Rabu, 10 Juni 2015

DAHLAN ISKAN OH DAHLAN ISKAN

Dahlan Iskan adalah pemilik koran terbesar di Jawa Timur; Jawa Pos. Sosok pengusaha yang brilian, sukses dan berwawasan internasional. Dulu saya adalah pelanggan dan pembaca setia tulisan-tulisan beliau. Seorang yang sukses dan menikmati kesuksesannya dengan berkeliling dunia. Bisnisnya banyak, ukurannya besar-besar, keuangannya bagus, punya anak, punya istri, punya cucu, punya nama baik, punya nama besar, punya kewibawaan, punya kehormatan, dan apa-apa dia punyai. Dalam kacamata dunia, jelas merupakan sosok manusia yang sempurna.

Namun sayang sepandai-pandai tupai melompat akhirnya terjatuh juga, kini menimpanya. Dimulai dari ambisinya untuk menjadi walikota Surabaya, gubernur Jawa Timur, bahkan presidenpun dia inginkan. Ada hawa nafsu kurang puas dalam jiwanya untuk sekedar menjadi pengusaha sukses saja, melainkan ingin merambah ke dunia politik juga. Nasehat istrinya supaya tidak memasuki dunia pemerintahan tak dihiraukannya. Mulailah dia dengan menjadi direktur PLN, tahun 2009, kemudian sebagai menteri BUMN, di tahun 2011 - 2014.

Kini di saat usianya 64 tahun[kelahiran 1951], beliau harus tersandung masalah hukum: tersangka korupsi kasus Gardu Induk Listrik, ketika beliau menjabat sebagai direktur PLN. Sekalipun menurutnya tidak korupsi, namun sangkaan itu setidaknya telah merupakan gangguan kenyamanannya sebagai orang kaya yang punya segala-galanya. Mau tak mau beliau harus menyediakan banyak waktu untuk acara hukum tersebut. Sesuatu yang harusnya bisa dia hindari seandainya dia tidak dirasuki ambisi ke dunia pemerintahan, bukan?!

Memangnya kurang apa sehingga begitu pentingnya kedudukan di pemerintahan? Memangnya kurang apa sehingga harus melakukan korupsi? Orang yang ingin sukses dan kaya seperti beliau ada berjuta-juta, mengapa beliau harus menghancurkan sorga yang dibuatnya sendiri itu?

Jika sampai benar beliau harus meringkuk di penjara, maka menjadi apakah kekayaannya itu jika tak lagi memiliki kebebasan? Hobbynya keliling dunia harus diakhiri, kebersamaannya dengan keluarga, dengan istri, anak dan cucu menjadi hilang, nasib baik menjadi nasib buruk, kegembiraannya menjadi penderitaan lahir dan bathin, nama baiknya menjadi hancur, masa tua masakan dihabiskan dalam penjara, ketika mati masakan statusnya narapidana?

Suatu tindakan yang salah telah dilakukannya di saat usianya sekitar 59 tahun, yakni ketika menjabat sebagai direktur PLN, suatu akibat hukum harus dinikmati diusianya yang ke-64 tahun.

Satu pelajaran yang sangat berharga bagi kita semuanya, terutama bagi kita yang saat ini menginjak usia 59 tahun. Siapa sajakah yang saat ini berusia 59 tahun? Masih beranikah anda mengambil pertaruhan nasib seperti Dahlan Iskan? Jika tidak mau seperti Dahlan Iskan, berhati-hatilah dalam segala tindakan supaya jangan sampai melanggar hukum.

http://id.wikipedia.org/wiki/Dahlan_Iskan



Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951; umur 63 tahun), adalah mantan CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group yang bermarkas di Surabaya posisinya tersebut kemudian digantikan oleh putranya, Azrul Ananda. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009.[1] Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.[2]

Karier

Awal karier

Karier Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.

Jawa Pos

Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah[3], serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Fangbian Iskan Corporindo (FIC)

Sejak awal 2009, Dahlan adalah sebagai Komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong, dengan panjang serat optik 4.300 kilometer.

Perusahaaan Listrik Negara (PLN)

Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta.[1][4] Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Dahlan juga berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (Menteri BUMN)

Pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN yang menderita sakit. Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena ia berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi PLN.[5]
Dahlan melaksanakan beberapa program yang akan dijalankan dalam pengelolaan BUMN. Program utama itu adalah restrukturisasi aset dan downsizing (penyusutan jumlah) sejumlah badan usaha. Ihwal restrukturisasi masih menunggu persetujuan Menteri Keuangan.[6]
Beberapa kinerjanya disorot. Dahlan gagal membawa lima perusahaan BUMN untuk melepas saham perdana (initial public offering/IPO) di lantai bursa.[7] Adapun, berkat kepemimpinannya, BUMN dinilai bersih dari korupsi oleh masyarakat juga merupakan kinerja dan keberhasilannya membangun BUMN.[7]
Ia juga giat mendukung program mobil nasional yang berpenggerak listrik. Pada tanggal 5 Januari 2013, ia mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil listrik Tucuxi di kawasan Tawangmangu, Jawa Timur. Dahlan Iskan selamat, namun mobilnya rusak parah. Setelah kecelakaannya bersama Tucuxi, Dahlan Iskan tidak mundur untuk mengembangkan mobil listriknya. Bersama Putra Petir, Dahlan Iskan mengembangkan mobil listrik generasi kedua yang akan dipertunjukkan di KTT APEC di Bali. Mobil listrik tersebut meliputi jenis mobil-mobil sport, bus, minibus, dan lain-lain, di antaranya Selo, Arimbi dan Gendhis.

Konvensi Capres 2014 Partai Demokrat

Pada tahun 2013, Dahlan Iskan bersama 11 orang lainnya; Ali Masykur Musa, Anies Baswedan, Dino Patti Djalal, Endriartono Sutarto, Gita Wirjawan, Hayono Isman, Irman Gusman, Marzuki Alie, Pramono Edhie Wibowo dan Sinyo Harry Sarundajang mengikuti Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat[8]. Pada 16 Mei 2014, Komite Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat mengumumkan hasil survei atas 11 peserta konvensi di kantor DPP Partai Demokrat. Hasilnya adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menempati posisi terunggul dibandingkan peserta konvensi lainnya.[9]

Kehidupan pribadi

Dahlan Iskan dibesarkan di lingkungan pedesaan dangan kondisi serba kekurangan. Orangtuanya tidak ingat tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya memilih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.[10]
Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul Ganti Hati pada tahun 2008. Buku ini berisi tentang pengalaman Dahlan Iskan dalam melakukan operasi transplantasi hati di Tiongkok.[11]
Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.[1]

Tersangka kasus Gardu Induk

Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada 5 Juni 2015 menetapkan Dahlan Iskan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan 21 gardu listrik induk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat kala menjabat sebagai Direktur Utama PLN. Sehari sebelumnya, Dahlan diperiksa selama 9 jam sebagai saksi dalam kasus yang sama. Proyek gardu induk ini senilai Rp 1,063 triliun, dan dinilai merugikan negara sebesar Rp 33,2 miliar. Sebelumnya Kejati DKI Jakarta telah menetapkan 15 tersangka dalam kasus ini.[12]

Pernyataan Resmi Dahlan Iskan setelah ditetapkan Sebagai Tersangka

Berikut ini adalah statement lengkap Dahlan Iskan pada Jumat (5/6) di Jakarta, terkait dengan penetapannya sebagai tersangka :
Penetapan saya sebagai tersangka ini saya terima dengan penuh tanggungjawab. Setelah ini saya akan mempelajari apa yang sebenarnya terjadi dengan proyek-proyek gardu induk tersebut karena sudah lebih dari tiga tahun saya tidak mengikuti perkembangannya.
Saya ambil tanggungjawab ini karena sebagai KPA saya memang harus tanggung jawab atas semua proyek itu. Termasuk apa pun yang dilakukan anak buah. Semua KPA harus menandatangani surat pernyataan seperti itu dan kini saya harus ambil tanggungjawab itu.
Saya juga banyak ditanya soal usulan-usulan saya untuk menerobos peraturan-peraturan yang berlaku. Saya jawab bahwa itu karena saya ingin semua proyek bisa berjalan. Saya kemukakan pada pemeriksa bahwa saya tidak tahan menghadapi keluhan rakyat atas kondisi listrik saat itu. Bahkan beberapa kali saya mengemukakan saya siap masuk penjara karena itu.
Kini ternyata saya benar-benar jadi tersangka. Saya harus menerimanya. Hanya saya harus minta maaf kepada istri saya yang dulu melarang keras saya menerima penugasan menjadi Dirut PLN karena hidup kami sudah lebih dari cukup.
Saya akan minta teman2 direksi PLN untuk mengijinkan saya melihat dokumen-dokumen lama karena saya tidak punya satu pun dokumen PLN [13]

Jadi Tersangka, Dahlan Iskan Dicegah ke Luar Negeri

http://nasional.kompas.com/read/2015/06/10/16314321/Jadi.Tersangka.Dahlan.Iskan.Dicegah.ke.Luar.Negeri

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan resmi dicegah bepergian ke luar negeri dalam kaitan dirinya sebagai tersangka pembangunan gardu induk PLN di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara senilai Rp 1,063 triliun.
"Pencegahan atas nama Dahlan Iskan sudah diberlakukan sejak Senin (8/6/2015) kemarin, dan akan berlaku hingga enam bulan," kata Direktur Penyidikan dan Penindakan Direktorat Jenderal Imigrasi Mirza Iskandar di Jakarta, Rabu (10/6/2015), seperti dikutip Antara.
Sebelumnya, Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Adi Toegarisman menyebutkan, pihaknya telah mengajukan permohonan pencegahan bepergian ke luar negeri terhadap Dahlan.
Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta berencana akan memeriksa Dahlan Iskan sebagai tersangka pada Kamis (12/6/2015) mendatang. (Baca: Jadi Tersangka, Dahlan Iskan Akan Lakukan Curhat Melalui "Corong Pribadinya")
Dalam kasus itu, kejaksaan telah memeriksa mantan Dirut PT PLN Nur Pamuji yang menggantikan Dahlan Iskan saat ditarik menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir 2011.
Sebanyak 15 orang yang terlibat perkara tersebut, termasuk sembilan karyawan PT PLN, sudah ditetapkan sebagai tersangka dan menjalani penahanan.
Dahlan ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi proyek pembangunan 21 gardu induk PT PLN di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Penganggaran proyek 21 gardu induk itu diduga melanggar Peraturan Menteri Keuangan Nomor 56 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pengajuan Persetujuan Kontrak Tahun Jamak dalam Pengadaan Barang/ Jasa.
Pasal 5 peraturan itu menyatakan, KPA wajib mengeluarkan surat tanggung jawab dan pernyataan bahwa pengadaan/pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur sudah dituntaskan. Setelah ada surat itu, Menteri Keuangan menyetujui sistem penganggaran proyek.
Menurut Kejaksaan, pembebasan lahannya banyak yang belum tuntas. Namun, ada surat dari KPA yang menyatakan bahwa lahan sudah siap sehingga Kementerian Keuangan setuju. Terkait sistem pembayaran, menurut Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010, pembayaran dilakukan sesuai dengan perkembangan proyek.

Tidak ada komentar: