Jumat, 12 Juni 2015

JUTAAN PEDAGANG DISIKAT SATPOL PP

Berita yang saya postingkan ini hanya beberapa kota saja. Silahkan anda hitung jika itu meliputi seluruh kota-kota di Indonesia;

150 Lapak Kaki-5 Digusur di Jl Raya Bogor

http://poskotanews.com/2015/06/11/150-lapak-kaki-5-digusur-di-jl-raya-bogor/







CIRACAS (Pos Kota) – Sebanyak 150 lapak dan gerobak milik pedagang kaki-5 di sepanjang Jalan Raya Bogor, digusur petugas kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (11/6). Beruntung, tak ada perlawanan dari para pedagang yang berjualan memakan jalur hijau.
Dalam penertiban itu, petugas mengamankan satu mesin kompresor milik tukang tambal ban. Lapak pedagang kaki-5 yang terkumpul itu pun, mencapai empat truk dan langsung dibawa ke gudang Cakung.
Camat Ciracas, Rommy Sidharta mengatakan, razia rutin dilakukan karena kawasan tersebut masih marak pedagang kaki-5. Meski kerap ditertibkan, para pedagang ini masih terus muncul dan menggelar dagangannya. “Terhitung, sudah 3 kali kami lakukan penertiban, namun mereka tidak pernah jera,” katanya, Kamis (11/6).
Menurutnya, keberadaan pedagang kaki-5 disepanjang Jalan Raya Bogor tersebut, kerap menimbulkan kemacetan arus lalu lintas dan menjadikan lingkungan kumuh. Terlebih, pedagang sering kali membuang sampah sembarangann baik di pinggir jalan maupun ke saluran air. “Penertiban sengaja kami lakukan pagi-pagi agar banyak lapak yang terangkut. Karena biasanya kalau pagi PKL belum berjualan dan lapak digeletakkan di pinggir jalan,” ungkapnya.
Ditambahkan Camat, pihaknya akan terus menggelar razia untuk menjaga ketertiban lingkungan. Terlebih, menjelang bulan ramdahan, banyak pedagang kaki-5 bermunculan di sejumlah titik dengan menjual aneka macam. “Petugas akan ditempatkan dibeberapa titik untuk terus mengawasi daerah yang dimanfaatkan pedagang untuk menggelar lapak,” ujarnya.
(ifand/sir)

150 Aparat Gabungan Amankan Pembongkaran Lapak Pedagang di Borobudur

http://jogja.tribunnews.com/2015/06/12/150-aparat-gabungan-amankan-pembongkaran-lapak-pedagang-di-borobudur

12 Juni 2015

150 Aparat Gabungan Amankan Pembongkaran Lapak Pedagang di Borobudur
Tribun Jogja/ Agung Ismiyanto
Ratusan petugas dari PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) melakukan pembongkaran terhadap ratusan lapak pedagang asongan yang tergabung dalam Forum Pedagang Lesehan (Forples), Jumat (12/6/2015). 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Magelang, Kompol Indi WTP menjelaskan, ada 150 aparat gabungan TNI/Polri untuk pengamanan pembongkaran. Sejauh ini, suasana pembongkaran berjalan kondusif dan tidak terjadi konflik.
“Pembongkaran sesuai tahapan, sudah ada sosialisasi dan juga peringatan,” katanya, Jumat (12/6/2015).
Ratusan petugas dari PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) akhirnya melakukan pembongkaran terhadap ratusan lapak pedagang asongan yang tergabung dalam Forum Pedagang Lesehan (Forples). Pembongkaran lapak ini diwarnai ejekan dan teriakan bernada kesal dari para pedagang.
Petugas dengan menggunakan sejumlah peralatan, dan mengenakan masker di wajah mereka kemudian membongkar satu persatu lapak pedagang. Mereka membongkar bambu, terpal, dan juga berbagai macam kabel yang menempel pada lapak-lapak pedagang.
Dalam pembongkaran lapak tersebut, ratusan aparat TNI, Polisi dan juga petugas keamanan dari PT TWCB ikut melakukan pengamanan. Sementara, ratusan pedagang yang rata-rata wanita menyaksikan lapak mereka dibongkar paksa dari kejauhan. Beberapa diantaranya sempat berteriak dengan nada kesal pada petugas yang melakukan pembongkaran itu.
Kepala Divisi Administrasi dan Keuangan PT TWCB, Aryono Hendro Maliyanto, menjelaskan, pembongkaran lapak para pedagang Forples ini sudah dimulai sejak Rabu (10/6) lalu. Petugas, kata dia, akhirnya melakukan pembongkaran lantaran sudah melayangkan dua kali surat peringatan pada para pedagang, namun tidak mendapat tanggapan.

"Pembongkaran ini kami lakukan secara prosedural dan sudah melalui beberapa tahapan. Ini sudah peringatan kedua dan pedagang tidak mengindahkan,” jelas Aryono, di sela-sela pembongkaran lapak pedagang..
Dia mengatakan, meskipun lapak dibongkar, namun masih ada beberapa barang dagangan dari para pedagang yang masih ditinggal dan ditutup terpal. Dia berharap, para pedagang akhirnya dengan kesadaran bisa mengemasi dagangan mereka dan bisa menempati penampungan sementara yang sudah disediakan.
“Kami anggap pedagang adalah mitra dan bisa menempati penampungan yang bisa mewadahi dua kelompok yakni SKMB dan Forples pasca kebakaran beberapa waktu lalu,” kata Aryono.
Sejauh ini, kata dia, pihak TWCB juga telah secara kooperatif menggandeng Forples. Meskipun, sempat dituding ingkar janji dan tidak melibatkan Forples dalam pembangunan penampungan sementara.
Sementara itu, Wakil ketua Forples, Ma’in menyesalkan pembongkaran lapak milik ratusan pedagang ini. Dia mengaku sudah menerima surat peringatan sebanyak dua kali. Namun, sejauh ini masih belum ada kesepakatan resmi dengan pihak TWCB.
“Yang kami inginkan sebenarnya kesepakatan dulu di lapangan. Kami masih menunggu keputusan selanjutnya dari Pihak TWCB, serta sambil berkoordinasi dengan pengurus,” ujarnya.
Pihaknya juga mengaku akan nekad membuka lesehan, seandainya tidak ada lagi keputusan dari TWCB. Namun jika menggelar lesehan juga tidak diperbolehkan, pihaknya juga akan kembali seperti semula, yakni mengasong. (*)

Pemko Padang Gusur 150 Lapak Masyarakat di Jalan Andalas

http://www.cendananews.com/2015/05/pemko-padang-gusur-150-lapak-masyarakat.html#.VXt4z_Asr7Y

Penggusuran dengan alat berat [ilustrasi - net]

CENDANANEWS (Padang) - Pemerintah Kota (Pemko) Padang melakukan penggusuran pada 150 toko, lapak, dan bangunan. Yang dianggap  melanggar Perda Nomor  11 tentang pembangunan di atas riol dan mengganggu jalan.
Dibawah komando Camat Padang Timur, Racmadeny Dewi Putri, puluhan anggota Satuan Polisi Pamong Praja, Polisi, dan TNI  membongkar bangunan dan lapak. Bangunan ini dianggap   menganggu serta  memakai trotoar dan badan jalan. Penggusuran ini berlangsung di kawasan Andalas, Kota Padang.
Tidak ada perlawanan dalam aksi tersebut, sebab pemilik bangunan sudah mendapatkan peringatan sebanyak dua kali. Camat Padang Timur Racmadeny Dewi Putri mengatakan, pembongkaran seperti ini akan terus berlangsung di seluruh wiliayah Kecamatan Padang Timur.
"Saat ini difokuskan di Jalan Andalas. Karena saat-saat jam sibuk selalu terjadi kemacetan.Kemacetan tersebut disebabkan banyaknya volume kendaraan dan menyempitnya jalan karena pembangunan yang melampaui batas," ujar Racmadeny Dewi
Dewi menjelaskan, masyarakat tidak bisa melakukan perlawanan saat pembongkaran, karena ia dan jajarannya sudah memberikan surat peringatan sebanyak dua kali. Dewi juga menjelaskan. Setelah bangunan tersebut di bongkar, pihaknya akan terus melakukan pengawasan.
"Saat ini, memang ada beberapa bangunan yang tidak bisa dibongkar karena harus mengggunakan jasa tukang. Pemilik bangunan ada yang membuat perjanjian akan membongkar sendiri bangunannya. Mereka takut rusak, dan itu kita hargai," lanjutnya.
Salah seorang pemilik toko Hera mengatakan, dirinya pasrah dengan penertiban tersebut. Asalkan penertibannya merata dan tidak pandang bulu. Dirinya menyadari bahwa bangunannya menyalahi aturan.
"Kami hanya meminta, setelah dibongkar seng dan pintu yang terbuka ditutup dan dirapikan kembali," ujar Hera.

Pak Dewan Geram, Sat Pol PP Kabupaten Bireuen Dinilai Arogan

http://www.juangnews.com/pak-dewan-geram-sat-pol-pp-kabupaten-bireuen-dinilai-arogan/

Bireuen – Perilaku arogan yang dipertontonkan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kabupaten Bireuen waktu penggusuran pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir lokasi pembangunan  pertokon baru di depan RSUD dr. Fauziah Bireuen Senin, (18/5/2015) kemarin, membuat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Bireuen Yusriadi, SH geram.
Anggota Dewan dari Komisi C ini saat di jumpai juangnews.com Selasa, (19/5/2015) di kantornya mengatakan, dirinya sangat menyesalkan perilaku arogan yang dilakukan anggota Sat Pol PP terhadap pedagang  yang berjual di depan RSUD Fauzih Bireuen.
Menurut Yusriadi, padahal sebelumnya pihak pedagang sudah mendapatkan izin sementara  dari pelaksana pembangunan proyek tersebut,  untuk bisa berjualan. Tetapi realita yang terjadi di lapangan tanpa pemberitaun terlebih dahulu, kepada pedagang yang sudah duluan belanja barang tiba-tiba anggota Sat Pol PP dengan sikap yang arogan di pagi itu hari tanpa basa basi langsung mengusur pedagang.
“Saat  saya mendegar cerita dari pedagang tentang perilaku tak wajar yang di lakukan anggota Sat Pol PP saya langsung naik pitam. Kok bisa dalam penertiban tanpa basa basi langsung menggusur masyarakat yang sedang mencari nafkah untuk kebutuhan hidup keluarga. Kalau memang pedagang ini salah ada aturan mainnya,” ujar politisi PKS ini.
Menurut Yusriadi, tindakan arogan yang dilakukan aparatur sipil negara yang dibiayai dengan uang rakyat tidak seharusnya mengedepankan sikap brutal dalam bertindak, akibat sikap arogansi tersebut, menjadi pembicaraan hangat dikalangan pedagang. Bahkan seorang pedagang dengan emosinya menunding anggota Sat Pol PP tidak tahu diri.
Hana thee droe, padahai meunyoe hana awak kamoe bayeu pajak, suwah katheun deuk hana pat cok gaji (tidak tahu diri, padahal kalau kami tidak membayar pajak kalian tidak dapat gaji harus tahan lapar-red),” gerutu seorang pedagang karena merasa kesal, saat ditemui media ini di lokasi penggusuran.
Sementara itu, juangnews.com sampai berita ini diturunkan belum berhasil melakukan konfirmasi pada Kepala Sat Pol PP Fakhrurrazi, SP terkait tindakan arogansi yang di lakukan oknum Sat Pol PP. Disambangi ke kantornya tak ada di tempat, dihubungi melalui selulernya beberapa kali nomor HP tak aktif, begitu juga  Short Message Servive (SMS)  yang di kirim tak mendapatkan balasan. [Fajri Bgk]

Tidak ada komentar: