Kamis, 26 Februari 2015

APAKAH SAYA INGKAR JANJI

Karena menerima uang dari penginjilan dipermasalahkan oleh Elisa Sagala[padahal menurut Alkitab seorang penginjil harus makan dari penginjilannya], maka pada saat itu saya bersumpah takkan mau menerima uang dari orang yang saya kenal lewat internet. Dan para murid itu termasuk orang yang saya kenal lewat internet.
Apakah saya ingkar janji jika saya menerima uang mereka? Tergantung: siapakah saya? Jika saya hidup dibawah "hukum" maka saya diikat oleh hukum. Tapi saya hidup di dalam ROH, maka saya tidak lagi dibawah hukum. ROH memiliki kebebasan untuk melangkahi hukum.

Hukum ALLAH berbunyi: "Jangan membunuh." Tapi nabi Elia justru membunuh 850 orang, dan bukannya masuk neraka, malahan diangkat ke sorga oleh ALLAH.

Mengapa saya mengucapkan sumpah kalau saya tidak mematuhinya? Saya mengucapkan sumpah karena saya siap mematuhinya. Saya bukan Anjing yang memakan kembali muntahannya. Tapi saya manusia ROHANI, orang yang merdeka bukan orang yang dipenjarakan oleh hukum atau sumpah atau janji. Saya memiliki kebijaksanaan untuk sewaktu-waktu keluar dari pengaruh hukum itu.

Ketika saya di dalam kamar tidur, bukankah saya sama seperti orang yang di dalam penjara? Betul. Tapi saya berbeda dengan orang yang di dalam penjara. Saya memiliki kebebasan untuk keluar-masuk kamar.

Di suatu sekolahan ada banyak guru dan seorang kepala sekolah. Sekalipun kepala sekolah termasuk guru, namun kepala sekolah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh para guru yang lain. Ketika sekolahan itu mengeluarkan peraturan bahwa setiap siswa harus membayar iuran sekolah, hanya kepala sekolah yang memiliki kebijaksanaan untuk memberikan gratis iuran sekolah kepada orang-orang miskin tertentu. Itulah hak istimewa seorang kepala sekolah.

Jika terhadap semua orang miskin digratiskan itu namanya peraturan bukan kebijaksanaan. Tapi jika tidak ada kriterianya melainkan berdasarkan suka-suka sang kepala sekolah, maka itulah yang dinamakan kebijaksanaan. Dan hukum tidak mengenal kebijaksanaan, sebab hukum itu sesuatu yang mati. Tapi ROH adalah hidup. Karena itu ROH memiliki kebebasan melayang-layang.

Memang ada 2 kebebasan; kebebasan yang disalahgunakan dan kebebasan yang benar. Namun kebebasan yang disalahgunakan hasilnya sudah pasti ngawur, sedangkan kebebasan yang benar hasilnya pasti indah sekalipun melanggar hukum.

Polisi lalulintas yang bertugas memiliki kebebasan untuk menerjang rambu-rambu larangan maupun lampu merah, yaitu misalnya ketika mengejar penjahat. Hasilnya pasti nyata yaitu menangkap penjahat. Tapi kalau orang biasa yang melakukannya malah mengacaukan lalulintas.

Kalau saya mengumpulkan rumput itu adalah untuk kambing bukan untuk saya makan. Demikian pula kalau saya bersumpah itu adalah untuk orang-orang bodoh saja, untuk menenteramkan hati mereka saja. Sebab kalau kepada seorang sahabat, saya tidak perlu bersumpah. Tak perlu sumpah seorang sahabat pasti percaya. Jika saya berkata: besok akan saya bayar utang saya, jika ternyata meleset, sahabat takkan mempermasalahkannya. Tapi menjadi masalah jika itu terhadap orang lain.

Jadi, sumpah itu saya tujukan untuk orang lain, bukan untuk diri saya sendiri. Ketika saya bersumpah, dalam hati saya ketawa: Itu uang bukan Babi, ngapain saya haramkan? Ngapain yang halal harus saya katakan haram? Saya ini butuh uang untuk bayar warnet, lalu ada yang kasih uang, masakan saya tolak? Saya belum sinting!

Kalau semula saya laporkan ke milis, kini tidak saya laporkan. Itu saja mainan saya. Biarkanlah kambing-kambing itu makan rumput. Biarkanlah orang-orang bodoh itu makan sumpah saya. Tapi saya tidak mau termakan oleh sumpah saya. Bodoh sekali kalau sumpah itu saya anggap serius?!

Saya ini orang pinter. Karena itu saya tidak mungkin mau diikat oleh aturan-aturan konyol bikinan manusia. Setiap aturan pasti saya periksa: aturan siapa ini? Manusia atau TUHAN? Kalau aturan TUHAN pasti saya turuti.

Sumpah/janji/hukum itu hanya untuk konsumsi orang yang bodoh yang tidak memiliki pengetahuan dan pengertian. Karena itu mereka perlu dibuatkan peraturan supaya mengerti mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan. Mereka itu sama seperti orang asing yang baru pertama kali masuk suatu kota, perlu dituntun oleh peta atau guide supaya tidak kesasar. Apakah boleh saya korupsi? Maka dicarilah undang-undangnya. Jika belum ada artinya masih halal, belum dosa, sedangkan kalau sudah ada aturannya barulah korupsi itu termasuk haram.

Tapi orang-orang yang dipimpin oleh ROH ALLAH, memiliki hukum yang hidup yang berlakunya menurut situasi dan kondisinya. Di suatu waktu membunuh merupakan larangan, tapi diwaktu tertentu malah merupakan kebutuhan.

Singkat cerita begini: apakah tidak konyol jika tiba-tiba saya seorang manusia biasa mengeluarkan peraturan menerima pemberian orang itu haram? Memangnya siapa saya sehingga bisa membuat suatu peraturan? Memangnya kalau saya bersumpah maka peraturan itu bisa menjadi seolah-olah peraturan ALLAH? - Hua..ha..ha..... kecuali hanya sebagai lawakan saja, bukan?!

Dalam hal lain saya memiliki pantangan; misalnya: berbalik ke jalan yang sudah saya lewati. Misalnya ketika berangkat dari rumah saya lewat jalan Sudirman, pulangnya saya tidak akan balik lewat jalan itu lagi. Apakah seperti itu saya memaknainya? Jelas, bukan! Tapi saya harus bekerja itu yang praktis jangan buang-buang waktu. Jika tidak ada perlunya bolak-balik buat apa bolak-balik. Karena lupa membawa SIM balik ke rumah. Lalu ada lagi yang tertinggal, misalnya dompet sehingga harus balik dua kali. Bukankah itu menunjukkan membuang-buang waktu secara sia-sia?

Jadi, sekalipun saya mempunyai pantangan, namun saya tidak pernah merasa diikat oleh pantangan tersebut. Bahwa secara garis besarnya saya akan begitu tapi tidak harus selalu begitu.

Istilah-istilah yang dibuat oleh rasul Paulus tentang orang-orang yang diperbudak oleh hukum; bagi orang yang sudah lebih maju, hukum itu sampah! Hukum itu barang usang! Hukum itu untuk robot atau Zombie.
Posting Komentar