Jumat, 19 Juni 2015

JOKOWI PENGKHIANAT KUDATULI

Mulanya Indonesia di orde baru terdiri dari 3 partai politik: Golkar, PPP dan PDI.

Tahun 1993 Megawati terpilih sebagai ketua umumnya. Presiden Soeharto tidak suka anak bung Karno itu muncul ke panggung politik, diusiklah kepemimpinan Megawati itu sehingga muncul kongres di Medan tahun 1996 yang memenangkan Soerjadi. Para pendukung Megawati mempertahankan kantor PDI, sehingga terjadilah peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 yang disingkat Kudatuli. Kelompok Soerjadi dengan dibantu oleh Polri dan TNI menyerang kantor PDI Megawati.

Nah, pada waktu itu Pangdam Jaya-nya adalah Sutiyoso. Sutiyoso sendiri mengakui kalau dirinya terlibat dalam aksi kudeta 27 Juli itu. Kata Sutiyoso: "Siapapun yang menjadi Pangdam Jaya pada waktu itu pasti terlibat." Sebab sponsor penyerangan itu adalah presiden Soeharto. Siapa yang berani mengelakkan tugas itu?!

Namun peristiwa itu jelas-jelas melukai hati Megawati, sehingga tidak mungkin baik Megawati maupun PDIP akan mendukung Sutiyoso sebagai kepala BIN - Badan Intelijen Negara. Karena itulah Jokowi dibuatkan lagu: "Pengkhianat" oleh Prananda, anaknya Megawati.


https://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Demokrasi_Indonesia

Dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya 1993, Megawati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI. Namun, pemerintahan Soeharto tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega pun didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.
Pada tanggal 27 Juli 1996, Peristiwa 27 Juli, kelompok Soerjadi melakukan perebutan kantor DPP PDI dari pendukung Megawati, sehingga pada pemilu 1997 pemilih PDI menjadi kecil karena sebagian besar massanya berpindah pada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang lebih dikenal sebagai "Mega Bintang".


Kronologi Peristiwa Berdarah 'Kudatuli'

 http://news.detik.com/berita/2930532/kronologi-peristiwa-berdarah-kudatuli

Kronologi Peristiwa Berdarah Kudatuli
 Penyelidikan Komnas HAM menunjukkan 5 orang meninggal dunia, 149 orang luka-luka, dan 136 orang ditahan dalam peristiwa berdarah Kerusuhan 27 Juli (Kudatuli) di Kantor PDI, Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, tahun 1996. Peristiwa tersebut kemudian menjadi titik penting lahirnya PDI Perjuangan.

Kudatuli 1996 dikenal juga dengan nama Peristiwa Sabtu Kelabu. Kader PDI pro Megawati diserbu ratusan orang yang disebut-sebut kader PDI pro Soerjadi. Bentrokan pun tak terhindarkan. Berikut kronologi noda hitam dalam sejarah politik Indonesia yang dihimpun dari Wikipedia, Senin (1/6/2015).

Sabtu 27 Juli 1996 01.00 WIB
Ratusan orang pro Megawati berjaga di depan kantor PDI di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat. Kebiasaan berjaga tersebut dilakukan sejak ada dualisme di tubuh PDI. Kongres ada yang digelar di Surabaya dengan terpilihnya Megawati sebagai ketua Umum. Kongres lainnya digelar di Medan dengan terpilihnya Soerjadi sebagai ketua umum.

03.00 WIB
Mobil polisi terlihat mondar-mandir di depan gedung PDI.

05.00 WIB
Rombongan orang berbaju PDI berwarna merah mulai mendatangi gedung.

06.15 WIB
Saat pasukan berbaju merah tersebut tiba di kantor PDI, massa pro Mega yang tengah berjaga tak kuasa menahan diri dan melemparkan batu ke arah rombongan baju merah tadi. Bentrokan tak terhindarkan, bahkan rombongan baju merah diketahui membakar spanduk-spanduk yang terpasang di pagar kantor. Korban mulai berjatuhan saat kontak fisik akhirnya terjadi. Suasana semakin mencekam.

09.15 WIB
Di samping kantor PDI terlihat bentrokan antara ABRI dengan warga yang diduga bukan simpatisan PDI.

09.24 WIB
Massa pro Mega dipukul mundur sampai di belakang Gedung Proklamasi. Seorang wartawan foto ditarik bajunya oleh pasukan loreng dan dibawa ke belakang SMPN 8 dan 9 Jakarta.

09.35 WIB
Ambulans tiba di lokasi dan mencoba menerobos kerumunan. Massa yang berada di depan Gedung Biokop Megaria berteriak-teriak "Mega pasti menang, pasti menang, pasti menang."

09.45 WIB
Wartawan mulai dihalau oleh pasukan anti huru-hara menuju depan Bank BII. Kepulan asap hitam terlihat dari kantor PDI. Megawati sempat mengatakan bahwa saat itu terjadi pembakaran terhadap arsip-arsip yang berada dalam kantor. Sementara itu Jalan Diponegoro yang dipenuhi batu-batu dan bekas pembakaran, mulai dibersihkan.

11.30 WIB
Jumlah massa terus bertambah. Mereka awalnya berkumpul di depan Bioskop Megaria, di depan Bank BII, dan di depan Telkom. Mereka kemudian bertemu dan menjadi kerumuman besar di bawah layang kereta. Massa yang awalnya dipukul mundur mulai kembali merangsek maju.

11.40 WIB
Massa mulai melempar batu ke arah aparat yang ada di depan SMPN 8 dan 9 Jakarta. Massa juga membuat mimbar untuk menyuarakan dukungannya terhadap Megawati, serta mengecam aparat yang berseragam loreng. Salah seorang di antara mereka nampak membawa tongkat berbendera merah putih yang dipasang setengah tinggi tongkat tersebut. Ia berteriak, "Kita di sini menjadi saksi sejarah. Kawan-kawan kita mati di dalam Kantor PDI. Kita harus menunggu komando langsung dari Ibu Mega," teriaknya lantang.

12.40 WIB
Lima orang perwakilan massa diajak masuk ke kantor PDI untuk melihat situasi ditemani pihak keamanan. Sementara itu bantuan polisi dari Polda Metro Jaya mulai berdatangan. Lima menit kemudian perwakilan massa kembali ke luar kantor PDI. Salah seorang kemudian naik mobil komando dan menjelaskan apa yang ia temukan di dalam kantor. Hanya saja, belum banyak hal dijelaskan, tiba-tiba ada batu melayang mengenai utusan tersebut yang membuat ceritanya harus dihentikan saat itu juga.

13.52 WIB
Pengacara Megawati, RO Tambunan, mengatakan di depan kantor PDI bahwa Megawati adalah pimpinan PDI yang sah.

14.29 WIB
Massa kembali melempari polisi anti huru-hara dengan batu. Mobil anti huru-hara tak luput dari lemparan batu. Mengenakan tameng, polisi dan tentara mulai merangsek maju. Petugas mengejar massa hingga di depan RSCM, sesekali massa dipukul dengan rotan.

15.00 WIB
Massa membakar sebuah bus tingkat dan bus PPD trayek jurusan Kampung Rambutan-Kota di depan RSCM.

15.55 WIB
Massa bergerak ke arah Matraman. Mereka melakukan pembakaran terhadap beberapa gedung di sepanjang jalur yang mereka lalui. Tembakan peringatan dari petugas membuat massa mulai tercerai berai.

16.19 WIB
Jalan Salemba Raya gelap gulita. Meski beigtu asap hitam dari gedung yang dibakar masih terlihat membumbung ke udara.

16.33 WIB
Tiga panser ditempatkan di perempatan Matraman guna menghalau massa yang terus melakukan pengrusakan.

19.00 WIB
Massa terus melakukan pembakaran dan pengrusakan. Diperkirakan kerusuhan ini baru selesai pada Minggu (28/7) dini hari.


Mengaku terlibat Kudatuli, Sutiyoso siap jadi kepala BIN

 http://beritagar.com/p/mengaku-terlibat-kudatuli-sutiyoso-siap-jadi-kepala-bin-24291

Letnan Jenderal (Purn) Sutiyoso, dipilih Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), menggantikan Marciano Norman. Pilihan ini disampaikan dalam surat yang ditujukan kepada DPR RI (9/6/2015).
Pihak DPR mengaku sudah menerima surat presiden, dan akan membahas surat tersebut dalam siding paripurna, untuk melakukan uji kelayakan dan kepatutan. Uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) akan dilakukan di Komisi I DPR RI.
"Sudah terima surat termasuk masalah kepala BIN. Yang beliau tunjuk adalah Pak Sutiyoso menggantikan Pak Marciano," kata Ketua DPR Setya Novanto.
Detikcom, Rabu 10 Juni 2015
Polemik soal siapa yang bakal menjadi Kepala BIN sempat ramai tahun lalu. Sejumlah nama sempat disebut media layak menduduki posisi tersebut.
Mereka antara lain mantan Wakil Panglima TNI, Jenderal (Purn) Fachrul Razi, mantan Wakil Kepala BIN, As'ad Said Ali, dan mantan Wakil Menteri Pertahanan, Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. Juga Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo, Mayor Jenderal (Purn) Tubagus Hasanuddin.
Nama Sutiyoso sendiri baru muncul bulan November 2014. Ketika itu, Ketua Umum Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ini mengaku sudah bertemu dengan presiden untuk pencalonan Kepala BIN.
"Sudah (bertemu), tapi kalau ngomong secara eksplisit sih tidak. Kita tunggu saja. Apalagi calonnya bukan saya saja. Kalau saya kan yang mencuat terakhir saja," kata Sutiyoso.
Kompas.com, Selasa 11 November 2014
Mantan Gubernur DKI Jakarta dua periode ini (1997-2007) sempat mengaku kaget karena belum tahu sebelumnya. Meski begitu ia menyatakan siap mengemban tugas itu.
"Kalau itu terjadi (jadi Kepala BIN), saya siap mengemban tugas itu. Karena intelijen itu kebetulan habitat saya dulu, karena waktu saya lama di Kopassus di pasukan Sandi Yudha," ujar Sutiyoso.
Okezone, Rabu 10 Juni 2015
Puncak karir militer Sutiyoso adalah sebagai Pangdam Jaya. Saat menjadi Pangdam di Jakarta terjadi kerusuhan pada 27 Juli 1996 (Peristiwa Kudatuli) di kantor DPP PDI, Jl. Diponegoro 58. Korbannya 5 orang meninggal dunia, 149 orang (sipil maupun aparat) luka-luka, 136 orang ditahan.
Sutiyoso terus terang mengaku terlibat dalam peristiwa Kudatuli.
"Siapapun yang jadi Kapolda dan Panglima Kodam Jaya saat itu, pasti terlibat.  Masalahnya, ada pejabat militer dan polisi yang berani mengaku ada dan ada yang tidak. Dan saya mengakui," kata Sutiyoso.


PDIP Marah Jokowi Tunjuk Sutiyoso Jadi KaBIN

 http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/06/10/npq2zb-pdip-marah-jokowi-tunjuk-sutiyoso-jadi-kabin

 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi I DPR Tubagus Hasanudin mengkritik keputusan Presiden Jokowi yang menunjuk Sutiyoso sebagai calon Kepala BIN menggantikan Marciano Norman. Politikus PDIP itu mengkritik usia dan rekam jejak laki-laki yang disapa Bang Yos tersebut.

"Pertama, kok tua banget, umurnya 70 tahun dengan kondisi pekerjaan ini. Kedua, setahu saya beliau yang serbu kantor DPP PDIP (kerusuhan dua tujuh juli (Kudatuli) tahun 1996)," kata Hasanudin di gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/6).

Meski begitu, Hasanuddin mengatakan, partainya tidak bisa mengeluarkan protes karena penunjukan tersebut merupakan wewenang penuh Jokowi sebagai pemilik hak prerogatif.

"Itu enggak ada lagi (protes), itu hak prerogatif Presiden. Kita berjuang saja untuk rakyat," ujarnya.

Hasanudin pun enggan berkomentar mengenai keahlian yang dimiliki Bang Yos. Namun, ia menegaskan, keadaan zaman yang terus berubah menuntut BIN untuk memiliki keahlian yang lebih maju lagi.

"Kalau soal skill, saya kira intel zaman dulu, identifikasi, penyelidikan, penyidikan, penangkapan, gaya dulu hebatlah. Cuma kalau intel sekarang nggak tahu, intel sekarang sudah berubah posisinya, skillnya sudah berbeda," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengaku telah mempertimbangkan rekam jejak dan kompetensi Sutiyoso sebelum menunjuknya sebagai calon Kepala Badan Intelejen Negara (BIN).

"Saya juga telah mengajukan pencalonan Sutiyoso sebagai KaBIN ini saya juga sudah melalui banyak pertimbangan dan memperhatikan baik rekam jejak maupun kompetensi dari Pak Sutiyoso," kata Presiden Jokowi di kediamannya Jalan Kutai Utara Sumber Solo, Rabu (10/6).

Jokowi mengatakan, pertimbangan pengajuan nama Sutiyoso sebagai KaBIN itu mengingat rekam jejaknya di dunia intelejen dan militer. Sutiyoso dinilai memiliki pengalaman dan kompetensi yang cukup untuk memimpin badan tersebut.

Tidak ada komentar: