Sabtu, 13 Juni 2015

Penyelamatan Ekonomi Menunggu Aksi Nyata

http://m.inilah.com/news/detail/2206300/penyelamatan-ekonomi-menunggu-aksi-nyata

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah harus segera melakukan aksi nyata dalam rangka menggairahkan perekonomian yang sekarang sedang mengalami pelambatan. Sektor yang mutlak harus didobrak adalah daya beli masyarakat
Tindakan tegas, cepat dan tepat sangat ditunggu agar pelambatan pertumbuhan ekonomi tidak berlarut-larut sehingga berdampak lebih luas ke ranah sosial dan politik, ungkap Andreas Eddy Susetyo, anggota Komisi XI DPR, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (20/5/2015).
Ia memaparkan, saat ini penurunan daya beli masyarakat telah semakin mengkhawatirkan. Misalnya penjualan ritel semua mengalami penurunan kecuali produk susu kental manis dan popok bayi. Kondisi tersebut menunjukkan daya beli kaum ibu sudah tertekan untuk memenuhi kebutuhan susu bubuk anak-anak mereka sehingga menyiasati dengan susu kental manis yang kandungan nutrisinya tidak sama dengan susu bubuk. Sektor yang secara mutlak harus didongkrak adalah daya beli masyarakat, ujar Andreas.
Jika situasi ini tidak segera mendapat penanganan serius maka rakyat akan semakin susah, kebutuhan menjadi sulit terjangkau. Ujung-ujungnya ketika sudah menyangkut perut implikasinya bisa sangat luas dan kompleks, seperti gejolak sosial.
Beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah dalam jangka pendek agar terjadi rileksasi ekonomi adalah, pertama menjaga stabilitas inflasi musiman. Juni-Juli akan menjadi periode krusial yang berpotensi terjadi lonjakan inflasi karena bertepatan dengan musim liburan dan Lebaran.
Kedua, perlu menciptakan peluang kerja secara masal agar pendapatan masyarakat meningkat. Di antaranya melalui proyek padat karya berupa pembangunan embung, irigasi, jalan-jalan pedesaan dan sektor lain yang berkaitan dengan roda perekonomian rakyat, ungkap anggota fraksi PDIP itu.
Ketiga, melakukan percepatan belanja pembangunan untuk menperjelas proyek infrastruktur apa saja yang akan dilaksananan. Kuartal II sudah harus terlihat geliat proyek-proyek infrastruktur yang menjadi mandat APBN 2015. Keempat, upaya lainnya yang dapat dilakukan adalah percepatan realisasi belanja pemerintah untuk program jaring pengaman sosial dan anggaran dana desa serta meningkatkan alokasi kredit UMKM hingga menenuhi angka 20%. Jika sektor UMKM menggeliat maka akan ada pendapatan dan tentunya akan dibarengi peningkatan daya beli.
Sebagaimana diketahui, Sampai triwulanI 2015, kinerja ekonomi Indonesia tidak sesuai harapan. Meskipun semakin banyak investasi masuk, tetapi BPS mengumumkan bahwa tingkat pertumbuhan hanya sebesar 4.7% turun 0.4% dari 5.1%.Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 mengalami pelambatan yang meliputi konsumsi, investasi, belanja pemerintah dan ekspor.
Di sisi konsumsi, pemerintah menghadapi kendala lonjakan harga akibat tingkat inflasi yang mencapai 6.4% dandepresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang berkepanjangan. Sementara itu meskipun pemerintah menggenjot investasi, tingkat kredit turun menjadi hanya sebesar 12% dari 17-19% sehingga menyebabkan terjadinya pelambatan dunia usaha.
Penurunan realisasi pajak juga berandil kepada penurunan belanja pemerintah. Sebagaimana dilansir BPS, realisasi penerimaan pajak pada triwulan I-2015 hanya Rp 198.2 triliun, turun 5.6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, belanja pemerintah adalah satu-satunya harapan masyarakat dalam hal peningkatan daya beli.
Ekspor juga kurang bisa diandalkan. Data BPS menunjukkan penurunan sebesar 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sehingga terjadi defisit transaksi berjalan US$3.8 miliar atau sekitar 1.8% dari PDB. [*]


Apa Sebab Lambatnya Pertumbuhan Ekonomi Q1 2015?

 https://www.selasar.com/ekonomi/apa-sebab-lambatnya-pertumbuhan-ekonomi-q1-2015

Pada kuartal pertama tahun 2015 lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali melambat. Ekonomi hanya mengalami pertumbuhan sebesar 4,71 persen menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pertumbuhan ekonomi ini adalah yang paling lambat dalam 5 tahun terakhir.
BPS melaporkan bahwa pada kuartal pertama ini pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sebesar 0,18 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Penyebabnya adalah terkontraksinya kinerja investasi (minus 4,72 persen) dan ekspor (minus 5,98 persen).
Faktor Eksternal
Sebagai pemain dalam era globalisasi ekonomi Indonesia sendiri tidak bisa dilepaskan dari pengaruh ekonomi negara-negara lain di dunia. Menurut Wakil Direktur Departemen Asia Pasifik IMF, Kalpana Kochhar pengaruh melambatnya ekonomi Tiongkok dan Jepang juga memegang peranan dalam mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Menurut Kalpana dampak dari melambatnya ekonomi Tiongkok dan Jepang tercermin dalam perlambatan ekonomi RI pada kuartal pertama lalu. 
Gubernur BI Agus Martowardoyo juga menyetujui pendapat Kalpana. Menurutnya karena Tiongkok merupakan salah satu tujuan utama negara eskpor bagi Indonesia maka melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara tersebut mempengaruhi ekonomi di dalam negeri yaitu mengakibatkan permintaan eskpor turun sehingga harga komoditas utama ekspor Indonesia juga mengalami penurunan. Pernyataan dari kedua tokoh tersebut memang terbukti di mana ekspor Indonesia pada kuartal pertama lalu mengalami kontraksi sebesar 5,98 persen dari tahun sebelumnya.
Indonesia juga terimbas kondisi likuiditas global yang mulai mengetat  menyusul dihentikannya kebijakan pelonggaran kuatitatif (quantitative easing) oleh pemerintah Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari melemahnya nilai tukar mata uang negara-negara di dunia, tak terkecuali rupiah, terhadap dolar AS beberapa bulan terakhir.
Faktor Internal
Sebelumnya Bank Indonesia memang sudah memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi RI di kuartal pertama akan lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan di kuartal keempat tahun 2014. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Solikin M. Juhro di bulan April lalu mengatakan bahwa rendahnya eksekusi belanja infrastruktur pemerintah sebagai penyebabnya lambatnya perekonomian nasional. Solikin menilai belanja pemerintah di bidang infrastruktur yang belum banyak terealisasi pada periode Januari-Maret 2015 menjadi faktor penting perlambatan ekonomi nasional.
Hal tersebut diamini oleh Ekonom Barclays Capital, Wai Ho Leong. Ia mencatat bahwa belanja infrastruktur pemerintah pada kuartal pertama lebih rendah dari harapan. Pemerintah hanya mengeluarkan Rp7 triliun dari anggaran Rp290 triliun untuk proyek infrastruktur 2015. 
Karena itulah Menko Perekonomian Sofyan Djalil masih merasa optimis dengan ekonomi Indonesia di kuartal selanjutnya. Menurut Sofyan pertumbuhan ekonomi akan membaik pada paruh kedua  tahun 2015 karena belanja pemerintah akan meningkat. Revisi anggaran pemerintah telah disetujui dan realisasinya akan dimulai pada awal April. Pemerintah selanjutnya akan mendorong belanja pada bulan Mei untuk mempercepat program pembangunan.
Baiklah, kita lihat saja nanti.

Tidak ada komentar: