Selasa, 30 Juni 2015

PAK MINTO DI TENGAH KRISIS EKONOMI

Pak Minto adalah tukang becak yang penghasilannya tidak menentu; kadang banyak rejeki, kadang sedikit, namun tak jarang juga tak mendapatkan penumpang sama sekali. Sekalipun pak Minto sudah mendapatkan bantuan pemerintah Raskin - beras miskin, namun persoalannya 'kan bukan cuma beras? Sekalipun pak Minto sudah mendapatkan BLT - Bantuan Langsung Tunai, namun persoalannya 'kan masak cukup mengandalkan BLT saja? Sekalipun pak Minto sudah mendapatkan kartu pintar Jokowi, namun persoalannya 'kan bukan cuma masalah uang sekolah saja? Dan sekalipun pak Minto juga sudah mendapatkan kartu sehat Jokowi, namun persoalannya 'kan bukan cuma masalah kesehatan saja?

Persoalan pelik pak Minto adalah setiap hari perutnya dan perut keluarganya menuntut diisi makanan. Dan tuntutan perut itu mana mau peduli dengan berapa banyak rejeki yang didapatkan pak Minto. Ada rejeki maupun tak ada rejeki, biaya hidup yang harus dipenuhinya sudah membentuk ketetapan nilainya. Minimal setiap bulan harus membelanjakan uang sebesar Rp. 1.500.000,- Jika kurang dari itu, maka terpaksalah pak Minto berusaha utang sana utang sini untuk menutupi defisit anggaran belanjanya. Sama kayak pemerintah yang berutang ke luar negeri. Tapi pemerintah masih mending karena dipercayai oleh IMF, sedangkan pak Minto, siapa yang masih mempercayainya?!

Pemerintah, melalui kepresidenan Jokowi bukannya berdiam diri terhadap nasib pak Minto. Justru pemerintahan Jokowi sudah mengambil langkah-langkah untuk membangun infrastruktur, dan itu sudah dimatangkan dengan Tiongkok untuk membangun jalan-jalan toll dan pelabuhan-pelabuhan. Tak lama lagi pembangunan infrastruktur itu akan dimulai, dan 2-3 tahun kemudian itu akan selesai. Presiden Jokowi berharap selesainya pembangunan itu semua akan bisa menurunkan harga barang-barang kebutuhan pokok, sehingga biaya hidup pak Minto menjadi diringankan, diharapkan bisa sesuai dengan penghasilannya sebagai tukang becak.

Namun sayangnya, masalah yang dihadapi oleh pak Minto itu adalah masalah hari ini, masalah jangka pendeknya, bukan masalah jangka panjangnya. Hari ini jam 13.00 WIB ketika karyawan-karyawan kantoran beristirahat makan siang, perut pak Minto kelaparan karena belum mendapatkan uang untuk membeli nasi di Warung Tegal.

Sabar, pak Minto, siapa tahu jam 14.00 WIB nanti ada penumpang, 'kan lumayan bisa untuk makan di Warteg?!



Selain pemerintah membangun infrastruktur, pemerintah juga akan mendorong investasi. Presiden Jokowi sudah membuat aturan-aturan yang mempermudah investasi, sehingga diharapkan orang berbondong-bondong melakukan investasi, mendirikan pabrik-pabrik.

Tapi masalahnya bagi pak Minto, apakah pabrik-pabrik itu sudah bisa berdiri jam 14.00 siang nanti, supaya ada orang yang menumpang becaknya dan dia bisa makan di Warteg? Sebab dokter pribadi pak Minto sudah berpesan agar pak Minto jangan sampai terlambat makan, penyakit maag-nya bisa kambuh kalau telat makan. Rasanya mustahil ada pabrik yang sekonyong-konyong bisa berdiri dalam waktu satu jam saja, kalau tanpa bantuan lampu ajaib Aladin, ya?!



Apakah presiden Jokowi yang sakti itu mempunyai lampu Aladin?!

Seandainya jam 14.00 WIB benar-benar ada penumpang, bukankah itu baru jatah makan siang pak Minto saja? Makan istri dan anak-anaknya kapan?!

Andai saja pada jam 14.00 WIB ini terjadi gempa bumi dahsyat, bisa diharapkan jam 17.00 WIB pak Minto berikut istri dan anak-anaknya sudah berada di tempat penampungan/evakuasi, lalu jam 19.00 WIB presiden Jokowi akan mendatangi tempat evakuasi itu dan membagi-bagikan beras, sehingga penderitaan perut keluarga pak Minto sudah bisa terselesaikan.

Rasanya hanya gempa bumi yang bisa membuat presiden Jokowi bertindak cepat mengatasi perut rakyat miskinnya bila dibandingkan dengan perbaikan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur maupun dorongan investasi.


Senin, 29 Juni 2015

EKONOMI NASIONAL DENGAN EKONOMI RAKYAT MISKIN

Jokowi saat ini dibingungkan dengan melemahnya perekonomian nasional dengan indikasi antara lainnya melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Tapi apakah Jokowi paham bahwa perekonomian nasional itu berbeda dengan perekonomian rakyat kecil, sekalipun perekonomian rakyat kecil itu merupakan bagian dari perekonomian nasional?

Pada sebuah sepedamotor itu terdiri dari 2 bagian; yakni bagian yang berkenaan dengan mesin dan bagian yang tidak berkenaan dengan mesin. Bagian yang berkenaan dengan mesin hubungannya dengan bensin atau bahan bakar, sedangkan bagian yang tidak berkenaan dengan mesin itu seperti ban, kaca spion, dan lain-lainnya.

Pada tubuh manusiapun terdiri dari 2 bagian; yakni yang berkenaan dengan pencernaan dan bagian yang tidak berkenaan dengan pencernaan, seperti: kaki dan tangan. Manusia tanpa kaki dan tangan masih bisa hidup. Berbeda dengan kepala dan badan yang memiliki keterkaitan dengan system pencernaan, menjadi bagian vital kehidupan kita.

Dalam perekonomianpun harus dibagi antara perekonomian nasional dengan perekonomian rakyat kecil. Sebab perekonomian nasional berbicara umum atau standart tengah, sedangkan perekonomian rakyat kecil berbicara secara khusus atau standart terbawah. Ketika perekonomian nasional kondisinya baik, kondisi perekonomian rakyat kecil adalah dibawah baik. Ketika perekonomian nasional kondisinya buruk, kondisi perekonomian rakyat kecilnya adalah buruk sekali.

Ketika perekonomian nasional menyatakan perdagangan lesu, perekonomian rakyat kecil sudah tak memiliki uang sama sekali. Itulah sebabnya ketika harga BBM naik, presiden Jokowi membagi-bagikan Bantuan Langsung Tunai atau berbagai macam kartu saktinya. Sebab Jokowi menyadari bahwa rakyat kecil tidak bisa mengikuti irama perekonomian nasional. Mereka perlu dibantu secara langsung, tidak bisa secara stimulus terhadap perekonomian nasional. Mereka perlu dibantu secara orang perorang secara langsung, tidak bisa secara kelompok ekonominya.

Contoh intervensi pemerintah ketika harga beras naik adalah melakukan "operasi pasar." Pemerintah menjual beras dengan harga murah sebagai stimulus terhadap bergejolaknya harga beras. Itu namanya penanganan secara nasional. Tapi manakala pemerintah menyumbang beras ke lokasi bencana alam, itu namanya penanganan secara langsung. Para korban bencana alam sudah tidak mungkin diajak masuk ke permainan ekonomi lagi.

Begitu pula dengan saat sekarang yang pemerintahan Jokowi sedang pusing memikirkan kondisi perekonomian nasional. Alangkah baiknya jika Jokowi mau melihat secara langsung dampak kondisi perekonomian yang melemah ini ke masyarakat lapisan bawah - rakyat miskin. Bahwa rakyat miskin ini saat ini kondisinya sudah benar-benar darurat. Mereka sudah tak memiliki daya beli sama sekali, sehingga mereka perlu dibantu dengan bantuan yang secara langsung. Jangan cuma melihat dan memikirkan kondisi nasionalnya saja, tapi juga meninjau secara langsung keadaan masyarakat miskinnya. Apakah mereka masih bisa mengikuti irama perekonomian nasional?!

Ideologi Ekonomi Nasional, Masihkah?

http://www.pentastrategic.com/2012/10/ideologi-ekonomi-nasional-masikah.html

Bicara Ekonomi Pancasila rasanya menjadi “anomi” saat ini, Anda seperti tampil dengan kaos oblong di tengah hiruk-pikuk pesta dengan pakaian gemerlap. Terminologi ini menjadi kurang populer sebab tidak lagi senapas dengan arus utama (mainstream) pemikiran ekonomi nasional saat ini yang secara telanjang menganut paham liberal. Andai saja para pengusung Ekonomi Pancasila bisa bangkit kembali, mereka tentu akan meringis melihat tata kelola perekonomian kita saat ini.


Membicarakan Ekonomi Pancasila tentu saja tidak lepas dari ideologi yang diusungnya, namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memperdebatkannya seperti lazim dilakukan beberapa dekade silam oleh para ekonom sekelas Sumitro, Emil Salim, Mubyarto maupun kritikus lainnya seperti Dawan Raharjo, Arief Budiman, dst. Walaupun perdebatan para pakar tersebut belum pernah tuntas, satu hal yang pasti, pemikiran-pemikiran mereka diperuntukkan bagi sebuah tatanan ideologi ekonomi kuat yang harus dimiliki sebuah bangsa dalam mengarungi ”bahtera” pembangunannya.


Roeslan Abduoelgani (1962) mengemukakan sebuah ideologi dipandang sebagai sistem pemikiran (belief system) yang diciptakan oleh suatu kekuatan (baca: bangsa) untuk kepentingan kekuatan itu sendiri. Dari perspektif ini ideologi ekonomi tidak ditekankan pada kebenaran-kebenaran intelektual melainkan pada manfaat-manfaat praktikal. Pertanyaannya, mampukah ekonomi pancasila dengan perangkat ideologisnya saat ini mengantarkan bangsa ini pada sebuah era pencerahan ekonomi seperti diamanahkan UUD di tengah perubahan global?


Banyak pihak menyangsikannya, apalagi setelah Letter of Intent (LoI) dengan IMF ditandatangani 14 tahun silam. Pada momen tersebut Indonesia dengan tegas menabuh genderang liberalisasi pada banyak sektor sehingga menimbulkan kekisruhan ekonomi-politik yang luar biasa. Contoh paling anyar, penandatangan perdagangan bebas China-Asean (CAFTA) tahun 2010 tanpa disertai strategi matang sehingga mendorong penurunan produksi dalam negeri sekitar 25-50% dan penjualan pasar domestik dan tenaga kerja sebesar 10-25% pada sembilan sektor industri (Tekstil dan Produk Tekstil, Elektronik, Mebel Kayu dan Rotan, Permesinan, Besi dan Baja, Makanan dan Minuman serta Jamu dan Kosmetik Mainan Anak). Beberapa bahkan harus gulung tikar atau beralih dari produsen menjadi perakit (Republika, 12/04/2011).


Kondisi di atas tentu saja sangat mengenaskan, para pemilik modal yang bekerja dalam jaringan ekonomi global akan memiliki daya tawar (bargaining power) makin kuat di tengah geliat ekonomi masyarakat kecil yang kian terpinggirkan. Lalu, kemanakah kekuatan ideologis ekonomi kita dalam melindungi segenap kepentingan bangsa ini?



Ideologi tanpa ideologi


Terlepas sistem apa yang kita anut, sebenarnya apa yang terjadi pada sistem perekonomian kita saat ini telah disoroti banyak kalangan, selain liberalisasi yang kebablasan, secara fundamental arahnya telah jauh melenceng dari napas Pancasila dan UUD 45. Aktivitas perekonomian hanya diarahkan untuk memenuhi kepentingan sesaat kelompok tertentu, jauh dari pemerataan, dan yang tentu saja berperspektif jangka pendek.


Pembangunan ekonomi berbasis ideologi pancasila pun menjadi isapan jempol di tengah arus ”pragmatisme-oportunisme” yang dipraktikkan oleh negara dan segenap perangkatnya.  Cara berpikir seperti ini bahkan merasuk sangat jauh pada tatanan ekonomi-politik kita. Lihat saja, meskipun ideologi sebuah partai dibahas siang-malam dalam kongres, namun tidak pernah aktual. Partai dengan ideologi yang sama tidak bisa hidup berdampingan, sebaliknya mereka justru berkoalisi dengan ideologi berbeda. Ya, kita sudah terbiasa ber-ideologi tanpa ideologi, yang penting kepentingan!


Kondisi di atas sebenarnya bukan hal baru bagi tatanan bernegara sebuah bangsa. Di dunia ketiga dimana masarakatnya kurang ”terdidik” dan hidup dibawah garis kemiskinan, daripada berdebat persoalan ideologi, mereka hanya butuh makan untuk menyambung napas esok. Wajar jika penguasanya tidak tertarik pada basis pembangunannya, mereka hanya ingin kekuasaannya bertahan sehingga akumulasi materi bisa ditumpuk. Kasus negara-negara di Afrika jelas merefleksikan kondisi ini.


Di negara-negara yang kita kenal sebagai dedengkot komunisme pun kini tidak tahan dengan rayuan pragmatisme yang menyerbu layaknya air bah, gelombang informasi tidak hanya membawa keterbukaan tetapi juga ”nafsu baru” untuk memiliki segala sesuatu secara instan. Wajar jika di Rusia dan Cina, ideologi ekonomi lebih merupakan pajangan daripada substansi. Ideologi mereka sekarang menjadi label, papan nama atau sejenisnya, tidak serta-merta merefleksikan perilaku mereka. Ideologi ekonomi komunis yang dianut justru dalam praktiknya menjadi sangat liberal, situasi ini mirip dengan pendemo di tanah air yang dengan lantang menyuarakan anti kapitalisme, neo-kapitalisme dan sejenisnya, tapi setelah lelah berorasi mereka mencari pedagang asongan dan berkata”Bang Coca Cola nya dua ya...” sambil berteduh di bawah pohon.


Situasi ini adalah gambaran telanjang betapa sebuah ideologi ekonomi yang dulunya memiliki garis demarkasi yang tegas, kini begitu cair, begitu terbuka dan tidak serta merta tergambar dalam perilaku sehari-hari. Betapa pun, Coca Cola adalah simbolisme barat, ia hadir sebagai merek (brand) yang lahir di bumi Amerika, negara pelopor utama liberalisme. Namun, Coca Cola saat ini bukan sekedar simbol kapitalis-liberalis ekonomi, melainkan menjelma menjadi simbol pragmatisme-budaya yang tidak mungkin dibendung. Melalui sistem bisnis yang dikembangkannya, Coca Cola bahkan memiliki banyak ”guardian” di berbagai belahan dunia. Selain memiliki konsumen loyal, Coca Cola telah tumbuh menjadi industri raksasa yang mampu menghidupi ribuan buruh (yang note bene hidup miskin) di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam konteks ini para buruh akan berkata ”saya tidak perlu ideologi, saya hanya butuh makan”.


Ideologi secara fundamental memang mensyaratkan kesetiaan tanpa kompromi, namun keterbukaan saat ini jelas sangat berbeda. Contoh lain, beberapa waktu lalu kita dikejutkan oleh kasus pengunduran diri seorang anggota DPR berbasis agama karena tertangkap kamera jurnalis ”membuka” video mesum. Terlepas ini adalah bentuk keisengan anggota dewan dalam mengusir penat karena sidang yang memang membosankan. Video mesum adalah bentuk lain bagaimana sebuah ideologi (informasi) dapat menyusup kemana pun dalam setiap sisi kehidupan kita (dan tentu saja sebuah bangsa) tanpa perlu memikirkan basis ideologi apa yang mereka anut. Semua terjadi begitu cepat seolah-olah berdiri sendiri.
 


Ideologi Ekonomi Substantif


Perubahan memang terus bergulir dan apapun ideologinya gelombang ketidakpuasan pasti terjadi jika ketimpangan sosial-ekonomi terus berlanjut. Dengan demikian perdebatannya bukan pada tatanan ideologis lagi melainkan pada tataran praksis, artinya apakah perilaku pembangunan mampu mensejahterakan rakyat atau tidak, apalagi pergeseran dua kutub ideologis timur dan barat telah lama ”padamr”, di mana kapitalisme tampil sebagai jawara. Dengan demikian cara berpikir kita harusnya diarahkan kepada substansi bukan sekedar ideologi pajangan yang memang tidak berarti apa-apa buat bangsa ini.


Beberapa dekade silam Frans Seda pernah mengkritik ideologi pembangunan nasional kita dengan ungkapan ”bukanisme”. Kritik ini diarahkan kepada para pengusung konsep ideologi/sistem ekonomi pancasila saat itu yang kerap menggambarkan aktivitas ekonomi nasional yang serba ”ambigu”, yaitu Indonesia bukan kapitalisme, bukan sosialisme, tidak ada monopoli dan oligopoli serta tidak ada persaingan bebas yang saling mematikan, tapi benarkah! Pandangan ini setidaknya memberi gambaran kepada kita bahwa sistem pembangunan yang kita anut belum memiliki konsep tunggal, sehingga sangat rawan untuk disalaharahkan seperti saat ini.


Ideologi pada akhirnya tak akan pernah menunjukkan wujud ”nyata”-nya jika tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi individu, masyarakat dan tentu saja negara dalam mengarungi tantangan jaman. Ketidakmampuan inilah yang menyebabkan mengapa sebuah idelogi lambat-laun kehilangan pengikut, hanya sebatas simbolisme formal dalam setiap seremoni kenegaraan, seperti yang kita alami sebagai bangsa saat ini. Ia kehilangan substansinya dan mencair kemana-mana tergantung kepentingan penguasanya. Nah, kalau begini hendak dikemanakan arah pembangunan bangsa ini?

Minggu, 28 Juni 2015

Polisi tetapkan Margriet tersangka pembunuhan Angeline

http://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-tetapkan-margriet-tersangka-pembunuhan-angeline.html

Merdeka.com - Polda Bali akhirnya menetapkan ibu angkat Angeline, Margriet sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan. Penetapan itu baru dilakukan pada hari ini.

"Iya betul sudah tersangka pembunuhan," ujar Kapolda Bali Irjen Ronny F Sompie kepada merdeka.com, Minggu (28/6).

Sebelumnya, kepolisian Daerah Bali sudah menetapkan Margriet sebagai tersangka dalam kasus penelantaran anak. Kasus ini dilaporkan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Denpasar.

Polisi sempat kesulitan mengungkap kasus ini. Apalagi setelah Agus yang pertama kali ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan keterangannya berubah-ubah.
Di tengah jalan, Agus malah mengaku pembunuh Angeline adalah Margriet. Hal ini menyebabkan polisi kerja keras untuk mencari alat bukti baru. Baru pada hari ini polisi menetapkan Margriet sebagai tersangka kasus pembunuhan.

Margriet Tersangka Utama Pembunuh Angeline

 http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/28/063679129/margriet-tersangka-utama-pembunuh-angeline

Margriet Tersangka Utama Pembunuh Angeline

TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Bali sore ini,  Minggu 28 Juni 2015 menetapkan Margriet Christina Megawe sebagai tersangka utama pembunuh bocah 8 tahun,  Angeline. “Kami menetapkan tersangka baru atas kasus pembunuhan Angeline yang berinisial MM,” tutur Kapolda Bali, Irjen Ronny Sompie saat dihubungi Tempo via nomor ponselnya.

Penetapan tersangka kepada Margriet dilakukan oleh Polda Bali setelah adanya tiga bukti permulaan cukup yang dapat menjerat Margriet. Di antaranya adalah keterangan saksi, tersangka Agustinus Tai.

Dalam keterangan yang disampaikan Agus, Margriet diakuinya sering melakukan tindakan penganiayaan terhadap Angeline. Agus melihat Margriet menjadi penyebab kematian Angeline. Artinya keterangan Agus sebelumnya yang mengatakan bahwa Margriet yang menjadi dalang pembunuhan Angeline benar adanya.

Bukti lainnya diperkuat dengan hasil keterangan otopsi jenazah Angeline dari RSUP Sanglah, Bali. “Kemudian ini juga diperkuat dengan hasil olah Tempat Kejadian Perkara oleh Tim Labfor di rumah MM,” tutur dia.

Karena itu, Ronny memastikan bahwa untuk saat ini, tersangka pembunuh Angeline menjadi dua orang.  Pria yang baru menjabat tiga bulan sebagai Kapolda Bali ini menegaskan bahwa Margriet sebagai pelaku utama pembunuh Angeline, anak angkatnya.

Kepada Tempo, Ronny membeberkan bahwa Margriet terbukti membenturkan kepala Angeline di lantai kamarnya untuk memastikan kematian Angeline. “Sedangkan Agus yang menguburkan,” tutur dia.


Namun dia tidak merinci lebih jauh terkait kronologis yang ditemukan oleh Polda Bali dari hasil temuan-temuannya. Menurutnya, kronologis itu hanya akan dibuka saat kasus sudah dalam pengadilan. “Kita sementara belum akan merinci apa detailnya.”

Sejauh ini pihaknya pun belum memberi pemberitahuan kepada tim kuasa hukum pihak Margriet. Dalam waktu dekat, pihak Polda Bali bakal memanggil Margriet untuk dimintai keterangannya sebagai tersangka atas pembunuhan Angeline.

Selain sebagai tersangka pembunuh utama Angeline, Margriet ditetapkan sebagai  tersangka penelantaran anak  pada 13 Juni 2015.


Kantor Komnas Anak Terbakar, Dokumen Angeline Ikut Hangus?  

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/28/063679077/kantor-komnas-anak-terbakar-dokumen-angeline-ikut-hangus

TEMPO.CO, Jakarta - Kantor Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak di Jalan T.B. Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, terbakar pada Sabtu malam, 27 Juni 2015, pukul 20.30 WIB.

Api melalap tiga ruangan di dalam kantor, termasuk ruang arsip yang menyimpan dokumen kasus Angeline, bocah 10 tahun yang tewas dibunuh di rumah ibu angkatnya, Margriet, di Jalan Sedap Malam, Sanur, Denpasar, Bali.

Ketua Dewan Konsultasi Nasional Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi membenarkan kebakaran kantor Komnas Anak melalap habis dokumen yang berisi data kekerasan anak dan laporan penting lainnya.

"Saya menyayangkan peristiwa ini karena banyak data kekerasan anak yang disimpan di sini," kata pria yang akrab dipanggil Kak Seto itu, saat mengunjungi lokasi kebakaran, Minggu, 28 Juni 2015.

Menurut Kak Seto, data Angeline kemungkinan ikut terbakar. Meski begitu, Komnas Anak bakal berupaya mengumpulkan kembali dokumen kasus Angeline dari berbagai pihak. "Kami akan kumpulkan lagi dari aktivis perlindungan anak dan juga media," ujar dia.

Kak Seto tak ingin menduga-duga kebakaran kantor Komnas Anak ada kaitannya dengan kasus kekerasan anak yang kerap disorot lembaga itu.

Seperti diketahui, Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait adalah salah satu tokoh yang paling lantang membeberkan keanehan dalam kasus terbunuhnya Angeline. "Saya tak mau menduga-duga dan serahkan sepenuhnya pada kepolisian," ucap Kak Seto.


Komnas PA tuding kantornya kebakaran terkait kasus Angeline

http://www.merdeka.com/peristiwa/komnas-pa-tuding-kantornya-kebakaran-terkait-kasus-angeline.html

Merdeka.com - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait meminta Presiden Joko Widodo untuk melindungi aktivis perlindungan anak agar tak terancam atau diteror terkait kebakaran kantornya, Sabtu (28/6) malam. Kebakaran tersebut diduga akibat mereka terlibat dalam penanganan kasus pembunuhan Angeline.

"Saya mengaitkan kebakaran ini dengan penanganan kasus Angeline. Soalnya tidak ada lagi. Karena kita juga diteror lain seperti ditelepon orang tak dikenal," kata Arist Merdeka saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Minggu (28/6).

Menurutnya kebakaran tersebut telah menghanguskan ruang penyimpanan data. Bahkan, ruang sekretaris jenderal Komnas PA juga dilalap si jago merah.

"Ruang tengah adalah ruang penyimpanan data dan ruang sekjen itu juga menyimpan data-data," terang dia.

Lanjut dia, semua data yang terbakar telah diduplikasi sebelumnya. Sehingga, orang yang diduga membakar tidak berhasil melenyapkan dokumen-dokumen penting.

"Namun kami memback-up data semua dan tersimpan rapih. Semua kopian data ada sama saya juga. Artinya yang membakar kecelek," pungkas dia.

BUATLAH JALAN BUAT HIDUP ANDA

Buatlah rel supaya kereta api bisa berjalan di situ; buatlah jalan untuk hidup anda. Dan sekalipun anda tak tahu terminalnya; sekalipun anda tak tahu akhirnya karena nasib ada di tangan TUHAN, baiknya anda tahu jalannya, bahwa jalan itu jalan yang benar, jalan yang baik, bukan jalan yang salah, bukan jalan yang menyesatkan.

Maksudnya, berhati-hatilah dalam setiap hendak melangkah, supaya jangan sampai melangkah di jalan yang salah. Sebab masih lebih baik satu dua langkah di jalan yang benar dari pada seribu langkah di jalan yang tidak benar. Lebih baik di jalan yang benar sekalipun tanpa prestasi dari pada berprestasi besar di jalan yang salah. Lebih baik tidak terkenal dari pada terkenal sebagai penjahat.

MELAWAN KETERBATASAN

Dunia kita adalah dunia yang terbatas, dunia yang tak pernah bisa bertambah oleh proses penciptaan dari tak ada menjadi ada. Jumlah daratan, lautan dan udara dari dulu ya hanya segini-segini saja. Jumlah sumber daya alam juga tak mungkin ada penambahan, kecuali dalam penemuan-penemuannya saja. Begitu pula dengan jumlah manusia yang dibatasi dalam proses perkawinan. Jika jumlah manusia 7 milyar, maka kelahiran manusia-manusia barunya juga berasal dari 7 milyar itu. Tak ada kelahiran yang terjadi oleh faktor yang diluar perkawinan.

Dunia yang terbatas membuat kitapun hidup dalam keterbatasan-keterbatasan. Anton, ya Anton, Udin ya Udin. Anton tak bisa sekaligus menjadi Udin, sedangkan Udin juga tak mungkin bisa menjadi Anton. Kita adalah masing-masing kita.

Ada orang yang dibatasi secara keseluruhan hidupnya, tapi ada juga orang yang dibatasi hanya sebagian dari hidupnya. Contoh orang yang dibatasi keseluruhan hidupnya adalah orang yang sakit dan dalam status koma, orang gila dan orang yang berada dalam penjara. Sebab mereka itu sudah tak bisa berbuat apa-apa, sudah seperti orang yang mati. Sedangkan contoh orang yang dibatasi sebagian hidupnya adalah orang yang mempunyai penyakit permanen, orang yang terbatas kemampuan intelektualnya, orang yang terbatas kemampuan finansialnya, orang yang terbatas kemampuan status sosialnya, dan lain-lain.


Untuk orang-orang yang berketerbatasan total memang mereka itu tak bisa diharapkan apa-apa. Tapi untuk orang-orang yang berketerbatasan sebagian masih bisa mendayagunakan bagian-bagian lain dari hidupnya yang sedang tidak dibatasi.


Cara Mengatasi Keterbatasan Diri Untuk Meraih Sukses

http://www.motivasi-islami.com/cara-mengatasi-keterbatasan-diri-untuk-meraih-sukses/

Pertanyaan Bagus: “Bagaimana Cara Mengatasi Keterbatasan Diri?”




Ya, jika Anda bertanya bagaimana cara mengatasi keterbatasan diri, itu adalah sikap yang positif. Artinya Anda memiliki niatan untuk memperbaiki diri Anda. Berbeda dengan orang yang menyerah akibat dia memiliki keterbatasan.
Jika katerbatasan adalah alasan yang syah agar Anda menyerah, saya yakin semua orang akan menyerah. Pada kenyataanya, semua orang memiliki keterbatasan. Siapa yang tidak? Yang memiliki keterbatasan bukan hanya orang yang cacat, semua orang pada dasarnya memiliki keterbatasan.
Anda memiliki keterbatasan waktu, keterbatasan ilmu, keterbatasan tenaga, keterbatasan modal, keterbatasan fisik, dan berbagai keterbatasan. Semua orang memiliki keterbatasan, mungkin akan berbeda bagi setiap orang.
Jika kita belajar kepada saudara kita yang tuna netra misalnya, mereka memiliki keterbatasan dalam hal penglihatan. Namun kita semua sudah memahami kalau mereka memiliki kelebihan dalam hal perabaan, pendengaran, dan penciuman yang melebihi kemampuan rata-rata manusia.
Saya juga yakin, saat kita memiliki satu keterbatasan, kita pun memiliki banyak kelebihan yang lainnya.

Jangan Berhenti Karena Keterbatasan

“Mengapa kamu tidak bisnis?”
“Karena saya memiliki keterbatasan modal, makanya saya tidak berbisnis.”
So what?
Mengapa tidak bertanya, “Bagaimana cara mengatasi keterbatasan modal?”
Saat Anda bertanya cara mengatasi modal, setidaknya Anda memiliki niatan untuk mengatasinya. Namun saat keterbatasan dijadikan alasan untuk berhenti, maka sudah lah sampai disana. Anda berhenti dan tidak mendapatkan pertanyaan.
Jadi, langkah pertama cara mengatasi keterbatasan diri adalah mengajukan pertanyaan cara mengatasinya.
Mungkin Anda tidak langsung bisa menjawab. Anda perlu pahami ini. Hal ini sering menjadi titik kritis apakah Anda menyerah atau tidak. Saat Anda tidak bisa menjawab, jangan berhenti. Lanjutkan dengan mencari jawaban, dari mana pun datangnya jawaban itu.
Pertanyaan untuk dicari jawabannya. Mengajukan pertanyaan akan memicu Anda untuk mencari jawaban dan tidak selamanya jawaban datang dari pikiran sendiri. Jika Anda salah satu yang mencari jawaban cara mengatasi keterbatasan modal, silahkan baca artikel ini.

Fokus Pada Kekuatan Anda

Seperti disebutkan diatas, bahwa dibalik keterbatasan yang kita miliki, kita pasti memiliki kelebihan atau kekuatan Anda. Maka gunakan kekuatan Anda untuk mencapai apa yang Anda inginkan atau untuk meraih sukses Anda.
Jika Anda pikir, kekuatan Anda tidak akan cukup untuk meraih sukses, maka gunakan prinsip daya ungkit, bagaimana memanfaatkan kekuatan Anda saat ini agar mendapatkan berbagai modal yang cukup untuk meraih sukses.
Gunakan kekuatan Anda, fokuslah pada kekuatan Anda. Ini jauh lebih baik dibandingkan Anda hanya meratapi kekurangan Anda. Ini cara kedua.
Pertanyaanya adalah bagaimana cara menemukan kekuatan saya? Caranya tidak lain dengan mencoba. Anda akan menemukan kekuatan Anda setelah Anda mencoba dan mencoba. Evaluasi hasilnya dan Anda akan menemukan dimana kekuatan Anda.
Setelah ditemukan kekuatan Anda, maka fokuslah disana.

Gunakan Rumus AUTO

 
Apa itu rumus AUTO?
  • A artinya Around (memutar). Artinya jika ada keterbatasan menjadi penghambat Anda, maka carilah (memutarlah) untuk mendapatkan jalan lain. Seperti saat berhadapan jalan buntu, memutarlah.
  • U artinya Under (dari bawah). Saat seekor binatang tidak bisa menembus pagar, dia mencari jalan dibawah dengan membuat lubang. Intinya dia tidak kehabisan akal untuk membuat jalan baru.
  • T artinya Through (menembus). Inilah mengapa, saya menampilkan gambar dinding yang berlubang. Artinya jika perlu dan boleh, lubangi saja agar terbuka jalan.
  • O artinya Over (dari atas). Bisa Anda loncati? Jika bisa maka loncatilah.
Inti dari rumus AUTO adalah jangan berhenti jika ada penghalang didepan Anda. Gunakan segala cara selama cara itu halal agar Anda bisa melewati hambatan yang datang dari keterbatasan Anda. Jangan menyerah!
Jadi, cara ketiga untuk mengatasi keterbatasan diri Anda adalah dengan menggunakan kreativitas.

Buat Apa “Harap Maklum”?

Harap maklum, saya memiliki keterbatas.
Ya, mungkin Anda akan dimaklumi. Anda akan mendapat maklum dari orang lain. Tapi buat apa?
Seperti seorang penjual bakso, yang ternyata menggunakan mie kualitas rendah dalam baksonya. Saat saya tanyakan mengapa menggunakan mie itu, dia bilang harap maklum tidak punya modal. Saya mungkin memakluminya, tapi saya tidak pernah kembali ke kedai bakso itu.
Seringkali maklum tidak ada gunanya. Apalagi, saat Anda memohon maklum terus kepada atasan. Maka dia akan mencari karyawan lain yang tidak meminta maklumnya. Jika Anda meminta maklum kepada pelanggan, mereka akan mencari yang lain. Maklum tidak ada gunanya.
Lebih baik fokuslah untuk mengatasi keterbatasan Anda daripada sibuk memohon maklum karena keterbatasan Anda.

Penutup

Semua orang memiliki keterbatasan. Namun yang terpenting bukan apa keterbatasan Anda, tetapi bagaimana sikap Anda menghadapi keterbatasan itu. Apakah Anda menyerah? Apakah Anda berhenti? Apakah Anda memohon maklum? Atau Anda berusaha untuk mengatasi keterbatasan Anda dengan cara mengajukan pertanyaan memberdayakan, menggunakan kreativitas Anda, dan fokus pada kekuatan Anda.