Senin, 15 Juni 2015

MEMANGNYA AHOK MEMPUNYAI KEAHLIAN APA?

Ahok melarang orang yang tidak mempunyai keahlian datang ke Jakarta. Lha, memangnya Ahok yang dari Bangka Belitung itu mempunyai keahlian apa?! Melarang sepedamotor masuk ke jalan Thamrin? Saya juga bisa kalau jadi gubernur? Apakah Ahok menjadi gubernur itu suatu keahliannya? Siapa bilang?! Bagaimana Ahok bisa menjadi gubernur jika masyarakat Jakarta tak memilihnya?! Apakah karena masyarakat memilihnya sehingga Ahok merasa sebagai orang hebat? Eih, siapakah dari antara masyarakat Jakarta yang tahu kehebatan Ahok sebelum menjadi gubernur? Hanya TUHAN yang tahu! Masyarakat Jakarta hanya berharap Ahok bisa menjadi gubernur yang baik dan terpuji. Tapi kenyataannya? Ahok hanya pintar memainkan kekuasaannya doank! Untuk kepintarannya sebagai gubernur yang melindungi, mengayomi dan mensejahterakan rakyat, masih nol besar.

Soal keahlian orang, apakah Ahok sudah membuatkan perinciannya yang jelas, keahlian apa yang diperbolehkan dan keahlian apa yang tidak diperbolehkan? Sebab soal keahlian ada banyak; ahli copet, ahli maling, ahli sihir, ahli gendam, ahli tipu, ahli merampok, ahli preman, ahli bunuh, ahli perkosa, ahli minum, ahli judi, ahli jual narkoba, dan lain-lain. Mana yang Ahok butuhkan?!

Kalau orang daerah punya suatu keahlian, tak mungkin dia mau merantau ke Jakarta. Tapi karena seseorang itu bodoh pingin pinter, dungu pingin mendapat pengalaman, miskin pingin bisa kaya, tak punya keahlian pingin punya keahlian, tak punya kerjaan pingin punya kerjaan, maka dengan alasan itulah mereka ingin mengadu nasib ke Jakarta.

Jakarta adalah ibukota bangsa Indonesia. Mengapa anak dilarang menjumpai ibunya? Pindahkan ibukota dari Jakarta ke kota yang lainnya, maka orang takkan tertarik mendatangi Jakarta. Tapi karena Jakarta saat ini menjadi pusat dari semua dan segalanya, maka orang tertarik untuk mendatanginya. Jangankan orang Indonesia. Orang luar negeripun tertarik ke Jakarta. Presiden Jokowi saja yang dari Solo ke Jakarta, yang setelah di Jakarta bikin onar menaikkan harga BBM, mengacaukan KPK-Polri, mengapa tak dipulangkan ke Solo saja?!

Gedung-gedung pencakar langit yang sombong-sombong, yang memasang tarip jutaan permalam sehingga orang miskin tak sanggup bermalam di sana, mengapa dibiarkan berada di Jakarta?! Pelacur-pelacur malahan hendak dikumpulkan oleh Ahok, dilokalisasikan. Penjara-penjara masih dibiarkan berlokasi di Jakarta. Bukankah itu artinya Jakarta boleh diisi dengan penjahat-penjahat?! Jika orang dari daerah yang baik-baik datang ke Jakarta, mengapa dilarang?!


Usai Lebaran, Jangan Pernah Larang Orang Datang Ke Jakarta!

http://suaraagraria.com/detail-1355-usai-lebaran-jangan-pernah-larang-orang-datang-ke-jakarta.html#.VX7qXI4asV8

SACOM (SUARAAGRARIA.COM) - Melarang orang datang ke Jakarta adalah sikap yang tidak demokratis dan tidak rasional. Siapa saja, silahkan datang ke Jakarta dan mengadu nasib di Ibukota Republik ini. Sebab pemerintah memang tidak menyediakan banyak peluang di daerah, terutama di luar Pulau Jawa. Peluang dan kesempatan memang banyak tersedia di Jakarta. Karenanya wajar sehabis mudik banyak kerabat dan sahabat yang berada di daerah minta ikut atau diajak ikut ke Jakarta.  Sejumlah instansi pemerintah saja sesungguhnya sudah menjadi daya tarik banyak orang untuk datang ke Jakarta.

Karenanya, untuk menekan kepadatan penduduk Jakarta, sejumlah instansi pemerintah banyak yang dapat digeser penempatan berada di luar  - atau pinggiran - Jakarta.  Sebab orientasi pembangunan yang dilakukan pemerintah telah gagal menstimulan pembangunan di luar Jakarta. Apalagi pembangunan untuk daerah, khusunya diluar pulau Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, jauh tertinggal, nyaris tidak bisa memberi peluang atau kesematan kerja bagi banyak orang.

Alasan sejumlah pihak – bukan hanya pengamat dan pemerintah yang mengidealkan agar mereka yang datang ke Jakarta hanya bagi yang mempunyai keahlian tertentu saja, sungguh tidak bisa dijadikan alasan.

Seorang tukang batu dari Seragen mana mungkin bisa menunjukkan buktinya secara tertulis di atas kertas, kecuali dengan menunjukkan keahlian kerjanya saat melaksanakan pembangunan suatu gedung langsung di lapangan. Orang daerah paham, tidak semua pekerjaan di kota dapat dilakukan oleh warga kota yang sudah ada. Karena itu mereka mengambil kesematan untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa atau bahkan tidak mau dikerjakan oleh orang kota.

Bagaimana pun, keberadaan warteg, penjual bakso keliling,  penggali parit dan penanaman kabel listrik atau telepon belum mau dilakukan oleh orang kota, karenanya si Suyatno datang dari Kebumen. Kartiman dari Klaten mau berjualan rujak.

Mereka yang datang dari luar pulau Jawa umumnya dominan masuk kawasan industri, meskipun dengan upah murah. Yang penting memperoleh pekrjaan meski terpaksa tinggal di rumah kontrakan sederhana atau bahkan kumuh lingkungannya.

Nah, mereka yang mau bekerja serabutan maupun menjadi buruh kontrak, outsourcing, diberbagai  jenis perusahaan industri, itu semua patut disyukuri, karena tidak mungkin semua pekerjaan serupa itu dapat dilakukan oleh orang kota. Apalagi bagi mereka yang sudah terlanjur menikmati gaya hidup manusia metropolitan.

Berbagai bentuk upaya yang melarang terhadap siapa pun untuk bekerja dan tinggal di Jakarta, sungguh tidak rasional dan melanggar Hak Asasi Manusia. Setiap orang berhak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak.

Jika pemerintah hendak melakukan penekanan arus urbanisasi agar tidak tinggal dan mencari pekerjaan di Jakarta – bisa dilakukan dengan cara yang lebih beradab, misalnya mau mendukung berbagai bentuk pembangunan dan kesempatan kerja yang dibangun  di luar Jakarta, mulai dari ujung Barat Jakarta, Merak, Celogon dan Serang. Demikian juga dari wilayah Timur; mulai dari  Bekasi, Kerawang hingga Cikampek dan Purwakarta dan seterusnya. Hingga dengan begitu penyebaran konsentrasi penduduk pun tidak bertumpahan di Jakarta dan pinggirannya.

Fenomena kepadatan penumpang kereta lsitrik maupun bus kota dari kota sekitarnya menuju Jakarta membuktikan bahwa sesungguhnya penduduk Jakarta itu tidak seperti apa yang dibayangkan.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa saat siang orang di Jakarta nyaris berlipat jumlahnya dari keseluruhan penduduk  Jakarta, itu membuktikan para kaum urban itu pun tahu diri sesungguhnya tidak ingin menjadi beban sepenuhnya bagi Jakarta.

Kalau pun tetap ada diantaranya yang bertahan dengan bertempat tinggal di daerah kumuh atau bahkan kolong-kolong jembatan, itu semata-mata karena keterpaksaan saja, lantaran hendak mensiasati beban transportasi yang tinggi. Lagian, kelancaran transportasi pun belum bisa menjadi pegangan untuk datang tepat waktu ke tempat kerja.  Inilah sebabnya tuntutan masyarakat agar perbaikan system transportasi terus mendesak.

Kalau saja transportasi angkutan dari luar Jakarta dapat lebih tertib dan nyaman dikelola oleh pemerintah (DKI Jakarta), tentu saja suasana Jakarta akan semakin terkesan lebih beradab.  Sejumlah orang yang tinggal di luar Jakarta, dapat lebih nyaman untuk membiarkan Jakarta agak lebih lenggang.

Karena itu pemerintah daerah maupun pemerintah DKI Jakarta, perlu memikirkan transportasi antar kota untuk para pekerja yang mencari nafkah di Jakarta.  Karena sungguh tidak sedikit mereka yang tetap bertahan bermukim di Cilegon, Serang, Bekasi, Cikampek, Purwakarta maupun Bogor dan sekitarnya.

Kecenderungan orang daerah mencari pekerjaan - lalu menetap di kota seperti Jakarta - dapatlah dipahami, selama daerah asal yang berangkutan belum dirasakan mampu menyediakan lapangan kerja serta peluang usaha yang memadai baginya, maka wajar Jakarta menjadi tujuan untuk mewujudkan harapannya.

Pendek kata, selama suatu daerah  - selain Jakarta - belum mampu menyediakan lapangan kerja serta usaha yang lebih baik, maka selama itu minat orang banyak termasuk mereka yang sudah terlanjur bekerja dan bermukim di Jakarta sekitarnya,  akan tetap bertahan dim Jakarta kendati kondisinya masih terbilang tidak layak atyau bahkan amat sangat memprihatinkan.

Bagi kebanyakan warga Jakarta sendiri yang sudah bekerja dan bermukim di Jakarta - umumnya bagi para pendatang atau kaum urban - sesungguhnya mereka ingin memperoleh pekerjaan di luar Jakarta dan bermukin di luar Jakarta. Karena pada dasarnya, warga Jakarta pun cukup memahami betapa sumpeknya Jakarta.

Toh, semua warga Jakarta paham, setidaknya tiada hari tanpa kemacetan dan tiada musim tanpa kebanjiran. Jakarta sesungguhnya sudah tidak kondusif untuk perkembangan kehidupan yang lebih baik, namun akibat keterpaksaan dimana tempat usaha dan mencari uang, maka seperti apapun kondisinya tetap dijalani juga. Itulah sebetulnya fenomena dari saat akhir pecan orang Jakarta ingin membuang kesumpekannya ke luar kota.

Melarang  orang daerah datang ke Jakarta, tidak hanya menunjukkan sikap arogan serta egosentrisitas yang kandas memiliki sikap toleransi untuk memberi kesemoatan kepada orang lain untuk ikut mencoba atau bahkan menikmati pola kehidupan kota metropolitan seperti Jakarta. Karena dengan mencerceap dan melakukannya bukan mustahil akan diperoleh pengakaman yang dapat menjadi bekal dalam membangun tata kehidupan pribadi yang lebih baik. Toh, bagi mereka yang kalah, tidak sedikit diantaranya – setelah mencoba – harus pulang kampong, atau merncari penghidupan di tempat lain.

Pendapat dan sikap Wakil Gubernur Jakarta, Koh Ahok, patut dipuji dan didukung. Biarlah orang daerah berdatangan ke Jakarta, cuma kalau bisa bawalah banyak bekal, agar jangan sampai menambah jumlah orang susah di Jakarta.

Apalagi hanya untuk mereka yang datang untuk sementara, karena keperluan suatu pekerjaan atau sekedar berwisata belaka, mengapa tidak bisa diperkenankan. Kecuali itu sejatinya, tidak seorang pun berhak melarang seorang warga Negara Indonesia dari manapun untuk menentukan tempat dan bentuk pekerjaan yang dipilihnya.

Arus urban yang terus membludak seusai mudik telah menjadi bagi dari tradisi untuk saling berbagai dengan kerabat dan sahabat yang belum memperoleh peruntungan di tempat asal mereka, untuk ikut adtang ke  Jakarta dan mengadu nasib dengan kaum urban yang lain karena relative dianggap berhasil dalam segi ekonomi. Artinya, kelangkaan peluang dan kesempatan kerja di daerah – entah dimana pun – hingga membuat kemiskinan menjadi sangat akut sekaligus menakutkan merupakan pemicu utama arus mudik yang diikuti kaum urban memasuki Jakarta. Biarlah, semjua orang berhak mecoba melakukan pertarungan di Jakarta. Toh, mereka yang kalah akan tersisih juga.

Judul Asli: Jangan Pernah Melarang Orang Datang Ke Jakarta, Biarlah Setiap Orang Mencoba Pertarungan dan Keberuntungannya
Banten, 11 Agustus 2013

Ditulis Oleh: Jacob Ereste
Honorary Member of the Council of People's Peneili Without Party
Deputy Peneliti & Pengembangan GONAS
Dewan Pembina Komunitas Buruh Indonesia
Sekretaris Jendral DPP MIG SBSI
Hp : 08197975737, 082111745533
E-mail : jacob.ereste@yahoo.com - jacob.ereste@gmail.com
Rek BCA : 0611893735

Tidak ada komentar: