Rabu, 10 Juni 2015

Jam Belajar Anak SD Indonesia Lebihi Standar UNESCO

http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/kak-seto-jam-belajar-anak-sd-indonesia-lebihi-standar-unesco-wn7m4rs.html

Kapanlagi.com - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengatakan, jam belajar anak Sekolah Dasar (SD) di Indonesia mencapai 1.400 jam per tahun, melebihi standar jam belajar 800 jam per tahun yang telah ditetapkan UNESCO.
"Standar belajar UNESCO 800 jam per tahun untuk anak SD, sedangkan anak SD di Indonesia belajarnya mencapai 1.400 jam. Kejamnya luar biasa," ujar Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak yang akrab dipanggil Kak Seto, di Jakarta, Sabtu (14/4) sore.
Menurut dia, istilah wajib belajar sekarang ini salah. Mengenyam pendidikan bagi anak merupakan hak bukan kewajiban, justru yang wajib adalah pemerintah yang harus menyediakan tempat belajar yang menyenangkan.
Dia mengatakan, seharusnya semua orang dapat membuat belajar itu terkait dengan pengalaman yang menyenangkan.
"Anak-anak pada dasarnya sejak kecil senang belajar. Yang membuat mereka tidak senang ya gara-gara sekolah itu dibuat jadi 'susah', PR-nya, kurikulumnya terlalu padat," ujar dia.
'Homeschooling' yang sedang dikembangkan saat ini merupakan cara baru bagi anak untuk tetap belajar tanpa perasaan tertekan, ujar dia. Masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan legalitas dari 'homeschooling' tersebut kalau memang undang-undang menjaminnya.
"Yang penting kurikulumnya sesuai standar kompetensi lulusan," ujar dia.
Menurut Kak Seto
Dia mencontohkan, jumlah anak-anak di sekolah nasional yang stres dan yang mau bunuh diri karena tertekan dengan jam dan kurikulumnya, kian hari kian mengkat, padahal biaya sekolahnya mahal.
Tetapi dengan 'homeschooling' dan Mobil 'Kelas Berjalan' dimana anak-anak dapat belajar di alam bebas justru akan senang dan tetap dapat lulus sekolah.
Kak Seto menambahkan, selain itu, anak perlu dimotivasi dari dalam agar mau belajar sendiri. Itu merupakan kunci keberhasilan dari 'homeschooling' maupun belajar di Mobil 'Kelas Berjalan', bukan dengan memberikan nilai tinggi dan hukuman jika tidak mengerjakan PR.
Dia juga menjelaskan, di Mobil Kelas Berjalan diterapkan cara 50 persen belajar dan 50% bermain, karena itu anak-anak akan senang dan tidak tertekan, tetapi mereka justru akan mengerti secara logika. (*/bun) 


4 Pilar Pendidikan Menurut UNESCO

 http://educativelearning.blogspot.com/2012/03/4-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html

Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.

 
1.        Learning to know :
Penguasaan yang dalam dan luas akan bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya Learning to How.
Secara Implisit, Learning to know bermakna:
.
* Belajar Sepanjang Hayat (life long of education)
.
* Belajar bagaimana caranya untuk belajar (learning how to learn)
.
Belajar untuk mengetahui (learning to know) dalam prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermakna tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan.

Tenaga kependidikan (Guru, pelatih, instruktur, dll) harus menjadi inspirator dalam pengembangan, perencanaan, dan pembinaan pendidikan dan pembelajaran. Hal ini juga secara eksplisit di cantumkan dalam PP no 19 tahun 2005, yaitu guru sebagai Agent Pembelajaran harus menjadi Fasilitator, pemacu, motivator, dan inspirator bagi peserta didik. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.

2.        Learning to do :
Belajar untuk mengaplikasi ilmu, bekerja sama dalam team, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi, belajar untuk berkarya atau mengaplikasikan ilmu yang didapat oleh siswa.

Di dalam sebuah pembelajaran ada prinsip aktivitas (ada kegiatan) :
.
* Hard Skills : keterampilan yang menuntut fisik
.
* Soft Skills : keterampilan yang menuntut intelektual

Proses belajar menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi, serta pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan, perasaan, serta kemauan untuk berbuat atau merespon suatu stimulus. Pendidikan membekali manusia tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
.
Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar seharusnya memfasilitasi siswanya untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar “Learning to do” (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat terrealisasi. Walau sesungguhnya bakat dan minat anak dipengaruhi faktor keturunan namun tumbuh dan berkembangnya bakat dan minat juga bergantung pada lingkungan. Seperti kita ketahui bersama bahwa keterampilan merupakan sarana untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan semata. Selain itu, sekolah juga berperan penting dalam menyadarkan peserta didik bahwa berbuat sesuatu begitu penting. Oleh karena itulah peserta didik mesti terlibat aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Tujuannya adalah agar peserta didik terbiasa bertanggung jawab, sehingga pada akhirnya, peserta didik terlatih untuk memecahkan masalah.


3.        Learning to be :
Belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama.
.
Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri.

Hal ini erat sekali kaitannya dengan bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Misal : bagi siswa yang agresif, akan menemukan jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi fasilitator sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi diri siswa secara utuh dan maksimal.

Selain itu, pendidikan juga harusbermuara pada bagaimana peserta didik menjadi lebih manusiawi, menjadi manusia yang berperi kemanusiaan.


4.        Learning to live together :
Belajar memhami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya.

Dengan kemampuan yang dimiliki, sebagai hasil dari proses pendidikan, dapat dijadikan sebagai bekal untuk mampu berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, dan sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya. Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat (learning to live together)

Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu dikembangkan disekolah. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama. Pendidikan di sekolah juga harus merangsang soft skill peserta didik sehingga kelak mereka mampu hidup bersama dengan orang lain, mampu bekerja sama dengan orang lain. Bahkan mereka terlatih untuk peka akan suka-duka orang lain.

Tidak ada komentar: