Sabtu, 20 Juni 2015

AKAL-AKALAN GOJEK - 2

Pak Sonny:

Wah yah ndak bisa gitu dunk pak. Rakjat harus diajari bersaing sehat dlm industri jasa. Contohnya didunia taksi. Siapa yang bagus pelayanannya sajalah yang bertahan dan mangkin gede. Kayak blue bird. Skrg sdh go public. 


Ketika ojek dikelola dgn profesional maka user makin banyak. Keamanan dan kenyamanan terjaga. Kalau tkg ojek tradisional tdk mau berubah yah harus dihajar pak. Wong kesempatan utk lebih baek dibuka selebar-lebarnya koq. Ngapain harus mengitimidasi sesama rakjat yang ingin usahanya dikelola dgn cara modren? 

Come on....
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Pak Sonny, pengelolaan profesional memang perlu dan sangat menguntungkan masyarakat. Saya sendiri malas berurusan dengan tukang ojek tradisional - lebih baik jalan kaki atau naik angkot daripada naik ojek. Apa sebab? Sebab tukang ojek itu baju dan jaketnya bau, dan itu menyengat sekali. Pasang taripnya mahal sekali terhadap orang yang baru dikenalnya. Kalau ada penumpang suka berebut, main keroyok, bikin bingung penumpangnya. Omongannya kampungan sekali, masih ditambah dengan berbagai kasus kejahatan perampokan atau perkosaan yang mereka lakukan, karena tidak terkoordinir dengan baik. Jadi, kehadiran Gojek memang sebuah kebutuhan dan kabar baik bagi masyarakat.

Tapi jika kita berpikir tentang kehidupan; kebutuhan setiap manusia untuk makan dan memelihara keluarganya, maka kita perlu melandaskan pada rasa perikemanusiaan. Saya lebih suka mereka itu diberikan pengarahan dan ditertibkan dari pada diakal bulusi. Dibunuh bukan dengan pedang tapi dengan system. Siapa yang pinter memakan yang bodoh, itu konsepnya hukum rimba, pak. Melawan tak bisa dilawan, diam mati. Itu cara-cara licin, pak, seperti Jokowi, sekali tandatangan mengubur 250 juta orang.

Jangan sekali-sekali memecahkan masalah dengan cara-cara praktis. Tapi pergunakan akal yang panjang supaya jangan ada korban seorangpun. Hargai setiap jiwa! Itulah pemimpin sejati - mengayomi setiap orang. Jika tidak sanggup, ya mundurlah daripada mengorbankan rakyatnya.

Pemerintah harus memberi penyuluhan kepada tukang ojek tradisional supaya mereka bekerja secara profesional. Jika sudah begitu, maka proses seleksi alam akan terjadi. Tukang-tukang ojek yang tidak bisa mempraktekkan ajaran penyuluhan itu akan gugur, seperti siswa yang tidak lulus ujian. Mereka mati bukan karena kita bunuh tapi karena mereka tidak bertumbuh. Seperti benih yang kita tanam di tanah yang subur, jika ada benih yang masih tidak mau tumbuh, itu artinya benih itu memang buruk. Petani dan tanah tidak bersalah. Yang bersalah adalah dirinya sendiri.

Tapi kalau dipotong kompas macam Gojek begitu, ya kejam sekali itu! Gojek itu memancing di air keruh. Gojek itu mencari keuntungan dengan cara mengadu domba antara sesama tukang ojek. Antara tukang ojek yang bergabung dengannya dengan tukang ojek yang tidak mau bergabung. Padahal Gojek bukannya sayang pada orang-orang yang bergabung dengannya, melainkan memperlakukannya seperti memerah susu sapi atau memelihara ayam diambil telornya. Berbeda antara kita memelihara anjing dengan memelihara ayam. Kalau terhadap anjing ada rasa sayangnya. Kita tak menuntut apa-apa dari anjing itu.

Jadi, penghasilan pengemudi Gojek 3 juta sebulan itu bukan merupakan gaji tetapnya, tapi merupakan hasil jerih payahnya, setelah dipotong 20%. Jika dia sakit, maka dia tak terima serupiahpun dari Gojek. Seandainya tidak ada Gojek, penghasilannya adalah 3 juta + 20%, misalkan itu Rp. 3.700.000,-

Pengemudi Gojek itu dalam sebulan ini penghasilan kotornya Rp. 3.700.000,- Oleh adanya Gojek, dia harus menyumbang Gojek 20% = Rp. 740.000,-

Pengemudi Gojek sebelum bergabung ke Gojek, penghasilan kotor mengojeknya setiap bulannya rata-rata hanya Rp. 1.000.000,-  - susah sekali hidupnya, melarat sekali. Tapi semenjak dia bergabung dengan Gojek, penghasilan kotornya langsung meningkat drastis. Bagaimana itu bisa terjadi? Sebab penumpang-penumpang tukang ojek tradisional berpindah ke Gojek. Jadi, ketika pengemudi Gojek makan ayam goreng, berpuluh-puluh tukang ojek tradisional makan nasi jagung. Oh, teganya?!

Dan ketika pengemudi Gojek yang sukses itu makan ayam goreng, si pengusaha Gojek dengan ongkang-ongkang kaki, menari di atas keringatnya pengemudi Gojek, membeli mobil Lamborghini. Jadi, mobil Lamborghini itu dibeli dari hasil memeras keringatnya pengemudi Gojek.

Orang kaya itu bagusnya adalah ketika dia menyumbang. Tapi ketika dia berbisnis apa saja disikatnya habis. Itulah orang kaya! Karena itu dekatilah orang kaya ketika dia menyumbang, tapi larilah ketika dia mengajak anda berbisnis.  

Tidak ada komentar: