Senin, 15 Juni 2015

PERAN SEKTOR INFORMAL DI INDONESIA

http://www.ugm.ac.id/id/post/page?id=322

Sektor informal memiliki peran yang besar di negara-negara sedang berkembang (NSB) termasuk Indonesia. Sektor informal adalah sektor yang tidak terorganisasi (unorganized), tidak teratur (unregulated), dan kebanyakan legal tetapi tidak terdaftar (unregistered). Di NSB, sekitar 30-70 % populasi tenaga kerja di perkotaan bekerja di sector informal. Demikian yang disampaikan oleh Tri Widodo, SE. Mec.Dev saat Diskusi yang digelar Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) dengan topik “Sektor Informal Yogyakarta” pada hari Selasa 7 Maret 2005.
“Sektor informal memiliki karakteristik seperti jumlah unit usaha yang banyak dalam skala kecil; kepemilikan oleh individu atau keluarga, teknologi yang sederhana dan padat tenaga kerja, tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah, akses ke lembaga keuangan daerah, produktivitas tenaga kerja yang rendah dan tingkat upah yang juga relatif lebih rendah dibandingkan sektor formal”, kata pak Tri.
Diskusi yang bertempat di Gedung PAU UGM tersebut, pak Tri mengatakan bahwa kebanyakan pekerja di sektor informal perkotaan merupakan migran dari desa atau daerah lain. Motivasi pekerja adalah memperoleh pendapatan yang cukup untuk sekedar mempertahankan hidup (survival). Mereka haru tinggal di pemukiman kumuh , dimana pelayanan publik seperti listrik, air bersih, transportasi, kesehatan, dan pendidikan yang sangat minim.
Menurut peneliti PSEKP UGM ini, dalam kaitannya dengan sektor lain, sektor informal terkait dengan sektor pedesaan. Sektor informal memberikan kemungkinan kepada tenaga kerja yang berlebih di pedesaan untuk migrasi dari kemiskinan dan pengangguran. Sektor informal sangat berkaitan dengan sektor formal di perkotaan. Sektor formal tergantung pada sektor informal terutama dalam hal input murah dan penyediaan barang-barang bagi pekerja di sektor formal. Sebaliknya, sektor informal tergantung dari pertumbuhan di sektor formal. Sektor informal kadang-kadang justru mensubsidi sektor formal dengan menyediakan barang-barang dan kebutuhan dasar yang murah bagi pekerja di sektor formal.
“Penggunaan modal pada sektor informal relatif sedikit bila dibandingkan dengan sektor formal sehingga cukup dengan modal sedikit dapat memeprkerjakan orang. Dengan menyediakan akses pelatihan dan ketrampilan, sektor informal dapat memiliki peran yang yang besar dalam pengembangan sumber daya manusia. Sektor informal memunculkan permintaan untuk tenaga kerja semiterampil dan tidak terampil. Sektor informal biasanya menggunakan teknologi tepat guna dan menggunakan sumber daya local sehingga akan menciptakan efisiensi alokasi sumber daya. Sektor informal juga sering terkait dengan pengolahan limbah atau sampah. Sektor informal dapat memperbaiki distribusi hasil-hasil pembangunan kepada penduduk miskin yang biasanya terkait dengan sektor informal”, ungkap pak Tri.
Lebih lanjut dalam makalah berjudul ““Peran Sektor Informal Terhadap Perekonomian Daerah: Teori dan Aplikasi” pak Tri mengungkapkan, di Indonesia, sektor informal bukan merupakan fokus utama kebijakan atau perhatian pemerintah. Pemerintah bahkan tidak memiliki definisi umum mengenai perusahaan mengenai perusahaan sektor informal. Beberapa instansi pemerintah, seperti Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, Departemen Industri dan Perdagangan, hanya memberikan definisi tentang skala usaha yang secara garis besar dibagi tiga klasifikasi yaitu usaha kecil, menengeah, dan besar.
“Demikian pula halnya dengan penanganan secara statistik terhadap sektor informasi. Kegiatan pencatatan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh sektor informal yang menyeluruh dan berkelanjutan, seperti halnya dengan kegiatan pencatatan pada sektor formal, juga belum banyak dilakukan dan mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. BPS mendefinisikan perusahaan sektor informal sebagai perusahaan tidak berbadan hukum. Disamping itu kegiatan pembinaan sektor informal juga tidak memiliki kejelasan, sehingga menyebabkan instansi pemeritah satu dengan yang lainnya tidak memiliki tanggung jawab yang terpadu untuk mempromosikan atau mengatur sektor informal”, terang pak Tri (Humas UGM).


Sektor Ekonomi Informal dan Formal

https://rizkaarr.wordpress.com/2009/06/08/sektor-ekonomi-informal-dan-formal-2/

Sektor ekonomi informal dalam masyarakat sangat berkembang. Sektor ini dibangun berdasarkan struktur masyarakat atau organisasi dan bersifat mandiri. Sektor informal yang umumnya terjadi pada masyarakat akar rumput (grass root) tercipta karena mereka adalah bagian yang termarjinalkan dalam struktur masyarakatknya sehingga mereka harus mengembangkan potensi diri mereka sendiri yang sebagian besar potensi itu terhisap oleh masyarakat kelas atas.
Masyarakat kelas atas yang memanfaatkan mereka mengambil keuntungan berlebih dari keterikatan antara mereka dengan orang-orang miskin tersebut. Inilah dalam Marx yang dinamakan teori surplus value dimana pihak ‘penguasa’ mengambil nilai lebih dari hasil yang dikerjakan oleh para buruhnya tanpa memberikan kompensasi atas nilai tersebut atau dikompensasi normal.
Adanya migrasi, akses atas modal (capital), dan urbanisasi menciptakan ruang gerak bagi mereka sehingga dengan segera mampu untuk membangun perekonomian mereka. Munculnya pedagang-pedagang kaki lima dikota-kota besar adalah salah satu contoh sektor ekonomi informal yang paling kelihatan.
Dikatakan sebagai sektor ekonomi informal karena umumnya pengusaha tersebut tidak memiliki badan hukum, tidak ada kewajiban untuk membayar pajak atas usahanya, dan lainnya. Pengusaha sektor informal diakui eksistensinya dalam masyarakat, namun mereka sangat minim akan proteksi. Seperti pungutan liar mengatasnamakan keamanan yang terjadi pada para pedagang-pedagang dipasar-pasar tradisional.
Untuk memperkuat basisnya, biasanya mereka membentuk komunitas mereka. Perasaan senasib sebagai pedagang atau pengusaha informal membuat mereka merasa perlu untuk membuat suatu wadah yang mampu melindungi mereka sebagai satu kesatuan, dimana pemerintah tidak mampu untuk melakukan itu. Kekuatan-kekuatan yang semakin solid ini menciptakan ketakutan sendiri bagi para pelau ekonomi terstruktur.
Para pelaku ekonomi terstruktur ini takut akan hilangnya pendapatan yang seharusnya masuk ke kas mereka. Revenue atas erosi turnover pasar yang terjadi dalam siklus ekonomi suatu wilayah bahkan Negara, menurut mereka harus dihindari. Karena hal itu akan menciptakan distorsi harga dipasaran. Isu semacam ini digunakan oleh para pelaku ekonomi terstruktur karena ketakutan mereka atas pangsa pasar yang dapat beralih ke sektor informal akibat harga barang-barang yang dijual pada sektor formal adalah sama dengan yang dijual pada sektor informal dengan harga murah karena tidak tersentuh pajak.
Namun jika menggunakan logika ekonomi, mekanisme pasar yang sebenarnya terjadi adalah pada sektor riil nya. Jika sektor riil telah mapan dalam perjalanannya, maka tingkat kesejahteraan masyarakat miskin pun dapat menaik dan sektor makro akan tersokong dengan sempurna. Tidak ada gap antara pertumbuhan mikro dan makro. Sampai hal ini belum terjadi, menggunakan indikator makro unutk menentukan tingkat kesejateraan masyarakat sepertinya harus dipertanyakan kembali.
Dalam masyarakat tertentu, berusaha pada sektor ekonomi informal seperti hal yang sudah mendarah daging. Menurut Hernando De Soto dalam bukunya The Other Path sektor informal hadir karena ruang gerak yang diberikan oleh masyarakat formal. Karena sektor ekonomi informal dianggap sebagai cirri dari budaya dan tata kebiasaan kota sebagai celah untuk menyatu dengan system kota.
Tetapi pada sisi lain, sektor informal ini tidak tertata dengan baik. Kesulitan dalam pendataan jumlah pengusaha informal membuat pemerintah sering menerapkan kebijakan yang tidak menguntungkan bagi pengusaha informal. ‘privatisasi’ lahan public menjadi lahan usaha menjadi satu contoh yang paling akrab kita temui. Pemerintah hanya mengakui eksistensi mereka, tetapi tidak memberikan perlindungan yang seharusnya dilakukan. Munculnya pasar-pasar informal ini kemudian dituding oleh pemerintah sebagai sektor yang paling tidak dapat diatur. Pembatasan-pembatasan ekspansi usaha oleh para pengusaha sektor informal dapat membuat keadaan ekonomi mereka tidak berkembang dengan baik. Sektor informal juga dianggap masalah yang bersifat structural, hadir karena adanya kemiskinan. Padahal pemeintah sendirilah yang tidak menciptakan fasilitas dan infrastruktur yang memadai untuk memenuhi kebutuhan akan pasar informal ini. Dan upaya untuk kearah perbaikan, penataan kembali sektor ekonomi informal menjadi lebih baik sangat minim dilakukan.

Pengertian, Ciri-ciri, dan Contoh Sektor Usaha Informal

http://aushaf-fahri.blogspot.com/2014/02/pengertian-ciri-ciri-dan-contoh-sektor.html

Pengertian sektor usaha informal
Sektor usaha informal merupakan bentuk usaha yang paling banyak kita temukan di masyarakat. Bentu usaha yang ini bnayak dilakukkan oleh masyarakat yang tidak berpendidikan, bermodal kecil, dilakukkan oleh masyarakat golongan bawah dan tidak mempunyai tempat usaha yang tetap. Sektor usaha informal terbuka bagi siapa saja dan sangat mudah mendirikannya, sehingga jumlahnya tidak dapat di hitung, dengan banyaknya usaha ini berarti akaan menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran
2.       Ciri-ciri sektor usaha informal
a.     Tidak memiliki ijin tempat usaha (biasanya hanya ijin dari RW setempat)
b.    Modal tidak terlalu besar, relatif kecil
c.     Jumlah pekerja tidak terlalu banyak
d.    Dalam menjalankan usaha tidak memerlukan pendidikan formal, keahlian khusus namun hanya berdasarkan pengalaman
e.     Teknologi yang digunakan sangat sederhana
f.     Kurang terorganisir
g.    Jam usaha tidak teratur
h.     Ruang lingkup usahanya kecil
i.      Umumnya hanya dilakukkan oleh anggota keluarga
j.      Jenis usaha yang di kerjakan biasanya dalam bentuk :pengrajinan ,perdagangan dan jasa
k.     Hasil produksi cenderung untuk segmen menengah ke bawah
l.      Biaya pungutan yang dikeluarkan cukup banyak.

3.       Contoh sektor usaha Informal
a.       PEDAGANG KAKI LIMA
Pedagang kaki lima dapat kita temui di jalan ataupun di desa. Pedagang kaki lima dalam menjajakan dagangannya menggunakan gerobak, meja dengan tenda sebagai tempat untuk berteduh. Contohnya : Angkringan di dekat SMP N 1 Godean
b.      PEDAGANG ASONGAN
Pedagang asongan adalah pedagang yang menjajakan barangnya dengan cara menyodorkan barangknya pada calon pembeli. Pedagang ini banyak kita jumpai di perempatan jalan di kota-kota, halte, terminal, di bus, kereta api, stasiun.
c.       PEDAGANG KELILING
Pedangang yang menjual barangnya dengan cara berkeliling  (door to door) dari satu pintu ke pintu yang lain dan dari tempat satu ke tempat yang lain. Mereka menggunakan motor, mobil, gerobak, dan ada yang di pikul untuk berkeliling. Dan yang di jual adalah kebutuhan sehari-hari. Contohnya adalah pedagang sayur keliling di desa tertentu.
Contoh Sektor usaha Informal
A.      Pedagang kaki lima
Pedagang kaki lima yaitu pedagang yang menjajakan barang dagangannya di tempat-tempat yang strategis, seperti di pinggir jalan, di perempatan jalan, di bawahpohon  yang  rindang,  dan  lain-lain.  Barang  yang  dijual  biasanya makanan,  minuman,  pakaian,  dan  barang-barang  kebutuhan  sehari-hari lainnya..  Tempat  panjualan  pedagang  kaki  lima  relative  permanent  yaitu berupa kios-kios kecil atau gerobak dorong, atau yang lainnya.
*      Ciri-ciri/sifat pedagang kaki lima:
·         Pada umumnya tingkat pendidikannnya rendah.
·         Memiliki  sifat  spesialis  dalam  kelompok  barang/jasa  yang diperdagangkan.
·         Barang  yang  diperdagangkan  berasal  da-ri  produsen  kecil  atau  hasil produksi sendiri.
·         Pada  umumnya  modal  usahanya  kecil,   berpendapatan  rendah,  serta kurang mampu memupuk dan mengembangkan modal.
·         Hubungan pedagang kaki lima dengan pembeli bersifat komersial.
*       Adapun peranan pedagang kaki lima dalam perekonomian antara lain:
·         Dapat menyebarluaskan hasil produksi tertentu.
·         Mempersepat  proses  kegiatan  produksi  karena  barang  yang  dijual cepat laku.
·         Membantu masyarakat  ekonomi  lemah dalam  pemenuhan kebutuhan dengan harga yang relative murah.
·         Mengurangi pengangguran.Kelemahan pedagang kaki lima adalah:
·         Menimbulkan keruwetan dan kesemprawutan lalu lintas.
·         Mengurangi keindahan  dan kebersihan kota/wilayah.
·         Mendorong meningkatnya urbanisasi.
·         Mengurangi  hasil penjualan  pedagang toko.
Contoh  pedagang  kaki  lima  yang  berjualan  dipinggir jalan
B.       Pedagang  Keliling  
yaitu  pedagang  yang  menjual  barang  dagangannya secara  keliling,  keluar-masuk  kampong  dengan  jalan  kaki/naik sepeda/sepeda motor.  Barang  yang  dijual  kebanyakan  barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng, sabun, perabot rumah  tangga, buku dan alat tulis, dan lain-lain.
*       Adapun peranan pedagang keliling antara lain:
ü  Menyebarkan barang dan jasa hasil produksi tertentu
ü  Mendapatkan hasil produksi barang tertentu kepada masyarakat
ü  Membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran        
Contoh gambar seorang pedagang keliling
C.        Pedagang  Asongan,  yaitu  pedagang  yang  menjual  barang  dagangan
berupa  barang-barang  yang  ringan  dan mudah  dibawa  seperti  air mineral, koran, rokok, permen, tisu, dan lain - lain.  Tempat  penjualan  pedagang asongan adalah di terminal, stasiun, bus, kereta api, di lampu lalu lintas (traffic light), dan di tempat-tempat strategis lainnya.
                                                                                                                                   
  Ciri-ciri sektor usaha informal
a.       Modal usahanya relatif kecil
b.      Peralatan yang digunaka sederhana
c.       Tidak memerlukan izin dari pemerintah
d.      Ruang lingkup usahanya kecil
e.      Umumnya hanya dilakukkan oleh anggota keluarga

f.        Dalam pengelolaan tidak memerlukan pendidikan atau keahlian khusus, namun hanya berdasarkan pengalaman.



Sektor Usaha Informal (Pedagang kaki lima)

Tidak ada komentar: