Sabtu, 13 Juni 2015

EKONOMI PABRIK/INDUSTRI

Seseorang yang hendak mendirikan pabrik atau industri, terlebih yang investasinya besar-besaran, mereka itu sudah memiliki angka "kepastian" penjualan. Kalau tidak memiliki angka "kepastian" penjualan, maka orang belum gila untuk investasi besar-besaran. Siapa yang merindukan bangkrut? Lebih-lebih orang China yang diperbudak oleh duit.

Sasaran penjualan umumnya adalah pemerintah dan masyarakat. Bahkan kalau di zaman Orde Baru, orang mendirikan pabrik ada KKN dengan pejabat pemerintahan, supaya pemerintah yang memborong hasil produksi mereka. Kalau mobil untuk mobil dinas pejabat, kalau sepedamotor dikreditkan melalui koperasi-koperasi karyawan. Itu contohnya. Hampir semua item kebutuhan rumahtangga juga merupakan kebutuhan pemerintah. DPR saja setiap tahun membelanjakan 2 milyar untuk pembalut wanita. Gila, nggak?! Belum lagi parfum ruangan, tissue, dan lain-lainnya. Bahkan semen, batu bata dan gentengpun termasuk belanja pemerintah untuk membangun gedung-gedung mereka. Belum pula tekstil untuk seragam, alat tulis kantor, komputer, televisi, sound system, dan lain-lainnya.

Pabrik yang berdiri sudah mempunyai angka penjualan, sehingga mereka bisa menyesuaikan dengan area yang dibutuhkan, jumlah karyawan yang diserap, mesin type mana yang sesuai dengan tuntutan, dan lain-lainnya. Tidak mungkin akan terjadi kedodoran, mesinnya besar untuk penyerapan pasar yang kecil. Karena itu pabrik sudah mempunyai anggaran pembiayaan bulan perbulannya. Ada perkiraan berapa uang yang akan masuk dan berapa yang akan dikeluarkan.

Setiap hari pabrik itu berproduksi, setiap hari pula pabrik itu menjualnya, sehingga angka produksi bersesuaian dengan angka penjualannya. Jikapun terjadi penurunan penjualan, pabrik sudah memiliki pedoman/plafon toleransi untuk stok gudang. Pabrik baru kolaps/sempoyongan jika angka penurunan penjualannya sudah melebihi perkiraannya. Pada saat itulah alarm pabrik akan berbunyi sebagai tanda pabrik itu harus melakukan efisiensi tenaga kerja alias harus mem-PHK karyawannya. Terlambat melakukan PHK, maka celaka besar bagi pabrik itu. Semua sudah ada perhitungan temponya, sebab itu menyangkut keuangan yang sangat besar. Setiap hari bisa jadi senilai ratusan juta atau milyaran. Nggak main-main itu!

Setiap hari pabrik itu memproduksi barang baru dan melemparkannya ke pasaran. Tapi masyarakat memiliki kebiasaan mereparasi/memperbaiki televisi/kulkas/AC yang rusak, sehingga barang yang harusnya setahun rusak menjadi awet bertahun-tahun karena direparasi. Ini berdampak pada penjualan pabrik itu, yakni melambat. Ketika waktunya pabrik itu menyuplai toko, barang di toko itu masih banyak karena para pelanggannya mereparasikan barang yang rusak. - Menurut teorinya, harusnya barang yang rusak atau sudah ketinggalan zaman itu dibuang, bukan direparasi.

Nah, jika terjadi pemerintah terlambat belanja, sementara pabrik tak memperhitungkan terjadinya kelambatan itu, maka pabrik akan pusing dan stress menanggung stok barang yang menumpuk. Keuangan pabrik akan terhuyung-huyung, sehingga itu merupakan ancaman PHK bagi karyawannya. Karena itu pemerintah tidak boleh terlambat belanja. Lebih-lebih jika APBN dihabiskan untuk infrastruktur Tiongkok. Kurangajar sekali itu! Rakyat kecil yang akan jadi korban pertamanya.

Pembalut Wanita Termasuk dalam Anggaran Rp2,3 Miliar DPR

 http://www.bijaks.net/news/article/7-116566/pembalut-wanita-termasuk-dalam-anggaran-rp23-miliar-dpr

JAKARTA,BIJAKS – Sekjen Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Winantuningtyastiti menyebut, anggaran pengharum ruangan gedung parlemen Rp 2,3 miliar hanya merupakan nomenklatur (penamaan) anggaran.
Winantuningtyastiti menjelaskan, angka yang tercantum di data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) DPR RI 2015 senilai ‎ Rp 2.302.280.000 merupakan pagu anggaran atau rencana anggaran sebelum adanya pelelangan.
“Realisasinya Rp 1,5 miliar. Itu hasil lelang terbuka,” ujar Winantuningtyastiti di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/4).
Winan, sapaan akrabnya menjelaskan, anggaran tersebut bukan hanya untuk pengharum ruangan saja. Namun, ada enam item yang akan dibeli dengan anggaran tersebut, salah satunya adalah kertas pembalut wanita yang berjumlah 163 per bulan. (as/jp/kc)

Tidak ada komentar: