Selasa, 16 Juni 2015

KISAH KEMATIAN ANGELINE

16 Mei 2015:




http://ngarumpi.com/berita/angeline-hilang-saat-sedang-bermain-di-depan-rumah

NgaRumpi.com – Angeline (8) dikabarkan meninggalkan rumahnya di Jalan Sedap Malam No 26, Sanur, Denpasar, Bali, sejak Sabtu (16/5/2015) sekitar pukul 15.00 Wita.
Kakak dari bocah tersebut, Yvonne Mega W, mengatakan, Angeline hilang saat sedang bermain di depan rumah.
“Kebetulan saat itu libur, jadi saya dan dia bermain di depan rumah,” katanya, Minggu (17/5/2015).
Setengah jam kemudian ibunya mencari di bawah dan merasa heran anaknya tidak kunjung ke atas. Karena curiga, ditengoklah anak tersebut ke tempat bermainnya semula.
“Setelah dicek, kok tidak ada. Ah, karena masih sore, kami sempat berpikir adik saya sedang main ke tetangga,” jelass Yvonne.
Namun, sekitar pukul 18.00 Wita, saat dicari ke tetangga, adiknya ternyata tidak ada. Yvonne mendadak panik. Ia mencari Angeline di beberapa tempat, tetapi tak kunjung ditemukan.
“Karena itu, saya kemudian melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga mengharapkan bantuan masyarakat. Sebuah laman Facebook pun dibuat untuk meminta bantuan masyarakat yang melihat anak tersebut. Ciri-ciri anak ini mengenakan baju daster warna biru, sandal warna kuning, dan rambut dikucir.
Masyarakat yang menemukan anak dengan ciri-ciri tersebut diimbau segera menghubungi keluarganya ke nomor telepon 082145200190 atau ke kantor polisi terdekat.

Datang ke Rumah Angeline di Bali, Menteri Yuddy Diusir Satpam

http://news.detik.com/berita/2934316/datang-ke-rumah-angeline-di-bali-menteri-yuddy-diusir-satpam

05 Jun 2015

Datang ke Rumah Angeline di Bali, Menteri Yuddy Diusir Satpam


Bali - Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi tidak diizinkan masuk oleh pemilik rumah Angeline, bocah yang hilang dari rumahnya. Seorang satpam mengusir Yuddy dari rumah tersebut.

Yuddy datang ke rumah Angeline, di Jl Sanur, Bali, Jumat (5/6/2015). Dia datang sebelum salat Jumat.

Politisi Hanura itu turun dari mobil Toyota Alphard RI 43 ke rumah Angeline. Saat masuk, pagar pertama rumah terbuka. Pada pagar kedua yang terkunci, Yuddy mengetuk pintu. Namun Yuddy tidak dibukakan pintu.

Seorang satpam keluar dari dalam rumah. "Ada perlu apa Pak?" tanya satpam itu.

"Saya mau lihat rumahnya Angeline. Kok bisa hilang sih dari rumahnya sendiri?" tanya Yuddy.

Belum sempat menjawab pertanyaan Yuddy, satpam tersebut menerima telepon yang diduga dari pemilik rumah.

"Maaf nggak boleh masuk ke pekarangan rumah. Ibunya bilang seperti itu. Maaf Bapak keluar saja (pekarangan). Lebih baik wawancaranya di luar rumah," kata satpam itu.

"Loh Anda tidak tahu saya siapa? Mana sini teleponnya," tutur Yuddy.

"Sudah dimatiin Pak," jawab satpam itu.

"Saya menteri loh. Masa tidak dibukakan pintu. Saya ke sini cuma mau lihat lokasi rumah," kata Yuddy.

Mendengar ucapan Yuddy, satpam tersebut hanya terdiam. Satpam membiarkan Yuddy melihat-lihat rumah sekitar 10 menit. Terdengar suara gonggongan anjing dari rumah yang besar dan terlihat tidak terawat itu. Setelah itu Yuddy ke masjid Polda Bali untuk salat Jumat.

Datang ke Rumah Angeline di Bali, Menteri Yuddy Diusir Satpam


Datang ke Rumah Angeline di Bali, Menteri Yuddy Diusir Satpam

Datang ke Rumah Angeline di Bali, Menteri Yuddy Diusir Satpam

Datangi Rumah Angeline, Menteri Yohana Dicueki

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/634716-datangi-rumah-angeline--menteri-yohana-dicueki

5 Juni 2015

Datangi Rumah Angeline, Menteri Yohana Dicueki

VIVA.co.id - Setelah Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang gagal menemui ibu angkat Angeline, kini giliran Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise merasakan hal serupa. Ia dicueki ibu angkat Angeline, Margareta.

Sejak pagi, puluhan pecalang dan petugas keamanan sudah berjaga di depan rumah Angeline. Mereka telah mengetahui rencana kedatatangan Yohana.

Namun, Yohana harus gigit jari karena tak diperkenankan masuk ke dalam rumah Angeline. Christine, kakak angkat Angeline melalui Kepala Lingkungan Banjar Kebok Kori, Kesiman, Denpasar, Ketut Stapa, menyampaikan keengganan bertemu dengan Menteri Yohana.

Menurut Stapa, keluarga bocah yang masih duduk di bangku kelas 2 SD itu tak berkenan menerima tamu. "Kita coba memediasi pertemuan ibu menteri dan keluarga Angeline. Tapi mereka tak berkenan," kata Stapa, Sabtu, 6 Juni 2015.

Ia mengaku telah berkomunikasi dengan Christine. Namun kakak Angeline itu tetap ngotot tak memperkenankan kehadiran Menteri Yohana. Stapa tak mengerti mengapa keluarga Angeline sulit ditemui.

Tak pelak, Stapa pun mencurigai ada sesuatu di dalam rumah Angeline. "Kenapa jadi gini. Punya masalah mau dibantu kok malah menghindar. Kami jadi curiga jangan-jangan ada sesuatu di dalam rumah," kata Stapa.

Ageline hilang misterius saat bermain di depan rumahnya beberapa waktu lalu. Tak diketahui ke mana perginya. Polda Bali belum bisa menyimpulkan apakah yang bersangkutan pergi dari rumah orangtua angkatnya atau diculik orang.

Kapolda Bali, Inspektur Jenderal Ronny F Sompie, menduga hilangnya Angeline karena ia mengalami kekerasan. Sejumlah tetangga bocah manis yang tinggal bersama ibu angkatnya itu telah dimintai keterangan.



Bau Menyengat, Awal Polisi Temukan Jasad Angeline

 http://www.rtv.co.id/read/news/4646/bau-menyengat-awal-polisi-temukan-jasad-angeline

10 June 2015

Polda Bali berhasil menemukan keberadaan Angeline, bocah 8 tahun yang hilang sejak 16 Mei lalu. Sayang, Angeline ditemukan sudah tak bernyawa.

Jasad Angeline ditemukan dikubur di belakang rumah ibu angkatnya, Margriet Mendawa dalam kondisi sudah membusuk. Polisi berhasil menemukan 'makam' Angeline saat memeriksa rumah yang terletak di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali.

Petugas sempat mencium bau yang menyengat. Kapolda Bali Irjen Ronny Sompie juga mengungkap, petugas menemukan gundukan tanah yang yang tidak padat dan tidak beraturan di antara tumpukan sampah, dekat kandang ayam.

Petugas kemudian memutuskan untuk menggali gundukan tersebut. Benar saja, petugas menemukan jasad Angeline di kedalaman 1,5 meter.

Angeline dikubur bersama boneka. Petugas juga menemukan tali di dalam lubang itu.
Angeline dinyatakan hilang sejak 16 Mei lalu. Dalam pengusutannya, polisi kian curiga kepada keluarga angkat Angeline yang dinilai kerap menghalangi penyidikan. Untuk mencari pembunuh Angeline, polisi mengamankan enam orang, termasuk Margriet Mendawa.

Ini Kejanggalan Kasus Hilang hingga Tewasnya Angeline

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/10/063673857/ini-kejanggalan-kasus-hilang-hingga-tewasnya-angeline

TEMPO.COJakarta - Kepolisian Daerah Bali dan Komisi Nasional Perlindungan Anak mencurigai beberapa kejanggalan hilangnya bocah perempuan berumur 8 tahun, Angeline. Polisi menilai keluarga Angeline sengaja menutupi investigasi kasus ini.

"Sekarang fakta terbuka. Keluarga memang menutup-nutupi kasus ini dan ada beberapa kejanggalan di situ," kata Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait saat dihubungi Tempo, Rabu, 10 Juni 2015.

Setelah sebulan pencarian, polisi menemukan Angeline dikubur di pekarangan rumah orang tua angkatnya, Rabu siang, 10 Juni 2015. Jenazahnya dikubur pada kedalaman setengah meter. Saat ditemukan, tangan Angeline masih memeluk boneka dan tubuhnya mengenakan pakaian yang dililit seprei.

Polisi menemukan kuburan Angeline setelah tiga kali melakukan pemeriksaan di rumah Telly Margareth, 55 tahun. Margareth dan suaminya, seorang ekspatriat (asing), mengadopsi Angeline sejak bocah itu berumur 3 hari. Margareth juga memiliki dua anak kandung, yaitu Ivon dan Christina. Namun kedua anaknya itu tidak tinggal serumah dengan Margareth.

Margareth tinggal bersama Angeline, Susianna, dan Antonius. Susianna mengaku sebagai penyewa kontrakan di rumah Margareth. Sedangkan Antonius adalah pembantu rumah tangga yang bertugas memelihara anjing dan ayam milik Margareth.

Arist mengungkapkan sejumlah alibi yang dipakai keluarga Angeline untuk menutupi pembunuhan siswa Sekolah Dasar Negeri 12 Sanur, Bali, itu.

1. Keluarga tidak langsung melapor ke polisi pada hari pertama hilangnya Angeline. Mereka justru membuat pengumuman pada laman akun Facebook berjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child".

"Bayangkan, anak hilang, dia malah buat iklan, bukannya melapor ke sekolah dan polisi. Dia tak menghargai pihak sekolah," kata Arist.

2. Angeline diduga hilang di halaman rumahnya sendiri pukul 15.00 Wita pada 16 Mei 2015. Menurut hasil investigasi Komnas Perlindungan Anak, tetangga rumah yakin Angeline tidak diculik. Musababnya, pagar rumah Angeline terkunci dan ia tidak terlihat ke luar rumah.

3. Keluarga selalu menghalangi investigasi di rumah Angeline. Arist mengatakan polisi selalu gagal memeriksa kondisi rumah Angeline secara menyeluruh. Polisi hanya memeriksa beberapa ruangan rumah karena dihalang-halangi keluarga. Margareth mengaku terganggu atas pemeriksaan itu.

Keluarga juga menghalangi Komnas Anak melihat sebuah kamar rahasia di dekat pekarangan belakang, lokasi penemuan kuburan Angeline. Menurut keterangan guru dan tetangga Angeline, mereka sering melihat bocah itu dalam keadaan lusuh dan bau.

"Dia datang terlambat ke sekolah dan tubuhnya selalu bau. Kadang juga minta makan ke guru," ujar Arist.

4. Keluarga menolak kedatangan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise yang ingin menyatakan simpati atas hilangnya Angeline. Petugas keamanan melarang Yuddy menemui Margareth. Margareth juga mengaku tak berada di rumah saat Yohana mengunjunginya.

5. Komnas Perlindungan Anak menemukan rumah Angeline tak layak huni. Menurut Arist, kondisi rumah sangat berantakan dan bau kotoran hewan. Selain itu, ia curiga karena kasur kamar tidur Margareth, yang juga sering dipakai Angeline, tidak dibalut seprei. Ia mencium bau anyir di kamar itu.

"Saya heran, masak seorang ibu tak memasang seprei? Mungkin kain itu yang dipakai untuk membungkus Angeline sebelum dikubur," tuturnya.

Inilah Kronologi Pencarian Angeline Hingga Ditemukan Tewas

http://www.solopos.com/2015/06/10/bocah-bali-hilang-inilah-kronologi-pencarian-angeline-hingga-ditemukan-tewas-613041

10 Juni 2015

Solopos.com, DENPASAR — Penantian hampir sebulan akan keberadaan Angeline bocah berusia 8 tahun yang dilaporkan hilang berakhir antiklimaks. Siswi kelas 2 SD 12 Sanur, Denpasar, itu terbujur kaku terkubur sampah di pekarangan rumah orang tua angkatnya, Jl. Sedap Malam No 26, Sanur, Denpasar, Rabu (10/6/2015).
Sejak hilang sebulan yang lalu, berkembang spekulasi yang menarik simpati publik, termasuk warga dan wisatawan Bali. Berikut ini drama hilangnya Angeline yang sempat menyita perhatian Komnas Ham, LSM hingga Menteri Kabinet Kerja.
- Sabtu (16/5/2015): Angeline dilaporkan hilang sekitar pukul 15.00. Versi sang ibu angkat, Margareth, Angeline hilang saat bermain di depan rumah.
- Minggu (25/5/2015): Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mendatangi lokasi dan sempat beradu mulut dengan Margareth. Arist menyatakan lokasi tinggal Angeline dinilai tidak layak
- Senin (1/6/2015): SD 12 Sanur mengadakan persembahyangan guna memohon petunjuk keberadaan Angeline.
- Rabu (3/6/2015): Yayasan Sahabat Anak Bali, KPAI Bali dan Lembaga Perlindungan Anak Bali menggelar aksi bertema Join The Search for Angeline.
- Jumat (5/6/2015): Menpan RB Yuddy Chrisnandi mendatangi lokasi, tetapi ditolak masuk oleh penghuni rumah
- Sabtu (6/6/2015): Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengunjungi lokasi, tetapi ditolak masuk.
- Rabu (10/6/2015): Aparat Polresta Denpasar menemukan jenasah Angeline terkubur di pekarangan rumah.

Bocah Angeline Dijerat dengan Tali Plastik Hingga Tewas

http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/06/10/npq2dw-bocah-angeline-dijerat-dengan-tali-plastik-hingga-tewas

Selebaran pencarian bocah hilang Angeline yang tersebar di Twitter

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Teka-teki hilangnya bocah Angeline terungkap. Bocah berumur delapan tahun itu tidak hilang karena diculik, namun tewas dibunuh oleh ibu angkatnya, Margaret Ch Megawe.

Diduga Margaret menghabiskan nyawa Angeline dengan cara menjerat leher korban dengan menggunakan tali plastik, sebanyak empat lilitan. Setelah tewas, mayat Angeline kemudian dikuburkan di bawah pohon pisang di belakang rumah pelaku.

Kapolresta Depasar, Anak Agung Gde Sudana kepada wartawan mengatakan, pihaknya sudah melakukan olah TKP, guna mengetahui bagaimana siswi kelas II SDN 12 Sanur Denpasar dibunuh.

"Kami sudah menaruh curiga dan tiga hari terakhir terus mengawasi rumah Margaret. Nah sekarang kelihatan hasilnya," kata Sudana, di Denpasar, Rabu (10/6).

Belasan anggota Polresta Denpasar sekitar 13.00 Wita menerobos masuk ke rumah tempat tinggal Angeline di Jalan Sedap Malam No 26 Sanur Denpasar. Polisi memutuskan itu setelah merasa curiga terhadap sikap ibu angkatnya, Margaret Ch Megawe yang melarang polisi masuk.

"Tapi kami masuk dengan cara baik-baik, ditemani oleh kepala lingkungan setempat," ujarnya.

Ia melanjutkan, sejak menerima laporan kalau Angeline hilang, pihaknya terus bekerja, mencari informasi atas keberadaan Angeline. Diakui Sudana, polisi tidak gegabah, karena harus mendasari setiap langkahnya dengan bukti-bukti.

Ternyata kata Sudana, kecurigaannya benar, bahwa Angeline dibunuh dengan cara menjerat lehernya dengan tali plastik kecil sebanyak empat kali lilitan. Tidak ada bekas luka di tubuhnya atau lebam-lebam karena dianiaya.

"Dia dibunuh dengan cara dijerat lehernya," katanya.

Angeline ditanam di belakang rumah Margaret di dalam lubang berukuran 50 cm x 50 cm. Saat pertama kali menerima laporan Angeline hilang, Sudana mengaku pernah berdiri di atas tanah itu dan tidak merasa curiga ada mayat Angeline di bawahnya. Kini mayat Angeline dibawa ke RSUP Sanglah untuk menjalani visum.

"Ketika ditemukan, mayat Angeline dalam posisi meringkuk, mengenakan baju berwarna abu-abu dengan corak bunga-bunga," tandasnya.

Keluarga Margriet Syukuran Usai Angeline Hilang

http://www.riausatu.com/read-5-4687-2015-06-14-keluarga-margriet-syukuran-usai-angeline-hilang.html




DENPASAR, RIAUSATU.COM - Kepala adat Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, Made Remin, mengaku keluarga Yvone pernah menggelar upacara syukuran di Vila Kakul yang berlokasi di desa itu. Yvone adalah anak Margriet Christina Megawe, ibu angkat Angeline. Angeline ditemukan tewas membusuk pada Rabu, 12 Juni 2015.

Acara syukuran itu, menurut Remin, digelar sekitar dua pekan lalu atau persis sepekan setelah Angeline dilaporkan hilang oleh keluarga Margriet pada 16 Mei 2015. Sempat tak diketahui keberadaannya, Angeline akhirnya ditemukan polisi terkubur dalam liang bersama tali penjerat dan boneka.

Dalam kepercayaan adat, kata Remin, upacara yang digelar keluarga Yvone sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. "Dia minta pecalang untuk jaga," ucap Remin seperti dilansir Tempo, Ahad (15/6/2015). Remin mengaku tak tahu persis acara itu berlangsung, termasuk adanya Margriet dalam acara tersebut.

Meski masih berstatus saksi, peran Margriet masih menjadi teka-teki atas terbunuhnya Angeline, 8 tahun. Banyak pihak menduga Angeline tewas akibat pembunuhan berencana bermotif warisan keluarga.

Motif warisan keluarga di balik pembunuhan Angeline pertama kali diungkapkan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait. "Dari awal, kami menduga ada persekongkolan kejahatan yang dilakukan orang terdekat," tutur Arist, Jumat lalu.

Tidak ada informasi yang banyak disampaikan pihak Kepolisian Resor Kota Denpasar terkait dugaan motif warisan ini. Sejauh ini, kasus ini baru menyeret tersangka tunggal, Agus, dengan motif pemerkosaan yang berakibat pada pembunuhan.

Tempo pun memutuskan untuk menelusuri jejak keluarga Margriet di Bali. Saat Margriet diperiksa di Polresta Denpasar sejak Jumat, 12 Juni 2015, dua anak Margriet, Yvone dan Christina, pun turut dalam pemeriksaan. Proses pemeriksaan berlangsung lima jam. (rs1)

Polisi Tahan Agus Si Tersangka Pembunuh Angeline

http://news.detik.com/berita/2940093/polisi-tahan-agus-si-tersangka-pembunuh-angeline

Usai menetapkan Agustinus Tai sebagai tersangka pembunuh Angeline, polisi melakukan upaya penahanan. Hal itu dilakukan untuk mendukung kepentingan penyidikan terhadap bocah cantik berusia delapan tahun itu.

"Kami telah melakukan upaya penahanan terhadap tersangka," ujar Kapolda Bali Irjen Ronny Sompie dalam konferensi pers di kantornya, Denpasar, Bali, Kamis (11/6/2015) pukul 18.30 WIB atau 19.30 Wita.

Ronny mengatakan, sampai saat ini baru Agus yang ditetapkan sebagai tersangka. Agus adalah pembantu di rumah Margriet Megawe, ibu angkat Angeline.

Agus pertama kali diamankan polisi pada Rabu kemarin. Saat itu dia masih berstatus sebagai saksi.

Selain membunuh, Agus juga diketahui memperkosa Angeline. Agus mengubur mayat Angeline setelah membunuh korban dengan membenturkan kepala ke lantai.

Menteri Yohana: Saya Tegur Sekolah, Seharusnya Lapor Saat Ada Keganjilan

 http://news.detik.com/berita/2939432/menteri-yohana-saya-tegur-sekolah-seharusnya-lapor-saat-ada-keganjilan

Jakarta - Sebelum kasus pembunuhan terhadap Angeline (8) mencuat, pihak sekolah menemukan sejumlah keganjilan terhadap sosok bocah cantik tersebut. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise pun menegur pihak sekolah karena tak segera melapor.

"Itulah. Saya sudah tegur sekolahnya. Sudah tahu ada yang janggal, dia bau, kok tidak dilaporkan," kata Yohana dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (11/6/2015).

Teguran itu disampaikan Yohana ke kepala sekolah dan wali kelas tempat Angeline belajar, pada Sabtu (6/6) saat sang menteri mengunjungi sekolah tersebut. Mendapatkan teguran dari Menteri Yohana, pihak sekolah lantas memberikan penjelasan.

"Mereka menjelaskan kepada saya kenapa akhirnya tidak jadi melapor. Awalnya mau melapor," kata Yohana.

Pihak sekolah mengatakan, mereka telah memanggil ibu angkat Angeline, Margriet Megawe, untuk dimintai keterangan perihal sosok Angeline yang bau, kurus, kusam dan pendiam. Menurut pihak sekolah yang awalnya mengira keluarga Angeline kekurangan, penjelasan Margriet dapat diterima.

"Kata pihak sekolah, ibu angkat itu datang ke sekolah dengan baju yang seperti orang berada. Dijelaskan oleh si ibu, bocah itu memang tidak doyan makan, sukanya minum susu. Mereka (sekolah) akhirnya percaya saja," ujar Yohana.

"Kalau soal bau, ibu angkat bilang bocahnya memang tidak pernah mau dandan. Penjelasan itu yang mereka (sekolah) sampaikan kepada saya," sambung Yohana.

Saat Dilaporkan Hilang, Ibu Angkat Sempat Menunjuk ke Tempat Angeline Dikubur

http://news.metrotvnews.com/read/2015/06/12/404061/saat-dilaporkan-hilang-ibu-angkat-sempat-menunjuk-ke-tempat-angeline-dikubur

Ilustrasi--Antara/Fikri Yusuf

Metrotvnews.com, Denpasar: Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengaku pernah mendatangi rumah orangtua angkat Angeline, Margaret. Aris menyambangi kediaman Angeline 24 Mei lalu.

Arist mengaku sempat berkomunikasi dengan ibu angkat Angeline. Aris dan rombongannya masuk sampai di kamar Angeline. Menurut Arist kamar itu sangat tidak layak untuk seorang anak kecil.

Arist kaget saat Margaret mengatakan Angeline masih ada di kediamannya. Padahal, 16 Mei dia melaporkan ke polisi kehilangan Angeline.

"Saat itu saya tanya apakah ibu yakin Angeline masih ada. Dia jawab masih ada. Lalu saya tanya, di mana karena saya akan menjemputnya. Dia bilang ada di sekitar sini. Jawaban ini sambil menunjuk ke lokasi kuburan yang ditemukan polisi. Jadi benar bahwa sebenarnya Angeline sudah dibunuh sejak tanggal 16 Mei itu," ujarnya Arist, Jumat (12/6/2015).

Terkait penemuan baru itu, Arist bersama timnya kembali mendatangi TKP penemuan Angeline. "Tujuan kami ke TKP penemuan Angeline untuk mencocokan keterangan pelaku. Dan ternyata benar, lokasi yang ditunjuk Margaret, bahwa Angeline sulit dijemput itu ke arah kuburan yang digali polisi," ujarnya.

Setelah dari TKP, Arist dan tim bergerak menuju Polresta Denpasar untuk mengetahui perkembangan penyidikan yang dilakukan polisi. Ia menegaskan, minimal besok polisi harus mengumumkan perkembangan penyidikan ke publik supaya terbuka semuanya.

Angeline Sempat Lolos dari Upaya Perkosaan Seminggu Sebelum Dibunuh Agus

http://news.detik.com/berita/2940263/angeline-sempat-lolos-dari-upaya-perkosaan-seminggu-sebelum-dibunuh-agus

12 Jun 2015

Angeline Sempat Lolos dari Upaya Perkosaan Seminggu Sebelum Dibunuh Agus

Jakarta - Seminggu sebelum peristiwa pembunuhan Angeline (8), Agustinus Tai Hamdamai (25) rupanya sudah berupaya untuk berbuat bejat pada gadis kecil tersebut. Namun, saat itu Angeline lolos dari niat jahat Agus.

Agus terhitung belum lama bekerja di kediaman Margriet Megawe, Jl Sedap Malam, Sanur, Denpasar, Bali. Agus mulai bekerja sejak 23 April lalu.

Margariet yang juga ibu angkat Angeline mempekerjakan Agus untuk mengurus ternak ayam yang jumlahnya sekitar 50-an ekor dan juga membersihkan rumah. Agus kini dijadikan tersangka atas kasus pembunuhan Angeline berdasarkan alat bukti yang ditemukan penyidik.

Peristiwa biadab itu sendiri terjadi pada tanggal 16 Mei 2015 di kamar yang ditempati Agus. Kepada gadis cilik yang tidak berdaya itu, Agus beberapa kali membenturkan kepala korban. Tidak berhenti sampai di situ, berdasarkan penuturannya kepada penyidik, dia juga memperkosa gadis kecil tersebut yang sudah tidak bernyawa.

Rupanya, niatan Agus untuk menyetubuhi Angeline sudah terbersit seminggu sebelum peristiwa keji tersebut terjadi. "Menurut keterangan dia, seminggu sebelum tanggal kejadian itu, dia pernah hendak memperkosa korban," kata pengacara Agus, Haposan Sihombing, saat dihubungi detikcom, Kamis (11/6/2015).

Peristiwa tersebut terjadi di lantai dua rumah. Namun, Angeline berhasil lolos dari upaya jahat tersangka. Kepada pengacara yang mendampinginya, Agus mengaku menyesali perbuatannya.
(ahy/bil)


Kapolda Bali: Dari Hasil Tes, Margriet Psikopat

 http://news.detik.com/berita/2941328/kapolda-bali-dari-hasil-tes-margriet-psikopat

13 Juni 2015

Kapolda Bali: Dari Hasil Tes, Margriet Psikopat
 Polisi masih terus menyelidiki kasus tewasnya Angeline, bocah 8 tahun yang dikubur di rumahnya. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, ada kemungkinan bahwa ibunda Angeline, Margriet Megawe merupakan psikopat.

Kapolda Bali Irjen Ronny F Sompie tak menepis tuduhan itu. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan psikologis, ada dugaan yang mengarah ke sana.

"Iya, dari hasil tes psikiatri, kalau zaman dulu disebutnya psikopat," ujar Ronny saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (12/6/2015) malam.

Ronny mengatakan, dari hasil pemeriksaan, tidak ada gangguan jiwa terhadap Margriet. Ia bisa mempertanggungjawabkan apapun yang dilakukan.

"Psikopat itu menurut dokter psikiater, bisa mempertanggungjawabkan setiap hal yang dilakukan. Ini dia bisa," tuturnya.

Hanya saja, kata Ronny, bukan berarti Margriet terlibat dalam pembunuhan keji itu. Untuk memastikannya, petugas masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hingga saat ini setidaknya 13 orang saksi telah diperiksa. Sementara tersangka pembunuhan yang telah ditetapkan baru 1 orang, yaitu Agustinus Tai yang merupakan mantan pembantu rumah tangga keluarga Margriet.

Ditahan, Margriet Pernah Pukuli Angeline, Usir Ibu Kandung

 http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/15/063674993/ditahan-margriet-pernah-pukuli-angeline-usir-ibu-kandung

TEMPO.CO , Denpasar: Ibu kandung Angeline, Hamidah, mengaku ia tak pernah mengenal sampai akhir hayat anaknya. Menurut Hamidah, sejak diadopsi oleh Margriet, ia terikat pga erjanjian tak boleh bertemu sebelum Angeline berusia 18 tahun. "Saya hanya menyusui dia tihari pertama," Hamidah ujarnya pekan lalu.

Ia bercerita, pernah satu kali bapak kandungnya datang ke Jalan Sedap Malam, tempat Angeline diasuh. Tapi sang ayah tidak diizinkan masuk. Ia bahkan diusir oleh Margriet. (Baca: Kasus Angeline: Ucapan Agus Mencla-mencle, Ada Aktor Lain?)

Margriet  akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah atas kasus penelantaran anak, yakni Angeline, 8 tahun. "Status ibu angkat, inisial M (Margriet), saat ini sebagai tersangka,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Ronny F. Sompie  di kantornya,Minggu pagi, 14 Juni 2015. (Baca: TERKUAK: Identitas Margriet dan Ayah Angkat Angeline)

Margriet ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tersangka Agustinus Tai Hamdani, pembantu Margriet yang sudah mengaku membunuh Angeline. Belakangan ia juga ditahan.

Angeline dinyatakan hilang sejak 16 Mei lalu. Polisi akhirnya menemukannya terkubur membusuk di bawah pohon pisang pekarangan rumahnya pada 10 Juni 2015. Dalam pemeriksaan, Agustinus mengaku disuruh menggali lubang oleh Margriet seminggu sebelum terbunuhnya Angeline. “Dia disuruh mengambil tanah oleh Margriet untuk menutupi di lubang yang lain,” tutur Haposan Sihombing, pengacara Agustae, yang ditunjuk oleh Polresta Denpasar.


Ditelantarkan


Penelantaran Margriet terhadap Angeline diungkap aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak di Bali, Siti Sapurah. Menurut Sapurah, sebelum dibunuh pada 16 Mei lalu, Angeline diperlakukan tak manusiawi. Bukan hanya kerap diumpat, Angeline juga dianiaya. “Setiap hari dipukul oleh Margriet, kasar perlakuannya,” kata Sapurah. (Baca: Kisah Angeline: Sekolah Berkaos Kaki Satu, Bau Kotoran Ayam)

Dia mengetahui informasi itu dari seorang kerabat Margriet yang pernah mampir ke rumah Margriet di Sanur, Bali. “Suara buk-buk dipukulin sering terdengar,” kata Sapurah, menirukan famili Margriet tersebut. Di dalam rumah, Angeline begitu tertekan dan stres. “Tapi kalau pas Margriet pergi, Angeline langsung senang dan bisa bermain.”

Sebelum berangkat sekolah, Angeline pun diharuskan memberi makan ayam dan anjing. Sebab itu, gadis kecil tersebut selalu terlambat tiba di sekolah. Margriet pun tak memberi makanan layak untuk Angeline. “Angeline hanya dikasih mi kering, yang belum dimasak,” kata Sapurah. Dalam sehari, Angeline hanya sekali diberi makan, terkadang hanya nasi putih tanpa lauk. (Baca: ANGELINE DIBUNUH: Selain Margriet dan Agus, Siapa Pria Ini?)

Bercak Darah di Kamar Bisa Seret Margriet

 http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/15/058675027/tragedi-angeline-bercak-darah-di-kamar-bisa-seret-margriet

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan pemeriksaan forensik terkait kasus kematian Angeline masih berlangsung hingga saat ini. "Dari informasi terakhir, seharusnya pemeriksaan selesai pada 13 Juni 2015," kata Arist saat dihubungi, Ahad, 14 Juni 2015.

Arist menjelaskan, jadwal penyelesaian pemeriksaan mundur menyusul temuan bercak darah di kamar tidur Agustinus Tai Hamdani, tersangka pembunuh Angeline, dan kamar tidur ibu angkatnya, Margriet Christina Megawe. Bercak darah temuan tim forensik itu, kata dia, bisa menuntun penyidik kepada bukti persekongkolan kejahatan yang dilakukan orang dalam rumah itu.

Sebab sejak awal, Aris berujar, lembaganya menduga kejahatan itu dilakukan orang terdekat. Terlebih, setelah ditemukan pada 10 Juni 2015, penyidik menemukan bekas luka benturan dan sundutan rokok pada tubuh bocah berusia delapan tahun itu.

Arist berharap tim forensik menemukan titik terang dari bercak darah tersebut. Apalagi, belakangan Agustinus menyatakan dijanjikan uang Rp 2 miliar oleh Margriet agar mengaku membunuh.

Hal itu diungkapkan politikus Partai NasDem Akbar Faisal bertemu dengan Agustinus di Kepolisian Resor Kota Denpasar pada 13 Juni 2015. "Bukti sekecil apapun bisa berperan signifikan," ucap Arist.

Selain pemeriksaan bercak darah, Arist mengatakan, tim forensik juga akan mengungkap apakah keterangan Agustinus, yang menyatakan melakukan kejahatan seksual setelah membenturkan kepala Angeline ke lantai, itu benar. "Kami berharap kasus ini menjaditerang," kata Arist.


Menurut Kepala Polda Bali Inspektur Jenderal Ronny Franky Sompie, penemuan bercak darah di kamar Margriet bisa menjadi salah satu alat bukti untuk menjerat perempuan 60 tahun itu. “Hal ini akan menjadi alat bukti yang kuat,” kata Ronny.


Sampel darah di kamar Margriet dan kamar Agustinus telah dikirim ke Laboratorium Forensik Mabes Polri di Jakarta. “Kami memeriksa jejak-jejak yang ada. Apakah cocok dan saling terkait secara ilmiah?” tuturnya.


Tangisan Mencurigakan Margriet, Dugaan Psikopat, dan Status Tersangka

 http://news.detik.com/berita/2942266/tangisan-mencurigakan-margriet-dugaan-psikopat-dan-status-tersangka

Tangisan Mencurigakan Margriet, Dugaan Psikopat, dan Status Tersangka

Jakarta - Tangisan Margriet Megawe menjadi awal kecurigaan polisi yang akhirnya menemukan sang anak angkat, Angeline (8) sudah tewas dan terkubur di halaman rumah. Sejak itu, Margriet terus diperiksa dan kini telah ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus penelantaran anak.

Usai Angeline ditemukan tewas pada Rabu (10/6) lalu, Margriet telah terus menerus diperiksa namun hanya berstatus saksi. Polisi lebih dahulu menetapkan Agustinus Tai Hamdamai (25) yang tak lain adalah mantan pembantu rumah tangga Margriet.

Pengakuan-pengakuan Agus kepada polisi dan juga kesaksian sejumlah saksi semakin menyudutkan Margriet, dari soal masalah adopsi hingga anak yang tak terurus. Dari hasil tes kejiwaan, muncul dugaan bahwa Margriet merupakan psikopat.

Perempuan kelahiran 1955 itu akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus penelantaran anak. Setelah diperiksa, Margriet pun ditahan untuk 20 hari ke depan.

Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, masih ada sejumlah tanda tanya dalam kasus pembunuhan Angeline ini. Polisi pun terus menelusuri untuk mengetahui jawabannya.

Berikut kisah ibu angkat Angeline, Margriet Megawe yang telah ditetapkan sebagai tersangka seperti dirangkum detikcom, Senin (15/6/2015): 


Penjual Sayur Dimintai Keterangan Terkait Pembunuhan Angeline

http://news.metrotvnews.com/read/2015/06/16/405002/penjual-sayur-dimintai-keterangan-terkait-pembunuhan-angeline

16 Juni 2015

Foto: Rumah ibu angkat Angeline, Margriet di Jalan Sedap Malam Nomor 26, Sanur, Bali/Ant_Fikri Yusuf
Foto: Rumah ibu angkat Angeline, Margriet di Jalan Sedap Malam Nomor 26, Sanur, Bali/Ant_Fikri Yusuf
Metrotvnews.com, Denpasar: Penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Bali memanggil sejumlah saksi untuk dimintai keterangan terkait kasus pembunuhan bocah 8 tahun, Angeline. Salah seorang saksi yang diperiksa adalah penjual sayur, Ni Made Suliasih, 36.

Suliasih, perempuan asal  Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, itu dijemput polisi, Selasa (16/6/2015) pukul 11.00 Wita, di rumahnya di Jalan Sedap Malam, Gang Mawar, Sanur, ke markas Polda Bali.

Suliasih sudah dua tahun berjualan di depan rumah ibu angkat Angeline, Margriet Megawe, di Jalan Sedap Malam Nomor 26, Sanur. Ia akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus pembunuhan dan penelantaran anak yang diduga dilakukan Margriet. Seperti diketahui, Margriet sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penelantaran anak dan kekerasan dalam rumah tangga.

Usai diperiksa, Suliasih langsung ditemui wartawan. Ia mengaku ditanya penyidik terkait aktifitas hariannya dan informasi penting saat berjualan di depan rumah Margriet.

"Selama 2 tahun jadi tukang sayur depan rumah Sedap Malam. Tadi diperiksa kurang lebih 1,5 jam. Saya sering mendengar Margriet berteriak memanggil Angeline. Suaranya melengking. Tapi saya tidak pernah dengar suara anak kecil (Angeline) menangis atau berteriak," kata Suliasih kepada wartawan.

Seperti diketahui, Angeline, 8, siswi kelas 2 SD 12 Sanur, ditemukan tewas terkubur di belakang rumah dekat kandang ayam, Rabu (10/6/2015). Hingga saat ini, penyidik baru menetapkan satu orang tersangka yang diduga membunuh Angeline yakni Agustinus Tai Andamai, 26. Pria asal Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, itu merupakan pembantu di rumah Margriet, ibu angkat Angeline. Sementara Margriet sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus penelantaran anak, Minggu (14/6/2015).

Saat Itu Anjing Polisi Sulit Masuk ke Rumah  

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/16/058675419/kisah-angeline-saat-itu-anjing-polisi-sulit-masuk-ke-rumah

16 Juni 2015

TEMPO.CO , Denpasar : Kesan mengenai lambatnya proses penemuan mayat Angeline dan pengungkapan para pelaku pembunuhan dibantah oleh Komisi Kepolisian Nasional. Usai bertemu, jajaran Polda Bali, Senin, 15 Juni 2015, mereka menyebut hal itu karena polisi harus mematuhi sejumlah prosedur operasional. (Baca: TRAGEDI ANGELINE: Menteri Yuddy dan Nazar yang Tak Sampai)

"Jangan sampai juga misalnya melanggar hak privasi," kata Hamidah Abdurrahman, komisioner Kompolnas. Itu yang menyebabkan saat pencarian Angeline, anjing pelacak tak bisa masuk ke dalam area rumah. "Kan pagarnya cukup tinggi dan tidak bisa sembarangan masuk," ujarnya. (Baca: TERUNGKAP: Penyebab Kematian Ayah Angkat Angeline)

Mengenai kesibukan pencarian Angeline yang lebih awalnya lebih tertuju di luar rumah, menurut Hamidah, karena petunjuk awalnya memang lebih banyak terarah keluar. "Kalau ini upaya mengecohkan polisi, kami belum sampai ke penilaian itu," ujarnya. Tapi setelah didalami, polisi pun akhirnya kembali fokus ke lingkungan rumah.

Komisioner Kompolnas lainnya, Edy Saputra Hasibuan, menyatakan, kasus ini adalah kasus yang berat bagi polisi, sehingga tidak bisa dinilai dari segi cepat atau lambatnya. "Kami sih maunya cepat, tapi yang lebih penting adalah ketepatan dan profesionalismenya," ujarnya.

Pengakuan Agustinus Tae yang berubah-ubah juga menjadi tantangan karena harus diuji dengan bukti-bukti yang akurat di lapangan. "Sekarang ini prosesnya baru penetapan satu tersangka serta satu tersangka dalam kasus penelantaran anak. Itu sementara yang kita lihat sambil menunggu perkembangan lebih lanjut," ujarnya.

Mengenai kemungkinan adanya penyuapan terhadap polisi, menurutnya, sampai saat ini belum ada indikasinya. Namun pihaknya berjanji akan memprosesnya bila memang ada laporan masyarakat atau indikasi yang menunjukkan hal itu. Kompolnas sendiri akan berada di Denpasar hingga Rabu mendatang untuk ikut mengawasi proses pengungkapan kasus ini.

Siapa Budi Dukun di Balik Temuan Jasad Angeline?

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/06/16/063675484/eksklusif-siapa-budi-dukun-di-balik-temuan-jasad-angeline

TEMPO.CO, Denpasar - I Dewa Ketut Raka, mantan penjaga rumah Margriet Christina Megawe, mengatakan sewaktu ditugaskan menjaga rumah ibu angkat Angeline itu, ia merasakan ada hal aneh. Salah satunya, penyidik Kepolisian Resor Kota Denpasar berulang kali memeriksa rumah Margriet. (Baca: EKSKLUSIF: Pengakuan Heboh Satpam Sebelum Angeline Ditemukan)

Apalagi, kata Dewa Raka, satu di antara penyidik mengaku kepadanya memiliki kekuatan supranatural untuk melihat keberadaan Angeline. "Saya tanya, Bapak namanya siapa? Dia menjawab (Brigadir) Budi Dukun,” kata Dewa Raka kepada Tempo, Senin, 15 Juni 2015. Kepada Dewa, Budi mengatakan Angeline sudah meninggal.

Untuk membuktikannya, mereka pada Jumat, 5 Juni 2015, atau lima hari sebelum penemuan jasad Angeline, memeriksa ulang rumah Margriet. Pemeriksaan itu berada di sekitar lubang tempat ditemukan jenazah Angeline. Budi Dukun meminta agar Dewa mencium bau mayat yang kerap dirasakan oleh dirinya. (Baca: EKSKLUSIF: Eks Satpam Bongkar Gelagat Mencurigakan Margriet)

Beberapa saat berselang, dia tidak bisa mencium apa pun kecuali bau kotoran ayam. "Tapi setelah angin berembus, saya mencium ada bau bangkai. Saat itu kami yakin itu bukan bangkai ayam," kata Dewa Raka. Mereka pun memutuskan untuk menggali tanah yang menjadi sumber bau tersebut.

Sayangnya, kata Dewa Raka, saat itu mereka menggali tanah tepat di sebelah timur lubang penemuan jenazah Angeline. Kecurigaan ini kemudian dilaporkan kepada atasan Brigadir Budi untuk segera dilakukan pemeriksaan lengkap. Laporan ini tanpa sepengetahuan Margriet sebagai pemilik rumah. (Simak pula: Margriet Ancam Agus Soal Angeline: Kamu Atau Aku yang Mati?)

Menurut Dewa Raka, keluarga Margriet sangat tertutup dan seolah-olah membatasi gerak-geriknya saat ia berjaga di rumah yang berlokasi di Jalan Sedap Malam Nomor 26, Denpasar Timur, itu. Alasan ini yang menjadi dasar kecurigaannya terhadap peran Margriet dalam kematian Angeline.

Raka mengaku mulai bekerja di rumah Margriet, Kamis, 4 Juni 2015, atau seminggu sebelum Angeline ditemukan. Ia diminta perusahaannya menjaga rumah Margriet, yang menurut bosnya, sedang bermasalah. Seingat Raka, ada empat petugas berjaga di rumah itu selama 24 jam dengan sistem giliran dua shift.

Pada hari pertamanya bekerja, atau pada Kamis, 4 Juni 2015, Raka hanya sekali masuk ke rumah Margriet. Itu pun karena dia hendak buang air kecil. Raka masuk ke kamar mandi yang berada tepat di samping kamar Agustinus Tai Hamdani, bekas pembantu Margriet, yang kini menjadi tersangka pembunuh Angeline.

Tak ada kejadian aneh saat dia memulai pekerjaannya pada Kamis itu. Raka berangkat pukul 08.00 Wita dan pulang pukul 16.00 Wita. Namun, pada hari kedua, atau ketika dia dan Budi Dukun bertemu, Dewa Raka menemui sejumlah kejanggalan, terutama ketika penyidik dari kepolisian hendak memeriksa rumah Margriet. (Baca juga: TERUNGKAP: Ibu Angkat Angeline Dikenal Pengusaha, Ternyata...)

Berselang sepekan kemudian, atau Rabu, 10 Juni 2015, Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Kota Denpasar akhirnya menemukan jasad Angeline meringkuk di dalam lubang di lahan pekarangan Margriet. Polisi baru menetapkan Agustinus Tai Hamdani sebagai tersangka utama dalam kasus pembunuhan Angeline.

"Saat penyidik Reskrim Polresta Denpasar melakukan memeriksa rumah, saya juga melihat ada lubang di situ,” kata dia. "Bahkan, saya sering melompati lubang yang dipenuhi dengan sampah bambu dan tampak becek itu." (Baca: ANGELINE DIBUNUH: Muncul Laura Pembela Si Ayah Angkat)

Adapun Margriet menjadi tersangka dalam kasus penelantaran anak. Ia diduga melanggar Undang-undang Perlindungan Anak lantaran tidak memperlakukan Angeline selayaknya anaknya sendiri. Margriet juga diduga melanggar undang-undang karena mengadopsi Angeline sebagai anak angkat secara ilegal.

Margriet membantah tudingan ia menjadi penyebab tewasnya Angeline. Melalui status pada laman Facebook yang sebelumnya didedikasikan khusus untuk Angeline: Find Angeline-Bali's Missing Child, ia mengatakan, "Jangan menuduh saya dalam kasus kematian Angeline," tulis Margriet, Jumat, 12 Juni 2015. Kini laman ini sudah dihapus oleh pengelolanya. (Baca: EKSKLUSIF: Eks Satpam Bongkar Gelagat Mencurigakan Margriet)

Margriet Kedatangan Tamu dari Amerika

http://news.metrotvnews.com/read/2015/06/16/405068/margriet-kedatangan-tamu-dari-amerika

Metrotvnews.com, Denpasar: Salah satu anak Margriet Christina Tellye Megawe (sebelumnya ditulis Margaret),  Christina menyambangi Mapolda Bali. Dia datang sekitar pukul 10.30 WITA.

Anak yang selama ini tinggal di Amerika itu membawa berbagai keperluan Margriet. Christina tampak menghindari awak media, dan enggan menjawab pertanyaan yang dihujani awak media, Selasa (16/6/20015).

Christina adalah salah satu dari anak tersangka Margriet, yang tinggal di Amerika. Di negeri Paman Sam, Christina tengah menjalani kuliah.

Margriet resmi ditahan penyidik dari Polda Bali setelah ditetapkan sebagai tersangka, Minggu 14 Juni lalu. Margriet disangkakan pasal berlapis, yaitu pasal 77b UU 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan pasal 45 dan 49 UU 23 Tahun 2004 tentang Penelantaran dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Seperti diketahui Margriet ditahan setelah aparat penyidik menjemputnya di sebuah vila di Canggu Bali pada Minggu 14 Juni lalu.
YDH

Khawatir Diracun, Tersangka Pembunuh Angeline Dipindahkan

http://news.metrotvnews.com/read/2015/06/15/404802/khawatir-diracun-tersangka-pembunuh-angeline-dipindahkan

Metrotvnews.com, Denpasar: Untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan Agustinus Tae, tersangka pembunuh Angeline, polisi memindahkannya dari sel tahanan Mapolresta Denpasar ke sel tahanan Propam Polda Bali.

"Yang bersangkutan harus dijaga agar jangan sampai dianiaya atau disengaja diracuni, atau yang bersangkutan bunuh dirinya. Intinya, tahanan ini tidak boleh sampai meninggal guna penyelidikan yang lebih mendalam terhadap kasus pembunuhan ini," ungkap seorang anggota polisi bernama I Made Mutra, Senin (15/6/2015).

Ia meminta Provost harus betul-betul menjaga tahanan itu. "Siapa pun yang ingin meminjamnya, harus seizin Pak Kapolda atau Kabid Propam," ujarnya.

Kapolda Bali, Irjen Pol Ronny F. Sompie mengatakan tersangka Agus yang sebelumnya ditahan di Mapolresta Denpasar itu dipinjam oleh Polda Bali sebagai saksi dalam kasus penelantaran anak yang dilakukan oleh tersangka Margariet.

Berbagai terobosan dilakukan pihak kepolisian untuk mengungkap kasus pembunuhan Anjeline (8). Yang terbaru, polisi memeriksa seorang saksi kunci berinisial AA (Arkardius alias Adi) dengan menggunakan lie detector atau alat uji kebohongan di Polresta Denpasar.

"AA ini sudah diperiksa dengan menggunakan lie detector atas kasus pembunuhan dan masih sebatas saksi. Karena dialah yang mempunyai pengetahuan soal M (Magareit - red), dialah yaang disuruh untuk mencarikan pembantu dan dia yang mengenalkan Agus ke M," ungkap Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Herry Wiyanto.

Mengenai siapa sosok AA ini, Herry Wiyanto mengaku tidak tau jika AA ini merupakan orang terdekat M. "Saya tidak tahu kalau dia orang dekat, tetapi dia kenal baik M itu saja. Minimal dia tahu banyak. Sementara dia adalah teman SD-nya tersangka Agus Tae," ujarnya.

Arkardius alias Adi sendiri diamankan oleh anggota Polresta Denpasar pada Sabtu, 14 Juni, malam. Ia diduga mengetahui kematian Angeline, bocah kelas 2 SD 12 Sanur yang dilaporkan hilang pada Sabtu, 16 Juni, dan ditemukan terkubur tak bernyawa di dekat kandang ayam rumahnya satu bulan kemudian.
UWA












Tidak ada komentar: