Rabu, 10 Juni 2015

PURWAKARTA PATUT DITIRU - 2

J. Sinaga:

Kira kira 5 tahun lalu pernah kita ajukan jam belajar SD cuma 4 jam sehari ke pemerintah, dan tidak ada yg tinggal kelas, dan lulus semua dengan catatan. 

Pemerintah harus mempunyai visi, misi, tujuan, yang jelas untuk jenjang pendidikan SD mencakup afektik, psikomotorik dan knowledge.

Strategi belajar mengajar yg efectiv dan efisien harus jelas dari penyusun sillabus dari pemerintah, begitu juga bobot penilaian :- affectif (karakter, sikap, prilaku, moral) diusulkan 70%,
- knowledge, pengetahuan diusulkan 25%, -psikomotorik diusulkan 5%.
Jadi semua orang yang baik affektifnya, karakter dan moralnya pasti lulus. Item nilai termasuk tidak pernah tawuran, tidak pernah mencuri, tidak pernah berzinah, hormat pada orang tua, dll pasti lulus. Tuhan memberkati

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

JAWABAN SAYA:

Menurut penelitian tentang kerja otak kita, kemampuan otak kita menyerap pelajaran itu hanya 10 menit, sedangkan selebihnya adalah omongan sia-sia. Tapi guru nyerocos seperti burung perkutut selama berjam-jam, tak peduli apakah omongannya ada yang mendengar atau tidak. Fakta membuktikan banyak murid yang bosan menjadi ngantuk atau membikin gaduh di dalam kelas. Sebab jiwa mereka tertekan, lebih-lebih jika mata pelajaran itu tak disukainya.

Bayar mahal-mahal menyekolahkan anak, hasilnya anak-anak yang gendeng, orangtua bisa bernapas lega. - Hua..ha..ha........

Saya sendiri kalau ditanya mata pelajaran di sekolah yang manakah yang mendukung pekerjaan dagang atau salesman saya? Saya bingung menjawabnya. Matematikakah? Saya nggak pernah menghitung kwadrat-kwadratan. Sejarahkah? Selama berdagang saya tak pernah sekalipun membicarakan tentang hari kemerdekaan kita: 17 Agustus 1945. Fisikakah? Saya tak pernah mengkalkulasi gaya gravitasi saya. Kimiakah? Saya tak pernah menggunakan sulfat-sulfatan.

Kita diajari Pancasila, ya percuma. Semakin hari juga semakin banyak orang yang nggak sholat. Rasa perikemanusiaan bangsa ini sudah hilang. Keadilan juga sudah seperti mainan yoyo, dinaikkan, diturunkan seperti naik turunnya harga BBM. Pendek kata, ketika lulus sekolah SMU saya merasa gembira sekali seperti orang yang dibebaskan dari penjara.

Sayang pengetahuan ini baru saya miliki sekarang, setelah semua anak-anak saya lulus sekolah. Coba seandainya dari dulu-dulu saya mengerti bahwa sekolahan ini tak ada gunanya, pasti anak-anak takkan saya paksa bersekolah.

Sekarang pertanyaan saya kepada pemerintah adalah: sampai kapan praktek-praktek yang tidak benar ini hendak dipertahankan?

4 Rahasia Kunci tentang Cara Otak Kita Bekerja
4 Rahasia Kunci tentang Cara Otak Kita Bekerja

http://strategimanajemen.net/2009/05/11/4-rahasia-kunci-tentang-cara-otak-kita-bekerja/

Barangkali Anda sudah pernah mendengar anekdot ini. Alkisah, di sebuah pameran International Neurology Expo di Singapore dijual replika otak asli orang Indonesia, Jepang dan Amerika. Dalam daftar harga, tertera otak manusia Indonesia berharga paling mahal. Salah seorang pengunjung dari tanah air, dengan penasaran dan setengah bangga bertanya, kenapa otak orang Indonesia harganya paling mahal. Karena jarang dipakai, begitu jawaban sang penjaga stan.
Anekdot itu terngiang kembali di otak saya ketika minggu lalu saya membaca sebuah buku bertajuk Brain Rules : Principles for Thriving at Work, Home and School. Buku yang ditulis oleh John Medina, salah satu pakar biologi saraf terkemuka asal Amerika ini, berkisah tentang sejumlah aturan bagaimana sesungguhnya otak kita berkerja dan beroperasi. Disini kita hanya mencoba menjenguk empat aturan diantaranya.
brain_rules_-re.jpgRule 1 : Exercise Does Enhance Your Brain. Ya, berolahraga secara rutin dan melakukan pergerakan yang aktif ternyata memberikan impak yang amat besar bagi kesehatan otak. Dalam buku itu disebutkan, orang yang rajin berolahraga dan aktif bergerak dalam jangka panjang otaknya akan memiliki kemampuan problem solving dan reasoning yang jauh lebih tangguh dibanding mereka yang malas bergerak dan berolahraga.
Itulah mengapa, orang yang malas melakukan olahraga dan seharian hanya duduk didepan cubicle sambil melototin layar komputer otaknya bisa pelan-pelan tumpul dan cepat pikun kelak ketika berusia lanjut. Ini persis seperti minggu lalu ketika saya berkunjung ke salah satu teman ayah saya yang baru berusia 60-an tahun. Opa satu ini sejak muda nyaris tak pernah olahraga, demikian juga setelah pensiun. Jadi ia tak lagi mengenali saya ketika saya datang bertandang ke rumahnya yang asri di Bintaro. Dan ketika saya kebelet ingin buang air kecil serta bertanya, Om di mana kamar mandinya; dia mendadak kebingungan sambil celingukan, dimana ya kamar mandinya (duh !).
Anda tidak ingin tulalit seperti itu kan? So, do exercise every single morning. Rasakan kesegaran udara di pagi hari, dan jangan pernah biarkan otak Anda mati sebelum waktunya.
Rule 2 : Multitasking is a myth. Multitasking itu hanyalah mitos. Sebab, menurut John Medina, otak kita bekerja dengan cara sekuensial (ber-urutan) dan tidak pernah bisa dipaksa bekerja secara paralel. Itulah mengapa, mengemudikan mobil sambi berhaha-hihi via ponsel langsung meningkatkan resiko kecelakaan hingga 9 kali lipat. Dan itulah mengapa, melakukan penyelesaian tugas sambil berkali-kali mendapatkan interupsi akan menghasilkan kualitas kerja 50 % lebih buruk dan 50 % lebih lamban.
Jadi kalau selama ini Anda rajin melakukan multitasking – misalnya menyelesaikan laporan sambil tengak-tengok status via Facebook; resiko kelambanan kerja dan penurunan akurasi laporan akan kian meningkat secara dramatis. Karena itu, usahakanlah agar selalu mengerjakan tugas secara fokus dan bertahap serta semuanya digarap secara sistematis.
Rule 3 : Ten Minutes Attention Span. Medina bilang, ketika mendengarkan presentasi, ceramah, kuliah, atau mendengarkan orang lain ngecap, otak kita ternyata hanya bertahan untuk menaruh atensi maksimal 10 menit. Setelah itu, konsentrasi kita untuk mendengarkan/ menyimak turun secara signifikan. Jadi kalau ada orang yang nyerocos memberikan ceramah atau presentasi tanpa henti selama lebih dari 30 menit, maka hanya kesia-siaan yang akan diperoleh. Sebab, otak para audiens tak akan pernah bisa lagi menangkap isi informasi secara optimal.
So, kelak jika Anda mendapat kesempatan presentasi atau memberikan informasi; lakukanlah small break setelah 10 menit. Break ini bisa berupa menyilakan audiens untuk bertanya; atau menyelinginya dengan intermezo, atau menyampaikan kisah insiratif plus sekedar anekdot. Dengan ini, maka konsentrasi para audiens akan bisa kembali terpelihara.
Rule 4 atau yang terakhir adalah ini: classroom and cubicle are brain destroyers. Ya, ternyata ada dua lingkungan yang menurut Medina paling brutal membunuh daya kreasi otak kita. Dua lingkungan itu adalah : ruang kelas perkuliahan/sekolah dan ruang cubicle perkantoran.
Ruang kelas yang isinya melulu ceramah oleh dosen/guru yang monoton, satu arah dan acap membosankan, ternyata justru membuat otak kita terpasung mati (!). Ruang cubicle kantor yang membuat Anda tidak banyak bergerak secara aktif, tersekat-sekat, dan hanya memaksa Anda untuk melakukan tugas repetitif juga berpotensi menumpulkan otak Anda.
Jadi bayangkanlah : selama bertahun-tahun (lebih dari 15 tahun!) kita menghabiskan waktu kita di ruang kelas yang monoton nan membosankan. Dan kini, ketika kita bekerja, kita kembali disekap bertahun-tahun dalam ruang cubicle yang juga tidak banyak menawarkan ruang kreasi secara optimal. Dengan kata lain, selama puluhan tahun otak kita dikunci dalam dua lingkungan statis itu, dan jarang dipakai secara maksimal.
Jadi sungguh tak heran, kenapa otak kita harganya paling mahal……..

Tidak ada komentar: