Minggu, 14 Juni 2015

BERTEMUNYA PENJUAL DENGAN PEMBELI

Sebenarnya tak ada orang yang berniat melawan Satpol PP. Jangankan melawan, berurusan saja dengan mereka, apa gunanya? Tapi para pedagang asongan itu ngotot dan bertahan mati-matian berjualan di perempatan-perempatan lampu merah atau di dalam bus-bus, para pedagang kaki lima ngotot dan bertahan mati-matian di daerah-daerah yang dilarang pemerintah daerah adalah karena di sanalah tempat pertemuan antara penjual dengan pembeli. Ada saling membutuhkan antara penjual dengan pembeli, sehingga ada keuntungan yang bisa untuk mengganjal perut para pedagang itu. Coba seandainya tak ada pembeli, pasti mereka sudah meninggalkan daerah-daerah itu, tanpa perlu kedatangan Satpol PP merazia mereka.

Demikian pula dengan kendaraan-kendaraan atau angkutan kota[angkot] yang suka berhenti di tempat-tempat yang bertanda larangan berhenti adalah sebab di situlah kebanyakan adanya banyak penumpang. Semakin banyak kendaraan yang melanggar aturan itu menandakan bahwa semakin banyaknya penumpang di situ. Sama seperti kalau kita melihat ada serombongan semut itu pertanda ada gula di situ - ada gula pasti ada semut. Itu sudah alamiah.

Jika pemerintah melarang mereka sama halnya dengan melarang mereka makan. Jika berjualan di situ tidak diperbolehkan, maka takkan ada pedagang asongan. Kenapa? Sebab mereka tak mungkin mempunyai modal untuk membuka toko, sementara berjualan di tempat lain sama artinya dengan berjualan di kuburan. Buat apa dagangan kalau tak ada pembelinya?

Pemerintah seharusnya berterimakasih oleh kehadiran mereka, sebab mereka bisa membuka jalan keluar atas kebuntuhan lapangan pekerjaan yang seharusnya pemerintah yang menyediakan lapangan pekerjaan itu. Pemerintah juga diringankan oleh adanya peran masyarakat yang mau berpartisipasi membeli dagangan mereka, sehingga pemerintah tak perlu dibebani dengan anggaran fakir miskin dan rakyat terlantar. Masyarakat ternyata sudah bisa berswadaya sendiri mengatasi kemiskinan dan kesulitan lapangan pekerjaan. Ada yang berperan sebagai pembeli dan ada yang berperan sebagai penjual.

Perkara mereka itu mengganggu ketertiban lalu-lintas, itu tugas polisi lalu-lintas menertibkan mereka. Menertibkan cara mereka berdagang, bukan menangkapi dan memperlakukan mereka seperti maling. Mungkin perlu diintensifkan memberikan penyuluhan supaya mereka terbuka kesadarannya terhadap ketertiban. Dan jika ada yang nakal yang melakukan kejahatan, ya tangkaplah sebagai penjahat. Tapi yang tidak jahat ya jangan diperlakukan sebagai penjahat. Ngawur sekali itu.

Di perempatan-perempatan jalan itu harus ditunggui oleh petugas polisi lalu-lintas, supaya mengatur ketertiban lalu lintas juga untuk mengawasi kejahatan. Jika polisi lalu lintas siang hari tidak ada di jalan raya, lalu dimana mereka berada? Apa yang mereka kerjakan di kantor? Di kantor 'kan sudah ada petugas bagian administrasinya? Masak mereka yang dibayar mahal itu makan tidur di kantor?!

Jika mereka dianggap mengganggu pemandangan kota, sebenarnya itu bisa diatur ketertibannya, misalnya tidak boleh rebutan. Asal tertib pasti indah. Selain itu pemerintah harus berbesar jiwa untuk menyadari bahwa rakyatnya masih banyak yang miskin.

Pemerintah harus menempatkan dirinya pada fungsi pelayan yang melayani rakyatnya, jangan sebagai boss sehingga main perintah-perintah. Tapi biar pemerintah itu "tut wuri handayani", mengikuti irama masyarakatnya. Masyarakat maunya apa, pemerintah mendandani saja supaya kelihatan indah. Pemerintah harus seperti cat yang sekalipun di-cat-kan ke rumah gubug, rumah gubug itupun akan kelihatan indah.

Pemerintah harus menghargai bahwa pedagang asongan itu merupakan sebuah gagasan pemikiran yang patut diapresiasi untuk membangkitkan toko yang mati atau pasif. Jika toko harus dengan modal besar, pedagang asongan cukup dengan modal kecil-kecilan. Jika toko menunggu kedatangan pembeli, pedagang asongan mengambil inisiatif mendatangi pembeli. Jika toko didatangi pembeli berdasarkan kebutuhan yang sudah ada, pedagang asongan justru menciptakan kebutuhan yang belum ada.

Karena haus, saya pergi ke toko untuk membeli minuman. Tapi pedagang asongan bisa menciptakan kebutuhan secara instan. Orang yang tidak butuh dibuat tertarik untuk membeli. Ketika dari rumah tak ada rencana membeli minuman, di tengah jalan timbul kebutuhan karena ada yang menawarinya. Ada anggaran yang tak terduga yang menambahi anggaran biasanya. Jika semula rencana belanjanya Rp. 10.000,- oleh membeli dari pedagang asongan dia harus mengeluarkan dana yang lebih. Itu merupakan sebuah partisipasi untuk memperbanyak uang yang beredar.

Tidak ada komentar: