Kamis, 30 April 2015

JUMLAH ORANG STRES MENINGKAT

HIDUP SEMAKIN BERAT, IMAN LEMAH;

Kalau orang bunuh diri karena tekanan ekonomi, pasti beritanya masuk di koran atau televisi. Tapi bagaimana dengan yang tidak bunuh diri, yang pikirannya jebol sehingga stres atau depresi? Apakah masuk koran? Apakah tercatat datanya?

Selama sebulan lebih saya di Medan, di warung-warung kopi, saya selalu menjumpai orang-orang stres. Mereka duduk menyendiri, melamun, lalu ngomong sendiri. Kebanyakan usia sudah ubanan antara 40-60 tahunan. Di Medan yang mencolok sekali jumlahnya. Sedangkan kalau di kota-kota lain yang mencolok orang gilanya. Selalu saja saya jumpai orang-orang gila baru. Itu terlihat dari pakaian yang dikenakannya masih bagus. Kebanyakan perempuan dan berusia muda; 30 tahunan.

Saat ini sudah 10 harian saya di kota Pekan Baru - Riau. Di sini juga banyak sekali orang gila baru yang berkeliaran di jalan-jalan. Di sini yang kebanyakan laki-laki usia: 30-60 tahunan.

Saya teringat ketika masih di Jakarta, 7 bulanan yang lalu, di daerah Senen, sekitar jam 24 malam ada perempuan 40 tahunan yang berdandan menor barusan keluar dari sebuah kampung, melongak-longok ke dalam kampung seperti ada yang dikuatirkannya. Saya tidak tahu apa masalahnya. Hanya saja terlintas dalam pikiran saya jangan-jangan perempuan itu baru mulai mencoba-coba menjual diri [melacur]. Iiih, bergidik bulu roma saya.

Adakah tekanan ekonomi sudah sedemikian dahsyatnya melebihi tsunami Aceh? Lihat, berita-berita ini!

Waduh... Makin Banyak Orang Stres, Pasien RSJ Melonjak

http://www.jpnn.com/read/2015/03/22/293723/Waduh...-Makin-Banyak-Orang-Stres,-Pasien-RSJ-Melonjak

Minggu, 22 Maret 2015 , 03:22:00

MALANG - Persoalan ekonomi yang kian sulit membuat banyak warga stres. Tidak jarang, mereka harus masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Radjiman Wediodiningrat, Lawang.

Di rumah sakit yang didirikan pada zaman Belanda itu, setiap hari tercatat ada sekitar 20 orang yang masuk untuk rawat inap karena gangguan jiwa. Yang rawat jalan setiap hari tidak kurang dari 100 pasien.

Herie Juwanto, Kasubbag Humas RSJ Lawang, menyatakan bahwa pada 2015 jumlah pasien yang dirawat di RSJ Lawang meningkat daripada 2014. Pada 2014, pasien yang masuk ke RSJ Lawang sekitar 8-9 orang per hari. Begitu juga yang ra­wat jalan, jumlahnya tidak mencapai 90 pasien.

Hingga kini, jumlah pasien RSJ Lawang mencapai 560 atau 80 persen dari 700 kapasitas kamar yang disediakan. Para pasien terdiri atas remaja, dewasa, dan lanjut usia. Dari jumlah itu, pasien didominasi laki-laki.

Peningkatan sangat drastis tersebut, menurut dia, selain karena semakin banyaknya warga yang mengalami gangguan jiwa, disebabkan adanya kerja sama RSJ Lawang dengan RSJ Menur Surabaya. Jadi, masyarakat yang yang dirawat di RSJ Menur dari daerah Banyuwangi, Situbondo, Lumajang, Jember, Tulungagung, Blitar, Kediri, Jombang, Madiun, Trenggalek, dan Malang dipindah ke Lawang. ''Sebab, mereka semua ditangani melalui jamkesda,'' jelas Herie.

Saat disinggung penyebab gangguan jiwa yang dialami para pasien, dia menuturkan, kebanyakan karena masalah ekonomi. Misalnya, banyak utang dan tidak mampu membayar karena usahanya lagi seret. Selain itu, ada yang bingung dengan pekerjaannya lantaran dinilai tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup. ''Untuk yang masalah ekonomi, kebanyakan dialami pasien laki-laki,'' katanya.

Sementara itu, pasien perempuan mengalami masalah cinta dan hubungan rumah tangga. Juga, masalah keluarga. Antara lain, perceraian hingga putus asa menjalani hidup.

Selain itu, ada pasien yang mengalami penurunan daya pikir progresif. Namun, kebanyakan yang diderita pasien berjenis skizofrenia, yaitu penyakit kepribadian terpecah belah.(ori/c1/lid/bh/mas/jpnn)

Stres Tak Cukup Biayai Hidup, Sekeluarga Diduga Bunuh Diri

http://www.jawapos.com/baca/artikel/15285/stres-tak-cukup-biayai-hidup-sekeluarga-diduga-bunuh-diri-

5/04/15, 05:50 WIB

KEDIRI – Pemerintah dan masyarakat seharusnya tidak meremehkan ekonomi yang semakin sulit. Sebab, tidak semua orang bisa bertahan dan berpikir positif untuk mencari jalan keluar atas beban ekonomi yang melilit.
Tindakan konyol Yudi Santoso, 41, yang memilih bunuh diri bersama keluarganya di Kediri, Jawa Timur, Jumat malam (3/4), karena tekanan ekonomi keluarga menjadi peringatan agar pemerintah, masyarakat, serta keluarga saling peduli atas kesulitan hidup orang-orang di sekitar.
Jawa Pos Radar Kediri melaporkan, status penganggur karena mengundurkan diri sebagai sales perusahaan farmasi dua bulan lalu membuat Yudi resah. Keuangan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya pun langsung morat-marit. Apalagi satu-satunya sumber keuangan dari penghasilan istrinya, Fajar Retno, 38, yang bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan farmasi, terhenti. Sebab, Retno ikut mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas.
Yudi sudah berupaya bertahan dengan bekerja serabutan. Dia pun pindah rumah dari kontrakan di Kelurahan Semampir, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, ke rumah orang tua di Desa Minggiran di kecamatan yang sama. Namun, semua usaha itu dirasa belum cukup. Sebab, mereka juga harus menanggung kebutuhan Ola, 7, anak semata wayang Yudi dan Retno yang baru kelas 1 SD. Di luar dugaan, kesusahan hidup tersebut membuat Yudi patah harapan.
Jumat (3/4) sekitar pukul 20.00, jasad Yudi ditemukan terbujur kaku bersama jasad Retno dan Ola. Di samping tiga jasad tersebut, polisi menemukan sebotol racun dan gelas. Meski mereka diduga bunuh diri, polisi masih menyelidiki untuk memastikan penyebab kematian.
Yang menemukan jasad satu keluarga tersebut adalah adik kandung Yudi, Aminur Hadi, 37. Aminur yang pulang dari Surabaya pada Jumat malam (3/4) mendapati rumah kakaknya dalam keadaan lengang. Dia mulai tidak tenang saat mencium bau busuk yang menyengat dari kaca nako kamar depan. Di kamar itulah biasanya sang kakak sekeluarga tidur. ’’Saya kira bau bangkai ayam,’’ kata pria yang disapa Amin itu sambil menunjuk kandang ayam yang tidak jauh dari kamar tersebut kemarin.
Saat itu, dia belum curiga kakaknya bersama istri dan anaknya sudah tewas. Sebab, dari luar rumah, terlihat televisi masih menyala. Namun, ketika dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Beberapa saat di luar, Hadi kemudian mendobrak pintu samping rumah hingga rusak.
Saat masuk kamar sang kakak itulah, darah Amin langsung tersirap. ’’Saat saya buka kamar paling depan, tubuh kakak saya sudah terkapar bersama istri dan anaknya,’’ ungkapnya. Amin pun berlari meminta bantuan warga. Beberapa warga lain langsung melapor ke perangkat desa dan polisi.
Saat olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan di halaman tengah buku. Buku tersebut, tampaknya, sengaja dibiarkan terbuka agar bisa dibaca siapa pun yang masuk ke kamar itu. Tulisan tangan dengan tinta hitam tersebut berbunyi permintaan maaf Yudi dan istrinya atas keputusan mereka mengakhiri hidup.
Pesan tersebut juga mengungkapkan rasa lelah serta putus harapan atas situasi yang menekan mereka. Akhirnya, mereka sepakat mengakhiri hidup bersama-sama.
Amin mengungkapkan, motif bunuh diri memang cukup kuat. Sebab, dia mengetahui kondisi rumah tangga kakaknya yang tengah tidak harmonis. ’’Mereka hendak cerai,’’ jelasnya. Perceraian itu lebih dilatarbelakangi kondisi ekonomi.
Nurul Talqis, kakak Yudi, membenarkan bahwa ekonomi adiknya tengah terpuruk. Karena Yudi dan istri tidak lagi memiliki pekerjaan tetap, keluarga meminta mereka pulang ke rumah orang tua Yudi di Desa Minggiran. ’’Hitung-hitung hemat dan tidak keluar biaya kontrak rumah,’’ katanya.
Nurul yang tinggal di Surabaya menyatakan tidak tahu bahwa adiknya sangat terpukul setelah tidak bekerja. Meski tahu adiknya sedang dilanda kesulitan ekonomi, Nurul tidak menyangka Yudi akan mengakhiri hidup bersama istri dan anaknya.
Di TKP, tim identifikasi Polres Kediri terlihat mengambil sejumlah barang untuk dijadikan bukti. Berdasar waktu kematian, polisi memperkirakan ketiganya tewas sekitar tiga hari lalu.
Menurut Kapolsek Papar Ajun Komisaris Kamsudi, belum diketahui jenis racun yang ditemukan di kamar keluarga Yudi. Dia mengungkapkan, dari TKP, polisi menemukan minuman seperti air putih dan sedotan, bungkusan kopi hitam, serta minuman perasa berwarna kuning bening. Selain itu, ada satu botol semprot racun nyamuk dan serangga.
Karena Yudi dan Retno pernah bekerja di farmasi, polisi khawatir yang mereka konsumsi adalah jenis obat-obatan, bukan racun serangga. ’’Keduanya juga tahu tentang obat-obatan karena sudah lama bekerja di bidang farmasi,’’ tambah Kamsudi. Karena itulah, polisi curiga mereka sengaja menenggak racun jenis obat-obatan. ’’Kita tunggu saja hasilnya,’’ lanjutnya.
Hal lain yang baru terungkap adalah wasiat yang ditulis Yudi. Dalam pesan terakhirnya, Yudi memang meminta mereka bertiga dimakamkan dalam satu liang lahad. Namun, permintaan tersebut tidak dituruti keluarga.
Jenazah Yudi dimakamkan di pemakaman umum Desa Minggiran, Kabupaten Kediri. Sementara itu, jenazah istrinya, Fajar Retno, serta anak perempuannya, Ola, dibawa pulang keluarga ke Semarang untuk dimakamkan di sana.
’’Keluarga dari pihak perempuan meminta dimakamkan di Semarang. Kami memahami dan menghormati permintaan itu,’’ kata Hari, kakak ipar Yudi, di rumah duka di Dusun Morangan, Desa Minggiran, Kediri, kemarin.
Di dalam surat wasiat itu, Yudi juga meminta semua barang miliknya dijual untuk mengurus pemakaman. Jika kurang, dia pun meminta keluarga mengambil uang di ATM BCA yang disertai nomor PIN. Yudi juga memaparkan dua nomor ponsel keluarga Retno di dalam surat wasiat. Sayangnya, saat dihubungi koran ini siang kemarin, tidak satu pun nomor tersebut aktif.
Sebenarnya petugas tidak hanya menemukan surat wasiat. Ada pula catatan curahan hati (curhat) Yudi yang ditulis 18 lembar. Dari situ diketahui bahwa bunuh diri tersebut sebenarnya sudah menjadi kesepakatan antara Yudi dan Retno. ’’Mereka sepakat mengakhiri hidup dengan cara singkat,’’ terang Kamsudi.
Selain itu, keinginan Yudi dan Retno mengakhiri hidup dengan cara menenggak racun diketahui lewat SMS. ’’Mereka memang sempat saling SMS-an,’’ lanjutnya. Pesan singkat itu kali terakhir dikirim Selasa siang (31/3).
Mengenai persoalan ekonomi sebagai pemicu mereka mengakhiri hidup, Kamsudi menduga salah satu penyebabnya adalah Yudi yang belum juga mendapat pekerjaan dan ekonomi mereka hanya ditopang Retno. Karena kondisi itulah, Yudi dan Retno merasa sering tertekan sehingga memutuskan untuk bercerai. ’’Semua curhat itu ada di ponselnya,’’ ujar Kamsudi. (rq/JPNN/c23/kim)

Beban Hidup Makin Berat, Bunuh Diri Marak

http://news.okezone.com/read/2014/03/03/337/949447/beban-hidup-makin-berat-bunuh-diri-marak

Selasa, 4 Maret 2014

JAKARTA- Fenomena bunuh diri di kalangan masyarakat Indonesia semakin marak. Tercatat, ada sejumlah aksi bunuh diri yang menggemparkan.

Akhir Februari lalu, satu keluarga besar yang tinggal di dua kota berbeda Cirebon, Jawa Barat dan Pekalongan, Jawa Tengah tewas bunuh diri dengan meminum racun serangga. Aksi bunuh diri massal satu keluarga ini diduga karena keluarga terlilit hutang.

Memasuki awal Maret, seorang lelaki berusia 47 tahun tewas karena loncat dari lantai 4 parkiran sebuah mall di kawasan Grogol, Jakarta. Aksi nekat ini dilakukan diduga karena depresi tidak memiliki pekerjaan. Selain itu, Senin (3/3) seorang mahasiswa Unas nekat melompat dari lantai lima ITC Depok. Di Kramatjati, Sartono nekat bunuh diri di warungnya. Belum diketahui motif bunuh diri tersebut, namun diduga aksi nekat itu terkait erat dengan persoalan ekonomi.

"Orang mengambil keputusan bunuh diri biasanya karena ada masalah. Orang yang seperti ini umumnya merasa bahwa masalah yang mereka hadapi itu tidak ada jalan keluar dan tekanannya besar. Sehingga akhirnya mereka berpikiran pendek, pikirannya buntu dan kemudian mengambil keputusan untuk mengakhiri persoalan, penderitaannya adalah dengan bunuh diri," ungkap Psikolog Diennaryati Tjokrosuprihatono.

Dien Tjokro menambahkan, fenomena bunuh diri satu keluarga memang jarang terjadi. Kalau sampai terjadi bunuh diri massal dalam keluarga umumnya kepala keluarga tidak ingin keluarga yang ditinggalkan terbebani masalah. Oleh karena itu daripada hal seperti itu terjadi makanya satu keluarga diajak bunuh diri.

Sementara itu, Tokoh Nahdatul Ulama (NU) dari Jawa Tengah Eva Yuliana menambahkan, dalam ajaran agama manapun, baik Islam atau bukan bunuh diri adalah perbuatan yang tidak diperbolehkan. "Aksi bunuh diri adalah perbuatan yang naif, dan agama manapun melarang umatnya untuk melakukan bunuh diri," ucapnya.

Eva melanjutkan, orang yang melakukan bunuh diri artinya memiliki jiwa yang tidak sehat. Persoalan seberat apapun pasti ada jalan keluarnya. “Bunuh diri bukan jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan persoalan seberat apapun,” katanya.
(ugo)


Karena Himpitan Ekonomi, Pemuda Gantung Diri di Semarang

http://www.indosiar.com/patroli/karena-himpitan-ekonomi-pemuda-gantung-diri-di-semarang_57278.html

indosiar.com, Semarang - Karena himpitan ekonomi keluarga, seorang pemuda pengangguran di Semarang, Jawa Tengah Rabu hari (13/12) nekat mengambil jalan pintas yaitu mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.
Peristiwa gantung diri yang dialami pemuda bernama Tugio, warga Geong Songo, Kelurahan Manyaran, Semarang Barat itu pertama kali diketahui oleh Tuyem ibunya yang baru saja masuk ke dalam rumah usai memecah batu kali di samping rumah.
Wanita tua tersebut terhenyak karena saat masuk ke kamar, anaknya sudah tewas tergantung dengan seutas tali plastik. Warga sekitar yang datang ke rumah Tugio mengaku kaget mendengar kematian tetangganya yang tragis tersebut.
Belum diketahui secara pasti penyebab gantung diri, namun diperkirakan korban menempuh mati dengan cara tak wajar itu gara-gara stres karena himpitan ekonomi.(Agus Hermanto/Sup)

Tukang Sate Mencoba Bakar Diri di Jalan

indosiar.com, Batam - (Jumat : 27/03/2015) Lantaran kecewa ikut digusur dan dagangannya disita satpol pp, seorang tukang sate di Batam Kepulauan Riau mencoba membakar diri di jalan ramai dengan membawa bensin dan tabung gas. Ia mengaku kesal karena telah menyetor sejumlah uang kepada satpol pp, namun tetap saja ikut digusur.

Pedagang sate yang biasa disapa Pa Kumis ini  benar-benar marah dengan ulah satpol pp kota Batam. Ia mencoba mengakhiri hidupnya membakar dan meledakkan dirinya di tengah jalanan ramai. Aksinya tidak main-main. Ia menyirami tubuhnya dengan bensin, membawa tabung gas 3 kg dan sebilah pisau sambil duduk di tengah jalan.

Pa Kumis merasa satpol pp berlaku tidak adil terhadap diirnya lantaran menggusur dan menyita barang dagangannya padahal ia telah menyetor uang 200 ribu rupiah tiap bulan kepada oknum satpol pp. Berkali-bali petugas Polresta Barelang membujuknya karena aksinya membuat lalu lintas macet. Sempat mengikuti rayuan polisi namun Pa Kumis kembali ke tengah jalan sehingga membuat polisi pontang-panting.

Namun, Pa Kumis tidak begitu saja percaya pada polisi. Ia hanya mau menghentikan aksinya jika barang dagangnya dikembalikan satpol pp. Pa Kumis akhirnya luluh begitu istri dan anak datang.

Kepala satpol pp kota Batam berjanji menyelidiki oknum anak buahnya yang disebut-sebut Pa Kumis. Jika tidak direalisasikan Pa Kumis mengancam akan benar-benar mewududkan rencananya. (Saugi Sahab/Sup)

Wanita Bakar Diri

http://www.indosiar.com/patroli/wanita-bakar-diri_123376.html

indosiar.com, Sulawesi Barat - (Rabu : 25/02/2015) Mardaniah, warga Saleppa, Majene Sulawesi Barat nekat membakar dirinya sendiri dengan cara menyiram bensin dan menyulutnya dengan korek api. Diduga korban stres berat lantaran terbelit utang yang tak sanggup ia bayar hingga memilih jalan pintas.

Mardaniah yang mengalami luka bakar hingga 80 persen, langsung menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Majene Sulawesi Barat. Aksi nekad bakar diri yang dilakukan Mardaniah ini, dilakukan karena korban diduga stress, terlilit hutang yang tak mampu ia bayar.

Menurut Armiah, ketika aksi nekad yang dilakukan adiknya itu, ia bersama tetangga hingga sanak keluarga, dengan cepat  turun tangan menyelamatkan korban, dengan cara menyiramkan air untuk memadamkan api yang menjilat tubuh Mardianah.

Sementara menurut tim medis RSUD Majene, kondisi korban cukup parah, karena luka bakarnya mencapai 80 persen, terutama dibagian kepala. Hingga kini belum didapat informasi mengenai nasib korban, setelah menjalani perawatan intensif di RSUD di Majene. (Edy Junaedi/Sup)

Posting Komentar