Selasa, 16 Juni 2015

ANDA DIBENTUK MENJADI MASYARAKAT PEKERJA

Sejak zaman penjajahan, bangsa penjajah memberikan perlakuan yang berbeda terhadap penduduk pribumi dan nonpribumi. Untuk etnis China diijinkan berdagang, sementara untuk etnis pribumi secara sengaja dibentuk sebagai bangsa pekerja - karyawan/budak. Dan itu tampak jelas sekarang ini di mana kita mempunyai 2 pertanyaan sapaan untuk 2 etnis yang berbeda. Jika kita bertemu dengan orang pribumi, pertanyaan kita pastilah: "Anda bekerja di mana?" Tapi kalau kita bertemu dengan orang China, pertanyaan kita pasti berbeda: "Anda usaha di bidang apa?"

Apa pekerjaan anda? dan Apa usaha anda?

Jika pribumi kuliah tinggi-tinggi hanya untuk melamar pekerjaan, tapi orang-orang China bahkan tanpa kuliah langsung menjadi pengusaha. Pribumi harus antri berderet-deret untuk mendapatkan pekerjaan, tapi orang China berinisiatif berwiraswasta. Biarpun modal kecil, hanya membuka sebuah toko kecil, namun dia adalah majikan. Sementara anda, biarpun bergelar ini-itu, namun anda hanyalah karyawan.

Jika majikan tidak menerima perintah, karyawan diperintah. Jika majikan tak ada yang memarahi, karyawan harus sabar untuk dimarahi setiap hari. Jika majikan terlambat membuka tokonya tak apa-apa, karyawan yang terlambat akan dipotong gajinya. Jika majikan penghasilan tak terbatas, karyawan terbatas. Jika majikan tak pintar tak apa-apa, tapi karyawan harus pintar. Karyawan syaratnya ijasah. Jika majikan mengangkat dirinya sendiri sebagai majikan, karyawan bergantung pada majikannya. Jika majikan bisa memulai kerjanya setiap saat, karyawan menunggu lamarannya diterima.

Pribumi yang lahir dari orangtua berada[kaya] akan dibentuk oleh orangtuanya untuk menjadi karyawan. Tapi pribumi yang lahir dari orangtua miskin, keadaan ekonomi tak memungkinkan untuk menurunkan ilmu karyawan kepada anak-anaknya. Karena itu anak-anak dari keluarga miskin terbebas dari doktrin karyawan yang ditanamkan secara turun-temurun. Mereka menjadi anak-anak yang bebas dan terlatih untuk hidup mengandalkan apa yang ada pada dirinya sendiri. Dari mereka inilah lahirnya pengusaha-pengusaha pribumi. Jika anda telusuri riwayat hidup mereka, pasti anda akan mendapatkan bahwa mereka berasal dari keluarga miskin.

Akibat doktrin karyawan inilah yang menjadi salah satu faktor tingginya angka pengangguran di negeri ini. Sebab setelah lulus sekolah/kuliah yang ditunggu adalah lowongan pekerjaan. Jika belum ada lowongan kerja, ya ditunggu. Sampai kapanpun akan ditunggu dalam status menganggur, tanpa inisiatif untuk mencoba menciptakan lapangan pekerjaan yang minimal bagi dirinya sendiri. Suatu waktu yang sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, disia-siakan begitu saja, seolah-olah memang harus begitu[menganggur].

Nah, saya mau anda menyadari bahwa doktrin karyawan itu amat merugikan diri anda sendiri. Karena itu anda harus berusaha keras untuk keluar dari pengaruh pemikiran yang tidak benar itu. Sekalipun menjadi pengusaha itu belum tentu berhasil, tapi lebih pasti tak berhasilnya jika anda berdiam diri saja.

Tidak ada komentar: