Jumat, 19 Juni 2015

AKAL-AKALAN GOJEK

Gojek adalah perusahaan ojek yang dikelolah secara canggih, baik teknologinya maupun akal-akalannya. Dari ongkos yang diterima, 80% untuk pengemudinya, sedangkan yang 20% untuk Gojek. Entah pengemudinya untung atau rugi, Gojek-nya tetap terima 20%. Model cara hitung-hitungannya Ahok dalam mengelolah Transjakarta dengan mengiming-imingi sopir berpenghasilan 3,5 juta. Pengemudi Gojek-pun diiming-imingi dengan penghasilan sebesar itu. Gojek menawarkan diri untuk menampung semua tukang ojek tradisional.

Para penumpang ojek yang mendengar adanya Gojek, jelas akan lari ke Gojek yang lebih aman dan lebih murah, sehingga para pengemudi Gojek menjadi kelimpahan order atau rejeki. Penghasilan 3 juta sebulan sangat masuk akal. Tapi jika semua pengemudi ojek tradisional yang berjumlah jutaan orang itu masuk ke Gojek semuanya, barulah terjadi persaingan ketat, sehingga tak mungkin lagi mencapai penghasilan sekian tersebut. Tekor atau rugi bensin dan makan bisa terjadi jika jumlah kawanan Gojek sudah membesar, sementara perusahaan Gojek tetap untung, bahkan semakin banyak Gojek semakin besar keuntungannya. Sebab penerimaannya sudah pasti, yakni 20% tanpa menanggung bensin, makan, kerusakan motor, pajak STNK, dan lain-lainnya yang merupakan tanggungan pengemudinya.

Padahal kalau saya mendengar keluh-kesah pengemudi ojek tradisional, mendapatkan penghasilan kotor Rp. 50.000,- sehari itu sudah susah sekali karena persaingannya semakin banyak, sementara para penumpangnya semakin sedikit. Jadi, kalau ada pengemudi Gojek yang saat ini bisa penghasilan jutaan, itu adalah menari-nari diatas penderitaan para tukang ojek tradisional. Kehadiran Gojek membuat mereka kehilangan pelanggan - kalah bersaing. Karena itu pantas saja jika tukang-tukang ojek tradisional itu marah dan mengancam nyawa pengemudi Gojek, sebab mereka itu sesungguhnya adalah perampok rejeki orang.

Tidak ada komentar: