyat. Di Indonesia ini kehidupan politik dalam beberapa hal bercirikan Calvinisme (1972: 22).



Tidak ada komentar: