Selasa, 30 Juni 2015

PAK MINTO DI TENGAH KRISIS EKONOMI

Pak Minto adalah tukang becak yang penghasilannya tidak menentu; kadang banyak rejeki, kadang sedikit, namun tak jarang juga tak mendapatkan penumpang sama sekali. Sekalipun pak Minto sudah mendapatkan bantuan pemerintah Raskin - beras miskin, namun persoalannya 'kan bukan cuma beras? Sekalipun pak Minto sudah mendapatkan BLT - Bantuan Langsung Tunai, namun persoalannya 'kan masak cukup mengandalkan BLT saja? Sekalipun pak Minto sudah mendapatkan kartu pintar Jokowi, namun persoalannya 'kan bukan cuma masalah uang sekolah saja? Dan sekalipun pak Minto juga sudah mendapatkan kartu sehat Jokowi, namun persoalannya 'kan bukan cuma masalah kesehatan saja?

Persoalan pelik pak Minto adalah setiap hari perutnya dan perut keluarganya menuntut diisi makanan. Dan tuntutan perut itu mana mau peduli dengan berapa banyak rejeki yang didapatkan pak Minto. Ada rejeki maupun tak ada rejeki, biaya hidup yang harus dipenuhinya sudah membentuk ketetapan nilainya. Minimal setiap bulan harus membelanjakan uang sebesar Rp. 1.500.000,- Jika kurang dari itu, maka terpaksalah pak Minto berusaha utang sana utang sini untuk menutupi defisit anggaran belanjanya. Sama kayak pemerintah yang berutang ke luar negeri. Tapi pemerintah masih mending karena dipercayai oleh IMF, sedangkan pak Minto, siapa yang masih mempercayainya?!

Pemerintah, melalui kepresidenan Jokowi bukannya berdiam diri terhadap nasib pak Minto. Justru pemerintahan Jokowi sudah mengambil langkah-langkah untuk membangun infrastruktur, dan itu sudah dimatangkan dengan Tiongkok untuk membangun jalan-jalan toll dan pelabuhan-pelabuhan. Tak lama lagi pembangunan infrastruktur itu akan dimulai, dan 2-3 tahun kemudian itu akan selesai. Presiden Jokowi berharap selesainya pembangunan itu semua akan bisa menurunkan harga barang-barang kebutuhan pokok, sehingga biaya hidup pak Minto menjadi diringankan, diharapkan bisa sesuai dengan penghasilannya sebagai tukang becak.

Namun sayangnya, masalah yang dihadapi oleh pak Minto itu adalah masalah hari ini, masalah jangka pendeknya, bukan masalah jangka panjangnya. Hari ini jam 13.00 WIB ketika karyawan-karyawan kantoran beristirahat makan siang, perut pak Minto kelaparan karena belum mendapatkan uang untuk membeli nasi di Warung Tegal.

Sabar, pak Minto, siapa tahu jam 14.00 WIB nanti ada penumpang, 'kan lumayan bisa untuk makan di Warteg?!



Selain pemerintah membangun infrastruktur, pemerintah juga akan mendorong investasi. Presiden Jokowi sudah membuat aturan-aturan yang mempermudah investasi, sehingga diharapkan orang berbondong-bondong melakukan investasi, mendirikan pabrik-pabrik.

Tapi masalahnya bagi pak Minto, apakah pabrik-pabrik itu sudah bisa berdiri jam 14.00 siang nanti, supaya ada orang yang menumpang becaknya dan dia bisa makan di Warteg? Sebab dokter pribadi pak Minto sudah berpesan agar pak Minto jangan sampai terlambat makan, penyakit maag-nya bisa kambuh kalau telat makan. Rasanya mustahil ada pabrik yang sekonyong-konyong bisa berdiri dalam waktu satu jam saja, kalau tanpa bantuan lampu ajaib Aladin, ya?!



Apakah presiden Jokowi yang sakti itu mempunyai lampu Aladin?!

Seandainya jam 14.00 WIB benar-benar ada penumpang, bukankah itu baru jatah makan siang pak Minto saja? Makan istri dan anak-anaknya kapan?!

Andai saja pada jam 14.00 WIB ini terjadi gempa bumi dahsyat, bisa diharapkan jam 17.00 WIB pak Minto berikut istri dan anak-anaknya sudah berada di tempat penampungan/evakuasi, lalu jam 19.00 WIB presiden Jokowi akan mendatangi tempat evakuasi itu dan membagi-bagikan beras, sehingga penderitaan perut keluarga pak Minto sudah bisa terselesaikan.

Rasanya hanya gempa bumi yang bisa membuat presiden Jokowi bertindak cepat mengatasi perut rakyat miskinnya bila dibandingkan dengan perbaikan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur maupun dorongan investasi.


Tidak ada komentar: