Kamis, 11 Juni 2015

SALAH HIDUP DAN HIDUP SALAH

Lahir sebagai orang miskin di Indonesia ini termasuk kasus salah hidup. Hidup di tempat yang salah. Hampir setiap hari kita mendengar berita bagaimana fakir miskin dan rakyat terlantar bukannya dilindungi negara, tapi dipinggir-pinggirkan/disingkir-singkirkan. Siang tadi saya menyaksikan bagaimana warung-warung diperintahkan untuk pindah dari tempatnya berjualan. Jika masih tetap bandel akan dibongkar paksa oleh Satpol PP - Satuan Polisi Pamong Praja. Alasannya menjelang bulan ramadhan pemerintah melakukan bersih-bersih.

Saya hanya berpikir, betapa jahatnya bulan Ramadhan itu? Bulan ramadhan bukan saja melarang orang makan dan minum[harus berpuasa], tapi juga melarang orang mencari makan dan minum. Orang mencari nafkah diganggu. Belum lagi pedagang-pedagang asongan, pedagang kaki lima yang harus lari terbirit-birit seperti maling kalau melihat kedatangan pasukan Satpol PP. Orang mencari makan dengan susah payah modal sendiri dilarang. Memangnya pemerintah sanggup menyediakan lapangan pekerjaan untuk mereka? Menyediakan lapangan kerja bagi sarjana saja tak becus, apa lagi menyediakan lapangan kerja bagi orang-orang yang kurang skill.

Tahukah pemerintah bagaimana susahnya mereka mencari modal buat membuka warung? Tahukah pemerintah bagaimana sulit dan mahalnya mencari lokasi warung? Di sana itu mereka mengontrak, bukan gratisan. Mereka membayar listrik, membeli air, membayar retribusi daerah, plus dipajaki preman-preman. Tahukah pemerintah bahwa mencari pelanggan itu susahnya bukan kepalang? Tahukah pemerintah bahwa untuk mempertahankan warung itu mereka dililit utang ke koperasi-koperasi? Tahukah pemerintah bahwa warung itu belum tentu menguntungkan, tapi merupakan usaha terpaksa mereka? Tahukah pemerintah bahwa bulan ramadhan dan lebaran itu mereka membutuhkan uang yang banyak? Tahukah pemerintah bahwa mereka itu memelihara anak-anak yang nakal yang setiap hari memeras uang jajan?

Itulah kasus salah hidup. Kalau miskin mengapa dilahirkan di sini?

Sedangkan kasus hidup salah adalah kasus-kasus yang menimpa orang-orang kaya. Orang-orang yang sudah mapan hidupnya, tapi melakukan perbuatan yang salah, seperti: korupsi, narkoba dan perselingkuhan. Mengapa hidup yang sudah enak-enak itu mereka rusakkan sendiri? Seharusnya mereka itu memikirkan kewajiban-kewajiban sosial mereka, memikirkan untuk apakah harta mereka yang berlimpah-limpah itu, memikirkan perbuatan amal untuk fakir miskin, memikirkan hal-hal yang baik, yang positif.

Banyak orang susah yang ingin hidup enak seperti mereka, tapi mereka yang enak justru ingin susah dan menderita. Sungguh sebuah pola pikir yang jungkir balik.


















BANDINGKAN:













Tidak ada komentar: