Sabtu, 20 Juni 2015

App Gojek dan Kehancuran Kreatif

https://ahotalk.wordpress.com/2015/06/13/app-gojek-dan-kehancuran-kreatif/

Kemarin pas saya lagi bonceng pacar saya pulang nonton di bioskop, di Jalan Imam Bonjol (Bali) saya melihat pengendara motor berjaket dan berhelm hijau. “Anjir Go-Jek udah ada di Bali?!” pikir saya saat itu.
Ah, nikmatnya kemajuan teknologi. Hanya dengan modal manajemen bisnis dan kekuatan smartphone, technopreneur bisa membuat mengojek menjadi pekerjaan yang trendi.
Tapi, sepertinya semua siklus perekonomian dalam sejarah, selalu saja terdapat pihak-pihak yang nggak menginginkan status quo berubah. Abang-abang ojek konvensional merasa kehadiran Gojek sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensinya, hingga akhirnya melakukan apapun untuk menekan pengendara Gojek.
Reaksi awal saya pas baca berita soal pengendara Gojek yang menjadi target operasi para ojek konvensional adalah “This is why we can’t have nice things! Dasar kumpulan orang-orang kolot bermental inlander!
Lalu saya menarik nafas panjang.
Semuanya terjadi karena sebuah alasan. Lalu saya mencoba mencari tahu alasan itu. Ternyata alasannya ada dalam buku politik-ekonomi internasional milik Schumpeter yang berjudul Capitalism, Socialism and Democracy (1957). Alasan itu adalah kehancuran kreatif atau creative destruction.
Sekarang bayangkan Shiva, salah satu dewa utama dalam pantheon Hindu. Persetan dengan kalian penganut agama monoteis. Shiva digambarkan sebagai dewa penghancur, tapi di saat bersamaan, pencipta. Dari siklus ini, muncullah sesuatu yang baru dari kehancuran sesuatu yang lama. Inilah proses kehancuran kreatif.
Tapi, aku percaya masih ada ateis atau agnostik di antara kita yang nggak terima saya memakai simbol agama. Baiklah.
Schumpeter menjelaskan kehancuran kreatif sebagai berikut:
…process of industrial mutation that incessantly revolutionizes the economic structure from within, incessantly destroying the old one, incessantly creating a new one.
Pada dasarnya, teori Schumpeter lebih terlihat pada skala makro. Jadinya agak susah diaplikasikan ke skala mikro. Contoh kehancuran kreatif yang pernah kita lalui adalah bergesernya koran cetak digantikan koran digital, textbook cetak digantikan e-book, atau telepon umum diganti telepon genggam. Dalam setiap kasus itu, selalu ada sesuatu yang harus hancur dulu sebelum munculnya sesuatu yang baru.
Tentunya perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Selalu muncul pihak yang melawan proses kehancuran ini. Kadang mereka berhasil. Seringnya, mereka malah tersingkir karena preferensi pasar lebih memihak produk baru ini. Akhirnya sistem ekonomi yang lama hancur, digantikan oleh sistem baru yang lebih diterima.
Sekarang coba kita aplikasikan teori Schumpeter ke dalam kasus Gojek.
Pertama, kita punya technopreneur berbakat yang mendirikan Gojek. Tujuannya adalah merevolusi sistem ojek konvensional yang cenderung tidak berpihak pada konsumen. Pendiri Gojek ingin menjadikan ojek konvensional yang tidak teratur menjadi lebih teroganisir, bukan saja per wilayah, tapi per kota. Pada dasarnya, dia ingin membuat sebuah armada ojek raksasa yang berfungsi seperti sebuah perusahaan jasa yang handal.
Kedua, kita punya ojek konvensional. Abang-abang ojek yang sering mangkal di perempatan dan menunggu penumpang. Mereka masih beroperasi secara berantakan, tanpa adanya struktur organisasi yang jelas, klasemen tarif, ataupun jaminan keselamatan penumpang. Pokoknya, bisnis mereka dilakukan asal-asalan. Sebuah sistem yang masih sangat mencerminkan mental inlander.
Di sini, kita bisa memposisikan Gojek sebagai agen kehancuran kreatif dan ojek konvensional sebagai “calon korban” kehancuran kreatif. Tentunya dalam kasus ini, yang akan dihancurkan adalah sistem, bukan abang-abang ojek secara harfiah. Tapi kalo saya sih setuju ojek konvensional dihancurkan secara harfiah.
Dengan semakin berkembangnya Gojek, ojek konvensional merasa khawatir atas eksistensi mereka yang semakin tergusur. Sistem lama mereka, yang sesungguhnya seperti palakan halus, mulai digantikan oleh sebuah sistem yang lebih efisien dan berpihak pada pelanggan. Ditambah lagi, pelayanan, sebuah kata yang mungkin sangat asing bagi seorang ojek konvensional, menjadi salah satu aspek yang semakin memperkuat kedudukan Gojek sebagai agen kehancuran kreatif yang berbahaya bagi ojek konvensional. Dengan memanfaatkan teknologi yang sudah dipegang ribuan orang kelas menengah Indonesia, Gojek memiliki keunggulan telak atas ojek konvensional.
Akhirnya, ojek konvensional melakukan perlawanan dengan satu-satunya cara yang mereka tahu: show of force. Agen kehancuran kreatif dipaksa bertekuk lutut di hadapan kekuatan mentah. Ancaman melayang. Sayangnya, aksi-aksi ini malah meningkatkan dukungan pelanggan kepada agen kehancuran kreatif dan malah menurunkan tingkat apresiasi terhadap calon korban kehancuran kreatif. Bukti bahwa soft power lebih berperan dalam membentuk aliansi ketimbang hard power.
Jadi singkatnya, kasus Gojek vs ojek konvensional ini adalah salah satu contoh kecil kehancuran kreatif yang semakin sering terjadi akibat perkembangan teknologi. Siapapun yang tidak bisa beradaptasi akan hancur, seperti kata Darwin.
Dan jujur aja, tukang ojek di Jakarta itu nyebelin dan sama sekali nggak punya sense keuangan. Masak untuk jarak dekat saja (kurang lebih 3 km) minta bayaran sebanyak taksi? Pengen saya lindes kepalanya pake Hummer.

Heboh GOJEK: Diprotes dan Diancam, Ahok Justru Pasang Badan

http://metro.tempo.co/read/news/2015/06/13/083674650/heboh-gojek-diprotes-dan-diancam-ahok-justru-pasang-badan/2

Heboh GOJEK: Diprotes dan Diancam, Ahok Justru Pasang Badan

Dampak kehadirakan GOJEK terhadap pengojek tradisional diakui oleh banyak orang.Kehadiran GOJEK dianggap sebagai ancaman serius yang mematikan ladang penghasilan para ojek reguler.

"Memang betul, semenjak ada GOJEK itu, ojek seperti saya makin sepi. Dapat Rp 100 ribu sehari saja susah," kata Sapta Darmawan, 40 tahun, tukang ojek yang biasa mangkal di depan Roxy, Jakarta Barat, kepada Tempo, Jumat, 12 Juni 2015.

Terkadang Sapta kecewa karena sudah menunggu lama di pangkalan, tapi ketika ada yang turun dari Roxy ternyata langsung menghampiri GOJEK yang sudah dipesan. "Soalnya mereka modelnya bisa dipesan. Jadi ojek yang datang ke calon penumpang. Itu kelebihannya," kata Sapta.

Kalau ojek reguler, kata Sapta, menunggu calon penumpang mendatanginya. Ditambah lagi, calon penumpang pun mesti mengeluarkan tenaga dan waktu untuk mendatangi pangkalan ojek.

Karena itu, Sapta mengatakan ingin mendaftar GOJEK. Keputusan itu sudah bulat ketika melihat rekannya yang telah bergabung dengan GOJEK sudah memiliki penghasilan hampir Rp 1,4 juta. "Padahal, dia baru empat hari gabung," kata Sapta.

Setelah mempelajari metodenya, Sapta semakin tertarik. Apalagi GOJEK memiliki jangkauan lebih luas dan pelayanannya lebih beragam. GOJEK, kata Sapta, dapat mengantarkan paket, bahkan diminta tolong berbelanja. "Sementara kalau ojek reguler kan pelanggannya pasti cuma yang ada di situ saja dan pasti cuma antar orang saja," kata dia.

Saat ditanya ihwal ancaman yang datang untuk para pengemudi GOJEK, ia sudah tahu kabar tersebut. Namun bagi Sapta tidak masalah asalkan mampu membawa diri dan membaca peta situasi. "Kalau sudah GOJEK ya jangan ikutan mangkal sama yang reguler, bisa mematikan penghasilan mereka," kata Sapta.

Sapta optimistis penghasilannya akan meningkat setelah bergabung dengan salah satu operator ojek tersebut. Sebab, kata dia, kepercayaan masyarakat semakin lama semakin tinggi. "Pengemudi juga enggak bisa macem-macem karena data dia terekam bener di perusahaan, jadi aman deh penumpang," kata dia.

Minta Pengojek Gabung Gojek, Ahok Dinilai Keterlaluan

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150612141947-20-59658/minta-pengojek-gabung-gojek-ahok-dinilai-keterlaluan/

Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan Pimpinan Daerah Organisasi Angkutan Darat DKI Jakarta mengecam pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama soal layanan ojek online. Kemarin pria yang kerap disapa Ahok itu menyarankan pengojek yang ada di Jakarta bergabung dengan penyedia layanan ojek online Gojek.

Ketua DPD Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan, pernyataan Ahok itu keterlaluan dan memalukan. "Beliau sebagai Gubernur seyogyanya menjalankan dan mengimplementasikan ketentuan Undang-undang Lalu Lintas dan Angkatan Jalan," kata Shafruhan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (12/6). Dalam Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tersebut diatur soal angkutan umum orang dan barang.

Menurut Shafruhan, sepeda motor bukan diperuntukkan untuk angkutan umum orang dan barang. Karena itu, pernyataan Ahok itu dinilai menabrak aturan yang ada. (Baca juga: Ahok Tak Akan Peduli Keluhan Macet Warga Ibu Kota)

"Kami DPD Organda DKI berkali-kali protes terhadap keberadaan angkutan liar termasuk ojek," katanya. Namun Gubernur menurut Shafruhan malah terkesan mendukung keberadaanya.

Oleh karena itu Shafruhan meminta Ahok lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan dan bersikap bijak melihat masalah transportasi di ibu kota.

Kebijakan Gubernur sudah selayaknya didukung jika memang mengedepankan pelayanan angkutan umum dan tidak melanggar aturan yang ada. "Kami DPD Organda DKI berharap agar Gubernur berhenti mendukung keberadaan Go-jek dan ojek," kata Shafruhan Sinungan.

Bukan hanya menganjurkan pengojek bergabung di Gojek, Ahok sebelumnya juga ingin menjadikan Gojek sebagai angkutan pengumpan bus Tranjakarta. Menurutnya, kehadiran Gojek cukup membantu warga ibu kota.

"Nanti kami berencana menjadikan Go-Jek sebagai feeder bus Transjakarta dan menyediakan lahan parkir motor di dekat halte Transjakarta. Itu agar akses warga ke halte bisa semakin baik," kata Ahok. (Baca juga: Ahok Ingin Go-Jek Jadi Feeder Transjakarta)

Ia mengakui hingga saat ini belum ada aturan soal ojek sebagai moda transportasi. Namun menurut Ahok harus diakui ojek adalah salah satu solusi bagi warga DKI untuk menembus kemacetan.

Gojek merupakan perusahaan penyedia layanan ojek online. Beroperasi sejak Oktober 2011, Gojek meluncurkan aplikasi di ponsel pintar berbasis Android dan iOS pada Januari 2015.

Selain menyediakan jasa ojek, aplikasi Go-Jek juga menyediakan jasa kurir instan dan jasa pembelian produk, dan mengantar makanan.

Tidak ada komentar: