Rabu, 17 Juni 2015

PERBEDAAN GAYA HIDUP PRIBUMI DENGAN CHINA

Pernahkah anda menyaksikan anak-anak China yang bersekolah di SD Inpres? Semiskin-miskinnya mereka, kwalitas pendidikan mereka nomor satukan. Lebih baik makan nasi putih dengan garam asal bisa menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang terkenal. Tapi orang-orang pribumi berbeda cara berpikirnya; biarlah anak-anak mereka asal bersekolah saja. Itu masih lebih baik daripada tidak bersekolah. Bagi China lebih baik nggak usah sekolah kalau sekolahannya sembarangan. Lebih baik anak-anaknya dilatih berjualan susu kedelai daripada sekolah di SD Inpres. Nggak ngerti baca tulis nggak apa-apa, yang penting ngerti mencari uang.

Pernahkah anda menyaksikan anak-anak China yang siang hari sepulang sekolah berada di jalan-jalan dan mencuri mangga orang? Nggak ada itu. Siang hari anak-anak itu diwajibkan tidur, tidak boleh keluar rumah, dan setelah tidur les privat. Nggak ada anak-anak China yang liar, bersekolah tapi kayak anak-anak yang tak berpendidikan.

Peran orangtua terhadap anak itu penting! Sayang orang-orang pribumi kurang mengurusi pendidikan anak-anaknya.

Pernahkah anda melihat anak-anak China bermain kelereng? Tak ada itu. Mereka menjadi penjual kelereng, bukan mainan kelereng. Mereka juga tak ada yang hobby mainan layang-layang. Hobby mereka adalah berjualan layang-layang, bukan mainan layang-layang. Juga tak ada yang hobby main playstation atau game online. Yang ada mereka membuka warnet. Mereka juga tak ada yang hobby menonton sepakbola. Hobby mereka adalah menjadi bandar judi sepakbola. Mereka tak mau berjudi sepakbola, sebab mereka tahu itu banyak bohongnya. Kalau mereka berjudi mereka memilih perjudian yang fair, yang tidak bisa main akal-akalan.

Pernahkah anda melihat orang-orang China naik bus? Karena mereka selalu dijadikan sasaran perampokan, maka kalau tak terpaksa mereka tak mau bepergian dengan bus umum. Semiskin-miskinnya mereka mentargetkan memiliki mobil sendiri, biarpun bekas.

Pernahkah anda melihat orang-orang China yang berjalan-jalan ke mall-mall sekeluarga? Nggak ada itu. Sebab mereka lebih memilih menjadi pedagang/membuka stan/kios di mall-mall itu dari pada menjadi pejalan-jalan saja.

Banyak hal-hal positif dari mereka yang bisa kita pelajari supaya kita terangkat menjadi bangsa yang bermartabat.

Tidak ada komentar: